menu

Matahari BAB 12

Mode Malam
BAB 12
PERSIS sedetik lagi taring itu mencabik tubuhku, dari balik lorong kuno yang hampir terbuka seluruhnya melompat keluar dua sosok tinggi. Tangan mereka menggenggam sesuatu yang berkilauan. Gerakan mereka cepat. Sebelum aku mengetahui dengan jelas, dua kelelawar yang hendak menyerangku terbanting ke lantai.

Salah satu dari dua sosok itu berseru dalam bahasa yang tidak kumengerti. Menyusul dari belakang mereka, dua orang yang lebih kecil, membawa tabung panjang seperti terompet. Tabung itu diacungkan ke atas, diletakkan di pundak temannya, satu temannya meniupnya kencang-kencang. Aku tidak mendengar suara yang keluar dari tabung itu, tapi seperti ada tangan tak terlihat, ribuan kelelawar di atas kami tersibak lebar, kemudian berbalik arah, terbang menjauh, Termasuk kawanan kelelawar yang mengejar ILY. Kelelawar-kelelawar itu berbelok arah, kembali terbang ke langit-langit ruangan.

Salah satu sosok tinggi membantuku berdiri. Dia mengenakan pakaian gelap, berbahan tebal, menutupi seluruh tubuhnya. Awalnya aku mengira itu sejenis kulit, tapi karena "kulit" itu tidak menutup wajahnya, aku tahu itu pakaian--dan dia seorang manusia, sama seperti kami. Aku juga tahu benda berkilau yang mereka pegang untuk menyerang kelelawar tadi adalah tombak panjang. Mungkin sama seperti tongkat perak Pasukan Bayangan Klan Bulan, tapi yang ini berbentuk pipih, lebih panjang, dan lebih terang.

Sosok tinggi itu berseru-seru. Aku tidak tahu bahasa yang dia gunakan, tapi aku tahu apa maksudnya. Dia menyuruhku bergegas masuk ke lorong. Kapan pun kelelawar bisa kembali menyerang. Terompet yang ditiup temannya hanya menahan serangan kelelawar. Ribuan kelelawar masih memenuhi langit-langit padang kristal, berputar-putar menunggu.

Aku berdiri dan menggeleng. Aku harus menghancurkan sisa tiang kristal agar kapsul kami bisa melintas.

Sebelum sosok itu berhasil mencegahku, tanganku terhantam ke depan, dengan kekuatan penuh. Suara dentum terdengar, tiang kristal terakhir langsung runtuh.

Orang yang membantuku berdiri berteriak-teriak dengan wajah marah. Juga tiga temannya. Mereka menatapku tidak percaya. Lubang lorong terbuka. Ali yang bisa melihatnya dari layar kapsul segera menekan tombol, kapsul perak melesat turun, pintunya terbuka.

Tubuhku menghilang, kemudian muncul di dalam kapsul perak.

ILY segera memasuki lorong kuno, melintas di atas kepala empat orang yang menyelamatkan kami.

"Siapa mereka?" tanya Ali.

"Aku tidak tahu. Yang pasti mereka telah membantuku, tapi itu bisa diurus nanti-nanti.

" Aku bergegas duduk di lantai kapsul, menurunkan Seli dari kursi. Aku harus menolong Seli. Sahabatku itu masih pingsan. Aku berkonsentrasi penuh, tanganku mengirimkan rasa hangat. Kemampuan ini, entah sejak kapan aku menguasainya, keluar begitu saja. Tapi kemampuan ini muncul pada saat yang tepat, aku bisa melakukan terapi penyembuhan seperti yang dilakukan Av.

Seli berangsur siuman, Matanya mengerjap-ngerjap.

"Mereka mengikuti kita, Ra!" Ali berseru.

"Kelelawar tadi?" "Bukan. Empat sosok itu.

" Aku berdiri, menoleh ke belakang, Ali benar, empat orang yang muncul tiba-tiba di padang kristal melesat terbang di belakang kapsul.

"Mereka sepertinya menyuruh kita berhenti, Ali!" Aku memperhatikan gerakan tangan.

"Aku tidak mau berhenti, Ra. Mereka terlihat marah," Ali menggeleng, justru menambah kecepatan.

"Berhenti, Ali! Mereka telah membantu kita tadi.

" "Astaga, Ra. Mereka mengacungkan senjata. Aku tidak mau berhenti.

" ILY mendesing, melintasi lorong kuno. Di belakang kami, dari jarak sepuluh meter, dua dari empat orang yang mengejar telah mengacungkan tongkat panjang.

"Apa yang terjadi, Ra?" Seli beranjak duduk di kursi.

Belum sempat aku menjawab, salah satu dari pengejar kami terlihat melemparkan sesuatu, sebuah benda kecil seperti bola kasti. Persis bola itu mengenai kapsul perak, dentuman kencang terdengar. ILY mendadak kehilangan tenaga listrik. Layar kapsul padam, juga lampu-lampu panel. Ali kehilangan tuas kendali. Kapsul perak yang kami tumpangi limbung.

"Pegangan, Ra! Seli! Kita akan jatuh!" Ali berseru.

Seluruh lampu ILY padam total. ILY terbanting ke bawah, dan seperti kelereng, ILY menggelinding tidak terkendali. Aku berpegangan, sabuk pengaman mengunci posisi duduk kami agar tidak terlempar menghantam dinding kapsul, tapi tetap saja kami seperti menaiki wahana fantasi yang bisa berputar 360 derajat, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Kondisi Seli yang sebelumnya membaik, kembali buruk. Dia mual, nyaris muntah.

Dua orang yang mengejar kami berhasil menyusul. Mereka terbang di atas kapsul, menjulurkan tongkat panjang. Dari ujung tongkat keluar jaring besar. Mereka menangkap ILY. Gerakan kapsul perak yang menggelinding terhenti. ILY kembali mengambang, tapi kini di bawah kendali mereka.

***
 Setengah jam berlalu.

"Apakah mereka penduduk Klan Bintang?" Seli berbisik, duduk di lantai kapsul meluruskan kaki.

Wajahnya masih pucat, tapi dia baik-baik saja.

"Aku tidak tahu.

" Empat sosok itu terus membawa kami melewati lorong kuno. Dua sosok yang lebih pendek terbang di depan kapsul, dua lagi yang tinggi memegang tongkat panjang dengan jaring membungkus ILY, terbang di samping kapsul. Tongkat panjang itu pastilah senjata serbaguna, lebih maju dibanding tongkat pasukan Klan Bulan.

"Apa yang mereka lakukan kepada ILY? Kenapa kapsul kita tidak berfungsi?" Seli kembali berbisik, kali ini bertanya kepada Ali.

"EMP," Ali menjawab pendek.

"EMP? Eh, bukannya EGP?" Seli berkata polos.

Ali menatap tidak percaya wajah naif Seli. "EMP, Seli! Electromagnetic pulse.

" Sejujurnya, kondisi kami payah sekali. Tenagaku nyaris habis setelah bertempur melawan kelelawar. Ali juga lelah setelah dikejar kelelawar di langit-langit ruangan. Perut kami seolah habis diaduk-aduk setelah kapsul terguling di sepanjang lorong. Tapi mendengar kasalahpahaman sederhana Seli soal EMP, kami jadi tertawa. Seli juga ikut tertawa, menyadari bahwa dia terlalu tegang. Istilah itu bahkan sebenarnya tidak lagi familier dengan remaja seusia kami. Itu menjadi tren saat orangtua kami remaja.

"Mereka memadamkan semua perangkat listrik kapsul kita dengan EMP, Seli, gelombang elektromagnetik.

Bola kecil yang mereka lemparkan ke kapsul pastilah granat EMP," Ali menjelaskan.

"Apakah mereka berniat jahat?" "Entahlah. Yang pasti mereka menangkap kita.

" Aku menggeleng. "Jika mereka berniat jahat, mereka tidak akan susah-susah menolongku di padang kristal.

Mereka juga mengusir kelelawar yang mengejar ILY dengan tabung terompet. Tapi mereka terlihat marah saat aku merontokkan tiang kristal terakhir.

" Kapsul perak lengang sejenak. Tanpa listrik yang menghidupkan pendingin, suhu di dalam kapsul mulai panas. Tubuhku berkeringat.

"Tabung terompet itu ide brilian," Ali bergumam. "Benda itu mengeluarkan frekuensi ultrasonik. Telinga manusia tidak bisa mendengarnya, tapi bagi kelelawar suara tersebut sangat menyiksa, membuat mereka terbang menjauh. Siapa pun orang-orang ini, mereka jelas datang dari peradaban sangat maju.

" "Apakah mereka akan membawa kita ke Klan Bintang? Kota mereka?" Seli menatap ke luar kapsul yang remang. Hanya cahaya dari tongkat panjang yang menerangi lorong. "Bagaimana mereka bisa terbang di dalam lorong?" "Sepatu mereka, Seli. Itu persis seperti yang dulu ingin kubuat. Sepatu mereka lebih maju dibanding sepatu buatan Ilo.

" Jika saja situasinya lebih baik, ini amat seru, melihat orang-orang yang bisa terbang. Mereka mengambang dengan mudah di udara. Dan yang lebih penting lagi, setelah 24 jam lebih melewati lorong kuno, bertemu dengan manusia membuat perasaan kami lega. Hipotesis Ali setidaknya sebagian benar, ada manusia di perut bumi. Lorong ini tidak hanya dihuni ular raksasa atau kawanan kelelawar ganas.

Satu jam berlalu dari lokasi padang kristal, empat sosok itu menghentikan gerakan. Salah satu dari mereka terbang mendekati dinding lorong, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian, seperti garpu cala.

Kemudian dia mengetuk dinding lorong dengan irama tertentu. Suaranya memantul terdengar jelas, bergema, kemudian hilang, senyap.

Aku dan Seli saling menatap. Apa yang sedang terjadi? Bukankah di sekitar kami tidak ada apa pun? Hanya lorong. Kenapa orang-orang ini berhenti? Orang tersebut kembali mengetuk dinding dengan irama yang sama.

Kembali lengang. Kami semua menunggu.

Satu menit, suara gemeretuk berat akhirnya terdengar. Seperti ada bongkahan batu besar yang bergerak.

Semakin kencang. Debu beterbangan dari dinding lorong, juga kerikil kecil berjatuhan. Aku bisa melihatnya, dinding lorong di depan kami bergeser perlahan, dan sebuah lubang baru muncul di sana.

Dua sosok tinggi yang memegang jaring membawa kapsul kami masuk ke dalam lubang itu, disusul dua lainnya. Sosok yang memegang garpu tala kembali mengetuk dinding, irama panjang memantul. Irama garpu cala itu tampaknya kode jarak jauh. Tak lama kemudian, gemeretuk bebatuan terdengar lagi. Pintu bergeser menutup, seperti tidak ada bekas pintu di sana.

Kami telah berpindah lorong.

Aku menatap Ali. Si genius itu bahkan tidak menduga ada lorong di balik lorong. Ali mengusap rambutnya yang berantakan. Lorong baru ini sama sekali tidak terlihat di pemindai ILY, sangat tersembunyi.

Empat sosok itu kembali terbang, mengangkut ILY.

***
 Setengah jam lagi berlalu.

"Ini menyebalkan. Aku tetap tidak bisa menghidupkan listrik ILY. Jaring yang menyelimuti kapsul secara konstan mengirim gelombang EMP.

" Ali bersungut-sungut, mengempaskan punggung di kursi kemudi. "Kita tidak bisa melakukan apa pun, Ra.

" Aku mengembuskan napas perlahan. Sejak tadi Ali memang berusaha mencari cara menyalakan listrik ILY.

Kami sudah seperti daging rebus, kepanasan.

Kami terkunci total di dalam ILY, tidak bisa ke mana-mana, apalagi melawan. Aku dan Seli bisa saja menjebol dinding kapsul, tapi itu berarti merusak kendaraan bertualang ke Klan Bintang. Kami juga tidak tahu seberapa besar risiko melawan empat orang ini. Seandainya pun kami bisa menang, tetapi tanpa ILY, bagaimana kami bisa melewati lorong-lorong? "Hei!" Seli mengetuk dinding kaca.

Masih dalam posisi terbang, salah satu sosok itu mendekat.

"Bisakah kalian membiarkan kami menyalakan pendingin? Atau membuka pintu kapsul?" Sosok itu menatap tajam, tanpa ekspresi, kemudian kembali menjauh.

Seli mencak-mencak karena tidak diacuhkan. Dia sudah tiga kali berusaha bicara dengan orang yang menangkap kami, tapi tidak ada respons sama sekali.

"Mereka tidak mengerti bahasa kita, Seli," Ali bergumam.

"Tapi mereka seharusnya mengerti gerakan tanganku.

" Seli memperagakan gaya orang kepanasan, tercekik, menunjuk-nunjuk pintu kapsul.

Ali tertawa. Aku yang duduk bersandar dinding kapsul juga tertawa.

"Empat orang itu pendiam sekali. Sejak tadi mereka bahkan tidak terlihat bicara satu sama lain.

" "Mungkin mereka sedang sakit gigi, Seli. Di Klan Bintang, gigi penduduknya jelek-jelek, hitam-hitam.

" Ali sembarang berkomentar.

Aku kembali tertawa.

Empat jam berlalu lagi. Meskipun layar kapsul padam, aku bisa berhitung, sekarang pukul dua belas malam. Seli yang gerah dan uring-uringan memutuskan tidur. Ali meringkuk di lantai kapsul. Aku masih terjaga, dengan mata tertutup separuh, menahan kantuk. Saat aku benar-benar hampir jatuh tertidur, sudut mataku menangkap cahaya terang di ujung lorong, juga gemercik air.

Kepalaku terangkat. Empat sosok di sekitar kapsul memperlambat laju terbang.

"Bangun, Ali, Seli!" Aku menggerak-gerakkan bahu kedua temanku.

"Apakah empat orang menyebalkan itu sudah pergi?" Seli menguap.

Aku tidak menjawab, perhatianku tertuju ke depan. Suara gemercik itu semakin kencang. Apa itu? Apakah itu suara hewan buas? Empat sosok yang membawa ILY terlihat biasa saja, terus terbang menuju arah cahaya dan sumber suara gemercik. Jika itu berbahaya, mereka pasti sudah siap-siap bertarung.

Setengah menit berlalu, kapsul kami yang terbungkus jaring akhirnya keluar dari lorong gelap, disambut pemandangan spektakuler berikutnya.

Aku tidak pernah membayangkan akan ada tempat seperti ini di perut bumi, Ini pertama kali kami menyaksikan permukiman Klan Bintang. Aku menahan napas takjub, berdiri memegang kaca kapsul. Wajah Seli yang tadi tampak kesal kini ceria. Dia ternganga menatap ke depan. Juga Ali, kantuknya langsung hilang, digantikan bola mata berbinar-binar.

Lihatlah, kami persis terbang di atas hamparan lembah hijau. Sejauh mata memandang, terpampang hutan lebat dengan selimut kabut di bawah sana. Persis di sebelah lubang tempat kami keluar tadi, ada air terjun besar, sumber suara gemercik yang terdengar dari lorong. Air terjun itu membentuk sungai besar yang mengalir membelah hutan.

Aku mendongak, memandang langit biru. Cahaya matahari pagi terasa hangat, awan-awan putih berarak.

Apakah kami sudah kembali ke permukaan bumi? Tapi bagaimana mungkin? Kami jelas masih di dalam perut bumi. Dinding-dinding tinggi terlihat memagari lembah hijau itu. Ini ruangan berikutnya di kerak bumi, luasnya kurang-lebih sepuluh kali sepuluh kilometer, dengan tinggi juga tidak kurang dari sepuluh kilometer. Sempurna kubus.

Empat orang yang menangkap kami terus membawa ILY menuju pusat lembah, melewati hamparan persawahan. Persis seperti sawah-sawah di Klan Bumi, atau pedalaman Klan Matahari. Di tengah petakpetak sawah, berdiri sekitar seratus bangunan dari kayu, dengan jalan-jalan setapak, tersusun rapi, simetris.

Aku menatap sekitar lebih saksama. Seluruh lembah ini juga simetris. Lihatlah, di kejauhan, di dinding satunya, juga terdapat air terjun tinggi, juga sungai besar. Jika lembah ini dilipat, maka dua sisinya akan cocok satu sama lain, seperti memantulkan cermin.

ILY diturunkan perlahan-lahan di lapangan tanah yang telah ramai dikerubungi penduduk. Mereka sama ingin tahunya seperti kami bertiga. Jaring yang menyelimuti ILY dilepas.

"Kita ada di mana, Ra?" tanya Seli penasaran.

"Tidak salah lagi, ini perkampungan Klan Bintang," Ali yang menjawab, "Semoga mereka tidak segalak penduduk di Klan Matahari dulu.

" Salah satu pemegang tongkat panjang maju, mengetuk dinding kapsul.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" Aku menelan ludah. Mereka jelas menunggu kami keluar.

"Tolong buka pintunya, Ali," ujarku.

Ali menurut. Tenaga listrik ILY pulih sejak jaring dilepas. ILY mengambang setengah meter di atas permukaan lapangan. Ali menekan tombol, pintu kapsul terbuka pelan.

Aku turun lebih dulu, disusul Seli dan Ali.

Puluhan penduduk, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mengerubungi kami. Mereka ditahan oleh dua sosok yang memegang tongkat panjang agar tidak terlalu dekat dengan kami. Mereka berseru-seru dalam bahasa yang tidak kumengerti. Dari jarak sedekat ini, aku bisa memperhatikan pakaian mereka, Aku kira itu "kulit", tapi mungkin seperti inilah penduduk lembah ini berpakaian, menempel, menyatu menutupi seluruh tubuh hingga leher. Bentuk dan desain pakaian mereka tidak berbeda dengan penduduk kota Klan Bulan. Mereka tidak mengenakan alas kaki, tepatnya pakaian itu menutup hingga ke ujung jari kaki mereka.

"Apa yang mereka bicarakan?" Seli berbisik.

"Mereka mengucapkan Selamat datang kepada kita, Seli," Ali balas berbisik.

"Selamat datang?" "Ya. Sekarang mereka bilang, Senang bertemu kalian, wahai penduduk Klan Bumi," Ali kembali berbisik, berlagak menjadi penerjemah bahasa asing. "Jangan khawatir, penduduk Klan Bumi, kami tidak akan memakan kalian.

" "Kamu serius, Ali?" Wajah Seli tampak takjub.

Aku menyikut Ali. Tentu saja Ali bergurau. Dia selalu saja santai.

Aku mendongak, sedikit silau. Segera kutudungi mataku dengan telapak tangan. Di atas kami ada matahari.

Ini matahari pagi yang menyenangkan. Cahayanya menyiram lembut. Angin sepoi-sepoi juga bertiup, memainkan anak rambut.

Dua orang yang membawa tongkat panjang menyibak kerumunan, berseru dalam bahasa asing kepada kami, tapi aku bisa memahaminya. Mereka menyuruh kami mengikutinya. Aku mengangguk. Di bawah tatapan rasa ingin tahu penduduk, kami bertiga berjalan menuju rumah paling besar di perkumiman itu.

Beberapa anak berlarian di sebelah kami. Satu-dua tersenyum, melambaikan tangan. Wajah-wajah polos, satu-dua tertawa lebar. Aku merasa lebih nyaman. Penduduk lembah ini bersahabat.

Kami tiba di halaman depan sebuah rumah. Orang yang membawa tongkat panjang menunjuk ke atas. Aku sekali lagi mengangguk, menaiki anak tangga. Kami melintasi lantai kayu teras rumah. Rumah besar ini seperti rumah di pedalaman Klan Bumi--atau rumah perisrirahatan.

Ali berbisik di sebelahku. "Ra..." "Ada apa?" aku juga balas berbisik.

Dengan sudut mata, Ali menunjuk ke arah panel-panel canggih di tiang kayu, yang menyala berkedipkedip, juga di dinding, jendela, dan pintu.

"Jangan tertipu, Ra, bangunan ini tidak sesederhana penampilannya. Mereka punya teknologi.

" Ali benar. Bahkan lantai kayu berubah warna dengan sendirinya saat kami melintas. Seperti menuntun arah yang harus dituju. Aku menatap lantai kayu yang kami lewati. Entah di mana mereka menanam teknologinya, lantai ini juga bisa berubah warna.

Kami tiba di ujung lorong lantai pertama. Salah seorang dengan tongkat panjang mendorong daun pintu sebuah ruangan, menyuruh kami melangkah masuk ke dalam ruangan luas dengan kursi-kursi kayu yang disusun simetris. Setidaknya ada dua belas kursi yang berbaris berhadapan. Sepertinya kami telah tiba di tujuan, karena dari ujung barisan kursi, seseorang terlihat berdiri dan melangkah mendekati kami.

"Lhuar bhi-a-sa!" Orang itu berseru.

Aku terdiam, menatap orang yang mendekat. Hei, aku mengenali bahasanya, walaupun aksennya ganjil, patah-patah, seperti jarang digunakan. Aku tahu kalimat tersebut. Itu bahasa Klan Bulan.

"I-nhi lhuar bhi-a-sa khe-jhu-than, Dhatang shelamhat....
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊