menu

Bumi Bab 37

Mode Malam
Bab 37
AKU dan Seli membantu Vey membereskan meja setelah makan malam. Ilo dan Ali beranjak ke depan perapian, duduk di sofa panjang. Ali sempat menceletuk, ”Ternyata tidak ada sofa terbang di rumah ini.” Aku dan Seli yang sedang menyusun piring menahan senyum.

Karena mereka berdua tidak bisa saling mengerti, Ilo dan Ali hanya duduk­duduk saling diam di sofa. Ilo memberikan buku dan majalah untuk dilihat­lihat, Ali menerimanya de­ngan senang hati.

Kami bergabung ke sofa setelah dapur beres. Menyenangkan sekali mencuci piring di dunia ini, superpraktis dan cepat, hanya disemprot dengan angin. Piringnya bersih kesat. Tangan sama sekali tidak basah.

Seli mencium telapak tangannya. ”Wangi, Ra,” dia berbisik padaku.

Aku mengangguk.

Vey bergabung sebentar di sofa, berbicara santai dengan kami, bertanya tentang apakah masakannya enak, besok kami mau sarapan apa. Aku menjawab sopan, apa pun yang dimasak Vey pasti enak, jadi apa saja boleh. Vey tertawa, mengacak ram­but­ku. Kata dia, kecil­kecil aku sudah pandai menyenangkan orang dewasa. Lima belas menit kemudian, Vey naik ke lantai dua, istirahat dulu­an menemani Ou.

”Kalian jangan tidur terlalu larut, biar segar besok pagi.” Vey beranjak ke anak tangga, sambil mengingatkan untuk yang ketiga kali sejak di sofa panjang. Kami mengangguk.

Aku menatap punggung Vey, teringat Mama yang juga selalu cerewet soal tidur tepat waktu.

Tinggal berempat di ruang tengah, Ilo beranjak menyalakan televisi, yang siarannya melulu berisi update berita kejadian sepanjang hari di kota. Aku dan Seli ikut menonton. Ali meletak­kan majalah dan buku yang sedang dia baca. 

Dari layar televisi, dengan pembawa acara yang sama sejak tadi pagi, suasana kota bawah tanah malam ini terlihat lengang, kontras dengan segala kekacauan tadi siang. Jam malam telah diberlakukan. Pasukan Bayangan berjaga di banyak tempat, dan mereka diperintahkan menahan siapa pun yang keluar. Peraturan itu sepertinya efektif mencegah keributan meluas. Tapi sisa kerusuhan terlihat jelas di mana­ mana. Di bagian tertentu asap tebal masih mengepul, jalanan kotor, sampah berserakan.

Layar televisi pindah ke laporan situasi kota di atas per­mukaan, Rumah Bulan. Sebagian besar dari ribuan bangunan berbentuk balon di lembah terlihat gelap, penduduknya masih ter­tahan di kota bawah tanah, memilih menginap di hotel. Lembah yang sehari sebelumnya indah dengan warna terang, se­olah ada ribuan purnama, malam ini sebaliknya. Termasuk Tower Sentral, tiang tinggi dengan banyak cabang bangunan balon itu. Hanya di bagian paling atas yang menyala terang, sepertinya masih ada kesibukan di atas sana. Kata Ilo, bangunan paling atas itu adalah markas panglima Pasukan Bayangan. Ma­suk akal jika masih aktif hingga larut malam dalam situasi seperti ini.

Kami berempat terdiam saat layar televisi menayangkan situasi terakhir dari depan gedung Perpustakaan Sentral. Jumlah Pasukan Bayangan bertambah dua kali lipat. Itu titik terakhir yang belum dikuasai selama dua belas jam terakhir, konsentrasi baru penyerbuan. Asap hitam mengepul amat tinggi dan tebal. Separuh sayap kanan gedung itu rontok. Entah bagaimana nasib jutaan buku di dalamnya.

”Apakah Av baik­baik saja?” aku bertanya. Ilo mengusap wajah, diam sejenak.

”Jika hingga sekarang gedung perpustakaan belum jatuh, berarti Av baik­baik saja. Aku tahu sifat Av. Dia akan membuat lawannya mengerahkan seluruh kekuatan, menghabiskan waktu berjam­jam sebelum dia meninggalkan perpustakaan. Av tidak akan menyerah hingga titik usaha terakhir. Saat dia merasa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, dia baru pergi dengan cara elegan.”

”Pergi dengan cara elegan?” 

”Aku tidak punya ide bagaimana dia akan melakukannya. Tapi jika Av benar­benar tersudut, dia tidak akan memanjat meng­guna­kan  lubang kecil di belakang lemari untuk kabur. Dia punya cara lain. Percayalah, Ra, kakek dari kakek kakekku itu baik­baik saja.” 

Aku menelan ludah. Sebenarnya aku tidak mengkhawatirkan tambahan Pasukan Bayangan itu. Jika hingga malam ini mereka tetap tidak bisa memasuki Bagian Terlarang, itu berarti sistem keamanan dan segel yang dibuat Av kokoh sekali. Aku khawatir memikirkan kemungkinan bagaimana kalau Tamus memutuskan mengurus sendiri masalah ini. Saat kami berbicara di perpustaka­an tadi siang, Av terlihat jeri menyebut nama itu.

Lima menit lagi kami masih menonton televisi yang terus menyiarkan berita tadi siang. Sesekali disela running text yang meng­umumkan tentang jam malam, limitasi waktu, dan cara be­pergian, juga imbauan agar seluruh penduduk kota tetap tenang dan berada di rumah masing­masing. Penguasa baru dan Pasukan Bayangan akan memastikan situasi kota kembali aman. Ilo akhir­nya menekan tombol di pergelangan tangannya, memati­kan televisi.

”Setidaknya tidak ada berita tentang pengejaran kapsul kereta bawah tanah. Itu berarti belum ada yang tahu kalian berada di kota ini.”

Ilo beranjak bangkit.

Aku mendongak. ”Ilo, kamu mau ke mana?”

”Aku mau istirahat dulu. Mengemudikan kapsul amat me­nguras tenaga. Jika kalian memerlukan sesuatu, silakan gunakan apa pun yang ada di rumah ini, atau ketuk pintu kamar kami. Kalian bebas malam ini. Meski aku menyaran­kan kalian sebaik­nya segera masuk kamar, istirahat.”

Aku mengangguk.

”Selamat malam, anak­anak.”

Ilo melangkah naik tangga, meninggalkan kami bertiga. 

Api menyala terang di perapian, membuat hangat udara di sofa panjang.

”Kamu mengantuk, Sel?” aku bertanya pada Seli yang asyik membuka­buka majalah—melihat gambarnya saja.

Seli menggeleng. ”Belum. Kamu?”

Aku menggeleng, juga sama sekali belum mengantuk.

Ali beringsut ke sebelahku, menyerahkan buku tulis dan bol­poin miliknya.

”Ini apa?” Aku menatap Ali tidak mengerti. Aku kira dia tadi masih sibuk melihat buku dan majalah dunia ini, ternyata dia sibuk dengan buku tulis dari ranselnya.

”Ini kamus, Ra. Tepatnya kamus bahasa antardunia.” ”Kamus? Buat apa?”

”Aku bosan memintamu menerjemahkan bahasa mereka,” Ali berkata serius. ”Jadi, aku memutuskan menulis ratusan kosa­kata penting bahasa kita. Sekarang tolong kamu tuliskan di sebelah­nya padanan kata dalam bahasa dunia ini.”

”Kamu mau belajar bahasa mereka?”

”Kenapa tidak? Kita tidak tahu akan tersesat berapa lama di dunia ini, kan? Siapa tahu bertahun­tahun. Aku tidak mau jadi orang tolol selama bertahun­tahun, menebak arah percakapan.” Ali mengangkat bahu. ”Itu baru tiga ratus kata, sisanya sedang kutulis.” 

Aku masih menatap Ali dan buku tulis yang kupegang.

”Belajar bahasa itu mudah, Ra. Sebenarnya, dalam percakapan sehari­hari, paling banyak kita hanya menggunakan dua ribu kosakata paling penting, diulang­ulang hanya itu. Sekali kita menguasainya, kita bisa terlibat dalam percakapan dan mengem­bang­kan sendiri. Kamu 

tuliskan kamus bahasa mereka untukku. Ajari aku mengucapkannya. Sisanya aku akan belajar sendiri, meng­hafalnya.”

Aku menggeleng. Aku tidak mau jadi guru bahasa Ali. Enak saja dia menyuruh­nyuruh.

”Kalau begitu, kamu memilih untuk menjadi penerjemah resmiku, Ra. Aku akan terus menyikut lengan, menepuk bahu, me­mintamu menerjemahkan setiap kalimat. Tidak sabaran. Bila perlu memaksa. Pilih mana?” Ali nyengir lebar.

Seli tertawa melihat tampang masamku.

”Aku janji, Ra. Sekali kamu menuliskan kamus untukku, aku akan berhenti mengganggumu minta diterjemahkan. Bagaimana?” Ali membujukku.

Aku mengeluarkan suara puh pelan. Baiklah, akan kutuliskan kamus buat si genius ini. Meski ini aneh. Sejak kapan dia ter­tarik belajar bahasa orang lain? Bukankah di sekolah kami, ja­ngan­kan pelajaran bahasa Inggris, pelajaran bahasa Indonesia saja wajahnya langsung kusut.

Setengah jam kemudian aku habiskan untuk menuliskan padanan kosakata yang dibuat Ali. Seli juga beringsut mendekat. Dia ikut melihat kamus yang sedang kami kerjakan. Dengan cepat kamus itu menjadi berhalaman­halaman. Ali terus mem­beri­kan halaman berisi dafar kosakata berikutnya.

Waktu berlalu dengan cepat. Perapian di depan kami menyala terang. Suara api membakar kayu bakar berkeretak pelan.

Sesekali Seli tertawa membaca kosakata yang diminta Ali. ”Buat apa kamu meminta padanan kata ‘buang air besar’?”

Ali mengangkat bahu, menjawab pendek, ”Itu ter­masuk kosa­kata penting. Aku memerlukannya.”

Seli tertawa lagi. ”Lantas buat apa padanan kata ‘menyebal­kan’? Jangan­jangan akan kamu gunakan khusus untuk Ra, ya? Kalau Ra sedang me­nyebalkan?” 

Ali hanya mengangkat bahu, tidak berkomentar.

Aku tidak banyak tanya seperti Seli. Aku memutuskan me­nuliskan semua padanan kata yang diminta Ali—seaneh apa pun itu. Prospek bahwa Ali akan berhenti menyikutku, memaksa minta diterjemahkan lebih dari cukup untuk memotivasiku me­laku­kannya.

Satu jam berlalu, buku tulis yang digunakan Ali sudah penuh dengan daftar panjang. Tanganku sampai pegal menulis begitu banyak kata dalam waktu cepat. Ali juga memintaku men­contohkan bagaimana mengucapkan kosakata itu dengan tepat. Sebenarnya bahasa dunia ini tidak rumit. Mereka me­nyebut huruf sesuai bunyi aslinya. Jadi Ali tidak perlu repot belajar pengucapan. Tapi sebagai gantinya, Ali memintaku me­nuliskan juga kata­kata tersebut dalam huruf dunia ini. ”Sekali­an, Ra. Biar aku juga bisa membaca buku­buku di dunia ini.”

”Bahkan kamu tidak tahu huruf­huruf dunia ini, kan? Bagai­mana kamu akan mempelajarinya?” Seli bingung sendiri.

Ali hanya menjawab ringan, ”Aku akan menghafal bentuk tulis­annya dalam aksara dunia ini satu per satu. Sebenarnya saat kita membaca buku atau majalah, kita tidak mengeja huruf demi huruf lagi, kita menghafal bentuk tulisan kata demi katanya. Otak kita dengan cepat mengenali kata­kata tersebut, merangkai­nya menjadi kalimat atau paragraf, sama sekali tidak mengeja.”

”Tapi itu tetap saja tidak mudah, kan?” Seli penasaran.

”Memang tidak ada yang bilang mudah, Seli. Tapi aku akan me­lakukannya.”

Satu jam lagi berlalu tanpa terasa, akhirnya selesai juga. Ali sudah pindah duduk di sofa satunya, konsentrasi mem­baca kamus bahasa antardunia yang berhasil kami ciptakan. Aku menggerak­gerakkan jariku yang pegal. Seli sedang menambah kayu bakar di perapian, menjaga nyala api tetap terjaga.

Aku teringat sesuatu, meraih ransel Ali di lantai.

Si genius itu tidak keberatan aku mengaduk ranselnya. 

”Kamu mencari apa, Ra?” Seli kembali duduk di sofa pan­jang. ”Buku PR matematikaku.” Aku menarik keluar buku itu.

Aku teringat kalimat Av di perpustakaan tadi siang. Mum­pung suasananya sedang santai, mungkin aku bisa mulai mem­baca buku ini. Aku membuka­buka buku bersampul kulit de­ngan gambar bulan sabit menghadap ke atas itu. Tidak ada tulis­annya, buku setebal seratus halaman itu kosong. Aku men­coba mengusap sampulnya, meniru Av, tidak terjadi apa pun. Aku berusaha menulisi halaman kosongnya dengan ujung te­lunjuk, hanya muncul cahaya tipis di bekas jari telunjukku, lalu meng­hilang. Tetap tidak ada sesuatu yang menarik.

”Bagaimana, Ra? Kamu berhasil membacanya?” Seli mendekat, tertarik.

Aku menggeleng, memperlihatkan halaman kosong.

”Mungkin Ali tahu caranya.” Seli menunjuk si genius di sofa seberang kami.

”Buku itu milik Ra, Sel. Jika dia tidak bisa membacanya, maka jangankan aku, yang hanya Makhluk Tanah, atau kamu, penyuka Matahari.” Ali berkata pelan, kepalanya masih terbenam di kamusnya.

”Setidaknya kamu bisa memberikan ide bagaimana cara Ra membacanya, Ali,” Seli mendesak.

”Mungkin kalau dibaca sambil jongkok, tulisannya keluar, Sel.”

Aku tahu Ali asal menjawab, tapi entah apa yang dipikirkan Seli, dia percaya begitu saja. ”Ayo, Ra, coba dibaca sambil jong­kok.”

Aku menatap Seli kasihan. Seli itu mudah sekali dijaili si biang kerok.

Buku PR matematikaku tetap saja teronggok bisu se­tengah jam kemudian. Aku sudah membuatnya menghilang dua kali. Buku itu selalu muncul lagi dalam kondisi yang sama. Aku kon­sentrasi mengusap sampul, mengusap halaman da­lam, tetap tidak ada yang terjadi. Aku bosan, menatap sebal buku itu. 

”Mungkin kamu harus jongkok, Ra,” Seli mengingatkan lagi ide itu. Aku melotot. ”Tidak mungkin, Seli.”

”Apa susahnya dicoba?” Seli menatapku serius.

Buku ini menyebalkan sekali. Lihatlah, aku akhirnya mengalah, jongkok di atas sofa panjang, berusaha membaca buku PR mate­matikaku. Ali yang sedang tenggelam dengan kamusnya langsung tertawa, memegangi perut. Jelas sekali dia hanya mengarang.

Wajahku masam, terlipat, hendak melempar Ali dengan sembarang buku, tapi demi melihat wajah Seli yang kecewa berat di sebelahku, aku jadi batal marah pada Ali. Seperti­nya Seli ingin sekali aku bisa membaca buku ini, agar kami punya jalan keluar, bisa pulang ke kota kami.

”Maaf, Sel, tidak terjadi apa­apa.” Aku mengangkat bahu. Seli menghela napas perlahan.

Setengah jam lagi berlalu, kali ini aku melakukan apa pun agar buku itu bisa dibaca—termasuk hal­hal tidak masuk akal seperti memejamkan mata lantas berseru, ”Muncullah!” atau me­lotot menatap bukunya, kemudian membaca mantra, ”Wahai tulisan yang tersembunyi, keluarlah. Keluarlah!” Aku dan Seli diam sejenak, menunggu apa yang akan terjadi, tapi tetap saja lengang, tidak terjadi apa­apa. Kami tertawa— menertawakan kebodohan kami. Hingga kami mengantuk.

”Kalian duluan.” Ali belum mau tidur, masih asyik dengan kamusnya.

Aku dan Seli menaiki anak tangga. Nyala api di perapian mulai padam.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊