menu

Matahari BAB 23

Mode Malam
BAB 23
"HABISI mereka!" Sekretaris Dewan Kota berseru.

Dua belas robot itu seakan mengerti perintah tersebut. Mereka mengangguk, kemudian berderap maju menuju kami, Kaki-kaki logam mereka bergerak lincah, membuat suara keras. Puing-puing atap yang terkena injakan menjadi rata.

"Empat Z ke sisi kanan!" Robot terdepan memberi perintah.

Empat robot bergerak ke kanan.

"Empat Z ke sisi kiri!" Empat robot menyusul bergerak ke kiri. Mereka mengepung kami.

Aku tidak sempat memikirkan bagaimana robot-robot ini bisa bicara, atau menyusun strategi tempur. Yang paling depan, yang paling dekat dengan kami, telah melepas tembakan berdentum dari tabung pendek.

Aku memegang lengan Ali dan Seli, kemudian menghilang, melesat melewati bawah kaki-kaki robot.

Hanya itu telah yang tersedia. Lalu kami muncul di belakang mereka, balas melepas pukulan berdentum.

Robot yang kusasar membuat tameng transparan yang sangat kokoh. Aku terbanting saat pukulanku membentur tameng itu, juga Ali dan Seli. Kami terguling di lantai, di dekat potongan besi.

Belum sempat mengambil kuda-kuda, empat robot lain sudah tiba di atas kami, tabung pendeknya terarah.

Tidak ada waktu untuk membuat tameng atau menghindar, dua robot itu menembakkan tabungnya. Bukan pukulan berdentum, melainkan jaring perak. Seperti tiga ekor serangga yang dijerat sarang labalaba besar, kami bertiga terperangkap jaring itu.

Ali berusaha melepaskan diri dari jaring, tapi sia-sia. Jaring itu mulai mengecil, membuat gerakan kami di lantai semakin terbatas. Aku berusaha merobek jaringnya dengan pukulan berdentum, tapi percuma, jaring perak ini liat, terbuat dari karet yang bahkan kebal dengan pukulan petir Seli.

Aku mengatupkan rahang. Apa yang harus kulakukan.

" Jaring perak semakin mengecil, menjepit kami bertiga. Sepertinya pelawanan kami sudah selesai. Empat robot lain sudah berdiri di atas kami, membuat lingkaran. Tabung pendek mereka juga teracung, siap menembakkan sesuatu jika kami masih bisa meloloskan diri.

"Akhirnya!" Sekretaris Dewan Kota tertawa. Wajahnya tampak puas. "Bawa mereka ke sel karantina!" Sekretaris Dewan Kota memberi perintah.

Satu robot bersiap meringkus kami yang dililit jaring perak. Tangan besarnya meraup kami, Tapi sebelum jari-jari mekanik itu menyentuh tubuh kami. Seli! Lagi-lagi Seli! Dia mendadak mengangkat tangannya, dan potongan besi yang tergeletak di dekat kami terbang, dan dalam sekejap sudah cergenggam erat. Seli berteriak nyaring. Dia tidak melepas pukulan petir, melainkan mengirim panas tinggi ke potongan besi, membuatnya menyala membara.

Seli menggerakkan tangannya. Besi yang menyala merobek jaring karet dengan mudah.

Kami terlepas bebas! Sekretaris Dewan Kota yang sudah membalik badan kini menoleh, terkesiap.

Seli melompat, Dibantu teknologi sepatu terbang, dia mengambang di hadapan salah satu robot. Potongan besi di tangannya seperti pedang menyala, disabetkan kencang-kencang ke depan. Aku menatap takjub saat lengan robot itu terpotong. jatuh berkelontangan di lantai aula.

"Keren!" Ali berseru, meraih pemukul kastinya.

Aku juga bersorak senang dalam hati. Kami punya kesempatan lagi. Robot ini memang kuat, tapi kami tetap bisa bertahan. Aku ikut lompat ke udara, lalu muncul di wajah salah satu robot. Tanganku teracung.

Salju berguguran di sekitarku, Robot itu terbanting jatuh, menimpa robot di belakangnya. Seli melompat di sebelahku. Dia kembali berteriak kencang, menyabetkan "pedang menyalanya", menebas leher Robot Z.

Kepala robot itu menggelinding di lantai.

Seorang diri, dengan pedang supernya, Seli menghadapi Robot Z. Potongan besi menyala di tangannya melesat ke sana kemari, menghantam apa saja, seperti gerakan komet di malam gelap. Sedangkan Ali di bawah kaki-kaki robot juga terus melawan, sambil sesekali mernukulkan pemukul kastinya-yang sebenarnya tidak berdampak apa pun pada robot raksasa, tapi ini membakar semangat kami.

Lima menit kemudian, empat dari dua belas robot kota Zaramaraz roboh dengan lengan atau kepala copot.

Tapi Seli sudah sangat lelah. Dia tidak bisa terus-menerus melesat cepat. Gerakan Seli semakin lambat, potongan besi di tangannya tidak sepanas sebelumnya.

"Kamu baik-baik saja, Seli?" tanyaku.

"Aku lelah, Ra," Seli mengeluh.

Selain stamina yang terkuras, masalah kami juga bertambah. Robot-robot ini sepertinya bisa menyesuaikan diri dengan strategi lawan, dengan kecerdasan buatan yang mereka miliki, Semakin lama bertarung, robot-robot ini semakin pintar membaca gerakan kami, dan mencari tahu cara terbaik mengalahkan pedang menyala Seli.

Lima menit lagi berlalu, salah satu robot berhasil memukul Seli, membuatnya terbanting ke lantai.

Potongan besi terlepas dari tangan Seli.

"Seli!" Aku hendak melesat membantu, tapi satu tangan robot lebih dulu meninju badanku, membuatku terpenral. Tameng transparanku pecah saat menabrak dinding. Ini kedua kalinya tubuhku terkena pukulan robot. Pakaian hitam-hitam melindungi kami dari luka, tapi tidak dari benturan. Tubuhku seakan remuk redam.

Ali sudah mencoba melemparkan granat EMP yang tersisa untuk mematikan listrik robot. Tetapi sia-sia, robot itu hanya terhuyung setengah langkah ke belakang, kemudian maju dua langkah menyerbu.

"Kalian butuh granat sepuluh kali lebih besar untuk mernatikan listrik Robot Z. Tubuh mereka dilindungi logam keras dan tebal.

" Sekretaris Dewan Kota tertawa congkak.

Seli berusaha bangkit, rambutnya kusut masai karena butiran debu. Wajahnya memar biru. Belum sempurna posisi berdiri Seli, salah satu robot meninjunya tanpa ampun.

"Seli!" aku berteriak panik. Itu pukulan yang keras sekali.

Tubuh Seli terbanting ke dinding. kemudian tergeletak, tidak bergerak lagi.

"Lindungi Seli, Raibt" Ali berteriak menyuruhku.

Tubuhku menghilang, Baru setengah jalan menuju posisi Seli, kaki sebuah robot menendangku, Mereka jelas tetap bisa melihatku meskipun aku sedang menghilang. Tubuhku kembali terbanting.

Dengan napas tersengal, aku berusaha bangkit.

Ali menggerung marah.

"Pergi, Ali!" aku menyuruhnya.

Namun, Ali justru lari menuju tubuhku dan Seli. Wajahnya merah padam. Tangannya bergetar.

"Selamatkan dirimu, Ali. Bawa lari Buku Kehidupan!" aku berteriak dengan sisa tenaga.

Dua robot menembakkan jaring perak ke tubuhku dan Seli.

Ali terus lari menuju kami.

Dengan tubuh yang mulai berubah, Ali menjadi beruang saat melihat dua sahabat baiknya terkapar tidak berdaya. Ali berteriak--yang lebih mirip raungan panjang hewan liar.

Sungguh! Inilah kejutan terbesar dari Ali dalam petualangan ke Klan Bintang-selain dia mendadak pintar bermain basket atau membuat ILY.

Aku tahu sebuah rahasia penting dari Ali. Dia memang "curang" saat bermain basket.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊