menu

Bumi Bab 43

Mode Malam
Bab 43
KITA bertemu lagi, Nak.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum. ”Tapi sebelumnya, biar aku urus anak buahku yang ti­dak becus.”

Tamus menghadap ke depan, berseru galak kepada lima Panglima Pasukan Bayangan, ”Aku menyuruh kalian menyambut mereka dengan baik, bukan membunuh mereka!”

Tangan Tamus terangkat tinggi. Stad yang terbanting di lantai terangkat mengambang di udara. Tangan Tamus menepis ke sam­ping, tubuh Stad terlempar ke dinding seberang. Empat pang­lima lain berseru tertahan, tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun.

”Kamu melihatnya, gadis kecil Klan Matahari?” Tamus me­noleh ke arah Seli. ”Bukankah itu trik milikmu? Keren, bukan?”

Seli menggeram, hendak mengangkat tangannya.

”Aku tahu kamu memakai Sarung Tangan Matahari, Nak, yang bisa melipatgandakan kekuatan. Tapi kamu butuh latihan lama untuk bisa melempar orang lain dengan mudah. Hanya petarung lemah yang membutuhkan sarung tangan.” Tamus tersenyum.

Seli hendak berteriak marah, tapi kondisinya buruk, tangan­nya hanya bisa terangkat separuh. Cahaya redup di sarung ta­ngan­nya padam sejak tadi. Aku juga hendak berdiri, tapi seluruh tubuhku sakit dan mati rasa setelah terkena pukulan Stad.

”Bawa mereka ke tengah ruangan!” Tamus berseru ke empat Panglima Pasukan Bayangan.

Empat orang itu segera bergerak, dan plop! dua orang muncul di sebelahku, menyeretku. Dua orang lain muncul di sebelah Seli, membawa Seli dengan kasar.

Tamus melangkah lebih dulu ke tengah ruangan, melewati Ali. 

”Dunia ini tidak cocok untuk Makhluk Rendah yang bodoh dan hina.” Tamus berdiri satu langkah di depan Ali yang ter­geletak di lantai pualam. ”Kamu kira kalian sangat pintar? Genius? Ilmu pengetahuan klan kalian bahkan tidak seujung kuku pengetahuan Klan Bulan.”

Tamus membungkuk. ”Tapi aku akan mengucapkan terima kasih, kamu telah membawakan benda yang sangat kucari seratus tahun terakhir, sekaligus membawa orang yang sangat kubutuhkan. Ini khas sekali dengan kebiasaan Makhluk Rendah, merasa paling pintar, padahal hanya pelayan paling bodoh yang dimanfaatkan.”

Tamus terkekeh, mengangkat buku PR matematikaku.

Aku dan Seli diletakkan di dekat Miss Selena. Ali dibiarkan tergeletak lima meter dari kami.

”Bantu dia berdiri!” Tamus berseru.

Dua Panglima Pasukan Bayangan mengangkat lenganku, memaksaku berdiri.

”Kamu hendak membebaskan Miss Selena, Nak?” Tamus me­megang daguku. ”Aku justru membuat jebakan ini untuk kalian. Tidak ada yang pernah lolos dari Tamus. Bagaimana mungkin Av begitu yakin aku tidak mampu membunuhnya bersama Tog di ruangan Bagian Terlarang? Aku membiarkannya melolos­kan diri. Kabur melewati jaringan api, trik lama Klan Matahari. Persis seperti yang kuperkirakan, dia muncul di tempat kalian berada.

”Dan urusan ini menjadi mudah. Aku sengaja memperlihatkan guru berhitungmu kepada Tog. Setelah mendengar cerita Av dan Tog, kamu naif sekali mendatangi gedung perpustakaan ini. Kamu kira ini apa? Meminjam buku? Kalian butuh berlatih lama untuk sekadar menang melawan lima Panglima Pasukan Bayangan. Aku tahu mereka bodoh, tidak becus, tapi mereka petarung yang tahan banting. Kamu perlu kekuatan besar untuk membuatnya diam selama­lamanya.” Tamus menunjuk Stad—yang susah payah berdiri.

Tamus menatapku, tersenyum, senyum yang sama ketika ia dulu muncul di cermin kamarku. ”Kamu tahu apa yang kucari di ruang­an 

Bagian Terlarang? Buku milikmu. Buku Kehidupan. Aku tidak menemukannya di Bagian Terlarang, tapi tidak masa­lah, buku ini justru datang sendiri menemuiku, bersama pemilik aslinya.”

Aku menatap buku PR matematikaku yang dipegang Tamus. ”Seribu tahun aku  hidup dalam pelarian, Gadis Kecil. Seribu tahun

aku  mengelilingi  sudut  dunia,  menyiapkan  rencana  besar  ini.  Aku

mengumpulkan orang­orang, melatih mereka, menyiap­kan­ mereka, meski kemudian sebagian kecil dari mereka justru meng­khianatiku.” Tamus menunjuk Miss Selena dengan wajah meng­hina. ”Hari ini seluruh rencana itu sempurna. Aku me­nguasai seluruh kota, memiliki Buku Kehidupan, dan kamu ada di sini. Malam ini semua akan selesai.”

Aku menelan ludah. Dengan posisi sedekat ini, aku bisa me­lihat Miss Selena tidak pingsan. Dia sadar, bisa mendengar se­luruh percakapan dengan tubuh terluka. Tapi jaring perak di tubuh­nya mengunci, tidak memberi celah untuk bergerak atau bicara.

”Dalam cerita ini, aku bukan orang jahat, Nak. Kamu keliru jika menatapku penuh kebencian.” Tamus menggeleng, dia me­megang daguku, membuatku mendongak. ”Saat usiamu sembilan tahun aku justru mengirimkan hadiah, kotak dengan dua kucing itu. Kamu menerimanya, bukan? Dua ekor kucing yang lucu. Aku justru menyayangimu, anak kecil yang malang.”

Jika situasiku lebih baik, aku akan memukul sosok tinggi kurus ini. Aku benci dia menyebut­nyebut kucing itu—dia me­ngirim kucing itu untuk mengawasiku. Tetapi tubuhku masih mati rasa, dan dua Panglima Pasukan Bayangan mencengkeram bahuku agar bisa berdiri.

”Tidak pernahkah kamu bertanya, kenapa kamu memiliki kekuatan itu? Bisa menghilang? Di dunia ini sekalipun itu tetap menakjubkan. Ada yang harus berlatih di akademi ber­tahun­tahun, kemudian berlatih di Pasukan Bayangan lebih lama lagi, bahkan tidak bisa menghilangkan jempolnya sendiri. Kenapa kamu sebaliknya, menguasainya sejak usia dua tahun? Karena kamu mewarisi sesuatu, sekaligus mewarisi buku ini.” Tamus menatapku dengan sorot tajam. Embusan napas dinginnya me­nerpa wajahku, membuat kulitku membeku, seperti disiram es. 

”Baik, sebelum aku memberitahu kenapa kamu begitu spesial, akan kuceritakan sebuah kisah, Gadis Kecil. Agar kamu mengerti apa yang telah terjadi. Jika kamu telah mendengar versi yang me­nyesatkan sebelumnya, maka ini akan meluruskannya.” Tamus memejamkan mata, seperti sedang memilih kalimat terbaik untuk me­mulai cerita.

”Dua ribu tahun lalu, lahir seorang bayi yang gagah dan tampan. Sejak kecil sudah terlihat sekali betapa besar ke­kuatan anak ini.  Tumbuh remaja, beranjak dewasa, pemuda ini me­mutus­kan pergi melihat dunia. Dia ingin belajar apa pun. Dia men­datangi setiap sudut. Tidak puas di Klan Bulan ini, dia mem­buka sekat ke dunia lain. Mendatangi Klan Matahari, dunia Makhluk Rendah, bahkan hingga Klan Bintang yang berada di titik jauh. Tidak terbayangkan betapa jauh perjalanan yang per­nah dia lakukan.

”Saat usianya dua puluh tahun, terbetik kabar, ibunya me­ninggal dunia. Pemuda ini bergegas kembali, hanya untuk me­nemu­kan pusara ibunya. Ayahnya memeluknya penuh kesedihan. Itu kabar malang bagi seluruh negeri. Pemuda ini menjadi piatu. Ayahnya kehilangan istri yang amat dia cintai.

”Tetapi dua tahun setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang gadis jelita, ke­cantik­annya terkenal di se­luruh negeri. Dan tidak lama setelah pernikahan itu berlangsung, lahir­lah si kecil adik tirinya. Pemuda gagah ini kembali me­ngunjungi banyak tempat, dia tahu kabar bahagia dari ayah­nya yang kembali menikah, juga tahu kelahiran adik tirinya, tapi dia sibuk belajar untuk melupakan kesedihan karena mengingat ibu­nya.

”Usia empat puluh tahun, pemuda ini telah menjadi seseorang yang begitu lengkap. Wajahnya gagah, perawakannya memesona, ilmunya tinggi, dan kekuatan yang dimilikinya tidak terbilang. Dia adalah putra pertama ayahnya, maka bahkan tanpa se­mua kehebatan itu, dia jelas lebih berhak mewarisi apa pun yang dimiliki ayahnya, termasuk mahkota raja.

”Tapi apa yang terjadi? Ayahnya yang sepuh, sakit­sakitan, justru menunjuk adik tirinya. Keputusan yang mengejutkan se­luruh negeri. Pemuda ini datang menghadap ayahnya, me­minta penjelasan. Ayahnya 

menggeleng, keputusan itu telah bulat, ayah­nya telah memilih pengganti terbaik. Marah sekali pemuda ini. Dia hendak berteriak marah, tapi demi mengingat ibunya, se­luruh kebaikan ayahnya, dia memutuskan mengalah. Maka sejak hari itu, pemuda ini sekali lagi pergi meninggalkan negeri, me­netap di tempat jauh, dan semua orang memanggilnya ‘Si Tanpa Mahkota’.

”Kamu harus tahu, siapa yang jahat dalam situasi ini? Bukan ayahnya, tapi ibu tirinya yang tamak dan ambisius. Dia mem­bisiki suaminya yang telah tua, sakit­sakitan, tidak cakap meng­ambil keputusan, dengan bisikan beracun setiap hari, sehingga ayahnya buta penilaian, menjadikan si kecil, si bungsu yang tidak becus dalam hal apa pun, sebagai raja. Lihatlah, masih persis se­perti remaja manja, berada di bawah ketiak ibunya. Tapi ke­putusan ayahnya sudah bulat, maka sejak hari kematian ayahnya, kerajaan resmi dipimpin oleh adik tirinya.

”Si Tanpa Mahkota memutuskan hidup tenang di tempat jauh, menekuni ilmu pengetahuan. Pengikutnya banyak, orang yang menyatakan kesetiaan padanya terus bertambah. Apa­lagi dengan keadaan negeri yang kacau­balau karena ibu tirinya justru lebih asyik hidup bermewah­mewah dan memaksa pen­duduk mengongkosi kemewahan tersebut.

”Hanya soal waktu, orang­orang semakin mencintai si Tanpa Mahkota, dan sebaliknya, membenci Raja. Melihat situasi itu, ibu tirinya merasa terancam, mahkota anaknya dalam posisi terancam. Jahat sekali hati yang dimiliki wanita jelita itu, maka dia melepaskan berita bahwa si Tanpa Mahkota dan pengikutnya adalah pengkhianat besar, mereka orang tamak yang haus ke­kuasa­an, penjahat yang menekuni pengetahuan gelap dari dunia lain.”

Tamus diam sejenak, menatapku tajam. ”Kenapa, Gadis Kecil? Versi yang kamu dengar tidak seperti itu?”

Tamus tertawa. ”Terlalu banyak dusta yang ditulis dalam buku sejarah, Nak. Bahkan kamu sendiri tahu, cerita ini sama sekali tidak ada dalam buku sejarah, hanya ada dalam dongeng, kisah yang disampaikan lewat nyanyian. 

”Lihat, aduh, lihatlah

Itu si Tanpa Mahkota berdiri gagah

Dia adalah pemilik kekuatan paling hebat Menjelajah dunia tanpa tepian

Untuk tiba di titik paling jauh

Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang Ada dalam genggaman tangan.”

Tamus menyanyikan potongan lagu itu dengan suara serak. Lantas terkekeh lagi.

”Pertempuran pecah di seluruh negeri. Raja dan ibunya yang tamak mengirim pasukan untuk menangkap si Tanpa Mahkota. Segala cara dilakukan ibunya, termasuk menutup langit dengan asap pekat agar bulan tidak terlihat, karena itu sumber kekuatan Klan Bulan terbesar. Tetapi mereka keliru, kekuatan si Tanpa Mahkota lebih besar dari yang diduga, dia justru berhasil me­naklukkan istana, mengambil alih kerajaan. Mereka terusir, mengungsi.

”Setelah berbulan­bulan tinggal di tempat pengungsian, ibunya yang tamak mengirim anaknya untuk berdamai, meminta peng­ampunan. Si adik tiri datang ke istana menyerahkan diri. Tapi itu dusta! Itu jebakan maut. Ketika si Tanpa Mahkota hendak me­meluk adiknya, tanpa rasa malu, adiknya mengangkat Buku Ke­matian, mem­buka sekat menuju petak kecil yang disebut pen­jara ’Bayang­an di bawah Bayangan’. Si Tanpa Mahkota terseret dalam lubang itu, terperangkap, dan berhasil disingkirkan se­lama­lamanya.

”Seribu tahun berlalu sejak kejadian itu, semua orang lupa. Tidak ada catatan sejarahnya. Pihak yang menang selalu bisa menulis sendiri sejarah yang diinginkannya. Maka pengikut yang masih setia dengan si Tanpa Mahkota mewariskan kisah itu lewat lagu, dongeng pengantar tidur, tanpa tahu itulah bukti ke­benaran. Seribu tahun berlalu, 

kekuasaan si bungsu semakin besar, ibunya yang tamak semakin kuat, maka tibalah mereka dengan ide menguasai dunia lain. Tidak merasa cukup atas Klan Bulan.

”Aku Panglima Pasukan Bayangan saat itu, pemimpin delapan panglima lainnya. Usiaku masih muda, seratus tahun. Raja memanggilku, memintaku memimpin penyerangan ke dunia lain, menguasai dunia Makhluk Rendah. Aku bertanya, bagai­mana sekat itu akan dibuka? Raja mengacungkan Buku Ke­mati­an yang dia miliki. Aku masih terlalu muda, dan dengan janji gelimang kekuasaan, dijanjikan menjadi raja di dunia itu, tunduk dalam perintah mereka, aku membantu rencana Raja dan ibunya. Adalah tugasku sebagai Panglima untuk setia pada Raja. Tapi banyak yang menolak rencana gila itu. Av salah satu­nya, juga ayah Tog, Panglima Timur saat itu. Mereka meminta bantuan Pasuk­an Cahaya dari Klan Matahari. Pertempuran besar me­letus.

”Raja dan ibunya yang tamak terbunuh, puluhan ribu Pasuk­an Cahaya tewas, apalagi Pasukan Bayangan, tidak terhitung. Kami kalah pengetahuan dan teknologi dibanding mereka. Pasukan Cahaya kembali ke dunia mereka, mengunci seluruh sekat. Keraja­an hancur lebur. Penduduk memutuskan untuk mem­bentuk Komite Kota sebagai penguasa baru. Aku? Av dan ayah Tog tidak pernah tahu intrik politik sebenarnya. Mereka hanya memahami kulit luarnya saja, bahwa aku penjahat­nya. Bahwa aku akal keji dari seluruh rencana itu. Ke­nyataannya? Tidak sama sekali. Aku korban ambisi. Apa dosanya dengan setia pada raja? Bahkan aku tidak tahu bahwa dia seharusnya tidak pernah jadi raja.”

Tamus menghela napas perlahan, yang membuat butir salju berguguran di sekitar kami.

”Siapa pun yang memenangkan pertempuran, maka dialah yang menulis catatan sejarah. Aku adalah pihak yang kalah pe­rang, melarikan diri, memutuskan mulai mempelajari banyak buku tua, catatan­catatan lama, hingga akhirnya aku tahu ke­benaran itu. Si Tanpa Mahkota adalah orang yang paling berhak menguasai dunia ini. Aku adalah korban ambisi raja palsu dan ibunya yang tamak.” 

”Kamu bohong!” Aku akhirnya bisa berseru, memotong pen­jelasan Tamus.

”Oh ya? Aku berdusta? Gadis kecil lima belas tahun, dengan pengetahuan dangkal, menuduhku berdusta?” Tamus tertawa, dia melangkah mendekati Miss Selena, mengangkat tangannya. Tu­buh Miss Selena yang meringkuk mengambang, lantas berganti posisi menjadi duduk.

Tamus mengulurkan tangan, menebas pelan jaring perak di mulut Miss Selena.

”Kamu tanyakan pada guru berhitungmu ini, Gadis Kecil. Apa­kah cerita versiku yang benar atau cerita versi lain?”

Aku menatap wajah lebam Miss Selena. Hatiku teriris me­lihat kondisi Miss Selena. Jaring perak itu membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak, bahkan menoleh pun tidak. Dia hanya bisa membuka mulut.

”Ayo! Tanyakan kepada gurumu ini!” Tamus membentakku.

Aku gemetar menahan rasa marah dan sedih. Andai saja tenagaku pulih, akan kupukul sosok tinggi kurus ini.

”Dia benar, Ra.” Suara Miss Selena terdengar pelan. Aku menoleh. Apa yang dikatakan Miss Selena?

”Seluruh ceritanya benar.” Miss Selena menatapku, mata itu terlihat bengkak.

Astaga! Aku tidak percaya.

”Tapi kamu sama saja seperti mereka, Tamus.” Miss Selena susah payah terus bicara, suaranya pelan sekali. ”Dengan pen­jelasan itu, dengan semua kejadian menyedihkan itu, bukan berarti kamu berhak membalas siapa pun.”

Aku menatap Miss Selena. Tidak mengerti. 

”Kamu sekarang sama jahatnya seperti Raja dan ibunya. Kamu mengintimidasi, mengancam, bahkan membunuh orang­orang yang berseberangan dengan rencanamu. Anak­anak ini, bahkan kamu enteng saja akan membunuh mereka jika tidak me­nuruti keinginanmu. Kamu ingin mengembalikan si Tanpa Mahkota melalui jalan penuh darah, dan tidak ada yang men­jamin apakah si Tanpa Mahkota akan kembali dengan baik atau dia akan membenci seluruh klan ini, membalas semua orang, sama persis seperti yang kamu lakukan. Kamu sama jahatnya dengan Raja dan ibunya yang tamak.”

Tamus tiba­tiba menampar Miss Selena. Tubuh Miss Selena terbanting ke lantai.

Aku berseru. Seli yang terbaring di lantai pualam ikut ber­seru. Ali hanya meringkuk, entah apakah dia masih pingsan atau tidak.

”Tutup mulutmu, Selena! Lancang sekali kamu mengajariku, seseorang yang mendidikmu sejak kecil, kamu ajari tentang mora­litas, hah?” Tamus menggeram.

Aku berontak, hendak melepaskan diri, tapi cengkeraman dua panglima itu kokoh.

”Aku menyesal menjadi muridmu, Tamus,” Miss Selena ber­seru dengan suara bergetar. ”Aku menyesal. Dulu aku sangat per­caya kamu memang berniat baik. Kamulah yang berkhianat.”

”Sekali lagi kamu bicara, aku akan menghancurkan kepalamu,” Tamus membentak.

Ruangan besar itu lengang sejenak. Napas Miss Selena ter­sengal

pelan.

”Ceritaku belum selesai, Gadis Kecil.” Tamus menatapku lagi. ”Ceritaku bahkan baru saja dimulai. Dan jika kamu membenci versi ceritaku, tidak mau memercayainya, maka kamu harus me­nerima kenyataan menyakitkan, kamu adalah bagian dari cerita itu.

”Kenapa kamu sejak usia dua tahun sudah bisa menghilang? Karena di tubuhmu mengalir darah petarung terbaik seluruh Klan Bulan. 

Ketika Raja lama wafat, dia memberikan dua buku kepada dua anaknya. Satu buku dengan sampul ber­gambar bulan sabit menghadap ke bawah, dipilih sendiri oleh istri­nya yang culas, Buku Kematian, yang digunakan anaknya yang licik untuk memenjarakan kakak tirinya. Satu buku lagi, di­berikan kepada kakak tirinya tersebut, Buku Kehidupan. Si Tanpa Mahkota.

”Maka inilah rahasia besarnya. Sebelum dia dilemparkan dalam penjara Bayangan di Bawah Bayangan, si Tanpa Mahkota telah menikah, memiliki seorang putra. Setelah kejadian itu, peng­ikut setia si Tanpa Mahkota mengirim pergi putranya ke dunia lain agar tidak dibunuh Raja dan ibunya. Dua ribu tahun berlalu, garis keturunan itu tetap terjaga di dunia Makhluk Ren­dah. Kamu adalah cucu dari cucu cucunya si Tanpa Mahkota. Orangtuamu adalah Klan Bulan, mereka meninggal saat kamu masih bayi dalam sebuah kecelakaan. Di dunia hina itu orang­orang sayangnya tidak menggunakan lorong berpindah, tapi memilih benda mati yang disebut pesawat terbang. Kamu se­lamat, dan dititipkan kepada orangtuamu sekarang.”

Aku menahan napas mendengar penjelasan Tamus.

”Buku ini, Buku Kehidupan, adalah milik kakek dari kakek kakekmu, si Tanpa Mahkota. Dulu dia menghabiskan banyak waktu mempelajarinya, menyingkap misteri kehidupan. Buku ini dipenuhi kebaikan, mengembalikan yang telah pergi, menyembuh­kan yang sakit, menjelaskan yang tidak dipahami, melindungi yang lemah dan tidak berdaya.

”Maka malam ini,” Tamus mendongak, menatap langit­langit ruangan, tertawa, ”malam ini, buku ini akan mengembalikan si Tanpa Mahkota. Kamu akan melakukannya untukku, Gadis Kecil. Kamu akan melakukannya untuk kakek dari kakek kakek­mu sendiri. Dia akan bangga melihatmu membawanya pu­lang.”

Tamus mendekatiku, lantas meletakkan buku itu di genggam­an tanganku.

”Jangan lakukan, Ra!” Miss Selena berkata serak. Aku menoleh. 

”Jangan lakukan.” Miss Selena meringkuk kesakitan. ”Kamu akan mengembalikan orang yang dua ribu tahun telah pergi. Dia bisa menjadi ancaman bagi seluruh empat dunia.”

Tamus terkekeh. ”Aku tahu ini tidak akan mudah. Jadi aku su­dah menyiapkan rencana cadangan agar kamu bersedia melaku­kannya.”

Tamus mengeluarkan sebuah buku dari balik pakaian gelap­nya. Buku dengan sampul bulan sabit menghadap ke bawah. Tamus mengangkat Buku Kematian, lantas bergumam pelan. Seketika, di depannya terbentuk sebuah lubang. Awalnya kecil, tapi lama­kelamaan membesar setinggi orang dewasa. Pinggir lubang itu seperti awan pekat berpilin, dengan butiran salju runtuh. Di dalam lubang hanya kosong, gelap, tidak terlihat apa pun.

Tamus memandangku dengan tatapan mengancam. ”Aku bukan pewaris buku ini, aku justru mencurinya dari tubuh Raja yang tewas. Tapi setelah berpuluh tahun mempelajarinya, aku tahu cara menggunakannya. Kamu dengarkan aku baik­baik, Buku Kematian hanya bisa membuka sekat menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan, tapi tidak sebaliknya. Nah, aku sudah membuka lorong menuju petak itu.”

Tamus menatapku semakin serius. ”Gadis Kecil, sekarang gilir­anmu yang akan membuka jalan pulang dari penjara itu ke dunia ini. Hanya bukumu yang bisa melakukannya.”

Aku menggeleng, tidak mau melakukannya.

”Malam ini, semua harus berakhir, Nak.” Napas Tamus men­deru dingin di wajahku. ”Jika kamu menolak membuka lorong itu, membawa pulang si Tanpa Mahkota, maka aku akan me­ngirim siapa pun di sini yang kamu sayangi ke penjara tersebut.”

Aku menggeleng semakin kuat.

”Baik! Kamu yang memilihnya sendiri. Jangan salahkan siapa pun.” Tamus mengangkat tangan, tubuh Miss Selena langsung mengambang. Tangan Tamus bergerak mendorong, dan tubuh Miss Selena juga bergerak, menuju lorong gelap pekat. ”Yang per­tama adalah guru berhitungmu.” 

Seli di sebelahku menjerit. Aku menggigit bibir.

”Kamu lakukan, atau aku lempar gurumu ini ke penjara tanpa kehidupan. Dia tidak akan pernah bisa pulang, kecuali kamu bukakan lorongnya.”

”Aku tidak tahu cara melakukannya!” aku berteriak parau, suaraku panik.

Tamus menggeleng. ”Kamu pewaris buku itu, kamu tidak perlu tahu caranya. Dia menuruti perintah yang diberikan tuan­nya.”

”Jangan lakukan, Ra. Kumohon!” Miss Selena yang me­ng­ambang dua meter dari lorong gelap berseru serak.

Aku menggigit bibir. Apa yang harus kulakukan?

”Sepertinya aku harus memberikan motivasi tambahan.” Tamus menatapku. ”Baiklah. Aku akan menghitung hingga se­puluh, Gadis Kecil. Sama seperti ketika aku melatihmu lewat cermin itu.”

”Sepuluh!” dia mulai menghitung.

Tanganku gemetar memegang buku PR matematikaku. Dua Panglima Pasukan Bayangan masih mencengkeram bahuku.

”Sembilan!”

”Jangan lakukan, Ra,” Miss Selena berkata pelan. Aku tahu, dia susah payah mengeluarkan suara. Miss Selena memaksakan diri dengan seluruh rasa sakit.

”Delapan!” Tamus terus menghitung. Apa yang harus kulakukan? ”Tujuh!”

Lubang hitam pekat itu terlihat mengerikan. Jarak Miss Selena hanya dua meter darinya. Aku menatap gentar. 

”Enam! Waktumu semakin sempit, Gadis Kecil.”

Aku mulai panik. Tanganku mencengkeram buku PR mate­matikaku.

”Lima!”

Seberkas cahaya keluar dari buku yang kupegang.

”Empat! Bagus sekali, buku itu menuruti apa yang kamu pikirkan.”

Apa yang telah kulakukan? Aku mengeluh tertahan. Cahaya itu merambat keluar dari bukuku, lantas membentuk lubang kecil terang benderang di depan kami, yang terus membesar. Aku menginginkan Miss Selena selamat. Buku yang kupegang menuruti perintahku, tanpa bisa kucegah dia mulai membuka lorong menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Tetapi aku tidak ingin membukanya.

”Tiga! Lebih besar lagi!” Tamus terus menghitung.

”Jangan lakukan, Ra! Biarkan aku yang pergi,” Miss Selena berseru.

Aku gemetar memegang buku PR matematikaku. Aku tidak ingin membuka lorong itu. Aku hanya ingin Miss Selena se­lamat. Lubang dengan cahaya terang benderang itu semakin besar, sedikit lagi sempurna sudah bisa dilewati.

”Dua!” Tamus tertawa penuh kemenangan.

Tidak! Aku tidak akan membuka lorong itu. Aku menggeleng panik. Aku tidak akan membukanya demi Tamus. Aku berseru parau. Di detik terakhir, sebelum lorong itu sempurna terbuka, aku melepaskan buku PR matematikaku. Buku itu jatuh ke lantai pualam, dan lubang dengan cahaya terang itu lenyap seketika.

Tawa Tamus bungkam. Dengan marah dia menepis tangannya ke depan, dan tubuh Miss Selena langsung meluncur, terseret ke dalam lubang gelap pekat.

”Miss Selena!!” aku berteriak panik. 

Ali juga berteriak. Ternyata dia sudah siuman sejak tadi. Dia beranjak duduk.

Tetapi tubuh Miss Selena yang meluncur ke dalam lubang terhenti, ada aliran listrik yang merambat di tubuhnya.

Seli! Dengan posisi duduk, Seli mengangkat tangannya, ber­usaha menahan tubuh Miss Selena dari jarak jauh, meng­gunakan kekuatannya.

Tangan Seli gemetar, wajahnya meringis menahan sakit.

”Biarkan saja!” Tamus mencegah salah seorang Panglima Pa­suk­­an Bayangan yang hendak menghentikan Seli.

”Dia tidak akan kuat menahannya.” Tamus menatap Seli. ”Dan ini semakin menarik.”

Apa yang dikatakan sosok tinggi kurus menyebalkan ini benar, Seli tidak kuat menahan tubuh Miss Selena. Seli justru sekarang terangkat dari lantai pualam. Tubuh Miss Selena mulai terseret ke dalam lorong pekat gelap.

”Kamu sendiri yang memintanya. Jangan salahkan siapa pun, Gadis Kecil.” Tamus menatapku.

Situasi semakin kacau. Seli mati­matian mengerahkan tenaga tersisa. Sarung tangannya bersinar redup, berusaha me­nahan tubuh Miss Selena. Sejenak Seli bisa kembali duduk, tapi hanya sebentar. Tubuhnya segera terangkat, dan kali ini lebih cepat.

”Hentikan!” aku berteriak panik.

”Tidak ada yang bisa menghentikannya, Gadis Kecil.” Tamus ter­tawa. ”Guru berhitungmu dan teman terbaikmu akan terseret ke dalam lorong itu. Maka kita lihat, apakah setelah itu kamu akan bersedia membukakan jalan pulang untuk mereka.”

”Lepaskan aku, Seli!” Miss Selena berseru, tubuhnya sudah masuk separuh ke dalam lorong.

”Aku tidak akan melepaskan Miss Selena!” Seli meraung. 

Aku berontak, hendak melepaskan diri dari cengkeraman tangan Panglima Pasukan Bayangan. Mereka sebaliknya, meme­gang­ku lebih kokoh.

Tubuh Seli sudah naik satu meter. Hanya soal waktu, di detik kapan pun, saat dia tidak kuat lagi, dia dan Miss Selena akan diseret habis oleh lubang pekat gelap itu.

”Hentikan! Aku mohon! Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta!”

Tamus menggeleng. ”Sudah terlambat, Nak. Kita akan me­makai rencanaku. Hanya dengan begini kamu benar­benar ber­sedia membuka lorong itu untukku. Dan ini jadi semakin me­narik, karena setelah kamu membuka lorong itu, boleh jadi si Tanpa Mahkota tidak mengizinkan guru dan temanmu itu pu­lang.”

Aku menggigit bibir, menangis. ”Aku mohon. Hentikan...”

Lihatlah, tubuh Miss Selena sudah terseret semakin dalam, dan Seli ikut bersamanya.

”Aku mohon, siapa pun yang bisa menolong, tolong hentikan se­mua ini.”

Tamus bersedekap, menonton.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊