menu

Bumi Bab 32

Mode Malam
Bab 32
KAMI tiba di ujung lubang setelah susah payah memanjat tangga besi. Rambut dan wajah kami kotor terkena sarang laba­laba, juga tanah lembap dan tetesan air yang sesekali mengalir di dinding.

”Kalian baik­baik saja?” Ilo bertanya. Napasnya tersengal.

Aku dan Seli mengangguk. Kami baik­baik saja. Ali terduduk di lantai, kelelahan. Dia sepertinya memilih istirahat sebentar.

”Ayolah, aku jelas tidak memiliki kekuatan ajaib seperti kali­an,” Ali berseru sebal saat aku menatapnya, menyuruh bangun. ”Memanjat tangga setinggi dua ratus meter bukan hobiku. Dan kalian bahkan dilengkapi dengan sarung tangan keren itu.”

Aku hampir tertawa melihat wajah protes si genius itu.

”Kita ada di mana?” Seli bertanya, sambil menyeka wajah yang basah. Debu dan kotoran yang melekat di pakaian kami segera berguguran saat dikibaskan, bersih seketika. Pakaian yang kami kenakan banyak membantu saat memanjat tangga besi.

”Kita berada di tengah hutan lembah,” Ilo yang menjawab.

Sebenarnya maksud pertanyaan Seli bukan di mana?, karena kami semua tahu ini persis di tengah hutan lebat. Pohon­pohon menjulang tinggi. Cahaya matahari seolah tidak mampu menembus rapatnya dedaunan. Belum pernah aku menyaksikan pohon setinggi dan sebesar ini. Burung­burung berukuran besar juga beterbangan di atas kepala, sayapnya terentang lebar, berwarna­warni indah. Serangga berbunyi nyaring, satu­dua me­lintas dengan ekor mengeluarkan cahaya atau sayap bekerlap­kerlip.

Sepertinya tumbuhan di dunia ini memang tumbuh dengan ukuran raksasa. Aku mengenali beberapa tumbuhan, seperti jamur, pakis, dan ganggang di dasar hutan, tapi ukurannya tum­buh hingga sepaha kami. 

Satu­dua ada yang lebih tinggi dari­pada kami. Ujung daun ganggang melingkar sebesar pergelangan tangan.

Suara melenguh binatang liar di kejauhan terdengar. Disusul lenguhan lain yang saling bersahutan. Panjang dan lantang, ter­dengar seram. Aku dan Seli saling tatap, menahan napas.

”Kita harus segera pergi dari sini.” Ilo memeriksa sekitar, menekan tombol peralatan di lengan. ”Tempat ini tidak aman. Ada banyak hewan buas. Meski halaman rumah kami adalah hutan, tidak ada penduduk kota yang mau menghabiskan waktu turun ke dasar hutan, kecuali di lokasi wisata tertentu. Hewan buas berkeliaran di mana­mana.”

Demi mendengar kalimat Ilo yang kuterjemahkan, Ali tidak perlu disuruh dua kali. Dia segera bangkit, sambil menyeka ke­pala, membersihkan jaring laba­laba dan debu yang menempel.

”Hewan buas?” Seli bertanya memastikan.

”Iya, seperti singa atau beruang,” Ilo menjawab.

Aku menelan ludah. Kalau jamur saja ada yang setinggi paha kami, akan sebesar apa singa atau beruang di dunia ini? Kami sebaiknya bergegas mencari tempat yang lebih aman. Belum sempat aku menanyakan hal itu kepada Ilo, di depan kami su­dah melompat seekor binatang, menggeram di atas dahan rendah, menatap kami, menyelidik.

”Itu apa?” Seli lompat ke belakang, kaget. Ali ikut merapat.

”Kucing liar,” Ilo menjawab dengan suara cemas. ”Kucing?” Seli berseru tidak percaya.

Binatang di depan kami ini lebih mirip serigala atau harimau dibanding kucing. Aku mengeluh, teringat kejadian saat Tamus datang lewat cermin kamar, memaksaku menghilangkan novel dengan menyuruh si Hitam mengancam akan merobek kepala si Putih jika aku gagal melakukannya. Ukuran kucing liar ini persis sama dengan si Hitam, hanya bedanya warnanya kelabu, ekornya panjang cokelat. 

Kucing liar itu menatap kami dengan mata tajam, menggeram kencang, memperlihatkan taring dan cakarnya.

”Pergi!” aku berseru lantang.

Kucing itu bergeming. Bulunya berdiri tanda siap menyerang. ”Jangan coba­coba!” Aku balas menatap galak. Teringat kelaku­an

si Hitam, aku lebih merasa sebal dibanding takut pada kucing sok berkuasa di hadapan kami—meskipun aku tidak tahu bagaimana menghadapinya.

”Pergi!” aku berseru semakin lantang.

Ilo di sebelahku berusaha meraih sesuatu di dasar hutan yang bisa dijadikan senjata. Ali dan Seli berdiri rapat di belakangku.

”Hush! Pergi!” Aku mengangkat tangan, balas mengancam.

Kucing liar itu justru meloncat, menyerang cepat—lebih mirip harimau lompat.

Tanganku yang mengepal sejak tadi juga bergerak cepat, memukul ke depan. Angin pukulanku terdengar berderu, lan­tas berdentum keras. Masih dua meter lagi jaraknya, kucing liar itu sudah terbanting menghantam pohon, jatuh ke dasar hutan, kemudian lari terbirit­birit menjauh sambil mengeong lirih.

Aku menatap jemariku. Sarung tangan yang kukenakan ini hebat sekali. Aku hanya memukul biasa, tapi kekuatan yang keluar berkali lipat di luar dugaanku.

Sepotong hutan tempat kami terdampar lengang sejenak. Suara dentuman kencang membuat burung­burung terbang men­jauh. Serangga berhenti berderik, juga lenguhan dan lolongan hewan liar yang susul­ menyusul tadi menghilang.

”Itu pukulan yang mengagumkan, Ra,” Ilo memuji. Dia meng­hela napas, melemparkan potongan kayu kering ke dasar hutan. 

Aku masih menatap jemariku. Av benar, sarung tangan ini amat berguna.

”Kita harus segera pergi. Masih banyak hewan liar lain yang mungkin muncul. Ini hutan dengan usia ribuan tahun. Tidak pernah disentuh Klan Bulan, dibiarkan tumbuh subur.” Ilo mem­baca peralatan di pergelangan tangannya, mencari posisi tujuan. ”Kita menuju ke utara, ada stasiun kereta darurat di permukaan tanah dua kilometer dari sini. Kalian bisa berjalan sejauh itu?”

Aku dan Seli mengangguk. Ali mengembuskan napas kuat­kuat.

Ilo sudah berjalan di depan, kami segera beriringan mengikuti, menerobos hutan.

Serangga kembali berderik ramai, juga burung­burung besar. Satu­ dua berbunyi dengan irama panjang, satu­dua melengking keras. Setidaknya sepanjang perjalanan tidak ada binatang hutan yang mengganggu, hanya melintas kemudian lari. Seperti­nya dentuman pukulanku tadi mengirim pesan yang jelas.

”Aku belum pernah melihat bunga anggrek sebesar itu,” Seli berbisik di belakangku, menunjuk.

Aku ikut mendongak, menatap juntaian bunga anggrek indah di dahan pohon.

Kami satu­dua kali berhenti sebentar karena Ilo mencocokkan arah.

Aku memperhatikan bunga anggrek dengan kelopak sebesar telapak tangan. Entah bagaimana, ukuran tumbuhan dan hewan di dunia ini besar­besar. Saat tadi pagi menatap hamparan hijau dari jendela bangunan balon yang tingginya ratusan meter dari permukaan hutan, aku tidak membayangkan isinya seperti ini.

”Karena penduduk dunia ini tidak pernah merusak hutannya.” Itu teori si genius Ali. Dia menjelaskan sambil terengah­engah mendaki lereng. ”Ilo bilang, usia hutan ini ribuan tahun, bukan? Tidak pernah diganggu. Maka pohon­pohon tumbuh maksimal. Lingkungan yang subur dan terjaga memberikan semua nutrisi yang diperlukan. Hewan juga 

berkembang maksimal, bahkan mereka terus mengalami evolusi, tidak terhenti karena intervensi besar­besaran dari manusia. Itulah kenapa di dunia ini kucing liar bisa sebesar serigala. Kucing itu tidak mengalami domes­tikasi atau dipelihara.”

Lantas bagaimana Ali akan menjelaskan rombongan kupu­kupu yang baru saja melintas di kepala kami? Yang satu ini ukur­an­nya sama persis dengan kupu­kupu yang kukenal. Beda­nya, jumlah mereka ribuan, terbang berkelompok. Saat hinggap, rombongan kupu­kupu itu mengubah warna sebatang pohon menjadi warna­warni pelangi, seluruh dedaunan tertutupi.

Kami berhenti sejenak. Ilo kembali memeriksa arah stasiun darurat. Aku dan Seli menatap terpesona. Pemandangan di de­pan kami sungguh menakjubkan. Kami kira tadi itu pohon yang berbeda warnanya, ternyata dihinggapi kupu­kupu. Seekor bu­rung besar ikut hinggap, menggebah kupu­kupu terbang. Kupu­kupu itu pindah serentak ke pohon lain, terlihat me­nawan.

Ali menggeleng, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat­nya, lebih tepatnya mencari penjelasan baru. ”Entahlah, mungkin kupu­kupu ini meng­alami pengecualian. Ukuran mereka tetap kecil.”

”Kamu pastilah murid paling pintar di sekolah,” Ilo tetap me­muji Ali. ”Semua guru pasti bangga memiliki murid sepertimu.”

Aku yang sejak tadi berbaik hati membantu menerjemahkan kalimat Ali kepada Ilo, dan sebaliknya, menahan tawa. Sejak kapan Ali membuat guru bangga? Yang ada si biang kerok ini selalu membuat repot guru, kecuali Miss Keriting.

Kami terus mendaki lereng bukit. Stasiun kereta darurat masih separuh perjalanan. Sejauh ini tidak ada binatang buas yang menghambat laju kami, kecuali lereng terjal berbatu, me­maksa kami berjalan lebih hati­hati. Dari lereng ini, kami bisa melihat ribuan bangunan berbentuk balon di lembah hutan, jauh, puluhan kilometer di bawah sana.

”Lantas bagaimana kamu akan menjelaskan kenapa orang­orang tertentu memiliki kekuatan? Seperti menghilang atau mengeluarkan petir. 

Bahkan di Klan Bulan ini banyak penduduk yang tidak percaya mereka ada,” Ilo bertanya, tertarik. Mereka sudah terlibat percakapan serius sepanjang sisa perjalan­an—nasibku terpaksa menjadi penerjemah mereka.

”Itu tidak terlalu sulit dijelaskan,” Ali menjawab kalem—si genius ini jangan coba­coba dipancing pertanyaan yang memang dia tunggu. Dia akan sok sekali menjawabnya. ”Jawabannya, karena orang­orang tersebut mewarisi gen istimewa di tubuhnya. Sama seperti hewan atau tumbuhan, yang memiliki kemampuan spesial agar bisa bertahan hidup, atau untuk tetap superior.

”Misalnya, hewan bunglon di dunia kami, bisa berganti warna kulit menyesuaikan lingkungan di sekitarnya, mimikri, sehingga terlihat seolah bisa menghilang. Atau salah satu jenis salamander bisa melakukan regenerasi memperbaiki jaringan otak, jantung, apalagi hanya kakinya. Atau seekor rusa yang tanduknya patah, bisa menumbuhkan kembali tanduk seberat 23 kilogram hanya dalam waktu dua belas minggu. Bukankah bagi orang­orang yang tidak tahu, fakta itu termasuk kemampuan yang tidak masuk akal?

”Padahal itu simpel, karena mereka memang memiliki gen spesial. Coba lihat, cecak bisa merambat di dinding karena te­lapak kakinya didesain sedemikian rupa. Belut listrik bisa menyengat karena dilengkapi sistem listrik. Bahkan ikan buntal, blowfish, yang kecil dan menggemaskan, bisa tiba­tiba membesar berkali­kali lipat dari ukurannya karena memiliki desain per­tahan­an tersebut saat merasa terancam, lengkap dengan duri­duri tajamnya.

”Maka masuk akal saja, jika manusia memiliki gen istimewa yang sama, diwariskan, bahkan dilatih, mereka kemudian bisa memiliki kekuatan. Apalagi di dunia ini, dengan lingkungan yang masih terjaga, kemungkinan gen istimewa itu terus diwariskan semakin besar, berbeda dengan Bumi yang lingkungannya rusak. Manusia berhenti mengalami evolusi. Atau boleh jadi, mungkin masih ada manusia di Bumi yang memiliki kemampuan seperti ikan buntal, berubah menjadi besar. Siapa yang tahu.” 

Aku yang baru saja menerjemahkan kalimat Ali untuk Ilo ter­­diam sejenak. Aku tidak tahu apakah Ali serius atau me­ngarang. Apa yang dikatakan Ali kadang terlalu sederhana untuk di­bantah, dan sebaliknya kadang terdengar terlalu sederhana untuk menjelaskan permasalahan rumit.

”Masuk akal.” Ilo tertawa, tetap memuji Ali. ”Av benar, kamu sepertinya remaja paling pintar yang pernah dikenal.”

Aku menghela napas. Aku bisa menghilang dengan menutup­kan telapak tangan di wajah karena aku mewarisi gen meng­hilang dari orangtua yang tidak kukenal? Itu jelas bukan sekadar bunglon yang bisa berubah warna. Itu lebih susah dipercaya. Me­mang­nya ada hewan yang bisa menghilang? Kalau belut listrik untuk perumpamaan kemampuan Seli mungkin bisa ma­suk akal. Tetapi memangnya ada hewan yang bisa mengeluarkan petir?

Kami hampir tiba di stasiun darurat, melewati bagian lereng yang dipenuhi bunga­bunga berukuran raksasa. Ini sepertinya bunga  dandelion atau sejenisnya yang banyak tumbuh di pe­gunungan dengan warna­warni mengagumkan. Tapi bukan itu yang paling menarik. Di atas bunga­bunga itu, terbang ber­gerombol burung kolibri yang sedang mengisap serbuk sari. Di dunia kami, burung dengan paruh panjang ini besarnya hanya sekepalan tangan anak­anak, di sini besarnya tiga kali lipat. Gerakan sayapnya yang cepat membuat mereka mengambang seperti helikopter, sambil mengisap bunga.

”Lihat, ada yang mengeluarkan cahaya!” Seli berseru riang, menunjuk kerumunan burung kolibri yang lain. Aku menoleh. Indah sekali, beberapa burung ini mengeluarkan kerlap­ker­lip sinar di punggungnya. Sejenak sepertinya Seli bisa melupakan bahwa di dunia kami, orangtua kami mungkin sedang panik men­cari tahu.

Aku memutuskan ikut memperhatikan kerumunan burung kolibri terbang. 

Kami berjalan lagi setelah Ilo memastikan harus menuju ke arah mana. Seratus meter melewati padang bunga, di lereng terjal, terlihat gagah sebuah mulut gua yang besar dan gelap.

Aku menoleh kepada Ilo. Apakah dia tidak salah?

”Gua ini memang stasiun daruratnya.” Ilo mengangguk, me­mati­kan peralatan di pergelangan tangannya. ”Setiap jarak ter­tentu, kapsul kereta bawah tanah didesain memiliki lorong darurat ke permukaan. Itu berguna jika terjadi sesuatu, seperti banjir, kerusakan listrik, atau kebakaran di kota bawah tanah, penduduk bisa segera dievakuasi. Mungkin karena jarang diguna­kan, stasiun ini seperti gua tidak terawat. Kita harus masuk ke dalam gua, berjalan beberapa puluh meter lagi untuk tiba di peron.”

Kami berdiri di depan mulut gua, saling pandang. Ada tangga pualam menuju ke bawah, seperti pelataran stasiun. Tapi gua ini berbeda dengan lubang kecil yang kami panjat sebelumnya, ada titik cahaya yang dituju. Gua ini gelap total, dan sebaliknya kami justru harus masuk ke dalamnya. Bagaimana kami tahu arah yang tepat?

Ilo melangkah ragu­ragu. Kami mengikuti. Baru tiga langkah masuk, Ilo berhenti. Gelap sekali, tidak terlihat apa pun di dalam sana.

”Bagaimana kalau ada binatang buas menunggu?” aku berkata

pelan.

Ilo menghela napas, tegang.

Atau stasiun ini runtuh? Ada lubang besar di pualamnya? Kami tidak bisa melihatnya. Aku menyikut lengan Ali. Si genius ini mungkin saja punya ide cerdas bagaimana cara kami bisa berjalan dalam kegelapan. Ali justru sedang memperhatikan Seli di se­belahnya lagi.

Dalam kegelapan, entah apa penyebabnya, tangan Seli terlihat menyala redup.

”Sarung tanganmu mengeluarkan cahaya, Seli,” aku berbisik. 

Seli menatap ke bawah, mengangkat tangannya.

Benar. Memang sarung tangan Seli yang me­ngeluarkan cahaya. ”Mungkin kamu bisa membuatnya lebih terang,” aku memberi ide. Seli mengangguk. Dia mengepalkan tinju tangan kanannya,

berkonsentrasi. Sekejap, sarung tangan itu bersinar terang sekali, membuat sudut­sudut gua terlihat.

Kami terdiam, saling pandang.

”Ini keren.” Seli tersenyum, menatap tangannya. Aku tertawa kecil, setuju.

Dengan bantuan cahaya sarung tangan Seli kami bisa me­lewati pelataran depan stasiun darurat dengan mudah. Gua itu luas, sebesar aula sekolah kami, lantainya meski kotor dipenuhi daun kering, terbuat dari pualam mewah. Dindingnya dibiarkan berbatu alami. Sedangkan di langit­langit gua terlihat tiga lampu kristal—yang padam. Kami melangkah masuk menuju peron. Ada dua kursi panjang di dekat jalur rel. Selain kursi itu tidak ada lagi isi stasiun. Tidak ada binatang buas yang menjadikannya sarang.

Ilo mencari panel di dinding, menekan beberapa tombol, yang kemudian berkedip menyala. Ilo menghela napas lega. ”Syukur­lah, stasiun ini masih berfungsi. Lima menit lagi salah satu kapsul kereta akan datang.”

Itu kabar baik. Masih lima menit lagi, aku memutuskan duduk, diikuti Seli. Ali tetap berdiri dua langkah dari kursi. De­ngan cahaya dari sarung tangan Seli, aku bisa melihat jelas wajah Ali yang terlihat sedang berpikir keras—wajah si genius ini me­mang selalu kusut.

”Kamu sepertinya masih kecewa tidak diberi sarung tangan keren oleh Av tadi,” aku berkata pelan, mencoba membuat situ­asi lebih rileks, tertawa kecil.

Ali melotot. Ekspresi wajahnya yang berpikir semakin terlipat. ”Bukan itu yang kupikirkan.” 

”Lantas apa?” aku bertanya santai.

”Ada banyak sekali yang menarik di dunia ini, Ra. Kita harus memikirkannya dengan cepat, agar mengerti, bisa memberikan jalan keluar. Kamu lihat, sarung tangan Seli, misalnya.”

Aku tertawa. ”Katanya kamu tidak memikirkan sarung ta­ngan?” ”Bukan soal itunya. Tidakkah kamu berpikir, jika sarung tangan

Seli mengeluarkan cahaya di tempat gelap, apakah sarung tanganmu juga

bisa melakukannya?”

Aku menatap Ali lamat­lamat. Benar juga, tidak terpikirkan olehku. Baiklah, aku mengangkat tanganku, berkonsentrasi, me­nyuruh sarung tanganku bercahaya. Satu detik, dua detik, tidak terjadi apa­apa. Hanya tanganku yang terangkat karena sarung­nya menyatu dengan warna kulit, tidak terlihat.

Ali menggeleng. ”Berarti sarung tanganmu ini memiliki kekuat­an

lain.”

”Kekuatan apa?” aku bertanya penasaran.

”Mana aku tahu. Itu kan sarung tanganmu, bukan milikku. Mung­kin kekuatan untuk memegang panci panas, supaya tetap di­ngin saat dipegang,” Ali menjawab ketus, membalas kalimat­ku.

Aku tertawa kecil—juga Seli.

Ilo masih menatap mulut lorong, menunggu kapsul kereta. Dia tidak mau duduk.

”Ra, apa yang sebenarnya dikatakan orang berbaju abu­abu itu tadi hingga kamu lemas, terduduk di ruangan pengap tadi?” Seli yang duduk di sebelah bertanya, memotong tawa kami.

Aku terdiam, jadi teringat lagi percakapan tadi. Tapi kali ini tidak terlalu kupikirkan—entah apa yang dilakukan Av, saat dia menyentuh lenganku, dia membuat perasaanku jauh lebih tenang hingga sekarang. 

”Dia bilang bahwa Papa­Mama bukan orangtuaku, Sel,” aku menjawab pelan.

Bahkan si biang kerok yang kembali sibuk berpikir, memper­hatikan seluruh stasiun, ikut menoleh ke arahku.

”Kamu tidak bercanda, Ra?” Seli hampir berseru. Aku menggeleng.

Seli menutup mulutnya dengan telapak tangan saking terkejut­nya—yang membuat cahaya di dalam gua jadi bergerak ke sana kemari.

”Tapi wajah mamamu mirip denganmu, kan? Dan dia baik sekali. Tidak mungkin, Ra. Aku tidak percaya. Orang ber­baju abu­abu itu pasti keliru.” Seli menggeleng.

”Aku juga tidak percaya.” Aku menunduk, menatap pualam mewah yang dipenuhi daun kering. ”Tapi kata Av tadi, itu se­benarnya jauh lebih mudah dipercaya dibanding kenyataan aku bisa menghilangkan sesuatu atau kamu mengeluarkan petir. Mungkin dia benar, karena Mama dan Papa tidak pernah tahu aku bisa menghilang sejak usia dua tahun. Mereka tidak pernah tahu kucingku ada dua. Tidak pernah tahu aku bisa menghilangkan benda­benda. Aku mungkin memang berasal dari dunia ini.”

Seli terdiam, masih refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memperhatikan kami. ”Kalau begitu, Ra, jangan­jangan aku juga sama.” Suara Seli

ter­dengar bergetar.

Aku menoleh. ”Sama apanya?”

”Orangtuaku juga tidak pernah tahu aku bisa mengeluarkan petir di tangan sejak kecil. Mereka juga tidak pernah tahu aku bisa menggerakkan benda dari jauh.” Suara Seli yang tadi ter­kejut, berubah menjadi serak. 

”Jangan­jangan mereka juga bukan orangtuaku, kan? Aku berasal dari dunia lain, Klan Matahari itu?”

Aduh! Aku menatap wajah cemas Seli. Aku mengeluh dalam hati, kenapa semuanya jadi rumit begini? Kenapa jadinya Seli berpikiran sama? Aku menggeleng, tidak mungkin. Hanya aku tadi yang dibilang begitu, Av tidak pernah menyinggung orang­tua Seli. Lihatlah, wajah Seli jadi sedih. Bagaimana ini? Aku kan tidak seperti Av, yang hanya dengan menyentuh lengan bisa me­ngirimkan rasa hangat dan fokus dalam hati.

”Mungkin saja mereka memang orangtuamu, Sel,” Ali yang lebih dulu berkomentar. ”Orang berbaju abu­abu itu bilang, saat pertempuran besar dulu, ada sebagian penduduk Klan Matahari terpaksa mengungsi, melintas ke dunia lain. Mungkin orangtua­mu memang dari sana, lalu tinggal di Bumi.”

”Tapi aku tidak pernah melihat mereka mengeluarkan petir. Papaku karyawan kantoran, dan mamaku dokter. Aku juga tidak pernah melihat mereka bisa menggerakkan benda dari jauh, mengambil gelas pun tidak bisa.” Seli menggeleng, menyeka ujung matanya.

”Mungkin mereka menyimpan rahasia itu. Termasuk dari dirimu. Siapa pula yang ingin diketahui seluruh dunia memiliki kekuatan itu?” Ali mengangkat bahu.

”Ali boleh jadi benar, Sel,” aku menyemangati. ”Masuk akal, kan? Jadi jangan pikirkan yang tidak­tidak. Aku sudah bilang sejak tadi malam, kita tidak boleh cemas atas hal­hal yang belum jelas. Khawatir atas sesuatu yang masih dugaan saja. Kita berada di dunia lain. Kamu harus kuat, agar aku juga ikut kuat, Sel.”

Seli menunduk. Cahaya dari sarung tangannya meredup, nyaris padam karena suasana hatinya buruk, membuat gua jadi remang. Ilo memperhatikan. Dia tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan.

Aku memeluk bahu Seli erat­erat. Setidaknya, apa pun pen­jelasannya besok lusa, apa pun yang akan terjadi nanti, aku me­miliki teman baik di dunia aneh ini. Seli teman terbaikku sejak kelas sepuluh, teman satu kelas, satu meja. Ditambah dengan Ali yang berdiri di hadapan kami, dia juga teman baik sejak 24 jam lalu. 

Sebuah desing pelan terdengar dari kejauhan. Belum jelas itu suara apa, telah melesat mulus keluar dari lorong gua. Sebuah kapsul kereta berhenti persis di jalur depan peron.

”Ayo, anak­anak, bergegas!” Ilo berseru.

Pintu kapsul kereta terbuka. Cahaya terang keluar dari lampu­ lampu di dalamnya. Kapsul itu kosong. Aku menarik tangan Seli agar berdiri, segera melangkah masuk ke kapsul itu.

Kedatangan kapsul kereta setidaknya memotong kecemasan Seli tentang orangtuanya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊