menu

Matahari BAB 18

Mode Malam
BAB 18
PELAYAN membawa kami melintasi pintu belakang yang terhubung ke dapur. Ada belasan koki yang sedang menyiapkan masakan di sana. Mereka terlihat sibuk, tidak terlalu memperhatikan kami melintas.

Tiba di bagian belakang dapur, pelayan menarik tuas di samping lemari besar. Dinding kokoh dari batu di hadapan kami membelah dua, memperlihatkan lorong menuju ruangan bawah.

"Kita mau ke mana?" Seli bertanya, ragu-ragu melangkah ke sana.

Aku menggeleng, menatap lorong remang. Ada anak tangga dari batu, terlihat bersih. Udara lorong tidak pengap, tercium aroma masakan.

"Ikuti aku, Anak-anak," pelayan wanita itu berseru, mendesak.

Ali menuruni anak tangga lebih dulu, melangkah santai. Aku dan Seli menyusul di belakangnya. Dinding batu menutup sendiri saat kami telah melewatinya. Nyala lampu di lorong semakin terang.

Kami ternyata menuju dapur berikutnya. Tidak didesain modem seperti dapur bagian atas, dapur di ruangan bawah terlihat lebih sederhana, seperti dapur di dunia kami, dengan kitchen set dari kayu, peralatan memasak yang kami kenali. Tapi tidak ada kompor di sana. Dapur ini menyenangkan, kursi-kursi rotan dengan bantalan busa lembut diletakkan di tengah, juga vas bunga. Pencahayaannya cukup. Pemilik dapur ini pasti seseorang yang sangat suka memasak. Aku baru menyadari, dapur ini juga tidak berbentuk simetris. Meja kayu di tengah dapur dipenuhi mangkuk dan piring berisi makanan. Dari sanalah aroma lezat tercium.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Apakah sang Hantu memang tidak terlihat? "Sudah lama sekali nama itu tidak disebut. Hampir seratus tahun terakhir," pelayan berkata pelan. Dia menuju perapian tinggi di dekat kursi kayu. Ada tumpukan kayu di perapian, seperti lama tidak dibakar.

"Sang Hantu beberapa menir lalu berada di sini, sebelum dia pergi ke restoran di sisi lain. Aku tidak tahu dari mana kalian mengenal istilah itu, juga tidak tahu siapa kalian sebenarnya, tapi sudah menjad tugasku untuk segera memberitahu sang hantu jika ada yang bertanya.

" Pelayan menekan tombol di dinding batu dekat perapian, lalu bicara pelan, seperti memberitahu seseorang di tempat lain.

"Aku akan meninggalkan kalian di sini. Sang Hantu akan menemui kalian beberapa menit lagi.

" Pelayan itu balik kanan, kembali menaiki anak tangga.

Suasana lengang. Ali asyik memperhatikan dapur. Aku dan Seli saling menatap.

"Apakah sang Hantu semengerikan namanya?" Seli berbisik.

Aku mengangkat bahu.

"Mungkin saja, Seli. Dia memang hantu" Ali nyengir, meluruskan kaki di kursi.

"Sungguh?" Seli bergidik.

Aku melotot kepada Ali, menyuruhnya berhenti bergurau. Terdengar suara mendesing pelan dari dekat perapian. Kami menoleh.

Perlahan portal lorong berpindah muncul di sana, lubang cincin setinggi manusia dewasa. Seseorang melangkah keluar--mengenakan baju koki berwarna putih.

"Selamat malam," orang itu menyapa. Usianya sama seperti Marsekal Laar, separuh baya. Matanya tajam.

Ekspresi wajahnya penuh selidik. Lubang cincin menghilang.

"Ini hari yang sibuk sekali. Empat Restoran Lezazel dipenuhi pengunjung. Aku harus berpindah-pindah setiap lima belas menit. Tetapi, setidaknya Dewan Kota masih mengizinkan portal lorong berpindah skala kecil digunakan setelah jatuhnya kapal induk di pusat kota. Aku bisa pindah dengan cepat ke empat restoran. Astaga, kalian masih remaja?" Orang itu menatap kami satu per satu.

"Aku pikir saat pelayan menyebut nama itu, ada kenalan lama, atau pengunjung dari ruangan-ruangan jauh, yang masih ingat nama itu, hendak bernostalgia. Tapi ini, di luar dugaan. Ah, perkenalkan, namaku Kaareteraak. Kalian bisa memanggilku Kaar.

" Orang itu menyeret salah satu kursi rotan, duduk di depan kami.

"Dari mana kalian tahu istilah itu, sang Hantu.

" Tatapannya penuh selidik.

"Marsekal Laar. Dia yang menyuruh kami ke sini," aku yang menjawab.

"Ah, teman kita di Pasukan Bintang" Kaar mengangguk.

"Sebentar, ini menarik sekali. Bukankah Marsekal Laar ada di kapal induk yang jatuh di pusat kota? Jangan-jangan, apakah kalian juga berada di kapal itu sebelumnya?" Kami bertiga saling tatap. Aku mengangguk.

Wajah Kaar terlihat antusias.

"Ada banyak sekali yang disembunyikan Dewan Kota atas kejadian barusan. Mereka hanya mengumumkan kapal induk Armada Kedua mengalami kerusakan teknis. Media mengutip pernyataan itu mentah-mentah, seperti biasa. Aku tahu ada yang menarik di balik kejadian tadi. Hei, tidak pernah sejak aku tinggal di kota ini ada kapal induk yang jatuh. Itu konyol. Kota ini memiliki ilmuwan terbaik. Dari mana kalian berasal? Aku berani bertaruh, kalian bukan penduduk Klan Bintang.

" Kami kembali saling menatap. Aku mengangguk lagi.

"Wahai," Klaar menepuk lengan kursi rotan, "kalian dari klan permukaan?" Aku mengangguk tanpa menunggu--toh sudah jelas sekali kami dari mana. Yang jadi soal sekarang, siapa sang Hantu ini, kenapa Marsekal Laar menyuruh kami menemuinya, Apakah dia bisa membantu kami keluar dari masalah? Siapa koki ini? Dia sama sekali tidak terlihat seperti hantu.

"Baiklah, aku belum memperkenalkan diriku dengan baik.

Namaku. kalian sudah tahu. Aku kepala koki sekaligus pemilik Restoran Lezazel. Restoran ini sudah berdiri ratusan tahun. Kakek dari kakekku yang mendirikannya, saat kota Zaramaraz masih kecil, dindingdinding belum digerus meluas, langit-langit belum ditinggikan. Kakekku orang penting dan terkenal di kota ini. Yah, aku juga mewarisi nama besarnya. Aku juga koki paling ternama hari ini. Tidak ada penduduk kota yang tidak mengenalku.

" Kaar terkekeh.

"Anda pastilah keturunan Klan Matahari, bukan?" Ali bertanya, menyela.

"Eh? Bagaimana kamu tahu?" "Di dapur ini tidak ada satu pun sumber panas. Api. Anda memasak menu paling penting di dapur ini, kemudian dibawa ke dapur bagian atas, agar tidak ada yang melihat, dengan menggunakan kekuatan mengeluarkan listrik dari tangan.

" Kaar terdiam, memperbaiki topi kokinya, lalu kembali tertawa. "Pengamatan yang brilian. Kamu benar. Itu salah satu resep kenapa masakan di restoran ini sangat lezat. Semua dimasak dengan suhu yang sangat akurat. Ah, aku lupa bertanya, siapa nama kalian? Dari kian mana? Bagaimana kalian masuk ke Klan Bintang?" Aku memperkenalkan diri dengan cepat. Juga menceritakan secara singkat kejadian di lembah milik Faar, juga peristiwa saat kapal induk bersiap mendarat.

"Tiga remaja, dari tiga kian sekaligus. Pantas saja Marsekal Laar mempertaruhkan semuanya untuk membebaskan kalian. Sekali kalian dimasukkan ke sel karantina Dewan Kota, tidak ada yang tahu kapan kalian dibebaskan. Marsekal Laar melakukan hal yang bijak, mengirim kalian ke sini.

" "Bisakah Anda membantu kami kembali ke permukaan?" Seli bertanya.

Aku berharap koki ini akan mengangguk, tapi Kaar justru menggeleng.

"Aku minta maaf Nak. Itu nyaris mustahil. Tidak ada portal lorong berpindah yang bisa dibuka ke klan permukaan, dan lorong kuno pasti telah dijaga ketat oleh mereka.

" Seli mengaduh tertahan.

"Tapi mungkin masih ada cara," Kaar terlihat berpikir.

"Sungguh?" "Tapi aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak.

" Kaar menatap kami dengan serius. "Pertamatama kalian harus kembali ke lembah hijau milik Faar. Di sana kita bisa lebih aman menyusun rencana.

Restoran ini tidak aman, Cepat atau lambat, Pasukan Bintang bisa menemukan kalian.

" "Bagaimana kita bisa ke sana?" tanya Ali. "Bukankah Anda bilang portal lorong berpindah antar ruangan ditutup pasukan Klan Bintang?" Kaar menggeleng, tertawa. "Wahai, masih ada cara melakukan perjalanan selain dengan portal itu. Kalian ingat perapian di rumah kayu Faar?" Kami mengangguk.

"Nah, tunggu sebentar, aku akan menyiapkan beberapa hal.

" Kaar berdiri. Bajunya langsung berubah.

Seragam kokinya berganti menjadi pakaian gelap, lengkap dengan sepatu senada. Dia mengetuk meja tempat masakan lezat. Meja itu mengeluarkan proyeksi langsung dari dapur empat Restoran Lezazel. Kaar bicara sebentar dengan asisten koki, memberitahukan dia ada urusan, seluruh urusan restoran diserahkan kepada asisten koki. Percakapan pendek, asisten koki mengangguk tanpa bertanya.

"Kalian pasti bertanya-tanya siapa itu sang Hantu," Sekarang Kaar melangkah ke sebuah lemari, menarik kotak tua berdebu dari dalamnya.

"Itu aku," Kaar tertawa lagi. "Ayolah, aku serius, jangan menatapku seperti tidak percaya. Aku memang tidak terlihat menyeramkan, tapi itulah guna panggilan tersebut.

"Restoran ini bertahun-tahun menjadi markas bawah tanah perlawanan kepada Dewan Kota. Ada banyak penduduk Klan Bintang yang mendukung agar para pemilik kekuatan diperlakukan lebih pantas. Mereka bukan ancaman bagi kota Zaramaraz, bahkan lihatlah, restoran ini menghidangkan masakan terlezat karena kekuatan tersebut. Lebih banyak lagi penduduk yang meminta Dewan Kota menghapus sebagian besar dekrit. Itu konyol. Dekrit-dekrit tersebut membuat penduduk seperti robot.

"Marsekal Laar, Faar, dan beberapa orang lagi adalah anggota organisasi bawah tanah. Dulu kami sering bertemu di sini, membahas banyak hal. Mereka menyebut tempat ini Markas Hantu, dan aku pemiliknya dipanggil sang Hantu. Nama yang buruk sebenarnya, karena aku lebih suka dipanggil Raja Koki atau sang Koki Hebat. Tapi hei, kami membutuhkan istilah yang cocok. Mereka tidak akan menduga, koki paling terkenal ternyata seorang pemberontak. Restoran paling banyak dikunjungi ternyata menjadi markas para pemberontak.

" Kaar memeriksa kotak tua itu, menepuk-nepuk debu.

"Dua ratus tahun lalu, Dewan Kota mengeluarkan Dekrit nomor 1.

7. 00Mereka berhak memeriksa semua bangunan, memperketat gerak para pemberontak, termasuk restoran ini. Satu Pasukan Bintang datang menyisir restoran. Mereka hampir menutup restoran, tapi untunglah, Marsekal Laar mampu meyakinkan Dewan Kota. Tapi harganya mahal sekali, kami membubarkan organisasi....

"Ah, ini dia, aku temukan bendanya," Kaar mengangkar sebuah kantong kain kecil dari kotak berdebu.

"Itu apa?" Seli bertanya pelan.

"Serbuk api Klan Matahari," Ali yang menjawab.

Kaar tertawa. "Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Anak muda satu ini sudah bisa menebak sisanya. Baik, Anak-anak, merapat ke perapian tua ini. Kita akan menggunakan cara Klan Matahari untuk bepergian ke lembah hijau milik Faar.

" Kaar mengarahkan tangannya ke tumpukan kayu, petir biru menyambar dari tangannya dan api segera membakar kayu, bergemeletuk. Kaar mengeduk serbuk dari kantong kain. "Kalian siap?" Kami mengangguk. Kami pernah menggunakan cara ini saat di Klan Bulan, Av yang memberitahu. Tinggal membayangkan perapian di rumah kayu milik Faar, Hanya itu syaratnya. Sekali salah seorang pernah melihat perapian itu, penduduk Klan Matahari bisa melintasinya. Cara ini tidak bisa digunakan untuk melintasi antarklan, tapi sangat efektif bepergian di klan yang sama.

Kaar melemparkan serbuk ke atas kayu. Api bergelung tinggi, membuka pintu portal.

"Kalian lebih dulu!" Kaar berseru, berusaha mengalahkan gemeletuk suara api.

Ali melangkah cepat, menyibak nyala api seperti memasuki daun pintu, disusul Seli dan aku. Sekejap cahaya terang menerpa mata, tubuh kami segera terlempar ke dalam lorong.

***
 Kami muncul di tempat yang beberapa jam lalu kami tinggalkan.

"Kalian datang lebih cepat dibanding yang aku perkirakan.

" Faar bangkit dari kursinya, melangkah ke perapian rumah kayunya. Tongkat panjangnya tergenggam erat.

Ali, Seli, dan aku keluar dari balik nyala api.

"Selamat malam, Faar," Kaar menyapa. "Ah, aku lupa, lembahmu selalu pagi, jadi selamat pagi.

" Seli senang sekali melihat Faar. Dia hampir memeluk wanita tua itu--seolah kami sudah berhasil lolos dari cengkeraman Dewan Kota Zaramaraz.

"Kalian baik-baik saja?" Faar bertanya.

Aku mengangguk.

"Apa yang terjadi di kota?" "Mereka menjatuhkan kapal induk Armada Kedua. Itu keren sekali.

" Kaar tertawa. "Hei, beritanya tidak sampai ke lembah hijau ini?" Faar menggeleng. "Mereka tidak akan membiarkan berita buruk keluar dari ruangan kota Zaramaraz.

Bagaimana dengan Laar?" "Saat kami loncat dari pesawat, Marsekal Laar baik-baik saja," aku yang menjawab.

"Semoga dia tidak mendapatkan masalah. Aku yang menitipkan granat EMP itu kepadanya. Ayo, semua duduk, kalian aman di lembah ini hingga dua belas jam ke depan. Mereka tidak akan menduga kalian bisa melarikan diri dari kota Zaramaraz, meski aku tahu persis Laar pasti menyuruh kalian menemui koki kita yang terkenal ini.

" "Terima kasih atas pujiannya, Faa?" Kaar tertawa lagi. "Kau mau aku masakkan sesuatu yang lezat? Bukan hanya bubur nasi dengan ilusi rasa, tapi sungguhan masakan yang memang lezat?" "Kita simpan nanti, Kaar. Anak-anak ini butuh bantuan.

" Faar duduk di salah satu kursi, menyusul kami yang sudah duduk duluan. Tongkat panjangnya mengambang di sebelahnya. Aku tahu sekarang, tongkat dengan permata terang di pucuknya itu sangat mematikan.

"Apakah kami bisa meninggalkan Klan Bintang?" Seli bertanya dengan suara cemas.

"Itu juga yang sedang aku pikirkan, Seli. Sejak kalian dibawa pergi, aku memikirkan jalan keluar agar kalian bisa pulang.

" Faar menatap kami prihatin.

"Aku menyarankan mereka menggunakan lorong-lorong misteri, Faar, Pasukan Klan Bintang menjaga lorong utama, tapi mereka tidak akan mendekati lorong-lorong misteri.

" "Wahai, itu berbahaya, Kaar. Lebih baik menghadapi Pasukan Bintang daripada memasuki lorong yang kita tidak tahu akan menuju ke mana.

" "Tapi bukankah kau memiliki catatan perjalanan dua ribu tahun lalu? Itu bisa membantu banyak. Anakanak ini bisa muncul di Klan Bulan arau Klan Matahari.

" Ruangan dengan kursi berbaris simetris berhadapan itu lengang.

Kami semua menatap Faar.

"Itu tetap tidak akan membantu banyak, Kaar. Setelah gunung meletus, catatan itu tidak lengkap, terpotongpotong. Kita bisa saja menjerumuskan anak-anak ke ruangan yang dipenuhi hewan buas arau makhluk antah berantah, yang jangankan mereka, satu armada Pasukan Bintang pun tidak bisa mengatasinya. Aku tidak akan mengambil risiko itu.

" Kaar menyandarkan tubuh. "Jika kau tidak menyetujui solusi itu, kita telah kehilangan cara terakhir untuk mengembalikan anak-anak ini ke dunia mereka, Maafkan aku, Raib, Seli, Ali.

" Aku menelan ludah. Wajah Seli campak pucat. Hanya Ali yang tetap santai.

"Sebenarnya masih ada cara pulang ke dunia permukaan," Ali berkata pelan.

Faar dan Kaar menatap Ali, juga Seli. Aku tahu sekali apa maksud Ali.

"Tapi itu berarti Raib harus melanggar janjinya.

" "Dengan cara apa?" Kaar bertanya, wajahnya kembali antusias.

"Raib memiliki Buku Kehidupan.

" Belum selesai kalimat itu, bahkan Faar berseru tidak percaya.

"Wahai, kamu bilang apa, Ali?" "Raib punya Buku Kehidupan. Buku yang bisa membuka portal menuju apa pun sesuai perintah pemiliknya.

" "Wahai, di atas, wahai!" Faar berdiri, melangkah mendekatiku.

"Izinkan orang tua ini memeriksa sesuatu, Raib.

" Faar lembut memegang lenganku. Selarik cahaya terang mengalir dari tangan Faar, menyelimuti tubuhku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tubuhku mendadak bersinar terang, seperti cahaya purnama yang sempurna. Seli dan Ali pernah melihat hal itu, saat dulu Av juga menyentuh tanganku di Perpustakaan Sentral Klan Bulan. Tapi Faar dan Laar baru kali ini melihatnya.

Tubuh tua Faar terduduk. Dia seperti menatap seseorang yang tidak pernah diduganya.

"Raib. kamu seorang Putri Klan Bulan.

" Suara tua Faar terdengar bergetar.

Aku tidak paham tatapan mata Faar. Aku menoleh ke arah Ali dan Seli. Ali rileks mengangkat bahu, menganggap keterkejutan Faar sesuatu yang biasa saja. Dia sudah bosan melihatnya.

Kaar ikut berdiri di belakang Faar, memperhatikan aku dengan terpesona.

"Ini sebuah kehormatan, Nak. Aku belum pernah menatap langsung pemilik garis keturunan paling murni Klan Bulan. Pantas saja kamu menguasai banyak jenis kekuatan, mengalir dalam dirimu begitu terang," Faar tersenyum.

Aku hanya diam, menelan ludah. Aku tetap tidak pernah terbiasa ditatap seperti ini.

"Apakah dia keturunan langsung si Tanpa Mahkota? Cucu dari cucu cucunya yang melarikan diri ke klan lain saat pertempuran besar dua ribu tahun lalu?" Kaar bertanya.

Faar menggeleng. "Tidak harus demikian. Garis keturunan murni tidak selalu harus memiliki hubungan darah. Siklus itu muncul dengan unik. Kita tidak pernah tahu di generasi keberapa Klan Bulan akan memiliki penerus yang berhak mewarisi Buku Kehidupan.

" Faar diam sejenak. "Wahai, dulu, aku mengira cerita ibuku hanyalah legenda, dongeng pengantar tidur, tapi itu nyata, seseorang yang bisa memancarkan cahaya seperti purnama. Begitu elok ditatap. Begitu tenteram dan damai.

" "Apa itu Buku Kehidupan?" Kaar bertanya lagi.

"Pusaka Klan Bulan. Sama seperti bunga matahari pertama mekar di Klan Matahari, yang memiliki kekuatan membuka portal ke mana pun atau memberikan kebijaksanaan, pengetahuan, menyingkap misteri dan sejarah. Buku Kehidupan juga seperti itu. Buku itu bisa mengembalikan yang telah pergi, menyembuhkan yang sakit, menjelaskan yang tidak paham, melindungi yang lemah dan tidak berdaya.

" Aku masih diam.

"Di mana Buku Kehidupan itu, Raib?" Faar melepas sentuhan tangannya. Cahaya di tubuhku berangsur padam.

Aku mengambil tas ranselku. Tanganku merogoh ke dalam.

Faar menunggu dengan senyum riang mengembang, "Kalian bisa kembali ke klan permukaan kapan pun dengan buku ini. Masalah ini bisa selesai.

" Aku menelan ludah. Gerakan tanganku mengeduk tas terhenti.

"Ada apa, Ra?" Seli bertanya.

"Buku marematikaku hilang.

" Suaraku tercekat, berusaha menumpahkan isi tas ransel ke atas lantai. Hanya kostum dari Ilo yang terjatuh, juga alat tulis, dan benda kecil lainnya. Buku matematikaku tidak ada di sana.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊