menu

Matahari BAB 30 (Tamat)

Mode Malam
BAB 30 (Tamat)
BATALKAN kunjungan Sekretaris Dewan Kota!" Perwira tinggi Pasukan Bintang berseru. Dia berlari menuju panel-panel di atas meja.

Cincin portal di atas telah sempurna terbentuk. Sebuah kapal berukuran sedang, berbentuk paruh burung muncul.

"Astaga! Tidak boleh ada pesawat apa pun yang masuk ke ruangan ini. Situasi darurat. Ada tahanan melarikan diri.

" Perwira itu berusaha menghubungi pilot pesawat.

"Situasi darurat.

" Tidak ada laporan itu dalam sistemku lima belas menit terakhir.

" Pilot pesawat tidak mengerti. "Kalian seharusnya memberitahu kami sebelum membuka portal lorong berpindah.

" "Kami sudah berusaha melaporkannya. Tapi kami tidak bisa menghubungi pesawat Sekretaris Dewan Kota selama di dalam lorong berpindah. Ruang Penjara dalam status berbahaya.

" Cincin portal di atas menutup. Pesawat yang datang bergerak turun menuju lantai.

Perwira tinggi Ruang Penjara mengeluh tertahan melihatnya.

"Batalkan pendaratan.

" "Kami tidak bisa membatalkan kunjungan. Sekretaris Dewan Kota ingin menemui tiga tahanan tersebut. Ini penting sekali," pilot pesawat menolak.

"Astaga! Justru tiga tahanan itu telah melumpuhkan seluruh Pasukan Bintang di sini. Mereka menghilang, dan kami tidak tahu mereka ada di mana sekarang. Detektor tidak bisa membaca gerakan mereka. Kami tidak tahu posisinya. Itu bisa membahayakan Sekretaris Dewan Kota.

" Pesawat tinggal empat puluh meter dari lantai ruangan. Pintu pesawat terbuka. Enam Pasukan Bintang bersiap di pintunya, menunggu Sekretaris Dewan Kota turun.

"Batalkan pendaratan!" Perwira tinggi berteriak kalap.

Pilot pesawat bingung. Dia bisa melihat barisan ratusan Pasukan Bintang yang berantakan, juga dua kubus kaca terbuka. Pilot itu akhirnya memutuskan menekan tombol pembatalan. Dia segera menutup pintu, kembali naik ke langit-langit.

Tapi terlambat, jaraknya lebih dari cukup. Aku bisa melakukan teleportasi ke atas pesawat itu. Tetap dalam posisi menghilang, kami telah masuk, melintasi enam pengawal di pintu pesawat yang perlahan menutup. Kami melangkah ke dalam lorong utama. Ali dan Seli berjalan di sebelahku. Faar dan Kaar berjaga-jaga di belakang.

"Apa yang terjadi?" Suara khas yang amat kukenal itu terdengar dari sebuah ruangan--dari ruang komando pesawat.

"Perwira Tinggi di Ruang Penjara melaporkan keadaan darurat. Aku minta maaf. Dengan alasan keamanan, pendaratan harus dibatalkan, Sekretaris Dewan Kota," pilot memberitahu.

Wajah orang dengan tubuh tinggi kurus itu terlihat memerah.

Dia berseru gusar, "Aku tahu kapal ini batal mendarat. Tapi apa yang terjadi di bawah sana?" "Tiga tahanan yang hendak dikunjungi berhasil melarikan diri dari kubus kaca dengan sistem keamanan maksimum, Mereka menghilang, tidak ada yang tahu di mana mereka sekarang. Mendaratkan pesawat sangat berisiko.

" Sekretaris Dewan Kota tertegun.

"Bukankah mereka masih pingsan? Bagaimana mereka bisa menghilangr Seluruh ruangan dilengkapi teknologi detektor kota Zaramaraz. Nyamuk sebesar debu sekalipun tidak akan bisa menghilang di sana.

" "Aku tidak tahu, Sekretaris Dewan. Hanya itu informasi yang kami terima. Tiga tahanan tersebut telah menghancurkan seluruh Pasukan Bintang di penjara.

" Pilot menghela napas, wajahnya tegang. Pesawat masih mengambang di atas langit-langit ruangan dinding cadas.

"Baik. Kita kembali ke kota Zaramaraz. Segel Ruang Penjara dari dalam dan luar, hingga ketiga remaja itu bisa ditangkap kembali. Kita lihat, berapa lama mereka bisa menghilang. Jika ruangan ini kehabisan logistik makanan, kekuatan menghilang tidak akan membuat mereka kenyang.

" Sekretaris Dewan Kota meninggalkan ruang komando. Dengan langkah masygul dia kembali ke ruang kerjanya. Tanpa diketahui siapa pun, kami mengikuti punggungnya, ikut masuk ke ruangannya.

Pesawat ini khusus didesain untuk Sekretaris Dewan Kota. Ada ruang kerja miliknya. Lemari-lemari yang berisi benda antik, koleksi benda-bena kuno, furnitur kayu. Aku mengenalinya, ruangan yang mirip dengan kantornya di markas kota Zaramaraz.

Di luar sana, pilot telah membuka kembali porta! menuju kota Zaramaraz. Cincin besar mengambang di langit-langit. Suara gemeletuk petir terdengar, disertai selimut awan hitam. Pesawat perlahan memasuki portal, cincin menutup, pesawat melesat cepat dalam lorong berpindah.

Sekretaris Dewan Kota mengempaskan punggung di kursi kayu, mengembuskan napas.

Kami muncul persis di hadapannya. Sekretaris Dewan Kota terperanjat.

"Kalian?" Faar tersenyum. "Wahai, ini memang kami, Sekretaris Dewan. Atau Anda tidak menduga kita akan bertemu di sini?" "Bagaimana....

" Bagaimana kalian ada di pesawatku?" "Itu mudah. Salah satu kekuatan Klan Bulan adalah melakukan teleportasi sambil menghilang. Atau saking terkejutnya, Anda jadi lupa fakta kecil tersebut?" Wajah Sekretaris Dewan Kota memucat. Dia jelas bisa berhitung segera. Posisinya terdesak. Kami berada di dalam pesawat yang sedang melintasi portal. Dia tidak bisa meminta bantuan. Di pesawat ini hanya ada belasan anggota Pasukan Bintang. Dia kalah jumlah, itu bukan tandingan kami.

"Aku akan mengurus pilot, Ra," Faar bicara kepadaku. "Aku akan menyuruhnya mengubah tujuan portal, Kita tidak akan ke kota Zaramaraz, tidak juga ke lembah hijau. Aku punya ide lebih baik. Sementara itu, aku serahkan Sekretaris Dewan Kota kepada kalian.

" Aku mengangguk.

"Kaar, ikut denganku. Petirmu akan berguna.

" Kepala koki Restoran Lezazel melangkah di belakang Faar.

"Apa yang kalian inginkan dariku?" Sekretaris Dewan Kota bertanya dengan suara serak setelah Faar dan Kaar pergi.

Aku melangkah maju, diikuti Ali dan Seli. Jarak kami tinggal tiga langkah.

"Kalian menginginkan buku tua ini? Ambillah!" Sekretaris Dewan Kota mengambil buku marernatikaku dari kotak kaca di atas meja, melemparkannya kepada kami.

Ali menangkapnya, dan tertawa. "Ini bukan buku....

" "Eh, apa?" Ali meremas buku itu, mengubahnya kembali menjadi gel hijau.

Sekretaris Dewan Kota menatap Ali, tidak mengerti.

"Benar apa yang kubilang, dia tidak bisa membedakannya," Ali berbisik kepadaku.

"Apa yang kalian inginkan dariku?" Sekretaris Dewan Kota berseru. Suaranya semakin serak.

Ali mengangkat pemukul kastinya.

"Kalian. kalian tidak bisa menyakitiku...," dia mencicit.

"Oh ya? Tidak ada Robot Z di sini, tidak ada kapsul tempur, juga tidak ada kapal induk. Kata siapa kami tidak bisa?" "Tidak, kalian tidak bisa menyakitiku. Sekali aku tidak kembali ke kota Zaramaraz, seluruh armada Klan Bintang akan mencari kalian. Sekali aku pulang dengan tubuh terluka, seluruh armada juga akan mengejar kalian hingga ke mana pun.

" "Oh ya? Apakah mereka bisa mencari kami di klan permukaan? Kami akan pulang ke sana. Silakan saja kalian kejar. Kalian mungkin memang perlu berjalan-jalan sejenak ke permukaan. Bertemu ribuan petarung Klan Bulan dan Klan Matahari.

" Ruangan Sekretaris Dewan Kota lengang.

Aku kira, orang menyebalkan ini akan menyerah, berhenti banyak bicara, memohon ampun. Tapi entah kenapa, Sekretaris Dewan Kota justru tertawa pelan.

"Pulang? Kalian mau pulang?" dia bertanya sinis.

Aku dan Seli saling menatap. Ali juga menurunkan pemukul kastinya.

"Kalian ternyata memang hanya anak-anak yang bertualang. Tidak punya misi apa pun. Aku awalnya khawatir kalian matamata kian permukaan, ternyata yang kalian inginkan selama ini hanya pulang. Bukan hendak menggagalkan rencana kota Zaramaraz. Tapi itu tidak lagi berguna, Nak. Kalian mungkin memang bisa pulang ke klan permukaan, Tapi itu buat apa?" Sekretaris Dewan Kota menyeka ujung matanya yang berair karena tawa.

"Kalian tidak tahu? Aduh, malang sekali nasib kian kalian.

" "Nasib klan apa?" aku bertanya.

"Enam bulan dari sekarang, tidak akan ada lagi peradaban di permukaan planet bumi, Nak. Tiga kian akan hancur lebur. Tidak akan ada lagi pemilik kekuatan. Hanya kota Zaramaraz yang selamat. Karena kami telah bersiap seribu tahun terakhir. Dinding-dinding kami telah kokoh, langit-langit kota telah kuat.

" Sekretaris Dewan Kota kembali tertawa.

"Saat kalian sudah tiba di tempat teraman, kalian justru ingin pulang? Astaga, kalian lucu sekali, Nak.

Kalian pulang hanya untuk menyaksikan akhir dari klan kalian masing-masing.

" Dari kejauhan lorong, aku mendengar suara berdentum. Faar dan Kaar telah mengambil alih kemudi pesawat. Faar sedang memaksa pilot mengubah koordinat pintu portal yang dituju.

"Apa maksudmu?" aku mendesak.

"Dia hanya membual, Ra," Ali mengangkat bahu. "Jangan percaya. Dia hanya berusaha mengulur wakru, atau mencari sesuatu sebagai bahan negosiasi. Biarkan aku membuatnya berhenti tertawa dengan pemukul kastiku.

" "Membual? Oh ya?" Sekretaris Dewan Kota menatap Ali. "Aku tahu kamu genius, Ali. Maka hubungkanlah empat hal ini. Pertama, Dekrir Darurat. Kedua, Para Penjaga Tiang. Ketiga, batas waktu enam bulan lagi. Keempat, kiamat bagi klan permukaan. Silakan hubungkan, kau akan tahu penjelasan terbaiknya. Kalian tidak bisa menyakitiku. Bahkan jika kalian tetap menyakitiku, dekrit itu akan tetap dikeluarkan sesuai jadwal. Tidak akan ada yang bisa menahannya.

" "Hentikan tawamu!" Ali berseru.

Sekretaris Dewan Kota tetap tertawa.

Ali tiba-tiba meloncat, lalu mengayunkan pemukul kastinya. Sekretaris Dewan Kota terbanting jatuh dari kursinya, tawanya langsung tersumpal.

"Dasar menyebalkan," Ali bersungut-sungut. "Tunai sudah janjiku. Aku telah menghajarnya sebelum kembali ke kota kita.

" Ruangan Sekretaris Dewan Kota lengang sejenak.

"Tapi, Ali, apa maksud kalimatnya tadi?" aku bertanya.

"Aku tahu maksudnya, Itu buruk sekali, Ra. Sangat buruk.

" Ali menelan ludah.

"Apa?" "Kita bahas setelah tiba di dunia kita. Masalah ini membutuhkan pembicaraan semua pihak. Klan Bulan, Klan Matahari, semua harus bertemu. Kita harus kembali segera sebelum terlambat.

" "Tapi bukankah katamu itu hanya bualan?" Ali menggeleng. "Dia tidak membual. Aku hanya ingin menyuruhnya diam secepat mungkin, karena tidak ada gunanya juga mendengar dia menjelaskan rencana itu, tertawa penuh kemenangan. Kota Zaramaraz telah menyusun rencana ini sejak lama. Mereka telah bersiap, kemudian membiarkan klan permukaan menanggung semuanya.

" "Tapi itu apa, Ali?" Seli kali ini mendesak.

Ali mengembuskan napas.

"Kalian ingat tugas penting penduduk Klan Bintang? Mereka bertugas menjaga pasak-pasak bumi, aliran magma, gunung berapi. Seharusnya mereka secara disiplin melepaskan energi bumi secara alamiah, membuatnya menjadi gempa bumi kecil hingga sedang, atau sesekali gempa bumi besar, tapi itu tetap bisa ditoleransi oleh peradaban empat klan. Kalian ingat apa kata Meer? Klan Bintang lebih senyap seratus tahun terakhir. Itu artinya apar Mereka tidak lagi melepaskan energi bumi secara teratur. Energi itu sekarang bertumpuk, kapan pun siap terlepas menjadi bencana besar.

"Ingat kejadian dua ribu tahun lalu, ketika satu pasak roboh, gunung besar meletus. Siklus itu akan terulang kembali. Kota Zaramaraz telah bersiap dengan hal itu. Mereka memperkokoh dinding dan langit-langit kota. Blue print Meer telah diubah Sekretaris Dewan Kota. Seluruh pembangunan kota difokuskan pada situasi darurat tersebut. Meer tahu, dan dia tidak setuju. Dia memutuskan pergi. Dewan Kota sangat membenci para pemilik kekuatan. Maka sekali bencana besar itu kembali melanda bumi, tiga kian permukaan akan terkena dampak terbesarnya, sedangkan kota Zaramaraz terlindungi. Itulah maksud Dekrit Darurat. Kiamat bagi tiga klan lain. Saat tiga permukaan binasa, Dewan Kota bisa menguasainya. Dewan Kota berambisi menguasai klan lain. Itu sama dengan Tamus, atau Ketua Konsil Klan Matahari.

Kekuasaan telah membuat mereka menjadi gila.

" "Astaga!" Seli berseru, menutup mulutnya.

Aku mematung. Itu sungguh serius.

"Apa yang harus kita lakukan, Ali?" Suara Seli cemas.

"Segera memberitahu Klan Bulan dan Klan Matahari.

" "Itu akan memicu pertempuran besar antarklan," Aku mengusap dahi.

"Tidak jika kita bisa mencegahnya, Anak-anak.

" Itu bukan suara Ali. Faar melangkah masuk. Dia telah membawa tongkat panjang yang dia ambil kembali dari ruang penyimpanan.

"Wahai, kalian sepertinya telah mengetahui Dekrit Darurat tersebut. Kalian juga telah bisa menyimpulkannya dengan akurat.

" Faar berdiri di hadapan kami.

"Pulanglah ke dunia kalian. Kirim berita tersebut ke penguasa Klan Bulan dan Klan Matahari. Enam bulan lagi dunia paralel diambang kehancuran. Kota Zaramaraz akan membiarkan salah satu pasak bumi runtuh.

" "Tapi kita harus mencegah itu terjadi, Faar!" Aku menggeleng.

"Wahai, kita memang akan mencegahnya, Raib.

" Faar tersenyum, menarapku penuh penghargaan. "Pesawat ini akan menuju Ruangan Senyap, tempat paling tersembunyi di Klan Bintang. Kami akan menyiapkan rencana untuk menggagalkan ambisi Dewan Kota dari sana. Sekretaris Dewan Kota akan ikut bersama kami, menjadi tahanan, sekaligus sumber informasi pasak mana yang akan runtuh. Enam bulan ke depan hingga Dekrit Darurat dikeluarkan, aku akan mengumpulkan orang-orang yang masih memiliki akal sehat, karena jika pasak itu runtuh, ribuan ruangan di Klan Bintang juga akan terkena dampak buruknya, kecuali kota Zaramaraz.

"Sementara itu, kalian juga akan menyusun rencana di klan permukaan. Kami tidak akan sanggup menghadapi armada tempur Klan Bintang, Raib, kami buruh bantuan. Minta penguasa kian permukaan menyiapkan rencana terburuknya. Siapkan petarung terbaik Klan Bulan dan Klan Matahari.

" "Itu berarti perang besar.

" Suara Seli tercekat.

"Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi, Nak.

" Faar menggeleng. "Wahai, orang tua ini sudah dua kali mengatakan hal bijak tersebut. Kita selalu bisa mengubah jalan cerita dengan ketulusan.

" Lengang sejenak. Aku dan Ali saling tatap.

Aku akhirnya mengangguk. Saatnya kami pulang. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di sini.

"Pulanglah, Raib. Bawa berita ini ke klan permukaan.

" Aku mengeluarkan Buku Kehidupan dari tas pinggang. Saat kugenggam erat-erat, buku itu mengeluarkan cahaya terang.

"Halo, Putri Raib.

" "Perpustakaan Sentral Klan Bulan. Ruangan Av," aku menyebut tujuan sebelum buku matematika rewel bertanya aku mau ke mana.

"Baik, Putri. Dengan senang hati.

" Cincin portal muncul di hadapan kami, membesar hingga setinggi kepala.

Seli memeluk Faar, berpamitan. Kaar menepuk-nepuk bahu Ali, tanda perpisahan.

"Sampai bertemu lagi, Raib," Faar memegang lenganku.

"Sampai jumpa, Faar.

" "Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan seorang pemilik keturunan murni Klan Bulan. Hati-hati, Nak.

" Faar menyeka pipinya. Matanya berkaca-kaca.

Aku mengangguk.

Kami melangkah masuk ke dalam cincin porcal. Cahaya terang menyelimuti kami. Petualangan di Klan Bintang telah berakhir. Hanya soal waktu kami akan kembali lagi.

Perang dunia paralel di depan mata.

Tamat
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊