menu

Matahari BAB 25

Mode Malam
BAB 25
AKU jatuh pingsan saat anggota Pasukan Bintang menggotong kami ke atas kapal induk.

Cincin portal besar terbuka di atas langit-langit kota Zaramaraz, kemudian ratusan pesawat bergerak masuk ke dalamnya. Ini kali kedua penduduk kota melihat pertunjukan kolosal militer Klan Bintang mengudara di langit mereka. Cincin portal itu menutup, gemeletuk petir dan selimut awan hitamnya menghilang. Kapal induk yang membawa kami melesat melintasi portal muncul di ruangan lain. Sekretaris Dewan Kota ternyata memutuskan membawa kami ke sel penjara langsung tanpa proses pengadilan lagi-- bukan sel karantina markas Kota Zaramaraz, Aku tahu fakta ini setelah siuman.

Mataku mengerjap-ngerjap silau. Cahaya muncul dari segala sisi tempatku terbaring, termasuk dari lantai.

Aku masih menyesuaikan diri.

Aku berada di mana? Aku meringis. Tubuhku terasa remuk. Kakiku sakit sekali digerakkan. Aku berusaha duduk.

Ini ruangan apa? Sel karantina.

" Aku sepertinya berada di dalam kotak kubus yang terbuat dari kaca. Sisi kubus ini hanya empat meter. Sinar yang membuat mataku silau berasal dari kaca. Entah bagaimana mereka membuatnya, kaca ini bisa mengeluarkan cahaya, seperti ekor kunang-kunang. Mataku perlahan mulai terbiasa, berusaha memeriksa sekitar. Kubus ini diletakkan di tengah lubang besar, seperti sumur, Sekelilingnya adalah dinding bebatuan tinggi, menjulang. Aku mendongak berusaha melihat pucuk lubang, gelap, tidak tampak apa pun.

Aku refleks berpegangan ke dinding kaca saat menatap ke bawah. Kaget.

Lihatlah, empat puluh meter di bawah kubus, lautan magma meletup-letup. Itu pemandangan yang menakutkan. Magma itu terus bergolak, menyala membara. Aku menelan ludah. Apakah lantai kaca ini cukup tebal dan kuat.

" "Raib? Apakah kamu sudah siuman?" Suara yang amar kukenal bertanya.

Aku menoleh, mencari sumber suara. Tidak ada siapa-siapa di dalam kubus, hanya aku.

Terdengar ketukan di dinding kananku.

"Ini aku, Ra. Ali..." Meski kepalaku masih pusing, tubuh remuk, aku tentu saja tahu itu suara Ali. Dia tidak perlu memperkenalkan diri. Tapi aku tidak melihatnya, itu yang membuatku bingung.

"Aku berada di kubus sebelahmu, Ra. Kita memang tidak bisa saling melihat. Dinding kaca ini sedemikian rupa membuat kita tidak bisa melihat kubus di sebelah. Kita hanya bisa bicara satu sama lain. Kubus ini tidak kedap suara.

" "Jika kita tidak bisa saling lihat, bagaimana kamu tahu aku ada di kubus sebelah?" Ali tertawa kecil--tawa yang amat kukenal. Ali tertawa seperti itu jika aku tidak memercayainya.

"Setiap dua belas jam, akan ada dua Pasukan Bintang yang datang memeriksa kubus, sekalian memasukkan asupan gizi ke tubuh kita. Mereka yang memberitahuku bahwa kubus kita bersebelahan, tepatnya aku menguping pembicaraan mereka. Aku pura-pura masih tidak sadarkan diri saat mereka masuk memeriksa.

" "Kita ada di mana?" "Penjara Klan Bintang.

" Ali menghela napas.

Aku menelan ludah. Ini bukan sel karantina seperti di kapal induk? "Kita tidak lagi di kota Zaramaraz, Ra. Ini ruangan berbeda.

" Aku mengusap anak rambut di dahi.

"Kamu sudah melihat ke bawah?" Ali bertanya.

"Iya--" "Saranku, jangan sering-sering melihatnya. Itu bukan pemandangan menarik. Anggap saja lantainya adalah kayu atau marmer solid, lama-lama kamu akan terbiasa.

" Si biang kerok itu selalu santai dalam situasi apa pun. Bagaimana aku akan terbiasa kalau di balik kaca kubus ini, di bawah sana, bergolak mengerikan lautan magma? Bagaimana jika kaca yang kududuki tibatiba retak, pecah? Atau kubus ini jatuh? Kenapa ada magma di bawah sana? Di manakah kami sebenarnya berada? "Kita jauh sekali berada di perut bumi, Ra. Bangunan penjara ini ruangan tersendiri di Klan Bintang, seperti ruangan lembah hijau milik Faar. Ruangan ini terbagi menjadi banyak sub-sektor penjara. Ada yang khusus untuk penjahat biasa, ada yang untuk para pemilik kekuatan. Kubus sel penjara kita digantungkan di atas aliran magma bumi. Itu memastikan agar penghuni sel tidak coba-coba menggunakan pukulan berdentum misalnya untuk meloloskan diri. Sel kubus ini akan terjatuh otomatis saat prosedur keamanannya dilanggar.

" "Selil Apakah Seli juga ada di kubus lain sebelah kita?" "Sayangnya tidak, Ra," Ali bergumam pelan.

"Seli ada di mana? Apakah dia baik-baik saja?" Suaraku cemas.

"Dia baik-baik saja, Ra. Tidak perlu khawatir.

" "Bagaimana kamu tahu dia baik-baik saja, Ali?" "Aku menguping percakapan dua anggota Pasukan Bintang, Raib, Kan sudah kujelaskan tadi.

" Ali terdengar tersinggung. "Seli diletakkan di sel penjara yang berbeda. Aku tidak tahu di mana persisnya.

Tangan Seli dibekukan agar dia tidak bisa menggunakan kekuatan..." "Dibekukan?" Aku tercekat.

"Ya. Iru untuk mencegah Seli memanaskan dinding sel penjara atau benda lain, membuatnya lumer kemudian melarikan diri, atau menjadikannya senjata. Dia diisolasi di sel berbeda.

" Aku menghela napas lega, setidaknya Seli baik-baik saja. Tapi tangannya dibekukan? Aku segera mengusir bayangan buruk yang melintas di kepalaku.

Faar? Aku teringat sesuatu.

"Apakah Faar juga dibawa ke bangunan penjara ini?" "Aku tidak tahu. Anggota Pasukan Bintang tidak menyebut namanya. Omong-omong, kamu baik-baik saja, Rar Kamu tidak terluka?" "Badanku remuk, Ali. Seluruh tubuhku terasa sakit. Tapi di luar itu aku baik-baik saja. Kamu?" "Ya, aku baik-baik saja. Transformasi beruang melindungi tubuhku, tidak usah dicemaskan. Meskipun kapal induk dan pesawat-pesawat menyebalkan itu menembakiku, tubuhku terlindungi. Aku sudah siuman dua hari lalu.

" Aku menahan napas. "Dua hari lalu? Sudah berapa lama kita berada di penjara ini?" "Menurut percakapan dua anggota Pasukan Bintang, kita sudah empat hari berada di sini.

" Aku mengeluh. Empat hari? Ini buruk sekali.

Aku mendongak, menatap dinding-dinding batu yang melingkar. Beberapa hari lalu kami berangkat menaiki ILY dengan riang, menuruni lorong-lorong kuno, bertualang menuju Klan Bintang dengan harapan bisa belajar dan menemukan banyak hal. Sekarang, kami terkunci di dalam penjara kubus kaca dengan letupan magma. Beberapa hari lalu kami datang dengan antusias, sekarang kami menjadi pesakiran berbahaya kota Zaramaraz.

Dinding kubus diketuk pelan.

"Kamu masih di sana, Ra?" Ali memastikan.

"Iya," aku menjawab pendek.

Ali bergumam, "Aku khawatir kamu tiba-tiba pingsan lagi.

" Aku mengembuskan napas.

Bagaimana kami bisa membebaskan diri? Bagaimana jika kami berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau seperti ancaman Sekretaris Dewan Kota, selamanya berada di sini? Mama dan Papa akan panik, berusaha mencari, dan mendapatkan fakta kami tidak ditemukan di manamana. Mama akan sedih hingga kapan pun.

Bagaimana dengan sekolah kami? Aku mengeluh....

Miss Selena, Av, Panglima Tog, llo, apa yang akan mereka lakukan? Mereka tidak tahu kami menuju Klan Bintang. Mereka tidak bisa membantu banyak.

Dinding kubus diketuk pelan.

"Iya, Ali?" ucapku dengan suara serak.

"Kamu menangis, Ra?" Ali bertanya.

Aku menggeleng, meskipun Ali tidak bisa melihat gelenganku. Aku hanya sedih.

Ali mengembuskan napas.

"Ini memang menyebalkan, Ra, Sangat menyebalkan malah. Tapi jangan berkecil hati, kita pasti bisa melewatinya. Sama seperti saat di Klan Bulan, atau Klan Matahari, akan selalu ada jalan keluar sepanjang kita terus berpikir positif....

" Aku diam.

"Kamu tahu, Ra, dua hari terakhir, aku tidak sabaran menunggu kamu siuman. Sendirian di kubusku, tidak punya teman bicara, sangat membosankan. Setiap menit aku menunggu cemas. Mengetuk dinding perlahan setiap satu jam, berharap ada jawaban, semoga kamu akhirnya mendengarku. Tim kita sangat tergantung kepadamu, Aku tidak bisa membayangkan jika kamu kenapa-napa. Aku terus berpikir positif, bilang berkali-kali, Raib akan siuman, Raib akan baik-baik saja. Tidak terbayangkan betapa senangnya aku saat tahu kamu siuman beberapa menit lalu..." Aku tetap diam, menyeka pipi.

"Terus berpikir positif, Ra, kabar baik akan datang. Kita akan pulang ke dunia kita. Aku juga rindu orangtuaku, sekolah, basement rumah. Dan bicara tentang Klan Bintang ini, aku bersumpah, jika aku bisa keluar dari sel penjara ini, aku akan memukul Sekretaris Dewan Kota sekencang-kencangnya. Dia berhak mendapatkannya.

" Aku tertawa, sambil menyeka pipi sekali lagi. Ali tidak pernah kehilangan selera humor dalam situasi apa pun.

"Terima kasih, Ali.

" "Buat apa?" "Telah menjadi anggota tim kita. Aku juga tidak bisa berbuat apa pun tanpamu....

" Ali menyeringai lebar-aku yakin dia berbuat begitu, meskipun aku tak bisa melihatnya. "Besok lusa, jika kamu meneriakiku karena kesal, aku akan mengingat kalimatmu barusan, Ra.

" "Dan Seli, dia juga anggota tim....

" Suaraku terputus. Di kepalaku melintas lagi Seli yang tangannya sedang dibekukan. Entah bagaimana Pasukan Bintang melakukannya, membayangkannya saja sudah membuatku tercekat.

"Ayo, Ra. Berhenti berpikir negatif.

" Ali mengeruk dinding kubus perlahan.

Aku mengangguk, aku akan terus berpikir positif.

Kubus kaca lengang sejenak, menyisakan letupan suara magma.

"Omong-omong, aku punya dua rahasia kecil. Kamu mau mendengarnya, Ra?" Aku kembali mengangguk.

Ali diam sebentar, kemudian bicara santai, "Aku sebenarnya curang saat bermain basket.

" Aku refleks menoleh ke dinding kubus. "Curang?" "Ya. Kamu benar saat menuduhku mengakali pertandingan tersebut. Aku memang curang.

" Terdengar suara Ali terkekehkekeh di balik dinding kubus. Dia sama sekali tidak merasa bersalah.

"Bagaimana kamu melakukannya? Bukankah tidak ada benda, alat, atau apa pun di tangan dan kakimu? Bukankah kamu memang berlatih keras?" "Soal berlatih keras itu benar. Tapi di balik itu, aku jago bermain basket karena bantuan. Itu memang tidak ada di luar tubuhku, Ra. Benda itu ada di dalamku.

" Ali diam sejenak.

Aku tidak sabaran, mengeruk dinding. "Ali?" "Ya.

" "Benda apa?" "Masih ingat penjelasan tentang belut yang bisa mengeluarkan listrik, Rar Tujuh per delapan dari tubuh belut adalah ekornya. Di bagian ekor itu terdapat baterai-baterai kecil berupa lempengan-lempengan kecil yang horizontal dan vertikal. Jumlahnya sangat banyak, lebih dari lima ribu buah. Tegangan listrik tiap baterai itu kecil, tetapi jika semua baterai dihubungkan secara berderet atau seri, akan diperoleh tegangan listrik hingga 600 volt. Dari susunan baterai kecil itulah belut bisa mengeluarkan listrik.

"Di tangan Seli ada ratusan juta baterai berbentuk sel-sel organik. Saat baterai itu terhubung secara seri, Seli bisa melepaskan petir. Seli memiliki baterai itu, karena tubuhnya mewarisi desain yang memungkinkan hal itu. Dia punya kode genetiknya. Begitu pula tubuhmu, Ra. Kamu bisa menghilang, karena di tubuhmu ada kode genetik seperti seekor bunglon yang 'bisa menghilang; tapi dengan kemampuan berlipat-lipat. Sebenarnya semua kekuatan dari Klan Bulan atau Klan Matahari bisa dijelaskan secara ilmiah. Ada buku di Perpustakaan Sentral Klan Bulan yang membahasnya, yang kemudian memberiku ide.... Yang membuatku melakukan sebuah eksperimen kecil....

" Ali terdiam sejenak.

Aku mengetuk lagi dinding kubus.

"Ya, aku masih di sini, Ra," Ali berkata pelan.

"Eksperimen apa yang kamu lakukan?" "Aku menyuntikkan sesuatu ke dalam lenganku. Kode genetik dari kalian berdua.

" "Astaga! Kamu serius, Ali?" "Ya.

" "Tapi kamu tidak pernah mengambil sesuatu dari tubuhku selama ini, kan? Darah, misalnya?" "Itu tidak perlu. Kode genetik juga ada di rambut, dan itu bisa ditemukan di meja sekolah kalian. Aku mengekstraksi rambutmu dan Seli. Ada enam langkah prosesnya, membutuhkan alat-alat mutakhir. Aku memperolehnya lewat koneksi orangtuaku dari lab-lab penelitian dunia. Kemudian esktraksi itu disuntikkan.

"Satu minggu sejak disuntikkan, aku kecewa berat, karena tidak ada dampaknya. Aku merasa biasa-biasa saja. Tapi ini tetap kabar baik, setidaknya suntikan ekstraksi rambut kalian tidak berefek buruk kepadaku.

Dalam banyak eksperimen, kode genetik yang keliru disuntikkan bisa membunuh inangnya. Atau membuat cacat permanen, kelumpuhan.

" Aku mengusap wajah. Membunuh? Bagaimana mungkin Ali santai saja menceritakan ini? Si genius itu, tidak cukupkah meledakkan basement rumahnya sebagai batasan ingin tahu? Tidak perlu ditambahkan dengan rekayasa genetik yang sangat berbahaya.

"Hari kesepuluh, saat aku bersiap melupakan eksperimen itu, aku menyadari sesuatu. T ubuku semakin kuat, gerakanku semakin lincah. Setiap kali aku melempar sesuatu, tembakanku akurat. Aku memutuskan berlatih bermain basket, karena itu mempercepat perkembangan fisikku. Kode genetik dari kalian berdua ternyata memiliki pengaruh positif padaku, meski aku tetap tidak bisa menghilang atau melepaskan pukulan petir seperti hipotesis awal.

" "Kamu bisa menghilang dan melepaskan petir, Ali," aku berkata dengan suara tercekat. Aku seketika ingat kejadian di aula utama markas Dewan Kota.

"Aku tidak bisa melakukannya, Ra.

" "Itu karena kamu tidak menyadarinya.

" "Apa maksudmu?" "Saat kamu berubah menjadi beruang besar di aula utama kota Zaramaraz, beruang itu bisa menghilang, bisa mengeluarkan petir, juga membuat pukulan berdentum. Kamu tidak ingat?" Ali terdiam. Jika aku bisa melihatnya, wajah Ali pasti sangat antusias sekarang.

"Kamu tidak bergurau, Ra?" "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ali.

" "Wah, wah! Berarti eksperimen itu berhasil, Ra," Ali tertawa. "Itu sangat masuk akal. Kode genetik yang kusunrikkan ternyata baru bekerja jika aku berubah menjadi beruang, saat kekuatan primitif Klan Bumi yang kumiliki aktif. Apakah beruang besar itu terlihat sangat hebat, Ra?" Aku menarik napas panjang. "Beruang besar itu hanya butuh setengah menit menghabisi Robot Z! Beruang besar itu baru tumbang saat kapal induk dan belasan pesa,vat lain Pasukan Bintang melepas tembakan dari udara. Itu sebenarnya mengerikan, Ali.

" Tawa Ali terhenti, dia tahu maksudku, "Cepat atau lambat aku akan tahu bagaimana mengendalikan kekuatan beruang itu, Ra. Kamu benar, jika aku mengamuk di tempat yang salah, atau kepada orang yang salah, itu akan mengerikan akibatnya. Tapi setidaknya, eksperimen itu bekerja, Ra. Ini akan menjadi kemajuan menarik sekali.

" Kami diam sejenak.

Aku mendongak, menatap langit-langit penjara yang gelap. Dinding bebatuan tampak kasar, kontras dengan nyala terang lautan magma di bawah kami.

Dinding kubusku diketuk lagi perlahan.

"Iya, Ali?" "Aku masih punya rahasia kecil kedua, Ra" Suara Ali terdengar bersemangat.

"Apa?" "Periksa cas di pinggangmu.

" "Memangnya ada apa?" Aku bingung.

"Periksa saja, Ra.

" Aku menuruti perintah Ali. Kubuka tas di pinggangku, lalu kurogoh isinya.

Aku terkesiap! 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊