menu

Matahari BAB 16

Mode Malam
BAB 16
KAMI bertiga digiring Pasukan Bintang menuju sel karantina.

"Dewan Kota tidak suka kedekatanmu dengan para pemilik kekuatan," Sekretaris Dewan berkata tajam.

"Aku tahu soal itu. Tapi jika hingga hari ini Dewan Kota tetap menunjukku sebagai Marsekal Armada Kedua, berarti mereka sama sukanya bahwa kedekatan itu bisa menyelesaikan banyak masalah tanpa harus dengan kekerasan," Marsekal Laar menjawab santai.

"Kejadian tadi. aku akan melaporkannya kepada Dewan Kota. Mereka akan mempertanyakan kesetiaanmu kepada kota Zaramaraz.

" "Oh ya? Kenapa kira tidak membicarakan keseriaanmu, Sekretaris Dewan?" Wajah Sekretaris Dewan tersinggung. "Apa maksudmu, Marsekal Laar?" "Kau tahu persis apa maksudku. Ambisi. Semua orang tahu betapa besar ambisimu, Sekretaris. Satu kursi di Dewan Kota dalam pemilihan tahun depan? Atau itu tidak cukup? Sekaligus posisi Ketua Dewan Kota? Hingga tidak jelas lagi, apakah kau benar-benar setia pada kota Zaramaraz, atau hanya setia pada ambisi pribadi.

" Aku, Seli, dan Ali yang berjalan beberapa langkah di belakang Marsekal Laar bisa mendengar jelas percakapan tersebut. Aku bahkan bisa melihat wajah Sekretaris Dewan Kota yang merah padam saat menoleh ke arah Marsekal Laar. Tangannya mengepal, kemudian dia tidak bicara lagi. Dia melangkah berbelok menuju ruang komando kapal induk, meninggalkan rombongan pengawal kami yang terus bergerak lurus.

Kapal induk ini besar, megah, dengan ruangan-ruangan dan lorong yang didesain simetris, sangat modem dengan teknologi mutakhir. Pintu-pintu otomatis, panel elektrik, lantai yang bersih dan bisa menjadi penanda arah. Ali asyik memperhatikan sekitar. Dia seperti sedang study tour, dengan pengawal-pengawal bersenjata tabung putih sebagai guide perjalanan. Sementara wajah Seli masih pucat. Sejak tadi dia diam, memperhatikan sekitar.

Kami tiba di sel karantina pesawat. Ruangan kubus dengan sisi tiga meter.

"Aku hendak bicara dengan mereka. Kalian tunggu di luar.

" Marsekal Laar menoleh ke arah anak buahnya.

Dua belas Pasukan Bintang mengangguk, melangkah keluar.

"Waktu kita amat sempit, Raib, Seli, Ali. Dengarkan aku baik-baik," Marsekal Laar berkata serius, suaranya nyaris berbisik.

"Beberapa detik lagi armada pesawat akan masuk ke dalam portal lorong berpindah, dan lima menit kemudian kita sudah muncul di atas langit-langit kota Zaramaraz. Aku tidak akan mengambil risiko, membiarkan kalian ditahan Dewan Kota. Sekali kalian dikuasai mereka, kemungkinan kalian takkan pernah bisa kembali ke dunia kalian.

" Marsekal Laar mengeluarkan benda kecil, seperti bola kasti, lalu menyerahkannya kepada Ali.

"Kamu pasti tahu ini benda apa, Ali. Gunakan dengan bijak. Kamu akan tahu persis kapan harus menggunakannya. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku, atau pada kalian, segera cari Restoran Lezazel, dan temukan seseorang di sana dengan nama alias sang Hantu. Tunjukkan kekuatan kalian, maka dia akan membantu kalian.

" Aku menelan ludah. Aku masih mencerna maksud kalimat Marsekal Laar, Ali menerima bola kecil tersebut dan memasukkannya ke dalam saku lewat gerakan halus.

Marsekal Laar balik kanan, melangkah keluar, lalu berseru kepada anak buahnya, "Tutup pintunya! Jaga mereka dengan ketat.

" Dua belas pasukan Klan Bintang mengangguk. Salah satu dari mereka mengembalikan ransel kami sebelum menutup pintu sel. Kami bertiga berada dalam kotak kubus tanpa pintu, tanpa jendela.

"Apa yang diberikan Marsekal Laar?" Seli berbisik.

"Jangan bertanya dulu. Aku hendak merasakan sensasi pesawat memasuki portal," Ali balas berbisik. Dia mendongak ke langit-langit.

Pesawat terasa bergetar lebih keras. Kami tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa mendengar suara deru ratusan pesawat. Aku bisa membayangkan, pesawat-pesawat tempur itu kembali masuk ke dalam cincin raksasa dengan pinggir berselimutkan awan gelap dan gemeletuk petir. Persis saat kapal terakhir melewati garisnya, cincin itu menutup. Pesawat tersentak pelan, dan melesat cepat dalam lorong berpindah menuju kota Zaramaraz. Cahaya terang berpilin di luar sana.

"Keren!" Ali menyeringai. "Hampir tidak terasa kita sedang melaju sangat cepat. Portal yang mereka buat lebih masif lebih nyaman, dan lebih aman dibanding milik Klan Bulan atau Klan Matahari.

" "Benda apa yang diberikan Marsekal Laar?" Kali ini aku yang bertanya. Si genius ini, tidakkah dia mendengar kalimat Marsekal Laar tadi. Waktu kami sangat sempit. Tinggal hitangan menit, kami akan tiba di kota Zaramaraz. Jika kami ingin melakukan sesuatu, saatnya sekarang menyusun rencana. Bukan malah santai menikmati perjalanan.

"Granat," Ali menjawab pendek.

"Granat?" aku dan Seli berkata nyaris berbarengan.

"Granat EMP. Persis seperti yang digunakan empat sosok yang menangkap kapsul kita. Tapi yang diberikan Marsekal Laar memiliki kekuatan lebih besar. Granat ini bisa memadamkan separuh listrik kapal induk.

" Aku menelan ludah, berpikir cepat.

Ali tersenyum. "Apa pun yang sekarang kamu pikirkan, Ra, aku juga memikirkannya. Kita akan melarikan diri dari kapal induk persis saat tiba di kota Zaramaraz. Kamu setuju?" Aku mengangguk.

"Bagaimana kita melakukannya?" Seli bertanya gugup. "Ada banyak pasukan Klan Bintang menjaga kita.

" "Ikuti saja perintahku, Seli. Biarkan aku yang berpikir, kalian yang melaksanakannya. Di tim ini, sudah rugasku untuk berpikir tiga langkah ke depan. Kalian menurut saja," Ali menjawab santai.

Seli menoleh kepadaku.

Aku mengangguk. Akan kuikuti apa yang diperintahkan Ali.

"Ini seru, Ra," Ali tertawa kecil. "Sekali kita berhasil kabur dari kapal induk ini, kita akan menjadi buronan Klan Bintang. Nasib kita lebih buruk dibanding sewaktu bertualang di Klan Bulan atau Klan Matahari.

" Aku tidak menanggapi gurauan Ali.

Lima menit berlalu terasa lama sekali. Kapal induk yang kami naiki kembali tersentak kecil. Aku menduga kapal telah tiba di tujuan, kemudian bergerak kembali secara perlahan.

Salah satu pasukan Klan Bintang membuka pintu sel karantina, berseru menyuruh kami segera keluar.

Tabung putih di tangan mereka teracung. Aku tidak tahu apa guna tabung itu. Mereka belum menggunakannya sejak di lembah milik Faar, Mungkin itu senjata otomatis untuk melumpuhkan kekuatan klan lain.

Kami kembali digiring, berjalan menuju pintu keluar kapal induk.

"Dengarkan aba-abaku, Ra, Seli. Jangan melakukan apa pun sebelum kusuruh," Ali berbisik.

Aku menghela napas, berusaha rileks. Sejak tadi jantungku berdetak lebih kencang. Kami terus melewati lorong-lorong pesawat.

Sekretaris Dewan Kota dan Marsekal Laar keluar dari ruang komando, bergabung dengan kami. Wajah Sekretaris Dewan Kota terlihat riang. Dia tersenyum tipis penuh kemenangan menatap kami. Marsekal Laar tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia melangkah tegap. Kami sudah hampir tiba di pintu utama.

Fantastis! Saat pintu utama dibuka, terbentang di bawah kami kota paling luas, paling megah, dan paling maju di antara empat klan. Kota Zaramaraz. Ruangannya berbentuk kubus, dengan sisisisinya sepanjang dua ratus kilometer, simetris empat sisi. Menara-menaranya menakjubkan, Bangunan-bangunannya menjulang. Aku menelan ludah. Di sekitar kami, ratusan kapal terlihat mengambang keluar dari cincin raksasa.

Kesibukan kota terlihat dari atas sini, jalanan yang padat, kendaraan terbang. Ada sungai-sungai biru mengalir, danaudanau luas, hutan yang lebat, pegunungan dengan selimut salju, pantai dengan pasir putih-- yang seperti ditata sangat akurat agar simetris empat sisi. Kota ini lebih menakjubkan dibanding fotofotonya. Aku menatap langit-langit kota, cahaya matahari lembut menerpa. Ini bukan pagi hari seperti di lembah milik Faar. Ini cahaya matahari sore, seperti bersiap hendak tenggelam di kaki langit barat. Awan jingga berarak, burung-burung camar terbang.

"Selamat datang di kota Zaramaraz. Permata paling berharga di perut bumi," Sekretaris Dewan Kota berseru, sambil tangannya memberi perintah.

Kapal induk perlahan turun, menuju pusat kota, tempat sebuah bangunan besar berbentuk kubus berdiri, dengan halaman rumput luas. Itu bangunan markas Dewan Kota-aku sempat melihat fotonya di buku proyeksi.

"Belum sekarang, Ra," Ali berbisik.

Aku mengangguk. Sejak tadi tanganku terkepal, bersiap.

Kapal induk Armada Kedua sudah separuh jalan, tinggal dua kilometer dari kota Zaramaraz. Aku bisa menyaksikan kerarnaian di taman dan jalan-jalan kota, Warga yang mendongak, menatap armada kapal.

Meskipun tinggal di kota Zaramaraz, tidak setiap hari mereka menyaksikan pemandangan ini. Portal raksasa terbuka di udara, ratusan pesawat tempur keluar. Itu pemandangan yang lebih mirip film superhero di dunia kami, saat alien datang menyerang.

"Tunggu aba-abaku, Ra," Ali kembali berbisik.

Aku menelan ludah. Kapal induk sudah dekat sekali dengan lapangan luas tempat mendarat. Ali masih terlihat santai.

Jarak kami tinggal hitungan ratusan meter. Lapangan rumput di bawah sana telah dipenuhi Pasukan Bintang yang berbaris menjemput.

"Sekarang, Ra!" Ali berseru, tangannya merogoh saku, mengeluarkan sesuatu, dan dengan gerakan cepat ia membanting bola kasti ke lantai.

Tidak ada suara berdentum seperti granat yang biasanya meledak. Hanya enrakan tidak terlihat di udara ketika bola itu menghantam lantai dan "meledak", mengeluarkan getaran yang merambat dengan frekuensi tinggi, menerpa wajah, membuat tubuh terenyak ke belakang.

Dalam sekejap, separuh listrik kapal induk telah padam. Kapal induk berderit kehilangan kendali. Seperti seonggok logam raksasa, kapal itu meluncur jatuh ke lapangan rumput.

"Granat EMP! Kapal kehilangan kemudi!" Seruan terdengar.

"Berpegangan! Semua berpegangan sesuatu!" Seruan-seruan panik terdengar di manamana.

Sekretaris Dewan Kota berseru tertahan. Wajahnya pucat. Pasukan Bintang berusaha mengendalikan situasi, termasuk menyelamarkan Sekretaris Dewan Kota yang hampir jatuh. Sebagian pasukan telah terlontar keluar dari pintu kapal yang terbuka, jatuh meluncur ke lapangan. Ratusan Pasukan Bintang yang menunggu di lapangan juga berlarian panik. Mereka tidak menyangka kapal itu akan tumbang.

"Bagaimana mungkin ada granat EMP diselundupkan ke dalam kapal! Itu benda terlarang.

" "Tidak ada waktu untuk mencari tahu! Bantu ruang kemudi. Segera!" salah satu perwira Pasukan Bintang berseru. Dia berusaha berdiri, hendak berlari ke lorong, tapi tubuhnya kembali terbanting, menghantam atap. Kapal induk terus meluncur jatuh.

Marsekal Laar berpegangan kokoh ke dinding kapal. Aku masih sempat bersitatap dengan wajahnya, sebelum tanganku memegang Seli dan Ali. Mulutnya seakan berkata, Pergi, Ra! Tinggalkan kapal! Aku mengangguk.

Tubuh kami menghilang, kemudian muncul di lapangan rumput.

Tidak hanya Pasukan Bintang yang panik dan berlarian di lapangan. Warga kota juga menjerit, berusaha menyelamatkan diri secepat mungkin. Kapal induk itu meluncur tidak terkendali menuju jalanan kota. Aku tidak sempat memperhatikan. Kami harus kabur secepat mungkin dari pusat kota.

Tubuh kami kembali menghilang.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊