menu

Bumi Bab 36

Mode Malam
Bab 36
PEMANDANGAN dari kapsul kereta saat menghilir di sungai besar itu menakjubkan.

Hamparan pasir sejauh beberapa kilometer kemudian diganti­kan dinding sungai yang terjal dan tinggi dengan satu­dua air terjun yang tumpah ke sungai, berdebum indah, membuat kapsul ter­siram percik air. Kami melewati butiran air di atas kapsul yang membentuk pelangi. Aku dan Seli berdiri di samping jendela yang kacanya sudah pecah, menatap sekitar tanpa ber­kedip.

Burung­burung melintasi permukaan sungai, melenguh saling memanggil. Beberapa hewan liar terlihat berlarian di antara semak belukar atau di atas bebatuan besar. Mungkin itu kijang, mungkin juga kuda, aku tidak tahu pasti. Hutan di dunia ini lebih menakjubkan, sekalipun dibandingkan dengan imajinasi hutan di film yang pernah kami tonton.

Dinding sungai yang terjal berganti lagi dengan pohon bakau yang tumbuh rapat di tepian sungai. Riuh rendah suara monyet berlarian di salah satu bagiannya saat kami lewat. Aku menatap puluhan monyet berukuran besar itu, mungkin lebih mirip kingkong. Puluhan ”kingkong” berseru­seru melihat kami lewat perlahan. Itu bukan pemandangan yang menenteramkan hati.

”Setidaknya mereka tidak bisa melompat ke dalam air.” Ali nyengir, ikut memperhatikan.

”Bagaimana kalau mereka bisa berenang?”

”Monyet tidak bisa berenang, Seli. Mereka takut air, kecuali yang dilatih di kebun binatang.” Ali sudah seperti guru biologi, menjelaskan.

”Bagaimana kalau ada binatang buas di dalam sungai?” Seli berkata

pelan.

Aku menatap Seli. ”Jangan berpikir yang aneh­aneh deh, Sel...” 

”Lho, bisa saja kan, Ra? Buaya misalnya? Atau ular sungai sebesar kereta? Ini kan di dunia aneh, boleh jadi malah ada naga? Tiba­tiba muncul menerkam kapsul.” Seli tidak mengerti tatapanku, malah meneruskan kecemasannya—dan dia jadi cemas sendiri.

Aku menatap manyun Seli yang terdiam.

Tetapi setidaknya sejauh ini kami tidak menemukan hewan buas. Yang ada malah ikan terbang yang lompat tinggi di sekitar kapsul, atau mungkin sejenis lumba­lumba. Mereka bergerombol mengikuti desing kapsul yang terus meluncur di atas permukaan sungai, menuju ke hilir. Kapsul tidak bisa bergerak cepat di atas air.

Pohon bakau digantikan hamparan pasir putih.

Sementara di atas kepala kami terlihat menjulang tinggi satu­dua tiang besar dengan bangunan berbentuk balon di ujungnya.

”Kita melewati pinggiran kota, memang ada beberapa rumah di sini,” Ilo menjelaskan.

Dari bawah, terlihat sekali betapa tingginya tiang­tiang rumah itu— jauh di atas kepala kami—tiang besar dari bahan baja stainless dengan diameter tidak kurang dari lima meter. Aku sekarang mengerti kenapa penduduk kota ini mendirikan rumah di tiang tinggi atau berada di dalam tanah sekalian. Tidak ada yang mau bertetangga dengan ”kingkong” tadi.

”Bagaimana penduduk tiba di atas rumahnya jika lorong berpindah tidak boleh digunakan?” Ali bertanya, menyikutku agar menerjemahkannya kepada Ilo.

”Kami menggunakan cara konvensional, lift,” Ilo menjawab dengan senang hati. ”Dalam situasi darurat seperti ini, biasanya Komite Kota juga menyediakan angkutan terbang ke setiap rumah dari Stasiun Sentral di permukaan. Atau kamu bisa me­milih tinggal di kota bawah tanah, lebih banyak penduduk yang memiliki rumah di bawah sana, para pekerja, petugas kota. Di bawah fasilitas lebih lengkap, pusat perbelanjaan, hiburan, hotel mewah, apa pun yang dibutuhkan seluruh kota. Sebenarnya peradaban Kota Tishri ada di dalam tanah. Hanya orang kaya yang memiliki Rumah Bulan di atas permukaan.” 

Aku dan Seli mendongak, menatap bangunan berbentuk balon yang semakin banyak.

”Itu berarti Ilo termasuk keluarga kaya,” Ali berbisik. ”Lantas kenapa?” Aku menatap Ali, tidak mengerti.

”Ya tidak apa­apa. Kan Ilo sendiri yang mengucapkan kalimat itu.” Ali mengangkat bahu, merasa tidak berdosa dengan tingkah nyi­nyirnya.

Aku memilih membiarkan si genius di sebelahku. Kembali asyik menatap pemandangan.

Kapsul yang kami naiki terus menghilir. Tiang­tiang tinggi itu semakin berkurang, tertinggal jauh di belakang. Tepian sungai kembali dipenuhi hamparan pasir, dengan pohon kelapa tumbuh rapat. Pohonnya tinggi, pelepah daunnya hijau, buahnya besar­besar. Jika melihat vegetasi di tepi sungai, sepertinya kami sudah semakin dekat dengan teluk kota.

”Kita tidak jauh, lagi anak­anak,” Ilo di atas bangku kemudi memberitahu. ”Dan kabar baiknya, aku baru saja menerima kabar dari Vey dan Ou, mereka sudah tiba di rumah peristirahat­an.”

Kami ikut senang mendengar kabar itu.

Matahari siap tenggelam di kaki barat saat kapsul kereta akhirnya tiba di muara sungai, di laut lepas. Ilo memutar ke­mudi. Kapsul berbelok ke kiri, bergerak di sepanjang tepi pantai. Lebih banyak lagi pohon kelapa, juga hamparan pasir sejauh mata memandang.

Aku keluar dari kapsul, menatap tanpa berkedip. Aku belum pernah menyaksikan pantai sebersih dan seindah ini, lengkap dengan sunset­nya.

Seli di sebelahku juga memperhatikan lamat­lamat matahari tenggelam.

”Indah sekali, bukan?” aku berkata pelan.

Seli hanya diam, masih mematung menatap lurus. Setelah be­berapa detik saat seluruh matahari hilang ditelan lautan, me­nyisakan semburat jingga, Seli baru mengembuskan napas perlahan. 

”Indah sekali, bukan?” aku mengulang kalimatku.

Seli menoleh, mengangguk. ”Aku selalu suka menatap matahari tenggelam, Ra. Selalu membuat hatiku hangat, damai. Sunset tadi indah sekali. Kata Mama, waktu aku masih kecil, setiap kali diajak ke pantai, saat sunset tiba, maka aku akan berhenti dari seluruh permainan, juga kalau sedang menangis, diam seketika. Aku akan menatap sunset sendirian, tidak bisa ditegur, tidak bisa diajak bicara hingga seluruh matahari hilang. Aku suka sekali sunset.”

”Itu karena kamu anggota Klan Matahari, Seli,” Ali men­celetuk. ”Apa hubungannya?” Aku menatap Ali. Si genius ini kadang sok

tahu sekali.

”Jelas, kan? Karena Seli itu dari Klan Matahari, jadi dia me­nyukai matahari.”

”Aku juga menyukai sunset.” Aku menggeleng, tidak sepen­dapat dengan Ali. ”Teman­teman di sekolah juga banyak yang menyukai sunset, tidak otomatis mereka dari Klan Matahari, kan?”

Ali menggaruk kepala.

”Dan sebaliknya, kalau kamu mau bilang orang­orang yang menyukai purnama otomatis adalah anggota Klan Bulan, maka itu berarti manusia serigala di film­film tidak masuk akal itu termasuk Klan Bulan. Makhluk jadi­jadian. Padahal tidak ada manusia serigala di dunia ini, bukan?”

Ali terdiam, tidak bisa membantah kalimatku.

Seli menahan tawa. ”Kalian berdua lama­lama cocok.” ”Cocok apanya?” Aku melotot ke arah Seli.

”Cocok saja. Kalian kan selalu bertengkar. Di sekolah bertengkar, di rumah bertengkar, di kota kita bertengkar, juga di dunia ini bertengkar. Itu bisa dua hal, musuh besar atau me­mang cocok dua­duanya.” Seli tertawa. 

Enak saja Seli bilang begitu. Aku melompat hendak menutup mulut Seli, menyuruhnya diam. Dalam situasi tidak jelas, di dunia aneh pula, enak saja Seli menggodaku.

”Anak­anak, kita sudah sampai,” Ilo memotong gerakan tangan­ku. Aku menoleh, gerakan tanganku terhenti.

Ilo tersenyum, menunjuk ke depan.

Aku ternyata keliru. Sejak tadi, saat Av dan Ilo berbicara tentang ”rumah peristirahatan”, aku pikir itu juga akan berbentuk bangun­an bulat di atas tiang, dan kami harus naik lift menuju atasnya. Ternyata tidak. Rumah itu persis seperti rumah ke­banyakan di kota kami, meskipun di sekelilingnya terdapat pagar tinggi.

Itu rumah yang indah, seperti vila tepi pantai di kota kami. Dua lantai, seluruh bangunan terbuat dari kayu, semipanggung. Lampu teras luarnya menyala terang, juga lampu­lampu kecil di jalan setapak. Ada banyak pot kembang di halaman, juga taman buatan yang indah. Di halaman, di pasir pantai, terdapat kanopi lebar dengan beberapa bangku rotan. Ini sesuai namanya, rumah peristirahatan, sama sekali bukan Rumah Bulan.

Ilo mengarahkan kapsul kereta perlahan merapat di dermaga kayu menjorok ke laut, berhenti sempurna di sisi dermaga, mem­buka pintu kapsul, lantas mematikan tuas kemudi manual.

”Ayo, anak­anak.” Ilo turun dari bangku.

Kami turun dari kapsul. Ilo sempat mengikat kapsul dengan tali di dermaga kayu agar kapsul tidak dibawa ombak. Kami berjalan beriringan di atas dermaga, menuju jalan setapak yang di kiri­kanannya tersusun karang laut dan pot bunga.

Tiba di anak tangga, Ilo mendorong pintu.

Vey sudah menunggu kami sejak tadi. Dia lang­sung berseru melihat siapa yang datang. Vey melompat turun dari kursi ruang depan, memeluk Ilo erat. Wajah cemasnya me­mudar dengan cepat, digantikan tawa pelan yang renyah. ”Syukur­lah kalian baik­baik saja.” 

Kami bertiga berdiri di bawah daun pintu, memperhatikan.

”Kalian tidak apa­apa, anak­anak?” Vey melihat kami, melepas pe­luk­an, menatap kami bergantian. ”Aduh, rambut kalian be­rantak­an sekali, wajah kalian juga kotor. Kalian pasti melewati hari yang sulit.”

”Bukan hanya sulit, Vey, kamu tidak akan mudah percaya apa yang baru saja mereka lalui. Tapi mereka baik­baik saja. Kamu tidak perlu cemas.” Ilo tersenyum.

Vey memegang tanganku dan Seli. ”Syukurlah. Aku sudah cemas sekali sejak mendengar kabar kalian tadi siang. Ayo, mari kutunjukkan kamar kalian, ada beberapa kamar kosong di vila ini. Kalian pasti suka. Kalian bisa segera mandi, berganti pakai­an, agar lebih segar.”

Aku, Seli, dan Ali mengikuti langkah Vey.

Kami masuk ke ruang tengah vila. Perapian besar menyala di pojok ruangan, membuat suasana terasa hangat. Dengan segala kekacauan, aku sampai tidak menyadari bahwa di dunia ini suhu udaranya terasa lebih dingin dibanding kota kami. Beberapa sofa panjang diletakkan di depan perapian, juga meja­meja kecil dipenuhi buku, vas bunga, dan benda­benda lain. Lampu kristal besar tergantung di langit­langit, menyala lembut. Benda­benda di rumah ini tidak terlalu aneh, masih bisa dikenali.

Vey menaiki anak tangga di samping perapian. Kami me­nuju lantai dua. Juga tidak ada lorong­lorong yang meng­hu­bung­kan ruangan­ ruangan di rumah ini. Aku ber­gumam, hanya selasar biasa. Kami akhirnya tiba di dua kamar ber­dekat­an. Vey mem­buka salah satu pintunya, terse­nyum, me­nyuruh kami masuk.

Aku menatap sekeliling kamar, nyaman dan bersih. Seli mengembuskan napas. Aku tahu maksud helaan napas Seli. Dia lega karena kamar ini tidak seaneh kamar kami di Rumah Bulan itu. Tempat tidur besar diletakkan di lantai—tidak me­nempel di dinding dan bisa naik­turun. Lemari berbentuk ta­bung. Bentuk meja, kursi, dan cermin besar tidak terlalu aneh. 

”Ada dua kamar dengan pintu penghubung.” Vey mendorong pintu yang menuju kamar di sebelah. ”Kamar yang satu ini lebih besar, bisa untuk Seli dan Ra, yang satunya lebih kecil untuk Ali. Kalian bisa menggunakan dua kamar ini. Pakaian bersih ada di lemari, juga ada di kamar mandi, bisa kalian gunakan sebebas­nya. Jangan malu­malu, anggap saja rumah sendiri.”

Aku mengangguk, bilang terima kasih.

”Jika kalian sudah siap, segera turun. Meja makan ada di seberang perapian. Dan jangan lama­lama, nanti makan malam­nya telanjur dingin.” Vey tersenyum, melangkah menuju pintu, meninggalkan kami bertiga.

Saat pintu ditutup dari luar, Ali sudah melempar sembarang ranselnya ke lantai, langsung meloncat ke atas tempat tidur empuk, meluruskan tangan dan kakinya.

Aku melotot melihat kelakuan si genius itu.

”Ini nyaman sekali, Ra,” Ali berseru pelan, malah santai tiduran. ”Setelah seharian dikejar­kejar rombongan sirkus itu. Mual dan muntah. Nikmat sekali tiduran sebentar.”

”Kamarmu yang satunya, Ali! Ini kamar kami.” Aku me­nyuruh­nya pindah.

”Apa bedanya sih, Ra? Kan sama saja.” Ali tidak mau beranjak dari tempat tidur. ”Kalian saja yang di kamar itu.”

”Pindah, Ali, atau aku suruh Seli menyetrummu.”

Seli yang sedang memperhatikan seluruh kamar tertawa mendengar kalimat mengancamku.

”Kenapa sih kamu harus galak sekali, Ra? Tidak di kota kita, tidak di dunia ini, masih saja galak. Cerewet.” Ali bersungut­sungut turun, mengambil tas ranselnya di lantai.

”Karena kamu meletakkan alat perekam di kamarku,” aku berseru ketus. 

”Aku kan sudah minta maaf, Ra. Dan itu hanya perekam biasa. Aku tidak mengintip yang aneh­aneh.” Ali melangkah me­lewati pintu penghubung ke kamar sebelah, mengomel pelan. ”Dasar pendendam.”

Aku hampir saja menimpuk si biang kerok itu dengan bantal di atas tempat tidur, tapi batal karena Seli sudah menyikutku, bilang dia mau mandi duluan.

Pintu penghubung kamar ditutup Ali.

***

Aku mulai terbiasa mandi dengan semburan udara—termasuk membersihkan gigi dengan sikat gigi udara. Kali ini aku mandi lebih lama, menikmatinya. Aku juga memilih pakaian bersih yang akan kukenakan di lemari kamar. Seli tertawa kecil melihatku berkali­kali bertanya apakah yang kupilih bagus atau tidak. Seli sudah rapi sejak tadi.

”Cocok kok, Ra.” Seli mengangguk.

Aku menatap Seli lewat cermin, memastikan dia tidak sedang menertawakanku.

”Kata mamaku, kita hanya perlu sedikit percaya diri, maka cocok sudahlah pakaian yang kita kenakan,” Seli menambahkan.

Aku mematut di depan cermin, ikut meng­angguk. Aku jadi tahu kenapa Seli selalu modis ke mana­mana, karena mamanya punya nasihat sebagus itu.

Ali mengetuk pintu penghubung, masuk ke kamar. Dia sudah berganti pakaian bersih. Wajahnya segar, tidak tersisa bekas mual dan pusingnya tadi siang. Rambutnya tersisir rapi.

”Bagaimana kamu melakukannya?” Aku menunjuk rambut Ali.

Bukankah rambutnya susah sekali dibuat rapi?

”Di tabung kamar mandi ternyata ada alatnya, Ra.” ”Kamu bisa membuat rambutmu menjadi keriting atau lurus seketika.” Ali cengengesan. 

”Oh ya?” Seli tertarik.

”Coba saja, alat yang seperti pengering rambut. Kamu berdiri di bawahnya, tekan tombol di dinding, bahasanya sih aku tidak paham, tapi aku bisa menebak­nebaknya. Lagian tidak masalah keliru model rambut, bisa diganti dengan cepat.”

”Wah, aku kira itu alat apa tadi. Tidak berani kusentuh.” Ali tertawa. ”Kamu harus berani mencoba, Sel, biar tahu.”

Aku juga memperhatikan alat itu, di sebelah wastafel. Tapi sama seperti Seli, aku tidak berani memakainya. Siapa yang menjamin tidak terjadi hal buruk? Bagaimana kalau ternyata alat itu mencukur seluruh rambut? Tapi sepertinya Ali tidak pernah khawatir apa pun saat mencoba hal­hal baru—termasuk risiko meledak sekalipun.

Kami beriringan menuju ruang makan, menuruni anak tangga.

Vey menyambut kami. Aku selalu suka melihat Vey di meja ma­kan, mirip Mama. Vey akan ikut berdiri, menyapa riang, me­nyuruh duduk, lantas sibuk mengambilkan makanan. Dia baru duduk lagi setelah piring kami terisi semua dan gelas air minum penuh.

”Ayo dimakan, anak­anak, jangan malu­malu. Semua masakan dibuat spesial untuk kalian.” Vey duduk kembali, tersenyum lebar.

Aku mengangguk, balas tersenyum sopan. Makanan di atas piring tetap sama anehnya dengan sarapan tadi pagi—malah ada bongkahan besar di dalam bubur berwarna hitam. Aku ragu­ragu menyendoknya, hanya seujung sendok, mencoba. Aku ter­senyum lebih lebar, ternyata sama sedapnya seperti sarapan tadi pagi—bahkan lebih lezat.

”Enak, Ra?” Seli di sebelahku bertanya pelan.

Aku mengangguk, balas berbisik, ”Jangan perhatikan bentuk­nya, Sel. Dimakan saja.”

Aku melirik Ali. Dia sudah menyuap dengan semangat, mulut­nya penuh. Meja makan lengang sebentar. Kami sibuk dengan piring masing­ masing yang berbentuk sepatu. 

”Kenapa Ou tidak ikut makan malam?” Aku teringat se­suatu.

”Ou sudah tidur sejak tadi,” Vey yang menjawab. ”Dia lelah. Setelah makan tadi sore, dia minta tidur. Kami berjam­jam ter­tahan di lorong kereta. Kapsul yang kami naiki berhenti lama. Juga kapsul kereta lainnya, membuat antrean panjang di setiap lorong. Butuh empat jam lebih hingga kami berhasil menuju stasiun permukaan.

”Sebenarnya apa yang terjadi, Ilo? Seluruh kota panik. Ke­ribut­an terjadi di mana­mana. Dan pemeriksaan dilakukan di setiap tempat. Aku tidak sempat memperhatikan banyak hal. Aku harus memastikan Ou baik­baik saja selama perjalanan. Kasihan, ada banyak anak yang lebih kecil daripada Ou yang men­jerit ketakut­an, menangis. Semua rusuh. Semua orang be­rebut tidak mau tertib. Orang­orang di kapsul berkata bahwa Komite Kota di­bubar­kan. Ada yang tewas di Tower Sentral, penguasa se­luruh negeri telah beralih. Apa benar demikian?” Vey ber­tanya.

Lima belas menit ke depan, sambil menghabiskan makanan di piring, Ilo dan Vey berbicara tentang situasi seluruh kota. Ilo menjelaskan seluruh kejadian kepada Vey, mulai dari Bagian Terlarang perpustakaan, berita di televisi, pertemuan dengan Av di perpustakaan, hingga kami dikejar Pasukan Bayangan.

Aku memperhatikan percakapan Ilo dan Vey.

Ilo sekarang menjelaskan bahwa kami tidak tersesat dari lo­rong berpindah.

”Mereka dari dunia lain?” Suara Vey tercekat, menatap kami bertiga.

Ilo mengangguk. ”Benar, mereka dari dunia lain. Tempat yang amat berbeda dari kita. Aku tidak bisa menjelaskan sebaik Av. Bukankah  sudah kubilang tadi, kamu tidak akan mudah percaya apa yang telah mereka lalui, Vey.”

”Tapi, mereka persis seperti anak­anak di sekitar kita.” Vey mengangkat tangannya. 

”Memang. Mereka sama seperti anak­anak yang sopan, baik, dan riang lainnya. Tidak ada yang berbeda soal itu. Tapi mereka bukan dari dunia kita. Mereka tidak tersesat oleh kesalahan teknis lorong berpindah. Orangtua mereka ada di dunia lain. Rumah dan sekolah mereka juga ada di dunia lain. Av sendiri yang memastikannya.”

Vey terdiam, menatap kami tidak berkedip—persis seperti Mama kalau sedang histeris, mematung tidak percaya beberapa detik.

”Kamu bisa menunjukkan sesuatu, Seli? Agar istriku percaya.” Ilo menoleh ke arah Seli.

Aku menerjemahkannya kepada Seli. Kami sudah hampir selesai makan.

”Sesuatu apa?” Seli bertanya padaku, tidak mengerti.

”Mungkin seperti menggerakkan benda­benda.” Aku menebak maksud Ilo.

Seli mengangguk. Dia meletakkan sendoknya. Diam sejenak, berkonsentrasi, lantas mengangkat tangan, mengarahkannya ke gelas kosong milik Ali di seberang meja. Gelas itu perlahan­lahan terangkat ke udara.

”Astaga!” Vey berseru. ”Kamu membuatnya terbang? Bagai­mana kamu melakukan­nya?”

”Dia dari dunia lain, Vey. Memindahkan benda­benda dari jarak jauh hanya salah satu kekuatan yang dia miliki. Seli juga bisa mengeluarkan petir dari tangannya. Tapi itu berbahaya jika dicoba di dalam rumah. Kamu bisa menunjukkan yang lainnya, Ra?” Ilo sekarang menoleh kepadaku.

Seli mendaratkan kembali gelas di atas meja.

Aku mengangguk, meletakkan sendok makan. Baiklah, aku akan memperlihatkan kepada tuan rumah sesuatu yang justru selama ini aku 

sembunyikan dari siapa pun, termasuk dari Mama dan Papa. Aku mengangkat tangan, menutup wajah de­ngan telapak tangan.

Seluruh tubuhku hilang.

Vey hampir saja jatuh dari kursinya karena kaget, juga Ilo dan Seli. Meskipun mereka tahu aku bisa menghilang, mereka belum pernah menyaksikannya. Hanya Ali yang melihat selintas lalu, kembali menyendok makanan, lebih tertarik menghabiskan makanannya.

Aku menurunkan tanganku, kembali terlihat.

”Kamu bisa menghilang, Ra? Aduh, itu tadi sungguhan meng­hilang?” Vey berseru tidak percaya, memegang dahinya, mencubit lengan. ”Ini tidak bisa dipercaya.”

Aku tersenyum kaku melihat Vey yang heboh. Mungkin Mama akan lebih rusuh dibanding Vey jika tahu aku bisa meng­hilang.

”Ra tidak hanya bisa menghilang, dia juga bisa memukul sesuatu dengan keras, bisa melompat jauh, dan entah apa lagi kekuatan yang belum diketahuinya. Dia dari dunia kita, tapi besar di dunia lain,” Ilo menambahkan. ”Kamu tahu, ternyata itu benar, Vey. Dunia ini tidak sesederhana yang terlihat. Itu bukan imaji­nasi­ku saja karena terlalu serius bekerja mendesain pakaian. Ada dunia lain, tempat anak­anak ini tinggal. Kamu berutang maaf karena dulu sempat menertawakanku.” Ilo ter­senyum lebar.

Vey menghela napas panjang, memegang ujung meja. Wajahnya masih terkesima.

”Tapi ini masih sulit dipercaya.” Vey menggeleng.

Ilo meneruskan penjelasan. ”Tidak apa. Cepat atau lambat kamu akan terbiasa. Nah, sekarang kita tiba di kabar buruknya. Tamus, orang yang menyerbu Tower Sentral, yang mengambil alih kekuasaan dari Komite Kota, tahu bahwa Raib memiliki kekuatan.

”Tamus bahkan hendak menjemput paksa Ra di dunianya, yang membuat anak­anak ini tersesat di kamar Ou. Masalah ini sudah berkembang serius bahkan sebelum pertikaian politik terjadi. Menurut 

penjelasan Av, sebelum Tamus menguasai seluruh negeri, anak­anak harus tetap bersembunyi hingga situasi lebih jelas. Kita tidak tahu apa hubungan antara Tamus yang bermaksud menjemput Ra dan serangan di Tower Sentral. Anak­anak harus disembunyikan. Sekali Tamus tahu Ra berada di dunia ini, dia akan mengirim Pasukan Bayangan mengejarnya. Itulah sebabnya kami dikejar di jalur kereta bawah tanah. Kami kabur saat pemeriksaan di Stasiun Sentral. Itulah yang terjadi sepanjang hari setelah kita mengantar Ou ke sekolah.”

Meja makan lengang sejenak setelah penjelasan Ilo. Vey terdiam, menghela napas prihatin.

”Aku minta maaf telah merepotkan kalian,” aku berkata pelan. Semua orang menoleh padaku.

”Seharusnya aku tidak melibatkan siapa pun dalam kejadian ini.” Aku menunduk.

”Kamu tidak boleh berkata begitu, Ra.” Ilo menggeleng. ”Pasti ada alasan baiknya kenapa kalian muncul di rumah kami.”

”Kamu tidak perlu minta maaf. Kalian tidak merepotkan kami.” Vey ikut menggeleng. ”Kami yang justru minta maaf karena tidak bisa membantu kalian pulang ke dunia kalian. Aduh, orangtua kalian pasti cemas sekali.”

Aku mengangkat kepala, balas menatap Ilo dan Vey. Keluarga ini amat menyenangkan. Av benar, kami beruntung sekali ter­sesat di kamar Ou kemarin malam. Masalah kami jauh lebih mudah dengan adanya Ilo dan Vey.

”Hingga ada perkembangan lebih lanjut, kalian bertiga akan tinggal di rumah peristirahatan ini,” Ilo berkata serius. ”Rumah ini aman, tidak ada penduduk kota yang mau memiliki rumah di tepi pantai. Jangan cemaskan hewan liar. Av sering berkunjung ke sini, berlibur. Dia sendiri yang menyegel pagar. Av memiliki kekuatan untuk hal­hal seperti itu. Dia bukan sekadar pustaka­wan berusia lanjut. Kami juga akan tinggal di sini 

hingga situasi membaik. Sekolah Ou diliburkan, seluruh kota masih rusuh.”

Suara api membakar kayu di perapian terdengar bekeretak. Udara di sekitar meja makan terasa hangat.

”Bagaimana dengan Ily?” Aku teringat sesuatu.

”Ily belum menghubungi lagi,” Vey yang menjawab.

”Ily baik­baik saja,” Ilo menambahkan, berkata yakin. ”Ily berada di pusat kendali stasiun bawah tanah. Dengan seluruh peralatan canggih di sekitarnya, itu lebih dari rumah yang nya­man bagi Ily. Dia menyukai gadget dan sepertinya gadget juga menyukainya. Jika mereka tahu, Pasukan Bayangan seharus­nya cemas karena menugaskan Ily di bagian itu. Mereka tidak me­nyadari, Ily bisa keluar­masuk ke sistem mana pun se­mau dia tanpa jejak, termasuk me­restart sistem kereta bawah tanah.”

Aku tahu suara Ilo sama sekali tidak yakin. Tapi Ilo ber­tang­gung jawab membuat kami semua tenang, jadi dia memilih optimis.

Ali menyikut lenganku, menyuruhku menerjemahkan kalimat Ilo dan Vey barusan. ”Akan kujelaskan nanti,” aku berbisik, tapi Ali masih menyikut lenganku, penasaran ingin tahu. Kapan si genius ini berhenti menggangguku? Coba lihat Seli, dia santai kembali menyendok sisa makanan di piring, tidak mendesak setiap saat. Nanti­nanti juga akan kujelaskan.

”Seharusnya ini menjadi perjalanan menyenangkan bagi kalian.” Ilo mengembuskan napas, berkata lagi. ”Tadi malam aku bangga sekali memperlihatkan seluruh Kota Tishri kepada kalian. Kota paling besar di seluruh negeri. Malam ini, aku bahkan tidak tahu apakah kota ini akan tetap sama dengan se­belumnya atau tenggelam dalam kerusuhan. Seharusnya ini malam Karnaval Festival Tahunan, acara yang ditunggu­ tunggu dan disaksikan seluruh negeri—bahkan aku mengira kalian sengaja datang untuk festival itu. Tetapi semua orang justru me­milih berada di rumah, mencari tempat aman.”

Vey memegang lengan Ilo. ”Setidaknya kita baik­baik saja, Ilo.” 

Ilo menoleh.

”Kita semua berkumpul. Makan malam yang hangat. Semoga besok ada kabar baik,” Vey melanjutkan kalimatnya.

Ilo mengangguk, tersenyum. ”Iya, kamu benar. Kita baik­baik saja dan berkumpul. Lihatlah, kita bahkan punya tiga orang anak baru di rumah ini, cantik­cantik dan tampan. Dan makan malam spesial ini, terima kasih telah membuat masakan terlezat di seluruh dunia, eh, maksudku terlezat di seluruh empat dunia yang ada, Vey.”

Vey tertawa. ”Dasar gombal.”

Aku ikut tertawa menyaksikan Ilo dan Vey bergurau. Aku ter­ingat Mama dan Papa yang sering saling goda di meja ma­kan.

”Mereka bicara apa lagi?” Ali menyikutku lagi, minta diter­jemahkan.

Dasar si pengganggu suasana. Aku melotot kepada Ali.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊