menu

Bumi Bab 45 (Tamat)

Mode Malam
Bab 45 (Tamat)
AV, Ilo, Tog, dan beberapa orang muncul di ambang pintu.

Aku yakin, ketika Ou tidak menemukan kami di kamar, Av segera tahu harus mencari ke mana. Mereka me­mutuskan me­nyusul kami, membatalkan pertemuan.

Mereka berseru cemas melihat seluruh ruangan. Seli memeluk Miss Selena, bersandarkan dinding sebelah kiri. Aku di tengah ruangan, mendongak menatap beruang besar yang masih meng­gerung marah. Cakar besarnya bergetar, menggaruk lantai pualam. Stad entah apa yang terjadi dengannya, tergeletak, injak­an beruang besar tadi membuatnya terkapar tanpa bergerak. Dua Panglima Pasukan Bayangan lain yang terkena hantaman tangan besar Ali, meringkuk tidak bergerak. Yang lain masih ter­duduk dengan wajah pucat.

Tubuh Ali mulai menyusut. Tangan, kaki, dan seluruh tubuh­nya yang dipenuhi bulu tebal kembali ke ukuran semula, lantas tergeletak lemah di atas lantai pualam.

Ilo berlari mendekati kami, disusul oleh Av.

”Kamu baik­baik saja, Ra?” Ilo memegang lenganku, panik. Aku mengangguk.

Av melepas jubah yang dipakainya, menutupi tubuh Ali.

”Miss Selena, dia butuh pertolongan,” aku berkata pelan, mem­beritahu.

Av mengangguk, lalu segera berlari mendekati Miss Selena. Tangan Av memutus jaring perak dengan cepat—yang lebih mudah dirobek setelah Tamus terlempar ke lorong gelap. Av menyentuh leher Miss Selena, konsentrasi penuh mengeluar­kan seluruh tenaga penyembuhan yang dia miliki. 

Tog, dan beberapa Ketua Akademi yang menyertainya, men­dekati Stad dan empat Panglima Pasukan Bayangan. Dua Panglima yang masih bisa berdiri tidak melawan, mereka me­nyerah.

Aku merangkak mendekati Ali yang diselimuti jubah Av. Mata Ali terbuka, menatapku lemah. ”Apa yang terjadi, Ra?” ”Kamu tidak ingat apa yang terjadi?”

”Entahlah. Kepalaku pusing. Aku tidak bisa mengingat apa pun. Tiba­tiba semua gelap. Tubuhku seperti melayang, lantas luruh dengan seluruh badan terasa sakit.”

Aku tersenyum. ”Kamu baru saja membuktikan teori ikan buntal,

Ali.”

”Ikan buntal?” Ali menatapku bingung—sepertinya dia tidak mengetahui dia baru saja berubah menjadi beruang be­sar.

Aku mengangguk. Ali sendiri yang menjelaskan, ketika ter­desak, panik, seekor ikan buntal akan menggelembung besar, berkali lipat ukuran aslinya, duri­durinya berdiri tajam. Ikan buntal mewarisi gen spesial itu. Kekuatan spesial.

”Apakah Seli dan Miss Selena baik­baik saja?” Ali bertanya.

”Mereka baik­baik saja,” Av yang menjawab, melangkah men­dekati kami. ”Miss Selena kondisinya serius. Terlambat be­berapa detik saja, dia tidak bisa diselamatkan lagi, tapi dia akan sembuh. Sebentar lagi dia sudah bisa duduk dan bicara normal. Seli hanya terluka kecil, tubuhnya akan pulih sendiri dalam hitung­­an menit. Boleh aku memeriksamu?”

Ali mengangguk.

Av menyentuh leher Ali, mengalirkan sentuhan hangat selama tiga puluh detik.

”Kamu telah merusak ruangan favoritku, Ali.” Av melepaskan tangannya. ”Di ruangan ini terdapat novel­novel terbaik seluruh negeri. Aku paling suka menghabiskan waktu di sini.” 

”Aku merusak apa?” Ali beranjak duduk, masih berselimutkan jubah. Dia menatap sekitar dengan bingung. Dinding ruangan dipenuhi lubang dan cakaran. Juga lantai pualam, ada bekas cakar dalam di dua tempat. Langit­langit runtuh di sudut­sudut­nya.

Av mengangkat bahu. ”Kamu berubah menjadi beruang besar, Ali. Aku sempat me­nyaksikannya meski di detik terakhir. Beruang besar yang me­lemparkan Tamus ke dalam lubang gelap. Kamu tidak ingat?”

Ali sekali lagi menatap kami bergantian, dia juga menatap jubah yang menyelimutinya, tidak mengerti ke mana pakaian gelap­nya. Aku dan Av saling tatap.

Masih banyak sekali masalah yang harus diselesaikan, di luar penjelasan kepada Ali bahwa dia tadi tiba­tiba menjadi beruang besar. Tog menangkap Stad dan Panglima Pasukan Bayangan yang membelot. Puluhan anak buah Tog menyusul masuk ke da­lam ruangan. Pertikaian politik itu telah selesai. Akan ada ba­nyak pekerjaan bagi Tog, termasuk memulihkan Komite Kota.

Av juga harus mengurus perpustakaan besarnya. Dengan separuh gedung hancur, akan butuh waktu lama untuk mem­perbaiki dan mengembalikan kemegahan Perpustakaan Sentral, belum lagi ratusan ribu koleksinya yang rusak.

Aku mendekati Miss Selena yang sudah bisa duduk. Tubuh­nya lebam dan terluka. Baju gelapnya robek di banyak tempat, tapi wajahnya mulai bercahaya. Aku lompat memeluk guru matematikaku itu erat­erat.

”Terima kasih, Ra,” Miss Selena berbisik.

”Aku yang harus bilang terima kasih. Terima kasih ba­nyak, Miss Selena.”

Seli sekali lagi ikut memeluk Miss Selena. Kami bertiga berpelukan.

Masih banyak hal yang harus kami lakukan di dunia ini, tapi kami bisa pulang. Miss Selena bisa membuka portal me­nuju kota kami. Juga ada banyak yang bisa kami tanyakan ke­pada­nya, Miss Selena yang 

sengaja mengumpulkan kami ber­tiga di se­kolah, dia menyimpan banyak penjelasan yang kami butuhkan.

Dan setelah kami pulang ke kota kami, akan lebih banyak lagi hal yang harus diselesaikan. Gardu trafo yang meledak. Bangun­an sekolah yang runtuh. Kecemasan orangtua kami selama ber­hari­hari. Klub Menulis Mr. Theo. Rencana Mama mengadakan arisan di rumah, masalah mesin pencacah di pabrik tempat Papa bekerja. Termasuk yang sangat penting, bagaimana aku akan bertanya tentang orangtua asliku kepada Mama dan Papa.

”Kita akan menyelesaikannya bersama, Ra. Jangan cemas.” Miss Selena masih memelukku.

Aku dan Seli mengangguk.

”Kalian membicarakan apa?” Ali ikut mendekat, menjadi­kan jubah Av seperti kain, melilit tubuhnya hingga ke­tiak.

”Membicarakanmu,” aku menjawab sambil nyengir. ”Aku?”

”Iya, kenapa kamu malas sekali mengerjakan PR matematika selama ini, dan terpaksa diusir Miss Selena ke lorong kelas.”

Ali menggaruk rambut berantakannya. Aku, Seli, dan Miss Selena tertawa.

Saat matahari semakin tinggi, kami meninggalkan ruangan itu disertai Ilo, Tog, dan anak buahnya. Lorong berpindah telah di­aktifkan, kami bisa segera menuju Rumah Bulan Ilo.

Ilo. “Aku lupa satu hal,” aku berkata kepada Av.

Kami sedang bersiap memasuki lorong berpindah yang dinyala­kan 

Av menoleh kepadaku. “Apa?” tanyanya. Yang lain ikut me­noleh. 

“Aku lupa memberitahu, Tamus membawa Buku Kematian ke lorong gelap tadi. Bagaimana kalau buku itu dikuasai oleh si Tanpa Mahkota. Bukankah itu berbahaya?” 

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊