menu

Bumi Bab 42

Mode Malam
Bab 42
AKU menelan ludah. Langkahku terhenti. Ruangan di depan kami tidak gelap.

Aku membuka pintu lebih lebar, mengintip, mengangkat tanganku. Ruangan itu luas sekali, dengan meja­meja besar dan sofa­sofa panjang. Lampu kristalnya menyala terang. Tidak hanya satu atau dua, tapi belasan lampu kristal. Aku mendorong pintu lebih lebar lagi, kosong, tidak ada siapa­siapa di ruangan itu.

Keterangan di peta Ali tidak keliru. Ruangan ini indah sekali. Lantai pualamnya dilukisi simbol­simbol besar. Langit­langitnya dari potongan kaca kecil warna­warni. Ruangan ini utuh. Tidak ada satu pun buku yang jatuh ke lantai, tetap berbaris rapi di lemari tinggi yang menyentuh langit­ langit. Sejauh mata me­mandang hanya buku yang terlihat.

Aku melangkah hati­hati, masih berjaga­jaga. Maju perlahan, memeriksa semua kemungkinan. Tapi ruangan itu memang kosong. Tidak ada siapa­siapa.

Seli dan Ali menyusul setelah aku memberi kode. Mereka berdua juga terpesona menatap ruangan. Kami belum pernah menyaksikan ruangan perpustakaan senyaman dan seindah ini. Seperti berada di rumah sendiri, dengan koleksi buku tidak akan habis dibaca sepanjang umur.

”Perapiannya” Seli berbisik, menunjuk ke depan. Aku bergegas melangkah ke arah yang ditunjuk Seli.

Salah satu dari empat perapian di ruangan itu masih menyala. Di atas sofa dan meja dekat perapian ada sisa makanan dan minuman. Juga tetes darah di lantai pualam.

”Ada anggota Pasukan Bayangan di tempat ini beberapa jam lalu.” Ali mengangkat salah satu gelas, memeriksa sebentar, kemudian berjongkok, memperhatikan bercak darah. 

”Mereka membawa seseorang yang terluka.” Ali mendongak kepadaku.

Kami bertiga saling tatap. Entah kenapa, aku jadi tegang. ”Miss Selena?”

Ali mengangguk. ”Ruangan ini utuh karena cukup jauh dari arena pertempuran. Jika ada orang terluka yang dibawa ke ruang­an ini, dijaga ketat oleh Pasukan Bayangan, itu berarti seseorang yang penting. Kemungkinan besar Miss Selena.”

”Mereka memindahkan Miss Selena ke mana?” aku mendesak, tidak sabaran.

Ali mengangkat peta di tangan, memeriksa. ”Kita sudah dekat, Ra. Dekat sekali. Jika Miss Selena tidak dibawa keluar dari gedung perpustakaan ini, maka kemungkinan besar Miss Selena hanya dibawa ke ruangan berikutnya, agar menjauh dari per­tempuran.”

Ali menatapku. ”Dia dipindahkan ke ruangan Bagian Koleksi Novel.” ”Ke arah mana?” Napasku menderu kencang, memastikan.

”Pintu lorongnya ada di dekat perapian ujung ruangan ini.”

Belum habis kalimat Ali, aku sudah bergerak cepat menuju pintu itu. Lima belas meter, aku tiba di pintu bulat dengan daun pintu berwarna elok keemasan.

”Sebentar, Ra!” Ali berseru, menahanku. Ali dan Seli segera menyusulku.

”Kita harus menyusun rencana.” Ali memegang tanganku yang hendak mendorong daun pintu. ”Kamu tidak bisa masuk ke ruangan itu begitu saja.”

”Kenapa tidak?” aku menjawab ketus.

”Jika benar Miss Selena ditahan di sana, berarti ruangan itu sekaligus tempat komando Pasukan Bayangan. Av dan Tog sudah 

menjelaskan hal itu, Tamus memindahkan markasnya ke gedung perpustakaan ini, agar dia bisa segera menggunakan benda­benda dari Bagian Terlarang.”

Aku mendengus. Aku tidak peduli.

”Ali benar, Ra. Kita harus menyusun rencana.” Seli meng­angguk kepadaku.

”Dengarkan aku, Ra. Lorong menuju ruangan itu hanya lurus, tanpa pintu. Jadi kamu bisa melintas dengan mudah. Tapi yang sulit adalah Bagian Koleksi Novel, ruangan besar dengan desain paling canggih, paling futuristik,” Ali membacakan per­lahan penjelasan di sobekan majalah yang dia bawa.

”Seluruh lemari ditanam di dalam dinding, semua meja dan sofa baca bisa tenggelam di dalam lantai pualam. Pengunjung bisa mengaktifkannya dengan menyentuh tombol, maka lemari, meja, dan sofa baca akan muncul. Jika pengunjung ingin merasa­kan sensasi desain canggih ini, jangan sungkan meminta petugas kami ‘menghilangkan’ seluruh lemari, meja, dan sofa, maka kita seolah berada di ruangan kosong melompong. Hanya lantai pualam, dinding putih, dan langit­langit sejauh mata meman­dang, padahal di sana setidaknya ada seratus ribu koleksi novel terbaik seluruh negeri.”

Ali mengangkat wajahnya dari sobekan majalah. ”Itu berarti, sekali kita masuk ke dalam ruangan itu, jika Pasukan Bayang­­an menghilangkan lemari, meja, dan sofanya, maka kita persis masuk ke arena pertempuran luas. Tidak ada tempat ber­lindung. Sama persis seperti aula sekolah. Sekali kita mem­buka pintu ruangannya, kita segera ketahuan, dan seluruh isi ruangan bisa melihat kita.”

Aku menelan ludah.

”Lantas apa yang akan kita lakukan?” tanya Seli.

”Ra bisa menghilang dengan menangkupkan telapak tangan di wajah. Dia akan masuk ke ruangan dengan cara itu. Kita akan menunggu di sini, berjaga­jaga. Apa pun yang kamu temukan, kamu harus segera 

kembali memberitahu kami. Kita akan men­diskusikan langkah berikutnya. Jangan mengambil tindakan gegabah.”

Aku mengangguk. Rencana Ali masuk akal.

”Apa pun yang kamu lihat, Ra, jangan mengambil tindakan sendiri. Kembali ke sini. Karena mungkin saja mereka menyiap­kan jebakan buat kita,” sekali lagi Ali mengingatkanku.

”Aku mendengarnya, Ali,” aku berseru pelan.

”Hati­hati, Ra.” Seli memegang lenganku, menyemangati.

Aku mengangguk, membuka pintu bulat di depan kami, dan masuk ke lorong berikutnya. Menarik napas panjang, aku lantas bergerak ke ujung lorong yang jaraknya hanya sepuluh meter, dan tiba di sana dengan cepat.

Napasku menderu semakin kencang. Aku menyeka peluh di leher, menatap pintu bulat. Ini ruangan keempat yang akan kuperiksa. Semenyebalkan apa pun Ali, perhitungan dia tidak pernah keliru. Di balik pintu ini pasti ada sesuatu. Apakah itu ratusan anggota Pasukan Bayangan? Panglima Barat? Atau bahkan Tamus? Miss Selena pasti berada di antara mereka, ditahan dalam kondisi ter­luka dan mengenaskan.

Aku mengangkat telapak tangan ke wajah. Tubuhku segera menghilang.

Saatnya aku masuk.

Perlahan kudorong pintu dengan siku. Syukurlah, setidak­nya semua pintu di gedung ini tidak ada yang berderit karena engsel­nya karatan. Pintu terbuka pelan. Tidak ada berkas cahaya yang ke­luar seperti ruangan sebelumnya. Aku mendorong pintu lebih lebar, mengintip dari sela jari.

Ruangan di depanku remang, tidak gelap, tidak juga terang. Ada cahaya redup yang datang dari langit­langit ruangan, seperti lampu yang hanya dinyalakan separuh. Aku membuka pintu lebih lebar, memeriksa seluruh sudut, kemudian terhenti me­natap persis ke tengah ruangan. 

Dadaku berdegup kencang.

Ada seseorang terbaring di sana, dengan tubuh dililit jaring perak. ”Miss Selena!” aku berseru.

Aku benar­benar melupakan pesan Ali agar menahan diri, segera kembali, berdiskusi menyusun rencana berikutnya. Demi melihat Miss Selena meringkuk di sana, aku menurunkan ta­ngan, lompat sekuat mungkin. Tubuhku melayang sejauh dua puluh meter, mendarat dengan mudah di samping Miss Selena yang persis berada di tengah ruangan.

Belum sempat aku merengkuh tubuh Miss Selena, berusaha melepas jaring perak itu, ruangan besar itu tiba­tiba terang benderang. Dan dari dinding­dinding ruangan, keluar beberapa orang dengan pakaian gelap. Dinding tersebut tidak hanya ber­fungsi menghilangkan lemari, tapi juga bisa dipakai untuk tempat bersembunyi.

Wajahku pucat. Separuh karena terkejut, separuh lagi karena gentar.

Lima orang melangkah mendekatiku. Mereka mengenakan seragam sama persis seperti Tog, hanya simbol­simbol di pakaian gelap mereka yang berbeda satu sama lain.

Aku sempurna telah dikepung oleh lima Panglima Pasukan Bayangan.

***

”Selamat datang,” salah satu dari mereka menyapaku. ”Kami su­dah menunggumu dengan sabar. Perhitungan Tamus tidak pernah keliru.”

Aku beranjak berdiri, melangkah mundur, tanganku terangkat.

Tidak ada sosok Tamus di antara mereka berlima.

”Kamu tidak akan melawan kami, bukan?” yang satunya ber­tanya, terus mendekat.

Aku mengatupkan rahang. ”Jangan coba­coba mendekatiku!” seruku. 

”Jangan anggap dia remeh, Stad.” Salah satu dari mereka ikut mengangkat tangan, siap menyerang.

Ini semua keliru. Aku mengeluh, seharusnya aku mendengar­kan Ali. Tidak akan mungkin kami semudah ini menemukan Miss Selena, tidak ada yang menghalangi di lorong, tidak ada Pasuk­an Bayangan di mana­mana. Mereka, bagaimanapun cara­nya, tahu kami akan datang, dan mereka memilih me­nunggu.

”Aku tidak diperintahkan menyakitimu. Jangan salah paham.” Orang yang bernama Stad berhenti, membuat empat yang lain ikut berhenti. Jarak mereka dariku hanya dua meter.

”Aku justru diperintahkan menyambutmu dengan baik.” Stad mencoba tersenyum—meski senyumnya terlihat buruk. ”Namaku Stad, aku Panglima Barat, aku yang bertanggung jawab di gedung ini selama Tamus belum kembali. Hei, kalian seharusnya menurunkan tangan kalian.” Orang itu menoleh ke rekan­rekannya. ”Aku tahu anak ini  spesial, punya kekuatan hebat, tapi kita tidak akan mengeroyoknya.”

Empat rekannya saling tatap, berhitung. Dua orang menurun­kan tangan, yang lain tetap berjaga­jaga.

”Kamu juga bisa menurunkan tanganmu, Nak. Kita bisa bicara baik­baik.”

”Lepaskan Miss Selena.” Aku menatap Stad, ber­seru serak. Stad menghela napas. ”Sayangnya itu tidak bisa kulakukan.” ”Lepaskan Miss Selena!” aku membentak.

Stad menggeleng. ”Kalaupun bersedia, aku tidak bisa melepas­kannya. Jaring perak itu diikat oleh Tamus, dan hanya Tamus atau kekuatan besar yang bisa memutusnya. Kita bisa menunggu Tamus kembali. Jika kamu bersedia memenuhi permintaan Tamus, jangankan melepaskan satu­dua orang, kamu akan men­jadi sekutu terhormat kekuasaan baru.”

Aku menggeram, tidak tertarik dengan omong kosong itu. Aku datang demi Miss Selena, yang meringkuk diam di lantai pualam. Cepat 

atau lambat mereka akan menangkapku juga, maka dengan menggigit bibir, aku memutuskan menyerang lebih dulu.

Sarung tanganku langsung berubah hitam pekat, dalam radius dua puluh meter cahaya segera menghilang. Aku loncat, memukul orang paling dekat denganku, angin kencang mengalir di tinjuku. Terdengar suara berdentum, orang itu langsung ter­pelanting jauh.

”AWAS!” salah satu dari mereka berseru.

”Aku bilang juga apa, Stad. Jangan pernah remehkan anak ini. Dia memakai Sarung Tangan Bulan. Mundur ke tempat te­rang!”

Dentuman berikutnya kembali terdengar, aku sudah lompat ke kanan, memukul yang lain. Orang yang kuserang sempat merunduk. Pukulanku menghantam dinding, membuat retak.

Pertarungan segera meletus di ruangan gelap gulita itu. Lima lawan satu. Aku diuntungkan karena bisa melihat dalam gelap, tapi lima Panglima Pasukan Bayangan bukan nama omong ko­song. Orang yang terpelanting telah berdiri, menyeka wajahnya, menggeram marah.

”Kamu sendiri yang memintanya, Nak.” Orang itu loncat ke arahku.

Aku tidak tahu bagaimana cara mereka bisa melihatku, tapi ke­untunganku karena ruangan gelap tidak bertahan lama. Me­reka jelas lebih terlatih dalam pertarungan, mungkin membaca dari arah suara angin pukulan.

Tinju Stad mengarah ke arahku. Aku membuat tameng, me­niru gerakan Miss Selena sewaktu di aula. Tameng itu ter­bentuk, menyerap pukulan Panglima Barat. Aku lompat ke samping kiri, membalas memukul, siap mengenai tubuhnya, tapi... terdengar suara gelombang air pecah. Plop! Dia menghilang. Dan sebelum aku sempat menyadarinya, Stad sudah muncul di atasku, meng­hantamkan tangan­nya.

Aku tidak sempat membuat tameng. Tidak sempat meng­hindar. Aku tidak pernah berlatih berkelahi, tidak ada yang meng­ajariku trik bela diri. 

Maka dengan berteriak parau, aku justru panik memukulkan tinjuku melayani pukulan Stad. Itu gerakan yang brilian—tanpa kusadari. Tinju kami beradu, posisi kakiku kokoh, kuda­kudaku mantap, sedangkan Stad melayang. Maka saat dua tenaga bertemu, berdentum, Stad terlontar jauh, menghantam langit­langit, lantas jatuh ke lantai pualam.

Aku tidak sempat memastikan apakah Stad bisa bangkit atau tidak karena empat panglima lain sudah menyerangku, susul­me­nyusul dalam kegelapan. Aku segera lompat menjauh, ber­gerak cepat berlari di dinding. Pukulan mereka berdentum susul­menyusul mengenai dinding, membuat lubang besar.

Ruangan kembali terang beberapa detik kemudian. Aku mengeluh, kekuatan menyerap cahaya itu tidak bertahan lama seperti yang kuinginkan. Belum genap keluhanku, Stad bangkit berdiri, tubuhnya kotor oleh debu. Stad menatapku marah. ”Pukul­anmu kencang, tapi tidak cukup untuk menghabisi kami. Kamu perlu berlatih lebih banyak. Saatnya kamu belajar bagai­mana petarung terbaik Klan Bulan bertempur.”

Stad melompat, tubuhnya menghilang. Disusul empat lainnya. Lima panglima itu menghilang, kemudian muncul satu per satu di sekitarku. Aku menangkis dua serangan, merunduk meng­hindari serangan ketiga dan keempat. Tapi tinju Stad telak meng­hantam tubuhku, membuatku terpelanting jauh ke pintu ruang­an.

Dengan buas Stad menghunjamkan tinjunya ke badanku yang masih me­layang. Aku berseru jeri. Tidak sempat melakukan apa pun.

CTAR!

Selarik petir dengan cahaya terang menyambar dari lorong di belakang. Tubuh Stad terbanting jauh, dipanggang oleh geme­retuk  listrik.

Seli sudah masuk ke dalam ruangan, berteriak marah.

Tangan Seli terangkat lagi, petir berikutnya kembali me­nyambar ke tengah ruangan, sekali lagi menyelimuti tubuh Stad yang masih 

meringkuk di lantai pualam. Seli tersengal, me­lampiaskan seluruh tenaganya. Itu petir yang besar. Empat panglima lain terdiam menatap apa yang terjadi.

Ali segera menahan tubuhku yang jatuh, kami terjatuh di lantai pualam.

Seli melangkah mundur ke posisiku. ”Kamu baik­baik saja, Ra?” tanya Seli.

Aku menyeka ujung bibir yang berdarah. ”Aku baik­baik saja, Sel.” Setidaknya semangatku baik­baik saja. Aku beranjak ber­diri. Kami bertiga merapat satu sama lain, menatap ke depan.

Salah satu panglima memeriksa kondisi Stad. Tubuh Panglima Barat itu seperti hangus terbakar. Mungkin hanya pakaiannya, atau boleh jadi seluruh tubuhnya. Dia tidak bergerak meski sudah digerak­gerakkan oleh yang lain.

”Kamu seharusnya segera kembali ke lorong, Ra,” Ali berbisik. ”Bukan justru melawan mereka sendirian. Kalau kami terlambat menyusul, kamu bisa celaka.”

Aku mengangguk, napasku masih menderu kencang.

”Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Seli berbisik, bertanya kepada Ali.

”Sudah terlambat untuk menyusun rencana. Kita bertarung,” Ali berkata pelan. ”Atau tepatnya, kalian berdua yang akan ber­tarung.”

Aku mengeluh pelan, bukan karena kalimat Ali, tapi lihatlah, di tengah ruangan, Stad beranjak duduk. Orang­orang dengan ke­­kuatan di dunia ini sepertinya tahan sekali terhadap serangan.

Tamus berkali­kali terkena pukulan Miss Selena sewaktu di aula sekolah, tapi dia tetap segar bugar. Juga Tog, mungkin puluhan pukulan mengenai tubuhnya, tapi dia tetap bernapas. 

”Ini menarik,” Stad mendesis, matanya menatap galak. ”Aku tidak tahu ada petarung Klan Matahari di antara kalian. Tamus tidak bilang. Dan kamu mengenakan sarung tangan itu, Sarung Tangan Matahari.

”Aku tidak peduli Tamus menginginkan kalian hidup­hidup. Aku akan menghabisi kalian.” Stad menggeram jengkel, lalu mengacungkan tangan. Seluruh ruangan tiba­tiba terasa dingin, butir salju turun di sekitar kami.

Aku tahu apa yang dilakukan Stad, dia memiliki kekuatan itu, meski tidak sekuat Tamus. Empat panglima di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Mereka siap mengirim serangan me­matikan seperti saat Tamus menghabisi Miss Selena.

Ali melangkah mundur di belakangku dan Seli.

Aku mengangkat tangan, bersiap menyambut serangan, sarung tanganku kembali berwarna hitam pekat. Juga Seli, sarung tangannya berwarna terang kemilau.

Tanpa banyak cakap lagi, Stad dan keempat panglima itu lompat menyerang kami. Tapi tiba­tiba tubuh mereka meng­hilang, lalu muncul di depan kami dengan tinju terarah sem­purna.

Aku segera membuat tameng besar, berusaha menyerap se­banyak mungkin serangan. Seli melontarkan petir ke depan. Dua serangan mereka terserap tamengku, satu orang lagi terbanting terkena sambaran petir Seli, tapi dua tinju berhasil menerobos pertahanan, satu mengenai tubuhku, satu mengenai Seli. Bunga salju berguguran di sekitar kami.

Aku dan Seli terpelanting ke belakang, tertahan dinding. Itu pukulan yang kencang. Tubuhku serasa remuk, dan hawa di­ngin menyelimuti tubuhku, membuat badanku mati rasa. Kondisi Seli lebih parah. Dia tergeletak, darah segar keluar dari bibirnya. Sarung tangan kami menjadi redup.

Stad melangkah mendekatiku, siap mengirim pukulan memati­kan. Ali  berseru,  takut­takut  mencoba  menghalangi.  Mudah  saja bagi

Stad,  dia  mendorong  Ali.  Tubuh  Ali  terpental  ke  tengah  ruang­an, 

ranselnya terlepas, isinya berserakan di lantai pualam. Stad tidak berhenti walau sejenak oleh gerakan Ali, tinggal dua langkah.

Aku tidak bisa menghindar lagi. Seli juga tidak bisa me­nolong. Nasibku akan sama seperti Miss Selena.

Saat itulah, ketika tinju Stad terangkat mengarah ke kepalaku, kesiur angin terasa dingin. Aku menatapnya gentar. Ruangan yang terang benderang mendadak menjadi redup, seperti ada tabir yang menutup seluruh dinding ruangan, membuat suasana seperti malam bulan purnama.

Plop! Seperti suara gelembung air yang meletus pelan, muncul orang lain di sampingku, dan segera menepis pukulan Stad.

Stad terbanting ke dinding satunya.

Aku mendongak, ingin tahu siapa yang menolongku. ”Halo, Gadis Kecil,” suara khas itu menyapa.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊