menu

Bumi Bab 40

Mode Malam
Bab 40
TOG membuka matanya lima belas menit kemudian.

Tubuhnya masih lemah, tapi dia jelas petarung yang pantang menyerah. Dia memaksakan diri duduk bersandarkan meja. Wajah­nya mengenaskan, dengan biru lebam di dahi, dagu, dan darah kering di ujung bibir. Aku tahu itu pasti akibat pukulan Tamus.

Av menyuruh Vey mengambilkan air minum.

Vey segera kembali dari dapur dengan gelas berisi air segar. Av mengusap gelas itu, bergumam pelan, lantas memberikannya kepada Tog.

Tog menghabiskannya dalam sekali minum.

”Aku ada di mana?” Tog meletakkan gelas kosong, mendongak, menatap kami.

”Rumah peristirahatan Ilo, cucu dari cucu cucuku,” Av men­jawab, menunjuk Ilo.

Tog melihat Ilo. ”Aku kenal dia. Orang­orang mengidola­kannya.”

Av tertawa, menepuk bahu Ilo. ”Kalau begitu, kamu memang terkenal, Ilo. Kamu pasti belum pernah bertemu dengan Panglima Pasukan Bayangan, belum mengenal mereka, tapi se­baliknya panglima paling kuat di antara mereka mengenalmu.”

Wajah Ilo memerah.

Tog beranjak bangkit. Ali hendak membantunya, namun Tog meng­geleng, mengangkat tangannya tegas, ingin berdiri sendiri. Susah payah Tog berhasil berdiri.

Tog mengangguk pelan ke arah Ilo, yang dibalas anggukan sopan dari Ilo.

”Itu istri Ilo, namanya Vey. Di mana Ou?” Av menoleh ke arah Vey. 

”Sudah tidur di kamar. Seharian bermain di pantai, dia lelah.”

Av mengangguk, meneruskan memperkenalkan kami. ”Dan tiga anak­anak ini, seperti yang aku ceritakan di perpustakaan. Yang tinggi, dengan rambut panjang adalah Ra. Dia yang di­kejar­kejar oleh Tamus di dunia Makhluk Rendah.”

Tog mengangguk kepadaku. Aku ragu­ragu ikut meng­angguk. ”Yang satu lagi, rambut sebahu, namanya Seli. Dia petarung dari

Klan   Matahari.   Usianya   baru   lima   belas,   tapi   dia   sudah   bisa

mengeluarkan petir dari tangannya. Dengan latihan yang baik, dia bisa melampaui kemampuan petarung terbaik Klan Matahari yang pernah ada.”

Tog kali ini membungkuk dalam kepada Seli, suara beratnya berseru, ”Sungguh kehormatan bertemu petarung Klan Matahari. Sekutu lama.”

Seli kikuk. Dia melirikku, bingung apa yang harus dia jawab. Aku me­nunjuk Tog yang membungkuk. Seli ikut membungkuk, patah­patah.

”Yang satu lagi, yang berambut berantakan...” Av menatap Ali, tertawa. ”Aku lupa, kamu sudah bisa berbahasa kami, kamu jangan memasang wajah masam, Nak. Aku mengatakan ‘rambut berantakan’ itu sebagai pujian.” Av masih terkekeh. ”Namanya Ali. Dia Makhluk Rendah paling brilian. Semakin lama di dunia ini, maka semakin banyak yang dia serap dengan amat me­ngagum­kan.”

Tog mengangguk ke arah Ali, yang dibalas dengan angguk­an. ”Mereka   bertiga   masuk   ke   dunia   ini   setelah   dikejar Tamus,

diselamatkan oleh seorang petarung Klan Bulan bernama Selena. Tanpa

mengetahui buku apa yang dia miliki, sama sekali tidak tahu betapa kuatnya buku itu, Ra mengaktifkan Buku Kehidup­an, membuka sekat antardunia, tiba di kamar Ou, anak Ilo. Mereka masuk dalam seluruh cerita.” Av mengusap rambut pu­tih­nya. 

”Mungkin sebaiknya kita bicara sambil duduk, Av,” Vey menyela sopan. ”Aku bisa menyiapkan minuman segar atau makan­an jika kamu dan Tog membutuhkannya.”

”Ide yang baik.” Av mengangguk. ”Mari kita duduk. Aku sudah berjam­jam berdiri, punggung tuaku ini sudah terasa pegal sekali. Dan kamu benar, Vey, perutku kosong.”

Av melangkah menuju meja makan. Bunyi tongkatnya yang me­ngetuk lantai terdengar berirama. Kondisi Tog dengan cepat membaik. Dia sudah berjalan mantap, ikut duduk di bangku. Mungkin karena kekuatan penyembuhan Av, mungkin juga karena kekuatan Tog sendiri yang bisa pulih dengan cepat. Se­karang, melihatnya duduk kokoh di sebelah Av, baru terasa pesona wibawanya sebagai seorang panglima. Wajahnya tegas dan keras.

Vey dengan tangkas menyiapkan minuman dan makanan di dapur. Dia menggeleng saat aku menawarkan bantuan. ”Kalian lebih dibutuhkan di sana, Ra.”

Aku dan Seli ikut duduk di sekeliling meja ma­kan.

”Bagaimana situasi terakhir di Tower Sentral? Apa yang ter­jadi dengan Bagian Terlarang perpustkaan setelah dikuasai me­reka?” Ilo sudah membuka percakapan, bertanya kepada Av.

”Situasinya buruk.” Av menggeleng, ”Dengan jatuhnya perpustakaan, seluruh titik terpenting telah dikuasai oleh Tamus. Bisa dibilang, seluruh kota telah jatuh ke tangannya, dan dengan jatuhnya Kota Tishri berarti seluruh negeri telah dikuasai.”

”Tapi kenapa belum ada pengumuman siapa yang berkuasa? Kenapa Tamus tidak muncul dan mengumumkan dia menjadi raja? Bukankah itu yang dia inginkan?” Ilo bertanya lagi.

”Karena bukan Tamus yang akan duduk di kursi kekuasaan,” Tog yang menjawab, suara beratnya terdengar seperti mengam­bang di udara.

Kami menoleh kepadanya. Bukan hanya aku yang bingung, dahi Ali terlihat berkerut. Kalau bukan Tamus, lantas siapa? Bukankah memang 

tujuan Tamus merebut kekuasaan dari Komite Kota untuk mengembalikan posisi para pemilik ke­kuatan? Mengganti sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Dia menjadi raja, yang otomatis memuluskan rencana menguasai dunia lain?

”Aku keliru menebak rencana Tamus.” Av menghela napas, ”Dia tidak berencana membuka sekat ke dunia Makhluk Rendah. Dia berencana membuka sekat ke tempat lain.”

”Sekat ke tempat lain?” Ilo memastikan.

”Ya, sekat ke tempat lain. Sejak pertempuran besar, kalah dan tersingkirkan, Tamus berkeliaran ke mana­mana. Dia melatih kekuatannya, mencari catatan lama, buku­buku tua. Mengunjungi tempat­tempat yang tidak pernah didatangi orang. Entah sajak kapan dia bisa menembus sekat dunia, tapi itu memudahkannya untuk melewati batas kekuatan lebih jauh lagi, mempelajari pengetahuan dunia lain. Jika aku hanya menghabiskan hari demi hari di perpustakaan, para pemilik kekuatan lain menghabiskan masa tua dengan tenang, Tamus justru diam­diam mengelilingi dunia, menyusun rencana besar mengerikan.”

Av menatap kami bergantian. ”Akan kujelaskan agar kalian bisa mengerti. Tamus punya rencana lain, dan itu semua berasal dari dongeng. Itu sebenarnya dongeng favoritku. Aku pikir itu hanya cerita lama. Diceritakan oleh kakek dari kakekku dulu men­jelang tidur.

”Cerita itu mengisahkan, pada suatu zaman yang telah dilupa­kan orang­orang, pernah ada kekacauan besar melanda seluruh negeri, yang membuat Raja bertempur habis­habisan dengan orang­orang jahat yang dipimpin oleh si Tanpa Mahkota. Se­luruh negeri dicekam ketakutan. Gelap menyelimuti langit, penduduk tidak bisa melihat bulan bertahun­ tahun.

”Kisah ini disampaikan lewat lagu­lagu, yang dinyanyikan lembut sebagai pengantar tidur. Aku ingat sekali irama dan syair potongan lagu yang dinyanyikan kakek dari kakekku saat do­ngeng ini diceritakan, itu bagian kesukaanku. 

”Lihat, aduh, lihatlah

Itu si Tanpa Mahkota berdiri gagah

Dia adalah pemilik kekuatan paling hebat Menjelajah dunia tanpa tepian

Untuk tiba di titik paling jauh

Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang Ada dalam genggaman tangan.

”Lama­kelamaan, pengikut si Tanpa Mahkota semakin ba­nyak. Dia memiliki pasukan, sekutu, dan orang­orang yang me­nyata­kan kesetiaan. Hingga tiba masanya, diselimuti ketamakan dan kebencian, si Tanpa Mahkota menuntut dijadikan raja. Dia menyerang istana. Sekali pukul, dia menguasai seluruh kota, dan Raja terpaksa mengungsi. Si Tanpa Mahkota mengangkat diri men­jadi raja. Tetapi cerita jauh dari selesai. Sejak hari itu, pertempuran terjadi di mana­mana, di kota­kota, di sudut­ sudut negeri, karena dari tempat pelarian, Raja memberikan perlawan­an.

”Lihat, aduh, lihatlah

Seratus purnama berlalu tiada berjumpa Asap gelap membungkus langit

Sedih dan tangis terhampar di Bumi Ratap pilu menyambut matahari

Apalagi bintang, hanya teman kesusahan Entah hingga kapan. 

”Setelah bertahun­tahun bertempur, Raja akhirnya mempunyai senjata untuk mengalahkan si Tanpa Mahkota. Dia bersama orang­orang terbaik yang masih setia padanya menyerbu istana, melawan si Tanpa Mahkota. Pertempuran hebat terjadi. Saat Raja terdesak, hampir kalah, Raja membuka sekat menuju dunia lain. Itu bukan empat dunia yang ada, melainkan petak kecil yang disebut ‘Bayangan di bawah Bayangan’, sepotong dunia kecil yang gelap, tanpa kehidupan. Tempat tidak ada cahaya. Penjara yang sempurna untuk si Tanpa Mahkota. Rencana itu berhasil. Pada detik terakhir, si Tanpa Mahkota terseret masuk ke dalam sekat, Raja pun menyegel sekat itu. Musuh paling mengerikan Klan Bulan hilang selama­lamanya.”

Av menghela napas, suara kertak nyala api di perapian ter­dengar samar.

”Itu cerita favoritku. Aku suka sekali mendengarkannya. Berkali­ kali, diulang­ulang. Tapi aku baru tahu bahwa ternyata cerita itu bukan isapan jempol. Itu kejadian nyata ribuan tahun lalu, sejarah yang dilupakan Klan Bulan. Tamus memercayainya. Dia berkeliling mengumpulkan potongan misteri cerita itu, kekuatan dan pengetahuannya terus bertambah, dan dia akhirnya berhasil mengumpulkan seluruh potongan. Lengkap.

”Tamus tidak berencana membuka sekat ke dunia Makhluk Rendah, tidak sekarang. Dia ingin membuka sekat ke petak Bayangan di bawah Bayangan, penjara si Tanpa Mahkota. Itulah rencana mengerikan miliknya. Dia sama sekali tidak tertarik duduk di kursi kekuasaan—dia ingin menjemput orang yang paling berhak menurut dia. Sekali si Tanpa Mahkota kembali ber­kuasa, maka apa pun rencana Tamus akan mudah diwujud­kan. Mereka akan cocok. Tamus bisa menjadi panglima kesayangan­nya.”

”Dari mana kamu tahu rencana Tamus itu, Av?” tanya Ilo.

”Aku yang tahu,” Tog menjawab dengan suara beratnya. ”Sebulan sebelum Tamus menyerbu Komite Kota, dia sudah bicara dengan delapan Panglima. Dia tidak bicara secara lang­sung, tapi secara nyata dia menginginkan Kota dipimpin kembali oleh orang yang berhak. Ide itu 

disetujui mentah­mentah oleh sebagian besar Panglima. Sejak dulu kami menyukai kekuatan, ambisi berkuasa, dan perang. Semua yang bisa diberikan oleh Tamus. Kami mengenal dia, terlebih Tamus datang memamer­kan seluruh kekuatan yang dimiliki.

”Aku sempat bertanya, jika Komite Kota berhasil disingkirkan, siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan? Apakah dia yang akan menjadi raja? Tamus tertawa. Dia bilang, orang yang tidak pernah dimahkotailah yang akan kembali berkuasa. Aku hendak ber­tanya lagi, tapi Tamus menghilang, kemudian muncul men­cekik leherku, berbisik mengancam, siapa pun yang menentang rencananya akan berakhir menyedihkan. Ruangan pertemuan ditutupi tabir, berubah seperti malam hari. Sungguh mengerikan kekuatan yang dia miliki.

”Setelah pertemuan itu, aku memutuskan mendatangi bebe­rapa Ketua Akademi, dan segera tahu bahwa Tamus sudah bergerak lebih dalam dan sejak lama. Hampir seluruh akademi telah dia datangi. Tamus mengintimidasi Ketua Akademi untuk bersekutu dengannya. Tidak semua menurut, tapi menolak ber­arti masalah serius. Tamus juga mengunjungi siapa pun yang memiliki ke­kuatan penting selama pelariannya. Jika dia masih remaja, Tamus menawarkan diri menjadi guru, menggoda dengan kekuatan tidak terbilang. Jika sudah dewasa, Tamus menawarkan kesempat­an bersekutu, kekuasaan.

”Bersama beberapa orang yang bisa dipercaya, aku sempat membuat rencana seandainya Tamus menyerang Komite Kota, tapi belum genap rencana itu, Tamus sudah menyerbu Tower Sentral lebih dulu. Enam dari Panglima Pasukan Bayangan ada di bawah kakinya. Menyisakan Panglima Selatan dan aku yang menolak ide gila tersebut. Tamus bergerak lebih cepat dari duga­an. De­ngan jatuhnya Perpustakaan Sentral, hanya soal waktu akhirnya dia bisa membuka sekat ke penjara si Tanpa Mahkota, mem­bawa pulang Raja yang dia inginkan.”

”Tapi bagaimana dia bisa membuka sekat itu?” Ali bertanya dengan bahasa dunia ini.

Tog menggeleng. 

Av juga menggeleng perlahan. ”Aku tidak tahu, Ali. Karena itu hanya dongeng, cerita itu tidak detail. Tidak ada penjelasan selain lagu­ lagu yang dinyanyikan. Tapi apa pun itu, benda yang dibutuhkan Tamus ada di Bagian Terlarang perpustakaan. Aku sempat menyelamatkan sebagian besar, membawanya ke­mari, tapi boleh jadi yang dia cari tertinggal.”

”Apa yang terjadi jika sekat itu berhasil dibuka?” aku akhirnya buka suara, ikut bertanya.

”Tidak ada yang tahu, Ra. Mungkin mimpi buruk bagi seluruh Klan Bulan. Juga mimpi buruk bagi dunia lain. Si Tanpa Mahkota tidak akan senang telah dipenjara ribuan tahun di sana.” Av mengusap rambut putihnya.

”Apa yang akan kita lakukan untuk mencegahnya, Av?” Ilo ber­tanya dengan suara bergetar.

”Kita harus menyusun rencana bagus secepat mungkin. Se­moga waktu dan keberuntungan masih berpihak pada kita,” Av menjawab pelan.

”Pasukanku bisa digunakan untuk melawan Tamus,” Tog berkata lebih mantap. ”Kami bagian terbesar dari Pasukan Bayangan. Ditambah dengan Panglima Selatan, kekuatan kami cukup untuk menghadapi enam panglima lainnya. Dari tiga puluh dua akademi, tidak semuanya mendukung Tamus, lebih banyak yang terpaksa melakukannya. Kita bisa punya tambahan kekuatan dari kadet senior. Dan yang lebih penting lagi, pen­duduk Kota Tishri menolak ide para pemilik kekuatan kembali ber­kuasa. Kita masih punya kesempatan besar.”

”Tog benar, itulah kenapa aku bilang semoga waktu dan keber­untungan masih berpihak pada kita.” Av mengangguk. ”Kita masih bisa mencegahnya. Karena sekali sekat itu berhasil dibuka, per­mainan ini selesai. Tamus menang.”

Meja makan kembali lengang. Di dapur Vey sudah hampir selesai menyiapkan makanan. 

Tog menoleh padaku. ”Bagaimana rupa dan perawakan orang yang membantu kalian melawan Tamus di dunia kalian?”

Aku menatap Tog. ”Miss Selena?”

Tog mengangguk. ”Apakah dia wanita berusia tiga puluhan, dengan tubuh tinggi rampin dan rambut pendek meranggas?”

Aku mengangguk. Apa maksud pertanyaan Tog? Kenapa dia tahu ciri­ciri Miss Selena?

Tog masih menatapku. ”Dia ada bersama Tamus saat me­nyerang Perpustakaan Sentral. Aku sempat melihatnya.”

Aku terkejut. Miss Selena? Bersama Tamus?

”Tidak, tentu saja dia tidak ikut menyerang kami.” Tog meng­geleng. ”Dia dibawa oleh Pasukan Bayangan, tubuhnya terluka parah, kondisinya buruk, diikat dengan jaring perak. Dia men­jadi tawanan musuh, diletakkan di salah satu ruangan Per­pusta­ka­­an Sentral.”

Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Hampir ber­teriak. ”Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang, Ra. Kamu jangan

panik,” Av berseru.

”Miss Selena! Kita harus menolong Miss Selena!” Aku justru berdiri berseru­seru.

Av segera menyentuh tanganku, mengalirkan perasaan tenang dan fokus. ”Kita harus berpikir rasional, Ra. Dalam situasi seperti ini, selalu gunakan akal sehat. Kita akan menyelamatkan gurumu, juga mengalahkan Tamus, menghentikan rencana gila­nya, tapi dengan rencana yang baik.”

Aku terduduk kembali di bangku kayu, sentuhan hangat yang diberikan Av memaksaku tetap tenang.

”Apa rencana kita, Av?” Ilo bertanya. 

”Besok pagi­pagi akan ada pertemuan dengan Panglima Selatan, beberapa Ketua Akademi, dan para pemilik kekuatan yang berada di pihak kita. Mereka akan tiba di rumah ini saat fajar menyingsing. Segera setelah pertemuan, kita bisa menentu­kan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan menyerang Tamus di Perpustakaan Sentral.”

”Apakah itu tidak terlalu telat?”

Av menggeleng. ”Kamu seharusnya lebih dari dewasa untuk berpikir rasional, Ilo. Urusan ini bukan hanya soal cepat atau lambat. Tapi juga tepat dan akurat. Bunuh diri jika kamu me­nyerang Tamus tanpa rencana. Besok pagi­pagi. Sekarang aku lapar berat, lebih dari 36 jam perutku tidak diisi apa pun. Inilah rencanaku paling cepat, menghabiskan masakan Vey.”

Vey datang membawa nampan berisi makanan dan minuman segar. Seli menyikut lenganku, berbisik, ”Mereka tadi me­nyebut Miss

Selena, bukan? Ada apa dengannya, Ra?”

Aku menunduk menatap meja, sentuhan hangat Av sudah meng­hilang, suasana hatiku kembali seperti semula. Aku men­jawab pertanyaan Seli dengan suara serak, berbisik pelan, ”Kita akan menyelamatkan Miss Selena malam ini.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊