menu

Matahari BAB 07

Mode Malam
BAB 07
KALAU Ali benar-benar menemukan lorong kuno itu, apakah kamu akan ikut pergi ke Klan Bintang, Ra?" Seli berbisik. Pelajaran geografi lagi, tentang gempa bumi.

"Kamu mau ikut?" Aku balik bertanya.

Seli menyeka anak rambut di dahi. "Itu mungkin seru.

" Aku menatap Seli, memastikan. "Tapi itu berbahaya, Seli..." "Iya, memang. Tapi dengan ILY, itu akan jauh lebih mudah. Mesin itu canggih sekali, mungkin sama canggihnya dengan pesawat terbang Klan Bulan atau Klan Matahari. Ali juga sudah menyiapkan perbekalan. Kita akan aman di dalam kapsul, dan kapan pun bisa kembali ke permukaan bumi jika terjadi sesuatu.

" Aku diam sebentar, menyelidik. "Kamu jangan-jangan sebenarnya sudah berubah pikiran sejak melihat ILY, ingin merasakan bepergian dengan kapsul perak itu, kan?" Seli nyengir lebar. "Hehe, tidak juga. Aku hanya bosan tidak bisa bebas menggunakan kekuatanku. Kamu tahu, Ra, aku sekarang bisa mengeluarkan petir biru.

" Di depan, guru geografi masih menjelaskan tentang berbagai jenis gempa bumi.

Sudah empat bulan lebih Miss Selena tidak ada kabarnya. Aku tahu situasi yang dihadapi Seli. Kekuatanku juga semakin berkembang, Petir biru adalah teknik paling tinggi yang dikuasai petarung Klan Matahari.

Mau senormal apa pun kami bergaul dengan anak-anak lain di sekolah, kami tidak bisa menghilangkan fakta kami punya kekuatan. Prospek perjalanan ke Klan Bintang tentu menarik bagi Seli. Di sana mungkin dia bisa bebas melatih kekuatannya.

Tapi bagaimana kami bisa ke Klan Bintang? Aku sudah berjanji tidak akan menggunakan Buku Kehidupan.

Dua minggu terakhir Ali juga tidak membuat kemajuan dengan pemindai ILY. Dia kembali masuk sekolah dengan wajah kusam, malasmalasan. Duduk di kursi belakang, entah mendengarkan guru atau sedang memikirkan hal lain. Anak itu tidak semangat diajak bicara, mengusir aku dan Seli jauh-jauh jika kami mendekat. Ali selalu lebih menyebalkan setiap kali pikirannya buntu. Sepertinya ILY sudah mernindai jauh ke dalam perut bumi, tapi jangankan lorong kuno, lorong kecil yang biasa-biasa saja tidak ditemukan.

Hanya lapisan padat tanah dan bebatuan.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ra?" Seli berbisik lagi.

"Apanya?" "Kamu mau ikut atau tidak?" "Ali belum menemukan lorong itu, Seli. Aku tidak mau berandai-andai.

" "Jika dia menemukannya? Ali selalu bisa menemukan apa pun..." "Raib! Seli!" guru geografi berseru. Dia memukul papan tulis dengan penggaris besar. "Harus berapa kali Ibu bilang, hah? Jika mau mengobrol jangan di kelas. Kalian mengganggu teman-teman kalian belajar. Ini bukan mal.

" Aku dan Seli bergegas memperbaiki posisi duduk, menatap ke depan, memasang wajah manis sedunia.

Teman sekelas menertawakan kami. Aku iseng menoleh ke belakang. Kulihat Ali hanya menatap kami, tidak peduli, lalu kembali menopang dagunya dengan tangan.

Pelajaran tentang gempa bumi dilanjutkan.

***
 "Bagaimana sekolahmu, Ra?" Papa bertanya.

"Lancar, Pa," Aku menyendok nasi. Kami sedang makan malam bersama.

"Oh ya? Hari ini kamu belajar soal apa?" Papa kembali bertanya.

"Gempa bumi.

" "Oh, kalau begitu kita bahas hal lain saja. Tidak seru membahas gempa bumi saat makan malam, bisa hilang selera makan," Papa tertawa kecil.

Mama juga ikut tertawa. Papa selalu pandai membuat meja makan terasa hangat. Papa selalu bisa menemukan topik percakapan menarik. Kami asyik membahas tentang lagu-lagu klasik ketika Papa dan Mama masih muda, Lima belas menit menghabiskan makan malam, pindah topik tentang bonus akhir tahun kantor. Aku ikut mendengarkan, sambil menatap si Putih yang tiduran, melingkar di atas karpet dekat meja, kekenyangan.

"Kamu sedang ada masalah di sekolah?" Papa bertanya lagi, membuatku menoleh. "Dari tadi kamu lebih banyak melamun lho. Atau sedang sakit gigi?" Aku menggeleng. "Ra baik-baik saja, Pa.

" "Di kantor Papa mau dapat bonus. Kamu mau minta hadiah apa?" Papa tersenyum.

Aku segera balas tersenyum. "Ra tidak mau minta apa-apa.

" "Jawaban yang keren.

" Papa tertawa kecil. "Justru dengan begitu, kamu berhak dapat yang terbaik. Kamu tidak meniru strategi Mama, kan? Soalnya, kalau soal begini, Mama jago sekali gombalnya.

" Mama tertawa di seberang meja.

Aku ikut tertawa. Sebenarnya sejak tadi, selain memikirkan siapa orangtua kandungku, aku juga memikirkan percakapan dengan Seli di sekolah. Jika Ali akhirnya menemukan lorong kuno itu, apakah aku akan ikut ke Klan Bintang? Bukankah Ali pernah bilang, di klan itu kemungkinan ada jawaban tentang orangtuaku? Aku mengembuskan napas perlahan.

Selesai makan, aku membantu Mama membereskan meja, mencuci piring. Setelahnya aku izin hendak mengerjakan PR di kamar. Mama mengangguk. Si Putih segera mengikuti langkahku menaiki anak tangga.

Papa asyik membaca buku di ruang tengah.

Setelah selesai mengerjakan PR geografi--lagi-lagi tentang gempa, kami disuruh membuat daftar gempa besar yang pernah terjadi di seluruh dunia--aku mempunyai waktu setengah jam sebelum jadwal tidur. Aku memutuskan bermain sebentar dengan si Putih. Kami bermain bola-bola benang wol. Si Putih cekatan menangkap bola itu, berguling, memutar-mutar bola, melompat maju, mundur, maju lagi, seru sekali melihat si Putih berusaha menaklukkan bola benang.

Di luar hujan deras. Suara air yang mengenai atap, jendela, dan bebatuan terdengar ramai.

Hampir lima belas menit, si Putih menyerah. Dia meninggalkan bola-bola benang wol, mengeong tidak peduli, naik ke atas tempat tidur. Aku hendak tertawa melihat gayanya, tapi sudut mataku lebih dulu menangkap sesuatu. Ada cahaya terang dari luar jendela.

Aku menelan ludah. Itu cahaya apa? Lampu mobil yang masuk pekarangan? Ada yang bertamu ke rumah malam-malam saat hujan deras.

Aku beranjak ke jendela, menyingkap tirai.

Astaga! Aku hampir terduduk karena kaget. Kapsul perak buatan Ali terbang mendesing di depan jendelaku, hanya berjarak satu meter. Lampu kuningnya berpendar-pendar di bawah tetes air hujan. Apa maksud si biang kerok ini, mendadak muncul di halaman rumahku, mengambang di lantai dua? Bagaimana kalau ada yang melihatnya? Aku bergegas membuka jendela. Kesiur angin membawa butir air hujan. Pintu kapsul perak juga terbuka, kepala Ali muncul.

"Aku menemukannya, Ra!" Ali berteriak.

Aku mendesis menyuruhnya diam. Bagaimana kalau Papa atau Mama mendengar suaranya? Ali sepertinya mengerti ekspresi wajahku. Dia menekan sesuatu, dan sebuah belalai muncul dari atas kapsul perak.

Belalai itu meraih tubuhku di bingkai jendela, dan sebelum aku sempat protes, aku telah dibawa masuk ke dalam kapsul, melintasi hujan, terduduk di lantai kapsul.

"Kamu gila, Ali! Bagaimana kalau aku jatuh tadi, hah?" aku berseru protes.

Pintu kapsul tertutup otomatis. Setidaknya gerakan belalai itu cepat, pakaianku tidak terlalu basah, hanya rambutku yang terkena air hujan.

"Tenang saja, Ra. Aman. Belalai itu juga yang mengambilku di aula sekolah. Cepat dan akurat.

" "Tapi bagaimana kalau ada yang melintas di jalan, melihat kapsul ini, atau lebih serius lagi, sempat mengambil foto, merekam video.

" "Sori, Ra.

" Ali tersenyum santai, lalu menekan tombol. Dia mengaktifkan kembali mode menghilang kapsul. "Aku terlalu bersemangat, hingga lupa kapsul ini sempat terlihat beberapa detik.

" Aku masih bersungut-sungut, menepuk-nepuk ujung rambut yang basah.

"Aku menemukannya, Ra. Akhirnya!" Aku beranjak berdiri di belakang kursi Ali. "Menemukan apa?" "Lihat di layar, Ra," Ali menekan dua tombol sekaligus, dan layar besar di dalam kapsul menyala. Ali menunjuk layar itu dengan dramatis. "Lorong-lorong kuno, Ra! Jalan menuju Klan Bintang. Aku telah menemukannya!" Aku menatap layar kapsul, menelan ludah. Ali benar, layar besar itu memperlihatkan lorong-lorong besar, dengan diameter lima-enam meter, menembus lapisan bumi. Ali menekan tombol lagi, membesarkan peta tiga dimensi, membuat lorong itu terlihat lebih detail. Gelap. Lengang. Misterius. Tidak ada apa-apa di sana, seperti sudah ribuan tahun tidak pernah ada yang melewatinya.

"Kamu yakin itu lorongnya?" Aku akhirnya berkomentar.

"Ya.

" "Tapi bisa saja kan, itu hanya lubang bekas magma, atau dibuat oleh hewan?" Ali menggeleng. "Aku yakin sekali, Ra. Lorong-lorong ini dibuat oleh manusia, bukan oleh proses alam, apalagi oleh hewan. Arahnya, polanya, termasuk ukurannya yang simetris sama satu sama lain, itu tidak kebetulan berada di sana. Hanya manusia yang bisa membuatnya.

" Ali menekan tombol di papan kendali kapsul. Peta tiga dimensi itu kembali mengecil, menampilkan area yang lebih luas. Lubang panjang di perut bumi itu terlihat sangat dalam.

"Titik permukaannya ada di dekat danau besar, seribu dua ratus kilometer dari sini. Lubang itu tertutup bebatuan setebal enam meter, tapi ini tidak masalah, Kamu atau Seli bisa menjebolnya dengan pukulan keras. Lubang itu kemudian terus meluncur ke bawah, vertikal nyaris seperti sumur tanpa dasar, hingga kedalaman lima ratus kilometer, dan tiba di sebuah ruangan besar. Ada empat cabang di ruangan ini, di setiap sisi ruangan..." Empat cabang itu hilang setelah beberapa kilometer, aku bisa melihatnya di layar. Aku menoleh ke Ali.

"Lorong kunonya habis.

" Mana perkotaan atau pusat peradaban Klan Bintang?" "Kemampuan pemindai ILY hanya sejauh itu, Ra. Aku tidak bisa menambah energinya. Kita harus masuk ke dalam sana agar ILY bisa memperluas peta.

" Aku menyeka anak rambut di dahi. Sejak tadi tanpa disadari aku menahan napas menatap layar kapsul sambil mendengar penjelasan Ali.

"Masih seberapa jauh lagi lorong itu menuju Klan Bintang?" tanyaku lagi.

Ali menggeleng. "Aku tidak tahu. Dari persimpangan ini, bisa ratusan meter atau ribuan kilometer lagi.

" "Bagaimana kita tahu cabang yang menuju kota Klan Bintang?" "Sekali kita tiba di sana, kita bisa tahu mana cabang yang tepat.

" Aku terdiam, menatap layar kapsul. "Apakah Seli sudah tahu soal ini?" "Kita akan memberitahunya sekarang.

" Ali cekatan menekan tombol di atas panel kendali, layar besar sekarang menampilkan kota kami.

"Duduk di kursimu, Ra. Kita segera berangkat.

" Begitu bokongku menyentuh kursi, sabuk pengaman terpasang otomatis. Ali mengetuk salah satu tombol, dan kapsul perak itu mendesing lebih kencang, lantas melesat, menembus hujan deras. Gerakannya cepat, terbang melintasi atap-atap rumah, gedung-gedung tinggi, menuju rumah Seli.

"Maaf, Ra," Ali tertawa.

Aku bersungut-sungut, berpegangan pada lengan kursi. Ini kedua kalinya aku naik kapsul ini. Menatap hamparan kota dari dalam kapsul tetap menjadi pengalaman yang seru.

Dua menit kemudian, Ali perlahan mendaratkan kapsul perak di halaman belakang rumah Seli. Kapsul itu mengambang setengah meter, tidak jauh dari teras, kemudian muncul begitu saja. Seli sedang duduk santai di sana bersama orangtuanya, membaca buku. Andai saja itu ibuku, pastilah dia akan menjerit histeris melihat kapsul terbang mendarat di halaman rumput. Tapi karena mama Seli keturunan Klan Matahari, dia sudah terbiasa melihat hal tidak masuk akal.

Seli mendorong pintu kaca, membawa payung, naik ke atas kapsul. Mama dan papanya yang tertarik dengan kapsul perak kemudian ikut naik ke dalam kapsul.

"Halo, Ali, Ra," mama Seli menyapa ramah. Kapsul terasa sesak diisi lima orang.

"Selamat malam, Tante," aku balas menyapa.

Mama Seli menatap ruangan kapsul, berdecak pelan. "Seli sering cerita tentang betapa geniusnya kamu, Ali. Tapi kapsul perak ini, kamu yang membuatnya?" Ali mengangguk.

"Ini hebat sekali!" mama Seli memuji.

Ali mengusap rambutnya yang berantakan, terlihat senang dipuji.

"Jangan sampai benda ini diketahui agen rahasia, Ali," papa Seli menyela.

Kami semua menoleh. "Kenapa, Om?" tanya Ali antusias.

"Kapsul ini bisa-bisa disita oleh mereka, dijadikan senjata rahasia. Itu maksud Om.

" Mama Seli tertawa. "Papa Seli hanya bergurau. Dia terlalu sering menonton film aksi, abaikan saja.

" "Kenapa kalian datang malam-malam? Ada apa?" Seli bertanya.

"Aku menemukan lorong kuno itu, Seli!" Ali mengetuk tombol panel. Peta tiga dimensi itu kembali muncul.

"Lorong kuno apa?" Mama Seli bertanya, tertarik. Dia memang tidak bisa mengeluarkan petir seperti Seli, tapi masih mewarisi cerita-cerita lama dari klan leluhurnya, Klan Matahari.

"Lorong yang menuju Klan Bintang, Tante," Ali menjawab mantap.

"Kian Bintang? Kamu tidak bergurau?" Mata mama Seli membesar. "Bukankah tidak ada yang tahu di mana kian itu berada? Tidak ada satu pun kisah yang pernah Tante dengar tentang Klan Bintang. Tepatnya, penduduk Klan Matahari hanya menganggap kian itu mitos, legenda.

" Sama seperti sebelumnya di rumahku, sepuluh menit Ali menunjukkan, menjelaskan cepat tentang hasil pemindaian ILY, membuat yang lain terdiam. Menyadari fakta ada lubang berdiameter enam meter menembus lapisan perut bumi hingga ratusan kilometer, bukan sesuatu yang mudah dicerna akal sehat.

Apalagi membayangkan cabang-cabang lorong itu terus melintasi kerak bumi, ujungnya kemudian tiba di kota atau tempat peradaban Klan Bintang berada. Ada miliaran penduduk bumi, bagaimana mereka tidak tahu ada lorong-lorong tersebut selama ini? Setelah penjelasan Ali, kami pindah ke teras. Mama Seli yang menawarkan agar pembicaraan dilanjutkan di sana.

"Mama tidak keberatan jika Seli hendak pergi ke sana.

" Mama Seli meletakkan gelas minuman dan piring kue-kue di atas meja, Itu topik percakapan kami sekarang, yang langsung serius.

Seli mengangguk. Dia jelas ingin pergi ke sana. Keberadaan ILY membuatnya berubah pikiran, lebih percaya diri. Kami akan menaiki ILY menelusuri lorong-lorong kuno. ILY bukan hanya kapsul terbang atau mesin untuk mencegah Ali mendadak menjadi beruang, ILY juga memiliki mode pertahanan, sekaligus membawa logistik perjalanan. Kapan pun situasi menjadi rumit, ILY bisa segera kembali ke permukaan bumi.

"Dua minggu lagi sekolah kalian libur semester, Itu waktu yang tepat kalian berangkat ke Klan Bintang," mama Seli memberi usul.

Aku lebih banyak diam, mendengarkan percakapan. Apakah aku ingin ke Klan Bintang? Seandainya pun aku tidak mau, tapi dengan fakta Ali dan Seli pergi, aku jadi harus ikut pergi. Kami sudah menjadi teman baik sejak petualangan di Klan Bulan. Kami tidak bisa dipisahkan. Tapi bagaimana aku bilang kepada Mama dan Papa? Meminta izin pergi dua minggu? "Apakah Mama bisa pura-pura mengajak kami pergi berlibur lagi, agar Raib bisa izin kepada orangtuanya?" Seli seperti bisa membaca ekspresi wajahku, memberi ide.

Mama Seli menggeleng. "Itu tidak bisa terus-menerus dilakukan, Seli. Tidak baik berbohong kepada orangtua, walaupun alasannya bisa dimengerti.

" Teras belakang lengang sejenak, menyisakan suara air hujan. Kapsul perak masih mengambang setengah meter di atas halaman rumput, lampu kuning keemasannya berpendar-pendar terkena butir air hujan.

"Kamu belum memberitahu orangtuamu, Ra? Bahwa kamu sudah tahu kamu bukan anak kandung mereka?" Mama Seli menatapku, tersenyum.

Aku menggeleng patah-patah.

"Kamu harus melakukannya. Lebih cepat lebih baik.

" Aku menunduk.

"Masalah ini memang berat sekali disampaikan, tapi sekali dilakukan, sisanya menjadi ringan, Ra.

Percayalah.

" Mama Seli menyentuh lenganku. "Tante dulu juga susah payah bilang kepada papa Seli tentang leluhur Tante, hingga kami menikah. Tante takut responsnya, cemas jika papa Seli menjauh, hubungan kami berantakan. Tapi hari ini papa Seli bahkan ingin liburan ke Klan Matahari jika portal antarklan dibuka secara resmi untuk semua orang. Dia ingin berkunjung ke sana," Mama Seli tertawa renyah.

Aku mengusap rambutku. Tapi itu tetap tidak akan mudah. Bagaimana jika Mama berteriak histeris, bagaimana jika Mama sedih berkepanjangan? Enam belas tahun aku dibesarkan, tibatiba aku menanyakan siapa orangtua kandungku? Apalagi jika Mama tahu aku bisa menghilang, tanganku bisa mengeluarkan pukulan berdentum dengan guguran salju. Itu tidak sama dengan bilang ke Mama bahwa aku dihukum di sekolah.

"Kali ini, kamu harus bilang yang sebenarnya, Ra. Tidak perlu berbohong minta izin untuk pergi ke Klan Bintang. Bilang pada orangtuamu bahwa kamu sudah tahu siapa leluhurmu yang sebenarnya. Jelaskan tentang dunia paralel kepada mereka. Ceritakan petualangan di klan lain, semuanya. Mereka berhak tahu.

Kamu spesial, Ra. Seli dan Ali juga spesial. Kalian remaja yang istimewa, berasal dari tiga klan berbeda.

Tante sebenarnya cemas dengan perjalanan kalian ke Klan Bintang, tapi jika ada yang berhak untuk pergi ke sana, itu adalah kalian.

" Aku menatap halaman rumput. Samar, telingaku bisa menangkap suara-suara superkecil di sana. Cacing yang bergerak lembut menembus tanah, semut-semut yang meringkuk di sarangnya yang lembap karena khawatir air hujan akan masuk. Entahlah, mungkin mama Seli benar, aku harus segera bilang kepada Mama dan Papa. Apa pun risikonya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊