menu

Matahari BAB 21

Mode Malam
BAB 21
KAMI muncul di perapian dapur basement Restoran Lezazel, Kaar sudah menunggu.

"Jam berapa sekarang?" Faar langsung bertanya.

"Dua belas malam.

" "Bagus," Faar mengangguk. "Ini waktu terbaik untuk menyelinap.

" "Kalian tidak akan beristirahat sejenak?" Faar menggeleng. Tanpa banyak bicara lagi dia melangkah ke salah satu dinding basement.

"Apakah aku boleh menghancurkan dinding ini, Kaar?" "Eh? Buat apa?" Dahi Kaar terlipat. Dia berdiri dari kursi rotan.

"Kami akan menyelinap masuk ke markas Dewan Kota lewat saluran air. Di balik dinding dapurmu ini, empat meter tebalnya, ada tangga darurat menuju ruang kendali jaringan pipa bawah tanah.

" Kaar terdiam, mencerna penjelasan Faar, lalu mengangguk. "Lakukan apa yang hendak kaulakukan, Faar.

Toh aku bisa memperbaiki dapur ini besok lusa.

" "Bagus! Menjauh, Anak-anak, biarkan orang tua ini menghancurkan dinding.

" Aku, Seli, dan Ali melangkah mundur, merapat ke dinding belakang.

Tubuh tua Faar berjarak dua langkah dari dinding. Dia mengangkat tongkat panjangnya, berkonsentrasi penuh. Dapur seketika menjadi remang, kabut gelap mengambang di sekitar kami, juga gemeletuk petir, guguran salju tipis. Permata di ujung tongkat bergetar. Sorban Faar melambai oleh kesiur angin. Tubuh tua itu terlihat mengesankan.

Aku menelan ludah, teringat sesuatu. Jika Faar menghantam dinding itu dengan pukulan berdentum, bukankah suaranya akan mengundang perhatian di luar sana? Kami memang ada di basement, tapi itu tidak cukup menghambat suara dentuman. Belum lagi getaran yang dimunculkan, tanah akan bergetar hebat radius ratusan meter, Pasukan Bintang bisa mendeteksinya, Aku hendak mengingatkan Faar, tapi terlambat, Faar sudah memukulkan tongkat panjangnya ke depan.

Hei! Suaraku tercekat. Aku sungguh keliru menduga. Pukulan itu memang menghantam dinding dapur Kaar, tapi tidak menciptakan ledakan. Pukulan itu menerabas dinding batu tanpa suara, seperti sebilah pisau yang mengiris agar-agar. Aku menelan ludah. Aku baru menyaksikannya. Pukulan berdentum bisa dilepas tanpa suara dan arahnya bisa dibelokkan sesuai keinginan. Faar telah mengiris bebatuan dinding. Itu salah satu teknik tingkat tinggi petarung Klan Bulan, bahkan Tamus mungkin tidak menguasainya.

"Seli" Faar menoleh.

Seli maju, dia masih sama kagetnya denganku.

"Gunakan kekuatan kinetikmu untuk melepas potongan dinding.

" Seli berusaha mencerna perintah Faar, lalu mengangguk. Dia mengangkat tangannya yang dilapisi Sarung Tangan Matahari, berkonsentrasi penuh. Tangan Seli bercahaya, potongan batu dengan tinggi dua meter, lebar satu setengah meter, dan tebal empat meter itu mulai bergerak keluar dari dinding satu senti demi satu senti. Tidak mudah mengeluarkannya. Seli habis-habisan mengerahkan seluruh kekuatan. Peluh menetes di dahinya.

Aku menggigit bibir. Seli tidak akan bisa mengeluarkan batu itu. Bukan karena batunya terlalu besar, melainkan meskipun batu itu sudah diiris Faar, tetap tidak mudah menariknya keluar dari lubang. Batu itu masih terimpit kiri-kanan, atas-bawah.

Faar melangkah mendekati Seli. Dia mengulurukan tongkat panjangnya ke tangan Seli yang dilapisi Sarung Tangan Matahari. Begitu tongkat itu bersentuhan dengan tangan Seli, tangan Seli bersinar lebih terang, seperti ada kekuatan tambahan berlipat-lipat. Seli bisa menarik potongan batu dinding lebih mudah. Batu itu mengambang di atas lantai dapur.

Seli menurunkannya dengan hati-hati.

"Bagaimana kamu melakukannya?" aku bertanya kepada Faar.

"Itu teknik mudah. Kalian berdua bisa mempelajarinya. Kekuatan Klan Bulan selalu bisa disatukan dengan kekuatan klan lain, dan sebaliknya. Aku mengirim sebagian kekuatanku kepada Seli untuk menarik batu.

" "Aku tidak pernah melihatnya, Faar. Tidak ada petarung Klan Bulan yang pernah melakukannya.

" Aku menatap Faar antusias. Dalam lima menit, Faar sudah memperlihatkan dua teknik yang tidak pernah kubayangkan. Aku pikir, latihan kekuatanku selama ini sudah cukup memadai, ternyata tidak. Masih banyak hal yang belum kupelajari, rahasia-rahasia kekuatan ini.

"Wahai, ibuku yang mengajari teknik itu. Menurut ceritanya, dalam teknik yang paling tinggi, tiga petarung dari tiga klan permukaan bisa menyatukan kekuatan untuk menghasilkan kekuatan tidak terbilang. Tapi kita tidak punya banyak waktu membahas cerita lama, Raib. Kalian bersiap-siap.

" Empat meter di depan sana, melalui lubang batu, kami bisa melihat tangga darurat menuju ruangan sirkulasi air. Tangga besi itu terjulur ke bawah. Blue print milik Meer sejauh ini akurat.

"Kita akan membagi tim lagi, Raib," Faar berseru. "Kalian bertiga yang menyelinap ke markas Dewan Kota. Aku akan membuat pengalih perhatian di kota Zaramaraz.

" Seli segera protes. Dengan seluruh kekuatan Faar, kami jelas lebih aman jika ditemani Faar.

"Tidak, Seli," Faar menggeleng tegas. "Misi ini adalah menyelinap diam-diam, mengambil Buku Kehidupan milik Raib. Kita harus bergerak cepat, akurat, dan efektif. Kekuatanku tidak akan berguna di dalam pipa-pipa air. Itu justru membuat posisi kalian diketahui lebih cepat. Aku akan membuat keributan di kota Zaramaraz, membuat konsentrasi Pasukan Bintang terpecah.

" "Itu bukan ide baik, Faar. Mungkin sebaiknya cukup pelayan restoranku yang mengalihkan perhatian? Mereka bisa melemparkan beberapa granat EMP, membuat kekacauan kecil, kemudian pergi tanpa diketahui siapa pun," Kaar memberi usul. Dia juga cemas dengan rencana Faar.

"Wahai, itu hanya akan membuat Sekretaris Dewan mengirim lima-enam pasukan saja. Kita membutuhkan umpan yang bisa membuat mereka mengirimkan satu armada penuh, membuat kosong markas Dewan Kota.

Itu tugasku. Sekali mereka melihat siapa yang membuat keributan, mereka akan mengerahkan kekuatan besar. Orang tua ini bisa melayani mereka beberapa jam, sebelum kemudian mencari jalan keluar melarikan diri.

" Aku menelan ludah. Tapi bagaimana jika Faar justru berhasil ditangkap Pasukan Bintang? "Jangan cemaskan hal yang belum terjadi, Raib," Faar tersenyum lembut kepadaku. "Pergilah. Kalian bertiga ambil kembali Buku Kehidupan. Sekali kalian berhasil, segera pulang ke dunia kalian. Ini bukan rumah kalian, Nak. Tinggalkan Klan Bintang dengan segala omong kosong politik dan intriknya. Kalian punya klan yang jauh lebih indah. Orang tua ini akan mengenang dengan bahagia pernah bertemu dengan tiga petualang antarklan berhati tulus, mengenang pernah menyentuh tangan seorang Putri Klan Bulan, yang di darahnya mengalir kekuatan semurni milik si Tanpa Mahkota.

" Ruangan dapur basement Kaar lengang sejenak.

Aku mengangguk. Faar benar, kami harus membagi tim agar rencana ini berjalan baik. Saatnya kami fokus dengan tugas masing-masing.

"Ayo, Seli, Ali.

" Aku melangkah menuju lubang di dinding dapur.

Seli ikut melangkah di belakangku, disusul Ali.

Kami siap menyelinap ke markas Dewan Kota.

"Tetap tunggu di sini, apa pun yang terjadi.

" Samar-samar aku mendengar kalimat Faar kepada Kaar. "Jika aku tertangkap, atau tidak kembali hingga pagi hari, segera kirim kabar ke lembah hijau. Agar ada yang menggantikan posisiku di sana, mengurus penduduk lembah.

" "Akan kulakukan, Faar," Kaar berkaca dengan suara serak.

"Aku pamit, wahai.

" Faar juga telah mulai menaiki anak tangga.

Aku menelan ludah. Tidak ada waktu lagi untuk mencemaskan banyak hal. Ini titik di mana kami tidak bisa lagi mundur atau mengubah rencana. Hanya bisa fokus terus maju, 
***
 Setelah melewati lubang dinding, kami menuruni anak tangga besi sejauh dua belas meter, dan tiba di sistem bawah tanah kota Zaramaraz.

Kota ini tidak hanya hebat di permukaan, tapi juga di bagian bawahnya. Kami memasuki ruangan besar yang bersih dan terawat. Lampu-lampu menyala terang. Seli tidak perlu menyalakan sarung tangannya. Ini sepertinya ruangan kontrol, tempat petugas memeriksa secara berkala semua sistem bawah tanah. Di dalam ruangan itu terlihat jaringan pipa air, saluran gas, kabel, dan entah apa lagi yang tertata rapi, kemudian pipa-pipa dan kabel itu berbelok, masuk ke lapisan bebatuan tanah.

Seli menatap bentangan kabel. "Mereka masih mengirim listrik dengan kabel? Bukankah di Klan Matahari listrik sudah bisa dikirim nirkabel?" "Ini bukan kabel listrik. Ini mungkin untuk keperluan lain. Sensor, komunikasi, atau teknologi lainnya.

" Ali mengamati sekilas. "Yang pasti, air atau gas tetap harus dikirim dengan pipa-pipa.

" Kami melangkah mendekati pipa berwarna biru, dengan ukuran delapan meter. Itu pipa saluran air bersih seperti yang terlihat di blue print milik Meer, Besar sekali pipanya. Aku mendongak. Ini pipa utama air bersih seluruh kota Zaramaraz.

Aku melompat ke atasnya dengan teknik teleportasi. Juga Seli, menggunakan kekuatan kinetik, menyusul.

Aku menoleh ke bawah, lupa bahwa Ali belum tentu bisa lompat ke atas pipa. Aku hendak membantunya naik.

"Keren.

" Ali nyengir lebar. Dia sudah lebih dulu mendarat di sebelah kami. "Aku suka sepatu terbang ini, tidak sulit menggunakannya. Kalian tidak bisa meremehkan makhluk rendah ini lagi. Aku bisa bergerak seperti kalian.

" "Tidak ada yang pernah meremehkanmu, Ali.

" Seli menggeleng.

"Ada.

" "Oh ya, siapa?" Ali menunjukku. "Itu orangnya.

" Aku tertawa. "Itu hanya perasaan Tuan Muda Ali saja.

" Seli dan Ali ikut tertawa.

Kami sudah berada di atas pipa air. Tinggal masuk ke dalamnya. Ada tutup pipa besar di depan kami. Itu tempat masuk yang sering digunakan petugas untuk memeriksa kualitas air bersih.

"Biar aku yang membukanya.

" Seli maju, tangannya terangkat. Tutup itu berputar, kemudian terlepas.

Aku berjongkok, melongokkan kepala ke dalam pipa. Air jernih mengalir deras. Pipa ini tidak penuh. Air hanya mengisi dua pertiga pipa, masih ada ruang kosong di atasnya.

"Kita berenang, Ra?" Seli ikut melongok ke dalam.

"Tidak perlu. Kita bisa bergerak seperti selancar air, lebih cepat. Sepatu ini pasti bisa membuat kita mengambang di atas air.

" Ali memberi ide lebih baik, kepalanya juga ikut melongok.

Aku mengangguk, mengambil posisi, kemudian meloncat ke dalam pipa. Tubuhku sempat terbanting saat mendarat di atas permukaan air, terseret cepat, tapi dengan berpegangan tangan sebentar ke dinding pipa, aku bisa kembali berdiri dengan seimbang.

Seli dan Ali meluncur masuk ke dalam pipa sedetik kemudian.

Sepatu yang kami kenakan membuat kami bisa berdiri di atas air, seperti papan selancar. Teknologi yang sama seperti yang pernah dibuat Ilo. Kami bertiga mulai berselancar ke hilir, meniti air deras. Sementara di luar sana, pipa besar langsung masuk ke dalam lapisan bebatuan keras.

"Ini seru!" Seli berseru satu menit kemudian.

Aku mengangguk. Ini cara cepat melintasi pipa air menuju pusat kota Zaramaraz. Kami pernah melakukannya di Klan Matahari, saat air bah dari bendungan jebol menerpa, dan sepatu Ilo menyelamatkan kami. Juga saat pertarungan melawan cumi-cumi raksasa di danau luas Klan Matahari.

Jadi, yang satu ini tidaklah sulit.

Ali justru sangat menikmatinya. Dia bergaya seperti atlet profesional. Tubuh separuh berdiri, tangan terentang ke depan. Kostum hitam-hitamnya bahkan sudah berubah menjadi pakaian atlet selancar air berwarna merah.

"Ali, jangan mencari masalah!" Aku melotot tidak terima. Si biang kerok itu sengaja menyalipku sambil memercikkan air ke rambut. "Kita sedang menyelinap. Ini bukan waktunya main-main.

" "Sori, Ra. Cuma bercanda.

" Ali tertawa.

Seli bergerak pindah ke sebelahku. Dia berjaga-jaga jika Ali juga iseng mengganggunya.

Kami terus mengikuti rute pipa sesuai blue print milik Meer. Ali mengingat rute tersebut. Dia punya daya ingat yang jauh lebih baik dibanding aku dan Seli. Ali memberitahukan arah yang harus kami lewati setiap kali bertemu persimpangan besar.

"Masih berapa jauh lagi, Ali?" tanyaku.

"Dua kilometer lagi, terus lurus ke depan.

" Aku mengangguk, kembali konsentrasi meniti permukaan air. Kami sudah lima belas menit berselancar di dalam pipa, sejauh ini tidak masalah. Aliran air yang deras tapi stabil, tidak sulit untuk dilewati. Pipapipa ini juga memiliki penerangan. Ada lampu kedap air di lantai pipa setiap jarak seratus meter.

"Pastikan kalian tidak meludah atau kentut sembarangan!" seru Ali.

"Memangnya kenapa?" Seli bertanya polos.

"Hei, kita tidak mau mencemari air bersih seluruh kota Zaramaraz, bukan? Bagaimana jika ada yang terkena diare atau rabies gara-gara kita meludah atau kentut sembarangan di dalam pipa ini?" Kami bertiga tertawa. Si biang kerok ini, dalam situasi tertentu, bisa membuat suasana tegang menjadi lebih santai.

Tapi tawa kami tersumpal saat jarak kami tinggal lima ratus meter lagi dari pusat kota.

"Itu apa, Ra?" Seli yang pertama kali melihatnya.

Jeruji logam, benda itu menghadang di dalam pipa.

Seli menggunakan kekuatan kinetik untuk memperlambat gerakan selancar agar kami tidak terbancing ketika tiba di jeruji. Aku berpegangan tangan dengan Seli. Kami merapat perlahan, kemudian berganti berpegangan ke jeruji.

"Jeruji ini tidak ada di blue print milik Meer," Ali mendengus kesal. "Kenapa benda ini ada di sini?" Jeruji di depan kami terbuat dari logam perak yang kokoh, saling silang, dengan telah kotak-kotak sisi sepuluh senti--seperti teralis jendela yang rapat. Air bersih bisa mengalir deras melewatinya, tapi kami jelas tidak bisa.

"Bagaimana kita melewatinya, Ali?" Seli bertanya cemas.

"Entahlah.

" Ali mendongak, memeriksa lebih detail. "Jeruji ini pasti dipasang untuk melindungi ring satu kota Zaramaraz. Meer tidak tahu bahwa ada tambahan pengamanan di blue printnya. Ini pendekatan kuno, bukan teknologi tinggi, tapi sangat efektif menghentikan siapa pun.

" "Apakah teleportasi Raib bisa melintasinya?" "Tidak, Seli" Ali menggeleng. "Kekuatan menghilang Raib itu tidak membuat Raib sungguhan menghilang.

Fisiknya masih ada, itulah kenapa ular atau kelelawar tetap bisa merasakannya, Raib tidak bisa menghilang kemudian muncul di seberang sana. Tubuhnya mau menghilang atau tidak, tidak bisa melewati jeruji ini.

" "Aku mungkin bisa meruntuhkan jeruji ini dengan pukulan berdentum?" "Itu bukan ide bagus. Jaringan pipa ini pasti dilengkapi sensor getaran. Dentuman keras akan membuat pengawas pipa di luar sana tahu ada sesuatu di dalam pipa, dan mereka bisa mengirim benda terbang untuk memeriksa.

" Ali kembali menggeleng. "Kecuali jika Raib bisa membuat pukulannya kedap suara seperti yang dilakukan Faar tadi.

" Seli menoleh kepadaku. Aku mengangguk. Aku bisa mencobanya.

Seli dan Ali segera menjauh ke dinding pipa.

Aku belum pernah melakukan teknik ini. Aku berusaha mengingat gerakan Faar di dapur basement.

Konsentrasi penuh. Satu tanganku berpegangan ke jeruji, satu lagi bersiap melepas pukulan.

Lima belas detik berlalu. Tanganku masih terangkat.

"Ada apa, Ra?" Seli bertanya.

Aku menggeleng. Aku tidak yakin pukulanku akan kedap suara.

"Aku tidak bisa mengambil risiko bila ternyata pukulanku masih mengeluarkan suara berdentum, Seli. Aku minta maaf.

" Seli mengaduh pelan.

"Atau kita kembali ke persimpangan sebelumnya? Ada tutup pipa di sana, bukan? Kita bisa muncul lewat tutup itu, di ruangan kontrol lain," Seli memberi usul.

"Itu dua kilometer dari markas Dewan Kota, Seli. Berjalan di permukaan, kita tidak lagi menyelinap, Kita berramu di markas Dewan Kota jadinya. Halaman rumput itu pasti penuh dengan Pasukan Bintang.

" "Tapi jeruji ini bagaimana?" "Biarkan aku berpikir, Seli. Mungkin masih ada cara lain.

" Langit-langit pipa lengang, menyisakan suara air mengalir deras. Aku mengusap dahi. Di luar sana, kemungkinan Faar sudah mulai membuat keributan untuk mengalihkan perhatian. Usaha Faar akan sia-sia jika kami tidak bisa melewati jeruji tebal ini. Semua rencana berantakan.

"Gunakan kekuatanmu, Seli!" Ali tiba-tiba berseru.

"Petir? Itu juga mengeluarkan suara.

" "Bukan.

" Ali menggeleng. "Kamu pernah melihat tukang las? Lelehkan jeruji besi ini dengan tanganmu, keluarkan suhu setinggi mungkin, ubah pukulan petirmu menjadi suhu panas. Itu mungkin berhasil, tanpa harus menimbulkan suara gaduh. Faar menunjukkan teknik berbeda saat menggunakan kekuatannya. Kita mungkin bisa meniru Faar, mencobanya dengan cara lain, mengeksplorasi lebih luas.

" Aku mengangguk kepada Seli. Itu ide menarik. Ali tidak mungkin asal bicara. Di tim kami, dialah yang memikirkan banyak hal. Seli bergerak ke tengah pipa. Dia memegang eraterat jeruji dengan tangannya yang dilapisi Sarung Tangan Matahari. Dia mulai berkonsencrasi penuh, cahaya terang keluar dari sarung tangannya.

Seperti dibakar sesuatu, jeruji logam menyala merah, terus menjalar hingga ujung-ujung dinding pipa. Ini bisa berhasil. Aku menyemangati Seli. Ali terus memperhatikan di belakang. Jeruji semakin membara dipanggang suhu panas ribuan derajat Celsius. Setengah menit yang menegangkan, Seli tersengal, kelelahan. Sarung tangannya meredup. Jeruji logam kembali seperti sedia kala, hanya mengeluarkan asap putih, tanda suhu panas masih menyelimutinya. Seli tidak berhasil menghancurkannya. Jeruji itu tetap berdiri kokoh.

"Sekali lagi, Seli!" Ali memberi semangat.

Seli mengangguk. Dia menghela napas panjang, mengumpulkan tenaga. Tangannya kembali memegang jeruji, berkonsentrasi penuh. Sarung tangannya bersinar lebih terang. Jeruji besi kembali memerah.

Lima belas detik kemudian, meskipun Seli sudah mengerahkan seluruh tenaga, jeruji itu sama sekali tidak terlihat akan meleleh. Suhu titik lebur logam ini tinggi sekali, lebih keras dibanding baja.

"Lebih panas lagi, Seli!" Ali mendesak.

Aku menahan napas. Tidak akan berhasil. Seli butuh kekuatan yang lebih besar. Logam perak ini keras sekali. Ini akan sia-sia. Seli mulai tersengal. Dia akan segera kelelahan.

Namun. hei, tiba-tiba aku memikirkan sesuatu. Aku bisa melakukannya, bukan? Aku bisa membantu Seli.

Kakiku melangkah refleks di atas aliran air. Tanganku yang dilapisi Sarung Tangan Bulan memegang tangan Seli. Aku berkonsentrasi penuh, mengirim seluruh kekuatan pukulan berdentum kepada Seli.

Hal menakjubkan terjadi, cahaya terang menyelimuti kami berdua. Tangan Seli sekarang bisa mengirim panas berlipat-lipat. Logam perak itu terlihat membara dipanggang suhu dua ribu derajat Celsius lebih, kemudian mulai meleleh, gugur berjatuhan ke permukaan air deras. Yes! Berhasil.

Aku dan Seli hampir kehilangan keseimbangan saat jeruji itu meleleh. Kami nyaris terjatuh ke atas air. Ali bergegas menarik kami.

"Kalian baik-baik saja?" Ali bertanya, tubuh kami bertiga melaju di permukaan.

Aku dan Seli mengangguk, masih dengan napas menderu.

"Tadi hebat sekali.

" Ali menyeringai.

Kami bertiga tertawa. Faar benar, aku bisa mengirim kekuatanku kepada Seli.

Jeruji yang menghalangi kami telah hancur. Kami terus menuju pusat kota Zaramaraz.

***
 Kami tiba di persimpangan besar yang berada persis di bawah bangunan markas Dewan Kota.

"Bersiap!" Ali berseru, menunjuk ke atas.

Aku dan Seli mengangguk. Kami melompat menyambar pegangan besi di atap pipa.

Seli mengarahkan tangannya, memutar tutup pipa dari jarak jauh. Tutup itu terlepas, mengambang di atas kepala. Kami satu per satu keluar dari dalam pipa.

Ruangan kontrol ini sama seperti yang ada di bawah Restoran Lezazel. Tanpa bicara, kami melangkah cepat menuju anak tangga besi yang menuju permukaan.

Ali yang lebih dulu menaiki anak tangga. Dia yang menghafal kode untuk membuka tutup pintu di lantai atas. Aku tidak sempat mengkhawatirkan apakah kode itu masih berlaku atau jangan-jangan sudah diganti.

Aku lebih mengkhawatirkan, jangan-jangan kami muncul tepat di bawah kaki-kaki anggota Pasukan Bintang yang sedang berkumpul.

Suasana tegang kembali menyelimuti kami, Jantungku berdetak lebih kencang. Seli berkali-kali mengembuskan napas perlahan.

Ali menekan tombol panel yang mengeluarkan suara pelan berirama. Disusul suara mendesing pelan, tutup besi itu terbuka. Aku belum bisa mengembuskan napas lega. Ali perlahan mendorong tutup pintu, mengintip dari celahnya.

Kosong, lengang, tidak ada siapa-siapa di sana. Ali mendorong penuh tutup pintu, kemudian merangkak keluar.

"Aman," Ali berbisik.

Seli menyusul keluar, kemudian aku.

Kami telah muncul di lantai pertama markas Dewan Kota. Ini sepertinya ruangan staf atau kantor layanan penduduk kota Zaramaraz. Pukul satu malam, ruangan ini gelap, tidak ada penghuninya. Hanya meja dan kursi yang berbaris, juga tiang antrean serta peralatan kerja yang teronggok bisu.

Ali mengenakan kacamata yang diberikan oleh Meer, meraup pasir dari sakunya, melemparkannya ke udara. Butiran pasir itu tidak berjatuhan, melainkan terbang, dan tanpa terlihat oleh mata mulai menyebar, melintasi kisi-kisi jendela, telah pintu, masuk ke lorong-lorong, ruangan-ruangan. Kamera-kamera mikro bergerak sesuai perintah Ali lewat kacamata.

Aku menunggu hingga Ali memperoleh informasi lengkap. Seli menutup kembali segel lantai.

"Lorong di depan kosong, kita bisa lewat sana," Ali berbisik. Dia mulai melangkah cepat.

Aku dan Seli mengikuti.

Kami keluar dari ruangan, masuk ke lorong panjang yang kiri-kanannya dipenuhi pintu ruangan-ruangan lain. Tiba di ujungnya, ada pintu besar tertutup.

"Di balik pintu ini, kita akan tiba di aula besar pertama," Ali memberitahu, Ali mendorong pintu itu perlahan. Ternyata tidak dikunci. Kami masuk ke aula yang juga lengang. Lampu redup menyala di atasnya, membuat sosok kami seperti bayangan hitam yang melintasi lantai marmer. Aula ini dipenuhi tiang-tiang tinggi simetris.

Ali kembali berbisik, "Ada empat pintu di aula ini. Kita menuju pintu di sisi kanan.

" Kami bergegas menuju dinding sebelah kanan. "Berhenti, Ra!" Ali tiba-tiba bersuara.

Aku dan Seli hampir menabrak Ali.

"Ada dua Pasukan Bayangan memasuki aula ini dari pintu belakang.

" Ali berlari cepat menuju salah satu tiang di dekat kami, bersembunyi di sana. Aku dan Seli tanpa perlu berpikir dua kali segera menyusul.

Napas Seli menderu. Kami duduk saling merapat agar tidak terlihat.

Dua anggota Pasukan Bayangan itu terlihat berjalan cepat, sambil berbicara. Mereka tidak menyadari kami berada di balik tiang dekat mereka melintas.

"Apa yang terjadi?" "Serangan besar di Sektor Sembilan.

" "Sektor Sembilan? Bukankah itu sektor penting kota Zaramaraz.

" "Ya. Seorang pemilik kekuatan menghancurkan salah satu sayap Istana Dewan Kota, serangannya membuat padam listrik radius dua kilometer.

" "Itu mengerikan," rekannya berkomentar. "Siapa pemilik kekuatan itu?" "Entahlah, tapi dia pasti memiliki kekuatan dahsyat dan nyali besar. Sekretaris Dewan Kota memerintahkan satu armada penuh menuju ke sana, juga sebagian besar Pasukan Bintang di markas, diperbantukan. Kita harus segera melapor, kapsul terbang untuk mobilisasi Pasukan Bintang disiapkan di banyak tempat.

" Dua anggota Pasukan Bintang itu terus melangkah menjauh, hingga keluar dari aula.

"Apakah itu Faar? Yang menyerang Istana?" tanya Seli. Kami masih bersembunyi di balik tiang.

Ali mengangguk. "Siapa lagi? Orang tua itu bisa nekat sekali.

Rasa tidak sukanya kepada Dewan Kota sama besarnya dengan rasa tidak suka Dewan Kota kepadanya.

Tapi rencananya berhasil. Perhatian Pasukan Bintang ke sana. Tidak ada yang menyangka kita akan menyelinap masuk.

" "Tapi bagaimana jika Faar tertangkap?" Aku sudah berdiri. "Faar akan baik-baik saja. Kita bergegas, Seli, Ali. Pertarungan Faar akan sia-sia jika kita tidak mendapatkan Buku Kehidupan.

" Aku melangkah lebih dulu keluar dari balik tiang, kembali menuju pintu di sisi kanan aula. Seli dan Ali menyusul.

"Tidak ada siapa pun di balik pintu itu, Ra," Ali memberitahu setelah memeriksa lewat kacamatanya.

Aku mengangguk, perlahan mendorong pintu itu. Kami tiba di lorong panjang yang kiri-kanannya tergantung lukisan indah. Lorong ini diterangi cahaya redup dari lantai. Gedung ini sepertinya dibagi menjadi banyak sektor, yang setiap sektor memiliki aula besar dengan penghubung lorong-lorong nyaman bagi staf markas atau pengunjung.

"Masih berapa jauh lagi ruangan Sekteraris Dewan Kota, Ali?" aku berbisik.

"Setelah lorong ini, masih ada satu aula besar lagi. Aula utama markas, baru kemudian kita masuk ke lorong yang menuju ruangan tersebut dari pintu utara," Ali menjelaskan.

Aku mengangguk, menyeka keringat di leher. Ini mungkin sudah pukul satu dini hari. Udara malam terasa gerah.

Kami terus maju, tanpa menyadari waktu kami sangat terbatas. Bukan karena Faar tidak bisa menahan Pasukan Bayangan lebih lama lagi di luar sana, melainkan kami tidak menyadari telah menyalakan alarm, Persis ketika kami melintasi lorong ini, di ruang kerjanya, petugas yang mengawasi sistem bawah tanah selama 24 jam menatap layar besar di hadapannya yang berkedip-kedip merah, tanda ada masalah di saluran air bersih. Kami memang berhasil lewat tanpa kegaduhan, tapi jeruji yang kami lelehkan telah berubah menjadi gumpalan-gumpalan logam perak, menggelinding di dalam pipa, lantas menumpuk menjadi satu di persimpangan, menghambat aliran air. Sensor pipa mendeteksi sesuatu yang tidak normal.

Petugas itu menekan sebuah tombol. Dia memutuskan mengirim benda terbang kecil untuk memeriksa.

Benda kecil dengan kamera itu melesat cepat di dalam pipa.

"Berhenti lagi, Ra!" Ali berbisik saat kami tiba di ujung lorong.

Aku sudah tidak sabaran hendak mendorong pintu menuju aula utama.

"Kita tidak bisa masuk ke dalam sana.

" Ali menggeleng, wajahnya serius.

"Kenapa tidak?" desakku. Aku ingin segera tiba di ruangan Sekeraris Dewan Kota.

Ali mengeruk ujung kacamatanya. Sebuah proyeksi tiga dimensi yang jernih keluar dari kacamata. Situasi aula utama di balik pintu tersaji di depan kami.

Aula utama ini sepertinya menjadi ruang penerima tamu bagi staf dan pengunjung markas. Juga menjadi pusat informasi dan layanan publik. Aula terlihat terang benderang, memperlihatkan lantainya yang cemerlang, juga tiang-tiang tinggi dan acap aula yang terbuat dari mozaik kaca warna-warni. Ada mejameja panjang di tengah aula, dan itulah yang menjadi masalah. Seli mengeluh melihat proyeksi. Karena ini pusat pemerintahan Klan Bintang, tentu saja masuk akal jika ada petugas yang berjaga di meja itu bahkan pada jam satu dini hari. Ada dua orang berpakaian sipil di meja panjang. Di sekitarnya ada delapan anggota Pasukan Bintang, membawa senjata tabung pendek.

Seli mengembuskan napas. Wajahnya terlipat kecewa.

"Bagaimana kita melewati mereka?" "Jumlah mereka hanya sepuluh orang. Kita bisa menyerbu masuk, mengalahkannya," aku menyela.

Ali menggeleng. "Misi kita menyelinap tanpa diketahui, Ra. Kita bisa saja mengalahkan mereka dengan kekuatan kalian. Tapi sekali ada yang berhasil meminta bantuan, ribuan anggota Pasukan Bintang akan datang.

" Tetapi bagaimana kami bisa melintasi aula utama ini? Semakin cepat kami mendapatkan buku matematikaku, kembali ke Restoran Lezazel, maka Faar semakin cepat bisa menghentikan pertempuran.

Kami bisa melarikan diri. Aku tidak tahu kondisi Faar sekarang.

"Atau ada jalan lain menuju ruangan Sekretaris Dewan Kota? Kita berputar?" Ali menggeleng. "Ini satu-satunya akses menuju ruangan itu.

" "Atau ada yang mengalihkan perhatian mereka? Sisanya berlari cepat menuju ruangan tersebut?" "Kita tidak boleh terpisah. Apa pun yang terjadi, kita harus tetap bersama-sama," aku menjawab tegas, menolak ide Seli.

Lima menit lengang. Kami sepertinya menemukan jalan buntu. Ali sudah berkali-kali memeriksa lorong lain lewat kamera mikro yang beterbangan tanpa terlihat. Tetap tidak ada solusi. Seli duduk meluruskan kaki di lantai lorong. menyeka keringat di dahi.

Aku mendengus kesal. Kami tidak bisa tertahan di sini. Entah masih berapa lama lagi Faar bisa bertahan menghadapi satu armada Pasukan Bintang. Tanganku refleks terangkat gemas.

Lampu di lorong tempat kami bersembunyi mendadak padam, Lorong menjadi gelap gulita, juga aula utama.

"Astaga, Raib, aku sudah bilang jangan gunakan kekuatanmu.

" "Aku tidak melakukannya, Ali! Lampu padam sendiri.

" Terdengar keramaian di aula utama.

"Apa yang terjadi?" salah satu petugas di meja penerima tamu bertanya panik.

"Lampunya padam," yang lain menimpali.

"Tetap tenang," salah satu anggota Pasukan Bayangan berseru, menoleh ke rekannya. "Hubungi perwira di pusat kendali darurat.

" Temannya mengangguk, berusaha bicara dengan seseorang lewat alat komunikasi.

Lima belas detik, dia balas menoleh kepada rekannya. "Bangunan sentral listrik kota lumpuh! Ada yang menyerang bangunan itu, membuat separuh kota Zaramaraz gelap total.

" "Siapa yang melakukannya?" "Pemilik kekuatan dari mangan-ruangan jauh. Serangan kedua setelah Istana Dewan Kota. Jarak kedua gedung itu berdekatan.

" "Apa yang harus kami lakukan?" petugas mengeluh.

"Bagaimana jika serangan itu menuju markas ini?" yang lain menambahkan.

"Tetap tenang," anggota Pasukan Bintang berseru tegas. "Armada Kedua di bawah kendali penuh Sekretaris Dewan Kota sedang mengendalikan serangan. Kita aman di sini, tidak ada yang terlalu bodoh menyerang gedung ini. Markas memiliki persenjataan berat di luar, tidak ada yang bisa lolos, bahkan seekor lalat yang bisa menghilang pun percuma.

" "Peralatan kerja kami padam.

" "Listrik cadangan markas akan menyala segera. Ditunggu saja.

" Sekejap, lampu memang kembali menyala.

Aku, Seli, dan Ali berusaha menahan napas.

Kami baru saja berlari cepat. Persis tiba di depan pintu utara saat lampu menyala.

"Hati-hati, Ra..." Aku mengangguk, mendorong pintu utara perlahan.

Saat petugas meja penerima tamu berseru pertama kali soal lampu mati, aku memutuskan itulah saat terbaik menyelinap. Tanpa menunggu persetujuan Ali dan Seli, aku melesat, berlari secepat mungkin tanpa suara di balik tiang-tiang tinggi. Seli dan Ali segera menyusul. Mereka segera tahu apa yang kulakukan.

Kami berlari melintasi aula utama. Sepatu berteknologi tinggi ini membantu gerakan tanpa suara. Jarak kami dengan mereka sekitar dua puluh meter. Anggota Pasukan Bayangan tidak menyadari kami menyelinap saat sibuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Kami tiba persis di pintu utara saat listrik cadangan menyala.

Aku menutup kembali pintu utara perlahan dari dalam. Berhasil, delapan Pasukan Bintang tidak menyadari ada tiga orang baru saja berlarian di belakang mereka. Seli terduduk di lantai lorong yang dilapisi karpet tebal lembut, lalu mengembuskan napas.

"Seharusnya kamu bilang-bilang tadi, Ra," Seli mengusap dahi. Wajahnya tegang sekali.

"Tidak sempat, Seli. Satu detik kita terlambat, mereka bisa tahu.

" Ali mengembuskan napas. Dia jongkok, juga tersengal.

Itu keputusan yang sangat tepat. Enam puluh detik, kami berhasil melewati aula utama.

"Siapa yang menyerang bangunan sentral listrik?" "Faar--siapa lagi. Dia terus berpindah-pindah, melakukan teleportasi ke bangunan penting. Orang tua itu benar-benar membombardir kota Zaramaraz.

" "Ayo, Ali, Seli!" Kami tidak bisa beristirahat berlama-lama. Kami tinggal melintasi lorong ini, untuk tiba di ujungnya, ruangan Sekretaris Dewan Kota.

Waktu kami sangat genting. Terlepas dari Faar yang semakin terdesak di luar sana, persis saat kami bertiga melintasi lorong terakhir, petugas pengawas sistem bawah tanah menerima pertama kali gambar dari lokasi jeruji. Dia menatap termangu jeruji yang jebol. Dia bicara sebentar dengan supervisornya, kemudian dengan tangan gemetar menekan tombol bahaya. Ada penyusup yang menuju ring pertama kota Zaramaraz. Alarm itu tersambung ke perwira Pasukan Bintang, yang segera memberitahu level lebih tinggi di atasnya.

Aku mendorong pintu ruangan Sekretaris Dewan Kota. Tidak dikunci.

Kami telah tiba di tujuan.

Ruangan itu remang. Satu-satunya cahaya datang dari jendela besar. Ada taman dengan kolam air gemercik di luar. Lampu taman menyala redup melintasi kaca, membuat sosok kami seperti bayangan gelap.

Ruangan ini luas, berbentuk lingkaran dengan lantai dilapisi permadani tebal. Atapnya melengkung, dengan lampu gantung yang indah. Sekretaris Dewan Kota sepertinya menyukai suasana ruang kerja bergaya lama. Meja dan kursi terbuat dari kayu. Beberapa lemari terlihat melingkar di dinding. Semua disusun rapi, simetris. Ada banyak benda kuno di dalam lemari, seperti televisi, radio, jam, mikser, telepon, laptop, semua benda yang di dunia kami masih sering dipakai, tapi tidak lagi di Klan Bintang.

Faar benar, Sekretaris Dewan mengoleksi benda-benda ini.

Tarapanku terhenti. Aku melihat sebuah lemari dengan bukubuku lama--seperti lemari perpustakaan di sekolah kami. Itu dia, barangkali saja buku marernarikaku diletakkan di sana.

"Aku akan memeriksanya, Ra," Ali berkata lebih dulu. Dia juga melihatnya. Ali melompat mendekati lemari itu. Seli mengangkat tangannya. Sarung tangannya bersinar, membantu Ali melihat lebih baik.

"Ada, Ali?" aku bertanya setelah satu menit berlalu.

"Tidak ada, Ra," Ali menggeleng kecewa. "Kalian periksa yang lain. Laci meja, kabinet, apa pun itu. Aku akan memeriksa seluruh lemari.

" Aku dan Seli mengangguk. Waktu kami tidak banyak. Kami harus segera menemukan buku itu. Kami bergegas memeriksa seluruh ruangan, mencari di mana buku itu diletakkan. Mata dan tangan kami bergerak cekatan.

"Di sini tidak ada," Seli berseru memberitahu. Dia telah memeriksa sebuah kabinet.

Aku tidak sempat menimpali, sedang membuka semua laci meja-meja di depanku.

Lima menit yang menegangkan, kami sudah hampir memeriksa setiap jengkal ruangan, tetap tidak punya ide di mana buku itu disimpan. Napasku menderu kencang, mengusap dahi yang berpeluh untuk kesekian kalinya.

"Bagaimana jika buku itu tidak disimpan di sini, Ra?" "Pasti ada di ruangan ini, Seli," aku menjawab lugas. "Terus cari.

" Lima menit lagi berlalu, ruangan Sekretaris Dewan Kota berantakan, seperti kapal pecah. Kami tidak sempat merapikan kembali barang-barang. Aku mendengus, entah di mana buku itu disimpan.

"Bagaimana jika buku itu terjatuh..." Ali berseru, memotong kalimarku.

Aku dan Seli menoleh, Apakah Ali menemukannya? Ali menekan sesuatu di dinding, dan dari balik dinding keluar sebuah kotak kaca dengan bingkai berwarna keemasan. Sebuah buku diletakkan berdiri di dalam kotak itu.

"Ra! Itu buku matemarikamu!" Ali berseru dengan suara dramatis.

Aku menelan ludah. Benar, itu buku milikku.

Tak perlu disuruh dua kali, Ali segera membuka kotak kaca, mengambil buku itu.

Saat itulah, saat Ali menggenggam buku itu dan hendak melompat turun mendekatiku, lampu ruangan Sekretaris Dewan Kota tiba-tiba menyala terang.

Kami saling menatap. Ada apa? Pintu ruangan telah didorong, belasan anggota Pasukan Bintang membanjiri ruangan. Mereka berbaris membuat blokade di depan pintu. Senjata tabung pendek mereka teracung ke depan.

Aku menelan ludah. Penyelinapan kami telah diketahui.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊