menu

Bumi Bab 41

Mode Malam
Bab 41
ITU ide gila, Ra!” Ali berseru pelan berusaha menjaga volume suara.

”Aku tahu itu ide gila,” aku menjawab datar. ”Aku tidak me­minta pendapatmu. Aku hanya ingin bilang, malam ini aku akan pergi menyelamatkan Miss Selena. Terserah kalian mau ikut atau tidak.”

”Aku ikut!” Seli berkata mantap, memegang lenganku.

Aku menatap Seli penuh penghargaan, dia selalu bersama­ku. ”Tapi bagaimana kamu akan ke sana?” Ali bertanya.

”Kamu lebih dari tahu caranya.” Aku menatap Ali. ”Bu­kan­kah kamu juga diam­diam mengambil salah satu kantong milik Av di atas meja depan perapian? Aku akan menggunakan bubuk api untuk melintas menuju perapian di Bagian Terlarang perpustaka­an.”

Ali mengembuskan napas, menggaruk rambutnya yang be­rantakan.

Sudah setengah jam lalu pertemuan di meja makan selesai. Av dan Tog telah beristirahat di kamar masing­masing, memanfaat­kan waktu tersisa beberapa jam sebelum fajar tiba. Vey me­nyuruh kami masuk kamar segera, bilang dengan tegas bahwa semua harus istirahat sebelum melakukan apa pun besok.

Aku sama sekali tidak mengantuk. Bahkan aku tidak beren­cana untuk tidur. Sejak dari meja makan aku memikirkan ke­mungkinan itu. Aku akan pergi menyelamatkan Miss Selena di gedung perpustakaan.

”Tidak bisakah kamu menunggu besok, Ra? Agar semua lebih terencana?”

”Besok sudah terlalu terlambat. Kita tidak tahu seberapa lama Miss Selena bisa bertahan.” Aku menggeleng, tekadku sudah bulat. ”Lagi pula, 

kamu seharusnya juga tahu persis, setelah bertempur lama, mereka pasti kelelahan. Gedung perpustakaan tidak akan dijaga ketat oleh Pasukan Bayangan. Kita bisa menyelinap diam­diam ke ruangan tempat Miss Selena ditahan, mem­bebaskannya, lantas segera kabur lewat perapian. Tidak akan ada yang bisa menyusul kita. Walaupun punya bubuk api, mereka tidak pernah ke rumah ini, mereka tidak bisa melintasi perapian yang belum pernah mereka datangi.”

”Bagaimana dengan Tamus? Atau Panglima Pasukan Bayangan lainnya? Mereka boleh jadi ada di sana, Ra.” Ali mengangkat bahu.

”Aku tidak peduli mereka ada di sana atau tidak. Aku akan menyelamatkan Miss Selena. Dia rela mati demi kita, aku akan melakukan hal yang sama untuknya. Aku yang melibatkan Miss Selena. Jika Tamus menyebalkan itu meng­inginkanku, aku akan datang menemuinya.”

”Kamu akan membantu Ra atau tidak, Ali?” Seli bertanya perlahan. ”Tentu  saja  aku  akan  membantu,”  Ali berseru  ketus.  ”Aku tidak

akan membiarkan satu pun dari kita sendirian di dunia ini. Tapi aku

bertanggung jawab memikirkan apakah tindakan kita masuk akal atau tidak. Itulah kenapa aku banyak bertanya. Karena kalian berdua terlalu sibuk dengan kekuatan itu. Kalian tidak sempat memikirkan hal lain. Bahkan membawa buku dan peralatan pun tidak kalian pikirkan.”

Aku menatap Ali lamat­lamat.

”Aku tahu, kamu mungkin menganggapku menyebalkan, Ra. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian ke Bagian Terlarang itu. Kamu pergi, maka aku ikut pergi. Mari kita lakukan bersama hal bodoh ini,” Ali berkata mantap, balas menatap tatapanku.

”Terima kasih,” aku berkata pelan.

”Mari berkemas­kemas. Hampir pukul satu malam, ini jelas bukan waktu yang tepat untuk mendatangi gedung perpustakaan, meminjam buku, tidak akan ada petugas yang jaga. Tapi ini waktu terbaik untuk menyelinap ke gedung itu.” Ali mencoba bergurau, balik kanan, melintasi pintu penghubung, segera masuk ke dalam kamarnya. 

Aku dan Seli mengangguk, juga segera berkemas.

Tidak banyak yang kami siapkan, hanya berganti pakaian, memakai sepatu, lantas mengenakan sarung tangan pemberian Av. Ali muncul tiga menit kemudian dengan tas ransel di pung­gung dan gulungan kertas di tangan.

”Apa itu, Ali?” Seli bertanya.

”Peta gedung perpustakaan. Aku robek dari salah satu majalah Ilo, yang memuat liputan khusus seluruh bagian gedung untuk pengunjung. Kalian tidak memikirkan ada berapa puluh ruangan di sana, bukan? Ratusan lorong yang meng­hubung­kan ruangan? Tanpa peta, jangankan menemukan Miss Selena, kita akan tersesat bahkan persis saat tiba di Bagian Terlarang.”

Aku dan Seli saling lirik. Jangan­jangan sejak lahir Ali me­mang sudah terbiasa berpikir dua langkah ke depan.

Kami bertiga membuka pintu dengan pelan, lantas berjalan menuruni anak tangga tanpa suara. Itu mudah dilakukan karena seluruh pakaian dan sepatu yang ada di rumah Ilo adalah jenis terbaru dan paling maju teknologinya. Kami bisa berjalan tanpa suara sama sekali.

Nyala api di perapian redup, menyisakan bara merah.

Ali meraih beberapa kayu bakar, meniup­niup, membuat nyala apinya kembali besar.

”Setidaknya apinya tetap hidup hingga dua­tiga jam ke depan. Kita tidak bisa kembali ke perapian ini jika apinya padam. Tanpa mengetahui perapian di rumah lain, kita akan terkunci di Bagian Terlarang,” Ali menjelaskan.

Ali menghela napas. ”Tapi sebenarnya ada yang aku cemas­kan.” Aku dan Seli menatap Ali.

”Bagaimana jika ternyata perapian tujuan kita telah padam? Sudah tiga jam lalu Av dan Tog melintasinya. Jika padam, lorong api ini tertutup.” 

Aku menggeleng. ”Pasti masih menyala. Av pasti membuat nyala api di perapian sana tetap menyala berjam­jam, agar dia bisa kembali kapan saja. Av akan membuat banyak rencana cadang­an dalam situasi seperti ini.”

”Aku tidak mencemaskan soal itu, Ra. Tentu saja Av akan me­ninggalkan nyala api di sana. Bagaimana kalau ada Pasukan Bayangan yang memadamkan api di perapian tersebut?”

”Tidak sembarang anggota Pasukan Bayangan bisa masuk ke dalam ruangan tersebut. Itu tempat paling penting.”

”Bagaimana jika Tamus justru sedang menunggu di depan perapian?”

”Itu lebih baik, kita bisa segera menyerang dia,” jawabku ketus. Tidak bisakah Ali berhenti bertanya? Tekadku sudah bulat. Sejak tadi aku memutuskan berhenti bertanya dan cemas.

”Baiklah. Mari kita mencoba peruntungan kita.” Ali meng­angguk, mengeluarkan kantong bubuk api dari ran­sel. ”Kamu mau melakukannya, Ra?” Ali mengulurkan tangan­nya.

”Biar aku yang melakukannya.” Seli melangkah maju sambil nyengir. ”Kamu kan yang bilang, aku penyuka matahari, jadi apa pun yang berhubungan dengan api adalah keahlianku, bukan keahlian Makhluk Rendah.”

Ali ikut nyengir, mengulurkan kantong api ke Seli.

”Seperti yang dijelaskan Av, cukup kamu taburkan ke atas perapian, lantas kita bersama­sama memikirkan ruangan Bagian Terlarang. Seharusnya tidak sulit. Kita tinggal melangkah masuk ke dalam nyala api.”

Seli mengangguk, menjumput segenggam bubuk api dari kan­tong, lantas menaburkannya ke dalam perapian. Nyala api lang­sung membesar, menjilat tinggi. Kami refleks melangkah mundur, jeri menatapnya, tapi tidak ada waktu lagi untuk cemas. Aku sendiri yang meminta kami pergi ke gedung per­pustakaan. 

Seli membungkuk, melangkah masuk ke dalam perapian, disusul Ali. Aku ikut membungkuk melangkah masuk. Tidak terasa panas, lidah api hanya menerpa wajah, seperti angin ha­ngat. Aku berkonsentrasi penuh membayangkan ruangan Bagian Terlarang, dan dalam sekejap kami sudah masuk ke dalam lorong api. Kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah hanya nyala api. Aku, Seli, dan Ali berdiri rapat. Sensasinya sama seperti me­lintasi lorong berpindah, seperti melesat cepat menuju sesuatu yang tidak terlihat. Dalam hitungan detik, lorong itu membuka, membentuk celah, aku bisa melihat ke depan. Meja tua dengan kursi­kursi di sekelilingnya. Juga lemari berdebu. Ruangan pengap yang pernah kami datangi.

Ali membungkuk, melangkah keluar lebih dulu. Disusul oleh Seli.

Terakhir aku.

Kami sudah tiba di Bagian Terlarang Perpustakaan Sentral.

***

Nyala api yang menyembur tinggi di belakang kami perlahan mengecil, lantas kembali normal. Kecemasan Ali tidak terbukti, Av memang meninggalkan perapian di Bagian Terlarang tetap me­nyala stabil, dan tidak ada siapa pun yang menunggu kami.

Tidak ada yang berubah di ruangan itu, persis seperti terakhir kali kami datang—sama pengapnya. Posisi meja dan bangku tetap sama. Yang berbeda adalah lemari tua berdebu itu kosong. Seluruh buku, kotak, dan gulungan kertas di lemari lenyap. Mungkin sebagian dibawa Av, sebagian lagi dipindahkan Pasukan Bayang­an. Ali membuka sobekan majalah yang dia bawa, meletakkannya di atas meja berdebu. Kami ikut memperhatikan peta gedung Per­pustakaan Sentral.

”Kita tidak akan sempat memeriksa seluruh gedung dan me­mang tidak perlu memeriksa semuanya. Dari puluhan ruangan, setidaknya ada dua belas tempat ideal yang mungkin dijadikan tempat menahan Miss Selena. Ruangan luas, dengan pintu sedikit, dan tempat Pasukan Bayangan berjaga­jaga. Kita bisa menghapus ruangan di sayap kanan gedung. Menurut siaran televisi, bagian itu sudah runtuh, ruangan di 

bagian depan juga hancur. Tinggal enam ruangan yang mungkin digunakan. Kita akan menyisir satu per satu dari sayap kiri gedung.”

Ali menatapku. ”Kamu di depan, Ra. Kamu ber­tugas sebagai pengintai. Aku yang akan memberitahu harus ber­gerak ke mana. Jika terjadi sesuatu, segera gunakan sarung tangan itu, serap seluruh cahaya secepat mungkin. Hanya kamu yang bisa melihat di kegelapan, memastikan jalan di depan aman. Itu bisa memberi kita waktu empat puluh detik untuk menilai situasi, apakah segera kabur melewatinya atau berputar mencari jalan lain.”

Aku mengangguk.

”Dan ingat, kita tidak datang untuk bertempur. Misi kita se­derhana, menyelamatkan Miss Selena. Jadi segemas apa pun kalian jangan menyerang duluan, jangan membuat keributan, kecuali tidak ada pilihan lain. Itu termasuk kamu, Sel, jangan melepas petir sembarangan.”

Seli mengangguk.

Ali menarik napas panjang, mengusap dahinya, menatap kami serius. ”Kalian tahu, meskipun ini amat berbahaya, sebenarnya ini seru sekali. Keren. Aku belum pernah setegang sekaligus se­antusias ini.”

Aku dan Seli menatap Ali, tidak mengerti arah pembicaraan­nya. ”Jika  terjadi  sesuatu,  karena  aku  jelas  yang  paling  lemah  di

rombong­an ini. Makhluk Rendah rentan celaka. Maka kalau kalian bisa

pulang ke kota kita dengan selamat, tolong sampai­kan ke orangtuaku bahwa aku menyayangi mereka. Mungkin me­reka tidak cemas aku berhari­hari tidak pulang, ka­rena aku pernah ti­dak pulang sebulan dan mereka tidak repot men­cari, berbeda de­ngan orangtua kalian yang selalu me­nyayangi. Tetapi sampaikan ke­pada mereka, aku selalu mencintai mereka.” Ali diam sebentar.

”Kamu bicara apa sih?” Aku melotot.

”Eh, ini sejenis pesan terakhir, Ra.” Ali mengangkat bahu, serius. 

”Kita berangkat sekarang.” Aku sudah bergerak ke pintu bulat kecil. Entah kenapa Ali jadi aneh begini, tiba­tiba melan­kolis. Jangan­jangan dia mabuk gara­gara melintasi lorong api baru­san.

Seli tertawa kecil melihat tampang kusut Ali, lalu bergegas mengikuti langkahku.

Ali segera menyusul sambil mendengus sebal.

Aku mendorong pintu bulat itu, menatap lorong remang di depan kami, menghela napas untuk terakhir kali, membulat­kan tekad, kemudian melangkah masuk. Tidak ada lagi kesempat­an untuk kembali. Inilah saatnya. Kami harus menemukan Miss Selena segera, menyelamatkannya.

Aku memimpin rombongan, berjalan cepat di lorong pertama. Tidak ada siapa­siapa. Tiba di ujung lorong, ada pintu di sana. Aku tahu, pintu ini menuju ruangan besar Bagian Terbatas, tem­pat Av menemui kami pertama kali. Napasku menderu kencang, jan­tungku berdetak lebih cepat. Seli dan Ali berdiri di belakang­ku.

Aku membuka pintu perlahan. Mengintip ke depan. Kosong dan gelap. Setelah membuka lebih lebar pintu bulat, aku me­langkah masuk penuh perhitungan. Ruangan ini nyaris gelap. Lampu kristal di atas mati, dua di antaranya bahkan rontok di atas pualam, hanya menyisakan larik cahaya dari langit­langit. Mungkin cahaya dari luar. Hampir seluruh dinding berlubang, bekas pukulan memati­kan. Buku berserakan di lantai, di antara kayu lemari yang han­cur lebur. Aku tidak punya waktu menatap sedih semua buku yang rusak. Kami harus fokus atas misi ini, bukan hal lain.

”Aman, Ra?” Seli berbisik dari balik pintu.

Aku mengangguk. Ali dan Seli ikut melangkah masuk ke dalam ruangan.

Ali melihat peta di tangannya, memeriksa sekitar, berbisik pelan, ”Kita menuju pintu di dekat meja besar.” 

Kami bergerak cepat, gesit melintasi serakan buku dan kayu. Sepatu yang dipinjamkan Ilo amat berguna untuk bergerak cepat tanpa suara. Kami berhenti sejenak di depan pintu dekat meja besar. Napasku semakin cepat. Aku harus bisa mengendalikannya, diam sebentar.

”Kamu masuk, terus berlari hingga ujung lorong, Ra. Abaikan dua pintu lain di sisi kanan. Ruangan pertama yang akan kita periksa ada di ujung, Bagian Koleksi Flora Fauna,” Ali memberi instruksi.

Aku mengangguk. Aku sudah siap memasuki lorong kedua. Mendorong pelan pintu, mengintip, kembali memastikan di depan aman. Lantas bergerak cepat melintasi lorong yang re­mang. Peta yang dipegang Ali akurat. Ada dua pintu di sisi ka­nan, aku terus bergerak maju. Lima belas meter melintas, aku tiba di pintu yang disebutkan Ali. Tapi tidak  ada lagi daun pintunya, sudah hancur terpelanting di dalam ruangan. Aku refleks meng­hentikan gerakanku, berdiri merapat ke dinding, tidak mengira daun pintunya tidak ada. Kuangkat tanganku, ber­siap menyerap cahaya jika terjadi sesuatu.

Lengang.

Ruangan di depan kami juga kosong. Gelap. Sepertinya se­luruh jaringan listrik di gedung padam. Ini ruangan pertama yang menurut perhitungan Ali kemungkinan besar tempat me­nahan Miss Selena. Ruangan ini sama besarnya dengan Bagian Terbatas. Aku melangkah maju, hendak memeriksa, kemudian segera mematung. Aku hampir berseru tertahan, tapi segera me­nutup mulut dengan telapak tangan.

”Ada apa, Ra?” Ali bertanya, dia sudah tiba di belakangku. Aku gemetar menunjuk lantai pualam.

Di depan kami, bergelimpangan tubuh anggota Pasukan Bayang­­an. Tewas. Ini pemandangan mengenaskan. Seli meng­angkat tangan, membuat cahaya redup untuk melihat seluruh ruangan lebih baik. Anggota pasukan yang tergeletak di lantai mengenakan simbol­ simbol seperti yang dipakai Panglima Timur. Mungkin ini anggota pasukannya yang tewas saat membantu Av, belum dievakuasi, atau senggaja dibiarkan oleh Pasukan Bayang­an lain yang memihak Tamus. 

”Baik, kita coret ruangan ini.” Ali membuka petanya lagi, men­dekatkannya ke tangan Seli yang bercahaya.

Aku masih berdiri dengan napas tertahan.

”Kita harus menuju sudut ruangan, Ra. Ada pintu di dekat tiang yang roboh di sana, lorong berikutnya.” Ali menatapku.

Aku menelan ludah. Itu berarti kami harus melewati hampar­an lantai yang dipenuhi korban pertarungan selama 36 jam terakhir. ”Kita harus melewati tubuh mereka?”

”Tidak ada jalan lain. Itu satu­satunya lorong menuju ruangan kedua.” Ali menggeleng.

Aku mengepalkan tangan, berusaha meneguhkan hati. Melewati tumpukan buku di atas lantai saja tidak mudah, apa­lagi harus melewati tubuh anggota Pasukan Bayangan yang tewas.

Aku menggigit bibir, segera bergerak secepat mungkin. Berlari di sela­sela tubuh dingin tak bergerak, ini horor. Dua puluh me­ter, aku tiba di seberang, segera berpegangan ke dinding di dekat tiang roboh. Tadi beberapa kali aku tidak sengaja menginjak tubuh mereka. Seli juga menahan napas saat tiba di se­belahku. Wajah­nya pucat. Hanya Ali yang segera membuka kem­bali peta­nya, memeriksa arah kami.

”Kamu masuk ke lorong, Ra. Ada persimpangan di depan, ambil segera yang kanan. Terus lurus, kita akan menemukan pintu menuju ruangan kedua yang harus kita periksa, ruangan Bagian Koleksi Anak­ Anak.”

”Apakah kita akan menemukan ruangan dengan korban per­tempuran lagi, Ali?” Napasku menderu. Aku berusaha lebih ter­kendali.

”Aku tidak tahu.” Ali menatapku, berusaha bersimpati. ”Se­luruh ruangan jelas telah menjadi arena pertempuran. Setidak­nya, kita tidak menemukan satu ruangan penuh dengan anggota Pasukan Bayangan yang masih hidup. Itu lebih rumit.” 

”Semoga ruangan berikutnya adalah tempat Miss Selena ditahan, Ra,” Seli berbisik pelan, membesarkan hatiku.

Aku menatap Seli dan Ali bergantian, mengangguk, men­dorong pintu. Kami segera menuju ruangan berikutnya.

Tidak ada apa pun di ruangan kedua, gelap dan kosong. Ruangan itu lebih parah. Langit­langitnya runtuh, koleksi buku­buku dan permainan anak­anak di ruangan luas itu hancur di­timpa batu, kayu, dan material lainnya.

Tinggal empat ruangan.

”Kamu akan masuk ke dalam lorong yang panjang dan penuh perlintasan, Ra. Akan ada empat kali perlintasan, terus lurus, jangan berbelok. Kamu akan tiba di Bagian Koleksi Ilmu Ke­dokteran & Penyembuhan, ruangan ketiga.” Ali memeriksa peta dengan saksama, mencoret ruangan sebelumnya. Dia terlihat fokus dan tenang.

Aku segera melintasi lorong panjang, hampir tiga puluh meter, dengan banyak pintu di kiri­kanan. Aku selalu cemas melintasi lorong dengan banyak pintu, karena sekali saja tiba­tiba pintu itu terbuka, dan ada Pasukan Bayangan yang melintas, kami de­ngan segera diketahui sedang menyelinap. Apalagi saat menemu­kan perlintasan lorong, posisi kami lebih terbuka lagi.

Napasku tersengal, tiba di pintu ruangan ketiga. Aku me­nunggu Seli dan Ali yang baru bergerak setelah aku tiba di ujung.

”Ini ruangan dengan koleksi buku paling berharga milik Per­pustakaan Sentral,” Ali membaca keterangan di peta, setelah tiba di dekatku. ”Sekaligus ruangan paling besar, paling indah, dan dilengkapi dengan tempat paling nyaman untuk membaca.”

Aku menatap Ali. ”Apakah keterangan itu penting? Dengan ruangan sebelumnya yang hancur, sepertinya tidak ada ruangan di gedung ini yang masih utuh.”

Ali mengangkat bahu. ”Siapa tahu informasi itu berguna, Ra. Kamu siap masuk sekarang?” 

Aku mengangguk, menahan napas, perlahan mendorong pintu bulat besar.

Seberkas cahaya menerpa wajahku. Terang.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊