menu

Matahari BAB 29

Mode Malam
BAB 29
DUA anggota Pasukan Bintang mendekati sel kubus kaca.

"Pertandingan yang seru. Aku tidak menyangka mobil terbang dari Ruangan Pantai bisa menyalip di tikungan terakhir.

" Salah satu anggota Pasukan Bintang tertawa, memasuki kubus kaca Ali--mereka lebih dulu masuk ke sana.

"Ah, itu hanya keberuntungan, Kawan. Karena mobil terbang dari Ruangan Tambang Mineral mengalami kecelakaan fatal. Grand Prix Terbang Antar-Ruangan ke-100 baru dimulai. Apa pun masih bisa terjadi.

Aku tetap menjagokan pembalap Ruangan Tambang Mineral, pengemudi mereka yang terbaik.

" Salah satu anggota Pasukan Bintang membuka peralatannya, aku mendengar suaranya. Mereka pasti akan menyuntik lengan Ali.

"Bagaimana dengan Pengemudi dari Ruangan Seribu Pulau? Ini kali pertama mereka mengirim pembalap grand prix. Dia gagal di putaran ke-1.

9" "Aku pikir penampilannya cukup menjanjikan. Dia bisa jadi pembalap besar.... Omong-omong, anak-anak ini, sayang sekali mereka tidak bisa ikut menonton balapan mobil terbang terbesar Klan Bintang.

" "Oh yar Kamu mau memberi usul ke Sekretaris Dewan Kota agar setiap sel penjara punya akses tontonan? Itu mungkin akan disetujui.

" Temannya tertawa. "Itu ide buruk. Aku hanya bergurau, Kawan.

" Sementara di kubusku, aku sedang berkonsentrasi penuh. Waktuku sangat sempit. Inilah kesempatan terbaik melarikan diri dari penjara Klan Bintang. Saat jadwal pemeriksaan.

Aku bisa menghilang, yang lebih dari menghilang, Aku bisa menggapai level baru teknik itu. Apa kata Ali selama ini? Aku tetap bisa didereksi oleh ular raksasa, kelelawar Padang Kristal, atau teknologi Klan Bintang, karena memang fisikku tetap tidak menghilang. Aku memang tidak terlihat, tapi tubuhku masih ada. Hewan tetap bisa mendereksi gerakanku dengan sonar alami mereka, teknologi Pasukan Bintang juga melakukan hal yang sama.

Bukankah saat aku masih kecil, tiduran di rumput halaman rumah, ketika hujan turun deras, aku menatap ke langit, dan tubuhku menjadi lebih bening dibanding kristal air? Menjadi lebih transparan dibanding tetes air. Bukankah waktu itu aku asyik mengintip lewat jari tangan, tidak menyadari jutaan tetes air hujan itu hanya melewati tubuhku, tidak pecah saat mengenai wajah. Aku pernah melakukannya, teknik tinggi menghilang, saat fisikku benar-benar menghilang, seperti pindah ke ruangan yang berbeda.

"Ayo bergegas, Kawan. Sebentar lagi pesawat Sekretaris Dewan Kota tiba di Ruang Penjara. Semua sipir harus ada di ruang kontrol, atau perwira akan menghukum kita," Salah satu anggota Pasukan Bayangan mengingatkan.

"Baiklah. Ayo cepat kita bereskan alat-alat ini dulu. Kita pindah ke kubus sebelah.

" Kemudian suara langkah kaki mereka terdengar.

Aku konsentrasi penuh. Aku bisa melakukannya. Aku bisa menghilang total.

Tubuhku menghilang.

Pintu kaca kubusku mendesing terbuka.

"Di mana? Di mana yang satunya?" Salah satu anggota Pasukan Bintang refleks bertanya, menatap bingung ruangan kosong.

"Astaga! Di mana anak itu?" temannya berseru panik. Wajahnya pucat. Dia bergegas mengaktifkan alat komunikasi, berteriak kepada ruang kontrol. "Kubus Kaca! Tahanan di sel penjara dengan keamanan maksimum hilang!" Aku telah berdiri, melangkah mantap melewati mereka berdua yang berusaha memeriksa kubus kaca dengan tabung pendek teracung ke depan. Tubuhku melewati pintu sel, melangkah ke ruangan Ali yang masih terbuka. Ali terlihat bergelung di lantai. Itu posisi pingsan yang sangat aneh. Aku hampir tertawa melihatnya, tetapi cepat kuurungkan. Aku harus terus fokus.

Tanganku menyentuh Ali. Tubuh Ali juga ikut menghilang saat aku menyentuhnya.

"Raib?" Ali terkesiap. Kami sama-sama menghilang. tapi dia tetap bisa meliharku.

"Jangan banyak bicara dulu. Ikuti aku," aku berbisik tegas.

Ali mengangguk, segera berdiri.

Kami berdua melangkah melintasi jembaran yang mengambang di atas lautan magma.

"Tahanan di kubus lain juga hilang!" salah satu anggota Pasukan Bintang berseru. Dia baru saja berlari ke kubus Ali, memeriksa ulang.

"Aktifkan deteksi menghilang level pertama!" temannya berteriak serak. "Anak-anak itu pasti menggunakan kekuatan tersebut.

" Dari dinding-dinding bebatuan keluar detektor, yang memancarkan cahaya tipis. Jika cahaya itu tertahan oleh sesuatu, sensor akan membentuk proyeksi benda yang menghalanginya, termasuk jika benda itu tak kasatmata. Tapi detektor cahaya itu sia-sia, cahaya itu menembus tubuhku.

"Aktifkan deteksi menghilang level kedua!" Dari dinding-dinding bebatuan keluar detektor getaran, merambat di udara dengan frekuensi tertentu. Jika getaran itu memantul, sensor juga bisa membentuk proyeksi benda yang menghalanginya, baik yang tampak maupun yang tidak. Tapi detektor sonar juga tidak berguna. Getaran itu melewati tubuku dan Ali begitu saja. Kami tetap tidak terlihat di layar pengawas.

"Mereka tetap tidak terlihat!" Anggota Pasukan Bintang semakin panik, lalu berseru, "Aktifkan deteksi menghilang level terakhir!" Itu detektor paling canggih, yang menggunakan teknologi kepadatan udara. Perbedaan tekanan udara sekecil apa pun akan terbaca, dan bisa menunjukkan ada sesuatu yang tidak terlihat. Aku terus berjalan penuh percaya diri di atas jembatan, dan tiba di pintu bebatuan, Tidak akan ada teknologi detektor Klan Bintang yang bisa mengetahui keberadaanku sekarang. Tubuhku sempurna menghilang.

"Apa yang kamu lakukan, Rae" Ali bertanya, tercengang.

Kami telah tiba di ruangan di balik dinding bebatuan, melewati lorong-lorong besar dan panjang. Belasan anggota Pasukan Bintang berlarian melewati kami. Mereka tidak tahu aku dan Ali sedang berjalan di antara mereka. Ruang Penjara menjadi ingar-bingar, alarm dibunyikan, lampu darurat menyala di loronglorong dan ruangan. Seluruh Pasukan Bintang diperintahkan untuk berjaga-jaga, mengamankan pintu keluar yang mungkin bisa kami gunakan.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Kita hanya menghilang, Ali.

" Aku tersenyum.

"Ini jelas bukan teknik menghilang biasa, Ra" Ali menoleh, menatap satu pasukan lagi yang membawa tabung pendek dan melewati kami begitu saja.

Aku mengangguk. "Iya, itu karena saranmu, Tuan Muda Ali.

" "Saran apa?" "Kalimat-kalimat bijak itu.

" Ali mengusap rambutnya yang berantakan. Dia tidak mengerti.

"Kita harus segera menemukan Seli, kemudian membuka portal kembali ke dunia kita.

" Ali mengangguk. "Tapi bagaimana menemukan ruang isolasinya?" Kami berbelok di persimpangan lorong. Aku masuk ke lorong yang lebih sepi. Aku bisa mencari ruangan isolasi Seli dengan sentuhan tanganku, teknik "bicara dengan alam".

"Maju! Maju! Berikan jalan. Sebagian amankan ruang isolasi. Mereka pasti menuju ke sana sekarang, membantu rekannya!" salah satu perwira Pasukan Bintang berseru dari ujung lorong.

Dua rombongan besar Pasukan Bintang segera mengubah arah. Mereka berlarian mengambil lorong kiri.

Aku dan Ali saling menatap. Tidak perlu menggunakan kekuatan, kami bisa mengetahui ruangan isolasi Seli dengan mengikuti mereka. Kami berdua ikut berlari-lari kecil di belakang rombongan itu.

Ruangan penjara ini besar sekali. Kami sudah melintasi ruangan selama lima belas menit. Ada banyak lorong, seperti di dalam kapal, menuju sektor-sektor yang lebih luas.

"Ra...," Ali berbisik, menunjuk langit-langit ruangan.

Aku juga sudah melihatnya.

Kami melewati ruangan menjulang tinggi, dengan dinding cadas kasar. Di dinding-dinding itu tertanam ratusan kubus kaca, dengan tahanan di dalamnya. Terlihat jelas dari bawah sini. Ini sepertinya ruang penjara utama. Aku bergumam, setidaknya ruang tahanan ini punya pemandangan. Lantainya adalah ruang kontrol tempat sipir penjara mengawasi, bukan letupan magma.

Pasukan Bintang di depan kami kembali masuk ke lorong pa1~ang. Aku dan Ali terus mengikuti, Berbelok dua kali, mereka akhirnya berhenti di ujung lorong dengan pintu berwarna putih. Ada puluhan Pasukan Bintang yang telah berjaga di sana, memblokir jalan masuk.

Tidak pelak lagi, itu pasti ruang isolasi Seli.

"Bagaimana kita melewatinya, Ra?" Aku memegang lengan Ali lebih erat, dan tubuh kami melesat ke udara. Kami berteleportasi, kemudian muncul di belakang blokade. Mereka tidak bisa melihat kami, tidak akan ada jaring perak yang dirembakkan ke atas.

Melewati pintu putih, kami akhirnya tiba di ruangan isolasi Seli. Ruangan enam kali enam meter, dengan dinding berlapiskan kaca. Aku tidak perlu susah payah mencari di mana Seli. Dia langsung terlihat.

Tubuhnya berada di tengah ruangan, dalam posisi berdiri, dengan tangan tergantung di udara.

Aku tercekat.

Tangan Seli, hingga sikunya, membeku di dalam benda padat tembus pandang, seperti gips. Itu bukan es, karena tidak ada air yang menetes. Itu material yang lebih keras. Benda yang membungkus tangan Seli itu tergantung pada sebuah rantai perak di langit-langit ruangan isolasi. Kondisi Seli buruk, wajahnya pucat, tubuhnya lemah. Dia berdiri karena tangannya tergantung. Kakinya mungkin tidak kuat lagi menopang tubuh.

Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera menyelamatkan Seli.

Aku berhitung. Ada enam anggota Pasukan Bintang yang berjaga di dalam ruangan isolasi. Tabung pendek mereka teracung, siaga penuh, juga puluhan yang di luar, dan ratusan yang berjaga di Ruang Penjara.

Aku mengatupkan rahang. Saatnya kami bertarung kembali. Ali mengangguk. Dia meloloskan pemukul kasti dari dalam tas.

"Kamu siap, Ali?" "Sejak tadi, Ra.

" Tubuhku dan Ali muncul di ruang isolasi.

"Mereka ada di sini!" salah satu anggota Pasukan Bintang berseru.

Ali telah memukulnya. Anggota Pasukan Bintang terbancing jatuh.

Puluhan anggota Pasukan Bintang yang berjaga di depan pintu, demi mendengar teriakan itu, segera balik kanan, merangsek masuk. Juga lima yang lain di ruang isolasi, mereka mengacungkan tabung perak kepadaku, menekan tombol.

Aku lebih dulu melepas pukulan berdentum. Salju berguguran, Pukulanku susul-menyusul, tanpa ampun.

Tubuhku melesat ke sana kemari, melakukan teleportasi sambil terus mengirimkan pukulan. Dengan teknik menghilangku yang baru, Pasukan Bintang tidak bisa membaca gerakanku. Mereka hanya bisa melihat Ali, dan aku bergerak cepat melindungi Ali setiap kali jaring perak terarah kepadanya. Ali juga tidak butuh bantuan banyak. Gerakannya semakin cepat dan lincah. Sejak jago bermain basket, Ali menjadi petarung jarak pendek yang mematikan.

Lima menit kemudian, tidak ada lagi anggota Pasukan Bintang yang berdiri di dalam ruangan dan di pintu ruang isolasi. Mereka terkapar sambil mengaduh kesakitan.

Ali menarik kerah seragam salah satu anggota Pasukan Bintang. Dia menyuruh anggota pasukan malang itu meletakkan dua tangan di atas meja dengan jari-jari direnggangkan.

"Bagaimana melepaskan rantai perak di atas, hah?" Ali berseru galak, menunjuk Seli yang tergantung di tengah ruang isolasi.

Anggota Pasukan Bintang itu menggeleng.

Ali telah memukul jemari anggota Pasukan Bintang. Dua jarinya bengkak.

"Bagaimana melepaskan rantai perak itu?" "Aku tidak tahu..." Ali kembali menghantam jemarinya. Anggota Pasukan Bintang itu mengaduh, wajahnya meringis kesakitan.

Enam jarinya terlihat memerah.

"Aku tidak main-main kali ini. Aku akan meremukkan sepuluh jarimu.

" Ali melotot. "Bagaimana melepaskan rantai perak itu, hah?" Anggota Pasukan Bintang perlahan menunjuk panel-panel di atas meja. Dia merangkak, kemudian dengan sisa jemari yang masih sehat, gemetar menekan dua tombol.

Rantai yang mengikat gips yang membekukan tangan Seli terlepas.

Aku bergegas loncat, membantu tubuh Seli yang terkulai jatuh ke lantai.

Ali juga ikut membantuku.

Aku hampir menangis menatap wajah Seli. Lihatlah, mereka kejam sekali. Dengan tubuh yang masih terluka sisa pertempuran di aula utama, dua tangan Seli dibungkus gips transparan. Benda itu terasa dingin menggigit saat disentuh, lebih dingin daripada bongkahan es.

"Waktu kita tidak banyak, Ra. Menurut perhitunganku, lima belas menit lagi rombongan besar Pasukan Bintang akan datang dari lorong, menyerbu sel isolasi ini. Mereka sedang konsolidasi kekuatan di ruangan kontrol utama.

" Aku mengangguk, segera mengangkat tanganku, berkonsentrasi penuh.

Sarung Tangan Bulan-ku bersinar terang, teknik penyembuhan. Cahaya hangat segera menyelimuti tubuh Seli dari ujung kaki ke ujung kepala. Aku sedang melakukan diagnosis awal. Lebam di punggung Seli, bahu, perut, tulang retak di lengan, kaki, luka besar di pinggang, mata yang bengkak, dan luka-luka di organ bagian dalam. Lengan hingga jemarinya membeku, selselnya layu, tidak bisa digerakkan. Buruk sekali kondisinya. Aku berbisik, "Bertahanlah, Seli, aku akan mernulihkanmu.

" "Apa lihat-lihat, hah?" Ali membentak sambil memukul tubuh salah satu anggota Pasukan Bintang yang menonton gerakan tanganku menyembuhkan Seli.

Aku kembali fokus membuat sel-sel tubuh Seli melakukan regenerasi, menyulam kembali luka di perutnya, menyambung tulang yang yang retak, menghilangkan lebam biru. Dan terakhir, memulihkan tangannya yang beku.

Lima menit, mata Seli terbuka, mengerjap-ngerjap.

Aku tersenyum.

"Ra...?" Seli berkata pelan.

"Iya, ini aku, Sel.

" "Ali?" Aku menunjuk.

Seli menoleh--Ali sedang mengacungkan pemukul kastinya ke beberapa anggota Pasukan Bintang agar mereka tetap telungkup di lantai. Ali berseru galak, "Jangan bergerak! Sekali ada yang bergerak walau satu mili, rasakan akibatnya!" "Kita ada di mana, Ra?" Seli bertanya.

"Kita akan segera pulang.

" Seli bangkit duduk, mengangkat tangannya yang dibungkus gips transparan.

"Gips ini. Aku sudah beberapa kali siuman, Ra, Tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhku tergantung.

Aku bertanyatanya ini ruangan kaca apa, juga bertanya-tanya di mana kamu dan Ali. Aku sudah mencoba melepas gips ini, berusaha melelehkannya, tapi tidak bisa. Setiap kali hendak mengerahkan kekuatan, aku kembali jatuh pingsan.

" "Kamu bisa melakukannya sekarang, Seli. Tubuhmu sudah pulih, kekuatanmu telah kembali.

" Seli mengangguk. Dia tahu jemarinya sudah tidak beku lagi, hanya terjepit gips. Seli berkonsentrasi penuh, mulai mengerahkan kekuatan. Jemari tangannya menyala merah. Gips itu dipanggang panas ribuan derajat Celsius, ikut membara. Seli mengatupkan rahang pelan, menambah kekuatannya. Gips itu meleleh, luruh ke lantai ruangan.

"Bagus sekali, Sel.

" Aku tersenyum.

"Terima kasih, Ra.

" "Saatnya kita menyelesaikan urusan yang tersisa.

" "Eh, kira tidak langsung pulang, Ra?" Ali mengingatkan. "Segera buka portal ke dunia kita, sebelum kita dikepung Pasukan Bintang.

" Aku menggeleng. "Kita harus menyelamatkan Faar dan Kaar.

" "Oh, aku lupa. Baiklah.

" Ali mengangguk.

Kami bertiga berlari keluar dari sel isolasi. Aku tahu tempat Faar dan Kaar ditahan, di ruangan besar sebelumnya, dinding cadas dengan ribuan kubus kaca berbaris sejauh mara kepala mendongak.

Satu-dua anggota Pasukan Bintang berusaha mencegah kami di sepanjang lorong. Aku merobohkannya dengan melesat lebih dahulu, berteleportasi, mengirim pukulan berdentum.

Dalam lima menit, kami tiba di ruangan besar itu. Langkah kaki kami terhenti.

Ratusan Pasukan Bintang telah menunggu di sana. Mereka berbaris rapi, membuat blokade. Tabung pendek mereka teracung. Mereka telah melakukan konsolidasi sisa kekuatan Ruang Penjara, dan memutuskan menunggu kami di sana.

Salah satu perwira tinggi Pasukan Bintang terbang di atas anak buahnya.

"Menyerahlah!" Eh? Aku menoleh, Bukankah itu seharusnya yang berseru mereka? Kenapa justru Ali.

Ali juga terbang. Dia yang barusan berteriak, sambil mengacungkan pemukul kastinya. "Kalian semua menyerah baik-baik. Bebaskan teman kami Faar dan Kaar, biarkan kami pergi dengan damai atau terima risikonya, tidak ada yang akan selamat.

" Ratusan anggota Pasukan Bintang saling menoleh. Anak ini serius mengancam? Perwira tinggi Pasukan Bintang balas berseru, "Dengan segala respek, menurutku kalianlah yang seharusnya menyerah. Ruang Penjara telah terkunci dari dalam, seluruh pintu ditutup dari dalam. Tidak ada yang bisa keluar, hanya bisa masuk. Kalaupun kalian bisa mengalahkan kami, bagaimana kalian akan kabur? Ruangan ini enam ratus kilometer lebih dari koca Zaramaraz.

" "Hei, aku yang lebih dulu menyuruh kalian menyerah. Kalian tidak bisa menyuruh orang yang meminta kalian menyerah untuk menyerah. Enak saja.

" Ali sekali lagi mengacungkan pemukul kastinya.

"Apa yang dia lakukan, Ra?" Seli berbisik, menunjuk Ali yang terbang di atas kepala kami.

"Membuat ulah. Seperti biasa," Aku memperbaiki anak rambut di dahi.

"Turun, Ali!" seru Seli.

"Aku sedang mengurus mereka, Seli," Ali menolak.

"Turun, Ali!" Seli kini melotot.

"Eh, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi sok berkuasa, Seli," Ali balas melotot. "Ternyata seru juga sok berkuasa, berteriak-teriak, menyuruh orang lain menyerah.

" Aku menepuk dahi.

"Semua bersiap! Maju satu langkah.

" Perwira tinggi tidak memedulikan Ali. Dia mengacungkan tangan ke depan. Mendengar perintah itu, ratusan Pasukan Bintang melangkah serempak dengan tabung pendek, siap melepaskan tembakan kapan pun.

"Formasi blokade!" Perwira tinggi menyemangati anak buahnya.

Aku ikut memasang kuda-kuda. Kami akan bertempur lagi.

"Biarkan aku mengurusnya, Ra!" Seli mengangguk kepadaku, melangkah yakin.

"Tangkap kembali mereka!" Perwira tinggi berteriak memberi perintah.

Ratusan anggota Pasukan Bintang serempak menyerbu.

Tapi Seli lebih dulu mengangkat tangannya. Sarung Tangan Matahari-nya bersinar terang. Itu bukan pukulan petir, itu teknik kinetik tingkat tinggi.

"Lepas!" Seli berteriak.

Ratusan tabung pendek yang dipegang oleh Pasukan Bintang terlepas dari tangan mereka, beterbangan ke udara. Seperti ada kekuatan tidak terlihat yang menarik paksa tabung-tabung itu. Satu-dua anggota Pasukan Bintang berusaha mempertahankan senjata mereka, tapi tenaga mereka kalah kuat. Tabung-tabung itu membawa terbang pemiliknya, yang kemudian terjatuh.

"Hancur!" Seli mengepalkan jemarinya.

Tabung-tabung pendek itu remuk, seperti kaleng yang diremas oleh tangan tak terlihat, kemudian berjatuhan. Itu kekuatan kinetik yang besar sekali. Aku menatap takjub. Ali benar, petarung Klan Matahari memang menakjubkan. Setiap kali mereka habis bertempur dan pertempuran itu tidak mampu membuat mereka kalah, maka mereka akan pulih dengan kekuatan berlipat-lipat. Mereka punya kemampuan menyerap rasa sakit, mengubahnya menjadi kekuatan baru.

Kami telah memenangkan pertempuran dengan mudah. Tanpa tabung pendek, senjata dengan teknologi tinggi, Pasukan Bintang praktis tidak lagi memiliki keunggulan. Seli melangkah maju, tangannya tetap terangkat, mengancam siapa pun. Ratusan anggota Pasukan Bintang refleks mundur. Barisan rapi mereka berantakan. Beberapa di antara mereka meninggalkan ruangan besar, berlarian.

Ali sudah turun dari terbangnya. Dia mendatangi perwira tinggi yang menatap kami dengan sorot mata kalah. Tidak ada anggota Pasukan Bintang yang bisa melindunginya.

"Di mana kalian menahan Faar dan Kaar?" Ali bertanya galak.

Perwira tinggi itu membisu.

"Ayolah, aku tidak perlu menyiksa kalian, baru kalian akan memberitahu, kan?" Ali mengancam, pemukul kastinya bersiap.

Salah satu anggota Pasukan Bintang melangkah maju. Dia yang memeriksa aku dan Ali di sel kubus setiap dua belas jam.

"Teman kalian ada di salah satu kubus kaca di atas.

" Anggota Pasukan Bintang itu menunjuk dinding bebatuan.

"Apakah kamu bisa menurunkannya?" aku bertanya dengan intonasi lebih sopan--sebelum Ali membentakbentak. Anggota Pasukan Bintang ini telah memperlakukan aku dan Ali dengan baik. Dia juga menunjukkan perhatian terhadap kondisi kami selama di kubus kaca. Tidak semua Pasukan Bintang sekejam Sekretaris Dewan Kota, lebih banyak yang terpaksa mengikuti perintah.

Anggota Pasukan Bintang itu menoleh kepada perwira tinggi, meminta persetujuan. Sebagai jawaban, perwira tinggi itu tetap membisu. Anggota pasukan itu mengangguk, memutuskan sendiri situasinya, melangkah menuju panel-panel di atas meja. Dia menekan beberapa tombol.

Aku mendongak. Dua kubus kaca terlihat melepaskan diri dari dinding cadas, kemudian perlahan bergerak turun.

Kubus kaca itu mendarat di lantai. Pintunya mendesing terbuka.

Kaar keluar dari dalam kubus. Kepala koki Restoran Lezazel itu menatap sekitar penuh tanda tanya.

Sementara Faar melangkah dari kubus sebelahnya, tersenyum lebar kepada kami.

"Wahai. Raib, Seli, Ali, kalian bertiga selalu datang lebih cepat daripada yang kuduga.

" Seli berlari memeluk Faar.

"Aku baik-baik saja, Seli. Jangan cemaskan orang tua ini. Wahai, aku jadi risi dipeluk di depan banyak orang.

" Faar tertawa. "Aku justru mencemaskan ratusan anggota Pasukan Bayangan ini. Aku melihatnya dari atas, kamu sendirian meremukkan tabung pendek mereka.

" "Kita harus segera meninggalkan ruangan ini, Ra," Ali mengingatkan.

"Tapi bagaimana kita akan keluar?" Kaar bertanya. "Mereka sudah mengunci semua pintu keluar dari ruangan ini, juga portal lorong berpindah. Hanya bisa masuk, tidak bisa keluar.

" Aku menarik keluar Buku Kehidupan dari tas pinggang.

"Wahai...!" Faar berseru. "Kalian berhasil?" Aku mengangguk.

"Aku selalu tahu kalian pasti bisa mendapatkannya kembali.

" Faar terkekeh.

"Ayo, Raib, buka portalnya sekarang!" Ali berseru.

Aku menggenggam buku itu erat-erat.

"Halo, Putri Raib.

" Buku itu bicara lewat sentuhan tanganku. "Kali ini kau hendak mendengar kisah yang mana? Atau kau hendak pergi ke mana?" Belum sempat aku menyebutkan lembah hijau milik Faar, di atas kami, terdengar suara bergemelecuk. Aku mendongak. Di atas sana, sebuah cincin portal justru telah terbuka. Dengan cepat cincin itu membesar, diselimuti awan hitam dan petir.

Itu apa? Portal dari mana? Wajah perwira tinggi Pasukan Bintang terlihat cemas. Yang membuatku teringat sesuatu, percakapan dua anggota Pasukan Bintang di kubus kaca. Mereka bilang, malam ini, Sekretaris Dewan Kota akan berkunjung ke Ruang Penjara, memeriksa para tahanan.

Ali menyikutku. Aku menoleh. Kami saling menatap.

Ali menyeringai, mengangkat pemukul kastinya. "Baiklah. Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Ra. Apa pun keputusanmu, aku setuju.

" Aku mengangguk. Aku memasukkan kembali Buku Kehidupan ke dalam tas pinggang. Kepulangan kami bisa ditunda beberapa menit. Ada urusan berikutnya yang harus diselesaikan. Tanganku memegang yang lain, dan. tubuh kami telah menghilang di lantai ruang kontrol.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊