menu

Matahari BAB 06

Mode Malam
BAB 06
ALI benar, besoknya kami kembali bertengkar.

Saat satu sekolah menuntut penjelasan ke mana si genius itu mendadak menghilang saat pertandingan final basket, Ali justru menjawab santai, "Saya ke toiler.

" Para penggemarnya gemas bertanya, mengikuti Ali hingga ke lorong-lorong kelas, "Tapi kenapa lama sekali? Pertandingan sempat ditunda hampir lima menit setelah lampu kembali menyala.

" Ali mengangkat bahu. "Aku sakit perut. Melilit dua jam malah.

" Tidak terima, penggemarnya tetap memaksa penjelasan, merangsek masuk ke kelas, membuat penuh ruangan. "Tapi kenapa sakit pemt persis di babak kedua? Kita jadi kalah, tahu!" Ali nyengir lebar, melambaikan tangan. "Mana aku tahu akan sakit perut pas babak kedua. Memangnya kalian tidak pernah mendadak sakit perut?" Semua terdiam, menatap wajah Ali yang tanpa dosa.

Sepertinya murid-murid sekolah kami kembali tersadarkan, memang begitulah tabiat asli Ali. Tidak peduli, selalu menggampangkan masalah. Aku menahan tawa. Murid-murid perempuan mulai berseru sebal saat bel istirahat pertama berbunyi. Popularitas Ali turun drastis di mata mereka, berubah jadi musuh bersama yang menyebabkan kekalahan sekolah. Beruntung, kapten dan anggota tim basket sekolah kami bisa memahaminya, menepuk-nepuk bahu Ali di kantin. "Tahun depan sekolah kita pasti juara, Ali.

Pastikan saja kamu tidak makan yang pedas-pedas sebelum pertandingan final, biar tidak mencret. Oke?" Kali ini Seli ikut menutup mulut, menahan tawa.

Tetapi kesenanganku melihat fans Ali yang kecewa segera menguap. Saat istirahat kedua, kelas sepi, menyisakan kami bertiga, Ali langsung ke topik bahasan yang dulu sering dia bahas.

"Kita harus ke Klan Bintang, Ra.

" Aku yang sedang menyalin catatan pelajaran geografi dari buku tulis Seli menoleh. Apa maksudnya? Bukankah dia sudah berhenti membahasnya? "Aku tahu kamu tidak akan melanggar janji menggunakan buku matematika itu, Ra. Tapi kita tetap bisa pergi ke sana dengan cara lain.

" "Bagaimana kamu akan ke sana? Hanya buku matematika Ra yang bisa membuka portal menuju dunia paralel.

" Seli bertanya lebih baik, tidak langsung bereaksi keberatan seperti aku.

"Tidak, Sel. Buku matematika Ra bukan satu-satunya cara. Masih ada cara lain, cara yang lebih rumit, tapi itu lebih seru. Jika buku milik Ra seperti teknologi digital, langsung mengirim kita ke sana secara instan, aku sudah menemukan cara manual, lewat perjalanan fisik.

" "Perjalanan fisik? Memangnya kamu tahu di mana Klan Bintang?" "Sekarang aku tahu.

" Kali ini aku serius menatap Ali. Ini menarik sekali. Av dulu pernah menjelaskan, dunia paralel itu seperti lapangan luas yang di dalamnya ada lapangan voli, basket, sepak bola, serta bulutangkis secara simultan.

Keempat kian ada di atas lapangan yang sama, empat pertandingan berlangsung serentak, tanpa pemain saling ganggu, karena mereka dipisahkan oleh keberadaan fisik yang berbeda. Mereka tidak bisa saling lihat, tidak bisa saling ketahui, karena dimensi atau tempatnya berlainan. Jika Ali bilang kami bisa melakukan perjalanan fisik ke sana, itu berarti Klan Bintang secara fisik sama dengan bumi? Seperti pergi ke luar negeri atau wisata ke luar kota? Tidak masuk akal.

"Klan Bintang ada di sini, Seli. Di dekat kita," Ali mengonfirmasi jawabannya.

Mataku membulat, Seli tidak sabar menunggu penjelasan. Ada di bumi? Lantas bagaimana orang-orang tidak bisa melihatnya? "Kamu ingat Av dulu pernah bilang, Klan Bintang terletak jauh sekali, tidak bisa dipetakan oleh teknologi milik Klan Bulan, tidak bisa ditemukan oleh siapa pun, karena Av keliru, kota-kota, peradaban Klan Bintang tidak berada di atas awanawan sana, sebaliknya, mereka justru ada di bawah. Mereka ada di perut bumi, Aku yakin soal ini.

" "Di perut bumi?" "Iya. Mereka membangun tempat tinggal di sana. Ribuan kilometer di dalam sana.

" "Eh, bagaimana mungkin manusia tinggal di dalam bumi? Klan Bulan saja hanya bisa menembus beberapa kilometer, tidak lebih dari itu," Seli menyela.

"Itu karena kita tidak pernah mau menyadarinya. Kita selalu melihat ke atas, memandang langit, wow, betapa luas dan tingginya langit. Tapi, apakah ruang di atas kepala kita luas? Tidak juga. Kamu lihat pesawat terbang yang melintasi kota kita? Pesawat itu hanya berada di ketinggian paling maksimal sepuluh kilometer. Awan bisa lebih tinggi lagi, bisa belasan kilometer. Balon terbang mungkin bisa tiga puluh kilometer. Satelit pemancar bisa menyentuh ketinggian enam ratus kilometer. Apakah itu tinggi? Tidak. Itu pendek jika dibandingkan dengan perut bumi. Hanya enam ratus kilometer batas tertinggi langit yang disentuh manusia bumi.

"Bayangkan diameter perut bumi, nyaris tiga belas ribu kilometer, satelit yang enam ratus kilometer di atas kepala kita tidak ada apa-apanya dibanding diameter bumi yang tiga belas ribu kilometer, dua puluh kali lebih tinggi. Di dalam sanalah, ribuan kilometer, Klan Bintang meletakkan kota. Peradabannya jauh dari gangguan kian mana pun. Mereka bisa menciptakan kota luas dengan langit-langit buatan ratusan kilometer persis seperti dunia kita, sepanjang teknologinya ada.

" "Tapi, bukankah di perut bumi ada magma? Panas sekali, bukan?" Seli teringat pelajaran geografi.

"Itu tidak masalah bagi teknologi mereka, Sel. Klan Bintang adalah kian paling maju dibanding klan lain.

Lagi pula, jika mereka mengeduk kedalaman tiga ribu kilometer misalnya, itu tetap masih jauh dengan inti bumi, masih tiga ribu kilometer lagi. Aku yakin sekali, hipotesisku akurat. Di sanalah peradaban Klan Bintang berada. Secara fisik mereka berada di tempat yang sama dengan Klan Bumi.

" Ruangan kelas kami lengang.

Aku dan Seli mencoba mencerna penjelasan Ali. Dulu, Ali juga punya hipotesis yang jitu tentang dunia paralel. Meski aku tidak mernercayainya, ternyata dia benar. Av memberitahukan kebenarannya. Apakah yang satu ini juga benar? "Anggap saja Klan Bintang memang ada di perut bumi, Ali. Tapi bagaimana kita masuk ke sana? Kita mengebor tanah ribuan kilometer? Tidak ada alat yang bisa melakukannya. Kita juga tidak punya ide sama sekali di mana lokasi persisnya. Tersesat di atas permukaan saja rumit, seperti saat kita di Klan Matahari, apalagi di dalam sana. Jangan-jangan kita malah masuk lubang magma.

" "Kita tidak perlu mengebor tanah, " Ali menggeleng, "kita bisa melewati lorong-lorong kuno di perut bumi.

" "Lorong kuno?" Seli menatap Ali tidak mengerti, memastikan dia tidak salah dengar. Sejak tadi Ali menumpahkan informasi yang tidak masuk akal, sekarang ditambahkan pula istilah "lorong kuno".

"Iya, lorong kuno. Menurut perhitunganku, penduduk Klan Bintang awalnya pernah tinggal di permukaan, mungkin penduduknya campuran dari tiga kian sekaligus. Kemudian entah dengan alasan apa, mereka pindah ke dalam sana, membentuk peradaban baru. Mereka membuat lubang menuju perut bumi.

"Berbulan-bulan aku membaca buku dari tabung perak hadiah Av. Aku menemukan satu buku yang pernah menyinggung tentang lorong-lorong itu. Dua ribu tahun silam, saat kejadian pertempuran si Tanpa Mahkota dengan saudara cirinya, ada yang berusaha menemukan lorong-lorong tersebut. Satu rombongan petarung terbaik Klan Bulan dan Klan Matahari melakukan ekspedisi ke perut bumi, mencari pertolongan Klan Bintang. Catatan mereka tersimpan dalam buku itu.

" "Apakah mereka akhirnya menemukan Klan Bintang?" "Aku tidak tahu. Rombongan itu tidak ada yang kembali. Ada bencana besar setelah itu. Gempa bumi yang menghilangkan banyak catatan sejarah. " "Astaga! Jika mereka dua ribu tahun lalu saja tidak ada yang kembali, bagaimana kamu mau mengajak kami ke sana, Ali?" Aku melotot, untuk pertama kalinya berkomentar.

"Kamu terlalu khawatir, Ra," Ali menjawab santai. "Kara siapa jika mereka tidak pernah kembali itu berarti buruk? Mungkin saja mereka justru menetap di sana, menemukan kota dengan peradaban tinggi, hidup bahagia. Siapa yang tahu? Lagi pula, itu dua ribu tahun lalu, bahkan di Klan Bumi saja perjalanan masih susah, masih pakai kuda saat itu. Sekarang teknologi ada di mana-mana, ada pesawat terbang, perjalanan tidak akan sesulit dulu.

" Aku mendengus kesal. Ali selalu menggampangkan masalah.

Bel tanda masuk terdengar, anak-anak kembali ke kelas, membuat percakapan kami terhenti.

Saat itu aku belum terlalu khawatir. Aku hanya menduga Ali sekadar membujukku. Keberadaan Klan Bintang di perut bumi hanya hipotesis imajinasinya, lorong-lorong kuno itu hanya karangannya. Lamalama dia juga bosan, berhenti membahasnya. Aku tidak tahu beberapa hari kemudian, Ali benar-benar memulainya. Dia serius menyiapkan perjalanan ke Klan Bintang. Karena aku menolak menggunakan Buku Kehidupan, dia mencari cara lain.

***
 Tiga hari terakhir Ali tidak masuk sekolah.

"Apakah Ali sakit, Ra?" Seli berbisik bertanya. Pelajaran pertama pagi ini geografi. Gurunya galak sekali memastikan murid tidak ribut. Seli baru saja melirik bangku paling belakang yang kosong.

Aku mengangkat bahu.

"Kenapa Ali tidak masuk lagi? Bulan depan kita akan ulangan semester. Dia tidak bisa bolos semaunya.

" "Aku tidak tahu, Sel," aku balas berbisik. "Mungkin dia bosan menghadapi fansnya yang mendadak menjadi musuhnya. Si biang kerok itu sedang berlibur menenangkan diri.

" Seli mengembuskan napas pelan.

"Kamu tidak cemas dia melakukan hal yang aneh-aneh di laboratoriumnya, Ra?" "Dari dulu kan dia memang sudah melakukannya, Sel?" "Tapi ini berbeda, Ra. Ali punya tabung perak dari Av. Dia juga ingin sekali ke Klan Bintang. Bagaimana kalau dia membahayakan dirinya sendiri?" "Eh, Sel, bukannya kamu sendiri yang beberapa hari lalu bilang kita tidak perlu mencemaskan Ali? Dia genius, dia tahu harus melakukan apa.

" "Maksudku bukan begitu, Ra..." "Lagi pula, dia biasa tidak masuk sekolah, kan? Tiba-tiba bolos berhari-hari. Jadi apanya..." "Raib, Seli!" Guru geografi memotong kalimatku, berseru kencang dari depan, matanya galak terarah ke meja kami, "Dengarkan pelajaran, atau kalian terpaksa berdiri di luar kelas, biar bebas bicara tanpa mengganggu murid lain.

" Aku dan Seli bergegas menutup mulut, menatap papan tulis lebih serius. Teman-teman sekelas tertawa melihat kami. Pelajaran geografi dilanjutkan.

Pulang dari sekolah, Seli mernaksaku mampir ke rumah Ali. Aku mengalah, Itu bukan ide buruk. Aku bisa sekalian melihat ILY, kapsul perak keren buatan Ali. Naik angkutan umum, kami tiba di rumah besar dengan halaman rumput luas. Kali ini kami tidak menyelinap masuk, Seli menemui petugas yang menjaga gerbang, dan disambut dengan ramah.

"Biar saya antar hingga ke pintu basement," petugas itu menawarkan.

Seli mengangguk sopan, menyikutku yang hampir berkata "tidak usah, kami bisa sendiri ke basement itu".

Kami tercatat secara resmi "tidak pernah" ke rumah ini, jadi bagaimana mungkin kami tahu di mana basement kamar Ali berada? Demikian maksud tatapan Seli. Masuk akal, aku ikut mengangguk.

"Tuan Muda Ali tidak sakit. Dia hanya sibuk sekali, mengurung diri di basement. Entah apa yang dilakukannya di sana, tidak ada yang berani bertanya, apalagi masuk ke dalam basement.

" Aku hampir tertawa--Tuan Muda? Hebat betul panggilan Ali di rumah ini.

"Saya senang kalian berkunjung.

" Petugas berusia empat puluh tahunan itu tersenyum ramah, memimpin kami melintasi ruangan.

"Kenapa, Pak?" Seli bertanya, lagi-lagi dengan nada sopan.

"Eh, soalnya, saya khawatir Tuan Muda Ali tidak punya teman di sekolahnya. Syukurlah ternyata punya.

" Petugas itu tersenyum. "Tuan Muda Ali eksentrik, ah, kalian pasti tahu, dia pintar sekali. Saya tidak pernah melihat anak segenius Tuan Muda. Tapi dia tidak mudah ditebak suasana hatinya. Dia juga tidak mudah diatur, termasuk soal sekolah. Kapan pun dia tidak mau masuk, tidak ada yang bisa membujuknya sekolah.

Tuan Muda hanya patuh kepada Nyonya, yang lebih sering berada di luar kota.

" Aku dan Seli mengangguk. Soal itu kami sudah tahu.

"Silakan masuk, Raib, Seli. Saya hanya bisa mengantar hingga ke sini. Saya akan kembali ke pos.

" Petugas mendorong pintu basement, kemudian balik kanan, menaiki anak tangga batu.

Setelah mengucapkan terima kasih, kami melangkah ke dalam.

Kejutan! Aku seperti tidak mengenali basement itu lagi. Hanya terhitung tiga hari sejak aku dan Seli menyelinap masuk, basement itu sekarang nyaris kosong. Semua peralatan, benda-benda yang sebelumnya berserakan, entah telah disingkirkan ke mana, menyisakan satu-satunya benda di tengah basement, yaitu ILY. Di sekitar kapsul perak itu ada delapan belalai sedang bergerak otomatis memasang sesuatu, atau menguji sesuatu. Percik api terlihat, sesekali ILY seperti diselimuti petir kecil, mendesing pelan.

Langkah kami terhenti. Aku menatap kapsul perak dengan diameter tiga meter itu. Juga ada guguran salju yang keluar dari dinding kapsul.

Sepertinya Ali memusatkan seluruh penelitiannya pada ILY dan membuang proyek lain.

Di mana si genius itu? Seli menunjuk ke pojok basement, belasan meter dari kami.

Ali tampak sedang asyik mendribel bola basket, bergerak lincah, kemudian loncat dan menembak ke dalam keranjang, Tiga hari lalu aku tidak menyadari ada lapangan basket kecil di basement. Setelah semua peralatan dirapikan, kini lapangan itu terlihat jelas. Ali sedang bermain basket, tidak menyadari kedatangan kami.

"Hei, Ali!" Seli berseru.

Tembakan tiga angka berhasil dicetak Ali. Bola menembus keranjang. Ali menoleh, nyengir lebar, tidak tampak terkejut melihat kedatangan kami. Bola basket menggelinding di lantai.

"Kali ini kalian sepertinya masuk ke rumahku secara normal.

" Ali mendekar. "Penjaga gerbang depan mengantar kalian?" Seli mengangguk.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Tuan Muda Ali?" aku bertanya, sengaja.

Wajah Ali memerah. Seli di sebelahku tertawa.

"Kamu tidak datang untuk mengajakku bertengkar, kan?" Ali melotot.

"Kenapa kamu tidak masuk sekolah tiga hari, Ali?" Seli bertanya lebih baik, menyuruhku berhenti menggoda Ali dengan nama panggilan itu. "Kamu tidak bolos hanya karena berlatih basket, kan? Komperisi sudah selesai.

" Ali diam sejenak, mengusap rambutnya yang berantakan, menunjuk kapsul perak di tengah basement. "Aku menyempurnakan ILY.

" "Bukannya kapsul itu sudah jadi?" Ali menggeleng. "Belum. Kapsul itu terus disempurnakan. Kalian tiba pada saat yang tepat. Sebentar lagi ILY versi 2.

0 siap.

" Ali menyeka peluh di dahi. Kaus yang dikenakannya basah. Sepertinya dia telah lama bermain basket sendirian sebelum kami datang. Ali berjalan mendekati kapsul perak yang dikelilingi delapan belalai yang terus bekerja, kemudian mendongak memperhatikan. Aku dan Seli berdiri di samping Ali.

Gerakan belalai semakin berkurang. selimut petir dan salju berguguran menghilang. Dua menit kemudian, delapan belalai kembali ke posisinya, berhenti. Kapsul perak itu berdesing, mulai mengambang setinggi setengah meter dari lantai basement, dan berputar lembut. Cahaya lampu kekuningannya berkedip-kedip.

Warna kapsul perak lebih cemerlang, Pintu kapsul terbuka.

"Kalian mau masuk?" Ali menawarkan. Tanpa menunggu jawaban kami, dia melangkah lebih dulu.

Kami ikut masuk. Peralatan di dalam kapsul lebih banyak. Sekarang ada lemari portabel dan kotak besar di belakang tiga kursi.

"Aku sudah mengisinya penuh.

" Seli membuka tutup kotak. "Makanan?" "Ya. Kita butuh banyak makanan di perjalanan. Aku tidak mau seperti di Klan Matahari, kita terpaksa makan roti keras, makanan basi, atau buah liar yang asam.

" Kapsul perak lengang, aku dan Seli menatap Ali.

"Ali. kamu benar-benar serius hendak pergi ke Klan Bintang?" Seli bertanya perlahan.

Ali mengangguk mantap.

"Tapi bagaimana kamu akan menemukan lorong-lorong kuno itu?" Seli menutup kotak besar.

"Itulah yang kukerjakan tiga hari terakhir. Bolos sekolah bukan berarti aku malas-malasan," Ali beranjak duduk di kursi. Dia mulai menekan tombol-tombol, layar besar di dalam kapsul menyala.

"Aku memasukkan teknologi baru ke kapsul ini. ILY sekarang tidak hanya bisa menghilang. mengeluarkan petir, dan memiliki semua kemampuan petarung Klan Bulan dan Klan Matahari. ILY juga punya keahlian seperti yang pernah Hana jelaskan di peternakan madu. ILY bisa 'bicara dengan alam'.

" "Bicara dengan alam seperti yang bisa Raib lakukan dengan telapak rangannya?" Seli bertanya antusias.

Ali mengangguk, sambil tertawa kecil. "Ya, tapi itu istilah bagi yang tidak paham teknologinya. 'Bicara dengan alam' terdengar hebat sekali memang. Aku lebih suka menyebutnya 'sonar', seperti kelelawar atau lumba-lumba. Mereka mengirimkan suara dengan frekuensi tinggi ke seluruh penjuru, kemudian suara itu memantul kembali. Kelelawar bisa melihat dalam gelap. Juga lumba-lumba, mereka bisa mengetahui palung-palung dalam lewat sonarnya.

"ILY versi 2.

0 punya kemampuan itu sekarang. Mari kita lihat apa yang ILY temukan tiga hari terakhir. Aku sudah memindai perut bumi hingga kedalaman seratus kilometer," Ali menekan tombol-tombol. Layar besar mulai menunjukkan peta tiga dimensi yang menakjubkan, Peta perut bumi.

Itu sama seperti saat aku menemukan lorong-lorong tikus di Klan Matahari. Bedanya, lorong-lorong itu muncul di kepalaku, yang ini muncul di layar besar. Jalur pipa bawah tanah, saluran pembuangan, lubanglubang yang dibuat hewan, lapisan tanah, batu, pasir, hamparan air bawah tanah, semua terlihat jelas di layar kapsul. Tapi tidak ada lorong kuno yang dimaksud Ali.

Ali berusaha menggeser layar, memeriksa lebih luas, hampir seluruh bagian bawah kota kami, tetap tidak ada yang berbeda, hanya lapisan bumi biasa.

"Mana lorong kunonya?" Seli bertanya.

"ILY akan menemukannya.

" Wajah Ali terlihat kecewa. Dia mengembuskan napas kesal.

Aku dan Seli saling tatap.

Kami keluar dari kapsul perak.

"ILY harus memindai area lebih luas dan lebih dalam. Aku hanya memerlukan tenaga yang lebih besar," Ali bersungut-sungut, mood jeleknya datang.

"Kamu tidak akan membuat listrik seluruh kota padam, kan? Seperti di film-film itu?" Aku mencoba bergurau.

Ali mendengus, "Aku tidak membutuhkan listrik kota satu watt pun, Ra. ILY saat ini bahkan punya tenaga listrik lebih besar dibanding listrik seluruh kota. Aku memasukkan teknologi Klan Matahari untuk menciptakan listrik mandiri untuknya.

" Aku tersenyum tpis. Melihat Ali jengkel kadang menyenangkan.

"Aku akan menemukan cara agar ILY bisa memindai hingga radius ribuan kilometer, Aku akan menemukan lorong-lorong kuno itu. Sekarang kalian berdua hanya mengganggu konsentrasiku. Silakan tinggalkan aku sendirian.

" Ali melangkah ke pintu basement.

Eh, si biang kerok ini mau mengusir kami? Enak saja.

Ali sudah membuka pintu. Dia serius melakukannya.

"Baiklah, Tuan Muda Ali. Kami pamit pulang," aku berkata ketus, bergegas menarik lengan Seli, melewati pintu basement.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊