menu

Matahari BAB 14

Mode Malam
BAB 14
APAKAH Faar lebih tua dibanding Av?" tanya Seli.

"Aku pikir mereka berusia sama," jawabku, sambil meletakkan ransel di atas tempat tidur.

"Bagaimana penduduk Klan Bulan bisa memiliki usia begitu panjang, Ali?" "Karena mereka mewarisi gen tersebut. Itu tidak mengherankan. Di dunia kita, beberapa hewan memiliki usia panjang. Seekor kura-kura bisa mencapai usia dua ratus tahun. Acau kerang tertentu bisa mencapai lima ratus tahun. Kalian pernah mendengar rentang ubur-ubur abadi?" Aku dan Seli menggeleng.

"Ubur-ubur abadi tidak pernah mati. Ditemukan di Laut Mediterana dan perairan Jepang, ubur-ubur ini bisa bertransformasi, mengubah sel-selnya dari usia dewasa kembali menjadi bayi, begitu seterusnya.

" "Kamu tidak sedang bercanda, kan?" Seli tampaknya sangsi dengan penjelasan Ali.

"Yah, kalian bisa cari sendiri di internet saat kita sudah kembali ke kota kita.

" Ali menjawab tidak peduli, lalu melangkah menuju kamarnya. "Nah, sepanjang Faar atau Av mewarisi gen tersebut, mereka bisa berusia panjang. Sesederhana itu penjelasannya.

" Selesai bercakap-cakap dengan Faar tadi, kami diantar ke kamar untuk beristirahat--tepatnya, kami bisa menemukan sendiri kamar tersebut hanya dengan mengikuti petunjuk di lantai kayu. Dua kamar bersebelahan, dengan pintu penghubung.

"Apakah kamu juga akan berusia panjang, Ra?" Seli bertanya saat kami tinggal berdua saja di kamar. Ali sudah menutup pintu penghubungnya.

Aku tertawa. "Aku tidak tahu, Seli.

" "Bayangkan jika usiamu seribu tahun, Ra. Bukankah itu keren sekali?" "Itu justru menakutkan, Seli," Aku merebahkan punggung di sofa.

Kamar di rumah kayu milik Faar terlihat seperti kamar-kamar di dunia kami. Jenis dan susunan perabotnya sama saja bentuknya. Tapi beberapa menit kemudian aku baru menyadari bahwa benda-benda ini memiliki teknologi canggih.

Ranjang misalnya, seprainya bisa membersihkan dan merapikan sendiri. Kasur busanya juga dilengkapi kemampuan menyesuaikan dengan bentuk tubuh orang yang tidur di atasnya. Lemari pakaian bisa meletakkan susunan pakaian sesuai kebiasaan penggunanya. Pakaian yang lebih sering dipakai akan berada di tumpukan paling atas, sementara yang jarang digunakan berada di bawah.

Aku melihat sebuah sofa di samping ranjang. Aku menghela napas lega, lalu duduk di atasnya, meluruskan kaki. Kami nyaris nga puluh enam jam berada di kapsul, tidak bisa bergerak bebas.

"Maaf, Nona Raib. Apakah Anda ingin mengetahui beberapa data terkini tentang kesehatan Anda?" Astaga! Aku loncat turun dari sofa yang kududuki, membuat Seli ikut berseru kaget.

Kepala Ali muncul dari balik pintu penghubung, "Ada apa, Ra?" "Sofanya bisa bicara!" aku berseru.

Ali tertawa. "Terus kenapa? Klan ini punya teknologi paling maju, tidak ada yang aneh dengan sofa bisa bicara. Bahkan jika dudukan toilet mereka bisa bicara, itu tetap masuk akal.

" "Tapi bagaimana dia tahu namaku?" Ali tidak menjawab. Dia lalu menutup pintu penghubung kamar.

Aku menelan ludah, kemudian kembali duduk di atas sofa. Aku masih kaget dengan kejadian barusan.

"Maaf, jika aku membuat Nona Raib kaget," sofa itu berbicara.

"Bagaimana kamu tahu namaku?" "Itu mudah. Faar sudah memasukkan data penghuni baru rumah ini ke dalam sistem utama. Aku mengenalinya saat Nona Raib duduk. Apakah Nona mau diperiksa sebentar.

" Ini tidak menyakitkan, malah sebaliknya, sangat nyaman. Nona tinggal berbaring santai, sensorku akan bekerja.

" Aku menelan ludah, mengangguk.

Lima menit berbaring di sofa aku memperoleh laporan rentang kondisi tubuhku. Detak jantung, organ vital, kadar darah, dan daftar panjang yang tidak sepenuhnya aku mengerti. Tubuhku dalam kondisi seratus persen fit. "Hanya satu saranku, Nona Raib perlu istirahat. Tidur cukup.

" Sofa itu mengakhiri laporannya.

Aku mengembuskan napas. Itu benar, aku kurang tidur tiga hari terakhir.

"Ini keren, Seli. Kamu mau mencobanya?" Aku menoleh ke arah Seli yang sejak tadi memperhatikan.

Seli tertawa, mengangguk.

Ali di kamarnya memilih lompat ke atas tempat tidur dan segera terlelap.

***
 Pukul enam pagi--sesuai waktu dunia kami.

Pintu kamar diketuk dari luar. Aku terbangun.

"Faar menunggu kalian di ruang makan," Salah satu petugas memberitahu.

Aku menjawab, "Kami akan segera ke sana.

" "Pakaian ganti kalian sudah tersedia di lemari.

" Petugas itu menambahkan sebelum beranjak pergi.

Seli ikut bangun, turun dari tempat tidur. Aku membangunkan Ali, menggedor pintu penghubung. Anak itu berseru dari kamarnya sambil menguap, bilang dia akan bersiap-siap.

"Ra, apakah kita akan memakai pakaian Klan Bintang?" Seli berbisik, mengambil pakaian dari lemari.

Dia tidak suka melihat warna dan bahan pakaian tersebut. Itu lebih mirip kulit hewan.

"Tidak ada salahnya mencoba, Sel. Setidaknya kita menghargai tuan rumah.

" Aku mencoba mengenakan pakaian itu.

Ini benar-benar hebat. Aku pikir teknologi pakaian Klan Bulan sudah sangat istimewa, Namun, yang satu ini tidak pernah terbayangkan. Persis saat "kulit" itu kukenakan, dia bisa berubah bentuk seperti yang dipikirkan oleh pemakainya. Tidak hanya menyesuaikan warna, panjang atau pendek, besar atau kecil, tapi juga model pakaian. Karena aku memikirkan kostum hitam-hitam desain Ilo, "kulit" itu langsung berubah seperti pakaian yang dibuat Ilo.

Aku dan Seli memarut-marut sejenak, kemudian tertawa. Kami bisa mengubah warna pakaian kapan pun kami mau, termasuk menambahkan pita, renda, saku, apa pun itu.

"Hei, kalian sudah siap?" Ali muncul dari pintu penghubung kamar.

Aku menatap Ali tidak percaya.

Lihatlah, Ali muncul dengan seragam tim basket sekolah.

"Kamu membawa seragam tim basket di ransel, Ali?" Seli bertanya.

"Tidak. Memangnya kamu belum mencoba pakaianmu?" Ali menjawab sekilas, sejenak seragam basketnya berubah kembali menjadi pakaian hitam-hitam desain Ilo.

Seli menepuk dahi. Dia lupa bahwa pakaian yang kami kenakan memang bisa berubah model.

"Ayo, perutku sudah lapar.

" Ali melangkah ke pintu kamar.

Rumah milik Faar besar. Kami tidak tahu di mana ruang makannya. Tapi kami tidak perlu cemas, lantai kayu menuntun arah dengan berubah warna setiap kali kami melangkah maju.

"Wahai, selamat pagi.

" Faar menyapa. Dia sudah menunggu di meja makan, sedang menyiapkan piringpiring.

"Selamat pagi," aku balas menyapa.

"Mari, silakan bergabung.

" Faar terlihat riang. Untuk seseorang yang berusia seribu tahun lebih, gerakannya masih lincah. Tongkat panjang dengan batu permata di ujungnya diletakkan di samping meja, berdiri mengambang. Faar sepertinya tidak pernah berpisah dengan tongkat itu.

"Ah, kalian tampaknya telah mengenakan pakaian baru.

" Faar memperhatikan. "Itu pakaian dengan bahan terbaik seluruh Klan Bintang, melindungi pemakainya dari benturan, goresan, dan sebagainya.

" Aku mengangguk. "Terima kasih, Faar.

" "Bagaimana tidur kalian? Lelap?" Aku mengangguk lagi. Kami hanya tidur dua-tiga jam, tapi itu tidur terbaik yang pernah kulakukan.

Ranjang dengan teknologi tinggi membuat tidur kami berkualitas maksimal.

"Ayo, silakan duduk, Raib, Seli, Ali. Kita sarapan. Aku menyesuaikan jadwal sarapan dengan bioritme kalian. Tapi aku tidak tahu apakah kalian akan suka dengan makanan Klan Bintang. Tapi mari kita coba," Faar terkekeh.

Aku menatap meja. Hanya ada satu mangkuk besar, berisi seperti bubur nasi, lengket dan kenyal. Faar memberikan contoh. Dia mengambil makanan itu lebih dulu, mengisi piringnya. Seli berikutnya, ragu-ragu, hanya mengambil sedikit, itu keputusan yang bijak. Ali sebaliknya, dia santai memenuhi piringnya dengan bubur. Aku menghela napas. Bagaimana kalau rasanya tidak enak? Tidak sopan menyisakan makanan di piring. Aku mengambil porsi yang paling aman.

"Ayo, Anak-anak.

" Faar mempersilakan kami.

Aku ragu-ragu menyendok bubur. Apakah rasa makanan ini akan seaneh bentuknya? Atau seenak sup jagung masakan Mama di rumah? Hanya seujung sendok, aku mencicipinya.

Hei! Entah bagaimana caranya, bubur ini persis sama seperti rasa sup masakan Mama. Bentuknya memang hanya bubur, tapi rasanya tidak. Aku melirik Seli.

"Ini ajaib, Ra," Seli berbisik lebih dulu. "Aku memikirkan bakso di kantin sekolah, rasa bubur ini ternyata persis seperti bakso. Apa rasa buburmu?" "Mereka punya teknologi terdepan, Seli," Ali berkata santai, lahap mengunyah bubur. "Di dunia kita, ilmuwan baru berpikir tentang sendok yang bisa menghitung kalori. Di Klan Bintang, mereka telah menyesuaikan rasa masakan sesuai keinginan. Empat orang memakan bubur ini, maka keempat-empatnya akan memiliki pengalaman rasa yang berbeda.

" "Tapi ini sebenarnya bubur apa?" Seli masih penasaran.

"Mana aku tahu. Mungkin hanya bubur gandum atau nasi biasa dengan asupan nutrisi lengkap dan seimbang. Rasa makanan itu hanya sugesti, Seli. Orang yang sejak kecil tidak suka bakso, maka hingga dewasa dia membenci rasa bakso. Tapi sebaliknya, orang yang sejak kecil diajari menyukai pare, dia bisa merasakan jus pare pahit selezat bakso kantin sekolah kita.

" Aku hendak membantah pendapat Ali, karena menurutku rasa enak makanan bukan curna soal sugesti.

Namun, Faar lebih dulu bertanya di ujung meja panjang.

"Kalian suka masakan Klan Bintang?" Aku mengangguk sopan.

"Wahai, itu bagus sekali. Setelah tidur yang cukup dan sarapan bergizi, kalian siap memulai petualangan di lembah ini. Aku akan menemani kalian berkeliling.

***
 Faar mengajak kami ke halaman belakang rumahnya.

Petugas rumah mengeluarkan pesawat kecil tanpa sayap ataupun baling-baling, berbentuk lancip memanjang seperti paruh burung. Pesawat itu berisi empat kursi. Yang mengagumkan dari pesawat ini, hampir semuanya terbuat dari bahan tembus pandang. Satu kursi di depan untuk pilot, tiga kursi berikutnya berderet di belakang.

"Pesawarku ini memiliki teknologi yang sama dengan kapsul perak kalian. Siapa yang membantu kalian membuat kapsul itu?" Faar bertanya.

"Ali membuatnya sendirian, tanpa dibantu siapa pun.

" "Kalau begitu, aku bisa duduk di kursi belakang," Faar naik dengan membawa tongkat panjang, duduk di kursi paling ujung.

Kami saling menatap. "Siapa yang akan mengemudikan pesawat ini?" Aku memberanikan diri bertanya.

"Ali," Faar menjawab santai. "Jika Ali memang membuatnya sendiri, dia bisa mengernudikan pesawat ini tanpa harus belajar lagi.

" Ali ragu-ragu duduk di kursi pilot. Seli dan aku ikut naik, duduk di kursi nomor dua dan tiga. Sabuk pengaman terpasang otomatis.

Halaman rumah Faar ramai oleh penduduk perkampungan yang menonton. Empat pemuda yang kemarin menangkap kami di padang kristal juga berdiri di sana, mengawasi.

Ali menatap tombol panel dengan huruf yang tidak dia kenali. Dia terdiam. Seli melongok ke depan, memastikan apakah Ali bisa mengemudikan pesawat. "Jangan banyak tanya dulu, Seli!" Ali berseru ketus.

"Pertanyaanmu tidak membantuku.

" Seli nyengir lebar, lalu kembali duduk.

Lima menit berkutat mempelajari tombol-tombol, Ali mulai menyalakan mesin. Pesawat mendesing pelan, lampu-lampunya menyala. Ali mengembuskan napas keras. Dia terlihat lebih percaya diri. Tangannya memegang tuas kemudi.

Seli justru menahan napas.

Sekejap, saat tuas kemudi digerakkan, pesawat itu meluncur mulus ke udara. Faar yang duduk di kursi belakang terkekeh. Ali terlihat menyeka peluh di dahi. Dia menyeringai lega.

Kami mulai terbang mengelilingi perkampungan. Lembah hijau terlihat membentang di bawah, juga petakpetak sawah, aliran sungai, dan hutan lebat berselimut kabut. Pesawat milik Faar terbang anggun di pucukpucuk pepohonan, melintasi rumah-rumah kayu. Kami asyik mengamati sekitar.

"Apakah matahari di atas sana selalu begitu?" Seli memulai percakapan.

"Tidak juga.

" Faar menggeleng. "Jika penduduk bosan dengan matahari pagi pukul sepuluh, kami bisa mengubahnya menjadi malam. Kami juga bisa mengubah matahari menjadi sunset, agar suasana menjadi lebih romantis. Tapi penduduk lebih suka matahari seperti itu.

" "Bagaimana mereka bisa tidur jika matahari bersinar terus?" Seli penasaran.

"Mereka bisa tidur kapan pun mereka mau, Seli. Sesuai bioritme masing-masing," Ali yang menjawab.

"Di bumi juga ada daerah yang pada masa-masa tertentu matahari terus bersinar. Daerah kutub misalnya, mereka bisa siang terus-menerus selama enam bulan. Penduduk kutub tetap baik-baik saja.

" Faar tertawa. "Wahai, itu penjelasan yang brilian.... Bawa pesawat terbang lebih rendah, Ali. Aku hendak menyapa penduduk di sana.

" Ali menggerakkan tuas kemudi, pesa,vat Faar melintas rendah di atas petak-petak sawah. Penduduk yang sedang menanam padi melambaikan tangan. Faar membalas lambaian itu, tersenyum sehangat matahari pagi.

"Bagaimana dengan hujan?" Seli mengajukan pertanyaan lagi saat pesawat melintas di atas air terjun.

"Hujan? Itu mudah, Seli.

" Kemudian Faar menjelaskan, "Jika anak-anak perkampungan menginginkan hujan, kami bisa menurunkannya agar mereka bisa bermain di bawah hujan. Perkampungan ini terletak seribu kilometer di bawah permukaan bumi. Kami menjaga dengan hati-hati siklus air, karena air dibutuhkan oleh hewan, tumbuhan, dan semua yang hidup di lembah ini. Air terjun di bawah kita ini adalah bagian dari siklus air, bukan sekadar hiasan dinding spektakuler.

" Pesawat Faar terbang rendah mendekati air terjun besar. Butiran air mengenai dinding transparan pesawat. Kami menatap air terjun itu dengan takjub. Tinggi air terjun ini nyaris dua ribu meter. Berjutajuta galon air tumpah dari sana, kemudian mengalir ke sungai besar, masuk ke perut bumi, dan keluar lagi menjadi air terjun.

"Kenapa lembah ini simetris?" Aku ikut bertanya.

"Karena Klan Bintang menyukai bentuk simetris. Itu sudah menjadi pola hidup, simbol keseimbangan, keteraturan. Lembah ini dibuat simetris, juga bentuk bangunan. Pola itu sama seperti Klan Bulan yang menyukai bangunan dengan tiang-tiang tinggi. Atau penduduk Klan Matahari yang menyukai bangunan kotak. Hanya Klan Bumi yang tidak memiliki aturan seragam, atau mungkin ketidakseragaman. Itulah pola mereka, tidak mau diatur.

"Semua klan memiliki keistimewaan masing-masing, Jika kalian perhatikan, nama-nama penduduk Klan Bintang juga simetris. Bentuk ini tidak hanya indah dilihat, tapi memiliki fungsi. Itu bentuk paling kokoh di perut bumi. Aku punya teman yang bisa menjelaskannya lebih baik. Dia ilmuwan yang merancang ibu kota Klan Bintang. Semoga besok kalian bertemu dengannya.

" Pesawat tembus pandang milik Faar masih mengitari langit-langit lembah hijau setengah jam ke depan, hingga akhirnya Faar menyuruh Ali mendaratkan kembali pesawat di halaman belakang.

Kami melompat turun. Faar mengajak kami ke salah satu ruangan, "Aku akan menunjukkan sesuatu, agar kalian bisa membayangkan Klan Bintang lebih baik.

" Ruangan itu nyaris kosong, hanya ada satu meja besar di tengahnya. Faar menunjuk meja. Kami melangkah ke sana. Dia meletakkan tongkat panjangnya di samping meja, mengambang, tegak berdiri.

"Lihat ke atas meja," Faar mengetuk lembut tepi meja kayu.

Itu meja dengan teknologi proyeksi yang sangat jernih. Di atas meja muncul gambar tiga dimensi lapisan bumi, terhampar hingga sudut-sudutnya. Faar sedang memperlihatkan peta Klan Bintang. Lorong-lorong panjang terbentuk.

"Ini tempat kalian masuk, bukan?" Faar menunjuk mulut lorong di tepi danau.

Kami mengangguk.

"Inilah lorong utama. Mulut lorong ini juga muncul di Klan Bulan dan Klan Matahari secara simultan, sesuai dengan bentang kian masing-masing.

" Faar menunjuk sumur dalam hingga tiba di ruangan pertama.

"Ini pos terdepan, entah seperti apa ruangan itu sekarang, sudah lama sekali ditinggalkan. Ada empat cabang di pos ini, tiga yang lainnya buntu. Kalian memilih cabang yang benar, yang melintasi padang kristal, tempat kalian ditemukan.

" Faar menunjuk salah satu ruangan--peta itu sepertinya bersifat real time dengan kondisi sebenarnya, karena balok kristal di mulut gua tampak sudah roboh.

Faar mengetuk meja lagi. Kini muncul lorong-lorong baru yang tersambung ke lorong utama. Salah satunya yang mengarah ke ruangan lembah hijau milik Faar. Juga muncul ratusan ruangan lain dengan bentuk pantai, gunung, sungai besar, teluk, dan danau. Ada yang terang, sedang siang hari, ada yang gelap, saat malam hari. Ada yang bersalju, padang rumput, dan gurun pasir.

"Ini lorong level kedua, menuju ruangan-ruangan berpenghuni.

" Faar menunjuk proyeksi. "Ada banyak permukiman di Klan Bintang. Mereka mengambil banyak bentuk seperti permukaan bumi, sebagaimana mereka bisa mengingatnya dulu. Masingmasing perkampungan mempunyai ciri khas. Ada yang bertani, memiliki sawah-sawah, ada yang menanam gandum, jagung, arau peternakan. Bahkan ada perkampungan khusus yang menjadi tempat wisata, liburan musim panas. Ruangan padang kristal yang kalian lewati, itu dulu adalah tempat wisata favorit Klan Bintang. Ada banyak hotel mewah, restoran terbaik, tapi kelelawar besar berkembang biak dengan pesat, memenuhi setiap jengkal langit-langitnya. Ruangan itu ditinggalkan pengunjung ratusan tahun lalu.

" Faar kembali mengetuk meja, lorong utama terlihat terus menuju perut bumi. Kami menatap lorong itu tanpa berkedip, hingga tiba di sebuah ruangan yang sangat besar. Proyeksi peta berhenti, memunculkan sebuah kota dengan bentuk amat menakjubkan. Bangunan-bangunan tinggi, menara-menara, bercahaya kemilauan.

"Inilah ibu kota Klan Bintang, kota Zaramaraz!" Faar berseru takzim. "Tiga puluh juta penduduknya.

Sempurna berbentuk kubus dengan sisi-sisi sepanjang dua ratus kilometer. Tidak hanya simetris dua sisi seperti ruangan lain, tapi juga empat sisi sekaligus, hingga ke detail jendela setiap rumah penduduknya.

Mahakarya peradaban Klan Bintang. Permata paling berharga di perut bumi.

" Bahkan Ali yang biasanya cuek dengan banyak hal, kini menatap takjub proyeksi kota Zaramaraz di atas meja kayu. Faar mengetuk meja, membuat kota tersebut diperbesar, terlihat lebih detail.

"Aku ingin pergi ke kota itu!" Seli berkata pelan.

Faar tertawa pelan. "Kalian tidak perlu bersusah payah pergi ke kota itu, Seli. Kota itu yang akan mendatangi kalian.

" Faar membiarkan kami menatap kota Zaramaraz selama lima menit. Aku menelan ludah. Bahkan baru melihat proyeksi petanya, kota ini sudah terlihat begitu hebat.

"Sudah cukup, Anak-anak? Boleh aku lanjutkan?" Faar bertanya.

Kami mengangguk.

Faar mengetuk lembut sisi meja. Proyeksi kota Zaramaraz kembali mengecil, lorong utama dan lorong level kedua kembali terlihat. Di proyeksi peta juga muncul lorong-lorong baru berwarna merah, dengan arah tidak beraturan, tanpa ujung alias buntu.

"Kenapa lorong-lorong baru ini terpurus?" "Karena memang tidak ada yang tahu ke mana lorong itu menuju, Seli. Ada yang berhenti di tembok kosong, ada yang berhenti di ruangan hampa, Inilah lorong misteri. Diberi warna merah, karena itu lorong yang berbahaya," Faar menjawab setelah diam sejenak.

"Berbahaya?" Faar mengangguk. "Dulu, lorong-lorong ini adalah cara kuno Klan Bintang berpindah tempat. Seperti jalur jalan raya di klan permukaan, Ribuan tahun usia peradaban Klan Bintang, ada banyak sekali rahasia perut bumi yang belum ada jawabannya. Ada banyak lorong-lorong yang bahkan lebih tua dibanding Klan Bintang. Beberapa lorong itu memberi jawaban aras masa depan, penemuan-penemuan menakjubkan, beberapa sisanya justru membawa bencana bagi Klan Bintang.

"Seiring kemajuan teknologi, kami sekarang menggunakan 'lorong berpindah', transportasi instan yang lebih aman, efisien, dan efektif. Teknologi yang sama juga ada di Klan Bulan dan Klan Matahari, bukan? Melintasi portal untuk menuju ruangan mana pun. Lorong-lorong fisik sudah jarang digunakan, kecuali untuk keperluan darurat. Banyak penduduk Klan Bintang yang bahkan tidak pernah melihat langsung lorong-lorong kuno ini, dan hanya mempelajarinya lewat peta. Dewan Kota Zaramaraz kemudian menyegel lorong-lorong yang tidak terverifikasi, menandainya dengan kategori merah.

" Aku memperhatikan lamat-lamat lorong berwarna merah di proyeksi peta. Jumlahnya ribuan, seperti gumpalan benang rumit.

"Apa itu Dewan Kota Zaramaraz?" Ali bertanya.

"Ah itu, kalian mungkin sebaiknya tahu. Hampir seluruh ruangan di Klan Bintang di bawah kendali Dewan Kota Zaramaraz. Ada tujuh anggotanya, dari garis keturunan bangsawan. Dewan Kota mengendalikan semua aspek, mulai dari politik, ekonomi, teknologi, hingga yang paling penting menguasai empat armada Pasukan Bintang. Mereka adalah simbol ketertiban, kesinambungan, keseimbangan. Tapi tidak semua perkampungan berada di bawah Dewan Kota Zaramaraz. Ada banyak perkampungan yang otonom, berhak mengatur sendiri. Ah, mari lupakan mereka. Aku selalu saja tidak tertarik membahas soal ini, terlalu banyak kepentingan dalam politik.

"Nah, demikianlah isi perut bumi. Kalian tidak menduganya, bukan?" Aku dan Seli menggeleng, masih menatap proyeksi peta. Ruangan lengang sejenak.

"Aku curiga, setelah tahu banyak hal, kalian jangan-jangan juga berencana bertualang ke lorong-lorong misterius.

" Faar menyelidik, terutama saat menatap wajah Ali.

Aku dan Seli menggeleng. Tetapi Ali sebaliknya, dia mengangguk mantap.

Faar tertawa, mengetuk meja kayu untuk terakhir kalinya, dan proyeksi peta menghilang, 
***
 Sisa hari kami habiskan di garasi. Faar mengajak kami melihat ILY yang terparkir rapi di sana.

"Kamu sudah melakukan pendekatan yang benar, Ali.

" Faar menatap ILY. "Ilmuwan Klan Bintang juga menggabungkan teknologi dari Klan Bulan dan Klan Matahari. Kapsul terbangmu ini brilian untuk ukuran seorang remaja. Cukup memadai melewati lorong-lorong kuno, tapi tidak akan bertahan lima detik menghadapi armada Pasukan Bintang.

" "Apakah Pasukan Bintang punya kekuatan seperti klan lain?" Aku tertarik.

"Tidak. Mereka tidak mewarisi kekuatan. Mereka adalah ilmuwan, penemu. Hanya keturunan dari klan lain yang memiliki kekuatan. Tapi Pasukan Bintang mempelajari kemampuan petarung Klan Bulan dan Klan Matahari. Menghilang misalnya, mereka telah menemukan cara untuk mendeteksi benda yang menghilang. Juga mengembangkan penangkal petir. Teknologi membawa mereka maju sekali. Sehingga meskipun tanpa kekuatan khusus, mereka lebih kuat, lebih cepat, tidak mudah dikalahkan.

"Wahai, aku akan meninggalkan kalian di garasi ini. Ada hal lain yang harus kukerjakan.

" Faar tersenyum.

"Anggap saja ini rumah kalian sendiri.

" Kemudian Faar menatap Ali. "Dan kamu, lemari kayu kosong yang ada di pojok garasi itu bukan furnitur biasa. Di dalamnya terdapat buku-buku tak kasatmata yang menyimpan pengetahuan Klan Bintang. Kamu dapat membacanya, anggap saja itu hadiah selamat datang dariku. Di lemari itu juga tersedia alat penerjemah, itu akan membantu kalian berkornunikasi lebih baik di klan ini.

" Faar kemudian meraih tongkat panjangnya, melangkah meninggalkan kami bertiga.

Rasa tertarik kami langsung tertuju ke lemari kosong di pojok garasi.

"Jika buku-buku ini tak kasatmata, bagaimana membacanya?" Seli tampak bingung.

"Itu karena kamu tidak memperhatikan.

" Ali melangkah santai, lalu mengetuk lembut lemari itu. Dalam sekejap, dari dalam lemari muncul buku-buku yang berbaris rapi. Buku-buku itu tembus pandang, seperti proyeksi peta Klan Bintang sebelumnya.

Ali santai menggeser barisan buku, seperti menggeser ke atas ke bawah arau ke sampaing layar tablet atau telepon genggam di dunia kami. Tumpukan buku pun bergeser. Ali mencari judul yang menarik. Tak lama kemudian, dia mengambil salah satunya.

Aku menelan ludah. Aku tidak tahu bahwa proyeksi digital bisa dipegang, dibawa, seperti benda.

Bukankah itu hanya cahaya sorot? Tidak punya fisik? Seperti tabung kecil dari Av. Setinggi apa pun teknologinya, proyeksi buku Klan Bulan tetap membutuhkan tempat untuk disimpan, Tapi yang ini? Bisa dibawa ke mana-mana? Ali sudah duduk di atas sofa panjang, mulai asyik dengan bukunya.

Aku dan Seli saling tatap. Apa yang bisa kami lakukan sekarang? Kami akhirnya meniru Ali, mulai mencari buku yang mungkin asyik dibaca untuk mengisi waktu kosong. Kami pun menarik keluar beberapa judul.

Buku-buku itu ditulis dalam huruf Klan Bintang, tapi tinggal keruk bagian atasnya--aku meniru Ali--kami bisa mengubah hurufnya menjadi huruf klan lain. Walaupun tadi sempat cemas melihat huruf-huruf Klan Bintang yang seperti cacing-cacing meringkuk, kini Seli tertawa kecil. Klan ini punya teknologi penerjemah bahasa klan lain.

Seperti yang dibilang Faar, di lemari kayu juga tersedia anting yang mirip headseat di dunia kami, yang bisa menerjemahkan bahasa klan lain. Juga ada pita lembut yang dipasangkan di leher, yang bisa mengubah pita suara, agar kami bisa berbicara dalam bahasa Klan Bintang.

Sisa hari berjalan cepat, kami menghabiskan waktu membaca buku.

Ali telah tenggelam dengan buku-buku pengetahuan, sementara aku dan Seli membuka buku tentang sejarah kota Zaramaraz. Foto-foto kota terhampar di proyeksi buku--yang bisa diperbesar atau diperkecil--jalanjalan penting, restoran ternama, monumen sejarah, gedung perkantoran, hotel, sarana transportasi, dan sistem pertahanan. Karena kota dibuat simetris empat penjuru, maka Restoran Lezazel, restoran paling terkenal di kota itu, juga terdapat empat buah, yang sama-sama lezarnya, Buku ini juga mendaftar penyanyi paling terkenal di kota Zaramaraz, serta film-fi1m paling laris. Aku dan Seli mengenakan anting penerjemah, mencoba menonton salah satu film. Ini menyenangkan, kami bisa menikmati filmnya, membuat lupa bahwa kami sedang berada di garasi rumah seribu kilometer di bawah tanah.

Aku dan Seli beberapa kali tertawa menyimak adegan film.

Saat itulah, saat kami masih asyik menonton, terdengar keributan.

Hei, itu bukan suara keributan dari film yang kami tonton. Itu suara terompet panjang. Bersahutan.

Aku dan Seli bergegas menutup proyeksi buku. Ali juga meletakkan bukunya. Kami saling menatap penuh tanya.

Suara terompet kemudian diikuti oleh gemuruh keras, seperti ada sesuatu yang besar di langit-langit perkampungan. Aku berdiri, melangkah cepat menuju pintu, juga diikuti oleh Seli dan Ali. Lantai kayu menunjukkan pintu depan rumah.

Saat kami tiba, halaman rumah Faar sudah ramai oleh penduduk perkampungan. Menilik wajah mereka, tampaknya mereka juga ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Ali menyikut lenganku, menunjuk ke atas. Aku mendongak, seketika terdiam.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊