menu

Bumi Bab 35

Mode Malam
Bab 35
SATU menit terakhir, kapsul kereta yang dikemudikan Ilo bergerak pelan di lorong. Ilo sengaja memperlambat kapsul, mengulur waktu, berpikir mencari jalan keluar. Kami terjepit. Setiap kali kapsul melewati jarak tertentu, pintu lorong di bela­kang kami menutup otomatis, memaksa kapsul hanya bisa bergerak maju, tanpa bisa berbelok atau berputar arah.

”Apa yang akan kita lakukan?” aku bertanya pada Ilo.

Ilo menggeleng. ”Kita sepertinya menuju jalan buntu, anak­anak.” Aku mengembuskan napas, tegang, menoleh ke Seli di se­belah.

Wajah pucatnya mulai pulih. Seli menyeka rambut yang terkena pecahan kaca. Apa yang harus kami lakukan? Ini se­makin rumit. Di lapangan rumput gedung perpustakaan telah menunggu seribu anggota Pasukan Bayangan.

Ali, si genius yang biasanya punya ide cemerlang, hanya ter­duduk di bangku dengan wajah kusut. Dia melepas pelukan di tiang kapsul, baru saja muntah. Berada di kapsul yang ber­gerak cepat, melakukan manuver naik, turun, kiri, kanan mem­buat perut­nya mual dan kepalanya pusing.

”Apakah kita akan melawan, Ra?” Seli berbisik.

Aku menatap telapak tanganku, yang perlahan berubah warna. Cepat atau lambat kami pasti ketahuan juga berada di dunia ini. Kami tidak bisa lari terus­menerus. Jika pasukan itu tidak mem­berikan pilihan, aku akan melawan. Sarung tangan yang ku­kena­kan semakin gelap pekat, laksana ada awan hitam berpilin di sana. Sepertinya sarung tangan ini menyesuaikan dengan suasana hati pemakainya.

Kapsul yang dikemudikan Ilo semakin dekat dengan peron perpustakaan, terus meluncur turun.

”Kamu akan menyerang mereka, Ra? Melawan?” Seli bertanya lagi, melihat sarung tanganku. 

”Kita akan membela diri, Sel. Bukan melawan.” Aku meng­geleng. Seli menelan ludah, terdiam.

Aku menunduk, menghela napas. ”Gara­gara aku, kamu jadi ikut­ ikutan ke dunia ini, Sel. Membuat orangtuamu cemas. Bah­kan kamu batal menghadiri Klub Menulis Mr. Theo. Maafkan aku, Sel.”

Seli beranjak ke sebelahku, memegang lenganku. ”Kamu teman baikku, Ra. Aku tidak akan pernah keberatan dengan semua ini. Kamu tidak perlu minta maaf.”

Kami bertatapan sejenak. Seli tersenyum lebar, mengangkat kedua tangan, memperlihatkannya padaku. Sarung tangan Seli berubah menjadi putih terang, bersinar.

”Aku akan selalu bersamamu, Ra.” Seli tersenyum. ”Aku akan membela teman baikku.”

Aku balas tersenyum. ”Terima kasih, Sel.”

Kapsul yang kami naiki sudah di lorong terakhir. Tidak lama lagi kami akan mendarat di tengah seribu anggota Pasukan Bayang­an. Aku tidak tahu apakah Tamus ada di sana. Yang pasti, tanpa Tamus, seribu orang itu jelas lebih banyak dibanding delapan orang yang datang ke aula sekolah kami.

Ali, yang masih mabuk kapsul, beranjak ke sebelah kami, menyeka pipinya yang tersisa bekas muntah. ”Kalian ber­dua sepertinya sudah berpikir tidak rasional.”

Aku dan Seli menoleh.

”Dua lawan seribu, remaja usia lima belas lawan pasukan dewasa, tidak akan ada kesempatan. Sama sekali tidak masuk akal. Sehebat apa pun sarung tangan kalian.”

Aku dan Seli terdiam. 

Ali nyengir. ”Baiklah, mari kita buat semuanya semakin tidak masuk akal. Tiga lawan seribu, aku akan membantu. Kalian butuh orang genius untuk menyusun strategi, bukan?”

Aku dan Seli masih menatap Ali. Si genius ini bicara apa?

”Kalian tidak akan menang jika hanya langsung menyerang. Dua lawan seribu, dengan cepat jaring perak mereka menangkap kalian. Kita butuh rencana.” Ali diam sejenak.

”Inilah rencananya, detik pertama pintu kapsul terbuka, kamu hilangkan seluruh cahaya sejauh mungkin dengan sarung tangan­mu, Ra. Hanya kamu yang bisa melihat dalam kegelapan. Saat mereka panik, bingung, kamu segera lari ke salah satu air terjun di sisi lapangan. Hantam dinding sungainya agar air mengalir ke lapangan. Itu air deras. Seluruh lapangan rumput akan banjir seketika. Setelah itu, segera kembali ke kapsul ini atau cari tempat kering. Itu harus selesai dalam waktu empat puluh lima detik, karena kegelapan yang kamu hasilkan tidak bertahan lama.” Ali berhenti sebentar, meringis—dia masih pusing karena mabuk.

”Nah, saat cahaya kembali memenuhi lapangan yang banjir, giliranmu, Sel, kirimkan petir yang paling dahsyat. Sekali pukul, pastikan itu yang paling kuat. Kalian tidak akan bisa melawan mereka satu per satu. Kalian pasti kalah dengan cepat. Hanya de­ngan cara ini kalian bisa mengambil keuntungan. Saat lapang­an dipenuhi air banjir, seluruh anggota pasukan itu terkena genangan air. Listrik merambat di air, pelajaran fisika SMA kita, ingat? Meskipun harus kuakui, aku menguasai pelajaran fisika itu sejak kelas empat SD. Hantaman petir Seli akan membuat mereka tersetrum sekaligus. Kita lihat saja seberapa banyak di antara mereka yang tumbang. Sisanya baru diserang dengan cara biasa. Kalian paham?”

Aku menatap Ali yang lagi­lagi meringis me­nahan mual. ”Kapsul sialan ini membuatku pusing, Ra,” Ali me­ngeluh. ”Aku paham, Ali. Itu sungguh ide genius,” aku memujinya. 

Seli juga mengangguk. Kami mungkin punya kesempatan menang dengan strategi Ali.

”Aku tahu itu genius,” cetus Ali. ”Aku tidak tahan saja  me­mikir­kan kalian jadi bulan­bulanan mereka. Aku tidak akan membiarkan temanku disakiti rombongan sirkus mana pun.”

Aku tersenyum, menyikut lengan Ali. Dia mengaduh, melotot, hendak bilang bahwa dia masih pusing dan mual. Seli tertawa menatap wajah sebal Ali.

”Konsentrasi. Waktu kalian tinggal empat puluh detik, Ra. Kapsul ini segera mendarat,” Ali mengingatkan setelah mem­perbaiki posisi duduknya.

Aku dan Seli mengangguk.

Apa pun yang akan terjadi sebentar lagi, maka terjadilah. Aku menggigit bibir. Dua puluh empat jam lalu hidupku masih normal seperti remaja lainnya. Beraktivitas bersama keluarga, ber­sekolah, dan bermasyarakat dengan baik. Sekarang, aku ber­siap bertempur dengan orang­orang asing di dunia ini. Tapi apa pun itu setidaknya aku bersama dengan teman baikku.

Tetapi ternyata kami tidak jadi bertempur. Belum sekarang.

Pada detik­detik terakhir datang bantuan tidak terduga. Layar televisi di dinding kapsul tiba­tiba menyala—sepertinya ada yang bisa menyalakannya dari jarak jauh, karena semua panel ter­masuk layar televisi padam ketika kendali otomatis dimatikan Ilo.

”Di sini pusat kendali, berbicara dengan kapsul D­210579. Harap segera konfirmasi.”

Wajah seorang pemuda berusia delapan belas tahun terlihat di layar, dengan seragam dan topi kadet.

”Ily!” Demi melihat layar itu, Ilo berseru.

”Pusat kendali berbicara dengan kapsul D­210579. Harap segera konfirmasi.” 

Ilo bergegas menekan salah satu tombol, berseru. ”Di sini kapsul D­ 210579, konfirmasi kepada pusat kendali. Ily, apa yang sedang kamu lakukan di sana?”

”Papa, waktu kita terbatas.” Wajah pemuda yang terlihat di layar tampak tegang. ”Aku berada di pusat kendali kapsul.”

”Ily? Kamu baik­baik saja?” Ilo berseru.

”Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak, Papa.” Wajah pe­muda itu semakin tegang. Dia menoleh ke sana kemari. ”Aku di­tugaskan di pusat pengendali sistem kereta bawah tanah se­lama masa transisi. Seluruh kadet senior di akademi diperintah­kan untuk membantu Pasukan Bayangan dalam masa transisi. Kami tidak bisa menolak,  banyak guru­guru yang ditangkap karena menolak perintah. Papa tahu, aku menyukai sistem sejak dulu.

”Beberapa menit lalu aku berhasil mengonfirmasi bahwa Papa berada di kapsul yang sedang dikejar Pasukan Bayangan. Aku berada di ruang kendali backup. Aku bisa me­restart seluruh sistem kereta bawah tanah. Dengarkan baik­baik, Papa. Seluruh sistem akan restart. Itu berarti seluruh lorong akan terbuka. Semua kapsul dengan kendali otomatis akan berhenti. Papa punya waktu sembilan puluh detik untuk kabur sebelum sistem kembali menyala, dan pintu darurat kembali menutup. Itu cukup untuk mencapai stasiun darurat di permukaan.”

”Ily?” Ilo berseru dengan suara bergetar.

”Segera ke permukaan, Papa. Mama dan Ou baik­baik saja. Mereka sedang berada di salah satu kapsul menuju rumah peristirahatan di teluk, tidak ada yang mengikuti mereka. Dan jangan cemaskan aku, semua baik­baik saja. Sampai ketemu lagi, Pa. Sistem restart sekarang.”

Layar televisi di dinding kapsul padam.

Ilo berseru mencegah sambungan diputus—dia jelas masih ingin bertanya pada anaknya. Tapi tidak ada lagi waktu walau untuk mengeluh sejenak, karena kapsul yang kami naiki persis keluar dari lorong, mengambang turun menuju peron. Dari ke­tinggian lima meter, kami bisa 

menyaksikan seluruh lapangan yang dipenuhi anggota Pasukan Bayangan.

Aku menatap Ilo, apa yang akan dia lakukan? Seli dan Ali menatapku, seolah bertanya Ilo berbicara dengan siapa, dan apa yang me­reka bicarakan dalam situasi genting seperti ini.

Ilo menggigit bibir, mencengkeram tuas kemudi. Persis saat kapsul mendarat di peron, ketika puluhan anggota Pasukan Bayang­an bergerak mengepung kami dengan tombak perak ter­acung, aku bisa melihat di peta layar kemudi, lorong­lorong de­ngan tanda silang kembali terbuka. Seluruh titik merah (kapsul penumpang) di wilayah lain berhenti bergerak. Ily telah me­restart jaringan. Seluruh sistem otomatis kereta bawah tanah mati. Pintu­pintu lorong terbuka. Semua jalur bersih untuk dilalui.

”Pegangan, anak­anak!” Ilo berseru.

Aku berseru menerjemahkan. Seli segera duduk di bangku, ber­pegangan erat­erat. Ali dengan wajah kusut juga bergegas kembali memeluk tiang kapsul di dekatnya.

Bahkan sebelum posisi kami mantap, Ilo sudah menekan tuas kemudi ke depan. Kapsul berdesing kencang, bergetar, lantas seperti bola peluru, melesat naik kembali, masuk cepat ke dalam lorong di atas, disaksikan seribu anggota Pasukan Bayangan yang menatap bingung.

Kami tidak jadi bertempur. Kami kembali kabur.

***

Sesuai yang disampaikan Ily, seluruh pintu lorong terbuka. Ditambah tanpa ada kapsul lain yang bergerak, Ilo bisa meng­ambil jalur terpendek ke titik permukaan terdekat secepat mung­kin.

Ilo menggunakan seluruh kecepatan kapsul dan medan magnetik. Tubuh kami terbanting ke atas. Seli memejamkan mata, berseru tertahan. Entahlah apa yang dilakukan Ali.

Sembilan puluh detik mengebut, kapsul yang kami naiki akhir­nya melambat, berdesing pelan, lantas keluar dari lorong. Cahaya terang 

menerpa jendela. Ilo dengan gesit mendaratkan kapsul di peron. Kami sepertinya sudah mencapai permukaan tanah tepat waktu.

”Kalian baik­baik saja?” Ilo turun dari bangku kemudi. Ali menjawabnya dengan muntah, membuat kotor lantai.

Aku beranjak berdiri. Kakiku sedikit gemetar. Kecepatan kapsul tadi membuatku seperti naik wahana Dunia Fantasi, tapi dengan tingkat tantangan seratus kali lebih ekstrem. Seli juga berdiri dengan berpegangan sandaran kursi. Wajahnya pucat.

”Kita tidak punya waktu banyak. Sistem otomatis akan pulih beberapa detik lagi. Kabar baiknya dengan sistem tadi mati, mereka tidak tahu kita keluar di stasiun darurat yang mana. Mereka harus memeriksa ratusan stasiun satu per satu. Ayo, anak­anak, kita terpaksa meneruskan perjalanan dengan cara konvensional. Jalan kaki.” Ilo mengulurkan tangan, membantu Ali berdiri. Si genius itu meringis, masih memeluk tiang kapsul, kondisinya payah sekali.

Pintu kapsul terbuka.

Aku melangkah keluar lebih dulu. Sekali lagi kami berada di permukaan dunia aneh ini. Stasiun darurat yang ini tidak berada di dalam gua gelap seperti sebelumnya. Sebaliknya, pelataran sta­siun berada di tempat terbuka, di tepi sungai besar. Kakiku yang turun dari peron segera menginjak pasir sungai.

Jika situasinya lebih baik, tidak pusing dan mual habis me­naiki kapsul terbang, ini pemandangan yang hebat. Aku me­langkah meninggalkan bangunan stasiun yang hanya cukup untuk merapat satu kapsul, menatap sekitar. Sungai di depan kami lebarnya hampir  dua ratus meter, tepiannya berpasir putih bersih, terasa lembut di telapak kaki, seperti pasir di pantai. Batu­batu besar bertumpuk di belakang, memisahkan pasir dan vegetasi tumbuhan.

Di depan kami, air sungai mengalir tenang—berarti sungainya dalam. Permukaan sungai terlihat biru, bening, memantulkan cahaya matahari. Aku mendongak. Matahari sudah tergelincir di titik tertingginya, 

sudah berada di sebelah barat. Entahlah se­karang sudah jam berapa, bahkan aku lupa ini hari dan tanggal berapa.

Hutan lebat berada di belakang kami, lengkap dengan pohon­pohon tingginya. Serombongan burung berwarna putih terbang rendah. Suara kelepak dan lengkingannya memenuhi langit­langit sungai. Juga kuak panjang bebek sungai, sayap mereka terentang lebar, melintas di permukaan. Kaki mereka tangkas menyentuh sungai yang tenang. Setelah mual menaiki kapsul terbang, pemandangan di stasiun darurat cukup menghibur kami.

Seli melangkah di belakangku, menutup dahi dengan telapak tangan, silau. Kakinya ikut menyentuh pasir putih, menggerak­gerakkan jari kaki. Sepatu hitam yang kami kenakan seolah menyatu dengan kulit. Kami bisa merasakan lembutnya pasir. Seli mengembuskan napas. Wajahnya yang tadi tegang dan pucat kembali memerah.

Sedangkan Ali dipapah Ilo turun dari kapsul.

”Kamu bisa berjalan sendiri?” Ilo bertanya kepada Ali. Aku menoleh, menerjemahkan kalimat Ilo.

”Aku bisa berjalan sendiri.” Ali menyeka wajahnya. Dia terlihat kusut dan lemas. ”Tapi kita tidak berjalan mendaki lereng lagi, kan?”

Ilo tertawa mendengar terjemahanku. ”Tidak, kita tidak akan mendaki. Aku sengaja keluar di stasiun darurat paling dekat dengan rumah peristirahatan. Rumah itu ada di teluk kota. Tapi tidak dekat, masih dua belas kilometer. Kita berjalan di tepi sungai ini, menghilir hingga teluk.”

”Dua belas kilometer?” Ali menggeleng. Dia malah duduk di hamparan pasir sungai.

Aku melotot, menyuruhnya berdiri. ”Ali, ini bukan saatnya isti­rahat. Pasukan Bayangan bisa muncul kapan saja di peron stasiun di belakang kita.” 

”Aku tidak mau berjalan sejauh dua belas kilometer.” Ali balas melotot. ”Aku manusia biasa, Makhluk Tanah. Dengan mual dan pusing ini, aku tidak akan kuat.”

”Tapi kita harus bergerak segera, Ali,” aku menimpali.

”Iya aku tahu. Rombongan sirkus itu bah­kan sudah mulai mengejar. Tapi kita bisa menggunakan cara lain, bukan jalan kaki. Pakai apalah, menghiliri sungai ini. Pe­rahu misalnya. Pesawat terbang. Roket.”

”Tidak ada perahu di peron ini.” Ilo menggeleng, setelah aku menerjemahkan kalimat Ali. ”Ini stasiun darurat, hanya berfungsi mengeluarkan penumpang ke permukaan. Kita juga tidak bisa menggunakan lorong berpindah, sistem itu dihentikan sementara waktu oleh penguasa baru.”

Ali masih duduk di hamparan pasir, sekarang melepas tas ranselnya. Kalau saja wajahnya tidak terlihat lemas, aku sendiri yang akan menyeretnya berdiri.

”Bagaimana sekarang?” Seli menatapku.

Aku mengangkat bahu. Mungkin Ali harus digendong.

Seekor burung dengan ekor panjang menjuntai terbang me­lintas di permukaan sungai, terlihat anggun.

”Kalau begitu, kita istirahat sejenak.” Ilo meng­angguk, me­nunjuk Ali. ”Semoga setelah beberapa saat, kondisi­nya membaik. Dia jelas tidak bisa berjalan jauh.”



pasir. Aku  mengembuskan  napas,  mengalah,  ikut  duduk  di hampar­an

Seli  menoleh  ke  belakang,  memperhatikan  peron stasiun de­ngan cemas.

Kami berdiam diri beberapa saat. 

”Aku punya usul,” Ali berseru setelah lengang sebentar. ”Kita guna­kan saja kapsul kereta itu. Lemparkan ke sungai, kita jadi­kan perahu.”

Apa? Aku menatapnya.

”Masuk akal, kan?” Ali mengangkat bahu. ”Kapsul kereta itu pasti mengambang di air. Kita naik di atasnya. Jadilah dia kereta wisata. Kalian bisa melihat pemandangan dari jendela.”

”Keretanya memang kedap air, bisa mengambang, bahkan te­naga manualnya bisa membuat kapsul bergerak di sungai walau­pun tidak cepat,” Ilo menjelaskan saat aku menyampaikan usul Ali. ”Tapi bagaimana kita memindahkan kapsul itu ke sungai? Jaraknya hampir dua puluh meter. Tidak bisa digelindingkan be­gitu saja.”

Aku menerjemahkan kalimat Ilo kepada Ali.

Ali nyengir, menatapku. ”Kamu dan Seli yang akan me­mindah­kannya.”

”Kami?”

”Iya, kalian. Pertama­tama, kamu hantam kapsul itu dengan pukulan hingga mental ke sungai, dan Seli, langkah kedua, segera mengendalikan kapsul itu agar mendarat mulus di per­mukaan air. Seli bisa menggerakkan benda dari jauh. Kapsul itu bukan masalah besar.”

”Aku hanya bisa menggerakkan benda­benda kecil, Ali.” Seli menggeleng. ”Buku, bolpoin, gelas, atau paling besar boneka panda­ku. Aku belum pernah menggerakkan benda sebesar bus.”

”Dan bagaimana aku akan membuat kapsul itu terlempar dari peron?” Sekarang aku yang protes. ”Itu bukan benda ringan seperti kucing liar atau Pasukan Bayangan.”

Ali menatap kami bergantian. ”Kalian kan me­makai sarung tangan keren itu. Kekuatan kalian bisa berkali­kali lipat lebih besar. Rencana ini terlalu sederhana untuk gagal. Kamu hanya bertugas memukulnya kencang­kencang, Ra, dan Seli hanya bertugas mengendalikannya agar mendarat mulus. Sementara aku memastikan kalian berdua 

melakukannya dengan benar—sesuatu yang lebih rumit sebenarnya. Lakukan saja. Pasti ber­hasil.”

”Bagaimana kalau kapsulnya malah mendarat terlalu jauh atau tenggelam?” Seli bertanya. ”Aku belum tentu bisa mengendalikan gerakannya. Kapsul itu besar sekali.”

”Dan bagaimana kalau ternyata kapsul itu jadi rusak karena kupukul?” aku menambah daftar kemungkinan buruk lainnya.

”Ali benar. Ini bisa jadi ide bagus,” Ilo menengahi, setelah aku menerjemahkan untuknya. ”Kalaupun kapsul itu tenggelam atau rusak di dalam sungai, setidaknya kita justru bisa meng­hilangkan jejak. Sistem otomatis mereka tidak bisa menemukan di mana kapsulnya. Kalau berhasil, lebih bagus lagi, kita bisa mengguna­kan­nya untuk menghilir.”

Aku dan Seli saling tatap sejenak. Ilo benar. Baiklah. Tidak ada salahnya mencoba ide si genius ini. Aku mengangguk. Aku dan Seli melangkah kembali ke peron.

”Tidak secepat itu. Kalian latihan dulu,” Ali berseru sambil beranjak berdiri, menyambar tas ranselnya. ”Lihat, ada batu­batu besar di sana. Kalian coba pindahkan satu atau dua batu besar itu.”

Aku menatap Ali dan Ilo yang beranjak menjauh, mengosong­kan hamparan pasir. Entah di dunia kami atau di dunia aneh ini, sifat Ali tetap sama, suka mengatur­atur orang. Tapi untuk kesekian kali sarannya masuk akal. Baiklah, akan kami turuti pendapatnya.

Aku bersiap­siap berdiri di belakang salah satu batu besar yang terbenam di pasir, mengangguk ke arah Seli yang berdiri di tengah hamparan pasir. Aku mulai konsentrasi. Sarung tangan­ku berganti warna menjadi gelap. Seli di sana juga sudah siap. Sarung tangannya terlihat bersinar terang di tengah terik mata­hari. Aku menahan napas, memukul batu besar setinggi ping­gangku. Suara dentuman terdengar kencang, membuat bebek­bebek sungai beterbangan dari semak, juga burung­burung lain. Batu itu terangkat dari pasir, terpental ke udara.

Aku terduduk karena kaget sendiri melihat apa yang terjadi. 

Syukurlah Seli tidak kaget. Dia sudah bersiap. Sebersit cahaya menyambar batu yang terbang itu saat Seli mengacungkan kedua tangan. Dia berkonsentrasi penuh. Dua tangannya gemetar, ber­usaha mengendalikan, membuat batu itu bergerak turun per­lahan­lahan. Beberapa detik sepertinya batu itu akan turun mulus ke permukaan sungai, tapi sedetik berlalu, meluncur tidak terkendali, jatuh berdebum, membuat cipratan air muncrat ke mana­mana.

Seli melompat ke belakang. Bukan karena menghindari ciprat­an air tinggi yang mengarah padanya, tapi lebih karena panik batu itu lepas kendali.

”Bagus!” Ali berseru di kejauhan. ”Itu bagus sekali, Sel. Tidak apa. Jangan dipikirkan. Kita coba sekali lagi. Dan kamu, Ra, jangan terlalu kencang memukulnya, supaya Seli tidak terlalu susah payah mengendalikan batunya saat meluncur turun. Pukul dengan lembut, gunakan nalurimu.”

Aku bangkit dari dudukku, menepuk­nepuk pakaian yang kotor. Si genius itu menyebalkan sekali. Mana aku tahu batu itu akan terpental setinggi itu? Aku saja kaget. Enteng sekali dia bilang begitu. Terus, apa pula maksudnya pukul dengan lembut? Lihatlah, sekarang Ali sudah seperti sutradara film meneriaki artis­artisnya.

”Kamu mengerti, Ra? Jangan terlalu kencang!” Ali berteriak sekali

lagi.

”Iya, aku tahu.” Aku melangkah ke belakang batu berikutnya, segera konsentrasi menatap batu hitam ber­lumut yang besarnya setinggi kepalaku. Seli di tengah hamparan pasir mengangguk. Dia sudah siap.

Setelah menghela napas dua kali, aku memukul batu itu lebih terkendali. Dentuman kencang kembali terdengar. Batu itu ter­angkat dari dalam pasir. Butir pasir beterbangan. Batu itu ter­pe­lanting tinggi ke udara—tidak terlalu tinggi, hanya tiga meter.

Seli mengacungkan tangan, membuat batu besar itu di­selimuti aliran listrik. Tangan Seli gemetar. Dia konsentrasi pe­nuh. Sedetik berlalu, batu besar itu bergerak perlahan sesuai kendali Seli, kemudian mendarat anggun di atas permuka­an sungai, tenggelam dengan mulus. 

”Keren!” Ali mengacungkan jempol.

Aku dan Seli tersenyum puas. Kami berhasil.

”Baik, sekarang mari kita coba dengan benda sesungguhnya,” Ali berseru. ”Rileks saja, Seli. Anggap seperti batu besar tadi. Kamu pasti bisa.”

Aku melangkah masuk ke dalam bangunan stasiun, berdiri di belakang kapsul kereta yang penyok dan pecah jendela kaca­nya.

”Pukul di bagian rangka kapsul, itu bagian paling keras. Sepanjang bagian itu yang dihantam, kamu tidak akan merusak kapsulnya. Ingat, Ra, jangan terlalu kencang, dan jangan terlalu pelan. Lakukan seperti tadi,” Ali berteriak.

”Iya, aku tahu.” Aku bersungut­sungut, mengangguk. Teriakan Ali ini sebenarnya mengganggu konsentrasiku. Lagi pula si genius ini tidak menjelaskan apa maksudnya jangan ter­lalu kencang atau terlalu pelan. Aku belum terbiasa de­ngan kekuatan sarung tanganku. Bahkan sebenarnya, aku belum terbiasa dengan fakta bahwa aku bisa mengeluarkan deru angin kencang dari tanganku.

Seli di hamparan pasir mengangkat tangan, memberi kode. Dia sudah siap. Aku menghela napas berkali­kali, konsentrasi penuh. Tanganku dipenuhi desir angin kencang, semakin deras setiap kali aku mencapai level konsentrasi berikutnya. Lantas per­lahan aku memukul dinding kapsul di bagian rangkanya. Suara dentuman kencang terdengar. Kapsul itu terlempar dari dalam bangunan stasiun, terbang setinggi tiga meter di atas kepala.

Seli segera mengacungkan tangannya ke atas. Kapsul itu diselimuti tenaga listrik. Kapsul itu jelas lebih besar dibanding batu sebelumnya, bergetar tidak terkendali, merosot satu meter ke bawah. Seli berteriak panik. Aku menahan napas. Tapi Seli ber­hasil menahan kapsul agar tidak terus merosot. Dia memaksa­kan seluruh tenaganya. Kakinya terdorong ke dalam pasir hingga betis. Sedetik berlalu, kapsul itu perlahan mulai bergerak teratur menuju permukaan sungai, kemudian 

mendarat sama mulusnya seperti batu sebelumnya, hanya membuat riak kecil. Kapsul itu telah mengambang di atas sungai.

Wajah Seli terlihat pucat, namun ia mengembuskan napas lega. Aku tertawa lebar, berlari mendekati Seli, memeluknya riang.

”Apa kubilang. Berhasil, kan?” Ali juga melangkah mendekat, ikut tertawa. Wajah si tukang ngatur ini sebenarnya masih me­ringis menahan sisa pusing dan mual.

”Kita segera berangkat, anak­anak!” Ilo berseru. Dia me­langkah ke permukaan air sungai setinggi betis.

Kami menyusul, naik satu per satu. Terakhir Ali, dibantu Ilo.

”Jika tidak melihat sendiri, aku tidak akan bisa memercayai­nya.” Ilo tertawa, duduk di bangku kemudi, menatapku dan Seli. ”Kalian berdua hebat sekali. Kalian lebih hebat dibanding pemenang kompetisi tahunan petarung Klan Bulan.”

Aku tidak berkomentar, duduk di salah satu bangku.

Ilo menekan tombol­tombol di hadapannya. Pintu kapsul tertutup. ”Baik, anak­anak, kita menuju teluk kota.”

Kapsul itu segera bergerak di atas permukaan air saat tuas kemudi didorong ke depan. Tidak cepat, hanya mengandalkan mesin pendorong manual, tapi itu lebih dari memadai dibanding kami harus berjalan kaki. Kami segera menuju tempat pem­ber­hentian berikutnya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊