menu

Matahari BAB 05

Mode Malam
BAB 05 
AKU dan Seli sudah beberapa kali mengunjungi rumah Ali. Rumah besar dua lantai dengan puluhan daun jendela. Rumah itu memiliki arsitektur kuno, berupa tiang-tiang tinggi seperti zaman Yunani dengan atap melengkung laksana kastel. Halaman rumahnya sangat luas, taman-taman bunga tertata rapi, juga hutan buatan dengan sungai-sungai kecil. Aku tidak bergurau. Rumah Ali memang punya hutan buatan. Seperti halnya kegeniusan Ali, murid-murid sekolah kami tidak banyak yang tahu bahwa Ali datang dari keluarga superkaya-bukan hanya kaya. Orangtuanya adalah pemilik perusahaan kapal kontainer di kota kami. Ali anak tunggal, dengan orangtua yang sibuk bekerja.

Sebulan terakhir, aku dan Seli sering ke rumah Ali. Apa lagi kalau bukan urusan mencari tahu dari mana Ali mendadak bisa jago bermain basket. Pertama kali kami mengunjungi rumah Ali, Seli berdecak kagum, menepuk dahi, tertawa tidak percaya. Bagaimana mungkin si kusam yang jarang mandi saat berangkat sekolah itu ternyata punya rumah yang kamar mandinya mungkin ada belasan. Tidak mudah dipercaya.

Hujan deras terus turun, malam semakin larut. Aku dan Seli berdiri di depan gerbang pagar. Bangunan besar di depan kami lengang, tidak ada aktivitas di halamannya yang luas. Dua penjaga gerbang terlihat malas di pos mereka, memilih menonton televisi.

"Kita masuk, Ra?" Seli berbisik.

Selama ini kami tidak pernah melewati gerbang pagar, karena setiap kali aku memaksa ingin masuk, justru Seli sendiri yang melarangnya, bilang tidak sopan mengintip apa yang dilakukan Ali hingga ke dalam rumah. Kali ini, sepertinya Seli sendiri yang menyuruh melanggar peraturannya.

Aku mengangguk, memegang lengan Seli--aku harus melakukan hal itu setiap saat agar Seli juga ikut menghilang ketika tubuhku menghilang.

Kami melompati gerbang besi dengan mudah. Juga berjalan cepat tanpa hambatan melintasi halaman rumput, dan tiba di pintu utama, Pintu tidak terkunci, kami bisa menyelinap masuk.

"Kamu tahu di mana kamar Ali?" Seli berbisik.

Aku bergumam, "Bagaimana aku tahu?" Itu segera menjadi masalah saat kami berhasil masuk. Rumah ini besar sekali. Dengan banyak lorong, kamar, ruangan-ruangan. Anak tangga di ruang depan saja ada empat, entah menuju ke mana. Aku memutuskan menuju sembarang arah, mulai memeriksa satu per satu. Seli melangkah di sebelahku.

Rumah itu sepi, suara hujan tidak terdengar dari dalam. Mungkin pembantu dan pengurus rumah sudah terlelap di kamar masing-masing, Kamar-kamar kosong. Aku melintasi furnitur mewah yang membisu.

Entah di mana orangtua Ali. Merujuk cerita Ali selama ini, kemungkinan orangtuanya sedang keluar kota, atau keluar negeri. Mereka sibuk mengurus perusahaan, tidak terlalu tahu apa yang dikerjakan Ali. Bahkan jika Ali tidak pulang berhari-hari, itu dianggap biasa. Orangtua Ali mengira putra mereka sedang menginap di rumah siapalah.

Lima belas menit berjalan tanpa arah, aku tetap tidak menemukan petunjuk apa pun. Seli berbisik, "Apakah kita tidak sebaiknya segera keluar, Ra? Kan bisa saja kapsul perak tadi hanya kebetulan mengarah ke rumah Ali.

" "Aku yakin sekali kapsul itu ke sini, Seli. Lagi pula, sudah kepalang tanggung. Jika aku tidak menemukan kapsul itu, setidaknya aku bisa melihat kamar Ali.

" Entah apa yang telah dilakukan Ali selama enam bulan terakhir. Mungkin saja ada sesuatu yang bisa menjelaskan kejadian di lapangan basket tadi, sesuatu yang membuat kapsul perak menculiknya.

Setengah jam berlalu, hampir seluruh ruangan telah kami periksa, termasuk ruangan di lantai dua, tapi tidak ada gelagat itu adalah kamar Ali. Aku bergumam kesal. Aku tidak tahu kesukaan anak cowok, bagaimana mereka memilih kamar, tapi seharusnya menemukan kamar Ali tidaklah sulit. Dulu, saat memasuki Perpustakaan Sentral Klan Bulan, kami bisa menemukan lokasi Miss Selena. Rumah orangtua Ali tidak sebesar perpustakaan itu.

Baiklah, ada cara lebih cepat untuk menemukan kamar Ali. Aku melangkah menuju salah satu dinding, melepaskan sejenak peganganku ke Seli. Tubuh kami terlihat-tidak masalah, sejak tadi tidak ada siapasiapa di rumah besar ini.

"Apa yang akan kamu lakukan, Ras" Seli bertanya.

Aku sudah konsentrasi penuh. Telapak tangan kananku menyentuh dinding. Aku pernah melakukannya di Klan Matahari, saat mencari tahu cara melewati dinding raksasa, menemukan lorong-lorong tikus. Aku bisa mencari kamar Ali lewat cara ini. Telapak tanganku bisa membaca getaran hingga jauh sekali, kemudian seperti peta tiga dimensi, ruangan-ruangan di sekitar kami terekam. Tidak akan ada ruangan rahasia mana pun yang lolos dari sensor telapak tanganku.

Sejenak menempelkan telapak tangan, aku mendengus. Pantas saja! Masih ada ruangan yang belum kami periksa, ruangan luas di bawah tanah. Itu pasti kamar Ali. Itu cocok sekali, si genius itu sejak kecil suka meledakkan banyak hal, bukan? Orangtuanya mungkin memberikan Ali area basement sebagai kamar sekaligus tempat dia bebas dan aman melakukan apa pun.

"Ayo, Seli!" Aku melepaskan telapak tangan dari dinding, melangkah cepat.

Tanpa banyak komentar, Seli menyusulku.

Kami menuruni anak tangga batu menuju basement.

Dua daun pintu yang lebarnya masing-masing berukuran dua meter menunjukkan akan sebesar apa basement yang kami datangi. Aku butuh bantuan Seli untuk mendorong pintu itu agar terbuka. Kami saling menatap sejenak sebelum membukanya, dan tetap saja takjub melihatnya. Ini bukan sekadar kamar seorang remaja laki-laki berusia enam belas tahun. Ini lebih mirip markas. Ruangan sebesar lapangan basket ada di depan kami. Tingginya tidak kurang empat meter. Benda-benda aneh berserakan, seperti kapal pecah, berantakan.

Lampu menyala otomatis saat kami masuk.

Ini laboratorium raksasa milik Ali. Belalai-belalai mekanik, prototipe mesin-mesin, papan elektronik, robot-robot kecil setengah jadi, juga benda-benda yang tidak kukenali. Entah itu apa, aku tidak akan mencoba memeriksanya. Seli berbisik, menunjuk tiga benda berdesing berbentuk bola kasti yang mengambang di atas meja. "Itu apa, Ra?" Aku menggeleng. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ali di ruangannya. Menilik sejak usia delapan tahun Ali sudah suka meledakkan sesuatu, menjauhi benda-benda yang tidak dikenal adalah pilihan paling aman.

Kami terus melangkah maju, sekarang melewati lemari-lemari tinggi berisi perkakas, logamlogam perak, setidaknya ada delapan lemari. Juga dua lemari kaca yang berisi bebatuan, kristal, mineral dengan berbagai jenis dan warna. Ali sepertinya mengoleksi benda-benda ini.

Separuh jalan, aku menemukan ranjang--benda normal seperti di kamarku, juga lemari pakaian. Sepertinya di sini Ali tidur, atau tertidur sambil sibuk melakukan hobinya. Aku mendekati meja belajar terbuat dari kayu--juga terlihat normal. Ada sesuatu yang amat kukenali di atas meja itu, tabung yang diberikan Av.

Tabung itu sedang menampilkan layar tiga dimensi, tentang lapisan-lapisan bumi, tentang lorong-lorong dalam. Di sekitarnya berserakan kertas penuh catatan, tulisan tangan Ali yang hanya dia yang bisa membacanya.

Aku dan Seli kembali saling menatap. Pakaian kotor Ali bertumpuk di lantai. Seperti pemiliknya, sudut ruangan ini kusam, berantakan. Ali mungkin melarang siapa pun-termasuk para pembantu rumahnya-masuk ke laboratorium untuk merapikannya, dan orangtuanya yang sibuk tidak sempat merneriksa. Selain tumpukan baju kotor, tidak ada yang terlihat mencolok di sekitar tempat tidur dan meja belajar Ali.

Aku memutuskan meneruskan langkah, masih separuh basement lagi yang harus diperiksa. Seli mengikuti.

Persis tiba di ujung basement, Seli refleks memegang lenganku.

Langkah kaki kami terhenti.

"Ra!" Aku melihatnya, Sebuah kapsul perak, dengan lampu-lampu kuning kecil di pojok basement. Itulah benda yang kami kejar tadi. Entah bagaimana kapsul bulat sebesar mobil minivan itu bisa mendarat di sini.

Posisinya seperti sedang parkir, mengambang setengah meter dari lantai basemeni.

"Hati-hati, Ra," Seli mengingatkan.

Aku mengangguk, lantas melangkah mendekati kapsul. Tanganku terangkat, bersiap dengan kemungkinan paling buruk, siap mengirimkan pukulan berdentum. Seli menunggu di belakangku, juga bersiap mengirim petir.

Terdengar suara berdesing pelan, sesuatu di dalam kapsul sepertinya akan keluar. Aku menahan napas, suasana menjadi tegang. Entah siapa atau apa yang ada di dalam kapsul itu, pasti dialah yang membawa tubuh Ali, menculik teman kami.

Desingan pelan itu berhenti, disusul suara pintu yang membuka lembut.

Aku menelan ludah. Ini tidak bisa kumengerti.

Lihatlah, di depanku, Ali sedang tertatih keluar dari pintu kapsul, dengan wajah meringis dan rambut berantakan. Dia turun sendirian, tidak ada siapa-siapa yang mengawalnya. Seragam basket bagian atasnya robek-robek, tapi celananya masih utuh, dan satu sepatunya terlepas.

"Ra? Seli?" Ali menatap kami. Wajahnya masih meringis menahan sakit. Sepertinya transformasi Ali menjadi beruang baru separuh jalan sebelum dia kembali normal dengan sendirinya. Ali terhuyung lagi.

Seli bergegas maju membantunya agar tidak terjatuh.

Aku melangkah cepat, memeriksa isi kapsul, siapa tahu si penculik menunggu di dalam.

"Ali, mana orang yang menculikmu?" aku berseru galak. Ternyata kapsul itu kosong.

Ali menggeleng, wajahnya lemas. "Tidak ada siapa-siapa di sana, Ra. Hanya aku.

" Hanya Ali? Apa maksudnya? Wajahku menyelidik.

Ali bergumam, respons standar Ali setiap kali aku tidak percaya kepadanya. "Nanti akan kujelaskan, Ra.

Sekarang aku harus memulihkan tubuhku. Tolong bantu aku duduk, Sel.

" Seli mengangguk. Dia gesit membimbing Ali ke kursi dekat kami, juga berlari-lari kecil menuju meja belajar. Ada keran air minum segar di sana. Seli membawakannya untuk Ali.

"Kalian pasti mengejar kapsul ini, bukan?" Ali bertanya, setelah meneguk separuh gelas.

Seli mengangguk. "Raib yang melihat jejak cahaya kuning, mengejarnya.

" "Jika kalian berhasil mengejarnya, berarti kapsulku belum terlalu hebat.

" Ali mengusap rambutnya yang berantakan.

Kapsul Ali? aku bertanya-tanya dalam hati. Penasaran sekali.

"Kamu mau baju ganti, Ali?" Seli menyerahkan kaus bersih yang dia temukan di lemari, yang dia bawa bersama gelas air tadi.

Ali mengangguk lalu mengenakan kaus itu. Tampaknya kondisinya semakin baik.

"Kapsulmu? Kamu yang membuat kapsul itu?" tanyaku tidak sabaran.

Ali mengangguk lalu tersenyum lebar. "Keren, kan?" Aku menatap Ali, lalu ganti menatap kapsul perak, dan kembali menatap Ali. Kapsul perak itu memang keren, seperti benda canggih dari galaksi lain. Tapi apa maksud Ali bahwa dia yang membuatnya? "Baiklah, Raib, Seli," Ali berdiri, tubuhnya sudah tampak segar, "akan kuperkenalkan kalian dengan kapsul ajaib ini, yang kubuat siang-malam selama enam bulan terakhir sejak pulang dari Klan Bulan. Dia bisa menghilang dan melakukan teleportasi seperti seorang petarung Klan Bulan, juga bisa mengeluarkan petir seperti kesatria Klan Matahari.

" Ali menepuk-nepuk kapsul di depannya, dan dengan sangat bangga dia berseru, "Raib, Seli, perkenalkan anggota baru tim kira, inilah dia ILY!" 
***
 Itu tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kejutan yang lebih besar dibandingkan Ali yang mendadak jago main basket. Aku tidak menyangka, enam bulan terakhir Ali diam-diam mengerjakan sesuatu.

"Kalian pernah mengolok-olokku, bukan? Soal beruang besar, bagaimana aku bisa mengendalikan transformasi itu. Maka sejak itu aku memutuskan mencoba membuat mesin yang bisa menghentikannya.

Awalnya hanya untuk itu, hingga kemudian aku memutuskan tidak sekadar itu, melainkan benda yang menakjubkan. Benda yang juga sekaligus kendaraan, tempat berlindung, tempat paling aman, menjadi satu.

Aku memutuskan mengembangkan kapsul terbang genius.

"Benda inilah yang tadi mengambil tubuhku di aula sekolah. Saat aku membutuhkannya, aku cukup menekan tombol darurat yang kubawa. Benda ini menyelinap masuk. Dia bisa menghilang, mengambil tubuhku tanpa diketahui orang lain. Kamu mungkin lebih dulu menyerap cahaya, membuat aula gelap, Ra, tapi kapsul terbang ini juga bisa melakukannya.

" "Menghilang?" aku memotong. "Bagaimana kamu bisa membuat benda bisa menghilang? Itu hanya keahlian milik petarung Klan Bulan. Juga sarung tangan yang menyerap cahaya? Bagaimana kapsul ini punya kemampuan itu juga?" "Mudah, Ra," Ali menjawab santai, seperti sedang menjelaskan satu tambah satu kepada anak TK. "Av memberikan seluruh buku dari perpustakaannya. Itu sama saja dengan menyerahkan seluruh pengetahuan Klan Bulan dan Klan Matahari. Aku mempelajari teknologinya, merangkainya jadi sebuah puzzle yang mengagumkan. Setiap malam aku membaca dengan cermat semua teknologi itu. Benda terbang, bisa menghilang, mampu mengeluarkan petir, itu semua ada penjelasannya, sama seperti pengetahuan bahwa bumi mengelilingi matahari. Jika kita tahu, itu mudah sekali memahaminya, Aku menggabungkan pengetahuan dari dua klan sekaligus.

" Aku menepuk dahi. "Tapi itu tetap tidak mudah, Ali.

" Ali mengangkat bahu. "Seratus tahun lalu, orang-orang juga tidak percaya ada benda bernama pesawat terbang, Ra. Itu tidak masuk akal. Hari ini, ada puluhan ribu pesawat melintas di atas bumi setiap harinya.

Bedanya, aku tidak butuh seratus tahun untuk melakukan lompatan teknologi itu. Av membantuku. Mungkin saja Av juga tidak tahu betapa berharganya seluruh buku yang ada di perpustakaan Klan Bulan. Kamu benar, itu tetap tidak mudah. Tapi jangan lupa, aku supergenius, bukan? Jadi, apa susahnya?" Seli tertawa kecil, mengacungkan jempol. Aku melotot ke arah Seli.

"Lantas bagaimana benda ini bisa masuk ke dalam basement rumahmu?" "Mudah juga penjelasannya," Ali menunjuk ke atas. "Persis di atasnya, kamu lihat itu, Ra, atap basement, itu pintu otomaris, langsung terhubung ke taman belakang. Membuka dan menutup jika aku mengaktifkan kendali jarak jauhnya. Orangtuaku dulu yang membuatkannya, hadiah ulang tahun kedua belas. Basement besar ini hadiah ulang tahunku kesepuluh. Seperti film-film fantasi, jagoan selalu punya lorong rahasia.

Dalam situasi darurat, kapsul perak ini membawaku pulang ke rumah. Aku tidak diculik siapa pun. Aku menculik diri sendiri.

" Aku terdiam, sejak tadi berusaha mencerna penjelasan Ali.

"Ayo, kutunjukkan bagian dalam kapsul ini.

" Tanpa perlu ditawari dua kali, Seli langsung berdiri. Aku mengembuskan napas, juga ikut berdiri.

Aku tadi sudah memeriksanya. Kapsul perak ini seperti ruangan bulat. Ada tiga kursi, dengan layar besar yang dipenuhi tombol, seperti kapsul lokomotif kereta bawah tanah Klan Bulan. Ada jendela tembus pandang lebar setengah lingkaran di tengah kapsul, kami bisa melihat keluar. Ali mengambil sepatunya yang terlepas di lantai kapsul.

"Apakah kamu tadi berubah jadi beruang, Ali?" Seli bertanya.

"Baru setengah jalan. Tapi ruangan tertutup menghentikan prosesnya. Iculah fungsi awal kapsul ini," Ali menjelaskan sekilas. "Tapi kapsul ini lebih dari itu. Silakan duduk, Seli, Ra.

" Seli sudah antusias duduk di salah satu kursi. Aku ikut duduk, memperhatikan.

"Aku sebenarnya ingin merahasiakan kapsul ini hingga semuanya telah siap, tapi baiklah, mari kita jalanjalan sejenak. Kapsul ini kendali otomatisnya masih bermasalah, masih melaju zig-zag, tidak terkendali, jadi sekarang kukendarai manual saja.

" Ali duduk di kursi depan panel lalu memegang tuas kemudi.

Sabuk pengaman membelit pundakku secara otomatis. Saat aku dan Seli saling menatap, atap basement merekah terbuka. Aku mendongak, bagian atas kapsul juga terbuat dari kaca, kami bisa melihat keluar. Air hujan menetes mengenai atap kapsul. Sebelum aku menyadarinya, kapsul perak itu sudah melesat keluar, tanpa terasa, seperti tidak sedang berada dalam posisi terbang.

"Wooow!" Seli berseru antusias.

Sedetik, kami sudah berada di atas ketinggian lima puluh meter, menatap ke seluruh kota yang dipenuhi gemerlap cahaya lampu. Butir hujan turun di sekitar kami.

"Bagaimana jika ada yang melihat kapsul ini, Ali?" Ali tertawa. "Aku sudah mengaktifkan mode menghilangnya, Seli. Tenang saja.

" Ini sungguh keren. Aku hampir saja memuji Ali--tapi buru-buru kubatalkan. Dari ketinggian ini, kami bisa menatap seluruh kota dari dalam kapsul.

"Baik, Ra, Seh, berpegangan, kita berangkat!" Ali tertawa kecil.

Kapsul perak itu mulai melesat cepat, berdesing melintasi hujan deras.

Sekitar lima belas menit Ali membawa kami melayang di atas kota. Kapsul perak ini berpindah-pindah dengan cepat seperti kemampuan releportasiku. Ali bahkan jail menuju aula sekolah. Kapsul itu mengambang tiga meter di samping aula tanpa terlihat. Murid-murid sekolah sedang bubar. Jika melihat ekspresi wajah teman-temanku, sekolah kami kalah telak di pertandingan final. Tapi bahkan Seli tidak selera membahasnya, dia lebih tertarik dengan kapsul yang kami tumpangi.

Ali juga melintas di atas gedung-gedung pencakar langit, melesat melewati menara-menara tinggi, meliuk di atas jalanan lengang, dan mengambang di bundaran kota, tempat berternunya enam jalan besar kota kami, Lampu merah terlihat menyala, merah, kuning, hijau, bergantian. Ada dua pemgas lalu lintas di pos jaga, bertahan di tengah hujan deras. Mereka tidak tahu ada kapsul perak mendesing pelan, melayang dua meter di atas kepala mereka.

Kapsul itu kembali ke rumah Ali beberapa menit kemudian. Halaman rumput terbelah dua, membentuk lorong besar menuju basement. Kapsul mendarat lembut di atas lantai basement, mengambang setengah meter. Kami lompat keluar dari pintu kapsul.

"Kenapa kamu memberinya nama ILY?" Seli bertanya saat kami sudah di basement.

"Satu, untuk mengenangnya....

" Ali diam sejenak, mengusap rambut berantakannya. "Dua, kapsul perak ini dibuat agar sama bisa diandalkannya seperti Ily, teman yang setia. Kapsul perak ini juga petarung yang hebat, bisa membela kita dari posisi sulit, seperti yang dilakukan Ily. Tetapi, hanya satu yang tidak dimilikinya seperti Ily..." Ali terdiam sejenak.

Aku dan Seli menatap Ali. Kami menunggu penjelasan selanjutnya.

Ali nyengir lebar. "Kapsul ini tidak secerewet Ily. Dia tidak akan menyuruh kita bergegas, meneriaki kita agar semangat, atau galak membangunkan kita saat masih lelap, melarang ini, melarang itu. Kapsul ini lebih pendiam. Tapi di atas semua itu, aku memutuskan memberikan nama ILY karena itu adalah nama seseorang yang telah mengorbankan hidupnya demi kita semua. ILY, namanya, akan terus menemani kita bertualang.

" Basement ruangan itu lengang. Seli perlahan menyeka matanya yang basah.

"Terima kasih, Ali," aku berkata pelan, menatap wajah Ali penuh penghargaan.

"Yah. sama-sama, Ra. Meski aku tahu persis, tatapan kamu ini hanya bertahan sebentar saja. Besok kamu sudah meneriakiku lagi, melotot tidak percaya, penuh prasangka buruk kepadaku, bukan?" Aku tertawa mendengarnya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊