menu

Matahari BAB 10

Mode Malam
BAB 10
LORONG kuno ini gelap. Cahaya lampu kekuningan ILY menerangi dinding-dindingnya yang mungkin terbuat dari batu keras atau logam. Dengan diameter lorong enam meter, kapsul perak yang kami tumpangi bisa bergerak mudah, termasuk melakukan manuver.

"Bagaimana mungkin tidak ada yang mengetahui lorong ini?" Seli bertanya, sejak tadi dia menatap keluar, menatap dinding lorong yang terkena cahaya. ILY terus stabil terbang turun.

"Karena mereka tidak bisa melihatnya," Ali menjawab pendek.

"Tapi bukankah kita punya banyak geolog? Juga pengeboran minyak, tambang bawah tanah. Jalur kereta api bawah laut, sumur lepas pantai yang dalam, Bagaimana mungkin ribuan pekerjaan tersebut tidak pernah menemukan lubang sebesar ini ke perut bumi.

" Seli menambahkan, teringat pelajaran geografi.

"Karena mereka tidak akan menemukannya, Seli," Ali menjawab lebih serius, sambil terus konsentrasi penuh mengendalikan ILY. "Pertama, lokasi ini jauh dari mana pun, amat terjaga. Kedua, dinding lorong dibuat dari material yang tidak bisa dideteksi oleh teknologi Klan Bumi. Itu bukan beton, batu, besi, apalagi tanah biasa. Menurut dugaanku, geolistrik, salah satu metode mendeteksi lapisan bawah tanah dinetralkan oleh dinding lorong. ILY bisa memindainya karena memiliki teknologi gabungan Klan Bulan dan Klan Matahari yang lebih maju. Itu pun tidak cukup untuk menembus jauh. Aku tidak bisa memastikan, semakin dalam kita masuk, apakah ILY bisa terus memindai lorong ini. ILY membutuhkan energi besar mengatasi proteksinya.

" Seli mengangguk. Itu masuk akal.

Memasuki lorong ini menegangkan. Aku sejak tadi tidak lepas mengawasi ke depan, mengamati dindingnya, mengamati kedalaman tanpa dasar. Kami tidak tahu apa yang menunggu di sana. Pemindai ILY hanya menunjukkan fisik lapisan perut bumi, tidak bisa mernindai hewan atau sesuatu yang hidup.

Bagaimana jika mendadak ada makhluk antah berantah menutupi lubang, ganas menyerang kami? Atau bagaimana jika ILY menabrak jaring perangkap? Aku mengembuskan napas perlahan. Ini berbeda seperti saat kami di Klan Matahari. Waktu itu kami bisa menatap langit, bintang-gemintang, tapi kali ini yang kami lihat hanya lubang gelap tak berujung.

Seli duduk di sebelahku, ikut memperhatikan, tidak banyak bertanya lagi.

"Kalian baik-baik saja?" Ali bertanya setelah setengah jam senyap. Jika Ali bertanya berkali-kali tentang kondisi kami, itu berarti mood-nya sedang bagus.

"Ya," aku dan Seli menjawab berbarengan.

Ali menyeringai lebar. "Bagus! Setidaknya kita bertiga tidak ada yang memiliki fobia ruang sempit atau kedalaman.

" "Fobia?" "Ya. Akan repot sekali jika kalian panik minta keluar dari lorong ini. Kita berjam-jam akan terus berada di ruang sempit, hingga tiba di dasar sumur.

" Dua jam berlalu sejak kami mulai menuruni lubang. Pukul sembilan malam, Ali mengaktifkan kemudi otomatis. Kapsul berhenti, mengambang stabil di tengah dinding lubang.

Kami menatap Ali. "Ada apa.

" Kenapa tiba-tiba berhenti?" "Perutku lapar," Ali berkomentar pendek, lantas beranjak dari kursinya, melangkah ke kotak logistik.

Aku dan Seli saling menatap. Si biang kerok ini sepertinya terlalu santai. Sejak memasuki lorong kuno ini, dia tidak terlihat tegang atau cemas sedikit pun. Mungkin lorong ini hanya dianggap lubang biasa.

Ali membuka kotak logistik, mengeluarkan beberapa makanan. Ada banyak makanan dengan bungkus kedap udara di dalam kotak. Juga minuman kemasan. Kami duduk melingkar di lantai kapsul.

"Dinding lubang ini seperti diukir sesuatu," Seli berkata pelan, seraya memandang ke luar kaca kapsul.

Aku ikut memperhatikan. Seli benar, seperti ada gurat rapi di dinding lubang, memanjang, bergelombang, dengan pola yang sama. Tadi kami tidak melihatnya karena kapsul bergerak cepat dan cahaya lampu ILY menyiramnya selintas.

"Itu bukan ukiran.

" Ali menggeleng, ikut memperhatikan.

Aku dan Seli menoleh.

"Itu hanya bekas alat untuk melapisi dinding lubang. Membentuk garis-garis simetris. Alatnya pasti besar, bekerja cepat dan efisien.

" Seli bergumam, dia sedang membayangkan seberapa besar alat untuk membuat lubang dengan diameter enam meter. "Terus, bagaimana caranya?" "Mereka punya reknologinya," Ali menjawab rasa penasaran Seli. "Juga teknologi untuk membuat suhu udara tetap stabil. Kita sudah berada di kedalaman lima puluh kilometer. Seharusnya tekanan dan suhu di luar kapsul mulai naik drastis, berkali-kali lipat dibanding permukaan bumi, tapi alat deteksi ILY menunjukkan suhu dan tekanan luar normal.

" Kami diam lagi, mengunyah roti.

Seli masih penasaran. "Sebenarnya apa saja yang ada di perut bumi? Tanah?" Ali menggeleng. "Tanah hanya bagian sangat kecil di bumi, Seli. Hanya kulit luar. Karena kita melihatnya di setiap permukaan bumi, bukan berarti seluruh bumi terbuat dari tanah.

" "Oh ya?" "Baiklah, akan kujelaskan, anggap saja ini kursus geografi singkat.

" Ali nyengir lebar, bergaya seperti guru paling menyebalkan. "Lapisan-lapisan bumi secara sederhana dibagi menjadi tiga. Paling atas disebut dengan lithosphere atau crust, dalamnya 100 kilometer. Lapisan ini terdiri atas bebatuan solid, deposit sedimen, dan tanah itu sendiri. Tanah yang kamu maksudkan tadi adalah bagian terpenting untuk menunjang kehidupan, campuran dari mineral, unsur organik, gas, air, serta tidak terhitung organisme berukuran superkecil.

"Lapisan kedua disebut mantle. Tebalnya hingga kedalaman 2.

900 kilometer, bagian paling tebal dari bumi, terbuat dari bebatuan silikat, dengan densitas atau kepadaran tinggi. Pergeseran lempeng benua, gempa bumi, gunung meletus, dan semua peristiwa alam besar yang terjadi, bersumber dari lapisan ini.

Kalian pernah melihat peta dunia.

" Silakan geser benua Afrika dan benua Amerika hingga saling mendekat, maka dua benua itu akan menempel cocok satu sama lain, karena memang jutaan tahun lalu, dua benua tersebut menyatu. Mantle adalah bagian terpenting yang menentukan masa depan permukaan bumi.

"Lapisan ketiga atau terakhir disebut inti bumi, yang dibagi menjadi dua, outer core dan inner core. Jangan coba-coba mendekati outer core, itu berbentuk cairan, terbuat dari besi dan nikel mendidih setebal 2.

. kilometer. Bayangkan lautan besar berisi penuh cairan magma, dengan suhu tidak kurang dari 6.

. derajat Celsius.

" Ali diam sejenak, mengunyah rotinya. Dia selalu mengantuk dalam pelajaran geografi, tapi penjelasannya bahkan tiga kali lebih rumit dibanding yang diberikan guru di sekolah.

"Ada apa di inner core?" Seli bertanya.

"Tidak ada yang tahu persis seperti apa bentuk inner core. Para ilmuwan memercayai itu berbentuk solid karena tekanan dan suhunya yang luar biasa. Tapi kalaupun ada teknologi yang bisa membawa manusia ke sana, aku tidak tertarik. Siapa pula yang mau melewati cairan panas setebal 2.

. kilometer untuk tiba di pusat bumi.

" Klan Bintang, di mana pun peradaban mereka, menurut dugaanku berada di lapisan mantle.

Itu lapisan paling mungkin dijadikan perkotaan, dengan menaklukkan tekanan dan suhu kedalaman. Posisi kita sekarang masih di lapisan crust, tapi segera kita akan memasuki lapisan mantle.

" Kapsul perak lengang lagi. Kami hampir menghabiskan makanan.

"Ali, apa yang akan kamu lakukan jika kita menemukan perkotaan Klan Bintang?" tanya Seli.

"Foto-foto," jawab Ali santai.

Seli melotot. Dia serius bertanya.

"Eh, itu kan biasa dilakukan orang-orang Bumi, Foto-foto, selfie..." Ali tertawa. "Aku dulu menyesal tidak sempat foto-foto dengan harimau putih kita di Klan Matahari, atau dengan lebah-lebah di perkebunan madu Hana. Itu akan jadi selfie paling hebat.

" Aku ikut tertawa, juga Seli. Tingkah santai Ali kadang ada manfaatnya, membuat suasana lebih rileks.

"Omong-omong soal selfie, mungkin itu juga yang dilakukan si Tanpa Mahkota, Tamus, dan Ketua Konsil Klan Matahari di Penjara Bayangan. Foto bertiga..." Tawa kami langsung tersumpal.

Seli benar-benar melotot sekarang. Itu bukan lelucon lucu. "Jangan sebut nama-nama mereka, Ali!" "Hei, kenapa?" Ali mengangkat bahu. "Mereka sudah di dalam penjara, tidak ada cara mengeluarkan mereka berdua dari sana. Buku Kehidupan ada di tangan Raib. Bunga matahari pertama mekar sudah mengunci pintu penjara itu untuk selama-lamanya. Apa yang perlu dikhawatirkan?" "Kita tidak tahu kekuatan apa saja di empat kian, Ali.

" Seli terlihat marah. "Av pernah bilang soal itu, dan itulah kenapa dia melarang Raib menggunakan buku matematikanya untuk membuka portal apa pun tanpa sepengetahuan Av atau Miss Selena. Jangan sebut nama-nama orang jahat itu lagi!" Ali nyengir, tapi dia mengangguk. "Baiklah, baiklah. Kalian terlalu serius sih. Aku kan cuma bercanda.

" Makan malam kami selesai. Ali kembali ke kursi kemudi setelah membereskan bungkus makanan. Aku dan Seli juga kembali duduk di kursi masing-masing.

Ali menggerakkan tuas kemudi. ILY kembali mendesing pelan, meninggalkan posisi mengambangnya, melesat di lubang gelap, terus turun menuju perut bumi.

Cahaya kuning berpendar menerpa dinding lorong kuno, menerangi gurat ukiran yang sangat simetris.

***
 Pukul dua malam.

Giliranku duduk di kursi kemudi. Ali dan Seli tidur. Kami sudah mengatur jadwal tersebut, bergantian istirahat. Dua kursi di belakang bisa dilipat, menyisakan ruang yang cukup luas untuk membentangkan dua kantong tidur. Ali segera tidur nyenyak setelah memberitahukan secara singkat bagaimana mengendalikan kemudi kapsul.

"Ini tidak susah, Ra! Anak kecil yang suka main game pun bisa melakukannya.

" Aku menatap Ali. Cowok itu lupa, tidak semua orang punya otak seencer otaknya.

"Jangan kaku, Ra. ILY bisa menabrak dinding lorong jika tanganmu kaku begitu.

" Aku mengembuskan napas kesal. Dari tadi aku juga sudah berusaha rileks. Tetapi Ali benar, aku segera terbiasa mengemudikan kapsul.

"Hanya ada tiga tombol panel yang harus kamu kuasai, selain tuas kemudi yang bisa digerakkan tiga ratus enam puluh derajat. Satu untuk mengurangi dan menambah kecepatan, satu untuk mengganti mode dari bergerak atau mengambang, satu lagi untuk mengaktifkan perisai pertahanan. Jika terjadi sesuatu, ILY akan mengeluarkan petir, menyerang siapa pun yang mendekat," Ali menjelaskan.

Aku mengangguk. Seli di belakangku ikut memperhatikan.

"Abaikan tombol selain yang tiga ini, Ra. Jangan sentuh sekali pun. Hanya aku yang boleh menyentuhnya," Ali mengingatkan dengan wajah serius.

"Baiklah.

" Kini aku mulai terbiasa menggerakkan tuas kemudi. Siapa pula yang tertarik dengan puluhan tombol dan panel berkedip-kedip lainnya. Aku bukan seperti Ali yang selalu tertarik dan ingin tahu.

ILY sebenarnya bisa terbang otomatis seperti waktu menculik Ali dari aula sekolah, tapi Ali enggan menggunakannya. Dengan gerakan yang masih zig-zag, kapsul bisa tiba-tiba terbanting membentur dinding.

Solusinya, kami harus mengatur jadwal tidur setiap empat jam agar kapsul terus bergerak maju dan kami bisa istirahat. Setelah kursus singkat--Seli juga sempat mencoba lima menit--Ali dan Seli beranjak tidur, giliranku yang berjaga pertama kali.

Dua jam lengang.

Aku sendirian menatap ke depan, dinding lorong yang tertimpa cahaya kapsul. Ali sudah mendengkur di belakang, lelap. Separuh hatiku menahan kesal, separuh lagi menahan tawa.

Aku bergurnam dalam hati, ini sama seperti perjalanan di Klan Matahari, kami juga bergantian berjaga saat malam. Bedanya waktu itu, Ily sigap membangunkan kami setiap pagi, selalu disiplin dengan pergerakan kami.

Aku memperbaiki anak rambut di dahi, menatap interior kapsul perak. Kini Ily tetap bersama kami dalam bentuk yang berbeda. Bahkan lebih dari itu, kapsul ini adalah gabungan dua klan, menjadi ILY yang baru.

Ali brilian sekali membuatnya. Ily pasti senang jika tahu dia terus menemani kami bertualang.

Kapsul perak terus bergerak dengan kecepatan konstan, menuruni lubang.

Tiga jam berlalu, pukul lima dini hari aku membangunkan Ali dan Seli.

"Ini bukan giliranku berjaga, Ra. Jangan curang.

" Ali bersungut-sungut, menguap lebar.

"Siapa pula yang curang?" Seli keluar dari kantong tidur dan langsung duduk. "Ada apa sih?" "Bangun, Ali. Kamu harus segera melihat kelua?" Aku memaksa Ali bangun.

Ini memang masih jadwalku berjaga, tapi kapsul sudah tiba di dasar sumur, memasuki ruangan besar dengan tinggi sekitar seribu meter, bentuknya kubus, dengan sisi yang juga tidak kurang dari seribu meter.

Aku hampir menahan napas saat kapsul memasuki ruangan besar ini. Ruangan ini tidak gelap, entah dari mana sumber cahaya. Ruangan terlihat remang, memperlihatkan puing-puing bangunan di dasarnya. Kapsul yang kami tumpangi terlihat kecil dibanding ruangan ini. ILY mulai menuruni langit-langit ruangan. Aku bergegas membangunkan Ali dan Seli.

Demi melihat pemandangan di luar, Ali mengambil alih kursi kemudi, kantuknya lenyap. Seli juga duduk di kursi, menatap keluar.

Ali menggerakkan tuas kemudi perlahan, kapsul perak bergerak pelan.

"Kita sudah di mana?" "Dasar lorong. Seli. Ini persis seperti hasil pindaian ILY. Kita telah tiba di persimpangan. Menurut pemindai, ada empat lorong di setiap sisi ruangan ini.

" "Ini ruangan apa?" tanya Seli.

"Menurut dugaanku, ini titik terluar Klan Bintang. Pos, gerbang. atau apalah istilahnya. Siapa pun yang hendak menuju Klan Bintang, harus melewati pos ini.

" Ali mengarahkan kapsul mendekati reruntuhan bangunan, pucuk-pucuk bangunan mulai terlihat jelas. "Tempat ini pernah dihuni.

" Ali benar. Tidak ada siapa-siapa di bawah sana, tidak tampak kehidupan, tetapi ruangan ini menyisakan jejak kehidupan. Bangunan-bangunan menara berbaris rapi. Sebagian menara itu sudah runtuh, menyisakan sepertiga atau separuh sisa bangunan yang pernah gagah berdiri. Ada jalan-jalan yang membelah ruangan, sisa-sisa taman, rumah-rumah, gedunggedung, berbentuk teratur. Aku menelan ludah. Ruangan ini sangat simetris. Seperti kertas, jika dilipat dua, sempurna cocok satu sama lain.

ILY terus terbang rendah. Ali membawa kapsul melintas di antara sisa menara, menuju dinding ruangan yang seperti dipahat rapi. Ada lorong baru seperti lubang sebelumnya di setiap sisi, gelap dan lengang.

Lorong-lorong baru ini tidak seperti lubang sumur yang tegak lurus, melainkan turun dengan kemiringan dua puluh derajat.

"Ada empat lorong baru, lorong mana yang menuju Klan Bin tang, Ali?" Ali menggeleng. Dia terlihat berpikir serius.

Lima belas menit ILY hanya berputar-putar di atas puing-puing bangunan. Ali memeriksa setiap dinding dengan saksama, tapi tetap tidak tahu harus masuk lorong yang mana. Empat lorong baru ini terlihat sama.

Kami tidak tahu mana arah yang benar. ILY tidak bisa memindai ujung-ujungnya.

Ali menggerakkan tuas kemudi, kapsul perak bergerak turun menuju dasar ruangan, mengambang setengah meter dari lantai.

"Hei, apa yang kamu lakukan?" Seli berseru.

Ali menekan tombol, membuka pintu kapsul dan langsung menyambar ransel.

"Turun. Apa lagi?" "Itu berbahaya, Ali.

" "Ruangan ini kosong, Seli. Kita harus turun dari kapsul untuk memeriksanya lebih dekat. Ada empat sisi, kita tidak tahu harus menuju ke mana sekarang. Siapa tahu di bawah sana ada petunjuk.

" Ali sudah melompat turun.

Seli menatapku, dia jelas tidak mau meninggalkan kapsul.

Aku mengangguk, juga mengenakan ranselku, "Kita hanya turun sebentar, Sel, memeriksa.

" Aku menyusul Ali. Seli ragu-ragu, tapi akhirnya ikut melompat turun.

Kaki kami menyentuh lantai ruangan, yang sepertinya terbuat dari bebatuan. Udara ruangan ini sedikit lembap, tapi tidak terlalu mengganggu. Kami bisa bernapas dengan normal, tidak seperti sedang berada di perut bumi sejauh lima ratus kilometer.

"Genius sekali.

" Ali mendongak, memeriksa.

"Apanya yang genius?" Aku menoleh ke arah Ali.

"Mereka menanam reflektor cahaya di dinding-dinding ruangan, juga di menara-menara, atap-atap bangunan. Saat kita masuk, cahaya lampu ILY mengenai reflektor, yang kemudian saling memantulkan ribuan kali dengan perhitungan yang rumit, membuat pencahayaan alami. Itulah kenapa ruangan ini remang, tidak gelap. Jika mereka menembakkan lampu yang lebih terang dan reflektor tidak ditutupi debu tebal, ruangan ini bisa seterang permukaan bumi, seolah ada matahari.

" Aku mengangguk pelan. Itu penjelasan yang masuk akal.

Ali melangkah mendekati salah satu menara, bangunan yang masih utuh.

Menara itu terbuat dari batu atau entahlah, sesuatu yang keras. Ada pintu-pintu besar, juga jendela.

Mungkin seperti inilah arsitektur Klan Bintang.

"Sudah berapa lama tempat ini ditinggalkan?" Seli bertanya.

"Aku tidak tahu," Ali memperhatikan sekitar, "tapi menilik puing-puing bangunan, mungkin ribuan tahun.

" Seli menghela napas. Jika tempat ini sudah ribuan tahun ditinggalkan, kepada siapa kami akan bertanya arah jalan? Tidak ada petunjuk apa pun.

Sudut mataku menangkap sesuatu. Ada sernak belukar yang tumbuh di samping menara. Langkahku terhenti. Itu bukan hanya semak kering yang mati, itu seperti tanaman hias, terlihat hijau dan berbunga. Seli ikut berhenti. Dia mengarahkan tangannya, membuat cahaya keluar dari sarung tangan. Reflektor memantulkan cahaya, dan ruangan besar itu lebih terang sekarang. Semak ini seperti taman-taman bugenfil yang ditinggalkan, dengan bunga warna-warni.

"Bagaimana tumbuhan bisa tumbuh subur di sini?" Seli seolah tak percaya.

"Tentu saja bisa, sepanjang mereka punya air.

" "Air?" "Ya. Semua peradaban membutuhkan air, Seli. Ini bisa menjadi petunjuk kita," Ali sudah bergegas melangkah. Dia melintasi menara, berjalan di jalan-jalan lengang, menuju pusat ruangan. Ada kolam di sana, terlihat dari tempat kami berdiri.

Gemercik air terdengar.

Itu bukan kolam kosong. Ada air jernih setinggi lutut, yang bersumber dari sungai kecil berbentuk parit mengalir ke dalam kolam. Batu koral di dasar kolam memantulkan cahaya. Di sekitar kolam tumbuh subur sernak belukar dan pohon-pohon pendek, dengan daun kecil-kecil. Kami menatap sekitar. Kolam ini seperti pusat kota, tempat anak-anak bermain, atau penduduk berkumpul saling bercakap-cakap. Ada tiang-tiang besi, bangku-bangku dari kayu, wahana permainan.

"Tempat ini dulu pasti indah sekali," Seli bergumam, menatap dinding-dinding di kejauhan. Langit-langit ruangan berkelap-kelip memantulkan cahaya dari sarung tangan Seli, seperti ada bintang di atas sana.

Aku mengangguk.

"Apakah mereka punya siklus siang dan malam, Ali?" "Tentu saja. Itu mudah bagi penduduk Klan Bintang. Dengan teknologi yang mereka punya, aku yakin, langit-langit di atas kita juga bisa menurunkan hujan, sekaligus dengan pemandangan pelanginya," Ali ikut mendongak.

Hujan di ruangan ini? Itu di luar imajinasiku.

"Tapi kenapa mereka pergi meninggalkan kota ini?" Seli bertanya.

"Aku tidak tahu..." Belum habis kalimat Ali, terdengar desisan dari kejauhan. Tidak hanya satu, melainkan dua sekaligus.

Aku ingat sekali desisan itu. Ular raksasa! "Kembali ke kapsul!" aku berseru, langsung balik kanan.

"Ada apa, Ra?" "Kembali ke kapsul sekarang juga, Ali! Selit" Aku berlari.

Ali dan Seli ikut berlari.

Terlambat! Dari balik salah satu menara yang setengah roboh, muncul kepala ular. Kali ini lebih besar dibandingkan yang kuhadapi di dekat danau sebelumnya. Ular itu berdiri cegak hampir tiga meter, taringnya berkilauan, ekornya membelah jalan. Gerakan kami terhenti, ular itu menghadang, kapsul perak masih enam puluh meter di depan sana.

"Itu apa?" Ali berseru gugup, melangkah mundur.

Belum sempat aku menjawab, ular besar itu telah menyerang kami lebih dulu. Mulutnya terbuka lebar, menerkam tanpa ampun.

Aku membuat tameng transparan, menutupi kami bertiga.

Suara kencang beradu membuat ngilu. Kepala ular terbanting membentur camengku. Ular itu mendesis marah, tapi dia baik-baik saja. Sementara satu ular lain telah muncul dari belakang kami. Entah apakah ular ini bisa berpikir atau bagaimana, yang satu ini membatalkan sambaran kepalanya, seolah tahu ada tameng transparan melindungi kami bertiga, dan menggantinya dengan pukulan ekor. Panjang ular itu lebih dari dua puluh meter, itu sabetan ekor yang kuat sekali.

Tameng transparanku retak, kemudian hancur berkeping-keping. Aku memegang lengan Ali dan Seli.

Tubuh kami sudah menghilang sebelum ekor ular meremukkan kami. Kami muncul lima meter menjauhi ular-ular ini.

Tapi tidak ada waktu untuk menarik napas lega. Lihatlah, dari jalan-jalan lain, dari balik bangunan menara, muncul ular-ular lainnya. Tiga, empat, enam, tidak terhitung ada berapa ekor hewan melata. Seli berseru gugup. Ini sama seperti waktu di Klan Matahari, saat kami dikepung gorila yang mengamuk.

Aku berpikir cepat. ILY adalah tempat perlindungan paling aman. Sekali kami bisa masuk ke dalamnya dan segera terbang, ular-ular ini tidak bisa mengejar lagi. Tidak ada waktu untuk menghadapi ular-ular ini.

Aku mengatupkan rahang, memegang lengan Ali dan Seli, berkonsentrasi penuh, bersiap melakukan teleportasi menuju kapsul perak.

Tubuh kami menghilang, bergerak menuju kapsul perak. Belum tiba di titik yang kutuju, kami dipaksa berhenti. Dua ekor ular menyabet tubuh kami, seakan tahu persis gerakanku.

Astaga! Aku berseru, segera memasang tameng transparan. Salah satu ekor ular dengan telak menghantam gelembung transparan, membuat kami terpental jauh--menjauhi kapsul dan menghantam bangunan menara.

Gelembung itu meletus, menara ambruk. Kami terbanting ke lantai. Beruntung pakaian hitam Ilo melindungi kami dari benturan.

Ali bangkit berdiri di antara kepulan debu, terbatuk.

"Apa yang terjadi, Ra?" Seli menyusul, sambil bertanya cemas.

"Aku tidak tahu. Tapi ular-ular ini seperti bisa membaca gerakan teleportasiku.

" Seli mengeluh. Bagaimana kami bisa kabur jika gerakan menghilangku sia-siar Ular-ular itu segera mendatangi kami. Mereka tidak memberi kami jeda untuk bernapas. Kami terkepung.

Ular-ular ini mendesis mengerikan, Suara tubuhnya melintasi jalanan, melangkahi menara, terdengar menyeramkan.

"Apa yang harus kita lakukan, Ra?" "Bertarung!" jawabku singkat.

Ali meloloskan pemukul bola kasti dari ranselnya. Aku mengeluh dalam hati, bagaimana Ali akan melawan ular-ular raksasa ini dengan pemukul bola kasti.

" "Awas, Ra!" Seli berseru.

Dua ekor ular siap menerkam, mulutnya terbuka, memercikkan bisa mematikan.

Aku melepas pukulan berdentum ke depan. Seli melepas pukulan petir birunya.

Persis seperti yang kuduga, ular-ular ini bisa menghindar. Tubuh mereka meliuk, membuat pukulan kami mengenai udara kosong.

"Mereka bisa membaca pukulan kalian!" Ali berseru, hendak melangkah maju.

"Jangan ke mana-mana, Ali!" aku balas berseru. Dia harus tetap berada di antara aku dan Seli. Dia tidak bisa membela diri dengan pemukul kasti. Sisik ular yang tebal hanya akan seperti dielus oleh pemukul kasti Ali.

Aku kembali membuat tameng transparan. Kali ini lebih besar dan lebih kokoh. Dua ekor ular yang menyerang terpental menabrak tameng itu. Teman-temannya mendesis marah, meluncurkan serangan ekor.

Empat ekor ular menghantam tamengku. Aku mengatupkan rahang. Coba saja hancurkan tamengku, kali ini aku telah mengerahkan seluruh kekuatan, aku bertekad dalam hati. Empat kali tameng transparan menerima hantaman dari atas, empat kali pula ular-ular itu terpental, Tamengku tidak retak walau semili.

"Keren, Ra!" Seli menyemangariku.

Aku mengangguk. Kami aman di balik tameng, bersiap melakukan teleportasi menuju kapsul.

Tapi di luar dugaan, mengetahui tamengku tidak bisa dihancurkan, salah seekor di antara ular-ular itu-- ular yang paling besar--mengubah arah serangan. Dia tidak menghantam dari atas, berusaha meremukkan tameng, melainkan sengaja memukulkan ekor dari samping, membuat gelembung transparan terlempar puluhan meter, seperti bola yang ditendang.

Seli berteriak kaget. Kami bertiga terbanting ke sana kemari di dalam gelembung yang melambung tinggi, menghantam pucuk salah satu menara, kemudian menggelinding di jalanan, dan terjepit di dinding bangunan. Aku mengaduh. Bukan karena rasa sakit saat mendarat di lantai, tapi karena pemukul kasti Ali mengenai dahiku.

"Maaf, Ra. Tidak sengaja.

" Ali meringis, berusaha bangkit berdiri.

Aku kehilangan konsentrasi. Gelembung transparanku meletus. Tubuh kami dipenuhi debu dari guguran bangunan.

Ular-ular itu kembali meluncur menuju kami.

"Apa yang harus kita lakukan, Ra?" Seli menelan ludah. Jika pukulan kami bisa mereka hindari, gerakan menghilangku sia-sia dan tameng transparan tidak berguna, bagaimana kami mengalahkan ular-ular menyebalkan ini? "Bagaimana kalian mengalahkan ular sebelumnya?" Ali bertanya.

"Ular yang mana?" Seli bertanya balik, suaranya cemas. Ular-ular ini semakin dekat.

"Yang di dekat danau.

" Aku teringat kejadian di dekat danau itu. Cahaya terang dari sarung tangan Seli-lah yang membuat ular itu kehilangan orientasi arah.

Ular-ular itu tinggal belasan meter, kepala mereka bermunculan di balik puing-puing.

"Sekarang, Seli!" aku berseru.

Seli mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya yang dibungkus Sarung Tangan Matahari. Dia konsentrasi penuh mengerahkan seluruh kekuatan. Cahaya terang benderang seketika memenuhi ruangan. Dengan jutaan reflektor di dinding dan langit-langit, cahaya itu sangat menyilaukan. Aku dan Ali memejamkan mata begitu Seli mengangkat tangannya.

Ular-ular itu mendesis marah. Cahaya itu jelas menyakiti mereka, karena mereka ribuan tahun hidup dalam kegelapan. Seli mematikan cahaya dari tangannya, ruangan kembali remang. Aku membuka mata, bergegas menyambar tangan Seli dan Ali. Tubuh kami menghilang. Ular-ular itu kehilangan orientasi arah beberapa detik. Tubuh kami bisa melakukan teleportasi dengan mudah. Dalam empat kali lompatan, kami sudah tiba di dalam kapsul perak.

Ali menuju kursi kemudi.

"Segera terbang, Ali!" desakku.

Ali melemparkan pemukul kasti di lantai kapsul. Masih dalam posisi berdiri, dia menekan dua tombol sekaligus. Pintu kapsul menutup cepat, disusul dengan entakan pelan. ILY melesat terbang.

Tiga puluh detik berlalu, ular-ular itu kembali bisa melihat, tapi kami sudah tinggi di udara, jauh dari jangkauan mereka. Aku merebahkan badan di kursi, mengembuskan napas lega. Kami selamat dari ularular menyebalkan itu.

"Jumlah mereka banyak sekali.

" Ali melongok ke bawah.

Aku ikut menatap ke bawah lewat kaca kapsul. Ali benar, di bawah sana, ada ratusan ular yang mendesis marah, satu-dua di antaranya membelit menara, berusaha menggapai kami. Mereka sia-sia, kami jelas lebih tinggi. Yang lain terus memenuhi jalanjalan, bergerak, mencari cara menyerang kapsul.

"Kamu baik-baik saja, Seli?" tanyaku.

Seli belum menjawab. Dia duduk di lantai kapsul, mengelap keringat di leher.

"Aku tidak mau lagi keluar dari kapsul ini, Ra," Seli akhirnya bicara.

Aku terrawa kecil. Bukan karena kalimat Seli, tapi menatap wajah Seli yang benar-benar kusut.

"Ular-ular itu, mereka menakutkan sekali!" Aku mengangguk. "Aku tahu itu. Tapi sekarang kita sudah aman.

" ILY terus mengambang di langit-langit ruangan. Setengah jam, ular-ular itu sepertinya tahu mereka tidak akan bisa menyerang kami yang terbang di atas mereka. Akhirnya mereka mendesis pelan, kembali bergerak menyelinap di balik reruntuhan menara, masuk ke lubang-lubang, sarang mereka.

Ruangan kembali lengang misterius saat ratusan ular itu pergi, seolah tidak ada kehidupan apa pun di bawah sana.

"Mungkin inilah penyebab penduduk di sini pergi. Mereka pergi karena ular-ular tadi.

" Seli memperhatikan dasar ruangan yang sepi.

"Bisa jadi.

" Ali mengangkat bahu. "Tidak akan ada orang yang mau tinggal di kota dengan ular-ular besar.

Apakah itu ular yang sama yang kalian temukan di lubang dekat danau?" Aku dan Seli mengangguk.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Alir Kembali ke permukaan?" Seli bertanya.

"Kita bahkan baru mulai, Seli" "Tapi kita tidak tahu harus menuju lorong yang mana, kan?" Seli mengingatkan.

"Aku sudah tahu, Sel. Itulah gunanya kita turun tadi.

" Aku dan Seli saling menatap.

"Aku sempat memperhatikan sumber mata air sungai kecil yang ada di kolam. Itu berasal dari dinding sebelah utara.

" Ali mengarahkan kapsul ke salah satu sisi ruangan. "Kita menuju lorong itu.

" "Kamu yakin, Ali?" Aku memastikan.

"Ya. Ini persis seperti di Klan Matahari. Jika kita tersesat, selalu ikuti aliran sungai, bukan? Kita akan tiba di perkampungan penduduk. Semoga di Klan Bintang juga berlaku rumus yang sama.

" Aku tidak tahu apakah kalimat Ali masuk akal atau tidak. Aku mengangguk setuju.

Ali memegang tuas kemudi ILY, menggerakkannya. Kapsul perak segera terbang rendah, melesat cepat menuju mulut lorong.

Ular-ular besar itu tidak berselera mengejar. Mereka hanya mendesis, kembali hening dalam kegelapan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊