menu

Bumi Bab 30

Mode Malam
Bab 30
KAPSUL kereta itu berhenti lima menit kemudian. Ilo ber­jalan di depan, turun.

Entah berada di mana kami sekarang, tapi hamparan rumput terpangkas rapi menyambut kami, tampak hijau seluas lapangan sepak bola. Jika itu belum cukup, di sisi kiri dan kanan lapangan terlihat air terjun setinggi pohon kelapa, debum air menimpa bebatuan seperti bernyanyi, sungai jernih mengalir, kelokannya hilang di belakang sebuah gedung besar. Saking besarnya gedung itu, jika dipotret, aku tidak yakin lensa kamera bisa menangkap seluruh bagiannya jika diambil dari jarak jauh sekalipun. Aku mendongak menatap langit. Kami sepertinya masih berada di dalam tanah, karena meskipun langit terlihat biru, itu tidak asli, tidak ada matahari di atas sana.

”Ini Perpustakaan Sentral. Tempat semua catatan dan buku disimpan, semua ilmu dikumpulkan. Tidak ada tempat lebih baik dibanding ini jika kita membutuhkan jawaban,” Ilo menjelas­kan sebelum ditanya. Dia melangkah lebih dulu, berjalan menuju gedung tinggi itu.

Kami membutuhkan dua menit melintasi hamparan rumput hijau, lalu tiba di pintu gedung.

Ruangan depan gedung itu dipenuhi meja­meja panjang dan bangku. Lantainya terbuat dari pualam mewah. Belasan lampu kristal tergantung di langit­langit ruangan, sama seperti interior Stasiun Sentral. Bedanya, rak buku setinggi gedung tiga lantai memenuhi dinding ruangan. Aku menelan ludah menatap begitu banyak buku di dinding. Beberapa orang terlihat membaca di meja­meja panjang. Beberapa belalai bergerak merambat di rak­rak itu, sepertinya itu alat mencari judul buku, berhenti meng­ambil buku, kemudian bergerak lagi.

Salah satu petugas perpustakaan menyapa ramah Ilo—seorang ibu separuh baya yang mengenakan jaket gelap. Mereka saling kenal, ber­bicara serius sebentar. Ibu itu memeriksa se­jenak buku besar di atas meja, lantas mengangguk, meminta kami berjalan di belakangnya. 

Kami melewati pintu bundar, masuk ke dalam lorong remang. Di dunia ini setiap kamar atau ruangan sepertinya dihubungkan lorong­ lorong, termasuk juga setiap gedung, bangunan, pun di atas sana, rumah­ rumah berbentuk bangunan balon. Jika tidak ada lorong secara fisik, bangunan dihubungkan dengan lorong virtual yang mereka sebut lorong berpindah.

Tiba di ujung lorong, ibu separuh baya itu mendorong pintu bulat. Kami masuk ke ruangan yang lebih kecil, dengan interior sama.

Seluruh dinding ruangan itu dipenuhi rak buku tinggi yang bersusun

buku­bukunya. Ruangan itu sepi, tidak ada pe­ngunjung di meja­meja panjang. Yang ada hanya seorang petugas. Ada plang besar di atas kepala kami bertuliskan: ”Bagian Ter­batas. Hanya untuk Pengunjung dengan Izin”.

Petugas itu menggeleng saat ibu separuh baya menyampaikan sesuatu. Juga menggeleng saat Ilo membujuknya. ”Anda bisa mem­­baca semua buku di ruangan ini, Master Ilo. Buku apa saja. Tapi tidak di bagian berikutnya.”

”Kami harus masuk. Ini penting sekali.” Ilo menyisir rambut­nya dengan jemari. Wajahnya tegang.

Petugas itu menggeleng. ”Kami tidak akan melanggar protokol  paling tinggi di gedung ini.”

”Kalau begitu, izinkan aku bicara dengan kepala perpustakaan.” Ilo mengembuskan napas.

Petugas itu berdiskusi sebentar dengan ibu separuh baya dari ruangan depan. Dia mengangguk, menekan tombol di atas meja­nya, tersambung dengan ruangan lain.

”Apa yang sedang terjadi, Ra?” Seli berbisik, memegang lengan­ku. ”Mereka sedang memutuskan apakah kita bisa masuk ke ruangan

berikutnya atau tidak.”

”Ruangan apa?” Seli bertanya cemas. 

”Aku tidak tahu.”

Petugas menyuruh kami menunggu.

Pintu bulat di ruangan itu terbuka dua menit kemudian, dan muncullah seseorang yang terlihat sepuh. Tangannya memegang tongkat. Rambutnya putih, tapi wajahnya masih segar. Aku menatapnya lamat­ lamat. Orang tua ini me­ngena­kan pakaian berwarna abu­abu. Itu warna paling terang yang kami lihat sejak memasuki dunia ini.

”Halo, Ilo,” orang tua itu menyapa ramah, mendekati kami.

Ilo balas menyapa pendek, menggenggam tangan orang tua itu. Syukurlah, setidaknya mereka berdua juga saling kenal—atau mungkin juga Vey benar, Ilo amat terkenal di kota ini, jadi siapa pun tahu dia.

”Ada yang ingin kubicarakan. Ini mendesak dan penting sekali,” cetus Ilo.

”Oh ya?” tanya orang tua itu.

”Aku harus mengunjungi Bagian Terlarang Perpustakaan.”

Orang tua itu terkekeh panjang. ”Kamu bahkan tidak bertanya apa kabarku, tidak bercerita apa kabar keluarga kalian. Bagaimana Vey? Ou? Dan si sulung Ily? Sudah hampir setahun dia tidak pulang dari akademi, bukan?”

Mereka berdua ternyata lebih dari saling kenal. Aku terus memperhatikan.

”Itu bisa dibicarakan nanti. Mereka baik­baik saja.” Ilo meng­geleng. ”Ini mendesak.”

”Oh ya? Seberapa mendesak?”

”Amat mendesak.” Ilo menatap serius.

”Baiklah. Ada apa sebenarnya?” Orang tua itu mengangguk takzim.

Ilo menggeleng, terdiam sejenak. ”Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku justru sedang mencari pen­jelasannya. 

Itulah kenapa aku harus mengunjungi Bagian Ter­larang perpustakaan kota.”

”Kamu seharusnya tahu, kamu membutuhkan surat berisi persetujuan seluruh Komite Kota untuk bisa masuk ke dalam bagian itu, Ilo.” Orang tua itu menggeleng. ”Tanpa izin itu, tidak ada satu pun yang bahkan bisa berdiri sepuluh langkah dari pintunya dengan selamat. Bagian itu dilindungi seluruh sistem keamanan gedung, disegel dengan kekuatan tertentu, dan di atas segalanya, aku menjaganya dengan nyawaku sendiri.”

Sesaat aku seperti bisa melihat wajah orang tua ber­pakai­an abu­ abu itu tampak begitu berwibawa. Bola matanya yang me­natap tajam bersinar.

Ilo meremas jemarinya, menoleh padaku. ”Ra, kamu keluarkan buku PR matematika itu.”

Aku mengambil buku PR matematika dari ransel yang dibawa Ali. Ilo tidak sabar menunggu, menerima buku itu dengan tangan bergetar— seperti khawatir disetrum lagi. Ilo menyerah­kan buku itu kepada orang tua di hadapannya.

”Ini buku apa?” Orang tua berpakaian abu­abu itu menatap Ilo. ”Kamu periksa saja. Itu tiketku untuk masuk ke dalam Bagian

Terlarang.”

”Ini hanya sebuah buku tulis biasa, Ilo.”

”Kamu periksa saja lebih detail.” Ilo menggeleng tegas. ”Baik, mari kita lihat.” Orang tua itu mengangguk takzim. Aku memperhatikan.

Orang tua berpakaian abu­abu itu mulai memeriksa. Dia tidak membuka sembarang halaman, mencoba menggurat tulisan seperti yang dilakukan Ilo. Dia menghela napas sebentar, kemudi­an bergumam pelan, mengucapkan sesuatu, mengusap lembut buku bersampul kulit dengan 

gambar bulan sabit milikku. Be­lum selesai tangannya mengusap, buku PR­ku sudah mengeluar­kan sinar yang terang sekali.

Gambar bulan sabitnya seperti keluar di udara. Terlihat elok. Semua orang di ruangan itu menahan napas.

”Astaga!” Orang tua itu berseru, buku itu terlepas dari tangan­nya.

Aku hendak menyambarnya agar tidak jatuh. Tapi alih­alih jatuh, buku itu justru mengambang di udara. Sinar yang keluar dari bulan sabit menimpa wajah kami.

Saat kami sibuk menatap takjub buku yang melayang di udara, orang tua berpakaian abu­abu itu menoleh kepadaku. ”Apakah buku ini milikmu?”

Aku mengangguk.

”Gadis Kecil, siapakah kamu sebenarnya?”

Pertanyaan itu membuat orang­orang menoleh padaku.

Seli yang sejak tadi memegang tanganku, refleks melepaskan tangannya. Ali yang biasa sibuk memperhatikan sekitar, ikut ter­diam. Dua petugas perpustakaan bahkan dengan gemetar me­nunduk, tak berani melihat wajahku.

”Aku? Eh, namaku, Raib,” aku refleks menjawab.

Saat itu seluruh tubuhku bersinar terang. Sinarnya juga me­nerpa wajahku.

Beberapa saat hanya lengang di ruangan pengap tersebut, hing­ga sinar yang keluar dari sampul buku PR matematikaku per­lahan redup, kemudian lenyap. Ilo bergegas menyambarnya se­belum buku itu jatuh.

”Bagaimana? Apakah kamu akan mengizinkan kami masuk ke Bagian Terlarang, Av? Buku ini tiket masuknya.” Ilo mengacung­kan buku milikku dengan yakin.

*** 

”Tidak ada yang boleh menceritakan kejadian ini kepada siapa pun.”

Av, demikian nama orang tua berpakaian abu­abu itu, berkata tegas kepada dua petugas perpustakaan. ”Padamkan sistem keamanan Bagian Terlarang beberapa saat. Aku akan mengajak Ilo dan tiga anak ini masuk ke dalamnya.”

”Aku ingat sekali, terakhir kali Bagian Terlarang perpustakaan ini dibuka adalah seribu tahun lalu. Aku sendiri yang membuka­nya, dan aku sendiri pula yang menyegelnya hingga hari ini.” Av menghela napas perlahan, ”Mari, ikuti aku.”

Av melangkah pelan. Suara tongkatnya mengenai lantai pua­lam, bergema.

Kami menuju pintu bulat, masuk ke dalam lorong panjang lagi. ”Wajahmu tadi terlihat terang sekali, Ra,” Seli berbisik. ”Seperti

purnama besar.”

Aku menoleh, tidak mengerti.

”Aku seperti bisa melihat bulan dari jarak dekat,” Seli masih berbisik.

Aku menatap Seli. ”Bulan?”

”Kita telah tiba,” Av yang berdiri di depan berkata pelan, me­motong percakapan.

Kami tiba di ujung lorong. Tidak ada yang istimewa dari pintu bulat itu, seperti pintu­pintu lain yang pernah kami temui di dunia ini.

”Jangan tertipu dengan tampilannya, anak­anak. Tidak ada yang bisa mendekati pintu ini jika sistem keamanannya diaktif­kan,” seakan bisa membaca pikiran kami, Av berkata datar. ”Ti­dak, bahkan dengan seribu Pasukan Bayangan tetap tidak.”

Av mengacungkan tongkatnya ke depan, mengetuk beberapa kali, membuat irama tertentu. Terlihat pita kuning bersinar di daun pintu. Cahayanya sekaligus membuat jelas sarang laba­laba dan debu di sekitar 

kami. Sepertinya sudah lama sekali tidak ada orang yang mengunjungi lorong ini. Av merobek segel pita itu dengan tongkatnya, lantas mendorong daun pintu.

Pintu berderit pelan.

Ruangan yang kami masuki pengap dan gelap.

Av mengetukkan tongkatnya lagi ke lantai, beberapa lilin me­nyala, membuat terang sekitar. Aku bisa melihat tembok ruang­an yang terbuat dari batu bata tanpa diplester dan lantainya dari batu kasar. Ruangan itu tidak besar, paling hanya seluas kelasku. Hanya ada satu lemari di sudutnya, berisi gulungan besar, peti berwarna hitam, dan buku­buku. Sebuah meja panjang dan beberapa kursi persis berada di tengah, terlihat berdebu, tua, dan kusam. Juga ada sebuah perapian kecil di dinding ruangan de­ngan kayu bakar yang menumpuk, lama tidak disentuh, entah untuk apa perapian tersebut.

Av menutup rapat daun pintu, melangkah ke tengah ruang­an. ”Kalian bertiga jelas tidak datang dari dunia ini.” Av menoleh

kepada kami, menatap kami satu per satu. ”Siapa saja kalian?”

Ilo memperkenalkan kami satu per satu. ”Bagaimana kamu menemukan mereka bertiga, Ilo?”

”Mereka muncul di rumahku tadi malam, saat aku mengantar Ou tidur.”

”Itu pasti sedikit mengejutkan, menemukan orang asing di dalam rumah. Dan kamu awalnya berpikir mereka hanya tersesat karena kesalahan teknis lorong berpindah?”

Ilo mengangguk.

”Setidaknya kabar baiknya, kalian muncul di rumah cucu dari cucu cucuku. Bukan di tempat keliru.” Av menyeka rambut pu­tih­nya.

”Dia bilang apa?” Ali berbisik di sebelahku. 

”Dia bilang Ilo adalah cucu dari cucu cucunya.” Ali dan Seli menatapku tidak mengerti.

”Dan tentu saja kamu fasih berbicara bahasa kami.” Av me­natap­ku lamat­lamat. ”Kemampuan itu melekat saat kamu di­lahir­kan. Juga seluruh kekuatan lain, kamu peroleh sejak lahir.”

Ruangan pengap itu lengang sejenak.

”Apakah kamu tahu siapa dirimu, Nak?” Av bertanya lem­but.

Aku menggeleng pelan, tidak mengerti. Tadi aku sudah me­nyebut namaku. Kalau hal tersebut ditanya lagi, berarti itu bu­kan jawaban yang diharapkan.

”Baik. Akan kujelaskan masalah ini.” Av melangkah ke lemari di dinding ruangan.

Kami memperhatikan.

Av kembali dengan membawa salah satu gulungan besar. Dia meletakkan gulungan itu di atas meja, menepuk debu tebal, mem­buat gambar di atas gulungan lebih bersih.

Aku tahu itu apa meski warnanya sudah kusam, ujung­ujung kertas­nya robek, dan gambarnya amat sederhana. Saat dihampar­kan di atas meja, aku mengenalinya, itu peta Bumi ber­ukuran besar.

”Kalian di dunia sana menyebut dunia ini dengan sebutan ‘Bumi’, bukan?”

Dunia sana? Tapi aku memutuskan mengangguk, tidak banyak tanya.

”Inilah peta Bumi itu yang dibuat puluhan ribu tahun lalu.” Av mengetuk peta itu pelan. Garis­garis peta mulai bersinar, membuat lebih jelas bentuk benua, pulau, dan sebagainya.

”Sejak kecil, kamu selalu bilang dunia ini tidak sese­derhana yang kamu lihat, bukan? Kamu bilang, dunia ini seperti game yang jago kamu 

mainkan.” Av tertawa pelan, menoleh kepada Ilo di sebelahnya. ”Kamu benar, Ilo. Walau aku selalu pura­pura menertawakan pertanyaan itu, bilang itu hanya imaji­nasi, khayal­an, tapi tentu saja kamu adalah cucu dari cucu cucuku. Kamu memiliki naluri untuk tahu. Sayangnya aku tidak bisa menjelas­kan saat itu. Aku sebaliknya bertugas melindungi banyak raha­sia. Biarlah hari ini akan kujelaskan rahasia itu.

”Dunia yang kita tinggali memang tidak sesederhana yang kita lihat. Perhatikan peta baik­baik.” Av mengetuk lagi peta di atas meja, dan entah dari mana asalnya, muncul gambar beraneka ragam di atasnya, dengan warna­warni indah.

”Ada empat kehidupan yang berjalan secara serempak di atas planet ini. Yang pertama adalah Klan Bumi atau disebut juga dengan Makhluk Tanah atau Makhluk Rendah. Istilah itu tidak merujuk pada rendahnya status mereka—walaupun kenyataannya mereka memang yang paling primitif ilmu pengetahuannya—melainkan merujuk klan ini memang hidup di atas permukaan tanah.”

Saat Av menjelaskan, garis­garis yang mengeluarkan sinar di atas peta membentuk gambar rumah­rumah, orang­orang, sawah, jalan, jembatan, dan lainnya.

”Klan Bumi adalah yang paling banyak jumlahnya. Paling ba­nyak memanfaatkan sumber daya planet. Beberapa bijak, bebe­rapa rakus dan tamak. Makhluk Tanah memiliki pengetahuan dan teknologi amat terbatas. Tetapi sebagian besar dari mereka pembelajar yang baik, satu­ dua bahkan bisa menyentuh level menakjubkan, termasuk memiliki kekuatan khas. Pertempuran dan kerusakan selalu mengiringi Klan Bumi. Ambisi berkuasa mereka besar, tapi syukurlah, itu dibatasi dengan kemampuan sendiri. Setidaknya tidak ada di antara mereka yang punya ide ingin menyerbu dunia lain.”

Av mengetuk lagi peta di hadapannya. Gambar menghilang, berganti gambar bangunan balon­balon di udara, hutan yang subur.

”Yang kedua adalah Klan Bulan atau juga dikenal dengan sebutan Makhluk Bayangan. Itu adalah kita, Ilo. Kita tinggal di atas tanah, memiliki pengetahuan dan teknologi paling maju. Jumlahnya hanya sepersepuluh Klan Bumi, tapi tersebar rata di seluruh dunia. Dengan 

pengetahuan, kita mampu me­ngeduk tanah, membuat kehidupan di dalam tanah, karena klan kita menghindari merusak permukaan.

”Penduduk Klan Bulan memiliki kebijaksanaan hidup dan pengetahuan yang mengagumkan. Mereka menemukan alat­alat mutakhir, berkali­kali lipat lebih canggih dibanding Makhluk Tanah. Bahkan segelintir kecil Klan Bulan memahami rahasia bahwa dunia ini tidak sesederhana seperti yang terlihat. Mereka juga memiliki kekuatan besar, seperti menembus sekat, petarung yang hebat dan terhormat. Kamu salah satunya. Kamu mungkin belum tahu, bingung, tapi kekuatan itu sudah kamu miliki sejak kecil.”

Semua orang menoleh kepadaku, termasuk Seli dan Ali yang sejak tadi tidak sabar ingin tahu apa yang dijelaskan Av. Mereka hanya bisa menebak­nebak arah pembicaraan.

”Seharusnya Klan Bulan adalah yang paling damai dan ten­teram. Kita adalah klan yang paling beradab dengan budaya paling tinggi. Tapi situasi itu justru menimbulkan hal baru yang rumit. Segelintir kecil penduduk yang mengetahui rahasia dunia lain ternyata memiliki ide mengerikan. Mereka ingin menguasai dan menjajah dunia lain. Seribu tahun lalu, mereka memutuskan membuka lorong ke dunia Makhluk Tanah, menguasai Klan Bumi.

”Ide itu ditentang banyak orang. Tapi dalam sistem klan kita saat itu, seluruh negeri diperintah kerajaan. Kendali penuh ada di tangan orang­orang dengan kekuatan. Perang besar terjadi. Orang­orang biasa dengan dukungan pemilik kekuatan yang masih berpikir waras memutuskan membentuk Komite Kota, menolak ide itu. Aku yang bertugas sebagai penjaga perpustaka­an membuka Bagian Terlarang ini untuk menemukan cara men­cegah hal itu. Mahal sekali harganya. Kerajaan yang menguasai seluruh negeri runtuh, berganti sistem menjadi Komite Kota. Puluhan ribu Pasukan Bayangan tewas, dan lebih banyak lagi penduduk biasa gugur. Entah apa itu harga yang sepadan atau tidak. Lorong itu berhasil digagalkan.” Av menghela napas, mengusap rambut putihnya.

Aku terdiam, menelan ludah. 

Av mengetuk peta lagi perlahan. Gambar bangunan balon lenyap, berganti gambar kapal­kapal dan benda­benda mengagum­kan yang melayang di atas peta.

”Yang ketiga adalah Klan Matahari atau juga dikenal dengan Makhluk Cahaya. Mereka tinggal di atas, di antara awan­awan. Mereka memiliki pengetahuan dan teknologi sama majunya dengan Klan Bulan. Aku dengar mereka juga berhasil membuat kehidupan di dalam tanah, lebih dalam lagi dibanding peradaban kami, tapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Seribu tahun lalu, saat Klan Bulan hendak menjajah Makhluk Tanah, aku membuka sekat menuju Klan Matahari. Itulah jawaban yang kutemukan di Bagian Terlarang Perpustakaan. Kami membuat aliansi dengan mereka.

”Jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding kami. Klan Matahari adalah penduduk yang tenang, hangat, dan ramah. Me­reka sama sekali tidak berpikir tentang ambisi berkuasa. Mereka lebih mencintai persahabatan, kesetiakawanan. Kami susah payah membujuk penguasa Klan Matahari untuk mem­bantu, karena amat jelas, sekali penguasa Klan Bulan berhasil menguasai dan menjajah Makhluk Tanah, mereka tidak akan pernah merasa cukup, hanya soal waktu juga mereka akan me­nyerbu Klan Matahari. Tidak terbayangkan klan yang ramah itu memutuskan ikut perang. Penguasa mereka pada detik­detik ter­akhir memutus­kan membantu. Lorong antardunia dibuka. Per­tempuran besar terjadi. Banyak sekali Pasukan Cahaya yang tewas.”

Av menunduk, menghela napas panjang, terdiam lama.

”Aku minta maaf jika membuat kamu harus mengingat hal itu, Av.” Ilo memegang lengan orang tua dengan pakaian abu­abu itu.

Av menghela napas, tersenyum getir. ”Tidak apa, Nak. Kalian harus mendengarnya, dan aku harus menceritakannya.

”Setelah peperangan usai, penguasa Klan Matahari memutus seluruh lorong menuju dunianya. Aku kira itu tindakan bijak. Dunia mereka kacau­balau karena perang. Beberapa penduduk mereka mengungsi. Boleh jadi mereka terpaksa melintasi sekat antardunia. Aku tidak mendengar kabar dari mereka sejak hari itu. Juga tidak pernah 

bertemu salah satu dari mereka. Entahlah. Apa­kah dunia mereka semakin makmur atau semakin me­mudar.”

Aku menatap lamat­lamat Seli di sebelahku.

Av kembali mengetuk pelan peta. Gambar kapal­kapal dan benda terbang menghilang. ”Yang keempat adalah Klan Bintang, atau disebut juga Klan Titik Terjauh.”

Tidak muncul gambar apa pun di atas peta Bumi selain garis­garis benua.

”Sayangnya, tidak ada yang memiliki pengetahuan tentang dunia ini. Termasuk seluruh buku dan gulungan tua di perpustakaan. Tidak ada yang pernah menembus dunia mereka. Tidak ada yang tahu tingkat kebudayaan dan kemampuan mereka. Beribu tahun tanpa kabar. Jika selama itu tidak ada yang tahu, itu boleh jadi dua hal. Pertama, dunia itu sudah memudar, dan kedua, dunia itu memang amat terpisah dari tiga dunia lainnya. Klan Bintang adalah dunia yang paling tua, mereka pasti memiliki pengetahuan paling maju.”

Av mengetuk peta untuk terakhir kalinya. Seluruh gambar kembali muncul. Gambar rumah, jembatan, jalan, sawah, perkebunan, juga bangunan tinggi balon­balon, kapal­kapal, dan benda melayang, terlihat rapi di atas peta.

”Inilah empat dunia di atas satu planet yang kalian sebut Bumi. Empat kehidupan yang berjalan serempak. Tidak ada yang tahu satu sama lain. Tidak saling melihat, tidak saling ber­singgung­an. Ini sebenarnya indah sekali tanpa ambisi perang dan saling menguasai. Empat dunia dalam satu tempat.” Av menatap peta itu, perlahan­lahan cahaya gambar dan garisnya redup lantas kembali seperti semula, menyisakan peta besar berdebu.

Ruangan pengap itu lengang lagi sejenak.

”Apa yang dia jelaskan sejak tadi, Ra?” Ali berbisik tidak sabar, menyikut lenganku. 

Aku menatap Ali dengan tatapan jauh lebih menghargai. ”Dia menjelaskan bahwa semua yang kamu katakan tadi malam tentang empat lapangan di lantai aula sekolah itu benar.”

”Sungguh?” Ali menatapku tidak percaya. Aku mengangguk. Dia memang genius.

”Apakah kamu bisa menghilang, Nak?” Av bertanya padaku, mengabaikan Ali yang sekarang tertawa kecil dan berbisik­bisik kepada Seli, menyombong.

Aku mengangguk.

”Kamu juga bisa menghilangkan benda­benda di duniamu?” Aku mengangguk lagi.

”Apakah orangtuamu tahu kamu bisa menghilang?” Aku menggeleng.

Av mengangguk takzim, menatapku lembut. ”Sudah kuduga. Mereka tentu saja tidak tahu. Kamu tahu kenapa mereka tidak tahu, Gadis Kecil?”

Aku bingung dengan maksud tatapan itu.

”Karena mereka bukan orangtuamu yang sesungguhnya.”

Apa! Tubuhku sontak me­matung. Orang tua berpakaian abu­abu ini bilang apa? Papa dan Mama bukan orangtuaku yang se­sungguhnya? Tidak mungkin! Tidak masuk akal. Mana mungkin Mama—yang pasti sekarang sedang rusuh mencariku di dunia kami—bukan mamaku? Atau Papa yang mungkin sedang buru­buru pulang—yang selalu meninggalkan kantor jika ada situasi darurat seperti ini—bukan papaku?

”Itu benar, Nak. Jika kamu tidak bisa memercayainya, itu karena sepertinya tidak masuk akal. Bukankah kamu yang bisa meng­hilang ini jelas lebih tidak masuk akal dibanding fakta kecil itu? Suka atau tidak, kamu jelas bukan bagian dari Makhluk Tanah. Kamu penduduk Klan 

Bulan. Orangtuamu pasti dari sini. Entah siapa pun mereka. Apa pun alasan mereka melaku­kan­nya. Mereka berhasil meloloskanmu ke dunia Bumi, dan kamu tum­buh normal di sana, dengan segala keistimewaan yang amat isti­mewa.”

Aku terhuyung, jatuh terduduk di atas bangku. Mama dan Papa bukan orangtuaku? Itu mustahil.

Seli bergegas memelukku, bertanya cemas, ”Ada apa, Ra?” Juga Ali, lompat mendekat. ”Kamu sakit, Ra?”

Aku merasa ruangan itu sangat pengap.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊