menu

Bumi Bab 31

Mode Malam
Bab 31
ILO memberikan segelas air segar. Aku menghabiskannya dalam sekali minum—tidak peduli bentuk gelasnya seperti sepatu mons­ter.

”Apakah kamu yang mengirim benda besar dari duniamu, yang menghantam dua tiang rumah di dunia ini?” Av bertanya, se­telah ruangan lengang sejenak.

Aku mengangguk. Aku sebenarnya tidak terlalu mendengarkan per­tanyaan Av, kepalaku masih dipenuhi hal lain. Bahkan kepala­ku dengan sempurna membayangkan Mama yang tersenyum di meja makan. Papa yang bercerita bijak di mobil menuju sekolah. Bagaimana mungkin?

”Kenapa kamu melakukannya?” Av bertanya. Aku diam, menyeka peluh di dahi.

”Ini pertanyaan penting, Gadis Kecil. Jawaban yang kamu berikan mungkin bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Baik, akan kubantu agar kamu bisa lebih fokus dan tenang.” Av memegang lembut tanganku. Sentuhan itu terasa hangat, menjalar ke seluruh  tubuh, membuat perasaanku terasa ringan. Konsentrasiku membaik cepat.

Av tersenyum. ”Kenapa kamu melakukannya, Nak?”

”Karena kami dalam bahaya,” aku menjawab pelan, suasana hatiku membaik.

Aku tidak punya banyak pilihan. Dalam situasi yang semakin membingungkan, bercerita lengkap akan lebih baik. Maka aku mulai menceritakan kejadian di belakang sekolah. Ketika gardu listrik meledak, kecelakaan, aku terpaksa menghilangkan tiang listrik itu. Kami lari ke dalam aula. Di aula datang delapan orang bersama sosok tinggi kurus itu, yang memaksaku ikut dengannya. Juga saat Miss Selena datang menyelamatkan kami, me­­nyuruhku memeriksa buku PR matematikaku yang diberi­kan­nya beberapa hari lalu. Kami berpindah dari aula sekolah 

ke kamar­ku lewat lubang yang diciptakan Miss Selena, mengeluar­kan buku PR matematikaku, dan tiba­tiba kami sudah berada di dunia ini, terdampar di kamar Ou.

”Kamu ingat siapa nama sosok tinggi kurus itu, Nak?” ”Tamus,” aku menjawab pelan.

”Kamu tidak salah mengingatnya?” Wajah Av yang sejak tadi tenang terlihat berubah. Matanya redup. Suaranya bergetar.

Aku menggeleng. Aku ingat sekali waktu Miss Selena menye­but­kan nama itu.

”Ini sungguh buruk.” Av mengusap rambutnya. ”Aku kenal nama itu. Salah satu pemilik kekuatan Klan Bulan. Pang­lima perang saat negeri ini masih diperintah kerajaan. Dia masih hidup? Berkelana di Dunia Tanah? Ini benar­benar kabar buruk. Seribu tahun tidak terdengar, untuk sesorang yang memiliki ke­mampuan lebih dari cukup menguasai seluruh negeri, itu berarti dia memilih menyiapkan rencana yang lebih besar.”

”Kenapa dia memaksaku ikut?” aku bertanya. Sentuhan yang diberikan Av tadi membuatku jauh lebih fokus. Aku bisa meng­ambil inisiatif percakapan.

”Ada banyak kemungkinan jawabannya.” Av mengangguk. ”Satu saja kemungkinan itu benar, masalah kita jauh lebih serius daripada yang diduga. Apa pun yang sedang dia rencanakan, Tamus su­dah merencanakannya jauh­jauh hari. Fakta dia bisa melintasi se­kat dua dunia dengan mudah, itu berarti dia sering melakukan­nya, termasuk mengawasimu sejak kecil. Kamu berbeda sekali dengan seluruh anggota Klan Bulan. Jika kamu dilahirkan di Dunia Tanah, itu berarti kamu bisa membuka sekat antardunia seperti yang dibutuhkan Tamus.”

Aku menatap Av tidak berkedip. Ruangan pengap itu lengang sejenak.

”Untuk menguasai dunia lain, Tamus harus mengirimkan puluhan bahkan ratusan ribu pasukan. Kamu tidak bisa datang sendirian 

menaklukkan Dunia Tanah. Nah, mengirim banyak orang tidak bisa dilakukan dengan portal biasa yang hanya mengirim dirinya sendiri atau lewat buku seperti yang kalian lakukan, amat terbatas kapasitasnya. Lagi pula, yang membuat­nya semakin rumit, saat berpindah ke dunia lain, kekuatan itu tidak berguna lagi, kecuali dia bisa mengondisikan tempat yang dituju sesuai dengan dunia aslinya. Bukankah itu yang terjadi saat Tamus dan delapan anak buahnya mendatangi sekolah kalian?”

Aku mengangguk. Aula sekolah berubah remang seperti dunia ini. ”Ratusan ribu pasukan, Av?” Ilo memotong di sebelahku.

Av mengangguk. ”Benar, ratusan ribu pasukan.” ”Dari mana dia memperoleh pasukan sebanyak itu?”

”Itulah yang kucemaskan sekarang. Tamus sudah merencana­kan ini jauh­jauh hari. Bukan tentang kesalahan teknis lorong berpindah setahun terakhir yang membuatku prihatin. Tapi situasi di komando Pasukan Bayangan dan puluhan akademi seluruh negeri. Bukankah anakmu Ily sudah setahun terakhir tidak pulang?” Av bertanya sam­bil menghela napas suram.

Ilo mengangguk. ”Akademi menetapkan seluruh anak diwajib­kan menghabiskan liburan panjang di sekolah. Ada program tambahan.”

”Benar. Itu bukan hanya kebijakan satu akademi tempat Ily sekolah, ratusan yang lain juga melakukannya secara serempak.” Av menatap meja lamat­lamat. ”Belum lagi betapa lambat dan membingungkan respons Komite Kota setahun terakhir dalam setiap kasus. Mereka lebih sibuk membuat banyak perubahan peraturan. Mengendurkan hal­hal yang seharusnya tidak boleh dimudahkan, sebaliknya memperketat hal­hal yang seharusnya sederhana. Kapan  kamu terakhir kali menghubungi Ily?”

Ilo menahan napas. ”Seminggu yang lalu. Dia bilang baik­baik saja.” ”Semoga demikian.” Av mengangguk. ”Semoga ini hanya

ke­khawatiran orang tua ini saja.” 

”Bagaimana aku akan membuka sekat ke dunia lain? Padahal kami sendiri sekarang bingung mencari cara untuk pulang,” tanya­ku.

”Aku tidak tahu, Nak.” Av menatapku. ”Ada dua buku penting yang hilang di Bagian Terlarang saat pertempuran besar antar­dunia seribu tahun lalu. Yang pertama adalah buku dengan sam­pul bergambar bulan sabit menghadap ke bawah, Buku Kemati­an. Buku itu mengerikan, penuh rahasia gelap. Aku tidak tahu siapa yang memegangnya sekarang, setidaknya bukan Tamus, dan jelas buku itu tidak akan pernah diwariskan kepadanya. Ka­rena itu, Tamus tidak bisa membaca buku yang bukan miliknya.

”Satu buku lagi yang hilang adalah buku dengan sampul ber­gambar bulan sabit menghadap ke atas, buku yang kamu pegang sekarang, Buku Kehidupan, berisi tentang kebijaksanaan hidup. Jika buku ini milikmu, kamu akan bisa membacanya. Siapa pun yang membaca salah satu buku ini akan tahu bagaimana mem­buka sekat ke dunia lain.”

”Tapi buku ini kosong.” Aku meraih buku PR matematikaku, membuka sembarang halaman.

”Sesuatu yang terlihat kosong bukan berarti tidak ada apa pun di dalamnya. Bahkan kalian baru saja mengetahui, sesuatu yang tidak kita lihat sehari­hari, ternyata bersisian dan nyata di sebelah kita.” Av menatapku sambil tersenyum. ”Aku hanya pen­jaga perpustakaan, bagian ini hanya menyimpan dan meng­amankan benda­benda tua berbahaya dari rencana jahat. Kami bukan pemiliknya. Aku juga tidak bisa membacanya. Tetapi saat buku ini bersinar mengambang di udara beberapa waktu lalu, dan wajahmu memantulkan cahaya cemerlang, aku tahu, kamu adalah pemiliknya. Jadi setidaknya aku tidak akan meminta buku ini dikembalikan dan kamu tidak akan terkena denda tidak memulangkan buku perpustakaan selama seribu tahun.”

Itu humor yang baik, sayangnya dalam situasi ini kami tidak mudah tersenyum.

”Dia bilang apa, Ra?” Ali berbisik, bertanya.

”Nanti akan kuceritakan lengkap. Tidak se­ka­rang.” 

Ali menatapku sebal. Aku balas melotot. ”Bagaimana aku akan men­ceritakannya sekarang? Aku kan bukan penerjemah.” Ali langsung diam.

”Sayangnya, aku tidak mengenal orang bernama Selena yang kamu sebutkan. Aku tahu nama itu berarti ‘bulan yang indah’, juga sekaligus ‘pemberi petunjuk’, ‘penjaga warisan’, atau ‘benteng terakhir’. Entahlah, siapa dia dan apa peran yang dia mainkan. Ada banyak orang penting yang hilang setelah perang besar, termasuk anggota kerajaan.” Av menggeleng. ”Tapi jika dia me­lindungi kalian dari Tamus, dia berada di pihak kalian. Jika dia berani me­lawan Tamus, dia termasuk penduduk Klan Bulan yang me­miliki kekuatan penting. Siapa pun yang berhadapan dengan Tamus tidak punya banyak kesempatan untuk pergi dengan selamat.”

Aku menunduk, mengusap wajahku. Ekspresi wajah Miss Selena yang menahan pukulan Tamus melintas sejenak di kepalaku.

”Apakah kamu bisa mengirim kami pulang ke dunia kami?” aku bertanya.

Av menggeleng. ”Aku hanya pustawakan, Nak. Istilahnya me­mang terlihat hebat, Penjaga Bagian Terlarang, tapi aku tidak bisa melintas ke dunia lain, apalagi membantu orang lain ke sana. Ada hal­hal yang kukuasai, ada yang tidak.

”Kamu harus tahu, tidak semua penduduk Klan Bulan me­miliki kekuatan seperti Tamus, berusia ribuan tahun, bisa meng­hilang, bisa bertempur, tubuhnya bisa tahan terhadap pukulan. Sebagian besar dari kami sebenarnya sama seperti Makhluk Tanah di dunia kalian, penduduk biasa. Ilo misalnya, dia bahkan tidak bisa menghilang walau sedetik, tidak bisa meloncat lebih tinggi dari dua meter, tapi dia jelas tetap spesial dengan ke­mampu­an­nya. Ilo pekerja kreatif yang penuh imajinasi, desainer ter­sohor. Pakaian abu­abu ini, aku suka sekali mengenakannya, nyaman dan efektif, bukti betapa spesialnya dia.”

”Tapi bagaimana dengan Miss Selena? Tidak adakah cara untuk mengetahui kabarnya?” aku mendesak. Bukankah dunia ini memiliki teknologi maju? 

Av menggeleng. ”Tidak ada yang bisa kita lakukan.” Aku mengeluh, kecewa.

”Bagaimana kalau aku menghilangkan benda di dunia ini? Apakah dia akan muncul di dunia kami?” Aku teringat sesuatu, memastikan.

”Tidak bisa. Kamu tidak bisa menghilangkan benda yang sudah hilang. Benda itu hanya hilang sesaat lantas muncul lagi di tempat yang sama. Sudah sifat di dunia ini, Klan Bayangan. Jika itu bisa dilakukan, Tamus dengan mudah mengirim pasuk­annya ke Dunia Tanah. Dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, bahkan Tamus hanya bisa mengirim dirinya sendiri dan beberapa orang. Kamu memerlukan sesuatu, entah itu benda, atau kekuatan yang lebih besar agar bisa muncul di dunia kali­an.”

”Lantas apa yang harus kami lakukan sekarang agar bisa pu­lang?” aku bertanya, pertanyaan paling penting setelah pen­jelas­an panjang lebar darinya.

Av terdiam. Dia mengusap rambutnya yang putih, berpikir.

Pintu bulat menuju Bagian Terlarang berderit didorong se­belum Av bicara. Kami menoleh. Pintu itu terbuka. Ibu ber­usia separuh baya yang menemui kami di ruangan depan per­pustakaan berdiri dengan wajah pucat di bawah bingkai pintu.

”Ada apa?” Av berseru.

”Di luar ada yang memaksa masuk ke Bagian Terlarang,” suara ibu itu bergetar.

”Suruh tunggu, aku akan menemui mereka sebentar lagi,” Av menjawab tegas. Dia menoleh kepada kami, tersenyum. ”Dari dulu, selalu saja ada yang memaksa masuk ke ruangan ini. Termasuk Ilo. Dia sudah lebih dari tiga kali memaksa masuk, penasaran ingin tahu. Mereka kira ini tempat pameran benda bersejarah atau bagian paling seru di sebuah museum.” 

”Mereka tidak mau diminta menunggu, Av.” Suara ibu itu mendesak, kalut dan gentar. ”Mereka tidak datang sendiri atau berempat. Mereka datang seribu orang. Lapangan rumput di­penuhi Pasukan Bayangan.”

”Astaga!” Av menatap ibu itu, memastikan.

”Kami tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi. Mereka meng­ancam memaksa masuk. Mereka membawa surat perintah dari Komite Kota untuk memindahkan seluruh isi Bagian Ter­larang ke tempat yang lebih aman.”

”Lebih aman?” Av tertawa kecil. ”Mereka bergurau.”

Av menoleh ke arahku, berpikir cepat. ”Apa yang kucemaskan terjadi lebih cepat, Nak. Ini serius. Bola salju itu telah dige­lindingkan, hanya hitungan menit, eskalasinya akan membesar, menyebar ke seluruh kota. Seribu Pasukan Bayangan mendatangi Perpustakaan Sentral, jelas tidak sedang ingin meminjam buku. Tamus berada di belakang mereka. Dia telah mencungkil kem­bali kejadian seribu tahun lalu. Dalam setiap pertikaian besar penguasa Klan Bulan, salah satu yang harus dikuasai segera ada­lah Bagian Terlarang perpustakaan ini.”

Av menoleh lagi ke pintu bulat, berseru tegas, ”Aktifkan se­luruh sistem keamanan bagian ini. Segel kembali pintunya. Jangan izinkan siapa pun masuk. Jika mereka memaksa, biarkan saja mereka melintasi lorong depan ruangan ini. Kita lihat se­berapa pintar pasukan tersebut.”

Ibu separuh baya itu mengangguk, bergegas balik kanan.

Av mengembuskan napas pelan, tetap terlihat tenang. ”Nah, sekarang, apa yang harus kalian lakukan? Aku tidak tahu, Gadis Kecil. Semua masih gelap. Tapi sebagai langkah pertama, segera tinggalkan perpustakaan. Tempat ini akan jadi arena pertempur­an dan aku tidak mau kalian berada di sini. Aku harus me­masti­kan seluruh buku dan benda­benda terlarang ini aman sebelum mengambil langkah berikutnya.”

Av beranjak ke lemari tua, menarik salah satu kotak dari ba­wah lemari, membawanya ke atas meja. Debu tebal beterbangan saat tutup kotak dibuka. 

”Akan aku hadiahkan ini kepadamu.” Av mengeluarkan isi kotak. ”Ini bukan sarung tangan biasa seperti yang terlihat. Ini milik salah satu petarung terbaik yang pernah dimiliki Klan Bulan. Ini bisa membantumu menjaga diri dalam kekacauan yang akan segera terjadi.”

Sarung tangan itu berwarna hitam, terbuat dari kain lembut dan tipis syukurlah, tidak lengket. Aku menerimanya ragu­ragu. Av tersenyum, mengangguk, menyuruhku langsung me­makai­nya. Aku perlahan mengenakan sarung tangan itu. Bahkan Ali, si genius itu menatap tertarik ketika sarung tangan itu sem­purna kupakai. Warna hitamnya ternyata memudar, kemudian berganti warna persis seperti warna kulit tanganku. Aku meng­gerak­gerakkan jari­ku, seakan tidak me­ngenakan sarung tangan apa pun.

Masih ada satu benda lagi di dalam kotak itu. Juga sarung ta­ngan, berwarna putih terang.

”Yang itu bukan milik klan kita.” Av menggeleng. ”Itu milik Klan Matahari. Aku menyimpannya dari salah satu sahabat lama setelah pertempuran antardunia berakhir.”

Aku menoleh ke arah Seli. ”Temanku mungkin bisa memakai­nya.”

Av ikut menatap Seli, menggeleng. ”Sarung tangan ini hanya bisa dipakai anggota Klan Matahari, bukan Makhluk Tanah. Maaf­kan aku harus berkata demikian.”

”Seli bisa mengeluarkan petir dari tangannya,” aku berkata tegas. ”Mengeluarkan petir?” Av menatapku serius.

Aku mengangguk mantap. ”Dia dari Klan Matahari?”

Aku menggeleng. ”Aku tidak tahu. Setahuku Seli teman baik­ku di sekolah selama ini.”

”Jika benar demikian, ini sungguh mengejutkan.” Av menoleh lagi ke arah Seli, menyelidik, lalu menatapku. ”Kenapa kamu tidak bilang 

sejak awal bahwa temanmu bisa mengeluarkan petir dari tangan?” Av kembali memperhatikan Seli.

Seli justru menoleh padaku, menyikut lenganku, bertanya apa yang diucapkan orang berpakaian abu­abu di depannya.

Av berlutut, menyentuh tangan Seli, meng­angkat­nya, meng­usap­nya perlahan, percikan kilat memancar se­belum usapan itu selesai. Av menatap Seli dengan wajah antu­sias. ”Kamu benar. Ini tangan seorang anggota Klan Matahari. Aku sungguh tidak pernah berpikir akan bertemu dengan me­reka setelah seribu tahun berlalu. Lihatlah, berdiri di depanku, bukan hanya anggota Klan Matahari kebanyakan, penduduk biasa, melainkan juga seseorang yang memiliki kekuatan me­ngeluarkan petir. Kamu pasti salah satu petarung terbaik mereka.”

Seli bergantian menatapku, menatap orang di depannya, me­nebak arah percakapan.

”Baik. Ini semakin menarik. Bahkan sangat menarik.” Av meng­usap rambut putihnya, meraih sarung tangan tersisa di kotak berdebu. ”Kalian teman dekat, tinggal di Dunia Tanah, satu  sekolah. Siapa pun Miss Selena yang kamu sebut tadi, dia pasti memiliki rencana besar. Dia menyimpan sesuatu. Kabar baik­nya, semoga dia memang berada di sisi kita. Ini untukmu, pe­tarung dari Klan Matahari. Sungguh kehormatan mengembali­kan sarung tangan ini.”

Seli ragu­ragu menerima sarung tangan itu. Aku mengangguk, menyuruhnya memakainya.

”Dengan berlatih keras, kamu bisa menghasilkan petir berkali­kali lipat lebih hebat dengan sarung tangan ini. Ketahuilah, sumber kekuatan terbaik adalah yang sering disebut dengan tekad, kehendak. Jutaan tahun usia planet ini, ribuan tahun ke­hidupan tiba di dunia ini. Semua mencoba bertahan hidup. Maka kehendak yang besar bahkan lebih kuat dibandingkan kekuatan itu sendiri. Dalam kasusmu, dibandingkan kekuatan meng­hasilkan petir, berlari di atas cahaya, menggerakkan benda­benda dan berbagai kemampuan mengagumkan lainnya yang akan kamu kuasai, kehendak yang kokoh bisa menggandakan ke­kuat­an yang kamu miliki menjadi berkali­kali lipat.” 

Sarung tangan putih itu juga memudar, berganti warna sesuai warna kulit saat sempurna dikenakan Seli. Dengan ragu­ragu Seli menggerak­gerakkan jemarinya, lentur, seperti tidak me­ngenakan apa pun.

”Apakah dia juga punya satu untukku?” Ali berbisik. Aku menoleh. ”Apanya?”

”Kalian berdua dikasih sarung tangan keren, kan? Apakah orang berpakaian abu­abu ini juga punya sarung tangan untuk­ku? Tidak apa walaupun berwarna pink. Yang penting sehebat punya kalian, bisa menyatu dengan kulit.” Ali menatapku se­rius.

Aku hampir menepuk dahi mendengar kalimat si genius ini. Dalam situasi seperti ini? Dia bilang apa tadi? Warna pink?

Tetapi Av memperhatikan percakapan kami.

”Apakah dia juga memiliki rahasia kecil?” Av bertanya, me­nunjuk

Ali.

Ali? Punya rahasia kecil? Aku hampir saja kelepasan bilang iya, si genius ini orang paling menyebalkan di sekolah, si biang kerok, dan tukang mengajak bertengkar. Apakah Av pu­nya alat yang bisa membuat Ali sembuh dari perangai jelek ter­sebut?

Aku mengangguk. Aku memutuskan menilai Ali lebih baik. ”Dia bahkan sebenarnya sudah tahu ada empat dunia di Bumi yang berjalan serempak.”

”Oh ya?” Av memandang Ali dengan tatapan tertarik. ”Dari mana dia tahu? Apakah setelah membaca buku tertentu? Atau ada yang memberitahunya?”

Aku menggeleng. ”Dia menyimpulkannya sendiri.” ”Kamu tidak bergurau?” Mata Av membesar, antusias.

Aku menggeleng. Sesebal apa pun aku terhadap Ali, aku akan menilainya dengan baik. 

Av duduk, meraih tangan Ali, mengusap telapak tangan anak itu per­lahan, lalu tersenyum. ”Kalau saja situasinya lebih baik, dengan senang hati aku akan menawarkan seluruh isi perpustaka­an ini untuk dipelajari seseorang yang amat brilian. Kamu Makhluk Tanah yang spesial. Meskipun klan kalian tidak ada yang me­miliki kekuatan seperti penduduk dunia lain, boleh jadi ke­mampu­an kalian belajar adalah kekuatan itu sendiri. Atau entah­lah, mungkin ada bentuk kekuatan lainnya yang kamu miliki. Ada banyak yang tidak diketahui oleh orang paling ber­pengetahuan sekalipun.”

”Dia bilang apa?” Ali menoleh kepadaku, semangat.

”Tidak ada hadiah untukmu hari ini,” aku menjawab terus terang.

Ali terlihat kecewa, padahal dia sudah senang sekali saat ta­ngan­nya diperiksa. Ali dengan wajah kusut menunjuk lemari tua, berbisik padaku. ”Bukankah masih banyak kotak berdebu di lemari itu? Masa tidak ada hadiah untukku?”

”Waktu kita semakin sempit. Ilo, kamu pimpin anak­anak keluar dari ruangan ini.” Av sudah berdiri lagi, berjalan cepat menuju lemari. Dia menekan tuas tersembunyi. Lemari itu ber­geser, ada lubang kecil di dinding. Di dalamnya sebuah tangga besi tua terlihat.

”Ini bukan cara lari yang canggih. Lubang berpindah pasti sudah diawasi Komite Kota. Kalian juga tidak bisa menggunakan jalur kapsul di depan gedung perpustakaan. Mereka pasti meme­riksa siapa pun yang keluar. Tangga primitif ini cara paling brilian, tidak akan ada yang menduganya. Segera masuk. Mereka sudah mulai menyerang.”

Av benar, terdengar dentuman kencang di luar, juga teriakan­ teriakan keributan.

Ilo masuk lebih dulu, disusul Ali dan Seli. ”Bagaimana denganmu?” aku bertanya.

Av tertawa. ”Jangan mengkhawatirkanku. Merekalah yang ha­rus kamu khawatirkan. Sistem keamanan itu bukan satu­satunya pertahanan Bagian Terlarang. Ayo bergegas, kita pasti akan bertemu lagi cepat atau 

lambat. Kalian akan aman sepanjang tidak ada yang tahu kalian berada di dunia ini. Tamus mengirim anak buahnya tidak untuk mengejar kalian. Dia memburu isi ruangan ini.”

Aku memasuki lubang tua, sepertinya sudah lama sekali tidak ada yang menggunakannya. Lubang tua ini dipenuhi jaring laba­laba.

Av menatap Ilo. ”Jangan membuat kontak dengan siapa pun, Ilo. Kamu bawa mereka ke tempat yang aman. Hati­hati meng­gunakan sistem transportasi umum. Setidaknya, kamu amat terkenal di kota ini. Semoga itu berguna mengalihkan perhatian orang­orang jika ada yang bertanya.”

Ilo mengangguk.

”Dan kamu, hati­hati dengan kekuatan yang kamu miliki. Jangan gunakan sembarangan di tempat terbuka. Itu bisa meng­undang perhatian banyak orang. Sekali Tamus tahu kamu sudah ber­ada di dunia ini, seluruh Pasukan Bayangan akan mengejar­mu.”

Aku mengangguk.

Av menarik tuas. Lemari itu bergerak kembali ke posisi se­mula, menutup lubang, membuat gelap ruang sempit dengan anak tangga besi. Kami sepertinya harus memanjat anak tangga ini ke atas.

Kami mendongak. Seli langsung bergumam, ”Ra, ujung lubang itu jauh sekali di atas sana. Saking jauhnya, hanya titik kecil cahaya yang terlihat. Gedung perpustakaan ini pastilah ratusan meter di perut Bumi.”

Aku mengangguk. Terdengar dentuman lagi di kejauhan. Dinding lubang ber­getar kencang, satu­dua kerikil di dinding berjatuhan.

”Ayo anak­anak, bergegas.” Ilo sudah lebih dulu memanjat.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊