menu

Matahari BAB 22

Mode Malam
BAB 22
TIDAK ada waktu untuk berpikir, saatnya kami bertarung.

Hanya itu satu-satunya cara melarikan diri dari markas Dewan Kota. Setiap detik waktu kami amat berharga. Aku memegang tangan Seli. Tubuhku menghilang, kemudian muncul di dekat Ali yang masih berdiri di depan kotak kaca, memegang Buku Kehidupan.

"Tangkap mereka!" Perwira Pasukan Bintang berseru.

Barisan terdepan Pasukan Bintang mulai menembakkan tabung pendek. Enam jaring perak melayang ke arah kami--jaring yang sama seperti milik Pasukan Bulan.

Seli melepas pukulan petir, berusaha menghancurkan jaring. Namun sia-sia, karena jaring perak itu meredam petir. Sambaran petir biru Seli hanya menjalar di jaring sejenak lantas menghilang. Jaring terus bergerak ke arah kami--jaring ini jelas jauh lebih baik dibanding milik Klan Bulan.

Aku memegang tangan Seli dan Ali. Tubuh kami menghilang. Enam jaring mengenai lemari kayu dan mejameja. Kami muncul di dekat pintu ruangan, mengirim pukulan berdentum ke arah Pasukan Bintang yang menghambat jalan keluarku.

"Berlindung!" Perwira berseru.

Pasukan Bintang di baris terdepan mengangkat tabung pendek. Dari tabung-tabung itu keluar tameng transparan yang kokoh. Tubuhku terbanting ke belakang. Pukulanku tak bisa menghancurkannya.

Jelas sudah, tabung pendek yang dipegang Pasukan Bintang adalah senjata multifungsi. Mereka memasukkan banyak teknologi ke dalam benda itu, termasuk meniru kekuatan petarung klan lain.

Aku segera memasang kuda-kuda kembali.

"Maju! Sudutkan mereka!" Perwira Pasukan Bintang memberi komando.

Mereka merangsek ke depan, berderap membentuk formasi melingkar, membuat kami tersudut.

Aku kembali memegang tangai1 Seli dan Ali. Tubuh kami menghilang, melompat ke langit-langit ruangan, berusaha melewati blokade.

"Di atas!" Perwira berseru.

Aku mendengus. Mereka juga bisa mengetahui posisiku meski kami menghilang. Pasukan Bintang kembali menembakkan jaring perak ke udara. Aku tidak berniat menghindar, dan segera membentuk tameng besar yang membuat jaring-jaring terpental ke bawah. Tubuh kami mendarat lagi di tengah ruangan.

"Hancurkan tamengnya!" Perwira memberi perintah.

Pasukan Bintang gesit menekan tombol di tabung pendek, dan moncong senjata mereka berubah. Kali ini bukan jaring perak yang keluar, melainkan cakram kecil seperti piringan CD di dunia kami, dengan sisi sangat tajam. Cakram kecil itu mengiris tameng yang kubuat dengan mudah, membuat gelembung transparan meletus.

Aku menggeram. Aku harus melumpuhkan mereka lewat pertarungan jarak pendek. Hanya itu cara agar aku bisa melarikan diri dari ruangan ini, melewati blokade, dengan gerakan yang lebih cepat, tanpa ampun, sebelum mereka menetralisasi kekuatan yang kulepaskan.

Kali ini hanya tubuhku yang menghilang, Ali dan Seli tertinggal di belakang.

"Tameng!" Perwira berseru.

Gerakanku lebih cepat dibandingkan gerakan anggota Pasukan Bintang. Sebelum mereka mengaktifkan tameng, tubuhku telah muncul di tengah mereka. Tanganku terarah ke depan. Suara berdentum kembali terdengar. Dua anggota Pasukan Bintang terbanting ke belakang.

Tubuhku sudah menghilang lagi. Tidak ada waktu untuk jeda sejenak. Aku bergerak gesit, mengirim serangan berikutnya.

"Awas sayap kanan!" Perwira berseru.

Aku tahu mereka bisa melihat tubuhku yang menghilang, tapi coba saja, apakah mereka bisa bereaksi lebih cepat untuk menahan seranganku. Tubuhku muncul, dengan tinju terarah penuh. Suara berdentum terdengar lagi. Dua anggota Pasukan Bintang di posisi kanan terpelanting. Blokade mereka runtuh separuh. Gerakan mereka tidak lagi kompak.

"Awas!" sisa Pasukan Bintang berteriak. Mereka mundur ke pintu.

Aku menoleh. Dua lemari terbang di aras kepala, menghantam mereka. Seli sudah menggunakan kekuatan kinetik. Lemari-lemari kayu beterbangan, membuat kocar-kacir anggota Pasukan Bintang yang masih berdiri. Empat di antara mereka tertimpa meja kayu, terkapar di lantai dengan tabung pendek tergeletak.

Bahkan Ali ikut melompat maju membantu. Dia sudah memasukkan Buku Kehidupan ke dalam tas di pinggangnya, mengeluarkan pemukul kasti. Ali menghantamkan pemukul kasti ke perwira Pasukan Bintang, yang tidak menduga serangan itu akan datang karena dia hanya fokus pada gerakanku dan Seli. Pukulan Ali telak, itu seperti serangan balik cepat dalam pertandingan basket, membuat perwira Pasukan Bintang terbanting ke lantai, pingsan sebelum tahu apa yang telah menghantamnya.

"Rasakan!" Ali nyengir.

"Bagus sekali, Ali," Seli menyemangati.

"Cepat menyingkir dari sini!" aku berseru, berlari keluar dari ruangan Sekretaris Dewan Kota.

Seli dan Ali menyusul di belakang, melintasi lorong dengan karper tebal. Kami harus secepat mungkin kembali ke pipa-pipa air, sebelum markas Dewan Kota dipenuhi Pasukan Bintang. Kami juga harus kembali ke dapur basement Restoran Lezazel, memastikan apakah Faar juga bisa menyelamatkan diri atau tidak. Aku mendorong pintu menuju aula utama, dan seketika mematung.

Gerakan Seli dan Ali juga terhenti.

Lihatlah, di depan kami, persis di tengah aula, sebuah cincin portal besar terbuka. Dari sana berlompatan anggota Pasukan Bintang, seperti air yang mengalir deras dari keran. Aula utama sudah dipenuhi mereka, dengan tabung pendek berwarna putih teracung.

Napas Seli yang berdiri di sebelahku menderu. Wajahnya pucat. Ali menggenggam erat-erat pemukul kastinya.

Aku meremas jemari. Kami terlambat melarikan diri. Mereka telah mengepung markas Dewan Kota.

Portal besar itu terus mengeluarkan anggota Pasukan Bintang yang membentuk barisan simetris. Enam baris, dari ujung ke ujung aula. Jumlahnya nyaris seribu.

Aliran Pasukan Bintang dari cincin portal akhirnya terhenti. Aku tidak tahu apakah itu kabar baik atau buruk, karena yang terakhir keluar dari sana adalah seseorang yang kami kenali. Tubuh tinggi kurusnya melompat ke lantai aula. Jubahnya melambai. Dia menyibak barisan simetris blokade Pasukan Bintang, berhenti di depan kami dari jarak sebelas meter.

"Selamat malam, Raib, Seli, Ali.

" Sekretaris Dewan Kota tersenyum. Itu senyum menyebalkan. "Bukankah itu nama kalian?" Kami tidak menjawab salam. Seli dan Ali berdiri merapat di sampingku, bersiap dengan segala kemungkinan.

"Pukul dua dini hari, saat sebagian besar penduduk kota Zaramaraz terlelap tidur, kalian justru membuatku repot. Serangan mendadak di Istana Dewan Kota, menyusul serangan di bangunan sentral listrik. Dan tidak cukup semua keributan itu, lima belas menit lalu, aku mendapat kabar dari salah satu petugas pengawas sistem bawah tanah, sensor di pipa air bersih menyala. Ada tumpukan logam di dasar pipa. Mereka mengirim benda terbang, menemukan ada yang telah menerobos masuk ke markas Dewan Kota lewat saluran air bersih. Itu membuatku tennangu. Hei! Apa yang sebenarnya sedang terjadi? "Aku hampir terlambat menyadari, ternyata sasaran utama kalian justru markas ini, dua yang lain hanya pengalih perhatian. Strategi yang brilian! Kami sibuk sekali mengatasi serangan di dua tempat, hingga lupa tempat paling penting. Tapi syukurlah, berkat staf kota yang setia, aku datang tepat waktu. Kita bertemu di aula besar ini, di jantung kota Zaramaraz. Apa kabar, Anak-anak.

" Kalian sepertinya terlihat sangat tegang dan serius.

" Aku tetap tidak menjawab, Aku akhirnya mengerti kenapa kami ketahuan.

"Apa yang sebenarnya kalian cari di ruanganku?" Sekretaris Dewan Kota menyelidik.

Aku menggeleng, tidak akan menjawab.

"Apakah buku kuno itu.

" Buku tua berwarna kecokelatan yang kuambil dari salah satu ransel kalian.

" Ini membuatku penasaran, seberapa berharga buku itu hingga kalian berani masuk ke bangunan ini?" "Itu bukan urusanmu.

" Aku mendengus.

"Ah, tidak perlu dijawab, itu berarti pastilah sangat berharga. Meskipun harus kuberitahu, kota Zaramaraz sudah tidak menggunakan kertas sejak dua ratus tahun lalu. Bahkan anak-anak kami sudah lupa bentuk kertas. Aku mengambilnya dari ransel kalian karena benda itu koleksi amat langka.

" "Dasar pencuri!" Seli berseru galak.

Sekretaris Dewan Kota tertawa. "Menurut Dekrit Nomor 209, benda asing apa pun yang masuk ke loronglorong kuno berada di bawah kepemilikan kota Zaramaraz, dan berhak disita tanpa alasan apa pun. Aku tidak mencuri, kalianlah yang masuk ke teritorial Klan Bintang secara ilegal.

"Menyerahlan, Raib, Seli, Ali. Kalian telah melanggar ratusan dekrit Dewan Kota. Lari dari kapal induk, bersekongkol dengan orang-orang berbahaya, menyerang markas besar, dan yang paling serius menggunakan kekuatan untuk melawan Pasukan Bayangan. Kalian akan diadili oleh mahkamah kota Zaramaraz, dengan ancaman karantina minimal seratus tahun.

" Itu dekrit konyol. Aku mendengus. Aku tidak akan menyerah.

"Ah, kalian pasti masih berharap ada yang akan membantu kalian lolos," Sekretaris Dewan Kota menyeringai.

"Baiklah, akan kuperlihatkan sesuatu," Sekretaris Dewan Kota mengangkat tangannya. Proyeksi layar tiga dimensi berukuran besar muncul dari gelang tangannya. "Kalian mengenal orang tua ini, bukan?" Aku tertegun menatap layar. Seli berseru tertahan.

Di layar terlihat jelas, Faar dengan tubuh dililit jaring perak, digiring menaiki pesawat terbang berbentuk paruh burung. Sorban Faar terlepas. Rambut putihnya berantakan. Tongkat panjangnya dibawa anggota Pasukan Bintang.

"Mereka telah menangkap Faar," Seli berbisik, suaranya bergetar.

Aku menahan napas. Layar besar itu menghilang saat Sekretaris Dewan Kota menurunkan tangannya.

"Kami membutuhkan satu armada Pasukan Bintang untuk menangkapnya. Tapi itu layak, Nyonya Faar adalah keturunan langsung dari rombongan yang pernah datang dua ribu tahun lalu ke kota Zaramaraz.

Kekuatannya tidak bisa diremehkan. Dengan ditangkapnya dia, tidak ada lagi resistensi dari keturunan langsung para pemilik kekuatan. Aku akan memastikan Nyonya Faar akan mendekam di sel karantina untuk selamalamanya, bahkan bila perlu, sel itu tidak lagi bisa dibuka dari luar maupun dari dalam. Dia akan menyesali pemberontakannya pada Dewan Kota.

" Aku mengatupkan rahang. Ini pemandangan menyedihkan sekaligus membuatku marah. Bahkan Ali terlihat mengangkat pemukul kastinya.

"Apa yang akan kalian lakukan, Anak-anak? Melawan Pasukan Bintang dengan potongan kayu?" Sekretaris Dewan Kota tertawa mengejek. Dia menunjuk hampir seribu pasukannya yang berbaris menghadang.

"Tidak ada lagi yang bisa membantu kalian. Kawan kalian Marsekal Laar telah dinonakcifkan Dewan Kota sejak jatuhnya kapal induk. Aku yang mengambil alih posisinya, sekaligus komando tiga armada lain.

Koki terkenal itu, yah, harus kuakui aku suka makanannya, selalu menjadi favorit, tapi malam ini, menyusul serangan ke Istana, tidak ada lagi yang dibiarkan bermain-main dengan kekuatan. Koki itu telah ditangkap di dapur basement. Dia jelas membantu kalian menyelinap. Juga orang-orang yang pernah bergabung dengan perkumpulan itu. Menyerahlah, Raib, Seli, Ali. Menyerah baik-baik, maka kami akan memperlakukan kalian dengan baik-baik.

" Aku menggeleng. Aku tidak akan menyerah dari orang menyebalkan ini. Faar telah ditangkap. Aku tidak akan membiarkan pengorbanan Faar sia-sia dengan menyerah begitu saja.

"Bersiap, Seli, Ali. Kita akan bertempur," aku mendesis.

Seli di sebelahku mengangguk.

Ali? Dia bahkan sudah loncat lebih dulu menyerang Sekretaris Dewan Kota.

Enam anggota Pasukan Bintang segera melindungi, mengarahkan tabung pendek, membentuk tameng, Melihat itu, Ali segera melompat mundur. Sepatu terbang membuat gerakan Ali lebih cepat dan lincah. Ali berbelok ke kanan, menyerang dari samping, melewati tameng. Pemukul kastinya berhasil mengenai salah satu anggota Pasukan Bintang. Orang itu mengaduh dan terbanting jatuh. Ali mungkin menganggap ini seperti lapangan basket, dan dia bergerak cepat menggiring bola melewati musuh. Dua lagi anggota Pasukan Bintang terjatuh.

"Tangkap mereka!" Sekretaris Dewan Kota berseru. Dia bergegas terbang mundur, mengambil posisi di belakang blokade Pasukan Bintang sebelum Ali berhasil mencapainya.

Mendengar perintah itu, barisan terdepan Pasukan Bintang segera maju enam langkah, berderap, serempak mengarahkan tabung pendek putih kepada Ali. Aku tahu apa yang akan keluar dari tabung itu. Jaring perak.

Aku harus bergerak lebih cepat. Tubuhku melesat ke depan, berusaha melindungi Ali, masih dalam posisi menghilang. Tanganku terangkat dengan kekuatan penuh.

"Awas! Pukulan berdentum. Aktifkan tameng!" Sekretaris Dewan Kota memberi perintah.

Belasan anggota Pasukan Bintang terpelanting. Mereka tidak sempat menekan tombol senjata.

Tubuhku muncul lagi. Pukulan kedua terarah ke samping. Suara berdentum berikutnya terdengar. Aku berhasil merontokkan sisi kanan barisan pertama Pasukan Bintang.

Pertempuran jarak dekat pecah di aula utama.

"Jangan anggap remeh anak-anak ini! Serang tanpa ampun!" Sekretaris Dewan Kota berseru marah.

Belasan jaring perak beterbangan ke arah kami. Aku melepas pukulan berdentum, membuat jaring-jaring itu terpelanting. Pasukan Bintang terus merangsek maju, satu-dua langkah, berhenti, lalu melepas jaring.

Mereka tidak berhenti. Membuat kami terdesak ke tiang-tiang tinggi.

"Apakah kamu bisa menghancurkan salah satu tiang tinggi itu, Ra?" Seli bertanya. Dia sejak tadi berdiri di belakangku, belum melepas pukulan.

Aku mengangguk. Aku tahu maksud Seli. Dia tidak bisa menggunakan pukulan petir dalam pertarungan.

Jaring-jaring ini kebal listrik, terbuat dari karet atau isolator yang tidak rusak terkena petir.

"Mundur, Ali!" aku meneriaki Ali yang maju terlalu ke depan, sibuk mengayunkan pentungan kasti.

Ali mengangguk. Dia bergerak menghindari jaring-jaring yang terarah kepadanya, segera melempar mundur.

Tanganku terangkat.

"Tameng! Awas pukulan berdentum lagi!" Sekretaris Dewan Kota berseru, memberi instruksi.

Barisan terdepan anggota Pasukan Bintang yang membentuk tameng transparan saling menatap tidak mengerti. Aku memang tidak mengarahkan pukulan itu kepada mereka. Tiang besar yang kuhanram roboh seketika, berdebam, Reruntuhan batu besar mengenai beberapa anggota Pasukan Bintang, membuat gerakan mereka tertahan.

"Terima kasih, Ra.

" Aku mengangguk.

Seli mengangkat tangannya. Cahaya terang keluar dari Sarung Tangan Matahari. Potongan tiang besar di depan kami terangkat. Tiang itu panjangnya hampir dua puluh meter, dengan diameter dua meter.

Menakjubkan melihat kekuatan Seli.

"Kekuatan kinetik! Berlindung!" Sekretaris Dewan Kota berteriak.

Terlambat! Seli sudah menghantamkan tiang itu ke depan, membuat Pasukan Bintang barisan terdepan rebah. Tameng transparan yang mereka buat tidak cukup kuat menghadapi Seli yang sedang mengamuk, Potongan tiang itu berputar seperti gasing, melempar apa saja yang mengenainya. Dua barisan blokade kokoh Pasukan Bintang tercerai-berai. Mereka mengaduh, berseru, satu-dua berlarian ke dinding aula.

Kami berhasil memukul mereka mundur belasan meter. Giliran Pasukan Bintang terdesak.

Aku melepas pukulan berdentum, mengisi telah setiap kali Seli butuh waktu mengangkat tiang ke udara, mengambil ancang-ancang serangan berikutnya, Sementara itu Ali memukuli bongkahan batu yang berserakan di lantai dengan pemukul kastinya, membuat batu-batu itu melesat ke segala arah, seperti peluru, menghantam kepala, tubuh, apa saja dari anggota Pasukan Bintang. Sama seperti saat bermain basket, rembakannya akurat sekali.

Sekretaris Dewan Kota menggeram. Wajahnya merah padam. Dia tidak mengira kami akan memberikan perlawanan. "Berhenti bermain-main! Lumpuhkan anak-anak ini!" Empat baris Pasukan Bintang yang tersisa menekan tombol di tabung pendek. Ujung tabung itu berubah.

Mereka tidak lagi berusaha menangkap kami. Mereka akan melumpuhkan kami dengan cara apa pun.

Seli kembali melemparkan tiang besar.

Pasukan Bintang tidak membuat tameng kali ini. Mereka justru mengarahkan tabung pendek ke depan.

Terdengar suara berdentum belasan kali. Senjata itu melepas pukulan berdentum, teknik petarung Klan Bulan. Tiang besar itu hancur, berguguran, menyisakan potongan besi panjang yang jatuh berkelontangan.

Tidak berhenti sampai di sana, Pasukan Bintang juga melepas tembakan berdentum terarah kepada Seli-- yang tidak menduga tiang besar itu hancur begitu mudah. Puluhan tabung pendek teracung pada Seli.

Ali berteriak memperingatkan. Tapi percuma, Seli yang terbang mengambang di aula tidak sempat menghindar.

Aku menggigit bibir. Tubuhku melesat menuju Seli, konsentrasi penuh, membentuk gelembung transparan.

Satu, dua, enam, empat belas, entah berapa kali tembakan berdentum menghantam tamengku, hingga tameng itu akhirnya retak. Tubuhku sudah menghilang, memegang tangan Seli. Kami muncul di dekat Ali.

Pasukan Bintang tidak berhenti. Mereka merangsek maju, masih dalam barisan yang rapi dan simetris.

Mereka terus menembakkan tabung pendek.

Aku mengatupkan rahang. Aku segera membuat gelembung transparan, kali ini lebih kuat daripada sebelumnya. Kuda-kudaku kokoh menjejak pualam aula.

"Mereka banyak sekali, Ra," Seli mengaduh.

Aku mengangguk. Kami bertiga masih berlindung di balik tamengku. Puluhan tembakan berdentum.

Tamengku masih bertahan.

"Apa yang harus kita lakukan?" Seli menatap gelembung transparanku dengan cemas, hanya soal waktu tamengku meletus.

"Kita harus menggunakan apa pun sebagai senjata!" Ali berseru.

"Tapi senjata apa, Ali?" Seli mendesak. Dalam keadaan genting, Ali selalu punya jalan keluar. Di tim kami, Ali adalah penyusun strategi terbaik.

"Kamu bisa loncat ke langit-langit aula, Ra?" Ali bertanya.

Aku mendongak. Tinggi aula ini sekitar dua puluh meter, tentu saja aku bisa.

"Lakukan, Ra!" Ali berseru.

Aku sepertinya paham maksud Ali.

Tamengku mulai retak.

"Terus tembak! Jangan beri ampun!" Sekretaris Dewan Kota berseru. Tubuhnya berdiri di belakang barisan Pasukan Bintang, terbang mengambang dua meter, memberi instruksi.

Sebelum tamengku hancur lebur, tubuh kami sudah menghilang, dan muncul di langit-langit aula.

"Mereka menghilang ke atas!" Aku mengatupkan rahang. Masih dalam posisi mengambang, tanganku terarah ke atap aula. Aku berteriak, melepaskan kekuatan penuh. Salju berguguran di sekitarku saat suara berdentum terdengar.

Atap aula runtuh. Retakannya menjalar ke seluruh sisi, kemudian roboh.

Tubuh kami sudah melesat, menuju pintu utara. Kami berlindung di lorongnya.

Pasukan Bintang jelas tidak menduga aku akan menghancurkan atap aula. Sebagian dari mereka sempat mengangkat tabung pendek, membuat tameng1 menahan bongkahan semen, berlindung dari batu-batu besar yang runtuh laksana hujan. Tapi sebagian dari mereka tidak sempat. Bahkan sebelum mereka mengangkat tabung pendek, reruntuhan atap telah menimbun mereka tanpa ampun.

Wajah Sekretaris Dewan Kota merah padam. Dua perwira Pasukan Bintang bergegas lompat di dekatnya saat atap mulai runtuh, membuat tameng besar di atas kepala Sekretaris Dewan Kota.

"Dasar tidak berguna!" Sekretaris Dewan Kota mengamuk. "Seribu Pasukan Bintang tidak berdaya menghadapi tiga anak-anak? Ini memalukan. Kalian semua adalah kesia-siaan!" Debu mengepul di udara.

Sekretaris Dewan Kota berteriak kepada perwiranya, "Aktifkan kapsul tempur. Sekarang!" Sementara aku, Seli, dan Ali masih berlindung di lorong utara. Dari balik kepulan debu, kami bisa melihat langit malam kota Zaramaraz. Bintang-gemintang terlihat, juga arak-arakan awan tipis, seperti tidak sedang berada di perut bumi kedalaman seribu kilometer.

"Kalian baik-baik saja?" aku bertanya, sambil menepuk-nepuk rambut.

"Dibanding mereka, kami jauh lebih baik, Ra," Ali menyeringai sambil menunjuk ke tengah aula. Napas Ali tersengal. Dia memegang erat-erat pemukul kastinya.

Aula utama terlihat berantakan, dipenuhi suara erang kesakitan Pasukan Bintang. Yang lain bergegas membantu mereka yang terimpit bongkahan acap. Blokade mereka telah hancur. Enam barisan Pasukan Bintang tidak tersisa.

"Apakah kira sudah meriang?" Seli bertanya.

Aku menggeleng. Fakta bahwa kami masih terkunci di markas kota, itu berarti jauh dari menang. Sudah hampir satu jam kami bertempur. Prospek bisa melarikan diri dari kota Zaramaraz masih suram.

"Apa itu kapsul tempur, Ra?" Seli bertanya lagi.

Belum sempat aku atau Ali memikirkan jawabannya, dari langit-langit aula mendesing turun ratusan kapsul pipih seperti nampan, berwarna perak, lebar satu meter, dengan lampu biru kerlap-kerlip.

Itulah kapsul tempur, turun dari kapal induk yang mengudara di langit-langit kota, masuk ke aula utama, area pertarungan.

"Serang mereka!" Sekretaris Dewan Kota menggerung.

Belum habis teriakan lelaki itu, ratusan kapsul itu melenting cepat, menyerbu kami.

Aku segera melepas pukulan berdentum. Seli melepas selarik petir biru yang menyilaukan. Kapsul-kapsul itu lincah menghindar, dan tanpa mengurangi kecepatan, kembali melanjutkan serangan.

Aku mengepalkan tangan, membentuk tameng besar. Tetapi sia-sia. Kapsul pipih mengeluarkan baling- baling tajam, mengiris gelembungku dengan mudah, dan terus melesat maju, bersiap menghantam kami.

Tubuh kami menghilang, dan muncul di tengah aula di atas reruntuhan atap. Kapsul-kapsul itu seperti tahu gerakan kami, segera berbelok cepat, mengejar.

"Benda ini seperti kawanan kelelawar di padang kristal," Ali menggerutu.

Aku mengatupkan rahang. Ali benar, benda ini seperti kelelawar. Bedanya, benda ini memiliki kecerdasan artihsal, bisa berpikir, bisa menganalisis.

"Bagaimana melawan kapsul itu, Ali?" Seli bertanya.

"Gunakan semua benda di sekitar kira!" Ali mengingatkan.

Lima menit menghadapi kapsul tempur, kami hanya bisa berpindah-pindah cepat, lari dari kejarannya, sambil sesekali melepas pukulan berdentum atau sambaran petir ke belakang, mencoba menghambat gerakan kapsul. Satu-dua kapsul berhasil kami pukul jatuh, terbanting ke lantai, tapi itu sia-sia, kapsul itu kembali terbang, tanpa rusak sedikit pun. Ali juga berusaha menahan serangan, menggunakan pemukul kasti, berhasil memukul beberapa kapsul pipih. Kapsul itu hanya terbanting ke belakang, bergetar sebentar di udara, kembali menyerang, tanpa lecet sedikit pun.

"Aduh!" Seli terbanting. salah satu kapsul berhasil menghantam punggungnya.

"Ayo, Seli!" Aku menarik lengannya.

Tubuh kami menghilang, muncul di tempat lain.

Aku melepas pukulan berdentum, menghambat dua kapsul mendekat, disusul Seli, cahaya petir menyambar ke depan. Ali memukul yang datang dari belakang.

Kami semakin terdesak, tapi berusaha bertahan habis-habisan. Aku mengatupkan rahang. Ini lebih rumit dibandingkan saat dikepung Pasukan Bintang sebelumnya, karena kami tidak tahu kelemahan kapsul-kapsul ini. Benda ini tahan banting. Hanya soal waktu kami menjadi bulan-bulanan.

Sebuah kapsul lolos dari pengawasanku, berhasil menyelinap, dan tanpa ampun menghantam bahu Ali. Ali terbanting. Pemukul kastinya terlepas.

"Ali!" aku berseru cemas. Aku sedang repot memukul dua kapsul lain, jadi tidak sempat melindunginya.

Ali berusaha bangkit, merangkak mengambil pemukul kastinya. Namun terlambat, kapsul berikutnya telah tiba, menghantam pinggangnya. Ali terguling di atas reruntuhan atap. Tubuhnya dilapisi debu.

Aku menelan ludah. Aku tetap belum bisa menolong Ali. Kapsul-kapsul lain menahanku.

Seli! Entah dari mana dia mendapatkan ide tersebut. Saat kapsul tempur bersiap menyerbu Ali yang tak berdaya, Seli mendadak mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Itu bukan pukulan petir. Seli kembali menggunakan kekuatan kinetiknya, Ia berteriak kencang. dan puingpuing atap aula mendadak terangkat ke udara. Batu-batu, bongkahan semen, pasir, kerikil, semua terangkat dua meter di atas kepala kami.

Itu pertunjukan yang menakjubkan.

Aku pernah melihat Seli menggerakkan segenggam pasir, membuatnya seperti puting beliung, badai pasir kecil, tapi yang ini, Seli sedang berusaha membuat badai pasir setinggi pohon kelapa. Angin kencang bertiup saat Seli mulai menggerakkan reruntuhan atap. Angin rornado terbentuk, bergelung mengerikan.

Suara kesiur angin membuat dinding bergetar, petir menyalak terang di pucuknya. Pasukan Bintang berlarian menyelamatkan diri ke halaman rumput. Dua perwira membuat tameng kokoh di sekitar Sekretaris Dewan Kota--yang menatap tidak percaya.

Kapsul-kapsul pipih yang hendak menyerang Ali terpelanting menabrak batu-batu yang sedang berpilin.

Tapi itu belum selesai, sekali lagi Seli berteriak kencang, tangannya teracung ke depan, angin tornado itu mulai bergerak menyambar kapsul tempur yang sejak tadi tertahan gerakannya, mengambang agar tidak menabrak bongkahan batu.

Kapsul tempur berusaha menghindar, melenting ke belakang. Seli menepukkan tangannya. Gulungan tornado meliuk-liuk mengejar. Belasan kapsul terseret angin, yang lain terbanting ke segala arah, menghantam dinding. Seli tanpa ampun menyapu bersih seluruh aula ke mana pun kapsul itu berusaha lari, hingga dia tersengal, kehabisan tenaga. Lima menit yang menegangkan, angin tornado itu akhirnya kehilangan kekuatan, runtuh ke lantai. Puing-puing kembali berserakan, bersama ratusan kapsul.

"Kamu baik-baik saja, Sel?" Aku bergegas membantu Seli tetap berdiri.

"Aku hanya kelelahan, Ra," Seli berkata pelan. Napasnya menderu.

"Itu keren, Seli!" seru Ali. Ia meringis menahan sakit, tapi telah memegang pemukul kastinya lagi.

"Apakah kapsul-kapsul itu sudah hancur?" Sayangnya tidak. Kapsul-kapsul itu kuat sekali. Beberapa detik kemudian mereka kembali berdesing pelan di atas lantai, debu berterbangan dari kapsul yang kembali mengambang di sekitar kami.

Aku mengeluh tertahan. Bagaimana cara mengalahkan kapsul menyebalkan ini.

" "Biar aku yang mengurusnya kali ini.

" Ali maju dengan langkah gagah.

Hei? Aku dan Seli saling menatap. Ali akan melawan dengan apa.

" "Serang mereka!" Sekretaris Dewan Kota berteriak. Dia terlihat jemawa dan yakin sekali kami akan kalah. Jika angin tornado Seli yang mengerikan saja gagal, tidak ada lagi cara melawan kapsul tempur Pasukan Bintang.

Kapsul tempur mulai terbang ke arah kami.

Seli terlihat pasrah. Dia masih kelelahan. Aku bersiap membuat tameng--setidaknya itu usaha terakhir, sebelum kami dihantam kapsul-kapsul ini. Tapi Ali telah melompat tinggi, seperti bersiap menyambut serangan.

"Ali?" Seli menatapnya tidak percaya.

Aku menepuk dahi. Sepertinya Ali telah kehilangan akal sehat, mengorbankan dirinya.

Sekretaris Dewan Kota tertawa mengejek melihat gerakan Ali. "Dasar bodoh!" Tapi Sekretaris Dewan Kota terlalu meremehkan Ali. Si biang kerok itu rileks mengambil lima bola dari sakunya, masih mengambang di udara, lalu membanting bola-bola itu serempak ke lantai.

Granat EMP! Begitu granat itu menghantam lantai aula, gelombang frekuensi tinggi mengentak udara, membuat wajahwajah kami seperti ada yang menampar. Kami terhuyung. Kapsul pipih yang ganas menyerang seketika terbanting, lampu birunya padam, desingannya terhenti, kemudian luruh berjatuhan ke lantai, seperti buah masak yang berjatuhan dari pohon yang digoyang.

Berkelontangan.

"Astaga! Dari mana mereka punya benda terlarang itu?" Sekretaris Dewan Kota berseru kalap, menatap kapsul tempur yang teronggok seperti kaleng tak berguna.

Ali sudah melesat, cepat sekali, seperti atlet basket yang hendak melakukan lay up. Pemukul kastinya teracung.

Dua perwira yang menjaga Sekretaris Dewan Kota terlambat menyadarinya. Pemukul kasti Ali telah menghantam wajah Sekretaris Dewan Kota, membuatnya mengaduh kesakitan.

Dua perwira berseru, mengacungkan tabung pendek, melepas pukulan berdentum ke arah Ali. Aku menghilang dan melesat, lalu muncul di belakang Ali. Aku kembali menghilang, dan. pukulan dua perwira itu mengenai udara kosong. Aku telah membawa Ali mundur ke dinding aula.

"Tahu rasa!" Ali terlihat puas.

Seli tertawa kecil, mengangkat telapak tangannya, tos dengan Ali.

Aku ikut tertawa, juga melakukan tos dengan mereka.

Di seberang sana, Sekretaris Dewan Kota terlihat sangat marah. Dia menyeka darah dari hidungnya yang patah.

"Kurang ajar!" Sekretaris Dewan Kota menepis dua perwira yang berusaha membantunya membersihkan darah dari wajahnya. "Kalian minggir, dasar perwira tidak berguna! Sia-sia semua anggaran tinggi. Dua perwira bodoh bahkan tidak bisa melihat sepotong kayu datang mernukulkur Dia hanya seorang anak-anak, kalian pasukan terlatih.

" Dua perwira itu terlihat serbasalah.

"Turunkan Robot Z!" Sekretaris Dewan Kota menggerung marah. "Tiga anak-anak ini harus tahu kekuatan sesungguhnya armada tempur Pasukan Bintang.

" Salah satu perwira bertanya memastikan.

"Turunkan sekarang juga, sialan!" Kami bertiga masih berdiri mengawasi ke depan.

"Apa itu Robot Z?" tanya Seli.

"Mungkin itu sejenis robot anjing atau kucing di dunia kita, Seli. Mainan anak-anak," Ali menjawab sembarang, sambil nyengir lebar.

Seli kembali tertawa. Rasa percaya diri kami jauh lebih baik setelah berhasil menumbangkan kapsul tempur. Sudah lebih dari dua jam kami berhasil bertahan.

Tapi seringai Ali terputus saat dari langit-langit kota Zaramaraz terlihat benda-benda besar berlompatan.

"Itu apa?" Seli mendesis--tawanya juga terhenti.

Itu robot-robot mekanik raksasa, turun dari kapal induk armada Pasukan Bintang.

Aku mernarung, meremas jemari. Ini bukan film fantasi atau film superhero yang sering kutonron. Ini robot besar sungguhan. Dua belas robot itu membuat lantai aula bergetar saat mendarat. Tingginya tidak kurang dari sepuluh meter, Benda ini tanpa awak, dilengkapi kecerdasan buatan. Lengan mereka membawa tabung pendek dalam ukuran besar. Seluruh bagian terbuat dari logam paling kuat, dengan gerakan yang luwes.

Robot-robot ini membentuk formasi siap tempur di depan kami.

"Apa yang harus kita lakukan, Ali?" Seli berbisik, suaranya bergetar.

Ali terdiam, sepertinya kehabisan ide cerdas.

Aku menelan ludah. Ini sungguh di luar bayanganku. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa kami harus menghadapi selusin robot canggih kota Zaramaraz.

Robot Z! 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊