menu

Matahari BAB 11

Mode Malam
BAB 11
PUKULsepuluh pagi--demikian informasi di layar kapsul.

Kami sudah empat jam meninggalkan persimpangan besar, melewati lorong landai.

Ali menghentikan kapsul, membuatnya mengambang di tengah lorong.

"Kenapa kita berhenti?" tanyaku.

"Perutku lapar," Ali menjawab pendek, berjalan santai ke kotak besar. "Kita sudah jauh sekali dari ularular itu. Kita sudah aman. Omong-omong, kamu tidak lapar, Ra?" Ali duduk di lantai kapsul.

Aku menggeleng. Siapa pula yang lapar setelah bertarung menghadapi ular-ular besar tadi. Aku masih tegang, mengawasi lorong dengan saksama.

"Ular-ular tadi membuat jadwal sarapan kita terganggu. Aku sedang diet ketat, Ra.

" "Diet?" Seli bertanya.

"Ya. Diet atlet, tidak boleh makan terlambat. Aku selalu mudah lapar sejak bergabung dengan tim basket sekolah.

" Ali meluruskan kakinya.

Aku menepuk dahi. Si genius ini entah sedang serius atau bergurau.

Seli ikut mengambil makanan, bergabung dengan Ali. Baiklah, aku juga berdiri dari kursiku.

"Bagaimana ular-ular itu bisa membaca pukulan petirku? Bahkan gerakan menghilang Raib?" Seli bertanya, sambil membuka bungkus kemasan.

"Itu tidak mengherankan.

" Ali menggerak-gerakkan kakinya.

"Oh ya?" Seli tertarik.

"Kebanyakan ular merasakan getaran udara melalui organ yang disebut membran typhani. Ular akan mendeteksi segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan menggunakan lidahnya yang bercabang. Itulah sebabnya mengapa ular sering menjulurkan lidah. Sebab lidah tersebut digunakan untuk menghimpun informasi melalui partikel udara," Ali menjelaskan dengan santai. "Tambahan lagi, ular-ular tadi terlalu lama tinggal di ruangan gelap. Indra mereka tumbuh berbeda dari makhluk permukaan. Lebih sensitif, lebih akurat, lebih mematikan. Mereka punya kemampuan mendeteksi, membaca arah petirmu.

Menghadapi mahkluk yang ribuan tahun hanya berteman gelap, menghilang di depannya juga tidak akan berguna.

" Seli mengangguk-angguk. Aku mengunyah rotiku tanpa berkomentar, Setiap kali Ali menjelaskan, aku tidak pernah tahu apakah dia memang menjawab dengan tepat atau hanya mengarang-ngarang. Tapi penjelasannya selalu masuk akal.

"Sebenarnya, serangan ular tadi membingungkan.

" Ali seperti memikirkan sesuatu. "Hewan itu sangat soliter, Mereka hidup sendiri, berburu sendiri, mati pun sendiri. Kita menemukannya berkelompok, juga menyerang bersama-sama, itu tidak mudah dipahami. Tapi entahlah, mungkin hewan-hewan raksasa Klan Bintang memiliki tabiat berbeda.

" "Apakah masih ada hewan-hewan besar lainnya, Ali?" Seli bertanya.

"Tentu saja ada. Ini klan dengan semua kemungkinan. Di sini semua hewan melata, yang hidup di dalam dan permukaan tanah, kemungkinan besar berukuran raksasa. Barangkali malah ada kecoak raksasa.

" "Kecoak raksasa?" "Ya. Kecoak sebesar mobil misalnya.

" Seli langsung jijik. Dia meletakkan rotinya.

Aku ikut melotot. Kesal karena Ali membahas kecoak saat kami makan.

"Tapi mungkin saja memang ada lho, Ra," Ali mengangkat bahu. Merasa tidak bersalah.

Ali memang suka mencari masalah. Dia pasti sengaja melakukannya. Sarapanku dan Seli berlangsung lebih cepat. Kami segera duduk di kursi, menunggu Ali menghabiskan rotinya.

Perjalanan dilanjutkan lima menit kemudian. ILY kembali mendesing, melesat di lorong landai. Lampu kuning keemasan ILY menerpa dinding lorong.

Prospek petualangan ini semakin berbahaya. Alat pemindai ILY tidak bisa bekerja maksimal, hanya bisa mendeteksi belasan kilometer ke depan. Kami tidak tahu berapa lama lorong landai ini berakhir.

"Apa yang menunggu kita di ujung lorong?" Seli bertanya, memecah lengang.

"Semoga perkampungan atau perkotaan Klan Bintang.

" "Bagaimana kalau ternyata ruangan dengan hewan liar lainnya?" "Sepanjang berada di dalam kapsul, kita aman, Seli. Hewan-hewan itu tidak bisa terbang mengeja?" Aku berusaha menenangkan Seli--sebenarnya lebih untuk meyakinkan diriku sendiri.

Seli mengangguk.

Kami benar-benar tidak tahu-beberapa jam berikutnya--ternyata terus terbang tidak menyelesaikan masalah.

***
 Pukul setengah enam sore--demikian penunjuk jam di layar kapsul.

Di permukaan bumi ratusan kilometer atas sana, matahari bersiap renggelam di kaki langit. Tapi tidak di lorong ini. Kami tidak melihat apa pun selain gelap dan lengang. Bahkan kami tidak bisa membedakan siang atau malam.

Setelah hampir seharian melintasi lorong landai, bergantian mengendalikan kapsul perak, mesin pemindai ILY yang bekerja keras menembus kerak bumi memperlihatkan sesuatu. Di depan kami, delapan kilometer lagi, kami akan keluar dari lorong. Ali memberitahuku ketika aku sedang membaca buku dari tabung kecil Av. Aku pun segera membangunkan Seli yang tertidur di kursi.

"Apakah ini juga kota kecil seperti pos sebelumnya?" Seli menatap layar, kantuknya langsung sirna.

Ruangan itu tidak berbentuk kubus. Proyeksi tiga dimensi ILY menunjukkan mangan besar tidak beraturan, dengan benda-benda lancip menghunjam ke atas. Gambar di layar tidak jernih, bergoyang. dengan garisgaris noise.

"Apakah benda-benda lancip itu bangunan Klan Bintang?" Ali menggeleng. "Aku tidak tahu. Semakin dalam posisi kita, semakin sulit memindai lapisan tanah, Seli.

Selain proteksi lorong-lorong semakin kuat, densitas lapisan bumi semakin tinggi, sulit ditembus. Tapi ruangan ini jelas berbeda dengan pos sebelumnya. Yang ini tidak simetris.

" Aku mengangguk, memperhatikan layar kapsul yang menunjukkan benda-benda lancip itu tidak hanya ada di bawah, tapi juga di atas, di dinding-dinding, membuat ruangan seperti dipenuhi duri landak. Ruangan ini hampir sepuluh kali lebih besar dibanding pos sebelumnya.

Lima belas menit berlalu, jarak kami sudah tinggal hitungan ratusan meter, Napas Seli lebih cepat, dia tegang sekali. Aku memegang lengannya.

"Terima kasih, Ra," Seli berkata pelan, wajah pucatnya berangsur sirna.

Aku tersenyum. Aku juga tegang. Menyemangati Seli mungkin membuatku ikut semangat.

"Sejak kapan kamu bisa melakukannya, Ra?" Ali bertanya.

Aku menoleh ke Ali. "Melakukan apa?" "Tanganmu bercahaya. Aku kira hanya Av yang bisa melakukannya. Memberikan rasa tenang kepada orang lain, penyembuhan.

" Ali menunjuk tanganku yang memegang lengan Seli.

Aku menelan ludah. Ali benar. Tanganku bercahaya terang. Hei, kenapa aku tidak tahu bahwa aku bisa melakukannya? Tetapi, aku tidak sempat memikirkan itu karena kapsul perak telah memasuki ruangan besar tersebut. ILY tidak muncul dari langit-langitnya--seperti di pos sebelumnya--tapi muncul dari dinding dengan duri runcing di mana-mana. Aku menahan napas, menatap pemandangan spektakuler yang terhampar di depan kami.

Padang kristal. Ruangan ini ternyata padang kristal menakjubkan.

Ruangan tersebut panjangnya tidak kurang dari sepuluh kilometer, lebarnya delapan kilometer, dengan ketinggian empat kilometer. Sejauh mata memandang, dasar ruangan dipenuhi kristal putih besar berbentuk runcing, ribuan jumlahnya, laksana ribuan tombak hendak menghunjam ke atas, dengan tinggi puluhan meter. Cahaya kapsul perak dipantulkan kristal-kristal itu, warna-warni menakjubkan membuat terang seluruh ruangan. ILY bergerak perlahan di atas runcing kristal.

"Lihat bagian atasnya!" Ali menunjuk.

Aku dan Seli segera mendongak. Itu lebih spektakuler lagi! Di atas kepala kami, di langit-langit ruangan, juga menyeruak ribuan kristal yang sama, menghunjam ke bawah, berpendar-pendar seperti ada banyak pelangi. Kami persis berada di tengah-tengah stalaktit dan stalagmit raksasa yang indah. Pemandangan ini membuat kami lupa sebelumnya kami berjamjam hanya menatap lorong gelap.

Ali membawa kapsul terbang melintasi kristal lebih dekat.

"Bagaimana kristal-kristal ini terbentuk? Apakah ini juga dibuat penduduk Klan Bintang?" Ali menggeleng. "Ini alami, Seli. Sepertinya lorong ini dulu memang sengaja dibuat melewati padang kristal. Ini mineral amethyst, variasi dari quartz.

" "Amethyst? Bagaimana kamu tahu jenisnya?" Seli bertanya, dia tidak seregang sebelumnya.

"Tentu saja aku tahu. Sejak usia sepuluh aku sudah mengumpulkan koleksi mineral di basement--kalian mungkin pernah melihatnya di sana. Mineral ini terbentuk karena panas dan tekanan, umumnya solid dan tidak organik. Ada 5.

300 jenis mineral di dunia. Seratus lima puluh di antaranya berharga untuk dikoleksi.

Ini keren, kita persis berada di tengah mineral langka dunia.

" Kami menatap hamparan kristal di aras, di bawah, juga di dinding-dinding.

"Langka? Berarti mineral ini mahal?" "Ya, ini batu berharga. Aku berani bertaruh, di ruangan-ruangan lain Klan Bintang, kita mungkin bisa menemukan hamparan padang emas.

" Ali menyeringai.

"Kamu tidak bergurau, Ali?" Seli bertanya, tertarik.

"Aku serius. Saking banyaknya, jika penduduk permukaan tahu, emas menjadi tidak berharga lagi di dunia kita.

" Ali menjawab santai sambil tertawa kecil.

"Wow!" Seli berseru takjub.

Aku menyikut lengan Seli. Ucapan Ali tidak selalu harus dipercaya.

ILY terus terbang rendah, memeriksa setiap sisi dinding, mencari letak kelanjutan lorong kuno.

"Kabar buruk. Kita harus turun dari kapsul.

" Ali menoleh.

"Tidak mau.

" Seli langsung menolak.

"Tapi lorong berikutnya ada di bawah sana, tertimbun tumpukan tiang kristal, dan ILY tidak bisa melewatinya. Kristal-kristal terus tumbuh secara alami ratusan tahun, menutup pintu lorong itu. Kalian harus menghancurkannya.

" "Aku tidak mau turun," Seli menggeleng. "Bagaimana jika ada ular besar lagi?" Ali menyeringai. "Kita sudah dua ratus kilometer dari persimpangan berular itu, Seli. Hewan itu tidak akan mengejar hingga ke sini. Lagi pula, ular tidak suka tinggal di tempat yang dipenuhi kristal runcing dan tajam. Tidak ada apa-apa di dasar ruangan. Aku jamin.

" Seli menoleh kepadaku.

Aku sedang memperhatikan layar. Ali benar, dari peta tiga dimensi di layar kapsul, mulut lorong berada di bawah sana, ditutupi balok-balok raksasa kristal yang menghunjam ke atas. Kami harus menghancurkan setidaknya enam tiang kristal setinggi empat puluh meter dan diameter tak kurang dari enam meter. Aku mengangguk, bersiap, menyambar ranselku.

Seli menggerutu, tapi juga bersiap-siap turun.

"Jangan khawatir, Jika ular itu muncul, kita sudah tahu kelemahannya, Seli. Kamu buat cahaya seterang mungkin. Pantulannya akan membuat ruangan ini dipenuhi cahaya warna-warni, seperti pesta lampu," Ali nyengir, entah sedang menyemangati atau iseng mengganggu Seli.

Ali menekan tombol panel, ILY berdesing pelan, mengambang di atas ujung-ttjung runcing kristal. Pintu ILY mendesing terbuka.

"Hati-hati, Ra, Seli.

" Aku mengangguk. Tubuhku menghilang, lalu muncul meniti kemiringan tiang kristal. Seli menyusulku, melompat turun dari Ily. Tubuhnya mengambang anggun, hinggap di tiang kristal lainnya, loncat sekali lagi dan langsung mendarat ke dasar ruangan.

Aku mendongak. Kami berada di kolong tiang-tiang kristal yang saling silang. Mulut lorong kuno terlihat dari balik tiangnang.

"Kita mulai sekarang, Seli. Lebih cepat lebih baik.

" Tanganku segera terangkat. Aku berkonsentrasi penuh, mengirim pukulan ke salah satu tiang terdekat.

Bum! Suara dentuman terdengar kencang. Salju berguguran. Aku awalnya khawatir kristal ini keras dan sulit ditaklukkan, tapi tiangnya langsung terkelupas besar terkena pukulanku, membentuk retakan panjang menyamping.

Seli mengayunkan tangan ke depan, membuat petir biru. Retakan itu memanjang. Butuh sekitar empat kali pukulan hingga tiang itu roboh, berdebam menimpa sebelahnya. Aku dan Seli segera melompat mundur, menghindar dari guguran bongkahan kristal.

Lima menit kemudian, dengan napas tersengal, kami berhasil menyingkirkan tiga tiang kristal. Seli mengangkat patahan tiang dengan kemampuan kinetiknya, melemparkannya jauh-jauh. Mulut lorong semakin terlihat. Masih ada tiga tiang kristal lagi yang harus dihancurkan agar kapsul perak kami bisa melintasinya.

Aku hendak melanjutkan merobohkan tiang kristial, tapi telingaku yang terlatih mendengar suara desisan dari kejauan. Tanganku yang siap menghantam langsung turun.

"Ada apa, Ra?" Seli menatapku.

"Kembali ke kapsul. Sekarang, Seli!" Aku berseru sambil menarik tangan Seli.

Tubuh kami menghilang, kemudian muncul di dalam ILY. Aku tidak mau mengambil risiko sedikit pun.

Kembali secepat mungkin ke ILY adalah pilihan terbaik.

"Kenapa kalian sudah kembali?" Ali bertanya, dia tadi asyik memperhatikan layar kapsul. Di layar terlihat lubang lorong yang masih tertutup tiga tiang kristal.

"Ada sesuatu di luar sana. Tutup pintu kapsul, Ali.

" Ali segera menekan tombol. Pintu ILY menutup.

Tetapi aku benar-benar keliru, itu bukan hewan melata, dan ILY bukan tempat teraman. Suara desis itu semakin kencang, kemudian disusul kelepak sayap. Seli dan Ali mendengarnya dari dalam kapsul, mendongak ke atas. Apa pun itu, suara tersebut justru tidak datang dari dasar ruangan.

Saat kami masih menebak sumber suara itu, sebuah bayangan hitam besar melompat dari langit-langit ruangan, menyerang kapsul perak.

"Awas!" teriak Seli.

Ali segera memegang tuas kemudi. ILY yang sejak tadi mengambang segera melesat menghindar.

Tapi bayangan itu tidak cuma satu, bayangan hitam lainnya segera melompat menyusul. Satu, dua, tidak terhitung banyaknya. Terbang turun dari langit-langit kristal, menutupi cahaya warna-warni, seperti awan gelap berarak, dan semuanya terbang ke arah kami.

"Itu apa?" Seli berseru panik.

Ali tidak sempat menjawab. Dia mengatupkan rahang, berkonsentrasi penuh, tangannya mencengkeram tuas kemudi. ILY melesat zig-zag, mencoba kabur dari kejaran. Melenting, meliuk, secepat yang bisa Ali lakukan. Kapsul perak yang kami tumpangi laksana bola kecil yang hendak diterkam badai ribuan bayangan hitam.

Aku akhirnya tahu itu bayangan apa. Salah satu dari mereka terbang melintas, hampir berhasil menyergap kapsul perak. Bentuknya terlihat jelas dari balik kaca kapsul. Bukan burung... "Flying fox!" Ali lebih dulu memberitahu.

"Flying apa?" "Kelelawar, Seli. Di dunia kita, hewan ini disebut kelelawar, kalong.

" Ali gesit menggerakan tuas kemudi kapsul. Seekor kelelawar nyaris berhasil menerkam kapsul.

Seli menelan ludah, menatap gentar. Besar kelelawar ini hampir menyamai seekor sapi. Sayapnya yang lebar mengelepak, mengeluarkan suara berisik.

"Menghilang! Aktifkan mode menghilang!" aku berseru. Kami semakin terdesak.

Ali segera menekan tombol. Kapsul perak Ali tidak tampak lagi, tapi itu sia-sia. Kelelawar itu tetap tahu posisi kapsul, terus mengejar.

"Percuma!" Ali mendengus. "Hewan ini bahkan bisa melihat serangga sekecil jarum dalam gulita malam.

Mereka tidak butuh mata untuk melihat, mereka melepaskan suara, yang memantul, echolocation, memberitahukan posisi mangsa.

" Aku mengeluh dalam hati.

Seekor kelelawar berhasil hinggap di atas kapsul perak, menghalangi pemandangan. Disusul yang lain, dua ekor kelelawar berusaha menjatuhkan kapsul. ILY terbanting ke sana kemari di langit-langit padang kristal. Kemampuan menghilang di Klan Bintang benar-benar tidak berguna.

"Berpegangan, Ra, Seli!" teriak Ali.

Tanpa disuruh dua kali, aku sudah memegang erat lengan kursi.

Ali melakukan manuver sangat berbahaya. Kapsul perak meluncur turun seperti jatuh bebas, lantas tanpa mengurangi kecepatan, melintas di bawah dua tiang kristal yang bersilangan. Itu area yang sempit. Keliru sedikit saja, kapsul kami akan menghantam tiang kristal.

Seli berteriak memejamkan mata.

Namun, Ali berhasil melewatinya dengan mulus. Dua kelelawar yang hinggap di kapsul menghantam tiang tersebut, terguling jatuh.

"Maaf, Seli. Aku harus melakukannya.

" Seli membuka mata. Wajahnya pucat. Aku mencengkeram lengan kursi lebih erat.

Kapsul perak terus melesat di bawah-bawah tiang kristal. Serbuan ribuan kelelawar terhambat, karena sayap mereka yang lebar terhalang tiang-tiang kristal. Puluhan kelelawar yang tetap mengejar akhirnya berjatuhan. Sisanya kembali terbang ke pucuk-pucuk kristal.

Tapi kami tidak bisa terus berada di bawah. Manuver kapsul semakin rumit, tiang-tiang semakin rapat.

Kami harus kembali naik sebelum ILY juga menabrak telah sempit.

Ali menarik tuas kemudi, ILY kembali melesat ke udara. Baru muncul sedetik di atas permukaan runcing kristal, kelelawar itu langsung mengejar kami. Suara sayapnya semakin berisik.

"Apa yang kita lakukan sekarang, Ali?" Seli bertanya cemas.

"Harus ada yang menghancurkan sisa tiga tiang, agar kita bisa masuk ke lorong!" Ali berseru, berusaha mengalahkan suara kelepak sayap kelelawar yang mengejar.

"Itu berbahaya, Ali! Kita kembali ke lorong sebelumnya saja. Berlindung di sana, menunggu kawanan kelelawar ini kembali tenang. Kita bisa melarikan diri dari tempat itu.

" Aku memberikan ide.

Ali mengangguk. Dia menggerakkan tuas kemudi, kapsul segera berganti arah, menuju mulut lorong kedatangan kami.

"Aduh!" Ali mengeluh tertahan. "Kelelawar ini sepertinya tahu apa yang kita lakukan, Ra. Sebagian dari mereka memblokade mulut lorong. berkerumun di sana!" Kami sempurna terkepung. di belakang dikejar, di depan sudah ditunggu.

Ali menggerakkan tuas kemudi, kapsul perak melesat ke atas. Tetapi perkiraan kami keliru, karena serombongan kelelawar lain justru sedang loncat menyergap. Tanpa sempat menghindar, kelelawar itu menabrak telak kapsul. ILY terbanting ke bawah, kapsul perak jatuh tidak terkendali. Seli kembali berteriak. Aku berpegangan erat-erat. Kami jatuh bebas dari ketinggian tiga kilometer, membuat jantungku seakan copot.

Ali menggigit bibir, tapi tetap terlihat tenang. Tangannya mencengkeram tuas, berusaha menyeimbangkan gerakan kapsul. Tinggal dua meter lagi dari runcing kristal, ILY berhasil melesat terbang.

Nyaris saja! "Kita tidak akan bertahan lama, Ra!" Ali berseru. "Kelelawar ini terlalu banyak untuk dihindari.

" Aku menatap langit-langit padang kristal yang dipenuhi awan hitam.

Apa yang harus kami lakukan? "Bagaimana jika Seli membuat cahaya terang?" usulku.

Ali menggeleng. "Itu bukan ide bagus. Kita akan kehilangan pandangan, Ra. Kita sedang terbang cepat, kapsul bisa menabrak kristal. Lagi pula, Seli nyaris pingsan!" Aku menoleh kursi sebelah. Seli terlihat lunglai di kursinya. Gerakan terakhir ILY yang melesat jatuh membuat Seli kehilangan kesadaran.

"Aku akan berusaha menahan kelelawar ini sekuat yang aku bisa, Ra! Tapi itu ada batasnya. Sekali mereka berhasil memukul jatuh ILY, nasib kita berakhir di bawah sana.

" Seekor kelelawar berhasil hinggap di kapsul, disusul dua ekor lainnya. Gerakan ILY tertahan dengan beban cambahan. Ali menekan tombol, petir menyambar terang keluar dari kapsul. Kelelawar itu tersengat, tubuhnya menggelepar terbakar, kemudian jatuh. Tapi itu lagi-lagi tidak membantu banyak.

Hilang seekor kelelawar, digantikan dua lainnya, berhasil mendarat di atas kapsul. Mata hitam mereka yang besar terlihat jelas dari balik kaca kapsul. Juga mulut yang mendesis, taring-taring tajam, telinga memanjang ke atas. Kami dan mereka hanya dipisahkan kaca kapsul.

Ali mencoba mengeluarkan petir lagi, tapi hanya untuk menambah masalah. Dua kelelawar itu memang tersengat mati, tapi sayap mereka tersangkut satu sama lain. Tubuh besar mereka tidak jatuh, justru tersangkut di atas kapsul. Dua kelelawar yang masih segar bugar hinggap di atas tubuh rekannya yang tewas. Ily terbanting ke bawah, tidak kuat menahan beban berat.

"Buka pintunya, Ali!" aku berseru.

"Buka apanya?" Ali balas berseru, dia tetap berkonsentrasi penuh.

"Buka pintunya, cepat! Beri aku waktu dua menit untuk mengalihkan perhatian kelelawar ini ke tempat lain. Akan kuruntuhkan tiga tiang tersisa.

" "Kamu yakin, Ra?" Ali berseru.

Aku mengangguk mantap. Kami tidak punya pilihan, aku harus meruntuhkan tiga tiang kristal, agar kami punya jalur melarikan diri. Hanya aku yang bisa melakukannya. Seli sudah pingsan.

"Baik, Ra. Dua menit!" Ali menekan tombol, dan pintu kapsul terbuka.

Aku melompat keluar sambil membalik badan ke atas, melepaskan pukulan. Suara berdentum terdengar.

Dua kelelawar di atas kapsul terbanting jatuh, juga dua bangkai kelelawar yang tersangkut. ILY bisa bergerak bebas lagi. Sementara tubuhku meluncur deras ke runcing kristal. Tubuhku menghilang sebelum membentur puncak kristal yang tajam, kemudian mendarat di dasar ruangan.

Butuh beberapa kali teleportasi hingga aku tiba di mulut lorong, melintas di bawah tiang-tiang. Tapi gerakanku aman. Ribuan kelelawar itu tidak memperhatikanku karena sibuk mengejar kapsul perak.

Aku tiba di mulut lorong. Napasku menderu kencang. Waktuku tidak banyak, tidak ada waktu untuk mencemaskan Ali di atas sana. Aku berkonsentrasi penuh, mulai menghancamkan tangan ke depan. Suara berdentum terdengar memekakkan telinga, salju berguguran. Aku menggunakan seluruh kekuatan yang bisa kukeluarkan. Balok kristal terkelupas separuh. Tanpa jeda, tanganku kembali melepas pukulan. Dentum kedua terdengar lebih kencang, tiang kristal itu roboh. Aku lompat ke belakang, menghindari reruntuhan kristal. Dua tiang lagi.

Tapi suara dentuman pukulan membuat kelelawar tahu posisiku. Rombongan besar di atas yang mengejar kapsul perak membelah dua, sebagian berbelok, meluncur ke dasar ruangan. Aku mendongak, bisa melihat awan hitam bergerak cepat ke arahku.

Aku menggeram, hewan-hewan ini sama menyebalkannya dengan ular-ular besar di pos sebelumnya. Aku segera membentuk tameng transparan kokoh setinggi sepuluh meter. Semoga itu bisa menahan gerakan kelelawar. Aku tidak bisa meladeni mereka, aku punya pekerjaan yang lebih mendesak.

Tanganku kembali terarah ke dua riang yang tersisa, melepas pukulan berikutnya. Dentum ketiga terdengar, disusul dentum berikutnya. Tiang kristal itu roboh. Masih satu lagi.

Rombongan kelelawar semakin dekat, seakan tahu ada sesuatu di depannya. Dengan ujung sayap setajam pisau, mereka merobek tameng transparanku, seperti merobek gelembung air atau balon. Aku mengeluh tertahan. Hewan ini lebih pintar dibanding ular! Mudah sekali kelelawar ini melewati benteng perrahananku, dan langsung buas menyergap. Atas kepalaku dipenuhi kelelawar buas.

Tidak ada waktu lagi menghancurkan tiang kristal terakhir, aku harus mengurus kelelawar ini. Sambil mengatupkan rahang, aku mulai melepas pukulan berdentum ke udara. Satu, dua, tiga kelelawar terjatuh.

Tubuhku cepat melakukan teleportasi, berpindah-pindah menghindari sabetan sayap atau gigitan taring mengerikan, Ini pertarungan jarak dekat yang mematikan.

Aku berlari, melompat, meniti balok kristal, menggunakan semua cara untuk menahan kelelawar, sambil berusaha mencari jeda agar bisa menghancurkan tiang kristal terakhir. Lima menit berlalu, tidak ada kesempatan sedetik pun untuk melepas pukulan ke tiang kristal yang menutupi lorong, aku justru semakin terdesak. Dua kali kaki kelelawar berhasil mencengkeram tubuhku, membawaku terbang, sebelum aku berhasil membebaskan diri dengan memukul.

Di atas permukaan runcing kristal, ILY juga semakin susah payah menghindari sergapan kelelawar. Ali berkali-kali melepaskan sambaran petir, mengusir para pengejar. Entah apakah Seli baik-baik saja.

Napasku tersengal, hanya karena kostum hitam ini punya teknologi Klan Bulan, tubuhku tidak terluka sedikit pun. Tapi, kostum ini tidak bisa mengatasi masalah kelelahan. Tenagaku terkuras.

Seekor kelelawar menyabetkan sayapnya dari belakang, telak menghantam punggungku sebelum aku sempat menghindar atau membuat tameng transparan. Tubuhku terpelanting menghantam balok kristal. Aku hendak berdiri, tapi terlambat, seekor kelelawar berikutnya berhasil menyabetkan sayapnya. Aku terpelanting lagi tanpa sempat menghindar.

Tenagaku semakin habis. Kelelawar ini menang jumlah. Aku berusaha berdiri, hanya untuk menyaksikan dua kelelawar lain siap menerkam tubuhku dengan mulutnya yang terbuka lebar. Taring tajamnya terlihat menakutkan. Aku menatap jeri, tidak sempat menghindar.

Aku butuh keajaiban agar selamat dari serangan ini. Pertolongan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊