menu

Matahari BAB 26

Mode Malam
BAB 26
TANGANKU menyentuh sebuah buku! Aku segera menariknya keluar. Aku refleks berdiri.

"Buku Kehidupan!" seruku, "Ini Buku Kehidupan? Bagaimana mungkin buku ini ada di tasku?" Tanganku gemetar memeriksanya, khawatir salah lihat, jangan-jangan ini hanya ilusi karena kepalaku masih terasa sakit. Atau Ali sedang jail mengerjaiku. Tapi ini memang benar buku matematika milikku.

Aku sangat mengenalinya.

"Bagaimana? Bagaimana buku ini ada di tasku, Ali?" aku bertanya dengan suara bergetar.

"Akan kujelaskan, tapi kamu harus bilang dulu, 'Ali adalah teman terbaik seluruh galaksi Bima Sakti'.

" Aku melotot.

"Bilang dulu, Ra..." "Tanpa harus aku bilang, kamu memang sudah teman terbaik, Tuan Muda Ali.

" Aku mendengus.

Ali tertawa pelan.

"Kenapa buku ini ada dalam tasku, Ali? Bukankah Sekretaris Dewan Kota telah mengambilnya dari tasmu saat di lapangan rumput markas kota Zaramaraz?" "Itu karena dia terlalu pongah. Dia merasa teknologinya sudah paling hebat, tidak bisa ditandingi siapa pun. Dia lupa, satu trik kecil cukup untuk mengalahkannya.

" "Kamu ingat gumpalan gel hijau yang diberikan Meer di Padang Berburu? Aku awalnya tidak tahu itu benda apa, hingga tidak sengaja saat memegang benda tersebut, gel hijau itu berubah bentuk meniru jemari tanganku. Persis seperti tangan yang sedang memegang tangan. Itu gel peniru terbaik, mampu mengkloning benda apa pun di dekatnya. Saat kita keluar dari ruangan Sekretaris Dewan Kota, aku segera membuat tiruan Buku Kehidupan. Saat kita berlarian di lorong keluar aula utama, aku memasukkan Buku Kehidupan yang asli ke dalam tasmu, Ra. Kamu mungkin tidak menyadarinya, karena sibuk mengatasi Pasukan Bintang.

"Sekretaris Dewan Kota mengambil tiruannya dari tasku. Si menyebalkan itu tidak akan tahu bahwa itu buku palsu. Lihatlah, dia bahkan tidak bisa melihat pemukul kastiku saat menghantam kepalanya di tengah aula, apalagi bisa membedakan Buku Kehidupan palsu dan asli.

" Ali tertawa.

"Ini. ini hebat sekali, Ali!" seruku. "Kita bisa kembali ke klan kita.

" "Ya. Kamu bisa kembali ke sana, Ra," Ali berkata pelan. "Tapi tidak untukku atau Seli.

" "Eh?" Aku tidak mengerti.

"Kamu bisa segera membuka portal ke dunia kita, cincin portal itu akan muncul. Tapi aku ada di sel kubus berbeda, aku tidak bisa ikut denganmu, kecuali aku bisa menyeberang ke kubus kacamu. Juga Seli, entah dia ada di sel penjara mana.

" Aku terdiam. Ali benar. Kalaupun aku bisa membuka portal, hanya aku yang bisa pergi.

"Pulanglah, Ra. Jangan cemaskan aku dan Seli," Ali berkata pelan.

Aku menggeleng kuat-kuat.

"Atau kamu bisa pergi ke Klan Bulan, mencari Av dan Miss Selena, meminta pertolongan.

" "Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua...," aku memotong ucapan Ali.

"Panglima Tog bisa membantu kita, mengirim Pasukan Bulan, juga Klan Matahari, ketua konsil baru....

" "Berhenti membahasnya, Ali. Kita akan pulang bersama-sama.

" Ali terdiam.

"Baiklah. Kalau begitu, buku itu tetap tidak berguna hingga kita bisa berkumpul lagi.

" "Ya. Kita memang akan berkumpul lagi....

" Kalimatku terputus. Terdengar suara mendesing dari kejauhan, dari dinding batu.

"Dua anggota Pasukan Bintang itu kembali, Ra. Jadwal pemeriksaan.

" Aku menelan ludah. "Apa yang harus kulakukan?" "Pura-pura masih pingsan, Ra.

" Aku menggeleng. "Aku bisa melawan mereka, Ali. Mengambil kunci penjara, membebaskanmu.

" "Jangan ambil risiko.

" Ali terdiam sejenak. "Aku berani bertaruh, sekali ada guncangan di sel ini, kubus kaca akan terjatuh otomatis ke lautan magma di bawah sana. Kita belum siap untuk bertempur, Ra. Purapura pingsan adalah rencana terbaik saat ini.

" Aku mengepalkan jemari.

Di seberang sana, dinding cadas terlihat merekah, membuka pintu. Lantas di ruang hampa di depan kami, di atas magma, terbentuk jembatan panjang menuju kubus.

Aku segera memasukkan buku matematika ke tas. Ali benar, kami belum siap melawan. Aku kembali purapura pingsan di lantai kubus.

Dua anggota Pasukan Bintang melangkah melewati jembatan sepanjang empat puluh meter. Tiba di sel kubusku, mereka menekan sesuatu di luar dinding kaca. Sebuah pintu terbuka dari dinding kubus.

"Mereka sudah siuman?" salah satu bertanya. Dia memegang tabung pendek yang teracung siaga.

"Belum," Yang lain menghela napas, dia membawa kotak peralatan. "Kita tidak mengalami kemajuan sedikit pun.

" Satu anggota Pasukan Bintang yang membawa kotak peralatan jongkok di sebelahku, mengeluarkan suntikan, dan menyunrikkannya di lenganku. Tidak terasa menyakitkan, sesuatu mengalir, Itu sepertinya nutrisi, agar kami tetap bertahan hidup.

"Anak-anak malang ini, aku khawatir semakin lama di sini, kondisi mereka semakin buruk. Aku pikir penguasa kota Zaramaraz semakin gila. Bagaimana mungkin remaja seusia ini dimasukkan ke sel penjara dengan tingkat keamanan maksimum tanpa proses pengadilan sama sekali?" "Kita hanya diperintahkan mengawasi mereka, dan segera melapor jika mereka siuman," temannya mengingatkan, "Kita tidak berurusan dengan politik Dewan Kota terhadap para pemilik kekuatan.

" "Tapi lihatlah, mereka sudah empat hari pingsan. Kita sipir penjara, bukan petugas medis yang bisa merawat. Setidaknya Dewan Kota bisa mengotorisasi penggunaan mesin medis untuk memulihkan mereka, bukan hanya memberi asupan gizi dasar. Yang satu ini, mengalami memar di seluruh tubuh, kepalanya terbentur, beberapa tulangnya retak.

" "Hati-hati, Kawan. Sekretaris Dewan Kota akan marah besar jika tahu opinimu. Jangan lupa, tiga anak ini menyerang markas kota Zaramaraz. Dari bisik-bisik yang kudengar, mereka menghancurkan aula utama.

" Anggota Pasukan Bintang yang sedang melepas suntikan itu terdiam.

"Mereka mungkin punya alasan masuk akal kenapa melakukan hal itu. Dari ribuan para pemilik kekuatan yang di penjara di ruangan ini, hanya anak-anak ini yang diperlakukan seperti itu," Dia berdiri. "Terlebih teman mereka yang satu lagi, tangannya dibekukan, tergantung tidak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri di ruangan isolasi. Itu sangat kejam, Anak itu bisa kehilangan tangannya jika dia tidak kunjung siuman.

Bukankah kamu juga punya anak-anak seusia mereka? Meskipun para pemilik kekuatan dibenci Dewan Kota, mereka berhak diperlakukan lebih pantas.

" Aku hampir saja refleks bangun dari lantai kubus demi mendengar kalimat itu. Seli! Itu pasti Seli yang mereka maksud. Aku mengatupkan rahang, berusaha keras untuk terus pura-pura pingsan.

"Malam ini Sekretaris Dewan Kota akan datang. Mungkin kamu bisa menyampaikan keberatan itu secara langsung," temannya menjawab selintas lalu.

"Itu ide gila. Mereka akan memindahkan kita ke ruangan Padang Sampah, Menurunkan pangkat kita menjadi tukang sampah di sana. Atau mengirim kita ke Padang Raksasa, menjaga para raksasa tidur.

" Temannya tertawa.

"Ayo bergegas. Kita harus memeriksa yang satunya. Aku ingin segera kembali ke ruanganku, melanjutkan menonton siaran langsung Grand Prix Terbang Antar-Ruangan ke-100.

" Dua anggota Pasukan Bintang itu keluar dari kubusku. Suara berdesing terdengar pelan, pintu kaca kembali menutup. Mereka pindah ke kubus Ali di sebelah. Tidak banyak yang mereka bicarakan lagi di kubus Ali, hanya menyuntikkan asupan gizi, kemudian keluar, berjalan di atas jembatan menuju dinding cadas seberang. Saat mereka tiba di ujung, jembatan itu menghilang, dinding cadas kembali seperti semula, menyisakan suara lautan magma yang meletup-letup.

Aku bergegas berdiri, mengetuk kubus kaca.

"Ya?" Ali berkata di sebelah.

"Kita harus segera menyelamatkan Seli, Ali.

" "Aku tahu, Ra. Tapi jika keluar dari kubus ini saja kita tidak bisa, bagaimana kita akan menyelamatkannya? Seli akan baik-baik saja, dia jauh lebih kuat dibanding yang kita kita. Petarung Klan Matahari punya kemampuan menyerap rasa sakit....

" "Tangannya dibekukan, Ali.

" aku memotong.

"Itu mungkin maksudnya hanya dimasukkan ke baskom es saja, Ra," Ali mencoba bergurau.

Aku mendengus kesal.

Tapi Ali benar, satu jam berlalu, aku juga tetap tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan Seli. Kubus kaca ini adalah penjara paling serius di Klan Bintang, tidak ada telah meloloskan diri.

"Aku akan tidur sebentar, Ra. Tubuhku butuh istirahat, pemulihan. Bangunkan aku jika jadwal pemeriksaan berikut tiba," Ali berkata pelan.

Aku tidak menjawab, duduk di lantai kubus, meluruskan kaki, mengusap wajahku.

Ini sangat menyebalkan. Kalimat Ali benar. Itu yang membuatku kesal. Kami hanya bisa menunggu di dalam kubus ini, hanya bisa terus berpikir positif, berharap ada keajaiban yang terjadi.

Aku menatap dinding cadas. Apa yang harus kulakukan sambil menunggu.

" Aku tidak mau hanya duduk santai di sini. Aku bukan tahanan.

Lima belas menit lengang. Ali mungkin sudah tertidur di sebelah. Aku teringat sesuatu. Bukankah waktu melakukan petualangan di Klan Matahari, aku sering melatih kekuatanku jika giliran berjaga tiba, sementara Ali, Seli, dan Ily tidur. Itu bisa kulakukan di sel kubus ini, melatih kekuatan yang tidak menimbulkan guncangan.

Aku bisa melatih teknik penyembuhan. Itu ide bagus.

Aku mengangkat tanganku, berkonsentrasi, Sarung Tangan Bulan mengeluarkan cahaya terang yang hangat.

Aku menyentuh betis kananku yang sejak siuman terasa sakit setiap kali digerakkan. Saat cahaya hangat menyelimuti betis, aku bisa melihat tembus organ dalam tubuhku, menatap tulang keringku yang retak. Ini seperti diagnosis awal, tapi dengan cara yang lebih menakjubkan.

Aku bisa memulihkannya, mulai konsentrasi penuh.

Seperti sedang melakukan operasi rumit, sel-sel superkecil dalam tubuhku mulai melakukan regenerasi.

Sel-sel mati dan rusak digantikan sel-sel baru, yang bergerak cepat, menyulam retakan tersebut seperti semula. Ini luar biasa! Aku menelan ludah. Aku baru beberapa hari menguasainya, tapi hasilnya sudah baik. Entah apa yang bisa dilakukan oleh Av yang sudah ratusan tahun.

Tanganku pindah menyentuh pundak. Lebih dari dua kali kapsul tempur Pasukan Bintang menghantam bagian tubuhku itu, sakit sekali saat disentuh. Rasa hangat masuk ke pundakku. Cahaya terang lembut menyelimuti pundak. Perlahan-lahan, lebam di pundakku mulai memudar, berganti warna kulit normal, juga jaringan di bawahnya, sembuh dari trauma benturan.

Satu jam berlalu, aku menghela napas lega. Tubuhku pulih seperti sedia kala. Termasuk kepalaku yang terasa pusing setiap kali bergerak, kini terasa ringan. Aku memulihkan satu saraf otak di kepalaku yang terjepit akibat terbanring ke tembok aula ditendang Robot Z.

Teknik penyembuhan ini mengagumkan. Aku mengetuk dinding kubus kaca.

"Aku mau tidur, Ra. Jangan mengganggu!" Ali berseru.

"Aku berhasil menyembuhkan tubuhku, Ali.

" "Tentu saja kamu bisa.

" Ali menguap.

Jika aku berada satu sel kubus dengannya, akan kulempar dia dengan sesuatu. Dia sama sekali tidak peduli. Aku kembali menatap dinding cadas. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan.

Aku sempat mencoba menyentuhkan tangan di lantai kubus, berusaha "membaca" ruangan penjara ini lewat teknik "bicara dengan alam", mungkin aku bisa mengetahui posisi sel isolasi Seli. Tetapi percuma, kubus ini mengambang di udara, tidak tersambung ke benda padat mana pun. Aku tidak bisa mengirim getaran, mengetahui apa yang ada di balik dinding bebatuan tebal di sekitar kami.

Satu jam lagi berlalu. Aku mulai bosan. Kembali mengetuk dinding kaca.

"Aduh, Ra. Aku sudah tidur. Sejak siuman dua hari lalu aku tidak bisa tidur. Sekarang giliran mu yang terjaga di kubus sebelah.

" Ali protes, suaranya kesal.

Aku balas bergumam kesal, "Terus, apa yang harus kulakukan sekarang?" "Mana aku tahu," Ali menjawab pendek, menggerutu, lalu kembali tidur.

Aku belum pernah masuk penjara. Aku tidak tahu betapa membosankan hanya duduk di sel tanpa bisa melakukan apa pun. Aku mendongak kembali menatap dinding cadas-hanya itu pemandangan dari kubus kaca. Aku tidak tertarik melihat ke bawah lantai.

Satu jam berlalu lagi.

Aku hendak mengetuk dinding kaca, tapi urung. Ali sepertinya sudah tidur lelap. Suara dengkurannya terdengar. Dia seakan tidur di rumah yang nyaman, bukan di atas lautan magrna bergolak. Aku membuka tas di pinggang. Daripada bosan tidak ada yang bisa kulakukan, aku bisa membuka-buka buku matemarikaku, Selama ini aku memang tidak bisa membacanya, tapi melihat-lihat kembali akan menyenangkan.

Aku tersenyum, menatap buku tua dengan kertas kecokelatan. Ini dulu buku PR matematikaku, kugunakan untuk latihan soal, mengerjakan PR. Ali pernah melihat isinya, menertawakan nilainilaiku yang hanya 4 atau 5. Hingga suatu hari, Miss Selena datang ke rumah, menyerahkan buku ini, sambil berpesan: Apa pun yang terliha.

t, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Aku tidak tahu apa maksud Miss Selena. Ganjil sekali seorang guru mengantarkan buku matematika muridnya langsung ke rumah.

Saat kami diserang Tarnus di aula sekolah, dan Miss Selena berhasil menyelamatkan kami, dia sekali lagi sempat berseru tentang betapa pentingnya buku PR matemarikaku ini. Di rumah, bertiga, saat aku mencoba menghilangkan buku ini--karena disuruh Ali--buku ini mendadak berubah menjadi buku tua dengan kertas kecokelatan, sampul berwarna gelap dari kulit, dan di atasnya ada gambar bulan cetak timbul. Buku inilah yang kemudian membawa kami pergi ke Klan Bulan dan Klan Matahari, membuka portal antarklan, Aku tahu, sebagai pengintai terbaik Klan Bulan, Miss Selena yang menemukan buku ini, kemudian menyerahkannya kepadaku, menyamarkannya dalam bentuk buku PR matematika.

Aku mengusap gambar bulan yang muncul di sampul buku.

"Halo, Putri..." Buku itu bicara kepadaku, lewat suara yang merambat di tangan. Aku sudah terbiasa, buku ini selalu menyapaku dengan cara tersebut.

"Putri Raib hendak pergi ke mana sekarang?" Aku menggeleng. "Aku tidak sedang tertarik bepergian, dan berhentilah bertanya soal itu.

" Aku menatap lamat-lamat Buku Kehidupan, membuka halaman-halamannya yang kosong. Bisakah buku ini memberitahuku tentang cara melarikan diri dari sel kubus kaca? Seli, sangat membutuhkan pertolongan.

Bukankah buku ini dipenuhi kebaikan, seperti mengembalikan yang telah pergi, menyembuhkan yang sakit, menjelaskan yang tidak paham, melindungi yang lemah dan tidak berdaya? Aku tahu buku ini bisa membaca pikiranku, apakah dia bisa membantu? "Putri Raib, aku tahu, kau pewaris buku ini. Puluhan ribu tahun sejak seluruh kebijaksanaan Klan Bulan disegel di dalam buku ini, aku bisa mengenali para pemilik keturunan murni saat dia menyentuhku pertama kali. Tapi harus ada sebuah benda yang membuka segel itu, barulah kau bisa membacanya. Maafkan aku, tanpa segala itu, aku tidak bisa membantu banyak.

" Segel apa? Aku berseru dalam hati. Ini kemajuan yang menarik. Biasanya buku ini hanya sibuk bertanya aku mau ke mana, kali ini dia bicara soal lain.

"Putri Raib hendak pergi ke mana sekarang?" Itu lagi, itu lagi. Aku mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggung ke dinding kaca. Buku ini kembali menanyakan hal tersebut.

Aku menatap dinding cadas yang kasar. Buku ini disegel dengan apa? Av dan Miss Selena tidak pernah menyinggung soal segel. Lautan magma meletup, ada gelembung besar yang pecah, tepercik terang. Aku menatap sekilas ke bawah.

Hei! Ada sesuatu yang juga menyala terang? Bukan dari aliran magrna, melainkan dari saku celana kosrum hitam-hitamku.

Tanganku bergegas mengambil benda dari saku.

Pin sebesar tutup botol. Pin yang ditinggalkan ibu kandungku saat melahirkanku enam belas tahun lalu. Pin ini semakin bersinar terang saat berdekatan dengan Buku Kehidupan.

Segel? Gambar di atas pin dengan di sampul buku persis saling melengkapi.

Jangan-jangan...? Tanganku gemetar, aku menempelkan pin itu.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊