menu

Bumi Bab 29

Mode Malam
Bab 29
SESUAI rencana tadi malam, setelah sarapan, Ilo akan meng­antar kami ke pusat pengawasan lorong berpindah, untuk me­nemu­kan jalan pulang.

”Ini sepertinya bukan ide yang baik, Ra,” Ali berkata pelan, saat kami disuruh menunggu di ruang tengah. Ou sedang ber­siap, mengambil tas sekolahnya. Sang ibu ikut mengantarnya ke sekolah.

”Tidak akan ada yang bisa membantu kita di pusat peng­awasan lorong itu. Saat mereka bertanya detail, jelas kita tidak bisa menjelaskan bahwa kita datang dari dunia berbeda. Semaju apa pun teknologi dunia ini, itu tetap penjelasan tidak masuk akal. Bagaimana kalau mereka menganggap kita berbahaya? Me­nangkap kita?”

Aku sebenarnya sependapat dengan Ali. Tapi apa yang bisa kami lakukan?

”Mereka hanya berpikir kita datang dari kota atau tempat lain.

Tersesat. Sesederhana itu,” Ali bergumam.

”Setidaknya keluarga ini baik dan ramah. Aku percaya Ilo tidak akan mengantar kita ke tempat jahat,” Seli berkata pelan.

Sejak tadi malam, Seli menerima apa pun solusinya, sepanjang bisa membuat kami pulang layak untuk dicoba. Keberadaan bangku belajar, novel, flashdisk, dan benda­benda milikku yang ditemukan di kamar Ou dengan sendirinya memastikan kami berada di dunia lain seperti penjelasan Ali tadi malam. Tapi Seli juga benar, keluarga ini baik kepada kami. Ou terlihat lucu, ibu­nya ramah dan cantik—lebih cocok menjadi model terkenal dan Ilo, selain baik, masih terlihat muda, tam­pan, sepertinya bukan sekadar desainer pakaian biasa.

Ou bernyanyi­nyanyi riang, keluar dari kamar membawa tas sekolah.

”Jangan berlari di rumah, Ou!” tegur sang ibu diiringi se­nyum. 

”Kalian sudah siap?” tanya Ilo, yang keluar dari ruang kerjanya de­ngan membawa tas.

Aku mengangguk.

”Baik, mari kita berangkat.” Ilo menekan tombol di pergelangan tangannya.

Sebuah lubang muncul di depan kami, awalnya kecil, kemudian membesar setinggi orang dewasa. Pinggirnya berputar­putar seperti gumpalan awan hitam. Ou lompat lebih dulu masuk, disusul ibunya. Kami bertiga ikut masuk. Terakhir di belakang, Ilo melangkah. Lubang itu mengecil, lenyap. Kami berada dalam kegelapan selama beberapa detik, kemudian muncul titik cahaya kecil, membesar membentuk lubang besar. Kami bisa melangkah keluar.

”Selamat datang di Stasiun Sentral.” Ilo tertawa melihat wajah bingung kami.

Aku kira pertama­tama kami akan menuju sekolah Ou. Ternyata

tidak.

Ini bukan sekolah. Ini ruangan besar yang megah, mirip stasiun kereta, tapi berkali­kali lebih canggih dari­pada stasiun kereta paling modern di dunia kami berasal. Belasan jalur kereta, puluhan kapsul berlalu­lalang, seperti me­ng­ambang di rel, datang dan pergi. Jalur­jalur itu tidak hanya horizontal, tapi juga verti­kal, ke segala arah. Ada yang masuk ke bawah tanah, menyam­ping, bahkan ke atas, masuk ke dalam lorong, ada banyak sekali arah jalur. Ruangan megah itu terlihat terang. Lantainya terbuat dari pualam terbaik. Dindingnya ce­merlang. Di langit­ langit tergantung belasan lampu kristal mewah.

Orang­orang berlalu­lalang, terlihat sibuk, bergegas. Naik­turun, pindah jalur. Hamparan lantai stasiun dipadati kesibukan pagi hari.

”Kalian sepertinya tidak pernah melihat stasiun kereta.” Ilo menepuk bahu Ali si genius itu sampai ternganga menyaksikan stasiun.

”Kita tidak lewat lubang berpindah menuju sekolah Ou?” aku bertanya. 

”Di kota ini, lubang berpindah hanya digunakan untuk  trans­portasi di atas. Tidak di bawah. Di dalam tanah, kami meng­gunakan cara lama yang lebih mengasyikkan. Dengan kapsul kereta.”

”Ini di dalam tanah?” aku bertanya bingung.

”Seluruh kegiatan kota memang ada di dalam tanah. Kami tidak mau merusak hutan, sungai, apa pun yang ada di per­muka­an. Itulah kenapa rumah­rumah dibangun di atas tiang tinggi puluhan meter. Sedangkan gedung­gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sekolah diletakkan di dalam tanah. Tenang saja, ini persis seperti di atas permukaan, sirkulasi udara, cahaya, semuanya sama, bahkan kamu tidak akan menyadari sedang berada ratusan meter di bawah tanah, di dalam batuan keras. Satu­satunya perkantoran yang berada di atas tanah adalah Tower Komite Kota atau di sebut juga Tower Sentral yang ber­ada di atas, menara dengan banyak cabang bangunan yang kalian lihat tadi malam.”

Salah satu kapsul merapat di dekat kami.

”Ayo, kita naik. Kapsulnya sudah datang.” Ilo melangkah.

Pintu kapsul terbuka. Ou masuk lebih dulu. Kapsul itu tidak berbeda dengan satu gerbong kereta berukuran kecil. Ada belasan kursi di dalamnya, sebagian sudah diisi penumpang lain. Dinding kapsul yang menjadi layar televisi menampilkan infor­masi perjalanan dan siaran.

Ali menatap sekitar tidak henti­hentinya. Dia tidak peduli orang lain memperhatikannya. Aku sempat khawatir melihat kelakuan Ali, apalagi beberapa orang di dekat kami tiba­tiba berdiri. Anak­anak remaja, me­makai seragam, mereka terlihat berseru­seru antusias. Mereka mengeluarkan buku, mendekati bangku kami.

Apa yang akan mereka lakukan? Aku menyikut Ali agar ber­tingkah lebih normal.

”Kalian harus terbiasa dengan hal ini,” justru Vey yang ber­bisik, menahan tawa. 

Anak­anak remaja seumuran kami itu menyapa Ilo—tentu saja bukan menyapa Ali. Satu­dua berseru­seru senang. Mereka mengulurkan buku bersampul kulit masing­masing.

Aku segera tahu apa yang sedang terjadi. Di layar televisi terlihat tayangan, mungkin itu sebuah iklan. Wajah Ilo tampak close up memenuhi layar, tersenyum memamerkan koleksi pakai­an terbaru.

”Ilo desainer pakaian paling terkemuka. Dia melakukan revo­lusi besar­besaran dengan teknologi yang ditemukannya. Dia selebritas, tidak kalah terkenalnya dibanding pesohor lain di kota ini. Tapi begitulah, di rumah dia tetap ayah yang kadang mem­bosankan bagi Ou.” Vey tertawa lagi. ”Bahkan kalian ber­tiga tidak kenal Ilo, bukan? Sepertinya dari tempat kalian datang, Ilo tidak dikenal siapa pun. Padahal Ilo selalu me­nyombong dirinya terkenal di mana­mana.”

Aku ikut tertawa—lebih karena aduh, lihatlah, anak­anak remaja itu masih berseru­seru saat buku mereka ditandatangani, saling menunjukkan buku, wajah seolah histeris, lantas kembali ke bangku masing­masing. Mereka persis teman remajaku di sekolah setiap melihat artis idola atau penyanyi boyband dari Korea.

”Apa yang terjadi?” Seli bertanya, di sebelahku.

”Gwi yeo wun,” aku, menjawab sekenanya, teringat beberapa hari lalu di dunia kami, Seli mengatakan kalimat itu saat Ali tiba­tiba datang ingin mengerjakan PR mengarang ber­sama.

Ali tidak mendengar kalimatku. Dia masih sibuk memperhati­kan, terpesona menatap buku­buku yang dibawa penumpang ber­seragam. Tadi saat menandatangani buku penggemarnya, Ilo hanya mengguratnya dengan ujung jari. Tulisannya muncul sen­diri di atas kertas. Itu jelas lebih menarik bagi si genius ini.

Kapsul yang kami naiki terus melesat cepat dalam jalur ke­reta. Di luar tidak terlihat apa­apa, tapi sepertinya kami masuk semakin dalam.

”Kamu tahu, Ra, aku lebih suka menggunakan kapsul ini di­bandingkan lorong berpindah.” Ilo yang selesai melayani peng­gemarnya kembali mengajakku bercakap­cakap. ”Lebih 

konven­sional, seperti desain baju yang kubuat, tapi lebih nyaman dan aman.

”Sistem lorong berpindah itu menggunakan energi yang terlalu besar. Boros. Kelak kalau insinyur kami menemukan cara berpindah di atas dengan teknologi lebih murah, tanpa harus membuat jalan di hutan, jembatan, dan sebagainya yang bisa merusak, mungkin kami akan menyingkirkan sistem lorong berpindah.”

Aku hanya diam, mendengarkan.

Setelah beberapa menit melesat, kapsul itu akhirnya berhenti. Ou dan ibunya berdiri.

”Kita sudah tiba di sekolah Ou,” Ilo menjelaskan.

”Ayo, ucapkan selamat tinggal kepada Ayah dan kakak­kakak.” Vey tersenyum.

Ou meloncat riang. Dia memeluk Ilo, kemudian me­nyalami kami bertiga, mengucap salam, lantas turun dari kap­sul.

”Semoga kalian segera bisa pulang ke rumah. Orangtua kalian pasti sudah cemas sekali.” Vey menyalami kami.

”Terima kasih banyak,” aku berkata sopan.

Kami bertiga ikut berdiri, mengantar hingga ke pintu kap­sul. ”Salam buat orangtua kalian ya, dan jangan sungkan mampir lagi

jika berada di kota ini. Rumah kami selalu terbuka hangat buat kalian.” Vey memelukku untuk terakhir kali sebelum me­langkah turun menyusul Ou.

Aku mengangguk.

Aku tidak akan percaya kami berada di dalam tanah jika Ilo tidak bilang begitu. Dari pintu kapsul yang terbuka, sebuah bangun­an sekolah terlihat. Beberapa kapsul lain merapat dari banyak jalur, anak­anak sekolah berlompatan turun, beberapa ditemani orangtua mereka. Halamannya luas, dengan rumput ter­pangkas rapi. Beberapa pohon 

tumbuh tinggi. Ou sudah ber­lari riang melintasi gerbang menyapa teman­temannya, me­ninggal­kan ibunya yang masih melambaikan tangan kepada kami.

Pintu kapsul menutup perlahan. Kapsul kembali melesat.

Masih ada dua pemberhentian berikutnya. Anak­anak remaja berseragam itu turun, juga penumpang lain, menyisakan kami berempat ketika layar televisi mendadak berganti siaran. Sepertinya itu sebuah breaking news. Ilo menatap layar dengan saksama. Seli memegang tanganku. Ali juga berhenti mem­perhatikan sekitar, ikut menatap dinding kapsul.

Seli dan Ali boleh jadi tidak tahu apa yang sedang disampai­kan pembawa acara, tapi mereka dengan segera mengerti berita itu. Sebuah tiang raksasa terlihat menimpa bagian hutan, lantas di sebelahnya dua bangunan besar berbentuk balon tergeletak hancur bersama potongan tiang, menghantam lebih banyak pohon lagi.

”Tidak ada yang bisa memastikan apa dan dari mana benda ini berasal. Petugas Komite Kota sedang melakukan pemeriksaan tertutup. Yang bisa dipastikan, belasan pohon rusak, dua rumah roboh saat benda ini muncul begitu saja. Tidak ada korban jiwa. Dua rumah dilaporkan dalam keadaan kosong saat kejadian.”

”Ini jelas bukan masalah teknis lorong berpindah lagi.” Ilo di sebelahku menghela napas. ”Ini sesuatu yang lebih besar.”

Aku, Seli, dan Ali terdiam.

***

Ilo juga hanya diam mematung beberapa saat setelah siaran ter­sebut. Dia mengusap wajahnya, lantas bangkit berdiri, menekan tombol­tombol di dinding kapsul.

”Anak­anak, kita tidak jadi menuju Pusat Pengawasan Lubang Berpindah.” Ilo menggeleng. ”Aku akan memasukkan tujuan baru kita.”

Aku bingung. ”Ke mana?” 

”Anak­anak...” Ilo masih berdiri, tidak menjawab pertanyaanku. Dia menatap kami bergantian dengan tatapan serius, sementara di luar kapsul melakukan manuver, melengkung, berbelok arah dengan mulus. ”Sebenarnya, dari mana kalian berasal?”

Aku mendongak, menatap wajah Ilo. ”Dia bertanya apa?” Ali berbisik.

Aku menahan napas.

”Kalian tahu, istriku mungkin benar ketika berkali­kali bilang aku terlalu banyak berimajinasi karena pekerjaan ini. Te­tapi ada banyak hal yang kita imajinasikan nyata. Seperti pakai­an, sejauh apa pun imajinasi kita, itu nyata, menjadi sesuatu yang bisa disentuh. Sejak tadi malam aku memikitkan situasi ini. Buku aneh itu, dengan huruf­huruf yang aneh. Pakaian yang kalian kenakan saat ditemukan di kamar anak kami. Bukankah ada tulisan dengan huruf yang sama? Terlalu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Kalian tidak tersesat dari tempat biasa. Dari mana kalian berasal?”

Wajah Ilo terlihat serius sekali, meski ekspresi wajahnya yang baik tidak hilang.

Aku berhitung, apakah akan menjawab atau tidak.

Aku menoleh ke arah Seli dan Ali—yang tidak mengerti apa yang kami bicarakan.

Aku menggigit bibir. Baiklah, meski ini boleh jadi tidak masuk akal dan akan membuat Ilo tertawa, aku akan menjawab. Suaraku bergetar. ”Kami juga tidak tahu. Mungkin saja kami berasal dari dunia yang berbeda, dunia lain.”

Mengatakan kalimat itu saja sudah terasa aneh, ”dunia lain”, apalagi berharap reaksi orang saat mendengarnya. Tapi Ilo tidak tertawa, mengernyit, atau reaksi sejenisnya. Dia hanya terdiam, ikut menahan napas, berusaha mencerna kalimatku.

”Juga benda raksasa yang menghantam dua tiang rumah itu?” 

Aku mengangguk. ”Itu datang dari dunia kami. Aku yang mengirimnya ke sini.”

”Benda­benda aneh di kamar Ou?”

”Iya, juga buku itu, milikku. Benda­benda aneh yang ada di kamar Ou, itu milikku.”

Kapsul itu lengang sejenak, menyisakan desingnya melaju melewati lorong.

”Astaga!” Ilo akhirnya mengembuskan napas, menatapku lamat­ lamat. ”Sungguh tidak bisa dipercaya. Bagai­mana kalian bisa masuk ke kota ini, eh, dunia ini?”

”Kami masuk lewat buku PR matematikaku,” aku menjawab pelan. ”Buku PR matematika?” Ilo memastikan dia tidak salah dengar.

Aku meminta Ali mengeluarkan buku itu, menyerahkannya pada

Ilo.

Ilo menelan ludah, menerima buku PR matematikaku. ”Ini sama seperti buku lainnya. Tidak ada yang berbeda.”

Ilo memeriksa buku bersampul gambar bulan sabit, membuka sembarang halaman, lantas menggurat sesuatu di atasnya. Seharusnya seperti buku­buku remaja yang tadi meminta tanda tangan, kertasnya bisa ditulisi dengan teknologi ujung jari peng­ganti bolpoin, buku PR matematikaku sebaliknya, tidak. Bekas guratan jemari Ilo hanya mengeluarkan sinar sejenak, kemudian pudar bersama letupan kecil.

Ilo berseru, melangkah mundur. Tangannya gemetar kesakitan seperti habis disetrum sesuatu.Wajahnya pucat. ”Aku sepertinya keliru, buku ini jelas tidak sama seperti buku lain. Aku tidak tahu apa bedanya, tapi aku tahu siapa yang bisa menjawab ba­nyak pertanyaan.” 

Ilo mengembalikan buku PR matematiku, menatap kami ber­gantian. ”Baik, anak­anak, semoga tujuan baru kita bisa men­jelaskan banyak hal.”

Kapsul kereta itu terus melesat cepat.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊