menu

Matahari BAB 08

Mode Malam
BAB 08
MINGGU-MINGGU sibuk tiba. Ulangan semester.

Aku sudah belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Jadi, semua berjalan lancar. Yang masih tersendat adalah aku terus berusaha mencari waktu terbaik memberitahu Mama dan Papa. Sejak percakapan di rumah Seli, belum ada kemajuan berarti.

Hari pertama ulangan, aku menggeleng saat ditanya Ali.

"Kamu juga tidak pernah minta izin kepada orangtuamu, kan?" Seli balik bertanya kepada Ali.

Kami bertiga sedang makan di kantin. Tadi ulangan matematika, membuat perut kami lapar.

"Aku selalu minta izin, Seli," Ali tidak terima dibilang begitu.

Aku dan Seli menatapnya. "Sejak kapan?" tanya Seli.

"Hei, kalian benar-benar salah paham, Itu betul, orangtuaku supersibuk, mereka jarang di rumah, Mereka kadang tidak peduli dengan apa yang kulakukan, atau tidak tahu aku sedang berada di mana berhari-hari, tapi aku selalu bilang jika pergi.

" Ali meneruskan menyendok bakso.

"Aku tidak percaya," tukasku.

"Aku selalu minta izin, Ra. Terserah kalau tidak percaya.

" "Kamu memangnya bilang apa kepada mereka?" Seli menyelidik.

"Aku bilang mau ke Klan Bintang" Ali mengangguk santai.

"Eh?" Gerakan sendok Seli terhenti.

"Orangruaku tertawa. Hanya itu respons mereka.

" Ali mengangkat bahu. "Tapi aku sudah bilang yang sebenarnya. Jujur sekali malah. Terlepas orangtuaku menganggap aku bergurau, terlalu asyik di basement, atau menghabiskan waktu menginap di manalah untuk menguji penemuan, ini masalah yang berbeda. Aku anak yang baik, Sel. Bukan anak yang suka kabur dari rumah tanpa izin. Kalian salah paham.

" "Tuan Muda Ali memang anak yang baik kok.

" Seli balas mengangguk, tertawa, Aku ikut tertawa. Gurauan Seli membuatku lupa sejenak akan masalahku sendiri.

"Nah, kamu sendiri kapan akan bilang ke orangtuamu, Ra?" Ali bertanya lagi.

Wajahku langsung terlipat. Si biang kerok ini merusak suasana.

"Tenang saja. Raib akan segera bilang.

" Seli menghiburku.

Sejak percakapan di rumah Seli, aku sudah berusaha mencari waktu terbaik. Saat makan malam, saat sarapan, saat sedang berkumpul di ruang keluarga, tapi semuanya gagal. Minggu-minggu ini Papa lebih sering di rumah, tidak lembur seperti dulu, jadi sebenarnya banyak sekali kesempatan cerbaiknya. Tapi, mulutku langsung terkunci ketika hendak memulai kalimat itu, kemudian malah membahas topik lain.

Bel tanda masuk terdengar, saatnya ulangan bahasa Indonesia. Seli bangkit lebih dulu, disusul Ali. Muridmurid yang memenuhi kantin segera beranjak kembali ke kelas masingmasing.

***
 Esoknya, Mama gesit menyiapkan sarapan.

"Pagi, Ra, Mama. Wah, sarapan kita pagi ini banyak sekali.

" Papa yang baru bergabung di meja makan menyapa.

"Aduh, kemarin juga sama seperti ini. Apanya yang banyak?" Mama menjawab, menyalakan mesin pembuat jus made in Korea.

"Kita sedang merayakan apa sih, Rar Kenapa Mama masak spesial begini?" Papa duduk, bertanya kepadaku, mengedipkan sebelah mata.

"Ulangan semester, Raib butuh asupan gizi yang cukup.

" Mama mengelap tangannya di celemek, kemudian memindahkan masakan ke mangkuk. Soal multitasking, Mama tidak ada tanding. Dia bisa mengerjakan banyak hal di dapur sekaligus.

"Ra sudah cukup gizinya, Ma. Ini nanti malah membuat dia gendut.

" Papa tertawa, bergurau. "Jerawatan kecil saja Raib rusuh seharian, apalagi kalau sampai gendut.

" Aku ikut tertawa--meski dipaksakan.

Sejak duduk di meja makan, aku sudah meneguhkan niat, inilah waktu yang tepat setelah berhari-hari gagal. Sejak tadi menunggu Papa bergabung, aku sengaja belum duluan sarapan. Tapi sekarang sepertinya mulai berantakan.

"Ayo, Ra, tidak usah menunggu Papa. Kamu bisa makan duluan lho.

" Aku menghela napas, mengangguk, lalu mengambil piring dan sendok. Aku tidak akan merusak suasana menyenangkan dengan membahas soal Klan Bintang. Lagi pula, masih ada besok-besok.

Di sekolah, Ali kembali mengingatkanku.

"Kamu sudah bilang, Ra?" Aku menggeleng pelan.

"Empat hari lagi kita akan berangkat, Ra. Persis selesai ulangan semester, Waktunya semakin sempit.

Kapan kamu akan bilang?" "Jangan didesak, Ali.

" Seli berseru tidak suka.

"Hei, aku kan hanya mengingatkan.

" Ali mengangkat bahu, tidak merasa bersalah. "Kita juga harus memikirkan rencana cadangan jika Raib tetap tidak bisa bilang.

" Bel sekolah berbunyi nyaring, murid-murid bergegas kembali ke meja masing-masing. Kertas soal ulangan berikutnya telah menunggu.

***
 Saat di mobil, diantar Papa sekolah hari berikutnya, aku juga hampir bilang.

"Tadi kamu mau bilang apa?" Papa menoleh, sambil mengemudikan mobil.

Aku menelan ludah.

Papa tertawa kecil, masih sempat bergurau. "Omong-omong, jalanan sepagi ini kenapa lancar sekali ya? Mungkin karena Raib mau lewat.

" Tatapan Papa kembali fokus ke jalan di depannya. "Ayo, tadi kamu mau bilang apa, Ra?" "Eh, Ra hanya mau bertanya. hmm. bagaimana kantor Papa?" Papa tertawa. "Sejak kapan kamu tertarik membahas pekerjaan kantor Papa? Kamu sebenarnya mau bilang apa sih? Tidak perlu ragu, akan Papa dengarkan dengan saksama.

" Aku justru semakin ragu. Ini sepertinya bukan ide yang baik, bertanya tentang orangtua kandungku di dalam mobil. Bagaimana kalau Papa mengerem mendadak? Sama seperti kejadian kemarin sore. Selesai menemani Mama membeli oven di toko elektronik, aku dan Mama ke kedai es krim. Saat itulah aku hampir mengarakannya, tapi lalu mengurungkannya. Bagaimana jika Mama berseru histeris di mal? Jadi tontonan banyak orang? Itu bukan ide bagus.

"Kamu sudah bilang, Ra?" Ali mendesakku di sekolah.

Aku menggeleng tidak semangat.

"Dua hari lagi kita berangkat, Ra. Aku sudah memasukkan semua keperluan ke dalam ILY.

" "Raib sudah cahu dua hari lagi kira berangkat, Ali. Raib pasti akan bilang!" Seli melotot. "Mama dan papanya juga akan mengizinkan. Raib tidak perlu ditambahi masalah dengan terus didesak setiap hari.

Ulangan ini saja sudah cukup membuat keriting rambut.

" Ali melambaikan tangan. "Aku hanya bertanya, Seli. Sudah jadi tugasku di tim ini, bertanya, berpikir, memastikan, karena kalian berdua terlalu sibuk dengan petir atau menghilang.

" Aku menghela napas perlahan, menatap lapangan sekolah. Murid-murid melintasi lapangan, bergurau, tertawa, satu-dua berlarian menuju kelas. Hingga pagi hari terakhir ulangan, aku tetap belum berhasil memberitahu Mama dan Papa.

Aku sudah terdesak, waktuku semakin terbatas, aku harus segera bilang.

***
 Malam terakhir sebelum keberangkatan.

Tidak ada lagi besok-besok jika aku gagal malam ini. Papa sudah bergabung di meja makan.

"Kamu tahu, Ra, Papa sengaja pulang cepat agar kita bisa makan malam bersama," Papa bergaya membanggakan diri.

"Bilang saja kalau di kantor minggu-minggu ini pekerjaan memang sedang sedikit, Pa," Mama tertawa, melerakkan mangkuk berisi semur daging.

"Kata siapa? Seharusnya tadi sore Papa berangkat ke luar kota, disuruh pemilik perusahaan. Ada meeting di sana, tapi demi makan malam ini, Papa batalkan begitu saja. Bayangkan, Papa lebih memilih di rumah daripada keluar kota! Keren, kan?" Kali ini aku ikut tertawa.

"Bagaimana ulangan semesternya? Sudah selesai, bukan? Lancar?" Aku mengangguk. Tadi siang ulangan semester terakhir, pelajaran geografi, tidak ada masalah.

"Bagus!" Papa mengangguk-angguk senang. "Papa sudah menyiapkan surprise untukmu.

" Aku menoleh. Surprise? Mama juga tertarik, meletakkan centong nasi.

"Libur semester ini Papa akan mengajak Raib dan Mama ke Seoul," Papa berkata takzim, dengan intonasi serius.

"Eh, ini sungguhan, Pa?" Mama bertanya--sepertinya mereka berdua juga belum membicarakannya.

"Papa serius, Ma. Kita akan berlibur ke sana. Bukankah Mama sudah sejak lama ingin berfoto dengan memakai hanbok, pakaian tradisional Korea?" Papa menyeringai--yang membuatku langsung tahu, Papa lagi-lagi bergurau.

"Aduh, Mama kira betulan, Ra," Mama tertawa.

Suasana meja makan terasa hangat.

Suara sendok dan garpu terdengar. Kami mulai menghabiskan makanan di atas piring sambil bercakapcakap. Lebih banyak Papa dan Mama yang bicara, aku mendengarkan.

Aku sejak tadi menimbang-nimbang, berhitung. Ini kesempatan terakhir aku bisa bilang ke Papa dan Mama. Perjalanan ke Klan Bintang dilakukan besok pagi. Ali tadi siang sudah mengingatkanku, jika aku tidak kunjung berani bilang, Ali telah siap dengan skenario B, mengarang cerita seperti waktu dulu kami menghilang ke Klan Bulan secara mendadak.

Lima belas menit berlalu, piring-piring mulai tandas. Inilah saatnya. Aku meneguhkan hati. Tidak ada salahnya menyampaikan hal ini. Mereka sudah membesarkanku selama enam belas tahun dengan penuh kasih sayang. Aku tidak bisa terus-menerus berpura-pura semua baik-baik saja. Mama Seli benar, semakin cepat disampaikan, maka semakin baik.

"Pa, Ma..." Aku berdeham.

Papa dan Mama yang sedang asyik tertawa--mengenang lagulagu nostalgia mereka--kini menoleh.

"Ya, ada apa, Ra?" Mama tersenyum.

Mulutku justru langsung tersumpal.

"Aduh, wajah Ra mendadak serius sekali. Ada apa?" Papa tersenyum menyelidik.

Ini rumit sekali. Mulutku laksana dikunci habis-habisan. Tidak keluar satu kata pun, padahal sudah seminggu lebih aku menyiapkan kalimatnya. Aku meremas jernari. Bagaimana memulainya.

" "Eh, kenapa kamu malah mendadak diam.

" Kemarin-kemarin juga perasaan kamu katanya mau bilang sesuatu. Ada apa?" Mama bertanya lembut.

Aku tetap tidak mampu berkaca-kaca.

Mama dan Papa saling menatap. Mereka bingung.

Aku menelan ludah. Baiklah, aku tidak punya pilihan lain. Kuhela napas perlahan.

Tubuhku sempurna menghilang di atas kursi, kemudian muncul di kursi kosong sebelahku. Jika mulutku tidak bisa menyampaikannya, biarlah aku menunjukkannya dengan cara lain. Risikonya, Mama bisa mendadak berteriak histeris. Tapi ini di rumah, dan ada Papa, situasinya mungkin masih bisa dikendalikan.

Tapi. hei, Mama tidak menjerit.

Saat aku muncul, menatap ke depan, Mama memang membeku di kursinya, juga Papa. Tapi Mama tidak panik, tidak juga seperti kaget melihatku bisa menghilang. Tiga puluh detik senyap, Mama justru menangis.

Dalam posisi duduk kaku, mata Mama basah, kemudian tetes air mata mengalir di pipinya.

Aku menggigit bibir. "Kenapa Mama menangis?" Papa menghela napas panjang.

Aku menoleh pada Papa.

"Kami tahu, cepat atau lambat, hari ini akan tiba.

" Suara Papa yang selalu suka bergurau, kali ini terdengar bergetar.

Aku jadi bingung. Mereka sudah tahu aku bisa menghilang? Meja makan lengang sejenak, menyisakan isak Mama.

"Kami sebenarnya ingin memberitahumu jauh-jauh hari," Papa akhirnya bicara. "Liburan panjang tahun lalu misalnya, Mama dan Papa sudah berkali-kali ingin membicarakannya, tapi kami tidak pernah berani.

Maafkan kami, Nak, Mama takut sekali kamu akan berubah sikap, atau malah pergi dari rumah. Kami tidak mau kehilangan anak semata wayang kami, putri yang amat kami cintai.

" Aku masih menatap Papa.

"Kami sudah tahu bahwa. bahwa sejak bayi kamu memang bisa menghilang, Pada bulan-bulan pertama kamu tiba di rumah ini, saat. saat Mama membaringkanmu di tempat tidur--saat kedua tangan dan kaki mungilmu bergerak lincah, mulutmu berceloteh lucu, terlihat imut dan menggemaskan--saat itulah kami tahu semuanya. Sewaktu Mama hendak mengganti popokmu dan kamu meletakkan kedua telapak tangan di wajah. kamu menghilang begitu saja.

" Papa terdiam sejenak, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Kami sudah tahu sejak lama sekali..." Aku berusaha mencerna kalimat Papa.

"Mama menjerit waktu itu, Ra. Berteriak panik. Papa langsung masuk kamar, bertanya ada apa, Mama bilang Raib menghilang. Papa ikut berseru panik, memeriksa kolong tempat tidur, samping lemari, kursi, meja, bagaimana bayi usia empat minggu bisa menghilang. dan. kamu muncul lagi begitu saja, sedang bermain-main di atas tempat tidur, menggerakkan tangan dan kaki sembarangan, tertawa, berceloteh..." "Itu kali pertama kami melihat kamu menghilang, Saat kami tahu betapa spesialnya dirimu, buruh berharihari agar kami terbiasa, menerima fakta tersebut. Kami takut, cemas, semua campur aduk. Kami tidak bisa membawamu ke dokter, karena tidak akan ada yang percaya. Kami juga tidak bisa cerita pada tetangga, teman, kerabat. Kami memutuskan untuk membiasakan diri, bersiap jika kamu kembali mendadak hilang..." "Saat usiamu dua tahun, kamu mengajak kami main petak umpet. Kami tahu kami tidak akan pernah menang melawanmu. Kami pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi, pura-pura memuji betapa hebatnya kamu bersembunyi.

" "Putri kami semakin besar. Tumbuh sehat seperti anak-anak lain. Kamu suka bermain di bawah hujan, berlari-lari di atas rumput, menghilang saat disuruh masuk rumah. Kamu yang mendadak muncul di meja makan, atau anak tangga, atau sofa ruang keluarga, kami sebenarnya tahu, tapi kami tidak pernah berani membahasnya. Jadi kami mengarang penjelasan bahwa kami saja yang abai, tidak memperhatikan, Juga soal kucing, si Putih dan si Hitam, kami tahu kucing itu memang ada dua, meskipun kami tidak bisa melihatnya. Itu seram sekali bagi Mama, tapi kami berusaha membiasakan diri, berusaha baik-baik saja.

"Raib, kamu adalah putri kami.

" Papa menahan suaranya yang semakin serak. "Tidak sedikit pun terlintas di kepala kami bahwa kamu hanya anak angkat.

" Aku terdiam. Aku tidak menyangka Mama dan Papa sudah tahu bahwa sejak bayi aku bisa menghilang.

"Tapi. tapi malam ini, setelah bertahun-tahun menyimpannya, kamu berhak tahu kisah masa lalu itu.

Hanya soal waktu kita akan membicarakan ini.... Akan Papa ceritakan, karena cepat atau lambat, kamu pasti akan menanyakannya. Pertanyaan itu, pertanyaan penting itu. siapa orangtua kandungmu.

" Papa menyeka ujung mata, terdiam sebentar.

"Biar Mama yang bercerita.

" Suara Mama terdengar bergetar.

Papa menoleh. "Mama kuat menceritakannya?" Mama mengangguk. "Tidak apa. Biar Raib mendengarnya dari Mama.

" Aku menatap Mama yang memperbaiki posisi duduk. Di luar, gerimis mulai turun. Suara air hujan terdengar berirama.

"Maafkan Mama yang baru menyampaikannya sekarang, Ra," Mama balas memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang. "Akan Mama ceritakan saat pertama kali kami bertemu denganmu.

" Papa memegang jemari Mama, tersenyum menguatkan. "Enam belas tahun lalu, setelah delapan tahun kami menikah, Mama akhirnya hamil. Itu kabar bahagia yang telah kami tunggu sekian lama. Tetangga, kerabat, sahabat, semua mengucapkan selamat. Mama bahagia sekali, juga Papa.

"Minggu-minggu berlalu, Mama mulai mengalami mual dan muntah seperti ibu-ibu yang hamil muda. Juga bulan-bulan kemudian, tulang panggul Mama terasa nyeri, semua gejala kehamilan lazim lainnya. Itu tidak mengkhawatirkan, kami tetap merasa semua baik-baik saja atau tidak ada gejala yang membuat Mama khawatir.

" Mama menyeka pipi.

"Hingga tiba di usia kandungan delapan bulan, Mama mengalami perdarahan. Papa bergegas membawa Mama ke rumah sakit. Dokter memeriksa secara menyeluruh, memberitahu bahwa Mama hanya hamil anggur. Kabar itu bagaikan petir pada siang hari. Itu ternyata bukan hamil sungguhan. Itu jaringan janin yang gagal berkembang, menjadi tumor jinak, harus dikeluarkan atau akan berbahaya.

"Dokter bilang operasi harus segara dilakukan. Papa menyetujuinya, Mama sudah telanjur pingsan. Enam jam operasi hidup-mati, tumor berhasil diangkat, Mama selamat. Tapi itu tetap kabar yang menyedihkan.

Mama menangis lama setelah siuman dari operasi.

"Kami telah membeli pakaian bayi, menyiapkan kamar bayi, semua keperluan, hanya untuk mengetahui itu tidak akan pernah terjadi. Dokter bilang, Mama tidak akan bisa hamil lagi. Rahim Mama telah diangkat bersamaan dengan tumor yang telah menyebar. Papa berusaha menghibur, tapi malam itu tetap terasa panjang dan menyesakkan. Setelah bertahun-tahun menunggu hamil, semua kebahagiaan seolah direnggut dalam sekejap, menyisakan kesedihan.

" Hujan di luar mulai deras. Mama menyeka lagi ujung mata.

"Tapi malam itu, saat Mama kehilangan bayi yang memang tidak pernah dikandung, Mama justru menemukanmu, Raib. Itu seperti sudah digariskan begitu, takdir yang sempurna. Persis di kamar sebelah tempat Mama dirawat, yang terjadi sebaliknya, seorang bayi perempuan lahir sehat, dengan ibu yang meninggal karena perdarahan.

"Saat Mama kehilangan bayi, kamu kehilangan ibu. Tidak ada kerabat lain di sana. Wanita muda yang melahirkan itu datang sendiri ke rumah sakit dalam kondisi payah, dengan pakaian serbahiram. Tidak ada identitasnya. Bayi perempuan malang itu sendirian, menangis, tidak tahu bahwa ibuunya telah meninggal.

Bayi itu adalah kamu..." Mataku kali ini ikut basah. Aku tertunduk, menatap meja makan.

Ibu kandungku ternyata telah meninggal.

"Saat dokter dan perawat berdiskusi tentang nasib bayi perempuan di sebelah kamar, saat petugas rumah sakit mengusulkan membawa bayi itu ke panti sosial, Papa bilang akan mengadopsinya. Ide itu muncul begitu saja, dan Mama tidak keberatan. Itu keputusan yang tiba-tiba, diambil saat itu juga. Keputusan yang tidak pernah Mama sesali, keputusan terbaik yang pernah Mama ambil... "Kami pulang membawamu. Kerabat dan tetangga bersukacita menyambut kami. Mereka tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya di rumah sakit. Mereka menyangka kamu adalah bayi yang Mama lahirkan, bukan anak angkat.

"Tapi kamu memang bukan anak angkat. Sungguh kamu adalah putri Mama, sejak dulu, hari ini, hingga kapan pun. Kamu adalah putri Mama..." Mama tidak kuat lagi menahan isak. Dia kembali menangis.

Demi mendengar kalimat Mama tadi, aku berdiri dari kursiku, mernutari meja, lantas memeluk Mama eraterat.

"Bagi Ra, Mama adalah mama Ra selama-lamanya..." aku berseru dengan hidung kedat.

Tangis Mama mengeras. Mama memelukku kencang sekali, menciumi dahi dan wajahku.

Papa ikut memeluk bahuku. Mata Papa sembap.

Malam itu aku akhirnya tahu kisah lama itu. Ibu kandungku telah meninggal, sedangkan ayahku, tidak ada yang tahu. Tidak ada catatan tentangnya, tidak ada yang pernah melihatnya. Juga makam Ibu, tidak ada yang tahu. Rumah sakit kehilangan jasad Ibu saat hendak dimakamkan. Ada yang diam-diam membawa tubuhnya pergi.

Kalimat Tamus dulu yang berkata bahwa orangruaku meninggal karena pesawat jatuh ternyata keliru.

Entah dari mana Tamus memperoleh cerita itu. Mungkin saja ada versi lain yang sengaja menyesatkan Tamus agar dia tidak bisa menelusuri orangtuaku.

***
 Esoknya, pagi-pagi sekali, Mama menyiapkan keperluan perjalananku.

Aku sudah menjelaskan tadi malam, ada empat kian di dunia paralel. Aku berharap aku sepandai Ali dalam menjelaskan sesuatu, karena penjelasanku tidak runut, patah-patah, ditambah perasaanku yang masih emosional, tapi Mama dan Papa mendengarkanku dengan serius. Itu penjelasan yang sangat susah diterima akal sehat, tapi meliharku bisa menghilang sejak bayi dan apa pun yang terkait denganku bisa masuk akal.

Aku menjelaskan bahwa Seli dan mamanya juga bukan berasal dari Klan Bumi. Mereka berasal dari Klan Matahari. Juga Miss Selena, guru matematikaku, adalah sang Pengintai dari Klan Bulan. Aku, Seli, dan Ali sudah melakukan perjalanan ke Klan Bulan tempat leluhurku berasal, saat tiang listrik besar di belakang sekolah roboh dua tahun lalu. Aku juga minta maaf telah berbohong ketika liburan panjang kenaikan kelas tahun lalu kami tidak berlibur ke pantai, melainkan ke Klan Matahari.

Hujan di luar mulai reda saat aku akhirnya memberitahu orangtuaku bahwa kami akan melakukan perjalanan ke Klan Bintang liburan semester besok, melewati lorong-lorong kuno, menggunakan kapsul perak terbang buatan Ali.

"Anak itu pasti! genius sekali," Papa berkomentar, saat jeda sebentar.

Aku mengangguk. Petualangan kami memang jauh lebih mudah karena kepintaran Ali.

"Apakah Mama dan Papa mengizinkan Ra pergi ke Klan Bintang?" aku bertanya pelan.

Mama dan Papa menatapku. Aku tahu, mereka tidak punya ide sama sekali bagaimana bentuk dunia paralel yang kuceritakan. Bagaimana mereka akan mengizinkan putri mereka pergi ke dunia antah berantah? "Ra ingin pergi ke sana. Mungkin saja di tempat itu ada penjelasan tentang siapa orangtua Ra yang sebenarnya. Ra ingin melihat Klan Bintang agar bisa lebih memahami banyak hal. Melatih kekuatan menghilang, mengeluarkan pukulan berdentum dengan salju berguguran. Apakah Mama dan Papa mengizinkan Ra pergi?" Papa akhirnya mengangguk. Juga disusul anggukan Mama satu menit kemudian. Entah bagaimana Mama bisa mengerti situasinya, tapi sambil mernelukku untuk kesekian kali, Mama memberikan izin.

Pagi ini, Mama menyiapkan bekal perjalananku di dapur.

Aku menuruni anak tangga dengan pakaian serbahitam hadiah dari Ilo yang kubawa dari Klan Bulan. Aku siap berangkat.

Papa menatapku, tersenyum, "Keren. Itu kostum paling hebat yang pernah Papa lihat.

" Mama ikut tersenyum, suasana hatinya jauh lebih baik. Aku tidak tahu apakah Mama bisa tidur tadi malam.

Meski lelah, sepanjang pagi ini wajah Mama terlihat seperti biasanya. Mama Seli benar, percakapan tadi malam, walau susah sekali dimulai, saat sudah dikeluarkan, semuanya terasa lapang.

"Untuk sarapanmu di perjalanan.

" Mama menyodorkan kotak plastik.

Aku menerima kotak itu, mengintip isinya. Roti lapis. Makanan favoritku sejak kecil.

"Terima kasih, Ma," Aku memasukkan kotak plastik ke dalam ransel.

"Maaf, Ra, hanya itu yang bisa Mama siapkan.

" Aku mengangguk. Tadi malam aku sudah menjelaskan bahwa semua perbekalan sudah dimasukkan ke dalam kapsul perak. Mereka tidak perlu menyiapkan apa pun. Aku juga tidak akan membawa pakaian ganti. Kostum yang kukenakan memiliki teknologi membersihkan sendiri, lentur, tidak bisa dirobek benda tajam, dan melindungiku dari benturan benda tumpul.

"Hati-hati di jalan, Ra," Papa mengingatkan.

Aku mengangguk. Aku siap berangkat.

"Sebentar, Ra....

" Mama menahanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah pin perak, lebarnya sebesar tutup botol, dengan simbol bulan purnama tiga dimensi yang seolah muncul dari atas pin. Ada guratan dengan huruf Klan Bulan. Aku tidak bisa membacanya. Itu huruf lama.

Tanganku sedikit bergetar menerimanya. Pin perak ini terlihat berharga, seperti lencana atau penanda penting.

"Pin ini ditemukan di tempat tidurmu ketika kamu dilahirkan. Petugas rumah sakit memberikannya kepada kami. Mama menyimpannya. Apa pun benda ini, pasti ditinggalkan ibu kandungmu. Dia ingin kamu memilikinya saat dewasa.

" "Terima kasih, Ma," Aku memasukkan pin itu ke saku pakaian hitamku.

Aku memeluk Mama terakhir kali, kemudian mengangguk kepada Papa.

Mama kembali menangis. Dia menatap pintu yang terbuka lebar.

"Jangan cemas, Ma. Raib sudah besar. Dia tahu persis sedang melakukan apa," Papa berbisik menenangkan.

Saatnya aku berangkat menuju rumah Seli. Ali dan kapsul peraknya telah menunggu di sana.

Tubuhku menghilang, kemudian muncul seperseribu detik di jalanan kota, dan kembali menghilang sebelum orang-orang menyadarinya. Gerakan releportasiku semakin cepat, semakin tangkas, tidak ada kamera supercanggih yang bisa menangkapnya, apalagi mata normal manusia.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊