menu

Matahari BAB 19

Mode Malam
BAB 19
SEJAUH ini, dari seluruh petualangan kami di Klan Bulan, Klan Matahari, dan sekarang Klan Bintang, inilah momen paling menyedihkan yang kami alami. Kami pernah kehilangan harimau putih di Klan Matahari, tapi itu tidak membuat kami patah semangat. Tapi kali ini, buku itu telah hilang.

Seli menangis. Ali yang biasanya cuek, kini terlihat pucat, meremas jemarinya--si genius itu pastilah berpikir, jika situasi buruk terjadi di klan mana pun kami berada, saat kami terdesak habis-habisan, buku matematikmilikku bisa menjadi senjata terakhir untuk menyelamatkan diri.

Aku kehilangan seluruh semangatku. Aku terduduk di kursi, tidak mampu bicara beberapa menit kemudian.

"Kemungkinan besar buku itu diambil Pasukan Bintang saat mereka memeriksanya pertama kali," Kaar berusaha mencari penjelasan.

"Jika demikian, itu kabar buruk. Buku itu pasti dikuasai Sekretaris Dewan Kota. Tidak ada sosok yang lebih menyebalkan dibanding dia di seluruh Klan Bintang.

" Faar berdiri, memegang tongkat panjang.

Wajah tuanya terlihat sedih dan kecewa.

"Kita mungkin bisa merebutnya kembali.

" "Bagaimana caranya, Kaar? Bahkan ribuan petarung terbaik Klan Bulan dikirim ke sana, tetap tidak mudah menembus benteng markas Dewan Kota" "Mungkin Marsekal Laar bisa membantu.

" "Iya, itu harapan terakhir kita. Tapi bagaimana menghubungi Laar? Seluruh komunikasi diawasi. Laar juga sedang sibuk menjelaskan kejadian di kapal induk. Dia mungkin sedang habis-habisan membela diri di depan Dewan Kota, bilang tidak tahumenahu dari mana asal granat EMP. Kalaupun kita berhasil mengontak Laar, dia juga tetap tidak akan mudah mengambil buku itu dari ruangan Sekretaris Dewan Kota.

" Faar terdiarn, mengembuskan napas. Seli masih terisak di sebelahku.

"Setidaknya buku itu aman. Hanya pewaris yang sah yang bisa membukanya, Di mata Sekretaris Dewan Kota buku itu hanya seperti buku tulis tua. Benda antik yang sudah punah di Klan Bintang. Tidak ada lagi yang menggunakan kertas di klan ini. Aku yakin, Sekretaris Dewan Kota mengambilnya dari ransel Raib bukan karena dia tahu buku itu pusaka Klan Bulan. Dia mengambilnya lebih karena merasa benda itu koleksi menarik. Dia suka mengoleksi benda-benda kuno.

" Faar menoleh ke arah kami duduk. "Raib, Seli, Ali, jika mengacu bioritme kalian, ini sudah malam. Lebih baik kalian istirahat di kamar, petugas rumah akan mengirimkan makan malam. Biarkan aku dan Laar memikirkan jalan keluar semua kerumitan ini. Kita aman hingga dua belas jam kemudian.

" Ruangan dengan kursi berbaris simetris itu lengang.

Aku akhirnya mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa kami lakukan sekarang. Mungkin istirahat sejenak bisa membantu kepalaku berpikir jernih.

Aku memegang bahu Seli. Tanganku bercahaya terang, mengirim perasaan tenteram. Seli menyeka matanya, suasana hatinya membaik secara instan-meski itu hanya temporer. Ali bangkit dari duduknya, tanpa banyak bicara dia melangkah gontai keluar, mengikuti penunjuk arah di lantai kayu.

***
 Ini malam kedua kami menginap di ruangan lembah hijau milik Faar. Di sini, langit tetap terlihat seperti pukul sepuluh pagi, tapi ini sudah pukul satu malam.

Kami menghabiskan makan malam tanpa banyak bicara. Hanya sesekali Ali mengomentari satu-dua hal soal makanan, mencoba menghibur Seli.

"Makanan ini selalu lezat sesuai apa yang kita pikirkan. Tapi apakah penduduk Klan Bintang tidak bosan melihatnya yang hanya seperti bubur setiap kali makan?" Aku mengangkat bahu, malas berkomentar.

"Andai saja penduduk lembah ini datang ke dunia kita, mereka mungkin terkejut melihat bentuk asli bakso seperti apa. Mereka mungkin tidak pernah tahu lagi aslinya bakso seperti apa.

"Buburmu terasa seperti bakso?" "Ya, aku memikirkan mamang tukang bakso di sekolah kita," Ali nyengir lebar. "Kemajuan teknologi makanan ini mengerikan. Aku tidak mau kehilangan sensasi menatap mangkuk bakso asli yang beruap, mencium aromanya, meski bubur putih ini jelas lebih higienis, bergizi, praktis, dan lezat persis seperti bakso.

" Aku mengangguk, masuk akal.

"Itulah kenapa Restoran Lezazel terkenal di kota Zaramaraz, mungkin itu satu-satunya restoran yang menyajikan makanan sesuai bentuk aslinya, bukan dengan sugesti rasa.

" "Kamu memikirkan rasa masakan apa, Seli?" Ali bertanya.

Seli tidak menjawab, Dia tampak tidak semangat makan.

Ali tersenyum. "Makanan ini sangat tergantung pada tingkat kebahagiaan kita, Seli. Semakin bahagia kita, maka semakin lezat bubur ini. Kamu jangan membayangkan guru geografi yang galak, akan seperti itu pula rasa bubur ini seketika. Atau kamu memikirkan kecoak..." "Ali!" aku memotong, menatap galak.

Ali tertawa kecil dengan wajah tidak berdosa. "Bercanda, Ra.

" Kami menghabiskan makanan tanpa bicara lagi.

Seli beranjak tidur setelah makan, dia bilang lelah. Aku mengangguk. Ali masuk ke kamarnya, bilang hendak membaca sebelum tidur, membuka buku berbentuk proyeksi dari lemari kayu di kamar.

"Ada hal menarik yang sedang kupikirkan, Ra.

" "Apa?" "Soal makanan tadi. Jika setiap hari penduduk lembah ini hanya makan bubur, sejak kecil, hanya itu saja, maka bagaimana dia bisa membayangkan rasa lezat makanan lain? Iya, kan? Berbeda dengan kita yang menyimpan banyak memori rasa makanan.

" Aku tidak menanggapi. Ali selalu tertarik pada hal seperti ini.

Pukul dua malam. Seli sudah jatuh tertidur, Ali asyik membaca, aku tidak mengantuk. Kepalaku sedang dipenuhi banyak hal. Memikirkan Mama dan Papa, apa yang mereka lakukan di atas sana. Av, Miss Selena, apa komentar mereka jika tahu kami sekarang menjadi buronan Pasukan Klan Bintang. Apakah Av akan marah besar saat tahu buku marematikaku hilang.

" Aku mengembuskan napas perlahan, menatap pin dengan pahatan bulan purnarna. Siapakah orangtuaku.

" Ini pin apa.

" Kenapa ditemukan di ranjang tempat Ibu melahirkanku? Aku mendongak, menatap jendela. Apakah ayah kandungku masih hidup.

" Baiklah. Lelah memikirkan banyak hal, tetap tidak kunjung mengantuk, aku berdiri dari sofa yang memijat punggungku. Berjalan-jalan di luar kamar mungkin membuatku lebih rileks.

Aku mendorong pintu kamar. Lantai papan tidak menunjukkan arah--mungkin karena aku tidak punya tujuan mau ke mana, jadi teknologi ini tidak bisa memberitahukan arah yang harus kuruju, Aku memutuskan sembarang mengelilingi rumah besar milik Faar.

Rumah kayu ini sangat nyaman. Selain furnitur dengan teknologi cingkat tinggi, lorong dan ruangannya dipenuhi lukisan, hiasan, benda-benda serbasimetris yang enak dilihat. Aku berdiri lama menatap akuarium bertingkat yang berada di sebuah ruangan, menyaksikan ikan-ikan berenang di tumpukan rumit, tapi simetris, dua belas akuarium beraneka tema. Aku berpikir, apakah Klan Bintang punya lautan seperti di permukaan bumi.

" Aku juga berdiri lama menatap dinding dengan bola-bola sebesar bola pingpong di dunia kami, warnawarni. Itu alat musik ternyata. Setiap bola mewakili satu nada, seperti tuts piano. Bedanya, bola-bola ini bisa dimainkan dengan memikirkan sebuah lagu. Bola-bola itu akan berganti warna dan memainkan lagu yang kira pikirkan. Dengan teknologi, semua terlihat sangat mudah di klan ini. Tidak perlu kursus lama untuk bisa memainkan sebuah lagu, cukup dipikirkan, lagu itu akan terdengar sama baiknya seperti pemain piano ternama.

Aku teringat kalimat Ali sebelumnya soal rasa makanan. Bagaimana rasanya sensasi memainkan gitar jika kita cukup memikirkannya--suara bola-bola seketika berubah menjadi suara gitar saat aku memikirkan gitar. Aku menelan ludah, mengusap anak rambut di dahi. Jika begini, semua orang bisa jadi pemusik hebat, juga membuat masakan seenak apa pun di klan ini. Jika kehidupan menjadi sangat mudah dengan pengetahuan, lantas di mana seninya? Bola-bola berhenti memainkan lagu saat aku memikirkan hal lain. Aku melepas alat pengendali bola-bola dari kepala, melanjutkan langkah kaki.

Tanpa aku sadari aku justru menuju ruangan kursi berbaris simetris. Pintu ruangan terbuka dua senti. Aku bisa mendengar percakapan Faar dan Kaar. Mereka masih di sana.

"Sudah lama sekali aku hendak mengunjungi lembah ini, Faar," Kaar berbicara.

"Lembahku terbuka bagi siapa pun, wahai. Apalagi bagi seorang kepala koki restoran ternama kota Zaramaraz. Kau bisa datang kapan pun," Faar terkekeh.

Kaar ikut tertawa, tapi suaranya terdengar kembali serius. "Ada kabar buruk yang kudengar dari dindingdinding restoranku.

" "Kabar apa?" "Dewan Kota hendak mengeluarkan Dekrit Darurat. Aku mendengarnya beberapa bulan lalu, saat ada pejabat teras markas besar Dewan Kota yang berkunjung ke restoranku. Dia mungkin kelepasan bicara, tapi itu tidak mengurangi betapa pentingnya kabar tersebut.

" "Dekrit Darurat?" Suara Faar ikut serius.

"Iya. Bukan dekrit yang memiliki angka seperti biasanya. Kau ingat kapan terakhir kali dekrit seperti ini dikeluarkan.

" Tidak pernah dalam waktu ribuan tahun.

" Faar terdiam.

"Tapi dekrir itu tentang apa.

" Mereka sudah mengendalikan seluruh pemilik kekuatan. Tidak ada lagi hal darurat yang perlu dikendalikan Dewan Kota?" "Aku juga tidak tahu.

" Kaar ikut menggeleng. "Ada banyak informasi yang hanya dikuasai Dewan Kota, termasuk para Penjaga Tiang. Aku sudah lama sekali tidak mendengar kabar dari mereka. Sama lamanya dengan kota Zaramaraz yang tidak pernah mengalami guncangan gempa, meskipun gempa kecil yang hanya membuat lampu bergoyang.

" "Apakah Marsekal Laar tahu soal kabar dekrit itu?" "Coba kuingat, ah, terakhir kali Laar mengajakku bertemu adalah persis saat perkumpulan dibubarkan.

Seratus tahun berlalu, kapan terakhir kali Laar menghubungiku.

" Ah, saat tiga remaja itu datang ke restoran, Laar tidak datang secara langsung, tapi aku anggap itu sebagai menghubungiku.

" Kaar bersedekap. Wajahnya masygul. "Jadi, bagaimana aku tahu apakah Laar pernah mendengar soal dekrit itu?" "Posisi Laar juga sulit. Kita harus memahaminya. Tapi dia masih sekutu kita. Dia tetap berdiri di sisi kita.

Laar sejak lama tidak suka dengan teknologi yang hampir mengambil seluruh kehidupan penduduk Klan Bintang. termasuk anak-anak itu. Jika Laar tidak mengambil risiko, mereka sekarang sudah dikurung di sel karantina kota Zaramaraz. Tapi soal dekrit ini, wahai, bertambah lagi yang harus kita pikirkan. Dekrit itu pasti serius, apa pun isinya, maka lebih baik jika kita mengetahuinya lebih dulu sebelum dikeluarkan.

" Kaar mengangguk. "Ya, aku akan terus berusaha mencari tahu lebih detail tentang dekrit itu sambil memikirkan bagaimana membantu anak-anak malang ini kembali ke klan permukaan. Mereka sial sekali, tersesat jauh, menjadi orang yang paling dicari Pasukan Bintang. Aku dulu seusia mereka, paling hanya tersesat di ruangan gurun pasir atau ruangan hutan tropis.

" Faar tertawa, menggeleng. "Mereka tidak tersesat, Kaar, Aku berani bertaruh. Yang laki-laki, Ali, bahkan menganggap ini hanya petualangan seru, sedangkan Seli petarung terbaik Klan Matahari. Aku tahu dia mengenakan Sarung Tangan Matahari. Dan gadis itu, Raib, dengan keturunan murni yang mengalir di tubuhnya, bisa melakukan hal menakjubkan yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh siapa pun. Aku berpikir, kehadiran mereka di Klan Bintang ini mungkin saja melengkapi puzzle sejarah panjang empat klan. Mereka akan berperan penting.

" Kaar mengangguk takzim.

"Kau sebaiknya juga istirahat, Kaar, Kamar untukmu sudah disiapkan sistem utama rumah ini. Beberapa jam ke depan, aku akan memeriksa kembali catatan lama tentang lorong-lorong misteri, barangkali masih ada yang kulewatkan, dan itu bisa menjadi jalan keluar menuju permukaan. Besok pagi-pagi akan kuberitahu hasilnya.

" Kaar mengangguk.

Aku sudah bergegas mundur, meninggalkan pintu ruangan.

***
 Ali belum tidur. Dia masih tenggelam dengan buku proyeksi.

"Kamu dari mana saja, Ra?" Ali mendongak saat aku melangkah masuk ke kamarnya, melintasi pintu penghubung.

"Berjalan-jalan di luar.

" "Ada sesuatu di sana? Wajahmu tidak seperti biasanya.

" Ali meletakkan buku proyeksinya. Si genius ini, meski lebih sering terlihat tidak peduli, dia selalu tahu ada sesuatu hanya dari melihat ekspresi wajah orang lain.

Baiklah. Inilah kenapa aku masuk ke kamar Ali. Aku memang mau menceritakan apa yang kudengar dari ruangan kursi berbaris simetris, percakapan Faar dan Kaar, Suaraku lebih pelan, khwarir membangunkan Seli yang sedang tidur.

Ali terdiam setelah aku mengulang kalimat-kalimat tersebut. Dia berpikir.

"Dekrir Darurat.

" Ali mengusap rambutnya yang berantakan.

"Kamu bisa menebaknya?" aku mendesak.

Ali menggeleng. "Entahlah, tapi itu pasti bukan sesuatu yang baik.

" "Apa itu Para Penjaga Tiang?" Aku dan Ali menoleh. Seli ternyata terbangun dari tidurnya, ikut bergabung.

"Kami membuatmu terbangun, Seli?" aku bertanya.

Seli menggeleng. "Aku terbangun karena mimpi buruk. Ada kecoak raksasa mengejar-ngejar ILY di lorong kuno. Ini garagara Ali yang selalu membahas kecoak setiap makan.

" Aku hampir saja tertawa, tapi mengurungkannya karena kami dalam situasi serius. Namun Ali tetap tertawa, membuat Seli menyeringai. Seli duduk di dekatku, mengulang pertanyaannya, "Apa itu Para Penjaga Tiang?" "Itu mungkin sekelompok penduduk kota Zaramaraz yang ditugaskan untuk menjaga gunung-gunung berapi, aliran magma, lapisan-lapisan bumi. Hampir setiap detik terjadi gempa kecil di seluruh bumi, Seli, karena perut bumi memang aktif. Bumi terus melepaskan energinya, membuat benua-benua terus bergerak. Seperti yang dijelaskan Faar waktu menyambut kita di lembah ini, salah satu tugas penting penduduk Klan Bintang adalah menjaga pasak-pasak itu tetap terkendali.

" "Mungkin Para Penjaga Tiang ada hubungannya dengan Dekrit Darurat?" Seli bertanya.

"Bisa saja. Tapi jika mengacu kalimat Faar, tidak ada lagi hal darurat yang perlu dikendalikan oleh Dewan Kota, maka pertanyaan yang sangat penting adalah 'Itu darurat bagi siapa?" Kami terdiam.

"Kian ini lebih rumit dibanding Klan Bulan atau Klan Matahari yang pernah kita kunjungi sebelumnya, Di sini semua dikendalikan oleh Dewan Kota yang tidak memiliki kekuatan. Mereka menggunakan teknologi sebagai alat untuk menguasai. Mereka tidak menyukai dan merasa terancam dengan penduduk yang bisa menghilang, mengeluarkan petir. Tapi lewat teknologi mereka justru mengancam pihak lain. Aku membaca buku-buku tentang itu.

" Ali menunjuk buku proyeksi. "Banyak penduduk biasa yang merasa Dewan Kota terlalu mengendalikan kehidupan. Teknologi tidak membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Makanan misalnya, bagi mayoritas penduduk Klan Bintang, mereka tidak bisa menjelaskan dengan akurat apa rasa bubur itu, hanya karena mereka sejak kecil sudah mengonsumsinya. Jadi mereka tidak bertanya-tanya lagi.

"Pakaian. Di klan ini, kita bisa mengubah pakaian sesuai keinginan kita, cukup dengan mernikirkannya. Itu sangat praktis, tidak perlu dicuci, tidak perlu diganti, bahkan satu penduduk sejak bayi cukup mengenakan satu pakaian, yang besok akan menyesuaikan dengan pertumbuhan fisik bayi. Tapi apa hakikat dari pakaian itu? Bandingkan dengan penduduk di dunia kita, yang bisa mengapresiasi setiap detik pakaian yang kita kenakan. Di sini, tidak lagi. Dari buku yang kubaca, bagi mayoritas penduduk Klan Bintang, mereka tahunya itu seperti kulit, bukan pakaian.

"Dewan Kota mengendalikan kehidupan. Mereka mengklaim melakukannya demi kebaikan penduduk Klan Bintang, terutama kota Zaramaraz, permata paling indah di perut bumi. Tapi pertanyaannya, apakah penduduk Klan Bintang sungguh bahagia? Atau hanya jadi robot, yang tidak lagi punya kehidupan nyata.

Entah apa maksudnya dengan Dekrit Darurat itu. Tapi aku yakin, itu pasti keputusan sepihak Dewan Kota, lagi-lagi hanya sesuai dengan definisi yang mereka miliki.

" Ali diam sejenak, meluruskan kakinya.

"Lama-lama, kamu mirip sekali dengan Av, Ali," Seli berkata pelan, mengisi lengang.

"Mirip Av? Apanya yang mirip?" Dahi Ali terlipat.

"Iya. Kalimat-kalimat bijak susah dimengerti itu. Av suka sekali menyampaikannya. Bedanya, kamu belum berambut putih, memegang tongkat, dan memakai jubah.

" Kali ini aku sungguhan tertawa.

***
 Aku sempat tertidur beberapa jam, dan terbangun saat pintu kamar diketuk.

"Kalian ditunggu di ruang makan setengah jam lagi.

" Petugas rumah memberitahu.

Aku mengangguk.

Seli ikut terjaga, menoleh ke jendela kamar, lalu bergumam, "Ini aneh. Jam berapa pun kita bangun, di luar tetap pukul sepuluh pagi.

" Aku melangkah menuju pintu penghubung ke kamar Ali, tapi dia justru lebih dulu melangkah masuk.

Rambutnya yang biasanya berantakan kini tampak rapi, juga pakaiannya.

"Pagi semua," Ali menyapa.

Aku menyeringai. Ali tampak bersemangat. Dulu waktu di hutan-hutan lebat atau rawa-rawa luas Klan Matahari, Ali paling susah dibangunkan. Sepertinya semua teknologi di Klan Bintang membuatnya antusias.

"Ayo, siap-siap, Ra, Seli. Ini hari ketiga kita di Klan Bintang. Meskipun prospek nasib kita suram, siapa tahu hari ini semua berubah. Kita bisa pulang. Soal buku itu, mungkin saja hari ini kita tidak hanya menemukan kembali buku matematika milik Raib, tapi kita juga bisa menemukan buku sejarah, buku geografi, dan sebagainya.

" Seli tertawa mendengar gurauan Ali, lalu mengangguk. Sayangnya, setibanya kami di ruang makan, situasi tetap tidak berubah.

"Catatan lama lorong-lorong misteri itu tidak membantu.

" Faar menggeleng tegas. "Kita tidak bisa menggunakannya.

" Aku meletakkan sendok, bubur nasi yang kutelan menjadi sangat hambar.

"Jika demikian, kira tidak bisa menahan mereka berlama-lama di lembah ini, Faar. Cepat arau lambat, pasukan Klan Bintang akan tiba di sini, memeriksa. Aku akan membawa mereka berpindah-pindah ke ruangan lain, hingga kita menemukan solusinya. Itu bisa mengulur waktu.

" "Tidak perlu, Kaar.

" Faar menggeleng. "Buku Kehidupan adalah cara paling mudah untuk mengantar mereka pulang.

" "Buku itu ada di kota Zaramaraz," jawab Kaar.

"Maka jika demikian, biarlah ini terjadi. Kita akan mendatangi markas Dewan Kota, mengambil kembali buku itu dari Sekretaris Dewan," Faar menjawab mantap.

"Itu sama saja dengan menyerahkan diri, Faar," Kaar berseru, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Boleh jadi. Tapi aku telah memikirkannya dengan baik enam jam terakhir. Dengan segala teknologi yang dimilikinya, tambahkan Pasukan Bintang yang menjaganya, markas itu tetap memiliki kelemahan, Kita bisa menyelinap masuk ke dalamnya, mengambil buku tersebut diam-diam, kemudian kembali ke lembah ini.

Selesai, semua berakhir baik-baik saja.

" "Bagaimana jika gagal?" Kaar menelan ludah. "Kau akan membahayakan semuanya.

" "Apa pun pilihannya, semua memiliki risiko, Kaar," Faar menoleh kepada kami. "Dengan segala risiko itu--wahai, apakah kalian setuju dengan rencana ini?" "Aku setuju," aku menjawab cepat.

"Itu bukan ide buruk. Aku ikut," Ali menjawab santai--hanya dia yang piring buburnya habis.

Faar menatap Seli.

Seli menoleh ke arahku, aku tersenyum. Seli mengangguk. "Tiga remaja ini datang ke Klan Bintang dengan seluruh keberanian dan ketulusan mereka. Mereka hanya ingin bertualang, melihat banyak hal, Kaar, Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan politik, pertikaian, dan perbedaan pendapat klan ini. Mereka layak didukung siapa pun yang masih mencintai kebaikan. Aku akan ikut menemani mereka kembali ke kota Zaramaraz.

" "Astaga, Faar, Namamu ada dalam daftar paling atas yang dilarang kembali ke kota Zaramaraz. Itu memberikan alasan yang telah lama dicari-cari Dewan Kota untuk memasukkanmu ke penjara.

" Faar tertawa. "Maka biarlah demikian, wahai. Aku belum terlalu tua untuk berurusan dengan Pasukan Bintang. Ini akan seru, setidaknya sebelum masaku berakhir di lembah ini. Aku memiliki petualangan kecil bersama anak-anak ini.

" Faar mengangkat tangannya. Tongkat panjang yang mengambang di lantai melesat ke jemarinya. Tongkat itu mengeluarkan cahaya terang. "Apakah orang tua ini boleh bergabung dengan kalian, Ali? Kita akan bertamu ke markas Dewan Kota.

" Kali ini Ali mengangguk mantap.

"Terima kasih, Ali.

" Faar mengangguk riang. "Habiskan sarapan kalian. Kita akan segera berangkat.

" Seperti ada semangat baru yang masuk ke relung hatiku, rasa buburku seketika membaik.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊