menu

Matahari BAB 09

Mode Malam
BAB 09
ILY, kapsul perak yang dibuat Ali, telah menunggu di halaman belakang rumah Seli.

Kami tidak lama berkumpul di sana. Begitu aku tiba, kami bertiga langsung naik ke dalam kapsul. Seli dan Ali sudah mengenakan kosrum hitam-hitam yang dulu dihadiahkan Ilo. Ini menjadi pakaian resmi petualangan kami.

Mama dan papa Seli melepas keberangkatan, melambaikan tangan dari teras.

ILY mulai mendesing naik. Ali segera mengaktifkan mode menghilang. Kapsul perak itu lenyap dari tatapan mama dan papa Seli.

"Kita berangkat, Ra, Seli.

" Aku dan Seli mengangguk.

Ali menggerakkan tuas kendali kapsul. Dalam sekejap, ILY segera melesat terbang di atas atap rumah.

Perjalanan kami menyenangkan. Kapsul melintasi gedunggedung tinggi. Kami bisa melihat kesibukan kota pada pagi hari. Jalanan padat, antrean di lampu merah, dan angker yang berhenti sembarangan. Ali sengaja membawa ILY memutari menara kota, terbang rendah di atas bundaran air mancur, tempat paling ramai dengan para pekerja yang hendak menyeberang.

Cahaya matahari pagi menyirami kota, melewati kaca kapsul.

Puas berputar di atas bundaran, ILY mulai meninggalkan kota kami, menuju arah utara, tempat danau besar titik terluar lorong kuno berada, seribu dua ratus kilometer.

"Aku turut sedih mendengar kisah tentang ibu kandungmu, Ra," Seli berkata pelan.

Aku mengangguk. "Tidak apa-apa..." Aku memang bercerita kepada Seli dan Ali cencang percakapan tadi malam. Itu memang masih terasa sedih, tapi setidaknya aku tahu sekarang.

"Semoga ayah kandungmu masih hidup.

" Seli berusaha menghibur.

Aku kembali mengangguk, meskipun aku tidak berharap banyak lagi.

"Barangkali saja dia menunggumu di Klan Bintang, Ra," Ali bergurau. "Kalian bisa reuni di sana. Itu bisa mengalahkan adegan drama Korea.

" Aku dan Seli tertawa kecil.

ILY terbang stabil melintasi pegunungan berselimut kabut yang selama ini kami lihat dari kejauhan jalanan kota. Kapsul perak tanpa terasa telah meninggalkan kota kami, tidak ada lagi bising kendaraan, berganti dengan hutan tropis. Suasana perjalanan membuatku jauh lebih bersemangat. Aku bisa bercerita lebih santai. Ali juga lebih banyak bergurau. Mood-nya sedang baik.

"Ini pin Klan Bulan yang penting, Ra. Mungkin Ali tahu ini apa.

" Seli melihat pin baruku.

Ali ikut memeriksa pin itu. Satu tangannya masih di tuas kemudi kapsul. Tetapi, kemudian dia menggeleng.

"Aku tidak tahu, ini seperti artefak kuno. Mungkin Av tahu.

" "Itu benar. Av pasti tahu ini pin apa," Seli berseru riang, "Begitu kita bertemu dengannya, kamu bisa menunjukkannya, Ra. Mungkin saja itu menjadi petunjuk di mana ayah kandungmu.

" Aku mengangguk, memasukkan kembali pin ke dalam saku baju.

Setelah pegunungan berselimut kabut, ILY melintasi sungai besar, di dataran tinggi. Sungai itu mengalir tenang, terlihat anggun dari udara. Ali menurunkan ILY hingga satu meter dari permukaan sungai, mengurangi kecepatan. Burung-burung terbang di sekitar kami. Kelepak sayap dan suara kawanannya membuat ramai. Aku bisa melihat bayangan kapsul dan burungburung di permukaan sungai. Ini seru! Aku sudah beberapa kali naik benda terbang, tapi tidak di Klan Bumi.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?" Seli berseru.

Bagian bawah kapsul menyentuh permukaan sungai, membuat permukaan air tersibak.

Ali tertawa--dia lagi-lagi sengaja melakukannya.

"Bagaimana jika ada yang melihatnya, Ali!" Seli melotot.

"Maaf, Sel. Hanya sebentar.

" Ali nyengir lebar.

Kapsul perak kembali mendesing naik, meninggalkan sungai besar yang berbelok ke barat terus menuju lautan, tujuan kami ke arah utara.

Kali ini kami melewati lembah perkebunan luas, dengan beberapa perkampungan permai di tengahtengahnya. Kesibukan perkampungan terlihat jelas dari dalam kapsul. Penduduk berangkat ke kebun.

Mobil pick-up yang dipenuhi perani melintasi jalan tanah. Juga truk-truk berisi hasil perkebunan berbaris menuju kota besar.

"Lihat, ada kereta api!" Seli menunjuk.

Aku menoleh. Seli benar, ada jalur kereta api di lembah itu. Rangkaian kereta terlihat melintasi hamparan perkebunan, gerbong panjangnya anggun meniti rel yang membelah lembah.

"Jangan coba-coba, Ali!" Seli memberi peringatan saat kapsul perak mulai bergerak mendekati kereta api.

"Kita baru mulai perjalanan ini beberapa jam. Jangan cari masalah.

" Ali mengangkat bahu, membatalkan manuver ILY. Kapsul perak kembali naik.

Aku tertawa. Aku tahu Ali tadi hendak menjajarkan kapsul kami dengan gerbong kereta. Kami menatap penumpang kereta--yang tidak bisa melihat kami--itu pasti seru. Tapi Seli benar, tidak bijak melakukan hal iseng itu. Bagaimana jika kapsul kami tidak sengaja mengganggu kereta api? Lepas lembah perkebunan, kami memasuki lagi kawasan hutan lebat tropis. Beberapa ekor burung terbang tinggi, berputar mengintai mangsa. ILY meniti lereng-lereng bukit, terbang di atas pucuk-pucuk pepohonan.

Satu-dua ngarai terlihat, airnya berkilat memantulkan cahaya matahari. Meski kalah spektakuler dengan bentang alam di Klan Bulan atau Klan Matahari, pemandangan yang kami lewati jelas lebih menarik dibanding kota. Aku baru tahu bahwa bumi masih memiliki tempat yang alami.

"Kalian ingat petualangan di Klan Matahari?" Ali berseru, memecah lengang kapsul.

Aku dan Seli mengangguk.

"Andai saja kita menggunakan kapsul perak ini saat mencari bunga matahari pertama mekar, kita bisa menang mudah.

" Ali tertawa.

Aku dan Seli ikut tertawa. Itu benar. Dengan kapsul perak ini, kami dengan mudah bisa melewati gorila mengamuk, burung pemakan daging, padang jamur beracun, hingga tembok raksasa setinggi dua ratus meter dengan panjang ratusan kilometer, Sejauh ini, perjalanan dengan ILY terasa mudah dan menyenangkan. Kami belum menemukan hambatan berarti.

Menjelang senja, setelah melewati dua gunung lagi, kelok panjang sungai-sungai, kota-kota besar, kampung-kampung kecil, melintasi batas-batas negara, ILY akhirnya tiba di danau besar, titik terluar tempat lorong kuno itu berada.

"Kita hampir sampai, Ra!" Ali memperlambat laju Ily, memberitahu.

Aku membangunkan Seli yang merebahkan badannya, tertidur di atas kursi. Tadi malam Seli kurang tidur.

Dia terlalu antusias dengan perjalanan ini. Aku juga kurang tidur, tapi memutuskan menghabiskan waktu dengan membaca buku dari tabung logam pemberian Av, berusaha mencari tahu apakah ada buku di Klan Bulan yang membahas tentang pin baru milikku.

"Kita sudah di mana?" Seli mengusap wajahnya.

Ali menunjuk ke depan. Di bawah kami, danau luas terbentang sejauh mata memandang. Ali memeriksa peta tiga dimensi di layar kapsul, memastikan sekali lagi, lantas menggerakan tuas kendali kapsul. ILY mendesing pelan, bergerak menuju salah satu sisi danau yang diselimuti hutan lebat, lereng gunung terjal dengan karang-karang runcing. Aku menatap ke luar, memperhatikan batu-batu cadas berukuran besar yang menyeruak di antara pohon-pohon, laksana benteng yang mengelilingi sesuatu.

"Aku berani bertaruh, tidak ada penduduk sekitar yang pernah ke sini!" Ali berseru. Matanya menatap tajam batu-batu cadas, menjaga jarak kapsul.

Aku mengangguk. Sisi danau ini sepertinya tidak pernah disentuh manusia.

Matahari berangsur hilang, pucuk-pucuk karang runcing terlihat gelap. Ali melepas tuas kemudi. ILY berhenti bergerak, berganti mode terbang mengambang.

"Kita sudah berada di atas lubang itu, Ra. Mulut lorong itu berada enam meter di balik lapisan permukaan tanah persis di bawah kita.

" Aku mengangguk. Itu berarti tugasku dan Seli.

Aku bangkit berdiri, disusul Seli, bersiap-siap turun.

"Hati-hati, Ra, Seli," Ali menekan tombol, membuka pintu kapsul.

Aku hendak memegang lengan Seli agar kami bisa melakukan teleportasi ke dasar hutan. Seli menggeleng, dia justru lompat lebih dulu.

Astaga! Aku tertegun melihatnya. Lihatlah! Tubuh Seli melayang ringan, seperti burung, hinggap di pucukpucuk pohon yang berjarak belasan meter dari kapsul, kemudian loncat lagi, menerobos dedaunan, mendarat anggun di permukaan.

Aku menyusul Seli.

"Seli, sejak kapan kamu bisa melayang seperti itu?" Aku berdiri di sebelah Seli.

"Sejak meliharmu melompat di atap-atap gedung. Aku pikir, aku juga bisa melakukannya.

" "Itu keren, Seli. Bagaimana caranya?" "Kamu ingat tidak, Ketua Konsil Klan Matahari yang tubuhnya bisa mengambang di udara seperti terbang?" Aku mengangguk, teringat pertarungan di peternakan lebah milik Hana.

"Prinsipnya sama. Terbang dengan kekuatan kinetik. Ternyata itu trik yang mudah, asal kita tahu bagaimana melakukannya. Jika selama ini aku menjadikan benda lain sebagai target, menggerakkannya, ternyata aku juga bisa memosisikan diriku sendiri sebagai benda yang digerakkan. Seperti memegang galah tidak terlihat, badanku bisa mengambang, melayang, bahkan terbang. Hanya butuh konsentrasi tinggi. Sekali bisa dilakukan, mengulanginya lebih..." Kalimat Seli terputus. Aku dan Seli refleks mundur satu langkah.

Dari dekat kami terdengar desis panjang mengerikan. Aku menatap ke depan, tanganku terangkat, bersiap dengan segala kemungkinan. Dasar hutan terasa lembap dipenuhi pakis dan lumut licin. Pohon-pohon tinggi berbaris rapat, gelap gulita. Matahari sempurna sudah tenggelam, daun-daun besar menutupi atas kepala. Kapsul perak tidak terlihat dari sini.

Desis itu semakin keras, semakin dekat dari kami.

"Itu suara apa, Ra?" Seli berbisik serak, napasnya menderu.

"Aku tidak tahu," jawabku lirih. Decak jantungku juga bertambah kencang. Mungkin ada hewan buas di sisi danau ini.

Sebelum kami bisa menebaknya, semak lebat di depan kami telah tersibak, dan dari sana meluncur dengan cepat seekor ular berukuran besar. Mulutnya terbuka lebar--bisa menelan seekor anak sapi--dengan taring tajam, dan bisanya menyembur di udara bahkan sebelum gigitan mematikan itu riba. Itu serangan mendadak tanpa ampun.

Seli berseru kaget, dan langsung mernukulkan tangan kanannya ke depan. Selarik petir pun menyambar.

Tapi sial, ular itu ternyata bisa gesit berkelit, berhasil menghindar, dan tanpa mengurangi kecepatan, kepalanya meliuk meneruskan menerkam kami.

Sebelum terlambat, aku bergegas membentuk tameng transparan. Kepala ular menghantam tamengku, seperti menghantam tembok kokoh. Dia tidak menduga ada sesuatu yang membatasinya dari mangsa. Ular itu menggelepar marah, kepalanya kembali terangkat hampir setinggi pohon. Ular itu mendesis, bersiap kembali menyerang. Aku memutuskan lebih dulu merangsek maju, melepas pukulan berdentum.

Bum! Salju berguguran di sekitar kami.

Aku berseru tertahan, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kupikir aku sudah melumpuhkannya, tapi ternyata ular ini gesit sekali. Dia sekali lagi bisa menghindar. Pukulanku mengenai salah satu batu karang, membuat cadas berguguran.

Sebelum kagerku pudar, ular besar itu menerkam. Aku sama sekali tidak siap. Beruntung Seli segera menarik lenganku, menyelamatkanku. Tubuh kami melenting mundur tiga meter, membuat cabikan taring ular mengenai udara kosong. Bisa ular itu tepercik mengenai semak--yang langsung layu menghitam daun dan batangnya.

"Kamu baik-baik saja, Ra?" Seli bertanya dengan suara tersengal.

Aku mengangguk. Ini benar-benar di luar dugaan. Aku tidak tahu akan disambut ular dengan panjang dua puluh meter, Suasana menyenangkan perjalanan di kapsul segera berubah seratus delapan puluh derajat.

Aku menyeka anak rambut di dahi.

Tanpa menunggu sedetik pun, ular itu kembali menyerang buas. Tubuh besarnya meluncur di atas dasar hutan, membuat semak belukar rebah, pohon berderit roboh. Kepalanya terangkat, mendesis galak. Dalam satu entakan, ular itu kembali menerkam kami.

Kali ini aku sudah siap sepenuhnya. Tubuhku menghilang, lalu persis muncul di atas kepala ular, mengambang, Tanganku bersiap memukul ke bawah. Aku yakin sekali tidak akan meleset. Ular ini tidak bisa menghindar, Tapi aku keliru! Ular itu memang tidak berniat menghindar--ular itu justru menungguku! Ekornya yang besar lebih dulu bergerak, seperti bisa membaca gerakanku, menghantam ke udara, telak mengenaiku yang baru muncul di sana.

Tubuhku terpental jauh.

"Raib!" Seli berseru--tapi dia tidak bisa menolongku. Setelah berhasil memukulku, ular itu meluncur menerkam Seli.

Dengan tubuh masih melayang di udara, aku membuat tameng transparan menyelubungi tubuhku, membuat badanku terlindungi saat membentur batu cadas. Benturan yang keras, membuat pucuk batu karang runtuh, lalu aku menggelinding ke sernak belukar.

Di depan sana, Seli membuat petir yang terang sekali, berwarna biru, menyambar ke depan. Ular yang sedang menerkamnya menghindar gesit untuk ketiga kalinya, tapi dalam jarak terlalu dekat, cahaya terang petir Seli berhasil membuat mata ular itu silau. Binatang itu kehilangan kendali beberapa detik, gerakannya terhenti.

Aku mengatupkan rahang. Cukup sudah main-rnainnya. Ular ini menghambat kami. Aku punya mornentum untuk menghabisinya. Tubuhku menghilang, lalu muncul persis di depan kepala ular. Tanganku bergerak cepat. Suara berdentum terdengar memekakkan telinga. Salju berguguran.

Kali ini ular raksasa itu tidak bisa menghindar--dia masih silau. Ular itu terbanting, menghantam batu cadas, jatuh ke dasar hutan dengan kepala remuk.

Tanganku tetap teracung ke depan, siaga penuh. Siapa tahu ular ini kembali bangun. Seli bergabung, berdiri di sebelahku. Napasnya menderu kencang.

"Itu ular apa, Ra>" tanya Seli. Sarung Tangan Matahari-nya menyala terang, terarah ke bangkai ular.

"Aku tidak tahu, Sel. Yang jelas, bukan Klan Bulan atau Klan Matahari yang memiliki binatang berukuran raksasa. Sedangkan sekarang kita ada di Klan Bumi. Maka entah dari klan mana hewan ini berasal, seolah sengaja menjaga sesuatu, memastikan sisi danau ini steril dari siapa pun yang berani mendekatinya.

Hewan liar ini juga tidak mudah dikalahkan. Dia punya insting berbeda, seperti terlatih bertarung.

" Kami masih berdiri berjaga-jaga hingga lima menit kemudian, memastikan tidak ada hewan buas berikutnya yang datang. Suasana lengang, hanya suara serangga memenuhi langit gelap, atau lenguh burung dan binatang malam di kejauhan. Sepertinya dentuman pertarungan kami tadi telah mengusir hewan buas lain, tidak ada lagi yang berani mendekat.

"Kita gali lubangnya sekarang, Ra?" Seli bertanya, memastikan.

Aku mengangguk. Kami sudah dekat sekali dengan mulut lorong kuno menuju Klan Bintang. Seekor ular raksasa tidak akan menghentikan perjalanan ini.

Aku berkonsentrasi penuh, mengangkat tangan.

Aku mengirim pukulan sekuat mungkin ke permukaan tanah. Sisi danau ini jauh dari permukiman penduduk, jadi tidak akan ada yang mendengarnya. Salju kembali berguguran di sekitar. Tanah di depan kami melesak satu meter. Sementara Seli mengangkat potongan batu karang yang tergeletak di dekat kami.

Dengan kekuatan kinetik Seli, batu karang itu mengambang di atas kepala, kemudian dihantamkan ke permukaan tanah.

Setelah belasan kali pukulan dan hantaman batu, tanah di depan kami akhirnya ambrol. Lubang dengan diameter tidak kurang dari enam meter menganga dalam kegelapan hutan rimba. Aku dan Seli saling menatap, menyeka peluh di dahi. Napas kami tersengal. Bukan pekerjaan mudah membuat lubang sedalam enam meter.

Seli memberi kode kepada Ali, melepas pukulan petir yang melewati kanopi hutan. Kapsul perak yang dikemudikan Ali bergerak turun menerobos dedaunan.

Cahaya terang keluar dari kapsul, terarah ke dalam lubang, menerangi. Entah itu pemandangan yang menakjubkan atau menakutkan, seterang apa pun cahaya dari kapsul, tetap tidak terlihat dasar lubang besar ini. Lorong ini seperti sumur tanpa dasar, kosong dan hening.

Lorong ini menyimpan berjuta misteri.

Ali membuka pintu kapsul perak. Aku dan Seli melompat naik.

"Kenapa kalian lama sekali..." "Ada ular besar menjaga kawasan ini, Ali!" Aku segera memotong kalimat Ali.

"Ular besar?" "Hewan itu jelas bukan dari Klan Bumi. Tidak ada ular sebesar itu yang pernah terlihat di bumi. Kami harus mengatasinya sebelum membuka lorong.

" Aku menunjuk ke depan.

Ali terdiam. Dia mengarahkan cahaya ke bangkai ular yang tergeletak di batu cadas.

Kapsul perak lengang sebentar.

"Kalian baik-baik saja?" Ali bertanya.

"Kami baik-baik saja, tapi kita harus berhati-hati memasuki lorong. Ini tidak semudah yang kira bayangkan sebelumnya. Jika mulut lorong ini saja ada yang menjaga, entah apa yang menunggu kita di dalam sana.

" Ali mengangguk. "Tenang saja, Ra, kita aman sepa1~ang berada di dalam kapsul perak.

" Aku segera duduk, disusul Seli. Sabuk pengaman kembali terpasang otomatis.

"Kalian siap?" Ali menoleh. ILY mendesing pelan, dari tadi masih mengambang di mulut lubang.

Aku dan Seli mengangguk.

"Baik. Kita berangkat!" Ali perlahan mendorong tuas kemudi kapsul.

Begitu tuas digerakkan, ILY melesat masuk ke dalam lorong kuno. Perjalanan kami menuju Klan Bintang telah dimulai. Kali ini bukan lagi tamasya, ini petualangan mendebarkan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊