menu

Matahari BAB 17

Mode Malam
BAB 17
AKU menghentikan gerakan releportasi setelah cukup jauh dari pusat kota.

Kami sudah dua puluh kilometer lebih melesat di antara kesibukan kota. Sejauh ini kami aman, karena dua hal. Pertama, kota Zaramaraz memiliki sistem waktu yang sama dengan klan permukaan. Langit mulai gelap, lampu jalanan menyala, juga gedung-gedung dan menara-menara. Jika situasinya lebih baik, sangat mengagumkan melintasi jalanan kota Zaramaraz yang beranjak menyapa malam. Trotoar yang ramai, kafekafe yang menyebarkan aroma masakan lezat, anak-anak yang berlarian di taman, juga kesibukan para pekerja yang meninggalkan kantor. Karena malam hari, gerakan kami tidak terlalu mencolok. Aku bisa muncul di titik-titik yang gelap, jauh dari perhatian.

Kedua, kami masih mengenakan pakaian teknologi Klan Bintang, jadi bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Cukup membayangkan model baju yang kami lihat di jalanan, penampilan kami segera berubah seperti remaja Klan Bintang. Seli mengenakan baju warna-warni dengan motif bunga, seperti hendak ke pantai, tidak lupa dengan topi lebar. Ali mengganti pakaiannya menjadi pakaian training, seperti habis berolahraga, lengkap dengan gelang tangan supercanggih yang mendeteksi kondisi tubuh saat berolahraga, dan topi rajut yang menutupi hingga kuping. Aku memilih mengenakan pakaian kasual Klan Bintang, baju berlapis lengan panjang, dengan gadget terkini di tangan.

"Topinya, Ra," Ali berbisik.

"Topi apa?" Kami sedang melangkah di lorong-lorong yang dipenuhi aroma masakan lezat.

"Agar tidak ada yang mengenali wajah kita secara mencolok.

" Aku mengangguk, segera membayangkan topi seperti yang dikenakan pejalan kaki yang berpapasan dengan kami. Sebagian bahan pakaianku bergerak ke atas, membentuk topi kerucut yang menutupi dahi.

"Kalian masih ingat lokasi restorannya?" Ali berbisik.

"Luas kota ini dua ratus kilometer persegi, Ali. Mana bisa kami mengingatnya," Seli menggerutu kesal. Ini sudah tiga kali Ali mendesak kami.

Sesuai pesan Marsekal Laar di sel karantina, sejak tadi kami terus bergerak menuju Restoran Lezazel.

Aku dan Seli memang tahu nama restoran itu. Di proyeksi buku tentang kota Zaramaraz milik Faar kami sempat membacanya, bisa mengingat sektornya di mana, tapi kami hanya tahu sejauh itu. Di tengah persilangan jalan, gedung-gedung, menara, rumah, dan segala bangunan Klan Bintang yang megah dan futuristik, pengetahuan dari buku tidak memadai. Di jalan pusat kuliner ini saja ada ratusan restoran.

Apalagi dengan semua bangunan terlihat simetris.

"Baiklah, aku akan bertanya," Ali menghentikan langkah.

"Eh, kita tidak bisa bertanya sembarangan, Ali. Nanti mereka tahu posisi kita," Seli protes.

"Siapa pula yang akan bertanya sembarangan. Ikuti aku.

" Ali menuju sebuah kotak logam dengan layar bening yang terletak di persimpangan besar. Warga kota ramai di sekitar kotak tersebut. Ada yang berjalan cepat, ada yang berdiri bicara satu sama lain, tertawa. Kapsul terbang--berbentuk kubus--berseliweran di jalan. Penduduk naik-turun dari sana. Tampaknya itu alat transportasi publik kota Zaramaraz. Meja-meja restoran penuh. Aroma masakan tercium hingga jauh.

Ali menyentuh panel-panel di kotak logam--yang berbentuk seperti mesin ATM di dunia kami.

"Itu apa, Ali?" Seli berbisik.

"Aku juga tidak tahu. Tapi jika tebakanku benar, ini mungkin pusat informasi interaktif.

" Ali menekan beberapa tombol.

Aku dan Seli saling tatap.

Dua menit menekan-nekan tombol, wajah Seli mulai cemas, karena di belakang kami juga ada beberapa orang yang sepertinya hendak menggunakan kotak itu.

"Berhasil, Ra.

" Ali tertawa pelan. Dia menekan tombol terakhir, dan dari layar bening keluar proyeksi sesuatu. Ali mengambil proyeksi itu.

"Peta kota Zaramaraz," Ali menjawab pertanyaan dari ekspresi wajah kami. "Kita tidak akan tersesat lagi di kota ini.

" Aku menelan ludah, melihat Ali membentangkan proyeksi transparan yang dipegangnya. Itu persis seperti peta di dunia kami, tapi bedanya, yang satu ini bukan terbuat dari kertas, atau tergambarkan di atas tablet atau laptop, melainkan proyeksi digital.

"Apakah kotak tadi bisa mengeluarkan informasi lain?" tanya Seli.

Ali mengangguk. "Seluruh brosur pariwisata, informasi transportasi, pusat layanan, apa pun yang dibutuhkan oleh warga kota ada di kotak itu. Itulah kenapa banyak turis yang mengerumuninya. Tenang saja, Seli, sejauh ini kita aman. Banyak penduduk Klan Bintang yang juga belum pernah datang ke kota Zaramaraz. Sekarang kita cari restoran itu.

" Dengan bantuan peta yang bisa diperbesar dan diperkecil hanya dengan menggeser jari di atas proyeksi, kami bisa segera tahu posisi Restoran Lezazel. Ali bahkan bisa menunjukkan posisi kami di peta, tiga titik berwarna merah. Dan seperti GPS di dunia kami, arah jalan-jalan menuju restoran terlihat, termasuk pilihan transportasi yang tersedia. Restoran itu masih dua kilometer dari lokasi kami.

Aku memegang lengan Ali dan Seli, bersiap melanjutkan teleportasi.

"Tidak, Ra. Kita bergerak secara normal.

" Ali menggeleng.

Aku tidak mengerti. "Tapi kan lebih cepat bila kita berteleportasi.

" "Ingat, Faar pernah bilang. Pasukan Bintang mengembangkan teknologi untuk mengatasi kekuatan petarung Klan Bulan dan Klan Matahari. Ada kemungkinan mereka punya cara mendeteksi teleportasi. Mulai sekarang, kita ke mana-mana seperti warga kota lainnya.

" Aku mengangguk. Itu masuk akal.

Kami segera bergerak. Ali memimpin di depan, berhenti di tepi jalan yang lantai pedescriannya ditandai kotak berwarna kuning, menyala lembut. Ini sepertinya halte. Ada warga kota lain yang ikut berdiri di dalam kotak. Tiang di dekat lingkaran memancarkan proyeksi yang berisi informasi kapsul berikutnya.

Kapsul itu datang tepat waktu. Pintunya terbuka. Kami segera naik, bergabung bersama penumpang komuter kota Zaramaraz. Mereka para pekerja berpakaian rapi dan mengenakan gadget canggih di tengan dan di telinga.

"Ini seperti metromini di kota kita, Ra," bisik Seli.

Ali balas berbisik, "Mana ada metromini yang bisa mengambang setengah meter di jalan, kemudian bergerak terbang.

" Seli melotot. "Maksudku, ini angkutan umum seperti metromini, Ali. Kamu tahu persis itu maksudku.

" Jika situasinya lebih baik, kami bukan buronan seluruh Klan Bintang, aku hendak tertawa mendengar pertengkaran Ali dan Seli.

Kapsul melesat cepat di atas jalanan. Di sisi lain, kapsul-kapsul berikutnya juga melintas, satu-dua terlihat bergerak vertikal, berganti jalur. Aku juga melihat rangkaian kereta terbang di sela-sela bangunan tinggi, orang-orang yang berpindah melewati portal kecil. Sarana transportasi kota Zaramaraz canggih sekali, termasuk penduduk yang mengenakan sepeda beroda satu, melintas di jalur terpisah yang berbentuk seperti bentangan pita selebar setengah meter, bercahaya hijau dengan tinggi sejengkal dari atas trotoar.

Pengendara sepeda mengayuh pedal melewati pita-pita itu.

Kapsul terus menuju sektor tempat Restoran Lezazel berada. Sepertinya jalan panjang tempat berbagai pusat kuliner ini dibagi menjadi berbagai blok. Tempar kami sebelumnya adalah blok restoran biasa, tempat keramaian warga kelas menengah. Semakin jauh kapsul melintas, restoran semakin berkelas, terlihat lebih mewah, dengan pertunjukan teknologi lebih spektakuler.

"Kita turun di halte depan," Ali berbisik. Dia baru saja memeriksa kembali proyeksi peta di tangannya.

Kapsul merapat di halte yang ditandai dengan kotak berwarna kuning di jalan pedestrian, menyala lembut setiap kapsul tiba. Kami bertiga melompat turun.

"Kita tidak membayar kapsul tadi?" Seli bertanya.

Ali menggeleng. "Tidak ada kondekturnya. Mau bayar ke siapa? Lagi pula, memangnya kamu punya uang Klan Bintang?" "Tapi itu curang, kan? Kita tidak membayar ongkos," Seli bergumam, menoleh ke kapsul yang kembali bergerak.

Ali nyengir lebar. "Sebenarnya memang tidak ada penumpang yang membayar, Seli. Kamu tidak memperhatikan, orang-orang naik-turun dengan bebas.

" "Gratis?" "Ya. Di dunia kita saja sudah ada kota-kota di negara maju yang menggratiskan transportasi publik.

Fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah. Apalagi di klan ini, semua sarana publik gratis, siapa pun bisa menggunakannya.

" "Tapi bagaimana kamu yakin itu memang gratis?" Ali membentangkan peta, mengetuk ujung bagian atas, dalam tulisan yang telah diterjemahkan ke bahasa klan yang kami mengerti, tertulis di sana: "Selamat datang di kota Zaramaraz. Permata paling indah di perut bumi. Dewan. Kota dengan senang hati mengumumkan, seluruh fasilitas umum kota Zaramaraz tersedia gratis untuk warga dan pengunjung. Selamat bersenang-senang.

" Seli terdiam.

Kami tidak punya banyak waktu untuk membahas betapa kerennya kota ini. Kami telah tiba di tujuan. Aku menatap sebuah bangunan seperti kastel, dengan menara-menara batu yang gagah, jendela kaca yang bercahaya indah, dan tulisan besar di atas pintu utamanya: "Restoran Lezazel". Ini jelas restoran kelas atas, karena pengunjung yang datang berpakaian formal, disambut petugas, dan diantar ke meja masingmasing.

Ali menyikut lenganku.

"Ada apa?" bisikku.

Ali sudah mengubah penampilannya, Bajunya berubah seperti pakaian orang kaya Klan Bintang, dengan sorban di kepala dan selempang di pinggang. Aku mengangguk, menatap cepat pengunjung restoran yang perempuan, dan mengubah pakaianku. Seli juga segera mengubah pakaian yang dikenakannya.

Hanya saja, meski tampilan kami bisa berubah, kami kan tidak pernah masuk ke restoran mewah di kota kami sebelumnya. Dari penampilan luar kami mungkin terlihat seperti pengunjung lain, tapi di dalamnya, Seli terlihat canggung. Restoran ini sejak dari luarnya sudah sangat berkelas.

"Tenang, Seli," Ali berbisik. Dia melangkah penuh percaya diri. "Berjalan di belakangku. Jangan lakukan apa pun, bicara apa pun, cukup ikuti aku.

" "Bagaimana jika..." "Aku pernah menghadiri acara di restoran seperti ini bersama orangtuaku, Seli. Itu bukan pengalaman yang menyenangkan, karena banyak peraturan, tapi setidaknya itu bermanfaat sekarang.

" Aku terdiam. Aku benar-benar lupa. Meskipun rambutnya berantakan, wajahnya kusam, tentu saja dengan keluarga kayanya, Ali tahu beretika di restoran mewah.

"Ada yang bisa kami bantu, Tuan Muda?" Petugas di meja depan restoran bertanya, tersenyum lebar tiada tara.

Ali menggeleng.

"Oh, tampaknya kalian datang dari ruangan yang jauh sekali dari kota ini. Bagaimana kota Zaramaraz menurut kalian? Fantastis? Belum lengkap mengunjungi kota ini jika belum makan malam di Restoran Lezazel. Apakah kalian sudah memesan meja?" Ali berdeham, berkata dengan intonasi mantap, "Kami belum memesan meja. Maaf. Orangtua kami masih terhambat. Kamu tahu, kecelakaan besar di pusat kota.

" "Oh, aku tahu. Iru memang mengerikan. Kapal induk Armada Kedua tiba-tiba jatuh begitu saja di pusat kota. Mereka bilang ada kerusakan sistem.

" Petugas restoran itu tampak prihatin. "Portal lorong berpindah antar-ruangan dimatikan sementara waktu, ada banyak rombongan pengunjung dari ruangan lain yang tertahan. Aduh, apakah orangtua kalian termasuk salah satunya?" Ali mengangguk. "Iya. Kami tiba lebih dahulu. Mereka masih tertahan.

" "Baiklah. Kalian datang dari mana?" "Ruangan bersalju tebal," Ali menjawab sekenanya. Aku dan Seli saling lirik. Sejak tadi Ali terlihat sangat meyakinkan--padahal jelas dia sedang mengarang banyak hal.

"Wow.... Sudah lama sekali restoran ini tidak mendapat kehormatan kunjungan dari penduduk ruangan bersalju tebal. Aku pernah ke sana saat masih kecil. Itu tempat favorirku. Gununggunung salju, pohon cemara, astaga, itu indah sekali. Kalian pastilah salah satu dari keluarga bangsawan ruangan itu. Ah ya, apa kabar Kayu Merah? Pohon paling besar di Klan Bintang. Dulu saat aku ke sana, tingginya sudah nyaris delapan ratus meter, menakjubkan. Seluruh batangnya diselimuti salju. Apakah pohon itu masih berdiri tegak?" Kali ini Ali terdiam sebentar. "Pohon itu baik-baik saja.

" "Bukankah menurut kabar pohon itu terancam mati? Separuh batangnya kering secara alami?" Dahi petugas itu terlipat.

"Ya, tapi kami sudah menemukan cara agar pohon itu baik-baik saja.

" "Sungguh2 Syukurlah.

" Ali menunjuk ke dalam--berusaha menghentikan percakapan.

"Oh, maaf, Tuan Muda. Percakapan ini, aku sampai lupa, kalian mungkin sudah lapar. Baik, akan kuantar kalian ke meja paling favorit restoran ini. Kalian remaja ruangan bersalju tebal yang menyenangkan.

Sambil menunggu orangtua kalian, Restoran Lezazel akan menyuguhkan hidangan terbaik.

" Kami mengikuti petugas, yang mengantar kami ke meja besar di dekat jendela. Itu sepertinya memang meja favorit, karena kami bisa melihat keluar restoran dengan nyaman.

"Apakah restoran ini juga gratis?" Seli berbisik.

Ali menggeleng. Restoran ini bukan sarana umum, Kami menatap daftar makanan yang muncul otomatis di atas meja. Petugas tadi sudah kembali ke meja pintu utama. Restoran ini punya daftar menu tetap setiap malam. Pengunjung tidak perlu memesan lagi.

"Lantas bagaimana kita membayar makanannya?" Ali menggaruk kepalanya. "Aku juga tidak tahu, Seli, tapi nanti kita cari jalan keluarnya. Sekarang tujuan kita adalah mencari sang Hantu.

" Seorang pelayan wanita mendekar, membawa nampan berisi makanan, menu pembuka. Aku dan Seli saling menatap. Itu sejenis sup, bentuknya lebih menarik dibanding bubur di lembah hijau Faar.

"Silakan, ini sup paling lezat di kota Zaramaraz," Pelayan itu tersenyum.

Kami mengangguk patah-patah, mulai meraih sendok. Bahkan saat aku tidak sedang memikirkan jenis masakan tertentu, rasa sup ini terasa lezat. Sepertinya Restoran Lezazel tidak menggunakan teknologi sugesti. Ini sup sungguhan.

Sejak tadi sudut mataku berusaha memeriksa ruangan besar tempat puluhan meja terhampar. Di panggung depan, sekelompok pemain musik sedang membawakan lagu-lagu. Irama yang ganjil, lebih mirip desau angin, atau suara tetes air. Mungkin seperti inilah musik Klan Bintang.

Restoran Lezazel ramai. Sebagian besar pengunjung adalah pasangan, atau rombongan keluarga. Pelayan berlalu-lalang membawa nampan makanan. Tidak tampak canda-canda ada sang Hantu di sekitar kami, Ali dan Seli juga mulai menyelidik, sambil menyendok makanan, berusaha senormal mungkin.

"Kita tidak tahu bagaimana rupa sang Hantu itu, Ra," Seli berucap dengan nada rendah, mulai putus asa.

"Apakah dia terlihat seperti orang lain atau seperti hantu sungguhan?" Kami sudah sengaja berlambat-lambat menghabiskan sup--meniru cara makan Ali. Lima belas menit berlalu, tetap tidak ada ide sama sekali siapa sang Hantu. Pelayan sudah dua kali melintas, bertanya apakah kami sudah siap dengan menu utama.

"Atau jangan-jangan dia tidak ada di restoran yang ini. Bukankah ada empat Restoran Lezazel di seluruh korar Simetris empat sisi?" Itu juga yang aku cemaskan. Marsekal Laar seharusnya memberikan petunjuk yang lebih detail.

"Aku akan memutuskan bertanya kepada pelayan, Ra," Ali akhirnya meletakkan sendok di atas mangkuk kosong. Pelayan terlihat melangkah mendekat.

"Tapi bagaimana jika mereka curiga?" bisikku.

"Kita tidak punya pilihan," Ali balas berbisik.

Pelayan itu sudah berdiri di depan kami, tersenyum. "Apakah kalian sudah siap dengan menu utama malam ini?" Ali mengangguk dengan gerakan sempurna, berkata dengan intonasi sopan, "Bolehkah saya bertanya sesuatu?" "Tentu saja, Tuan Muda? Apa yang bisa saya bantu?" Ali berdeham. "Orangtua kami pernah bicara tentang sesuatu. Eh, kalau saya tidak keliru, tentang sang Hantu. Benar, kan?" Ali menoleh kepada kami.

Aku dan Seli pura-pura mengangguk.

"Aku penasaran, karena orangtua kami tidak menjelaskan lebih detail, dan mereka tertahan di lorong berpindah yang sedang bermasalah. Apakah Anda tahu tentang soal itu, karena rasa-rasanya tidak masuk akal ada hantu di restoran semewah ini.

" Ali mencoba bergurau.

"Maaf, Tuan Muda, Anda tadi bertanya tentang apa?" Ekspresi wajah si pelayan justru berubah, senyumnya terlipat.

"Sang Hantu," Ali mengulanginya.

"Ikuti aku, Anak-anak. Berhenti menyebut nama itu. Dindin-gdinding bangunan kota ini bisa mendengar percakapan apa pun!" si pelayan berseru tegas.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊