menu

Bumi Bab 34

Mode Malam
Bab 34
KAPSUL mengurangi kecepatan, merapat mulus di salah satu peron.

Ruangan besar megah yang tadi pagi ramai dan teratur ber­ubah 180 derajat, terlihat kacau­balau, dipenuhi orang berseru­seru. Di setiap jengkal stasiun terlihat ratusan Pasukan Bayangan dengan membawa panji­panji mereka.

”Kenapa kita mendarat di Stasiun Sentral?” aku bertanya pada Ilo. ”Mereka  sepertinya  mengambil  alih  tujuan  setiap  kapsul  secara

otomatis, memaksa kapsul yang melintas untuk mendarat,” Ilo

menjelaskan.

Di luar lebih banyak lagi kapsul kereta yang merapat di peron. Orang­orang protes kenapa jalur mereka diubah. Teriakan dan tangisan anak kecil, keributan, juga terlihat puluhan orang memakai seragam yang berbeda dengan Pasukan Bayangan, me­nambah sesak peron stasiun. Mereka ikut memeriksa pe­numpang, berjaga­jaga di setiap sudut.

”Itu seragam akademi Ily.” Ilo mengeluh, menunjuk orang­orang berseragam gelap dengan topi tinggi. ”Sejak dulu orangtua murid keberatan jika akademi sering dijadikan alat politik dan kekuasaan. Anak­ anak itu baru berusia delapan belas, tidak tahu apa pun tentang agenda dan ambisi orang dewasa.”

Aku menoleh ke arah Ilo, tidak terlalu paham maksud kalimat­nya.

Tapi pintu kapsul kami sudah terbuka. Segera melangkah masuk dua orang Pasukan Bayangan, membawa panji pendek—aku tahu, panji itu bisa berubah menjadi senjata.

”Maaf mengganggu perjalanan. Atas perintah penguasa baru, kami harus memeriksa seluruh kapsul. Harap siapkan identitas masing­ masing,” salah satu dari mereka berseru tegas. 

Aku, Seli, dan Ali saling tatap. Bagaimana ini?

Ilo lebih dulu berdiri, merapikan rambut dan pakaiannya. ”Halo.” Dua anggota Pasukan Bayangan itu terdiam sebentar menatap Ilo. ”Selamat siang, Master Ilo,” mereka menyapa lebih ramah.

”Siang. Ada yang bisa saya bantu?” Ilo melihat mereka selintas, memasukkan tangan ke saku, bertanya sambil menghalangi dua orang itu masuk lebih dalam.

”Kami minta maaf harus menghentikan laju kapsul, Master Ilo. Penguasa kota sudah berganti. Kami diperintahkan meme­riksa seluruh penumpang, memastikan semua aman, tidak ada pelaku kerusuhan yang berpotensi menolak penguasa baru.”

”Aku tidak peduli dengan kekacauan politik ini,” Ilo menjawab datar. ”Aku tidak mendukung pihak mana pun. Bagiku urusan­nya sederhana, siapa pun penguasa di Tower Sentral, seragam pasukan kalian tetap desainku, masalah bisnis saja. Atau kalian menganggap aku salah satu pelaku kerusuhan?”

Dua orang berseragam gelap itu saling lirik. Salah satu dari mereka melihat kami.

”Tiga anak itu ikut bersamaku. Mereka sedang melakukan tugas sekolah, wawancara, karya tulis, seperti itulah.” Ilo masih menghalangi mereka masuk.

Dua orang itu saling tatap, berbicara berbisik.

Salah satu dari mereka menggeleng. ”Maaf, Master Ilo, kami ha­nya melaksanakan perintah, kami harus memeriksa semua orang. Kami mungkin bisa mengecualikan Anda, tapi tidak tiga anak tersebut.”

Di luar kapsul kami, Stasiun Sentral semakin gaduh. Lebih banyak lagi kapsul kereta yang dipaksa mendarat. Beberapa orang menolak turun, berseru­seru marah. Satu­dua dipaksa, diseret keluar oleh Pasukan Bayangan dan orang­orang ber­se­ragam akademi. 

”Aku tidak mengizinkan kalian memeriksa siapa pun.” Ilo menggeleng tegas.

Suasana di dalam kapsul semakin tegang. Seli dan Ali me­ngerti arah percakapan meski tidak paham bahasanya. Aku menatap Ilo, cemas, apakah dia bisa mengatasi masalah ini.

Dua anggota Pasukan Bayangan lain ikut mendekat ke kapsul. Salah satu dari mereka tidak membawa panji, sepertinya posisi­nya lebih tinggi. Dia berseru galak, ”Apa yang terjadi?”

”Penumpang kapsul menolak diperiksa.” ”Kalian paksa mereka keluar.”

”Tapi yang ini berbeda,” salah satu berbisik.

”Tidak ada pengeculian, siapa pun itu!” dia berseru tidak sabaran, melangkah menyibak dua anak buahnya, tapi langkah kakinya terhenti saat menatap Ilo.

”Selamat siang, Master Ilo!” dia berseru lagi, meski tidak se­kencang sebelumnya, lebih sopan, tapi intonasi suaranya tetap serius. ”Kami minta maaf mengganggu kenyamanan perjalanan. Kami harus memeriksa seluruh kapsul.”

”Silakan saja kalian periksa kapsul lain, tapi tidak yang kunaiki.” Ilo menggeleng. ”Apa yang sebenarnya kalian cari? Tidak ada siapa­siapa di sini selain tiga anak yang bersamaku.”

”Penguasa baru telah mengaktifkan status baru untuk seluruh negeri, Master Ilo. Kami harus memeriksa siapa pun, memasti­kan identitas mereka, tanpa pengecualian.”

”Aku tidak akan mengizinkan kalian.” Ilo menggeleng tegas.

”Berarti kami tidak punya pilihan.” Dia mengangkat tangannya memberi perintah. Tiga orang di sekitarnya segera maju dengan panji­ panji teracung—yang sekarang sudah berubah menjadi tombak perak. 

”Seret mereka keluar dari kapsul. Jatuhkan hukuman kepada Master Ilo atas pelanggaran telah menentang perintah penguasa baru. Aku tidak peduli meski dia orang paling terkenal di kota ini.”

Salah satu dari mereka menelikung paksa tangan Ilo, mem­buatnya jatuh terduduk. Dua yang lain mendekati kami. Seli mengangkat tangannya, siap melawan. Juga Ali, dia meloloskan ransel yang dikenakan, hendak memukulkan ransel itu ke siapa pun yang mendekat. 

Aku mengeluh. Teringat pesan Av di Bagian Terlarang per­pustaka­an, kami justru tidak boleh melawan dengan disaksikan banyak orang. Bagaimana kalau Seli sampai mengeluarkan petir? Di dunia ini sekalipun, itu pasti menarik perhatian, dan keber­adaan kami diketahui.

Tapi entah apa yang terjadi, sebelum dua orang itu semakin dekat, hendak menangkap kami, seluruh kapsul tiba­tiba menjadi gelap. Seperti ada yang menuangkan tinta hitam ke air bening, atau seolah ada asap pekat disemburkan. Kegelapan menyebar dengan cepat, hingga radius belasan meter dari kapsul yang kami tumpangi.

Seruan kaget terdengar di sekitar peron dekat kapsul, teriakan­ teriakan panik, dan jeritan ketakutan anak­anak. Gerakan dua orang yang hendak menangkap kami tertahan.

Aku juga bingung kenapa tiba­tiba sekitar kami gelap, tapi situasi ini menguntungkan karena entah bagaimana caranya se­perti­nya hanya aku yang masih bisa melihat dengan jelas. Aku ber­gegas lompat memukul anggota Pasukan Bayangan yang me­nelikung Ilo. Pukulan biasa, tapi tetap saja membuat anggota Pasukan Bayangan itu ter­banting keluar dari pintu kapsul. Aku juga memukul dua anggota lainnya. Mereka mengaduh, me­nyusul terpental di pelataran stasiun. Terakhir, dengan jengkel, aku menampar orang sok ber­kuasa tadi. Badannya juga terjatuh ke peron stasiun.

”Ilo, kapsulnya. Segera!” aku berseru.

Ilo mengangguk. Dia bangkit berdiri, meraih tombol pengatur di dinding kapsul yang berkedip­kedip. Kaki Ilo sempat meng­injak Ali, tapi 

dia bisa segera menekan tombol. Pintu kapsul kem­bali menutup. Sebelum empat orang berseragam itu me­nyadari apa yang terjadi, kapsul telah melesat pergi me­ninggalkan Stasiun Sentral.

Cahaya kembali memenuhi kapsul. Terang.

”Apa yang terjadi?” Ali bangkit, memegang betisnya. Wajahnya meringis.

”Kenapa semua tiba­tiba gelap?” Seli juga bertanya.

Aku menggeleng. Aku tidak tahu apa persisnya yang baru saja terjadi. Aku mengangkat tangan, memperhatikan sarung tangan­ku yang berwarna hitam pekat, seperti ada awan hitam yang berpilin di sarung tangan itu, kemudian perlahan­lahan kembali sesuai warna kulitku. Tidak terlihat lagi.

”Sarung tanganmu kenapa, Ra?” Seli ikut memperhatikan. ”Entahlah, Sel.” Aku masih menggeleng.

”Ini keren, Ra,” cetus Ali. Wajahnya antusias. ”Se­perti­nya sarung tanganmu yang membuat gelap barusan. Semua cahaya sejauh radius belasan meter diserap sarung tangan ini.”

Kali ini aku setuju dengan Ali, menatap telapak tanganku. Ini memang keren.

Ali nyengir lebar. ”Nah, sekarang jelas, bukan? Jika sarung tangan Seli bisa mengeluarkan cahaya, sarung tanganmu sebalik­nya, menyerap atau menghilangkan cahaya. Sarung tanganmu ini tidak hanya untuk mengangkat panci panas.”

”Anak­anak, berpegangan!” Ilo berseru, memutus percakapan kami. Dia masih berdiri di depan tombol­tombol kapsul. ”Kita harus mengambil alih kemudi kapsul ini secara manual.”

Kami menoleh kepada Ilo.

”Mereka akan segera mengetahui posisi kita jika kapsul ini tetap digerakkan sistem otomatis. Dan mereka dengan mudah menarik kapsul 

ini kembali ke Stasiun Sentral.” Ilo menyeka dahi. ”Aku akan mengambil alih sistem kemudi.”

”Bukankah itu berbahaya sekali?” Aku menatap Ilo, cemas.

Ilo mengangguk. ”Lebih dari berbahaya. Ini mengerikan. Tapi kita tidak punya pilihan lain.”

Begitu Ilo menekan tombol darurat, dinding kapsul terbuka, kursi dan tuas kemudi keluar, juga layar besar empat dimensi di depannya yang menunjukkan peta seluruh jaringan kapsul. Ada ribuan jalurnya, saling silang, sambung­menyambung, seperti pipa­pipa rumit, dengan ribuan titik merah melesat cepat di setiap lorong.

Ilo sudah duduk mantap di kursi kemudi, memegang tuas.

”Tapi, bagaimana kamu akan mengemudikannya?” Aku ber­tanya, menatap layar yang rumit sekali. Astaga, lorong yang ada bahkan hanya muat satu kapsul. Sekali keliru berbelok, masuk ke jalur salah, bertemu kapsul lain pasti akan bertabrakan. Tidak ada tempat untuk berpapasan.

Ilo tertawa kecil. ”Aku jago sekali memainkan game, Ra. Kamu ingat yang dikatakan Av tadi?”

Aku hendak protes. Ini bukan game. Ini nyata. Tapi Ilo sudah menekan dua tombol sekaligus. Kapsul yang kami naiki bergetar. Aku segera berpegangan. Terdengar pengumuman dari speaker kapsul agar jangan mengambil alih kemudi otomatis, berbahaya. Ilo tidak peduli. Dia tetap mengaktifkannya, menekan dua tombol berikutnya. Kemudi manual telah aktif.

Kapsul terbanting, menabrak dinding. Suaranya saat beradu dengan lorong membuat ngilu telinga. Percik api terlihat. Kami berseru panik. Ilo rileks segera menyeimbangkan posisi, mem­buat kapsul stabil.

”Tenang, anak­anak. Hanya penyesuaian.” Ilo mencengkeram tuas kemudi.

Kapsul kereta kembali mengambang di tengah lorong. 

”Bersiap­siap! Kita meluncur,” Ilo berseru, menekan tuas ke depan. Sekejap, kapsul yang kami naiki sudah melesat maju, lebih cepat dibandingkan kemudi otomatis.

Aku menatap Ilo cemas. Seli di sebelah memejamkan mata. Speaker di dalam kapsul berkali­kali mengingatkan bahwa mengambil alih kemudi otomatis amat berbahaya. Tapi Ilo tidak mendengarkan. Dia konsentrasi penuh memperhatikan layar untuk melihat posisi ribuan kapsul lainnya. Sesekali kapsul kami hanya berbeda beberapa detik berpapasan dengan kapsul lain saat bertemu di perlintasan. Ilo gesit membanting kemudi. Kapsul yang kami naiki terus melaju cepat di dalam lorong jalur kereta.

”Awas!” aku berseru panik. Kami tiba di persimpangan enam lorong, dari satu jalur di sisi kanan. Seperti peluru ditembakkan, kapsul lain meluncur cepat ke arah kami.

Penumpang di kapsul yang akan menabrak kami menjerit kencang. Ilo tangkas mendorong tuas ke bawah. Kapsul kami meluncur masuk ke lorong bawah, menghindar, lagi­lagi hanya sepersekian detik sebelum terjadi tabrakan. Aku menahan napas. Seli menunduk, memejamkan mata. Ini lebih gila dibanding kebut­kebutan di film fantasi.

Tetapi masalahnya belum selesai, dari layar kemudi terlihat titik merah yang melintas cepat di lorong tempat kami masuk, ber­lawanan arah. Aku mendongak, menatap Ilo. Kami harus berputar arah, lorong ini hanya muat satu kapsul.

Ilo menggeleng, memastikan perhitungan kecepatan dan wak­tu yang tersisa di layar kemudi. ”Kita masih sempat berbelok di persimpangan depan, Ra. Berbelok ke belakang juga percuma, kapsul lain akan melintas dengan segera.” Ilo menambah ke­cepatan, kapsul berdesing kencang.

Aku menelan ludah. Dua belas detik berlalu, lampu terang dari kapsul di depan kami sudah terlihat. Dua kapsul bergerak cepat saling mendekat.

Ilo mencengkeram tuas kemudi. Tepat di persimpangan, dia membanting kemudi ke atas, tapi terlambat sepersekian detik. Kapsul yang kami naiki masih menyenggol ujung kapsul yang datang! Kapsul 

terbanting ke dinding lorong, sekali, dua kali, hingga akhirnya Ilo berhasil mengendalikan kemudi.

Aku membuka mata, melirik ke arah Seli di sebelahku. Dia masih menunduk, ber­teriak­teriak. Wajah Ali terlihat pucat—sepertinya si genius ini ada juga masanya ikut tegang.

”Kalian baik­baik saja?” Ilo bertanya.

Aku menggeleng. Ini buruk. Sama sekali tidak ada baik­baiknya. Ilo tertawa. ”Hanya senggolan sedikit, Ra.”

Apanya yang senggolan sedikit. Kapsul yang kami naiki penyok di sudut­sudutnya. Jendela kaca retak. Entah apa yang menimpa kapsul yang hampir menabrak kami. Penumpangnya berteriak. Suaranya tertinggal jauh di belakang. Semoga mereka baik­baik saja. Kendali otomatis di kapsul mereka bekerja de­ngan baik, mengurangi dampak tabrakan.

”Tidak jauh lagi, Ra. Hanya sembilan puluh detik lagi.” Ilo mencengkeram kembali tuas kemudi, berkonsentrasi membaca peta empat dimensi di layar, yang menunjukkan lorong­lorong jalur kereta dan kapsul lain berseliweran melintas.

Aku menghela napas perlahan, berusaha rileks.

”Ini kabar buruk, anak­anak,” Ilo berseru, menatap layar tanpa berkedip.

”Apa lagi?” Aku mendongak menatap Ilo di kursi kemudi. ”Mereka mengejar kita.”

Di peta layar kemudi ada dua titik berwarna biru mengejar kami.

Aku menghela napas, kembali tegang. Dengan ribuan kapsul ber­gerak cepat dalam jaringan saja, kemudi manual sudah me­ngeri­kan, apalagi dengan dua kapsul lain yang sengaja mengejar. Ini bukan jalan raya di kota kami yang hanya horizontal. Di jalur ini lorong­lorong 

vertikal, diagonal, melintang, melintas ke mana­mana. Perlintasan jalur hingga dua belas lorong bertemu sekaligus ada di mana­mana.

Demi melihat para pengejar, Ilo memutuskan mengambil jalur lain.

Kapsul yang kami naiki melesat, menukik ke bawah.

”Berpegangan lebih erat, anak­anak. Ini sudah bukan permainan lagi,” Ilo berseru.

Aku mengeluh dalam hati. Sejak tadi juga ini bukan game.

Dua titik biru dengan segera menyusul kami di belakang. Mereka sepertinya membersihkan jalur kapsul penumpang lewat pusat pengendali kereta bawah tanah. Titik­titik merah bergerak ke wilayah lain, menyisakan lorong­lorong kosong di sekitar kami. Entahlah apakah itu baik atau buruk bagi kami.

”Mereka menggunakan kapsul tempur.” Ilo menyeka dahi yang berpeluh. ”Kapsul mereka jauh lebih cepat dibanding kapsul penumpang.”

Aku mendongak, menatap Ilo cemas. Kapsul yang kami naiki terus berdesing melintasi lorong­lorong gelap, berbelok mulus ke kiri, kanan, melesat naik, turun. Setinggi apa pun Ilo menambah kecepatan, dua titik biru itu terus mendekat. Ilo mendengus tegang. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.

Dua belas detik berlalu, dua titik biru persis telah berada di belakang kami.

”Peringatan pertama! Kepada penumpang kapsul dengan register D­ 210579, kami perintahkan kalian untuk segera me­nepi. Atau kami terpaksa melepas tembakan.” Speaker di dalam kapsul kami berbunyi.

”Bagaimana ini?” Aku menatap Ilo.

Ilo menggeleng. Dia justru menggerakkan tuas kemudi ke kanan. Kapsul yang kami naiki berputar cepat, belok dengan tajam masuk ke lorong kanan. Satu titik biru yang tidak men­duga kami berbelok melaju lurus, tapi yang di belakang masih sempat ikut berbelok. 

”Kita lihat, seberapa hebat Pasukan Bayangan mengemudikan kapsul mereka.” Ilo mendesis, menggerakkan tuas. Kapsul ber­belok lagi di depan, naik cepat ke lorong atas.

Titik biru di belakang kami menambah kecepatan. Posisinya semakin dekat. Aku menoleh, bisa melihat pengejar dari dinding kapsul, berada persis di belakang kami. Lampu kapsulnya me­nyorot tajam. Juga senjata di atas kapsul. Sementara titik biru yang telanjur lurus, bergerak cepat mengambil jalur lain, men­coba memotong lewat jalur di depan kami.

”Peringatan kedua! Sesuai otoritas sistem pusat pengendali kereta bawah tanah, kapsul dengan register D­210579 harap se­gera menepi ke stasiun terdekat.”

”Apakah kita akan berhenti?” tanyaku.

Ilo menggeleng. ”Jangan panik, Ra. Semua terkendali.”

Ya ampun! Aku mendengus tegang. Apanya yang terkendali! Di belakang kami, moncong senjata kapsul tempur yang mengejar su­dah terarah sempurna, sedangkan di depan, satu titik biru lainnya telah berhasil mendahului, berbelok masuk ke lorong yang sama sekarang, melaju cepat ke arah kami, berusaha meng­hadang.

”Peringatan terakhir! Kami akan melepas tembakan jika ini diabaikan.”

Aku menatap ke belakang, cemas, lalu menatap ke depan. Ca­haya lampu kapsul yang menghadang sudah terlihat di lorong gelap.



Ra.” ”Kita akan menabrak, Ilo!” aku berseru panik.

Ilo menggeleng. ”Mereka akan memperlambat laju kapsul me­reka, 

Kapsul di depan tetap melesat cepat, sama cepatnya dengan kami. ”Kapsul D­210579 harap segera berhenti!” terdengar bentak­an. ”Ilo!! Berhenti!!” aku juga berteriak. 

Jarak kami sudah dekat sekali. Satu mengejar di belakang, satu menghadang menuju kami.

Ilo tidak mendengarkan. Dia terus memacu kecepatan.

Tembakan dilepas dari kapsul tempur di belakang kami, mem­buat kaca kapsul rontok. Aku menunduk. Seli menjerit. Ali semakin pucat, memeluk tiang kapsul erat­erat. Tapi bukan tembakan itu yang berbahaya, melainkan tabrakan dengan kapsul di depan kami.

Seperesekian detik, Ilo sudah gesit membanting kemudi. Kapsul yang kami naiki menukik ke bawah, masuk ke lorong lain. Sepertinya Ilo berhitung dengan baik sekali. Dia tahu persis bisa mencapai pertigaan itu di detik kritis. Kaca kapsul yang hancur berserakan di lantai, tapi kami berhasil lolos.

Terdengar dentuman kencang di belakang. Nasib kapsul yang kami naiki jelas lebih baik dibanding dua kapsul tempur yang terlihat bertabrakan di belakang sana.

Titik­titik biru itu menghilang di layar kemudi. ”Ternyata mereka tidak sehebat itu.” Ilo tertawa.

Ini mengerikan. Terlepas dari fakta kami berhasil lolos sekali­gus membuat pengejar kami bertabrakan, ini mengerikan. Aku menatap Seli yang wajahnya pucat. Bagaimana mungkin kami terjebak dalam kejar­ kejaran di sistem jaringan kereta bawah tanah dengan ratusan jalur rumit. Aku menoleh. Ali masih me­meluk tiang kapsul erat­erat.

”Baik, anak­anak, kabar baik buat kita, semua lorong bersih. Kita menuju sekolah Ou secepat kilat,” Ilo berseru mantap.

Tapi kejar­kejaran itu berakhir sebelum Ilo sempat menunjuk­kan kemampuan terbaiknya. Kami jelas berada dalam sistem jaringan yang dikuasai pihak lain.

Suara riang Ilo terhenti. 

Aku mendongak. ”Apa yang terjadi?”

”Mereka menutup jaringan,” Ilo berseru jengkel.

Garis­garis jalur kereta di layar kemudi terlihat satu per satu dipenuhi tanda silang, tidak bisa dilewati. Termasuk yang ada di depan kami. Demi melihat tanda silang itu, Ilo panik dan mem­per­lambat kapsul kereta secepat mungkin, berhenti persis sebelum kapsul kami menabrak pintu besi bundar yang menutup jalur.

”Apa yang akan kita lakukan?” aku bertanya, menatap ke luar dinding kapsul lewat jendela kaca yang sudah pecah. Pintu besi itu terlihat kokoh. Sepertinya jaringan kereta memang dilengkapi dengan pintu­pintu di bagian tertentu yang bisa diaktifkan jika dibutuhkan.

”Kita mencari jalan lain,” Ilo menjawab, menggerakkan ke­mudi.

Kapsul berputar, berbalik arah.

Sayangnya kami sudah kalah dalam pengejaran ini.

Ke mana pun kapsul bergerak, ujung lorongnya selalu ditutup otomatis sebelum kami sempat lewat. Kami hanya bisa melintasi lorong yang tidak ada tanda silangnya.

Ilo mendengus marah. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Jelas sekali pihak yang mengendalikan sistem jaringan me­nuntun kami menuju tem­pat yang mereka inginkan, karena ha­nya jalur itu yang terbuka.

”Kita menuju ke mana?” aku bertanya, memperhatikan jalur yang aktif di layar kemudi.

”Mereka memaksa kita ke gedung Perpustakaan Sentral.” Aku seketika terdiam.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊