menu

Bumi Bab 38

Mode Malam
Bab 38
Ou membangunkan kami pagi­pagi. Si kecil usia empat tahun itu semangat mengetuk pintu kamar. Aku yang masih me­ngantuk membuka pintu.

”Selamat pagi, Kak.” Wajahnya terlihat lucu, masih memakai baju tidur dan sandal kelinci—setidaknya meski pakaian tidur dunia ini aneh, tetap terlihat menggemaskan.

”Boleh Ou masuk, Kak?” Mata Ou bekerjap­kerjap. Aku tertawa, mengangguk.

”Ada siapa, Ra?” Seli membuka sebelah matanya, keluar dari balik selimut.

”Ou,” jawabku. ”Bangun, Sel, sudah siang.”

”Kakak semalam datang jam berapa? Keretanya mogok kan, ya? Dan ramai sekali orang­orang.” Ou asyik mengajakku ber­bicara, duduk  di atas kasur. Anak kecil seusia dia sepertinya mudah akrab dengan kami, tanpa merasa takut meski baru ber­temu beberapa hari. 

Seli meladeni Ou ”mengobrol”—mata menyipit Seli langsung terang. Aku membuka tirai jendela, mengetuk pintu penghubung, membangunkan Ali. Tidak ada jawaban, seperti­nya Ali tidur larut sekali tadi malam, masih tidur nyenyak.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan sepanjang hari di rumah peristirahatan Ilo, karena secara teknis kami sedang ber­sembunyi, menghindari semua kekacauan di seluruh kota. Pagi itu, aku dan Seli membantu Vey menyiapkan sarapan, turun ke dapur bersama Ou. Aku jadi tahu kenapa masakan Vey ter­lihat aneh. Sebenarnya bahan­ bahannya sama, wortel, gandum, telur, dan sebagainya, tidak ada yang berbeda dengan masakan Mama. Tapi di dunia ini, semua masakan diblender, lantas diberikan pewarna alami gelap. 

Ou duduk di meja makan, terus bertanya banyak hal kepada kami. Seli sepertinya akrab dengan anak­anak. Sesekali percakap­an Ou dan Seli lucu, membuat dapur dipenuhi tawa. Masakan siap setengah jam kemudian. ”Kita langsung sarapan, tidak usah mandi dulu, Ra. Kita sedang liburan, tidak apa sedikit malas­malasan.” Vey tersenyum. ”Hari ini semua orang bebas bersantai. Ou, tolong bangunkan Kak Ali di atas.”

Ali tidak ada di kamarnya. Ou berlari menuruni anak tangga, melapor. Kami jadi bingung, tapi syukurlah, Ali mudah ditemu­kan. Si genius itu ternyata tertidur di sofa panjang, dengan buku­buku berserakan di sekitarnya. Dia dibangunkan Ilo, dan ber­­gabung ke meja makan dengan langkah gontai, mata me­nyipit, rambut berantakan.

”Kamu sepertinya tidur larut sekali tadi malam. Jam berapa?” Ilo bertanya kepada Ali.

”Tidak tahu persis aku, entahlah, tengah malam lewat mung­kin,” Ali menjawab sambil mengucek­ucek mata.

Astaga. Bahkan Vey yang sedang mengangkat masakan dari wajan ikut kaget. Kami semua menatap Ali, terkejut. Si genius itu menjawab pertanyaan Ilo dengan bahasa dunia ini. Susunan katanya masih berantakan, tapi itu lebih dari cukup untuk dipahami.

”Sejak kapan kamu bisa bahasa dunia ini?” Ilo menatap Ali, tertawa

lebar.

”Sejak bangun tidur, kurasa, barusan, entahlah.” Ali menguap lebar, duduk malas di bangku.

Aku menatap wajah kusut Ali, ikut tertawa. Meski menyebal­kan, jail, dan kadar sok tahunya tinggi sekali, harus diakui Ali memang pintar. Entah bagaimana caranya, dia berhasil memaksa menghafal ribuan kata tadi malam.

Kami segera sarapan. Meja makan ramai oleh suara sendok dan piring. 

Setelah sarapan, Ilo mengajak kami berjalan­jalan di pantai. Tawaran yang menyenangkan. Ou bahkan bersorak kegirangan, meloncat dari bangku.

”Sejak tiba di sini kemarin sore Ou sudah memaksa ingin bermain di pantai.” Vey tertawa.

Ou berlari menuruni anak tangga rumah peristirahatan. Aku dan yang lain menyusul. Kaki kami langsung menyentuh pasir pantai yang halus. Matahari sudah beranjak naik. Cahayanya menerpa wajah. Pantai yang indah. Serombongan burung camar terbang di atas kepala, melengking merdu seolah menyambut kami. Ou menunjuk­nunjuk dengan riang. Angin laut menerpa wajah, membuat anak rambut tersibak. Pelepah daun kelapa melambai pelan.

Kami segera bermain di pantai, duduk­duduk di bawah kanopi lebar. Bosan, Ou mengajak aku dan Seli berlarian, me­ngejar dan dikejar ombak. Kami tertawa riang, saling men­ciprati air, berlarian lagi.

Setengah jam berlalu tanpa terasa, Ilo dan Vey terlihat sibuk mengangkut alat masak ke dekat kanopi, seperti perapian untuk membakar makanan. Mungkin kami akan membakar jagung—dan aku tidak tahu akan seberapa besar jagungnya. Ou sudah asyik mengajak Seli bermain pasir basah, membuat istana dan bangunan pasir lainnya. Ali hanya duduk di kursi bawah kanopi, membawa buku dan majalah, kembali tenggelam dengan kamus bahasa antardunia miliknya.

Kami tidak berbeda dengan orang­orang lain yang sedang berlibur di pantai. Yang sedikit membuatnya berbeda adalah ketika Seli mengambil ember plastik—peralatan membuat istana pasir—dari jarak jauh. Seli mengacungkan tangannya, ember plastik yang berada di dekat kanopi itu terbang sejauh tiga meter, mendarat mulus di tangan Seli. Demi melihat itu, Ou ber­seru kaget, menutup mulutnya, sedikit takut, tapi hanya se­bentar. Kemudian dia berseru­seru minta diper­lihatkan lagi. Seli tertawa, mengangguk.

Lima menit kemudian, Seli telah memindahkan banyak benda, mulai dari topi, sekop, kerang, kepiting, pelepah kelapa, buah kelapa yang jatuh, apa saja yang diminta Ou. 

Aku jadi punya ide menarik. Lalu aku berbisik kepada Seli, sambil menahan tawa.

Seli tertawa duluan, mengangguk, lalu menatap ke arah ka­nopi. ”Apa yang akan Kakak lakukan?” Ou bertanya.

”Ssstt,” aku menyuruh Ou diam dulu.

Tangan Seli teracung ke salah satu bangku, konsentrasi.

Tiba­tiba Ali terperanjat, berseru marah­marah, majalah dan buku ber­jatuhan. Kami tertawa. Ou bahkan terpingkal­pingkal sambil memegangi perut.

”Apa yang kalian lakukan?” Ali berteriak sebal, berpegangan panik ke pinggiran bangku yang mendadak naik satu meter, hampir menyentuh atap kanopi.

”Turunkan aku, Seli! Cepat!” Ali melotot.

Seli mengalah, menurunkan lagi kursi Ali. Dan si genius itu mendatangi kami, mengomel panjang lebar. Bilang kami telah mengganggu dia mempelajari bahasa dunia ini.

”Kamu kan pernah memasang kamera di kamarku, Ali. Jadi tidak perlu juga marah berlebihan,” aku berkata ringan, merasa tidak bersalah—meniru gaya Ali.

Ali kembali ke kanopi sambil bersungut­sungut.

”Kamu menggunakan sarung tangannya, Sel?” aku berbisik, setelah si genius itu pergi.

Seli menggeleng.

”Bagaimana kamu melakukannya tanpa sarung tangan? Bukankah kamu bilang selama ini hanya bisa menggerakkan benda­benda kecil?”

”Entahlah, Ra. Sepertinya kekuatannya terus berkembang.” Seli memperhatikan telapak tangannya. 

Aku belum menyadarinya, tapi aktivitas kami di pantai justru menjadi latihan efektif yang membuat kekuatan Seli mengalami kemajuan pesat.

Bosan membuat istana pasir, Ou mengajak kami ke kapsul kereta yang tertambat di dermaga kayu. Kami lagi­lagi meng­habis­kan waktu lama di dalam kapsul. Semua anak kecil seperti­nya menyukai gerbong kereta, maka Ou lebih senang lagi. Dia punya satu gerbong di halaman rumahnya. Ou mengajak kami bermain kapsul kereta, berpura­pura menuju ke suatu tempat. Dia naik ke atas kemudi manual, berseru­seru riang.

Saat Ou terlihat mulai bosan, turun ke pasir lagi, aku me­nawar­kan sesuatu.

”Kamu ingin kelapa muda, Ou?” Ou berseru, ”Mau! Mau, Kak.”

Aku tertawa, mengajaknya ke salah satu pohon kelapa tinggi. ”Kakak pintar memanjat pohon?” Ou menyelidik.

”Kakak tidak akan memanjatnya.”

”Atau Kakak bisa menggerakkan benda dari jauh juga?” cecar Ou. ”Kamu lihat saja ya.” Aku tersenyum kecil, menyuruh Ou

me­nyingkir jauh­jauh.

Ou dan Seli berdiri jauh di belakangku.

Sejak tadi aku ingin mencoba menggunakan kekuatan tangan­ku, maka dengan ditonton Ou dan Seli, aku berkonsentrasi. Tangan­ku dengan cepat dialiri angin kencang, memukul ke atas, ke tandan buah kelapa. Itu pukulan yang kuat. Suara dentuman yang keluar membuat Ilo dan Vey yang ada di rumah berlari keluar. Burung camar beterbangan panik di sekitar kami, men­jauh.

Aku terduduk di pasir. 

Ou memeluk Seli. Dia kaget, wajahnya pucat, tapi tetap mem­beranikan diri mengintip, melihat buah kelapa muda berjatuhan, berserakan di sekitar kami.

”Ada apa, Ra?” Ilo bertanya, cemas dan tersengal.

”Kami baik­baik saja, Ilo.” Aku berdiri, menepuk pakaianku yang terkena pasir. ”Aku hanya mencoba memukul sesuatu, menunjukkannya ke Ou, tapi ternyata kencang sekali. Maaf telah membuat kaget semua.”

Ilo mengembuskan napas lega. Dia mengira ada Pasukan Bayangan yang datang.

”Buah kelapanya banyak sekali, Kak.” Ou mendekat, melihat buah kelapa yang jatuh.

Ilo tertawa, mendongak, hampir seluruh buah kelapa jatuh.

”Ayo, anak­anak, berhenti sebentar main­mainnya. Kita ber­kumpul di kanopi,” dengan wajah masih cemas, Vey berseru.

”Kamu menggunakan sarung tangan, Ra?” Seli bertanya. Kami melangkah ke bangku­bangku di bawah kanopi sambil membawa beberapa kelapa muda.

Aku menggeleng. Jika aku memakainya, pukulanku akan lebih kencang lagi.

Matahari semakin tinggi. Kami tidak membakar jagung, me­lain­kan ubi­ubian. Bentuknya seperti singkong, dalam versi dua kali lipatnya, sudah dicuci bersih, tinggal dibakar. Kami segera asyik menyiapkan ubi masing­masing. Aroma ubi bakar berhasil membuat Ali meninggalkan kamus dan buku­buku yang dia baca.

Sepanjang hari tidak banyak yang kami lakukan. Makan siang, minum air kelapa muda, terasa segar, bermain di pantai, makan lagi, minum lagi.

Belum ada kabar dari Ily. ”Dia tidak akan leluasa menghu­bungi siapa pun. Itu bisa mengundang kecurigaan. Ily baik­baik saja.” Itu pendapat Ilo, dan itu masuk akal. Juga kabar dari ge­dung perpustakaan, 

masih dikepung Pasukan Bayangan. Itu berarti sudah dua puluh empat jam lebih Av bertahan.

Ou sempat berlari­lari ke pinggir pantai. Dia melihat sesuatu di kejauhan, berseru riang. Aku kira itu kapal laut atau kapal selam milik Pasukan Bayangan, ternyata bukan. Itu ikan paus yang muncul di permukaan, besar sekali. Paus itu me­nyembur­kan air ke udara, membuat semburan yang tinggi. Ou bertepuk tangan melihatnya.

Setelah puas menyaksikan ikan paus, Ou disuruh Vey tidur siang, dan si kecil itu mengangguk. Ilo juga kembali ke rumah peristirahatan, membiarkan kami bertiga di pantai. ”Kalian bebas. Tidak ada yang perlu dicemaskan sepanjang kalian tetap berada di dalam pagar.”

Duduk­duduk di bawah kanopi, Ali sempat menyerahkan lagi buku tulisnya. Dia punya daftar kosakata baru yang disalinnya dari buku dan majalah. Aku tidak banyak protes, membantu membuat padanan kata. Dengan kemajuan Ali sudah bicara dengan Ilo dan Vey sepanjang hari, akan banyak manfaatnya kalau Ali segera menguasai bahasa dunia ini.

”Ali, bagaimana kamu bisa menghafal semua kosakata ini dengan cepat?” Seli bertanya.

Ali santai menunjuk kepalanya.

Aku menahan senyum. Aku tahu maksudnya. Dia memang punya otak brilian. Tapi sebelum si genius itu membanggakan ke­mampuan otaknya, aku memutuskan menceletuk. ”Maksudmu, dengan ketombe di kepalamu?”

Aku menatap rambut berantakan Ali yang sering ketombean di

kelas.

Si genius itu membalas, ”Setidaknya aku tidak jerawatan, Ra.

Besar. Di jidat pula.”

Seli tertawa, teringat kejadian beberapa hari lalu di sekolah saat dahiku ditumbuhi jerawat batu besar. Ali memang selalu menyebalkan.

*** 

Sorenya, aku dan Seli melatih kekuatan.

Kemajuan Seli pesat. Aku menatap takjub ketika dia berhasil mengangkat butiran pasir. Tidak banyak, paling hanya segeng­gaman tangan. Butir pasir itu bergerak naik, lantas mengambang. Seli membuatnya bergerak, berpilin, menyebar, menyatu, seperti angin puyuh kecil yang bergerak lentur. Ali yang sedang mem­baca kosakata baru yang kutuliskan berhenti sejenak, menatap tertegun dari kursi bawah kanopi.

”Ini keren, Sel,” aku berseru.

Seli tersenyum, menurunkan tangannya, jutaan butir pasir itu pun luruh ke bawah.

Aku juga berlatih, meski tidak leluasa melatih pukulanku, karena pasti mengeluarkan suara berdentum—dan mengganggu tidur siang Ou. Jadi aku memilih berlatih trik yang dilakukan Miss Selena dan Tamus sewaktu bertarung di aula sekolah. Lompat, menghilang, kemudian muncul lagi. Tetapi kemajuanku tidak sebaik Seli. Aku memang bisa melompat jauh, bergerak cepat, juga terdengar suara seperti gelembung air meletus pelan, tetapi tubuhku tidak menghilang. Seli berkali­kali berseru memberitahu. ”Aku masih melihatmu, Ra!” Hingga aku kelelahan bergerak ke mana­mana, menyeka keringat di leher. Mungkin aku tidak cukup berkonsentrasi, atau trik ini harus diajarkan oleh orang lain yang lebih dulu menguasainya.

Matahari mulai tenggelam di kaki barat.

Kami menghentikan semua aktivitas di pantai, asyik menatap garis langit. Untuk kedua kalinya kami menyimak sunset di dunia ini, menatap matahari perlahan­lahan tenggelam. Sama indahnya seperti kemarin sore.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊