menu

Matahari BAB 20

Mode Malam
BAB 20
"KALIAN tidak akan mengenakan ransel itu. Itu terlalu mencolok. Tidak ada lagi remaja di klan ini yang memakai tas punggung.

" Faar menyuruh kami melepas ransel sekolah. Sebagai gantinya, dia menyerahkan masing-masing sebuah kantong untuk kami.

"Kenakan di pundak, di punggung, atau di pinggang. Terserah. Kantong ini akan menyatu dengan pakaian.

Tas superpraktis, tersembunyi dengan kapasitas besar.

" Aku menurut, memakai kantong itu di pinggang. Ajaib, kantong tersebut menyesuaikan warnanya, seperti tidak ada tas di sana. Aku memindahkan peralatan dari ransel sekolah ke tas baruku.

"Sepatu kalian," Faar memberikan tiga pasang sepatu.

Wajah Ali berbinar-binar menerimanya. Sejak dulu dia ingin sekali punya sepatu terbang.

"Kita tidak punya waktu untuk latihan mengenakannya, tapi aku yakin, kalian akan terbiasa dengan cepat.

Sepatu lama kalian memiliki separuh teknologi sepatu ini.

" Ali mengangguk, segera mengenakan sepatu itu.

"Terakhir," Faar membuka kotak di atas meja dekat perapian.

Kami segera tahu benda apa itu. Granat EMP yang pernah diberikan Marsekal Laar.

"Lembah ini tidak sernaju kota Zaramaraz, tapi kami sejak lama mengembangkan benda-benda kecil untuk melumpuhkan teknologi mereka, Benda ini sangat terlarang di kota Zaramaraz, tapi ini senjata efektif.

Kalian simpan beberapa. Gunakan dalam situasi terdesak. Satu butir bola ini bisa melumpuhkan listrik satu blok. Kalian sudah melihat kehebatannya, bukan?" Aku mengangguk, menerima tiga butir granat dari Faar, dan memasukkannya ke kantong di pinggang.

"Baik, kita sudah siap berangkat.

" Faar menatap kami.

Kaar mengeluarkan kantong berisi bubuk api. Perapian sudah dinyalakan sejak tadi. Kami akan menggunakan cara Klan Matahari untuk berpindah tempat.

"Silakan. Kalian masuk ke perapian lebih dulu. Aku akan menyusul di belakang.

" Kaar melemparkan segenggam bubuk. Nyala api langsung membubung tinggi. Suara gemeletuk terdengar kencang. Pintu portal menuju kota Zaramaraz segera terbuka.

Faar menggeleng. "Kau yang masuk lebih dulu, Kaar, Aku membutuhkan kantong bubuk apimu.

" Kaar menatap tidak mengerti.

"Kita akan membagi tim, wahai," Faar berkata tegas. "Kau kembali ke kota Zaramaraz segera, Kaar. Aku dan tiga anak ini harus menemui seseorang terlebih dahulu. Tidak lama, hanya beberapa jam. Aku butuh sedikit bantuan untuk menyelinap ke markas Dewan Kota.

" "Aku juga bisa ikut ke sana menemani kalian.

" Faar menggeleng. "Segera kembali ke restoranmu, Kaar. Sekretaris Dewan akan bertanyatanya jika mengetahui koki terkenal kota Zaramaraz tidak ada di tempat sejak kapal induk jatuh. Mereka sekarang sedang memeriksa banyak tempat, dan kecurigaan pertama adalah Restoran Lezazel. Tunggu di sana, sementara kami belum tiba. Anak-anak ini aman bersamaku. Aku membutuhkan kantong bubuk apimu untuk melintasi perapian di ruangan lain. Tolong berikan.

" Kaar diam sejenak, kemudian mengangguk, menyerahkan kantong.

"Hati-hati, Faar, juga kalian, Anak-anak.

" Kaar melangkah masuk ke dalam perapian. Tubuhnya ditelan ujung-ujung nyala api. Sedetik kemudian tubuhnya telah hilang.

"Giliran kita, Raib, Seli, Ali.

" Faar melemparkan segenggam bubuk api. Api kembali menyala tinggi.

Pintu partai berikutnya terbuka. Entah menuju ke mana, hanya Faar yang bisa membayangkannya.

"Berpegangan pada tanganku, agar kita bisa bersama-sama menuju perapian di seberang sana," Faar memberi perintah.

Kami bertiga segera merapat, memegang lengan Faar.

Faar melangkah menuju nyala api.

Sekejap tubuh kami sudah diselimuti cahaya terang, terentak kencang.

***
 Tempat kami muncul sungguh di luar dugaan.

Aku kira kami akan muncul di perapian dalam ruangan. Kami justru muncul di tengah padang rumput.

Malam hari, bintang-gemintang memenuhi langit. Tubuh kami sedikit terempas saat mendarat di atas tanah.

Dari tiga porcal yang pernah kulewati, lorong perapian adalah yang paling tidak stabil--juga paling tidak nyaman dilewati.

"Kita ada di mana?" Seli berbisik.

Aku menggeleng, masih memperhatikan. Ada rumah kayu kecil di dekat kami. Perapian ini seperti berada di halaman belakang rumah itu. Padang rumput setinggi pinggang terhampar mengelilingi rumah. Satu-dua pohon besar di kejauhan terlihat gelap, juga gunung-gunung menjulang, Suara serangga terdengar berisik.

Entah jam berapa di ruangan ini. Aku tidak bisa melihat dinding-dindingnya.

Aku hendak melangkah menuju rumah kayu.

"Jangan bergerak.

" Terdengar seruan tegas dari balik terumputan. Seseorang berdiri di sana, sekitar dua puluh meter dari kami, dengan senapan laras panjang terarah sempurna.

"Wahai.

" Faar tertawa riang, hendak melangkah maju. "Selamat malam, Meer.

" "Tetap di tempat. Perliharkan siapa kalian!" Faar mengangkat tongkat panjangnya. Cahaya terang membuat kami terlihat jelas.

"Faar? Apakah kamu yang di sana?" orang yang mengacungkan senapan berseru.

"Ini aku, Meer.

" Faar terkekeh. "Aku sudah khawatir kau tidak ada di perapian ini, sedang berburu puluhan atau bahkan ratusan kilometer dari sini. Syukurlah.

" Orang yang dipanggil Meer menurunkan senapannya. Dia melangkah maju sambil menyeret seekor rusa jantan. Tubuh orang itu tinggi besar, rambutnya pendek, dan dia mengenakan pakaian dari kulit betulan-- bukan kulit teknologi pakaian kota Zaramaraz.

"Apa kabarmu, Meer?" Faar menjabat tangan orang itu. "Aku baik," Meer menjawab pendek.

"Bagaimana padang rumput ini, wahai?" "Semakin sepi. Sepuluh tahun terakhir, hampir seluruh penduduknya pindah ke ruangan lain yang lebih maju. Tapi tidak masalah. Semakin sepi, semakin damai. Aku tidak pernah menyukai keramaian.

" Faar tertawa.

"Anak-anak, perkenalkan, kawan lamaku. Namanya Meeraxareem, kalian bisa memanggilnya Meer.

Jangan tertipu dengan tampilannya. Dia mungkin terlihat liar dengan pakaian pemburu, senapan laras panjang, tangkapan seekor rusa, api unggun, tapi sejatinya, dia ilmuwan terbaik yang pernah dimiliki kota Zaramaraz. Dulu orang-orang memanggilnya sang Penemu. Dia menemukan banyak sekali teknologi baru untuk kota Zaramaraz, hingga suatu hari kepalanya terbentur, dan dia memutuskan membenci semua teknologi Klan Bintang.

" "Siapa anak-anak ini?" Meer bertanya, memotong kalimat Faar.

"Alasan kenapa aku datang kemari, wahai. Raib, Seli, dan Ali.

" Meer mengangkat tangannya, mengangguk selintas.

"Mereka datang dari jauh?" "Iya. Sejauh yang bisa kaubayangkan, Meer.

" "Ruangan-ruangan terjauh?" Faar menggeleng. "Lebih jauh lagi. Mereka datang dari klan permukaan.

" Meer menatap kami satu per satu. "Aku tidak tertarik lagi terlibat dengan urusan kota Zaramaraz, Faar, Kau tahu sekali itu.

" "Aku tahu, wahai. Aku tidak akan mengganggu kedamaian hidupmu setelah meninggalkan kota Zaramaraz.

Tapi anak-anak ini buruh pertolongan.

" "Mereka terlihat baik-baik saja.

" Meer menggeleng. "Perutku lapar. Bisakah kau menahan percakapan? Aku hendak menyiapkan makan malam.

" "Baiklah, kita bisa bicara setelah makan malam--meskipun kami baru saja makan pagi. Aku janji, Meer, jika kau menolak membantu, tidak masalah, aku akan pergi. Aku selalu menghormati prinsip hidup sang Penemu.

" Meer diam sejenak, sepakat.

"Kalian bisa duduk. Silakan. Maaf, tidak ada kursi.

" "Terima kasih, wahai.

" Faar mengangguk.

Tanpa banyak bicara Meer cekatan mengurus rusa hasil buruannya. Dia mulai menguliti, memotong daging rusa. Menu makan malam kami sepertinya daging rusa ini. Di dekat api unggun juga tersedia karungkarung kecil dan kotak kayu yang berisi bahan masakan lainnya.

"Apakah aku bisa membantu?" aku bertanya. Meer mengangkat kepalanya. "Membantu apa?" "Memasak.

" "Kamu bisa memasak? Maksudku masak sebenarnya, bukan hanya menekan tombol, kemudian makanan tersedia.

" Aku mengangguk.

"Silakan jika kamu bisa," Meer menjawab selinras, kembali mengurus daging rusa, menusuknya dengan bilah-bilah panjang.

Aku bangkir memeriksa karung yang berisi kencang, jagung, dan membuka kotak-kotak kayu yang berisi rempah-rempah dan bahan lainnya. Ada kuali dari tanah, juga peralatan memasak lain di dekat perapian.

Aku mengenali benda-benda ini, seperti di duniaku. Seli ikut bangkit membantuku.

Setengah jam kami sibuk menyiapkan makan malam. Faar memutuskan tidak banyak bicara, tersenyum takzim melihat aku dan Seli yang memasak sup. Sesekali dia membantu mengambil bumbu atau menerangi sekitar dengan nyala tongkat panjang. Ali sebaliknya, duduk meluruskan kaki, sejak tadi hanya duduk, sambil sesekali menatap gunung-gunung di kejauhan. Suara serangga terdengar seperti nyanyian malam.

Lima belas menit lagi berlalu, aroma masakan sup tercium di langit-langit padang rumput. Aku tersenyum simpul mengaduk kuali tanah.

"Boleh aku mencicipinya?" Meer mendekar.

Aku menyerahkan sendok kayu.

"Ini lezat sekali.

" Meer terlihat senang.

"Hei, kamu bisa membantu membalik-balik tusukan daging rusa di perapian. Jangan hanya duduk sementara temanmu sibuk bekerja.

" Meer melotot ke arah Ali.

Ali menggaruk kepalanya--dia hendak protes, kenapa disuruh-suruh, tapi akhirnya bangkit, jongkok di api unggun kemudian meraih tusukan daging.

Satu jam sejak kedatangan kami di padang rumput itu, kami sekarang memegang mangkuk kecil berisi sup kentang, wortel, dengan potongan daging rusa bakar. Sudah berhari-hari perut kami hanya diisi bubur.

Masakan ini menggugah selera, membuat kami lupa baru satu jam lalu kami sarapan di rumah Faar.

"Apakah kian permukaan masih memasak masakan seperti ini?" Meer bertanya. Intonasi suaranya lebih ramah, lantas menghirup kuah sup dari sendok kayu.

Aku mengangguk.

"Itu pasti sangat menyenangkan.

" Meer ber-hah kepedasan.

Aku tertawa.

"Aku pindah ke ruangan ini sekitar seratus tahun lalu, setelah bosan dengan semua teknologi kota Zaramaraz. Ini salah satu ruangan paling luas di Klan Bintang. Sisi-sisinya nyaris tiga ratus kilometer, dengan barisan gunung. Aku menyukai padang ini. Aku bisa tinggal sejauh mungkin dari semua kemudahan yang hanya membuatmu menjadi mesin. Di sini, aku menanam semua bahan makanan, berburu hewanhewan, menangkap ikan di sungai jernih, menghabiskan waktu dengan menatap bintang-gemintang. Tidak ada kapsul terbang. Tapi tidak masalah, aku bisa berlari di sela-sela rumput. Tidak ada sofa yang mernijarmu, mendeteksi kesehatanmu, tapi juga tidak masalah, aku merasa lebih sehat sejak tinggal di padang rumput ini. Kakiku menyentuh tanah. Tubuhku merasakan setiap helai angin bertiup lembut, tanpa harus dibungkus dari ujung ke ujung oleh teknologi kulit pakaian.

" Meer bercerita sambil menghabiskan makan malam.

"Apakah kamu memang pernah terantuk kepala di kota Zaramaraz?" Seli bertanya polos.

Meer tertawa. "Faar hanya mengarang. Orang tua itu memang suka bicara begitu.

" Api unggun itu dipenuhi oleh suara tawa sejenak.

"Terima kasih atas makan malam yang lezat ini, Meer," Faar tersenyum.

Meer menggeleng. "Aku yang lebih pantas bilang terima kasih kepada tiga remaja ini. Mereka tidak mengenalku, tapi ringan hati membantu menyiapkan makan malam yang baik. Tidak ada lagi penduduk kota Zaramaraz seperti anak-anak ini.... Oh ya, apa yang bisa kulakukan untuk kalian, dengan senang hati akan kulakukan.

" "Kami akan menyelinap masuk ke markas Dewan Kota.

" "Markas Dewan Kota?" "Wahai, ada benda berharga milik Raib yang diambil Sekretaris Dewan. Benda itu harus direbut kembali apa pun caranya.

" Meer terdiam. "Itu perkara yang sangat sulit, Faar, nyaris tidak mungkin. Markas Dewan Kota adalah bangunan terbaik di Klan Bintang, tidak mudah menyelinap ke dalamnya.

" "Itulah kenapa aku datang ke sini, Meer, Hanya kau yang tahu kelemahan bangunan itu. Sang Penemu yang membuat detail setiap sentinya. Seseorang yang bahkan menyiapkan blue print seluruh kota Zaramaraz.

" Meer terdiam, melemparkan potongan kayu ke api unggun, menjaga nyalanya tetap menghangatkan sekitar.

"Seberapa penting benda itu?" "Itu benda satu-satunya agar anak-anak ini bisa pulang ke rumah mereka. Anak-anak ini bertualang masuk lewat lorong-lorong kuno, tersesat ke lembah milikku. Kemudian Sekretaris Dewan Kota bersama armada Pasukan Bintang membawa paksa mereka ke kota Zaramaraz. Marsekal Laar membantu mereka melarikan diri setiba di sana. Anak-anak ini dicari di seluruh Klan Bintang. Sekali mereka dikarantina Dewan Kota, entah kapan mereka bisa pulang. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi, bukan?" Meer diam lagi sejenak. "Tunggu sebentar. Mungkin aku punya sesuatu yang bisa membantu.

" Meer bangkit berdiri. Angin malam membuat jubah berburunya melambai. Tubuh tinggi besar itu melangkah menuju rumah kayu.

"Dia ilmuwan paling brilian," Faar berkata pelan. "Kalian sudah melihat kota Zaramaraz, sempurna simetris empat sisi. Itu mahakarya Meer. Tidak hanya indah ditatap, tapi juga fungsional. Di sekolahsekolah, akademi, anak-anak Klan Bintang mempelajari Teori Meer, teori bentuk bangunan yang tahan gempa.

" "Tapi kenapa dia meninggalkan kota Zaramaraz?" Ali tampak penasaran.

"Dia sudah menjelasakannya, Ali. Dia tidak suka Dewan Kota terlalu banyak mencampuri pekerjaannya.

Meer merasa Dewan Kota punya agenda lain, rencana-rencana lain di luar desainnya. Meer juga muak dengan semua teknologi, maka memutuskan pergi. Dia pernah menetap di Iembahku beberapa tahun. Kami bersahabat baik. Wahai, tahun-tahun berlalu, dia berubah banyak. Dia membutuhkan ruangan yang lebih sepi, kehidupan yang lebih alami. Aku mengantarnya ke ruangan ini, padang berburu dengan gununggunung kokoh.

" "Apakah dia memiliki kekuatan?" Faar menggeleng. "Tidak. Meer seorang ilmuwan. Tapi bertahun-tahun tinggal di padang ini, bisa saja dia menjadi pemburu terbaik, fisiknya lebih kuat, tahan banting. Tidak banyak orang yang bisa hidup dengan segala keterbatasan.

" Meer terlihat menuruni anak tangga rumah kayu. Kembali bergabung. Dia membawa kotak kecil terbuat dari logam. Ia membuka kotak itu, mengambil sebuah benda seperti telepon genggam di duniaku, dengan beberapa tombol.

"Aku sudah lama sekali tidak menyentuh benda ini. Semoga blue print ini masih beroperasi dengan baik.

" Meer mengetuk benda itu, yang seketika mengeluarkan proyeksi tiga dimensi.

Itu seperti peta kota Zaramaraz, dengan detail yang lebih menakjubkan, Meer menggeser proyeksi, membuat peta bergerak, tiba di lapangan rumput pusat kota, Meer membesarkan peta. Bangunan kubus berwarna gelap, markas Dewan Kota, terlihat di depan kami.

"Ini desain awal yang kubuat. Bangunan, gedung, menara, saluran udara, air, kabel-kabel, listrik, semuanya, hingga letak jendela dan pintu. Benda ini menyimpan rancangan kota Zaramaraz.... Kalian hendak menyelinap ke ruangan Sekretaris Dewan Kota, bukan?" Aku mengangguk.

Meer menggeser proyeksi di depan kami, dan tampaklah ruangan tersebut.

"Kabar baik buat kalian. Ruangan itu ada di lantai pertama. Ini jauh lebih mudah diterobos" Aku menatap wajah Meer, semakin bersemangat.

"Markas Dewan Kota dibangun simetris empat sisi, dengan tingkat keamanan sangat tinggi. Jika satu sisi dilewati, tiga sisi lain bisa mengetahuinya secara otomatis. Tapi bangunan ini punya kelemahan. Bangunan ini tidak simetris atas-bawah. Titik lemahnya ada di bagian paling atas atau bagian paling bawah. Kalian memang tidak bisa mendaratkan pesawat di atasnya, karena itu terlihat jelas oleh Pasukan Bintang, tapi kalian bisa masuk lewat bawah tanah.

" Meer menggeser proyeksi ke bawah, memperlihatkan saluran-saluran yang berada di bawah bangunan.

"Kalian bisa berenang?" "Eh?" Aku tidak mengerti.

"Aku merancang sistem sirkulasi air di bawah kota Zaramaraz. Ada saluran air bersih dan saluran air kotor. Pipa-pipa besarnya berdiameter delapan meter. Semua pipa itu tersambung ke semua bangunan, termasuk markas Dewan Kota. Pipa-pipa yang lebih kecil berdiameter tiga meter, Satu pipa itu melintas tidak jauh di bawah ruangan Sekretaris Dewan. Kalian melihatnya?" Aku sepertinya mulai mengerti rencana yang dijelaskan Meer.

"Kalian bisa muncul di titik ini, tiba persis di bawah markas Dewan Kota, kemudian menaiki anak tangga, tiba di lorong lantai pertama. Aku akan memberikan kombinasi angka yang bisa membuka segel di lantai.

Sisanya, seberapa beruntung kalian menyelinap, aku tidak bisa membantu lagi. Lorong itu pasti dijaga Pasukan Bintang. Sekali mereka tahu ada penyelinap, markas Dewan Kota akan dikepung ribuan pasukan, sistem keamanan diaktifkan. Pastikan kalian telah meninggalkan ruangan Sekretaris Dewan sebelum mereka mengetahui ada penyelinap.

" Langit-langit di sekitar api unggun lengang sejenak.

"Dari maria kami mulai masuk ke pipa-pipa itu?" aku bertanya.

"Restoran Lezazel. Aku tahu, Kaar sejak dulu punya dapur di basement--sebenarnya aku tahu semua bangunan di bawah dan di atas tanah kota Zaramaraz. Ada sekat di lantai yang bisa langsung menuju sistem utama sirkulasi air. Kalian bisa mulai dari sana.

" "Ini brilian, Meer. Terima kasih banyak.

" Faar terkekeh.

Faar menoleh ke arah kami. "Kita berangkat sekarang, Anak-anak. Kita bisa sampai di kota Zaramaraz persis malam hari. Mereka tidak akan menduga kita akan datang.

" "Sebentar, Faar, Masih ada beberapa hal yang hendak kusampaikan.

" Meer mengeluarkan sebuah kacamata dari kotak logam. "Namamu tadi Ali, bukan?" Meer mendekati Ali, menyerahkan kacamata itu.

Ali mengangguk.

"Kalian akan menghadapi pasukan dengan teknologi tidak terbayangkan. Benda-benda canggih. Beberapa peralatan mereka, aku yang merancangnya. Satu-dua, rancangan yang terbaik, tetap kusimpan sendiri.

Kamu tahu ini apa?" "Kacamata," Seli yang menjawab--refleks dan polos.

Meer tertawa, menggeleng.

Ali memperhatikan kacamata di tangannya. "Ini teknologi pengintai yang terhubung dengan kamera mikro.

" Meer mengangguk. "Kamu benar. Aku tahu, meski pemalas dan selalu santai, kamu genius.... Aku selalu bisa mengenali bakat terbaik seorang ilmuwan.

" Meer mengeluarkan segenggam pasir dari kotak miliknya dan menyerahkannya kepada Ali. "Lemparkan pasir ini ke udara, ribuan kamera mikro akan terbang ke seluruh penjuru radius ratusan meter, Kamu bisa mengetahui dengan mudah posisi siapa pun lewat kacamata yang dikenakan, sepanjang kamera mikro ini terbang di sana. Itu akan berguna saat kalian menyelinap masuk ke markas Dewan Kota. Karena menghilang tidak akan berguna di dalam sana.

" Ali menyimpan kacamata dengan "pasi?" ke dalam tas di pinggangnya.

"Satu lagi.

" Meer mengeluarkan sebuah benda berbentuk gumpalan karet, berwarna hijau. "Kamu juga akan mengetahui kegunaan benda ini. Simpan baik-baik, kalian akan membutuhkannya.

" "Terima kasih.

" Ali mengangguk.

"Hati-hati, Anak-anak.

" Meer menatap kami jauh lebih bersahabat dibanding saat kami tiba.

Kami mengangguk.

"Apakah kau bisa meninggalkan separuh bubuk api untukku?" Meer menoleh ke arah Faar. "Barangkali saja aku akan bepergian lagi dalam waktu dekat. Ada banyak yang tidak lagi kumengerti tentang situasi Klan Bintang terkini. Perut bumi terlalu lengang sejak aku meninggalkan kota Zaramaraz.

" "Tentu saja.

" Faar menumpahkan separuh isi kantong kain ke kotak logam. "Jika kau bosan tinggal di sini, lembah hijau milikku terbuka untukmu, Meer.

" Kami berpamitan untuk terakhir kalinya. Api unggun menyala tinggi. Portal telah dibuka.

"Ayo, Anak-anak. Aku sudah tidak sabar pergi ke kota Zaramaraz. Sudah seribu tahun aku tidak melihatnya secara langsung. Mereka membuat namaku ada di urutan pertama daftar hitam kota itu.

" Faar tertawa, melangkah mantap ke dalam nyala api.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊