menu

Matahari BAB 28

Mode Malam
BAB 28
HAMPIR delapan jam aku tenggelam membaca Buku Kehidupan. Waktu melesat tanpa terasa. Tapi aku tetap tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan Seli, Buku ini dipenuhi kisah-kisah hebat.

Aku "membaca" dengan detail kisah si Pow nomor 9, ketika sebelas ribu tahun lalu "sepotong" laut runtuh.

Dasar laut seluas jutaan kilometer persegi longsor di tengah Samudra Pasifik, yang menimbulkan gelombang tsunami setinggi empat kilometer menerpa lima benua. Pow, pemilik keturunan murni, seorang diri membuat tameng transparan sepanjang pesisir pantai ibukora Klan Bulan. Waktu itu kota Tishri masih di tepi pantai.

Pow menyelamatkan begitu banyak orang, namun dia gugur, mengorbankan seluruh sisa tenaganya demi jutaan orang. Itulah tameng paling hebat yang pernah dibuat.

Buku Kehidupan mengisahkan, Pow kecil amat menyukai membuat tameng transparan. Orangtuanya yang pejabat tinggi kota Tishri kemudian memberikan pelatihan terbaik, mengembangkan bakat itu. Pow mewarisi Buku Kehidupan dan segelnya saat usia empat tahun. Petugas Perpustakaan Sentral menyerahkan dua benda pusaka tersebut kepada Pow. Sejak itu, semua orang tahu, esok lusa Pow akan menyelamatkan dunia.

Aku menutup Buku Kehidupan, mendongak menatap dinding bebatuan. Itu kisah yang hebat sekali. Tapi aku bukan siapasiapa dibanding Pow. Aku hanya remaja tanggung, yang bahkan bisa cemas oleh satu jerawat. Aku tidak bisa membuat tameng sehebat itu. Sekuat apa pun tamengku, mudah sekali kapsul tempur Pasukan Bintang mengirisnya.

Entahlah, buku ini mungkin salah mengenaliku. Aku menghela napas, menoleh ke dinding cadas. Sebentar lagi, dua anggota Pasukan Bintang akan datang dari sana, menyuntikkan asupan gizi. Aku melepas pin dari buku, menyimpannya di saku kostum. Segera kumasukkan buku matematikaku ke dalam tas pinggang.

Aku mengetuk dinding kubus kaca perlahan, membangunkan Ali. Dia harus bangun dari tidur mendengkurnya, atau anggota Pasukan Bintang akan tahu Ali pura-pura masih pingsan selama ini.

Tiga kali ketukan.

"Ap-pha, Ra?" Ali menguap.

"Jadwal pemeriksaan. Sebentar lagi.

" Tidak ada jawaban. Aku mengetuk dinding kubus lagi.

"Aku sudah bangun, Ra. Tidak perlu dibangunkan lagi.

" "Aku tahu. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu.

" "Aku bukan guru sekolah, bukan tempat bertanya-tanya.

" Si genius ini amat menyebalkan. "Menurutrnu, bagaimana agar aku bisa melatih kekuatanku jauh lebih baik, Ali?" "Mana aku tahu. Yang punya kekuatan itu kan kamu," Ali menjawab asal.

"Aku serius bertanya, Tuan Muda Ali.

" Aku mendesah kesal. Ini pertanyaan penting sekali. "Maksudku, seperti kamu yang selalu bisa membuat benda-benda, dan terus mencobanya. Terus mengalami kemajuan, apa pun masalah yang kamu temui. Dulu, saat mentok soal pemindai lorong-lorong kuno, meskipun lambat, juga marah-marah, kamu tetap bisa menemukannya. Bagaimana caranya, Ali? Kamu selalu bisa mengalahkan rasa bosan, tidak percaya diri, dan keragu-raguanmu.

" Ali diam sejenak.

"Aku juga tidak tahu, Raib," Ali akhirnya menjawab lebih serius. "Aku hanya senang melakukannya. Jadi meskipun kamu menertawakanku, tidak percaya misalnya, aku tetap melakukannya. Meskipun satu sekolah menganggapku biang kerok, guru-guru tidak menyukaiku, tapi aku tahu persis, aku bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan orang lain.

"Kadang kala aku gagal. Itu benar. Entah berapa kali aku meledakkan sesuatu di basement. Tapi itu tidak membuatku kapok. Kadang kala aku menemui jalan buntu, harus melupakan eksperimen penting, menyingkirkan benda-benda tidak berguna, setengah jadi, tapi aku tidak akan berhenti. Karena aku menyukainya, passion, hobi, mimpi-mimpi, semangat, entah apa lagi kata yang tepat menggambarkannya.

" Aku terdiam di dalam kubusku. Ali benar, dia terus berusaha.

"Kamu tahu, Ra, ayahku pernah bilang--yah, meskipun dia terlalu sibuk dengan bisnis kapal kargonya, dia bilang, 'Hidup ini adalah petualangan, Ali. Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik.

' Itulah kenapa aku menyukai basement-ku, penelitianku, petualangan kita. Aku melakukan yang terbaik, sisanya akan datang dengan sendirinya.

" Lengang sejenak. Tapi tiba-tiba Ali bersuara, "Hei, kenapa pembicaraan kita jadi serius sekali.

" Seli benar, lama-lama aku jadi mirip Av. Kalimat-kalimat menyebalkan ini. Kamu tidak akan menertawakanku, kan?" Aku menggeleng. "Terima kasih, Tuan Muda Ali.

" "Terima kasih untuk apa?" Suara mendesing terdengar di dinding cadas. Tanda sebentar lagi dua anggota Pasukan Bintang akan datang memeriksa kubus kaca. Ini sudah dua belas jam sejak mereka datang terakhir kali.

"Semuanya. Terima kasih untuk jawabanmu.

" Aku mengusap pipi. Sekarang aku bisa mengerti satu hal. Aku memang selalu ragu-ragu atas kekuatan yang kumiliki, Tidak ada yang membimbingku, mengajariku selama ini. Tetapi aku yakin sekali satu hal: aku menyukai kekuatan menghilangku.

Kepalaku mengenang kembali masa kanak-kanak. Aku berlari dan menghilang, bermain petak umpet dengan Mama dan Papa. Saat aku berlari-lari di taman rumput yang basah disiram air hujan, aku menghilang agar Mama tidak menyuruhku lekas berhenti mandi hujan. Aku amat menyukai kenangan itu.

Inilah saamya melatih lebih tinggi level kekuatan menghilangku. Seperti Ali yang membuat ILY versi 2.

0, saatnya aku menembus batas kekuatan ini. Seandinya pun gagal, aku akan terus berusaha, lagi, lagi, dan lagi. Karena ini sesuatu yang amar kusukai, momen saat menutupkan kedua belah telapak tangan ke wajah, kemudian tubuhku menghilang.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊