menu

Bumi Bab 33

Mode Malam
Bab 33
PERTAMA­TAMA kita akan menjemput Ou dan Vey di sekolah, memastikan mereka aman.” Ilo berdiri, menekan tombol di dinding kapsul, memasukkan tujuan.

Kami bertiga sudah duduk, berdekatan.

Kapsul itu berdesing pelan, mengambang, kemudian seperti batu yang dilemparkan, segera melesat cepat dengan mulus tanpa terasa, meluncur di jalurnya yang gelap.

”Kalian baik­baik saja?” Ilo bertanya.

Ilo memperhatikan Seli yang masih menunduk menatap lantai kapsul.

Aku mengangguk. Seli hanya cemas soal orangtuanya—lagi pula untuk remaja usia lima belas tahun yang tersesat di dunia aneh ini, siapa pula yang tidak akan cemas, kecuali Ali si genius itu, yang bahkan boleh jadi mau menetap di dunia ini. Tapi kami baik­baik saja.

”Setelah menjemput Ou dan Vey, kita akan segera mengungsi ke luar kota. Kami punya rumah peristirahatan di teluk kota. Tempat itu sering digunakan Av, jadi memiliki sistem keamanan yang baik. Di sana kita bisa lebih tenang memikirkan jalan keluar agar kalian bisa pulang. Aku janji akan membantu kalian,” Ilo mencoba menghibur.

Aku mengangguk lagi, bilang terima kasih.

Lengang sejenak. Hanya desing kapsul yang melesat cepat dalam lorong gelap.

”Bagaimana kapsul kereta ini bergerak di lorong? Tidak ada bantalan relnya?” Ali bertanya, menyuruhku menerjemahkan kepada Ilo. Sejak tadi Ali asyik memperhatikan kapsul. 

”Dengan teknologi magnetik.” Ilo tidak keberatan menjelaskan, dengan senang hati—terbalik denganku yang malas menerjemah­kan pertanyaan Ali. ”Kapsul mengambang di lorong, lantas bergerak karena perbedaan medan magnet. Ada ratusan lorong kereta di bawah tanah dan ada ribuan kapsul yang bergerak dalam waktu bersamaan sesuai tujuan dan jalur masing­masing. Kalian akan pusing melihat peta jalurnya. Semua dikendalikan sentral sistem transportasi kapsul secara otomatis. Sistem ter­sebut presisi sekali, hingga hitungan sepersekian detik, agar seluruh kapsul yang bergerak dengan kecepatan tinggi tidak saling ambil jalur, mendahului, atau bertabrakan di persimpang­an.”

Ali mendengarkan dengan wajah antusias.

”Kalian pernah memperhatikan organ paru­paru? Yang di dalamnya terdapat ribuan pipa­pipa supermini untuk mengalir­kan udara? Dengan desain yang rumit dan bercabang ke mana­mana. Dalam skala lebih kecil, kurang­lebih begitulah sistem transportasi kapsul bawah tanah kota ini. Kita tidak me­merlu­kan pengemudi kapsul, semua kapsul bergerak otomatis. Kecuali dalam situasi darurat, kemudi manual bisa diaktifkan. Tapi siapa yang nekat membawa kapsul secara manual di dalam sistem otomatis dengan ribuan kapsul lain melintas ke mana­mana? Itu amat berbahaya,” Ilo menjelaskan lebih detail.

Ali semakin tertarik.

Tapi percakapan kami terhenti oleh sesuatu. Aku menatap layar televisi di dinding kapsul yang mendadak digantikan siaran berita, breaking news. Gambar di layar televisi terlihat putus­putus, kadang jelas, lebih sering bergaris. Pembawa berita, laki­laki dengan pakaian gelap, menyampaikan berita dengan latar suara dentuman dan seruan orang panik di belakangnya.

”Penduduk Kota Tishri, berikut ini adalah laporan terkini se­telah serangan besar­besaran mengejutkan tadi pagi di Tower Sentral yang dipimpin dua panglima Pasukan Bayangan.”

Aku dan Ilo saling tatap, laporan terkini? Sepertinya kami ketinggalan update berita, atau semua bergerak cepat sekali seperti yang dikhawatirkan Av? 

”Kami sekarang melaporkan langsung dari Tower Sentral, pertikaian politik yang meruncing beberapa jam lalu sepertinya telah mencapai puncaknya. Enam dari delapan panglima Pasukan Bayangan menyatakan bergabung dengan penguasa baru. Belum ada konfirmasi apa pun tentang sisanya, apakah memilih mem­bubarkan diri atau yang lebih serius lagi, tetap setia dengan Komite Kota lama, memutuskan melawan habis­ habisan.

”Menurut sumber tepercaya kami, tiga anggota Komite Kota dilaporkan tewas dalam penyerbuan mengejutkan tadi pagi. Ini tragedi paling serius sepanjang seribu tahun terakhir. Perebutan kekuasaan secara paksa. Kami belum bisa memastikan siapa yang akan menjadi Ketua Komite Kota, atau apakah Komite Kota akan dibubarkan, diganti dengan sistem pemerintahan yang baru. Tower Sentral belum bisa dimasuki siapa pun, dijaga ketat Pasukan Bayangan yang mendukung penguasa baru.”

Ilo ikut menatap layar televisi. Wajahnya tegang. Gambar­gambar bergerak cepat. Asap tebal terlihat di menara dengan ba­nyak cabang bangunan balon itu. Beberapa bangunan beton ter­lihat gompal, terbakar. Masih terdengar dentuman keras, per­tanda pertempuran terus berlangsung.

”Menurut klaim penguasa baru—siapa pun mereka yang se­karang menguasai Tower Sentral, sebagian besar tempat penting pemerintahan telah mereka kuasai. Mereka juga mengklaim sembilan dari dua belas akademi di seluruh negeri telah me­nyatakan kesetiaan kepada mereka. Jika pernyataan ini benar, hal tersebut akan membuat peta politik berubah signifikan, karena selama ini akademi adalah penyeimbang pihak pemilik kekuatan. Penguasa baru juga menyatakan sistem transportasi, sistem penyiaran, dan sistem penting lainnya juga telah dikuasai dan diusahakan secepat mungkin berjalan normal seperti biasa.

”Hingga waktu yang belum ditentukan, Pasukan Bayangan akan terus berjaga­jaga di seluruh tempat. Razia akan diberlaku­kan. Limitasi waktu bepergian dan tempat tujuan akan segera di­­terap­kan. Jam malam efektif berlaku mulai malam ini. Pe­nguasa baru telah mengonfirmasi seluruh sistem lorong ber­pindah ditutup untuk sementara hingga semua sistem keamanan pulih. Penduduk diimbau untuk tetap 

tenang di rumah masing­masing dan menggunakan cara konvensional jika harus bepergian.

”Setelah seribu tahun dipimpin Komite Kota, dewan yang dipilih penduduk, hari ini seluruh negeri dikuasai kembali oleh para pemilik kekuatan. Belum ada pengamat yang berani memberikan komentar atau spekulasi atas masa depan negeri ini, semua orang berhitung dengan keamanan masing­masing. Se­mentara itu kerusuhan mulai pecah di berbagai tempat. Per­tikaian politik ini akan semakin memperuncing perdebatan ten­tang para pemilik kekuatan. Kami juga belum memperoleh kepastian apakah acara karnaval festival tahunan nanti malam akan terus berlangsung sesuai rencana atau dibatalkan. Tetapi de­ngan berlakunya jam malam, karnaval sepertinya akan dibatal­kan.”

”Itu berita tentang apa, Ra?” Ali berbisik, bertanya. Aku menghela napas, menjawab pendek, ”Kerusuhan.”

”Kerusuhan?” Ali memastikan. Dia menunjuk ke layar dinding kapsul, bukankah tayangan berita di televisi tidak sesederhana itu?

”Ada yang mengambil alih pemerintahan. Kudeta atau apalah istilahnya,” aku menjelaskan lebih baik. ”Mereka menyerang Tower Sentral dan berbagai tempat pemerintahan tadi pagi, mung­kin bersamaan dengan menyerang gedung perpustakaan.”

”Siapa yang melakukannya?”

Aku menelan ludah. ”Tidak disebutkan dalam berita. Mereka hanya menyebut dengan istilah para pemilik kekuatan. Mungkin dugaan Av benar, Tamus yang melakukannya. Dia dibantu sebagian besar Pasukan Bayangan, mungkin itu pasukan militer di dunia ini.”

”Tamus? Itu sosok tinggi kurus yang ada di aula sekolah?” tanya

Seli.

Aku mengangguk.

”Dia dan rombongan sirkusnya itu sibuk sekali ternyata sehari terakhir,” Ali berkomentar santai, mengangkat tangannya, seolah 

mengingatkan kemarin dia sempat memukul kepala salah satu dari mereka dengan pemukul bola kasti.

Aku melotot kepada Ali. Tidak bisakah dia sedikit serius? Tamus jelas berbahaya, dan sekarang masalah kami ditambah pula dengan pertempuran merebak di kota ini.

Siaran itu terhenti sejenak. Pembawa acara terlihat me­nerima konfirmasi berita di tengah siaran langsung. Dalam situasi darurat, sepertinya berita superpenting bisa datang kapan saja, termasuk saat siaran.

”Penduduk Kota Tishri, masih bersama kami dalam breaking news. Kami baru saja memperoleh informasi bahwa masih ada beberapa pusat pemerintahan yang belum berhasil dikuasai Pasukan Bayangan di bawah komando penguasa baru. Baik, kita akan segera terhubung dengan salah satu kamera otomatis yang berada di Perpustakaan Sentral.”

Seli memegang tanganku, meskipun tidak mengerti kalimat pembawa acara. Gambar di layar televisi segera berganti dengan lapangan luas berumput hijau dengan dua air terjun besar di kiri­kanannya. Ribuan orang dengan pakaian gelap—pakaian yang dikenakan delapan orang saat datang ke aula sekolah—ter­lihat mengepung gedung besar yang baru saja kami datangi be­berapa jam lalu.

Asap hitam mengepul di mana­mana. Suara dentuman ter­dengar susul­menyusul, lebih hebat dibanding dentuman di Tower Sentral. Penduduk biasa, seperti pengunjung dan pegawai perpustakaan itu, berlarian panik, berseru­seru.

Wajah Ilo di sebelahku terlihat tegang.

”Hingga detik ini, pertempuran masih berlangsung sengit di Perpustakaan Sentral. Setidaknya ada seribu anggota Pasukan Bayangan yang menyerbu perpustakaan, dan kondisi gedung terlihat hancur sebagian. Ini amat menarik, karena selain per­tanya­an bagaimana perpustakaan bisa bertahan memberikan perlawanan sejauh ini, pertanyaan berikutnya yang lebih penting adalah entah apa yang hendak mereka kuasai dari sana, karena setahu kami, ayolah, siapa pun bisa meminjam buku secara baik­baik sepanjang telah terdaftar sebagai 

anggota perustakaan, tanpa perlu membawa seribu anggota Pasukan Bayangan.”

Aku menatap layar televisi di dinding kapsul tanpa berkedip. Bahkan mengabaikan kalimat pembawa acara di layar televisi, yang entah sedang bergurau atau karena situasi panik men­cekam dia justru tidak menyadari mengucapkan kalimat tersebut.

”Bagaimana dengan Av?” aku bertanya.

”Kita tidak perlu mengkhawatirkan dia, Ra.” Ilo menggeleng. ”Sejak kecil aku tahu dia lebih dari seorang pustakawan. Aku mencemaskan hal lain yang lebih serius. Si sulung Ily, aku harus mengontak dia di akademinya sekarang.” Ilo menekan peralatan di pergelangan tangannya.

”Apa yang terjadi dengan gedung perpustakaan tadi, Ra?” Seli bertanya.

Layar televisi di dinding kapsul sudah berganti lagi, menyiar­kan dari lokasi lain.

”Pasukan itu berusaha masuk ke Bagian Terlarang,” aku men­jawab

pelan.

”Apakah orang berpakaian abu­abu tadi masih di sana?”

Aku menggeleng. ”Aku tidak tahu, Sel. Mereka masih me­nyerbu gedung perpustakaan.”

”Seluruh kota sepertinya sedang perang,” Ali bergumam di se­­belah kami. ”Ini buruk sekali. Kita baru pertama kali me­ngunjungi dunia ini, mereka malah perang. Seharusnya ini study tour yang seru. Malah sebaliknya, kerusuhan di mana­mana.”

Aku dan Seli melotot ke arah Ali.

”Tidak bisa,” Ilo lebih dulu berseru cemas, ”Ily tidak bisa dikontak.

Akademinya juga tidak bisa dihubungi.”

”Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku, ikut cemas. 

”Kita tetap menuju sekolah Ou.” Ilo menghela napas, berusaha tenang. ”Baik. Kita urus satu per satu. Semoga Ily baik­baik saja. Semoga akademinya tidak melibatkan diri dalam kekacauan ini. Aku lebih mencemaskan Ily.”

Sayangnya, belum habis kalimat cemas Ilo, kapsul kereta yang kami naiki mendadak terbanting ke arah lain, berbelok tajam, keluar dari jalur tujuan. Seli berseru kaget. Ali berpegangan ke kursi. Kami nyaris terbanting ke lantai kapsul.

”Ada apa?” Aku menoleh ke arah Ilo.

Ilo menggeleng. Dia juga mencengkeram pegangan tiang kapsul.

Kapsul meluncur cepat, terus menukik turun tajam, dan se­belum kami sempat tahu ke mana tujuannya, kapsul sudah masuk ke sebuah ruangan besar dan megah. Stasiun Sentral.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊