menu

Matahari BAB 15

Mode Malam
BAB 15
DI langit-langit perkampungan muncul lubang besar berbentuk cincin yang sekelilingnya diselimuti awan hitam gelap dan gemeletuk petir. Lubang itu seperti cincin pertunjukan lumba-lumba yang tergantung begitu saja, terus membesar, hingga diameternya nyaris lima kilometer, arau separuh tinggi langit-langit perkampungan. Belum habis rasa terkejutku, dari dalam lubang itu keluar ratusan pesawat terbang.

Bentuknya seperti milik Faar, paruh burung lancip di depan, tapi ukurannya besar, dilengkapi persenjataan lengkap, tidak tran0aran. Pesawat-pesawat itu keluar perlahan secara teratur, kemudian mengambang, berbaris rapi di aras sana, memenuhi langit-langit lembah.

Aku menelan ludah. Aku pernah melihat satu armada pasukan tempur Klan Bulan dengan kapal induknya, tapi yang satu ini jauh lebih mengesankan sekaligus mengerikan. Penduduk mendongak menonton, bertanya-tanya kenapa ada Pasukan Bintang di lembah mereka.

Aku, Seli, dan Ali masih mengenakan anting penerjemah. Aku tahu percakapan penduduk.

Pesawat yang paling besar bergerak turun ke halaman rumah Faar, lantas berhenti, mengambang satu meter di atas atap-atap rumah penduduk. Pintu pesawat itu terbuka, dan dari dalamnya keluar tiga orang yang kemudian terbang perlahan menuju kerumunan penduduk. Salah seorang dari mereka mengenakan seragam tempur yang mengesankan, berwarna gelap, dengan bintang pertempuran. Dua lainnya berpakaian sipil.

Tiga orang itu menjejakkan kaki di atas tanah, di bawah tatapan mara ingin tahu para penduduk.

"Apa mau mereka?" tanya Seli sambil berbisik.

Aku menggeleng. Penduduk perkampungan juga berbisik-bisik menanyakan hal yang sama.

Tiga orang itu hendak melangkah maju.

"Tetap di tempat kalian!" Terdengar suara tua milik Faar.

Faar, dengan tongkat panjang tergenggam erat di tangan, menyibak kerumunan. Wanita itu maju lebih dulu dan berdiri di depan aku, Seli dan Ali.

"Ah, kawan lama Faarazaraaf" Salah satu dari tiga orang yang mendarat berseru, suaranya ramah. Dia sepertinya pemimpin pasukan. "Lama sekali kita tidak bertemu. Lembah ini terlihat sama sehat dan sejahteranya sepertimu.

" Orang itu hendak melangkah maju, tetapi... "Kau tidak mendengar kalimatku. Tetap di tempat, Marsekal Laar!" Suara Faar terdengar serius, tongkat panjangnya terangkat.

"Astaga, Faar, Aku datang dengan damai. Aku hanya sahabat lama yang ingin berkunjung..." "Wahai, membawa satu armada tempur Pasukan Bintang, dan itu dianggap datang dengan damai? Definisi kota Zaramaraz sudah terlalu berbeda dengan orang kebanyakan, tidak menjejak lagi di perut bumi.

" Faar menatap tajam lawan bicaranya.

Orang itu terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku sependapat denganmu. Tapi dengan seluruh kebijaksanaan yang kaumiliki, kau pasti lebih dari tahu. Dewan Kota yang memutuskan demikian. Jika menurutkan mauku, alih-alih membuka portal raksasa, aku pasti akan membuka lorong berpindah kecil persis di ruangan kursi berbaris, mengunjungimu untuk bercakap-cakap sebagaimana dua sahabat lama.

" Hening sejenak, kemudian Marsekal Laar bertanya, "Apakah aku boleh maju, Faar?" Faar menurunkan tongkat panjangnya.

"Ah, tiga remaja di belakangmu ini pastilah tamu yang tak terduga itu, bukan?" Marsekal Laar menatap aku, Seli, dan Ali bergantian. "Perkenalkan, namaku Laarataraal, kalian bisa memanggilku Laar, Apakah kita bisa bicara di dalam rumah, Faar, bicara tanpa harus disaksikan banyak orang.

" Faar diam sejenak, tampak berpikir. "Dua orang yang bersamamu harus kembali ke kapal induk. Hanya kau yang boleh masuk.

" Faar berseru tegas, memutuskan.

Dua orang yang berdiri bersama Marsekal Laar terlihat keberatan. Mereka protes, tapi Laar menyuruh mereka segera kembali ke kapal. Dua orang itu mengangguk kesal, kembali terbang ke atas kapal.

Faar balik kanan, memimpin kami masuk ke dalam rumahnya.

"Siapa dia?" Seli bertanya, berusaha menjajari langkah Faar.

"Pemimpin Armada Kedua, satu dari empat armada kota Zaramaraz.

" "Apa yang dia mau?" "Kalian," Faar menjawab pendek.

"Kami?" aku, Seli, Ali serentak berseru.

"Bukankah kalian ingin pergi ke kota Zaramaraz? Wahai, kota itu yang bergegas mendatangi kalian. Lebih cepat dari yang aku duga, bahkan sebelum aku sempat menyiapkan rencana. Tapi cara mereka datang persis seperti yang aku pikirkan. Ini akan rumit, Anak-anak, seharusnya aku menyuruh kalian secepat mungkin kembali ke klan permukaan.

" "Rumit?" Faar mengangkat tangannya, menyuruh kami berhenti bertanya. Kami sudah tiba di ruangan dengan belasan kursi berbaris simetris.

Faar menyuruh kami duduk. Faar juga mempersilakan Marsekal Laar untuk duduk, tapi Marsekal Laar tetap berdiri. Sejak tadi dia tidak lepas memperhatikan kami bertiga. Menatap dengan tatapan antusias, sama antusiasnya seperti Faar pertama kali bertemu kami.

"Kalian datang dari klan mana? Klan Bulan? Acau Klan Matahari?" Marsekal Laar bertanya.

"Mereka datang dari tiga klan sekaligus," Faar yang menjawab.

"Tiga klan? Kau tidak bergurau, Faar?" Faar menggeleng.

"Ini sangat istimewa. Lama sekali Klan Bintang tidak didatangi penduduk permukaan, sejak kian ini memutuskan menyegel lorong-lorong. Tapi sekarang, dari tiga kian sekaligus?" Marsekal Laar mengusap rambut hitam lebarnya. Cara dia bicara mengingatkanku pada Panglima Tog dari Klan Bulan.

"Tiga puluh enam jam lalu, saat sistem keamanan lorong-lorong kuno kota Zaramaraz mendeteksi pertama kali ada benda asing yang masuk, kami hanya menduga itu sebuah kesalahan. Acau hanya benda asing dari klan lain yang tidak sengaja melewati lorong utama. Tapi benda itu berbeda, bergerak dengan kecepatan konstan, tiba di pos paling luar, dan seperti tahu tujuannya, memilih persimpangan yang tepat, menuju tempat wisata lama Padang Kristal.

"Kami hendak segera mengirim armada, karena portal lorong berpindah bisa dibuka langsung ke Padang Kristal. Tapi terlambat, benda itu telah masuk kembali ke lorong kuno--yang tidak memungkinkan dilewati armada--kemudian beberapa jam menghilang begitu saja di lorong level kedua, tidak bisa dideteksi.

Dewan Kota segera melakukan pertemuan, memutuskan untuk mencari benda itu, apa pun benda tersebut.

"Kami sudah memeriksa beberapa ruangan permukiman dari titik hilangnya benda, tapi benda itu tidak kunjung ditemukan, Akhirnya aku ingat, masih ada satu lagi perkampungan yang sejak dulu memiliki teknologi sendiri. Lembah hijau milik sahabat lamaku, Faar. Pintu portal langsung dibuka menuju ke sini, dan inilah dia, kejutan yang hebat. Tiga tamu istimewa dari tiga klan sekaligus! Jika aku boleh bertanya, siapa nama kalian?" Aku hendak menjawab, tapi gerakan tangan Faar menghentikanku.

"Jangan tertipu dengan keramahan penduduk kota Zaramaraz. Mereka selalu punya rencana tersembunyi," Faar berkata dingin.

Marsekal Laar terdiam menatap Faar.

"Baiklah.

" Marsekal Laar mengangguk. Kemudian dalam sekejap, seragam Armada Kedua yang dikenakannya berubah menjadi pakaian biasa, seperti penduduk di lembah. "Bisakah kita bicara lebih baik, Faar? Aku bukan lagi pemimpin armada tempur.

" Laar melangkah, duduk di salah satu kursi.

Faar terdiam, kali ini intonasi suaranya lebih ramah, "Kau memang lebih pantas mengenakan pakaian petani ini dibanding seragam marsekal.

" Laar tertawa kecil, mengusap wajah. "Ya. Besok lusa, jika aku bosan menjadi panglima armada, aku memang berencana menjadi petani. Bisakah kau memperkenalkan mereka, Faar?" Faar mengangguk. "Yang satu itu, yang berambut panjang, namanya Raib, dari Klan Bulan. Yang duduk di sebelahnya, Seli, dari Klan Matahari. Mereka berdua petarung terbaik dari klan masing-masing, Tidak banyak anak remaja yang bisa menghadapi ular besar di pos terdepan, atau ribuan kelelawar di Padang Kristal. Satu lagi, dengan rambut berantakan, wajah kusam..." Faar berhenti sebentar, melirik, melihat ekspresi Ali yang tidak terima disebut kusam.

"Tapi dia genius. Dialah yang membuat kapsul terbang untuk melewati lorong kuno. Namanya Ali, dari Klan Bumi. Entah bagaimana caranya, dunia makhluk rendah bisa punya penduduk sepintar dia. Dia telah menguasai teknologi dua klan. Aku yakin, semakin lama dia tinggal di Klan Bintang, seperti busa yang menyerap air di sekitarnya, dia akan menyerap habis semua pengetahuan baru, kemudian dia bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dibanding ilmuwan kota Zaramaraz.

" Ali duduk lebih cegak, senang dipuji oleh Faar.

"Aku sudah menduga benda asing itu datang dari klan permukaan, tapi aku tidak menyangka penumpangnya masih remaja," Laar menatap kami bergantian. "Bagaimana kalian tahu bahwa Klan Bintang ada di perut bumi? Apakah ada yang memberitahu kalian?" Aku menggeleng. "Tidak ada yang memberitahu kami. Sebenarnya, tidak ada penduduk Klan Bulan, atau Klan Matahari yang tahu. Ali hanya membaca catatan pendek di salah satu buku Perpustakaan Sentral Klan Bulan, kemudian menyimpulkan sendiri lokasi Klan Bintang.

" "Apa yang kalian lakukan di Klan Bintang? Apakah kalian punya misi tertentu?" "Mereka tidak memiliki misi apa pun, Laar, Mereka hanya tiga remaja yang rasa ingin cahunya mungkin terlalu tinggi. Tapi mereka jelas tidak berbahaya bagi Klan Bintang," Faar yang menjawab.

"Tapi aku khawatir, Dewan Kota Zaramaraz tidak akan sependapat soal itu," Laar mengembuskan napas perlahan.

"Tentu saja. Mereka selalu penuh prasangka dengan pihak mana pun. Mereka tidak pernah percaya sepenuhnya kepada ruangan-ruangan otonom, apalagi klan lain. Aku tahu kota Zaramaraz akan mengirimkan satu armada penuh ke lembah ini. Selalu menganggap benda ilegal yang melintasi lorong kuno adalah ancaman. Apalagi bila mereka tahu benda itu datang dari klan lain.

" "Berbahaya? Apanya yang berbahaya?" Seli bertanya, suaranya cemas.

"Apakah kau bisa mengeluarkan petir?" Laar bertanya kepada Seli lebih dulu.

Seli mengangguk.

"Itu sangat berbahaya di Klan Bintang.

" "Memangnya kenapa? Apanya yang berbahaya?" Seli tidak mengerti.

Faar yang menjawab, "Dewan Kota Zaramaraz tidak pernah bisa melupakan kejadian dua ribu tahun lalu.

Saat rombongan dari Klan Bulan dan Klan Matahari berusaha meminta bantuan mereka, dan semua berakhir menjadi bencana. Ratusan tahun kemudian, setelah ilmuwan berhasil membangun kembali peradaban kota Zaramaraz, mereka mengusulkan membuat peraturan baru.

" "Peraturan baru?" "Wahai, Dekrit Nomor 1, maklumat ke seluruh Klan Bintang, bahwa penduduk yang memiliki kekuatan harus ditandai dan dimonitor penuh agar tidak menyalahgunakan kekuatan mereka. Jika para pemilik kekuatan menolak, mereka harus ditangkap atau disingkirkan ke ruangan lain. Dewan Kota Zaramaraz tidak menyukai penduduk yang memiliki kemampuan menghilang, atau mengeluarkan petir, karena itu dianggap membahayakan penduduk lain yang tidak memiliki kemampuan itu.

" Aku dan Seli terdiam. Mengapa Faar tidak pernah bercerita tentang itu sebelumnya? Bagaimana mungkin klan ini melarang penduduknya menggunakan kekuatan? "Aku seharusnya bergegas menyuruh pengawal lembah menemani kalian kembali ke klan permukaan, bukan sebaliknya, antusias menyambut kalian..." Faar mengusap wajah tuanya. "Saat dekrit itu dikeluarkan, perlawanan pecah di mana-mana, Klan Bintang dilanda perang saudara. Setelah pertempuran panjang yang mahal harganya, Dewan Kota Zaramaraz menang. Ribuan pemilik kekuatan bersama keluarga mereka terusir dari kota. Mereka mengungsi ke ruangan-ruangan baru, seperti perkampungan ini.

Ibuku salah satu dari keturunan Klan Bulan yang memutuskan pergi secara sukarela dari kota Zaramaraz demi menghentikan perang.

" Faar diam sejenak, menghela napas.

Aku dan Seli saling menatap. Ini kabar buruk. Bagaimana kami akan mengunjungi kota Zaramaraz, yang justru melarang permanen penggunaan kekuatan? "Tapi bukankah kejadian itu sudah ribuan tahun lalu? Bukankah kota Zaramaraz sendiri sudah damai? Aku membacanya di buku, melihat kotanya yang indah," Seli angkat bicara.

Marsekal Laar menggeleng. "Itu hanya yang terlihat di buku atau di dalam brosur pariwisata. Dewan Kota tidak hanya mengendalikan para pemilik kekuatan, tapi juga mengendalikan semua aspek kehidupan, mengawasi setiap jengkal kota. Sejauh ini mereka sudah punya Dekrit Nomor 1.

900--hampir setiap tahun mereka mengeluarkan dekrit baru. Semakin banyak dekrit yang dikeluarkan, semakin sempit kebebasan bagi penduduk. Ada banyak penduduk biasa Klan Bintang yang tidak sependapat dengan tangan besi Dewan Kota.

"Aku senang berjumpa dengan kalian. Kakek dari kakekku adalah keturunan rombongan Klan Matahari yang tiba dua ribu tahun lalu. Dia tidak mewarisi kemampuan mengeluarkan petir, entahlah itu kabar baik atau buruk, karena membuatnya bisa menetap di kota Zaramaraz. Keluarga kami bersahabat baik dengan ibu Faar sebelum mereka pindah ke ruangan lembah ini. Saat kecil, aku berkali-kali diajak ke lembah ini.

Faar sahabat lamaku. Sejak kecil aku sudah mengenalnya. Aku tidak pernah merasa khawatir dengan para pemilik kekuatan. Aku justru sangat antusias hendak bertanya kepada kalian, bagaimana kabar Klan Matahari? Tanah leluhurku. Seberapa luas dan indah kota-kotanya? Bagaimana dengan perkampungannya? Aku sudah lupa bahasa Klan Matahari. Tapi Dewan Kota Zaramaraz punya pendapat yang berbeda.

" "Apa yang akan dilakukan Dewan Kota Zaramaraz kepada kami?" Ali memberanikan diri bertanya.

"Karantina tanpa batas waktu, hingga mereka yakin kalian tidak berbahaya. Atau hingga ilmuwan kota selesai meneliti kalian. Penduduk asli klan lain sangat menarik bagi mereka.

" "Karantina? Tapi kami tidak melakukan apa pun. Apa salah kami?" Seli berseru, tidak percaya apa yang didengarnya.

"Wahai, tidak usah panik, Seli. Aku tidak akan membiarkan kalian dibawa pergi.

" Faar berusaha menenangkan.

Persis saat kalimat Faar berakhir, pintu ruangan justru diterobos masuk oleh dua orang yang sebelumnya menemani Marsekal Laar turun. Di belakang mereka juga menyusul belasan Pasukan Bintang, dengan tangan membawa senjata tabung pendek berwarna putih.

"Apa yang kalian lakukan?" Marsekal Laar berseru. Dia segera berdiri, pakaian yang dikenakannya telah berganti kembali menjadi seragam militer.

"Waktu kita habis, Marsekal Laar. Dewan Kota Zaramaraz meminta agar tiga penyusup dibawa segera ke kota," salah satu dari mereka balas berseru.

"Aku sudah memerintahkan kalian menunggu di kapal induk. Biarkan aku mengurus masalah ini, Sekretaris Dewan Kota.

" "Marsekal Laar, aku bukan anggota militer, aku tidak bisa diperintah kecuali oleh Dewan Kota.

" Orang dengan pakaian sipil yang dipanggil Sekretaris Dewan Kota itu menggeleng. "Mereka memberikan mandat penuh kepadaku, bahkan termasuk mengambil alih armada tempur dalam situasi luar biasa.

" "Tinggalkan rumahku, Sekretaris Dewan," Kali ini Faar yang berseru, ikut berdiri. "Aku tahu wewenang dan hakmu, Tapi sepertinya kalian terlalu lama tinggal nyaman di kota hingga justru tidak tahu apa hak kami. Lembah ini adalah ruangan otonom, berhak mengatur sendiri. Lembah ini tidak di bawah peraturan kota Zaramaraz.

" "Dekrir Nomor 1.

901, ruangan otonom di Klan Bintang kehilangan hak otonorninya secara otomatis dalam situasi penyusupan lorong kuno. Dewan Kota mengambil alih semua wewenang.

" "Dekrir Nomor 1.

901? Penyusupan lorong kuno? Tidak ada dekrit itu.

" Laar menggeleng.

"Dikeluarkan beberapa menit lalu oleh Dewan Kota.

" Sekretaris Dewan Kota mengangkat tangannya, yang memancarkan proyeksi. Dia seperti terlihat sedang memegang selembar kertas transparan dengan logo Klan Bintang.

"Serahkan tiga anak ini, dan hak otonom lembah otomatis dikembalikan. Atau kami akan mengambilnya secara paksa. Tindakan kami dilindungi peraturan tertinggi Klan Bintang.

" "Wahai, aku tetap tidak akan membiarkan kalian membawa tiga tamuku.

" Tangan Faar terangkat, tongkat panjang yang mengambang di dekatnya terbang, lalu digenggam erat.

"Aku harus mengingatkan, Nyonya Faar. Aku tahu siapa Anda, pemilik kekuatan besar. Tindakan melawan perintah Dewan Kota Zaramaraz adalah pelanggaran Dekrit Nomor 10.

" "Omong kosong dengan sernua dekrit kalian!" Muka Faar merah padam. Dia terlihat jengkel. Faar mengacungkan tongkatnya ke atas. Seketika, ruangan menjadi remang, seperti ada awan gelap menutupi langit-langit. Angin kencang berkesiur, udara terasa dingin menusuk tulang. Ujung tongkat Faar bergemeletuk, disusul letupan kilat biru.

"Tiga anak ini tamuku, Sekretaris Dewan Kota. Lembah ini adalah tanah merdeka, tidak di bawah kendali siapa pun. Tidak ada yang bisa memaksa siapa pun di sini tanpa izinku. Apalagi memaksa tamu-tamuku!" Faar berseru, suaranya berubah berat dan bergema, Wajahnya terlihat sangat bertenaga.

Aku menelan ludah. Aku tidak pernah menyaksikan kekuatan Klan Bulan sebesar ini--mungkin setara dengan kekuatan Tamus saat pertempuran di Perpustakaan Sentral Klan Bulan. Aku juga tidak pernah tahu, kekuatan petarung Klan Bulan bisa dialirkan lewat tongkat panjang. Benda yang selalu dibawa Faar itu ternyata senjata mematikan.

Demi melihat kengerian yang menguar dari tubuh Faar, Sekretaris Dewan Kota beringsut mundur, kemudian berseru dengan suara patah-patah, "Nyonya Faar, sekali lagi aku harus mengingatkan, menggunakan kekuatan di Klan Bintang untuk melawan Dewan Kota adalah pelanggaran Dekrit Nomor 1.

Pelanggaran paling serius, jangan coba....

" "Tutup mulutmu, Sekretaris. Coba saja jika kalian berani maju satu langkah.

" Faar menggeram, suaranya terdengar menggelegar. Ruangan semakin gelap.

Suasana tegang menyeruak. Aku dan Seli saling tatap. Napas kami menderu kencang.

"Jangan lakukan, Faar. Turunkan tongkatmu," Marsekal Laar berkata pelan, berusaha membujuk. "Jangan biarkan mereka punya alasan untuk menghabisi lembah ini. Lembah indah ini akan dihancurkan oleh armada tempur dalam sekali tembak.

" Sekretaris Dewan Kota terlihat sekali cemas menatap kekuatan Faar. Belasan pasukan Klan Bintang di belakangnya juga terlihat jeri. Sekretaris Dewan Kota mengangkat tangannya yang bergetar. Dia memegang sebuah alat kecil.

"Marsekal Laar benar, Nyonya Faar. Sekali aku menekan tombol di alat ini, maka ratusan pesawat di langit-langit lembah akan melepas tembakan. Sekuat apa pun tameng transparan yang Anda miliki, tidak akan membantu banyak.

" Kami memang tidak bisa melihatnya, tapi di atas sana, ratusan pesawat telah mengacungkan moncong paruh burungnya ke bawah, bersiap melepas tembakan. Seruan ketakutan terdengar dari kerumunan penduduk lembah yang sejak tadi semakin ramai berkumpul di halaman rumah Faar--ingin tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit panik melihat posisi tempur armada. Anak-anak dan orang dewasa berlarian, bergegas mencari perlindungan.

Situasi semakin runcing. Pintu belakang ruangan kursi berbaris simetris berdebam terbuka. Empat pengawal Faar yang membawa kami ke lembah ikut masuk. Mereka membawa empat tongkat panjang.

bersiap membantu Faar.

"Nyonya Faar, untuk kedua kalinya, serahkan tiga anak ini kepada kami baik-baik, sebelum Armada Kedua menyerang dengan kekuatan penuh!" Sekretaris Dewan Kota berseru.

"Lembah ini tidak takut dengan ancaman Pasukan Bintang!" Faar balas berseru tegas. Pakaiannya berkibar.

"Faar, jangan lakukan, aku mohon!" Marsekal Laar berseru lebih kencang, berusaha mengalahkan suara kesiur angin. "Kau tidak akan membuat warisan ibumu hancur lebur. Penduduk lembah yang tidak mengerti akan menjadi korban. Biarkan aku membawa Raib, Seli, dan Ali ke kota. Aku akan memastikan mereka baik-baik saja.

" "Aku tidak akan membiarkan tamuku dibawa pergi, Laar! Bahkan jika lembah ini hancur lebur sekalipun.

Aku akan melindunginya," Faar menggeram.

Aku menelan ludah. Apa yang harus aku lakukan? Kami terjepit.

Petualangan ini amat cepat berubah. Baru beberapa jam lalu kami disambut dengan ramah di Klan Bintang, menghabiskan waktu dengan banyak hal baru. Tapi seperti air jernih yang dituangkan tinta gelap, situasi kami seketika buruk. Kami memicu pertempuran serius di lembah milik Faar.

"Ayolah, Faar, demi kebaikan semua. Aku akan memastikan Dewan Kota memperlakukan ketiga anak itu dengan baik. Sepanjang bisa membuktikan tidak memiliki niat jahat dan mengancam, mereka akan diminta meninggalkan Klan Bintang baik-baik. Kita juga bisa menyusun rencana lain. Turunkan tongkatmu. Aku mohon.

" Suasana sudah genting. Kapan pun Faar bisa melepas pukulan berdentum. Salju mulai turun di ruangan-- bahkan sebelum pukulan itu dilepaskan. Menilik kekuatannya, itu bahkan bisa meruntuhkan dinding batu.

Di luar, jeritan ketakutan terdengar semakin kencang. Anak-anak menangis. Ratusan pesawat juga sudah bersiap kapan pun melepas tembakan. Aku menelan ludah, aku harus memutuskan sesuatu. Aku tidak akan membahayakan lembah ini.

Aku melangkah cepat, menyentuh lengan Faar.

"Biarkan kami pergi ke kota Zaramaraz, Faar," aku berkata pelan. Tanganku bercahaya terang, mengirim perasaan hangat dan menenangkan.

Faar menoleh kepadaku. Sentuhan itu sangat efektif. Tidak hanya berfungsi mengobati, tapi juga bisa meredakan kemarahan, menyugesti orang lain untuk mengalah, sentuhan penerimaan. Wajah galak Faar seketika berangsur normal. Genggamannya di tongkat panjang merenggang. Ruangan kembali terang.

Sambaran petir dan guguran salju menghilang.

"Kamu..." Faar menatapku seperti tidak percaya. "Wahai, kamu bisa melakukan sentuhan itu, Raib?" Aku mengangguk, tersenyum.

"Sedikit sekali penduduk Klan Bulan yang bisa melakukannya. Jika bisa melakukannya, mereka kehilangan kemampuan petarung Klan Bulan. Tapi kamu memiliki kedua-duanya. Itu bakat yang sangat langka. Hanya garis keturunan terbaik yang memilikinya sekaligus," Faar berkata dengan suara pelan bergetar.

Aku masih tersenyum. Situasi kami masih tegang, tidak sempat menjelaskan banyak hal.

Sekretaris Dewan Kota melangkah maju, diikuti belasan Pasukan Klan Bintang, hendak menangkap kami.

"Kalian tidak perlu bertindak kasar. Mereka hanya remaja.

" Laar mencegah.

"Dewan Kota meminta mereka segera dibawa ke kota Zaramaraz dalam kondisi apa pun, Marsekal Laar.

" Sekretaris Dewan terus maju, hendak mendekat.

"Mereka sudah memutuskan ikut secara sukarela, kalian mendengarnya sendiri tadi. Apa susahnya memberikan mereka beberapa menit untuk bersiap-siap. Mereka tidak akan ke manamana, tidak akan berusaha kabur.

" Marsekal Laar berdiri menghalangi gerakan.

Langkah Sekretaris Dewan Kota terhenti.

Faar menghela napas perlahan. Dia masih di bawah kendali sugestiku. "Biarkan aku bertarung membela kalian, Raib. Lepaskan sentuhan tanganmu.

" Aku menggeleng. "Itu tidak perlu, Faar. Kami akan baik-baik saja. Jangan cemaskan kami.

" Wajah tua Faar terlihat sedih. Dia jelas tidak bisa melawan sugestiku.

"Maafkan orang tua ini yang tidak bisa melindungi kalian.

" Aku menggeleng, tertawa kecil. "Tidak perlu meminta maaf. Tanya saja pada Ali. Dia justru sejak tadi tidak sabaran ingin naik ke kapal induk Klan Bintang, segera pergi ke kota Zaramaraz.

" Ali mengangkat bahu. Wajahnya sejak tadi tetap rileks menyaksikan semua keributan. Sedangkan Seli di sebelahku sudah pucat.

Faar berkata lemah, "Jika itu keputusan kalian. Aku tidak bisa mencegahnya.

" Aku tersenyum, melepas sentuhan tanganku.

"Hati-hati, Raib. Semoga Laar bisa membebaskan kalian secepatnya.

" Aku mengangguk.

Sekretaris Dewan Kota berdiri menunggu di belakang. Dia memberi kami waktu dua menit untuk berkemas-kemas. Kami kembali ke kamar, memasukkan peralatan ke dalam ransel, kemudian berjalan mengikuti Marsekal Laar dan Sekretaris Dewan Kota menuju halaman. Pasukan Bintang menyita ransel kami.

Di bawah tatapan penduduk lembah yang masih ketakutan, kami dibawa ke atas kapal induk, menuju ibu kota Klan Bintang, kota Zaramaraz.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊