menu

Bumi Bab 44

Mode Malam
Bab 44
SAAT itulah, ketika sepertinya tidak ada lagi bantuan yang datang, dari tengah ruangan terdengar teriakan marah. Tapi itu bu­kan teriakan manusia. Itu raungan hewan buas. Seperti b­e­ruang besar yang sedang amat marah.

Kami menoleh ke sumber suara.

Aku tidak pernah menduga. Bahkan Tamus boleh jadi tidak pernah tahu bahwa Makhluk Rendah juga memiliki kekuatan ter­baik alamiahnya. Mereka tidak menghilang, mereka juga tidak meniti cahaya atau mengeluarkan petir. Mereka menggunakan naluri bertahan yang sangat primitif, tapi sekaligus paling me­ngerikan.

Ali, tubuh Ali membesar berkali­kali lipat. Dia meraung lagi, lebih kencang dan mengerikan, membuat dinding ruangan ber­getar. Tangannya membesar, kakinya membesar, dan seluruh tubuh­nya dibungkus dengan cepat oleh bulu tebal berwarna hitam.

Hanya dalam hitungan detik, Ali berubah menjadi beruang dengan tinggi badan menyentuh langit­langit ruangan. Kuku­kuku panjang dan tajam muncul. Tangannya bahkan sebesar orang dewasa. Matanya merah. Taring berlumuran ludah keluar dari mulutnya.

Ali meraung, membuat langit­langit berguguran. Belum habis suara raungannya, tangan kanan Ali menyambar Tamus, seperti memukul boneka, Tamus terlempar jauh.

Satu tangan berbulu tebal hitam itu meraih Seli dan Miss Selena, melempar mereka ke dinding seberang, menye­lamatkan mereka dari lorong gelap.

Lima Panglima Pasukan Bayangan berseru—termasuk Stad yang telah pulih. Mereka loncat, menghindari pukulan dari be­ruang besar yang mengamuk. Lima Panglima Pasukan Bayangan tiba­tiba menghilang, kemudian muncul di sekitar tubuh Ali, mengirimkan pukulan mematikan, berdentum. Lima dentum­an kencang. 

Beruang itu meraung marah, terhuyung sebentar, tapi segera me­mukul dua orang paling dekat. Dua Panglima Pasukan Bayang­an terpelanting kencang. Stad berusaha memukul wajah beruang besar, tapi Ali meninjunya lebih dulu. Stad terbanting ke dinding, jatuh ke lantai pualam, kaki besar Ali menginjaknya. Dua Panglima Pasukan Bayangan lainnya lompat mundur, meng­hilang, dan mun­cul di sudut ruangan dengan wajah pucat.

Tamus berusaha bangkit. Dia jelas tidak menduga hal ini akan terjadi, wajahnya merah padam. Tangan kirinya masih me­megang Buku Kematian, lubang menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan itu masih terbuka.

Tiba­tiba tubuh Tamus menghilang, dan muncul di de­pan Ali. Tamus berteriak, mengirim pukulan. Beruang besar itu ter­banting ke belakang, menabrak dinding, membuat retak besar.

Aku menjerit ngeri. Itu pukulan yang amat keras. Ali meraung marah.

Tubuh Tamus menghilang lagi, lalu muncul di samping Ali. Tamus mengirim pukulan kedua. Beruang besar itu terbanting lagi, terduduk. Dua panglima lain yang merasa Tamus kewalahan mengatasi beruang besar itu, loncat hendak ikut mem­bantu.

Tubuh Tamus menghilang lagi, muncul di atas kepala Ali. Tapi dia keliru, kali ini tangan Ali sudah sejak tadi menunggu­nya. Sebelum Tamus sempat melepaskan pukulan, Ali sudah menyambarnya. Jemari besar Ali yang berbulu men­cekik Tamus hingga dia tidak bisa bergerak, apalagi melepas pukulan.

Ali meraung ke depan, meninju dua Panglima Pasukan Bayang­­an lainnya dengan tangan kiri. Dua panglima itu terpe­lanting. Kaki­kaki beruang besar bergerak cepat menuju tengah ruangan, tangan kanannya masih menggenggam badan Tamus. Sebelum Tamus menyusun rencana dan berhasil membebaskan diri, bah­kan sebelum dia tahu apa yang akan dilakukan Ali, ta­ngan besar beruang itu sudah melemparkan tubuhnya ke lorong gelap. 

Tamus berteriak parau. Suaranya terdengar penuh kemarah­an. Tapi terlambat, tubuhnya sudah masuk, terseret ke dalam lorong. Lubang itu mengecil, kemudian hilang.

Ali meraung, panjang dan kencang. Aku sampai menutup telinga, tidak tahan mendengarnya. Seli memeluk Miss Selena. Langit­langit ruangan berguguran. Dua Panglima Pasukan Bayang­­an yang masih mampu berdiri terduduk di lantai pualam, menatap ngeri.

Semua telah berakhir.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊