menu

Matahari BAB 13

Mode Malam
BAB 13
YANG menyambut kami seorang perempuan, dengan wajah dan fisik sama tuanya dengan Av--atau mungkin lebih dari itu. Dia mengenakan pakaian berwarna gelap. Rambutnya yang putih ditutupi sorban tinggi, dan sebuah tongkat panjang--yang ujungnya berrarahkan sebutir batu bercahaya--tergenggam erat di tangannya.

Perempuan itu tersenyum ramah, seperti menatap kerabat jauh yang sudah lama sekali tidak berjumpa.

Empat orang yang menangkap kami di lorong kuno sempat berbicara dengannya, aku tidak tahu bahasa mereka. Empat orang itu terlihat marah, menjelaskan dengan wajah serius. Namun, perempuan itu mengangguk-angguk, berkata satu-dua kalimat, dan tetap tersenyum. Kemarahan empat orang itu mereda.

"Mhaaf akhu mintha, jika pendhudhuk khami shempat bherlaku kha-sa?" Perempuan tua itu menoleh kepadaku. "Astha-gha, lhama shekali su-dah akhu thi-dak bhicara dhengan bahasha Klan Bulan. Harap khamu bisha mengerti bhicara orang thua ini?" Aku mengangguk. Aku mengerti, sama seperti dulu saat Ali mulai belajar bahasa Klan Bulan, juga terbalik-balik dengan aksen kasar. Tapi lama-kelamaan, meskipun tetap terbalik susunan katanya, aksen Ali membaik. Perempuan tua ini juga hanya perlu melenturkan aksennya.

"Faarazaraaf, namaku, wahai--perkenalkan. Kalian bisa memanggilku Faar. Ibuku, dia datang dari Klan Bulan. Waktu ibuku masih hidup, saat aku kecil, kami sering bicara bahasa ini. Ah, lama sekali itu masa, coba kuingat, seribu tahun lalu kukira.

" Perempuan tua itu mendongak, seperti sedang mengingat sesuatu.

"Wahai--aku lupa, ayo duduk. Malu-malu jangan, anggap rumah sendiri. Kalian tentu telah melakukan perjalanan jauh, melewati lorong-lorong. Duduk, silakan.

" Kami bertiga duduk di kursi. Perempuan tua itu bicara lagi dengan empat orang yang membawa kami, Empat orang itu mengangguk, kemudian beranjak pergi.

"Mereka pemuda-pemuda lembah. Penjaga lembah. Bertugas memastikan lembah aman. Sering mereka berkeliling memeriksa lorong-lorong. Tidak sengaja mereka mendengar pertarungan di padang kristal.

Mereka pergi ke sana untuk mencari tahu. Menemukan kapsul kalian yang diserang kelelawar kawanan.

Apakah itu yang terjadi?" Aku mengangguk.

"Pemuda-pemuda itu berkata, satu di antara kalian melepaskan pukulan berdentum dengan salju berguguran. Siapa?" "Aku yang melakukannya.

" "Wahai....

" Perempuan tua itu menatapku antusias. "Itu sangat menarik. Aku yakin kamu pasti datang dari Klan Bulan. Bukan begitu.

" Hanya penduduk klan itu yang bisa melakukannya, seperti dulu ibuku mengajariku.

" Aku mengangguk.

"Mereka sebenarnya hendak meninggalkan kalian di padang kristal. Itulah kenapa mereka terlihat marah.

Kalian membuka penyumbat, menghancurkan balok-balok kristal, itu membuat kelelawar besar bisa memasuki lorong, dan di kemudian hari lorong itu tidak aman bagi siapa pun yang melakukan perjalanan.

Tapi lupakan soal itu, kelelawar itu tidak akan meninggalkan padang kristal. Wahai, kalian pendiam sekali, sejak tadi tidak banyak bicara, membiarkan orang tua ini bicara sendiri. Boleh aku tahu siapa nama kalian?" Faar tersenyum.

"Namaku Raib, dari Klan Bulan. Itu Ali, dari Klan Bumi, dan itu Seli, dari Klan Matahari.

" Faar bahkan bangkit dari duduknya. "Kian Bumi? Klan Matahari.

" Wahai, aku pikir kalian semua datang dari Klan Bulan. Bagaimana penduduk Klan Bumi bisa bicara bahasa klan lain?" "Ali mempelajarinya," jawabku.

"Dan yang satu ini. Kamu sungguh dari klan Matahari?" Faar menatap Seli.

Seli menyikut lenganku--dia tidak mengerti bahasa perempuan tua itu.

"Dia bertanya apakah kamu datang dari Klan Matahari, Seli," bisik Ali.

Seli mengangguk.

"Mengeluarkan petir.

" Kekuatan kinetik?" Ali menerjemahkan singkat. Seli mengangguk lagi.

Faar terkekeh.

"Tidak disangka-sangka, wahai. Setelah berlalu ribuan tahun, di lembah ini kami kedatangan tamu istimewa. Aku merasa terhormat. Rumah ini sangat beruntung. Tapi, izinkan orang tua ini bertanya, apa yang kalian lakukan? Maksudku, apakah kalian punya tujuan tertentu? Misi?" Aku menggeleng, "Kami hanya bertualang. Ingin tahu.

" "Hanya itu?" Aku mengangguk lagi.

"Tidak ada misi penting?" Aku menggeleng. Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya.

"Kalian bertiga. bersahabat?" Aku mengangguk.

Faar menyandarkan punggung di kursi. "Tiga sahabat pergi bertualang. Aku tidak tahu apakah pernah ada remaja seusia kalian yang melakukan perjalanan di dunia paralel. Sebagian dari mereka paling jauh bertualang ke kota, mendaki gunung, pergi ke pantai, itu sudah membuat puas. Kalian berbeda, kalian justru melewati lorong-lorong kuno, dengan rasa ingin tahu yang besar. Aku tahu, dari tatapan wajah kalian, ada banyak sekali pertanyaan yang hendak kalian sampaikan.

" Kami bertiga saling menatap.

"Sepanjang yang kuketahui, wahai, pernah sekali terjadi perjalanan yang dilakukan penduduk Klan Bulan dan Klan Matahari ke Klan Bintang. Mereka membawa misi sangat penting, berbeda dengan kalian yang hanya bertualang," Faar meletakkan tongkatnya. Kini tongkat panjang itu mengambang lima senti dari atas lantai, berdiri tegak di sebelah kursi.

"Akan kuceritakan sesuatu, setidaknya yang berhasil diingat orang tua ini.

Aku menatap wajah Faar, menunggu dengan sabar. Ali sebaliknya. Dia hendak mendesak, tapi aku lebih dulu menginjak kakinya.

"Dua ribu tahun lalu, ada sebuah peristiwa besar di Klan Bulan. Seorang bayi yang gagah dan tampan lahir, putra dari pemimpin Klan Bulan. Betapa besarnya kekuatan anak ini. Saat tumbuh remaja, beranjak dewasa, tambah mengagumkan. Dia haus pengetahuan, ingin belajar lagi, lagi dan lagi. Setelah tidak ada lagi yang bisa mengajarinya di Klan Bulan, pemuda ini memucuskan berkelana. Dia mendatangi setiap sudut dunia paralel, dan berhasil membuka sekat ke dunia lain. Dia mendatangi Klan Matahari, Klan Bumi, dunia Makhluk Rendah, bahkan hingga Klan Bintang yang berada di titik jauh. Tidak terbayangkan betapa jauh perjalanan yang pernah dia lakukan.

"Semua berjalan lancar, karena pemuda ini baik hati dan penyayang. Tidak ada yang perlu dicemaskan dari orang baik hati, bukan? Hingga ketika usianya dua puluh tahun, terbetik kabar, ibunya mendadak meninggal dunia, tanpa sebab yang jelas. Pemuda ini bergegas kembali, hanya untuk menemukan pusara ibunya. Nestapa tebal di wajahnya. Ayahnya memeluknya, berbisik tentang kesedihan. Itu kabar dukacita bagi seluruh negeri. Pemuda ini menjadi piatu.

"Dua tahun setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang gadis jelita, yang kecantikannya terkenal di seluruh negeri. Tak lama setelah pernikahan itu berlangsung, lahirlah si kecil adik tirinya. Pemuda gagah ini sudah kembali mengunjungi banyak tempat. Dia tahu kabar bahagia dari ayahnya yang kembali menikah, juga tahu kelahiran adik tirinya, tapi dia sibuk belajar untuk melupakan kesedihan mengingat ibunya.

"Usia empat puluh tahun, pemuda ini telah menjadi seseorang yang begitu lengkap. Wajahnya gagah, perawakannya memesona, ilmunya tinggi, dan kekuatan yang dimilikinya tiada tara. Dia putra pertama, maka bahkan tanpa semua kehebatan itu, dia jelas lebih berhak mewarisi apa pun yang dimiliki ayahnya, termasuk mahkota raja.

"Tapi apa yang terjadi. Ayahnya yang sepuh, sakit-sakitan, justru menunjuk adik tirinya yang masih remaja.

Keputusan yang mengejutkan seluruh negeri. Pemuda ini datang menghadap ayahnya, meminta penjelasan.

Ayahnya menggeleng, mengatakan bahwa keputusan itu telah bulat. Ayahnya telah memilih pengganti terbaik.

"Maka pemuda ini mengangguk. Dia menerima seluruh keputusan ayahnya, lalu memutuskan pergi. Pemuda ini sekali lagi pergi meninggalkan negeri, menetap di tempat jauh, dan sejak itu semua orang memanggilnya si 'Tanpa Mahkota'.

" Faar berhenti sebentar. Semakin lama dia menggunakan bahasa Klan Bulan, aksennya semakin baik, susunan kalimatnya tidak lagi tertukar-tukar.

"Wahai, pemuda ini tidak pernah tahu bahwa ibu cirinya yang tamak dan ambisius menyusun semua rencana jahat. Dulu, ibu tirinyalah yang membunuh ratu yang sah agar bisa menikah dengan Raja. Dia juga kemudian membisiki suaminya yang telah tua, sakit-sakitan, dan tidak cakap mengambil keputusan, dengan bisikan racun, sehingga suaminya menjadi buta penilaian, menjadikan si bungsu yang tidak becus dalam hal apa pun sebagai raja. Lihatlah, adik tirinya masih persis seperti remaja manja, berada dibawa ketiak ibunya. Maka sejak hari kematian ayahnya, kerajaan resmi dipimpin oleh adik tirinya.

"Si Tanpa Mahkota memutuskan hidup tenang di tempat jauh, menekuni ilmu pengetahuan. Pengikutnya banyak, orang yang menyatakan kesetiaan padanya terus bertambah. Apalagi dengan keadaan negeri yang kacau-balau karena ibu cirinya justru lebih asyik hidup bermewah-mewah dan memaksa penduduk membiayai kemewahan tersebut. Hanya soal waktu, orang-orang semakin mencintai si Tanpa Mahkota, dan sebaliknya, membenci Raja. Melihat situasi itu, ibu cirinya merasa terancam, mahkota anaknya dalam posisi berbahaya. Jahat sekali hati yang dimiliki wanita jelita itu. Maka dia melepaskan berita bahwa si Tanpa Mahkota dan pengikutnya adalah pengkhianat besar, orang tamak yang haus kekuasan, penjahat yang menekuni pengetahuan gelap dari dunia lain.

"Pertempuran pecah di seluruh negeri. Raja dan ibunya yang tamak mengirim pasukan untuk menangkap si Tanpa Mahkota. Segala cara dilakukan oleh ibunya. Tetapi mereka keliru, kekuatan si Tanpa Mahkota lebih besar daripada yang diduga. Dia justru berhasil menaklukkan istana, mengambil alih kerajaan.

Mereka terusir, mengungsi.

"Setelah berbulan-bulan tinggal di tempat pengungsian, ibunya yang tamak mengirim anaknya untuk berdamai, meminta pengampunan. Adik cirinya datang ke istana menyerahkan diri. Namun, itu dusta! Jebakan maut. Ketika si Tanpa Mahkota hendak memeluk adiknya, tanpa rasa malu, adiknya mengangkat Buku Kematian, membuka sekat menuju petak kecil yang disebut 'Penjara Bayangan di Bawah Bayangan'.

Ratu yang jahat berseru licik, 'Kau juga akan mati, seperti ibumu yang dulu mati dibunuh.

' Si Tanpa Mahkota terseret dalam lubang itu, menutup, dan dia berhasil disingkirkan selama-lamanya.

"Malang sekali nasib si Tanpa Mahkota. Dia justru baru tahu fakta bahwa ibunya dibunuh oleh ratu jahat persis ketika dia dikirim ke penjara. Pemuda yang begitu dicintai oleh rakyat, kalah oleh pertikaian politik yang licik dan mematikan.

"Aku ingat sekali kisah ini, disampaikan oleh ibuku lewat nyanyian, lagu-lagu pengantar tidur saat aku masih kecil.

" "Lihat, aduh lihatlah.

Itu si Tanpa Mahkota berdiri gagah Dia adalah pemilik kekuatan paling hebat Menjelajah dunia tanpa tepian Untuk tiba di titik paling jauh Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang Ada dalam genggaman tangan.

" Aku dan Ali saling menatap. Kami juga tahu lagu yang dinyanyikan Faar. Lagu itu pernah kami dengar.

"Kian Bulan berada dalam kekacauan luar biasa sejak si Tanpa Mahkota dikirim ke penjara, dan itu menjalar ke Klan Matahari. Ratu yang serakah mulai mengirim pasukan menyerang dunia paralel lainnya.

Dalam situasi genting, tetua dua klan mengirim satu rombongan, yang terdiri atas petarung terbaik Klan Bulan dan Klan Matahari untuk pergi ke Klan Bintang, mencari solusi terbaik agar keseimbangan di dunia paralel kembali. Ibuku salah satu anggota rombongan tersebut.

"Apa sebenarnya yang dicari rombongan? Itu seharusnya menjadi misi yang sederhana. Ibuku hanya tahu, kami mencari sekutu baru melawan Ratu yang jahat. Dengan semua klan bersatu, mereka memiliki kesempatan mengalahkan Ratu dan pendukungnya. Tapi sebagian rombongan memiliki misi berbeda.

Mereka berusaha mencari jalan menuju Penjara Bayangan di Bawah Bayangan, membebaskan si Tanpa Mahkota. Mereka percaya, dengan kekuatan besarnya, hanya si Tanpa Mahkota yang bisa menyelesaikan semua masalah. Dia dihormati oleh penduduk empat kian sekaligus.

" "Penjara Bayangan di Bawah Bayangan ada di Klan Bintang?" Ali memotong.

Faar mengangguk takzim. "Ya, penjara itu ada di Klan Bintang. Saat Buku Kematian membuka dimensi baru, ruangan itu masih ada di bumi. Jika ruangan itu tidak ditemukan di dunia paralel permukaan bumi, maka kemungkinan besar ada di perut bumi. Si Tanpa Mahkota dikirim ke tempat yang dia tidak bisa membebaskan diri walaupun betapa besar kekuatan miliknya.

" Aku terdiam, mendengar fakta dua ribu tahun lalu sudah pernah ada misi untuk membebaskan si Tanpa Mahkota, juga Ali di sebelahku. Entah kenapa, dalam setiap petualangan kami, ide membebaskan si Tanpa Mahkota selalu muncul, seolah itu jalan keluar atas setiap masalah.

"Kalian sudah tahu cerita ini?" Faar bertanya, menyadari ekspresi wajah kami.

Aku dan Ali mengangguk.

"Wahai..." Faar menatap kami, tercengang. "Kisah ini sedikit sekali yang tahu, lebih banyak yang menganggapnya dongeng sebelum tidur. Siapa yang memberitahu kalian?" "Ada tetua Klan Bulan yang pernah menceritakannya kepada kami. Umurnya juga ribuan tahun," aku menjelaskan.

Faar mengangguk. "Tentu saja, dengan sernua petualangan yang kalian lakukan, bertemu banyak orang, kalian pasti pernah mendengar kisah ini.

" "Apakah rombongan itu berhasil menemukan Penjara Bayangan di Bawah Bayangan?" tanya Ali.

Faar menggeleng. "Akan kujelaskan satu hal sebelum membahas soal itu..." Wanita tua itu diam sejenak, memperbaiki posisi duduk. Ali lagi-lagi hendak mendesak. Aku menginjak kakinya. Tidak sopan mendesak seseorang yang berusia ribuan tahun.

"Ribuan tahun lalu, posisi Klan Bintang tidak semisterius yang dikira. Banyak tetua bijak yang tahu bahwa Klan Bintang berada di perut bumi. Awalnya, hanya ada tiga kian di dunia paralel, yaitu Bumi, Bulan, dan Matahari. Mereka tinggal di permukaan bumi secara simultan, tanpa mengganggu satu sama lain, dengan bentang alam yang berbeda. Tapi mereka tetap tinggal di bumi yang sama, dengan perut bumi yang sama.

"Berapa usia planet bumi? Miliaran tahun. Apakah manusia benar-benar menguasai bumi? Tidak juga.

Alam yang lebih menguasai bumi. Manusia hanya mencontoh alam sekitar agar bisa bertahan hidup, tapi mereka tetap sangat tergantung dengan siklus alam, Kabar buruk bagi manusia, secara alami, alam punya cara menjaga keseimbangan. Salah satunya lewat gunung meletus.

"Miliaran tahun usia bumi, tercatat banyak sekali gunung meletus yang menghabisi seluruh permukaan bumi. Ketika sebuah gunung besar meletus, dampaknya langsung ke tiga kian sekaligus. Kota-kota luluh lantak, peradaban disapu debu, belum lagi lahar panas dan ombak tinggi lautan. Itu bencana besar.

Mengerikan. Tidak ada kian yang bisa selamat, semaju apa pun teknologi mereka.

"Belajar dari berbagai bencana itu, orang-orang paling pintar di Klan Bulan dan Klan Matahari mulai mencari cara menaklukkannya. Mereka mengeruk tanah, membuat lorong-lorong panjang, bahkan mampu membangun kota di perut bumi. Mereka mempelajari kemampuan hewan beradaptasi. Bagaimana seekor cacing yang lunak ternyata justru bisa membuat lubanglubang panjang di bawah tanah. Hei, itu seperti antilogika, bukan? Bagaimana semut bisa membuat sarang begitu menakjubkan di dalam tanah, dengan arsitektur yang rumit dan kokoh. Hanya soal waktu mereka bisa membuat langit artifisial, matahari buatan, serta membangun siklus air dan tenaga listrik. Peradaban baru tumbuh di perut bumi. Itulah awal mula Klan Bintang.

"Wahai, jangan lupakan tujuan awal mereka, mengendalikan aktivitas gunung meletus. Itulah tugas terbesar mereka. Bagaimana caranya? Aku bukan ilmuwan, jadi rumit menjelaskannya. Tapi sederhananya, mereka melakukan rekayasa agar energi bumi bisa dilepaskan sedikit demi sedikit. Kita tidak bisa melihatnya, tapi sebenarnya ada pasak-pasak raksasa di perut bumi, gununggunung berapi itulah pasaknya. Jika tidak ada pasak, kulit luar bumi akan bergerak semaunya, tidak stabil.

"Ilmuwan Klan Bintang menjaga pasak-pasak itu secara saksama. Lewat pengalaman ribuan tahun, mereka memahami tabiat alam. Bumi terus melepaskan energi, lempeng terus bergerak. Agar tidak merusak, mereka melepaskan energi bumi secara bertahap lewat gempa atau gunung meletus yang masih bisa ditoleransi agar terjaga keseimbangan, Jika gempa besar terjadi, bukan hanya peradaban di permukaan yang binasa, Klan Bintang lebih dulu hancur lebur. Gempa skala kecil hingga sedang yang terjadi berkalikali, itu jauh lebih baik daripada satu gempa mematikan yang menghabisi semuanya.

"Dua ribu tahun lalu, saat ibuku tiba dengan rombongannya, Kian Bintang telah mencapai kemajuan teknologi mengagumkan. Mereka punya ibu kota dengan luas ratusan kilometer persegi dan langit-langit menjulang. matahari bersinar lembut sepanjang waktu, hujan bisa diturunkan kapan pun. Rombongan yang susah payah melewati lorong-lorong kuno itu tersesat ke ruangan-ruangan mematikan, berseru takjub saat tiba di ibu kota peradaban Klan Bintang. Hilang sudah semua penat. Ibuku disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk kota, karena leluhur mereka dulu juga datang dari Klan Bulan atau Klan Matahari. Para ilmuwan terbaik.

"Penduduk Klan Bintang bertanya kabar kian yang telah lama mereka tinggalkan, apakah situasi di permukaan bumi baik-baik saja. Rombongan justru membawa kabar buruk, situasi genting, pertempuran besar pecah di dua kian, yang kapan pun bisa tiba di Klan Bintang. Rombongan justru datang untuk meminta bantuan.

"Percakapan serius melanda Klan Bintang. Sukacita dan antusiasme menyambut rombongan berubah menjadi perdebatan panjang. Pemimpin Klan Bintang terpecah dua: satu kelompok ingin membantu, satu kelompok yang sama kuatnya menolak ide tersebut dan mengusulkan menutup seluruh mulut lorong agar masalah di permukaan tidak masuk ke perut bumi. Di tengah perdebatan penduduk ibu kota Klan Bintang.

misi sederhana itu seketika berubah jadi sangat rumit, ketika separuh rombongan diam-diam meneruskan perjalanan. Berbekalkan peta tua milik Klan Bintang, mereka berusaha mencari lorong yang menuju Penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Lorong-lorong misterius.

" Faar terdiam sejenak, menghela napas panjang. Mata tuanya terlihat redup, dipenuhi kesedihan. Dia memperbaiki sorban besar di kepala.

"Apakah rombongan berhasil menemukan penjara itu?" Ali makin penasaran.

Faar menatap kami. "Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Saat perdebatan semakin meruncing, saat separuh rombongan sudah jauh sekali menelusuri lorong-lorong misterius, salah satu pasak bumi terabaikan. Atau tepatnya, mungkin saja ada yang sengaja mengabaikannya. Atau ada yang sengaja meledakkannya dengan tujuan tertentu. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi. Energi bumi yang selama ini dilepas terkendali, keluar dengan tenaga tidak terkira.

Persis seperti bendungan besar yang jebol, menjadi air bah mematikan. Pasak bumi itu runtuh, sebuah gunung purba meletus. Tiga kian permukaan langsung tersapu habis. Kota-kota di Klan Bulan, Matahari, Bumi, remuk. Lebih serius lagi akibatnya di peradaban Klan Bintang. Seluruh kemajuan ribuan tahun kembali ke titik awal.

"Orang tua ini tidak tahu apakah itu kejadian yang harus disyukuri, atau bencana yang mematikan.

Kegentingan di Klan Bulan dan Matahari seketika selesai dengan sendirinya. Ratu yang jahat itu mati bersama anak dan pendukungnya saat bencana itu terjadi. Tapi harganya amat mahal. Sembilan dari sepuluh penduduk bumi tewas, sedikit sekali yang selamat. Ibuku selamat dari gunung meletus. Dia menyaksikan ibu kota Klan Bintang runtuh, semua kemajuan pengetahuan tersapu dalam semalam.

"Apa yang bisa mereka lakukan sekarang? Manusia adalah makhluk bertahan hidup. Mereka mulai membangun peradaban baru, setapak demi setapak kembali bangkit. Seribu tahun berlalu, peradaban Klan Bintang kembali pulih. Saat aku lahir, ibuku memutuskan meninggalkan kota, memilih membangun perkampungan di lembah ini. Maka, di sinilah aku tinggal dengan damai. Menyimpan kisah-kisah lama itu, berusaha mengingat bahasa Klan Bulan. Tidak ada lagi penduduk Klan Bintang yang tertarik membuka pintu lorong ke klan lain. Mereka mengunci seluruh lorong, menghapus semua catatan tentang Klan Bintang. Sejak hari itu, cerita tentang Klan Bintang dianggap hanya legenda, tidak ada lagi yang tahu persis di mana Klan Bintang berada.

"Saat aku bersiap melupakan semua masa lalu itu, bersiap menutup buku, hari ini aku bertemu kalian," Faar tersenyum lebar. Gurat kesedihan lenyap dari wajah tuanya. "Tiga remaja dari tiga kian datang bertualang dengan rasa ingin tahu yang besar sekali. Aku seketika merasa muda lagi. Ini menakjubkan.

Jangan lihat fisikku. Lihat semangatku. Aku merasa baru berumur belasan tahun, sama seperti kalian.

Boleh aku ikut bertualang bersama kalian?" Ali refleks menggeleng.

Faar terkekeh, mengangkat kedua tangannya, kemudian bernyanyi dengan irama dongeng pengantar tidur, tapi kali ini diubah liriknya.

"Lihat, aduh lihatlah.

Ini tiga petualang melaju gagah Mereka berasal dari klan yang berbeda Menjelajah dunia tanpa tepian Untuk tiba di titik paling jauh Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang Ada dalam genggaman tangan."
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊