menu

Bumi Bab 28

Mode Malam
Bab 28
AKU memeluk Seli yang menangis, menghiburnya, bilang semua akan baik­baik saja, termasuk di kota tempat kami entah berada di mana.

Semua juga akan baik­baik saja. Semoga orang­tua kami tidak bereaksi berlebihan.

Sebenarnya aku juga butuh dihibur. Aku cemas sekali me­mikirkan Mama di rumah, tapi siapa yang akan menghiburku? Jelas Ali tidak akan menghibur siapa pun. Anak itu memutuskan tidur. Ali berkata dengan intonasi datar, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, sebaiknya beristirahat, menyimpan energi buat besok.

Aku tahu, apa yang dilakukan Ali adalah pilihan paling rasio­nal. Memang tidak ada yang bisa kami lakukan. Ini sudah larut, jam di dinding yang meskipun bentuknya lebih mirip panci, tapi  setidaknya sama dengan jam yang aku kenal, ada dua belas angka—jarum pendeknya telah menunjuk pukul dua belas. Aku menatap lantai kayu lamat­lamat. Entah di mana pun kami ber­ada, di dunia lain atau bukan, setidaknya malam ini kami punya tempat bermalam dengan tuan rumah yang ramah.

Aku menolak tidur di atas ranjang. Ali yang memakainya setelah menurunkan bantal­bantal, seprai, dan selimut. Ranjang itu segera bergerak ke langit­langit kamar. Ali di atas sana sempat berseru, bilang betapa ajaib kasurnya, bisa menyesuaikan diri dengan kontur badan, juga langit­langit persis di atas kepala­nya mengeluarkan cahaya lembut yang nyaman. Aku tidak terlalu mendengarkan. Aku menghamparkan seprai dan selimut di lantai, tidak lengket, seprainya tebal, empuk untuk ditiduri. Bantalnya juga menyenangkan, sama seperti kasur yang diocehkan Ali di atas ranjang sana, mengikuti kontur kepala dan badan saat ditindih.

”Kamu harus tidur, Sel,” aku berbisik. Seli menyeka pipinya, mengangguk.

”Atau kamu butuh sesuatu untuk dimakan?” aku bertanya memastikan. 

”Aku tidak lapar lagi, Ra.”

Aku tersenyum. ”Besok kita akan pulang, dan segera ikut Klub Menulis Mr. Theo.”

***

Tidur dalam situasi banyak pikiran memang tidak mudah. Tapi dengan badan letih, sakit, ngilu, kami akhirnya jatuh ter­tidur, kemudian bangun kesiangan. Cahaya matahari me­nerobos daun jendela, menyinari wajah. Aku segera membuka mata. Ada yang sudah membuka gorden, bahkan sekaligus mem­buka jendela. Udara pagi yang segar terasa lembut me­nerpa wajah.

Aku beranjak berdiri, memeriksa sekitar. Seli masih me­ringkuk tidur, sepertinya dia yang terakhir jatuh tertidur tadi malam. Ranjang di dinding kosong. Ali tidak ada.

Aku melangkah ke jendela, menatap keluar. Kalau saja aku mengerti apa yang sedang terjadi, ini sebenarnya pemandangan yang fantastis. Tiang­tiang tinggi dengan bangunan berbentuk balon berwarna putih memenuhi lembah. Jauh di bawah sana, di dasar lembah, hamparan hutan lebat, memesona, dengan rombong­an burung terbang. Aku belum pernah me­lihat hutan seindah ini, sejauh mata memandang.

”Kamu sudah bangun, Ra?”

Aku menoleh. Ali keluar dari pintu bulat yang ada di ka­mar.

”Kamu harus mencoba mandi, Ra. Fantastis!” Ali tersenyum. Dia sedang merapikan pakaian yang dia kenakan, menyisir ram­but­nya yang berantakan dengan jemari tangan—dan tetap berantakan meski berkali­ kali dirapikan.

”Kamu habis mandi?” Aku menatap Ali.

”Apa lagi?” Ali tertawa, mengangkat bahu. ”Dan kamu harus mencoba pakaian yang ada dalam lemari. Lihat!” 

Ali memamerkan pakaian yang dia kenakan. Tidak ada lagi seragam sekolah kotornya. Ali juga memakai sepatu baru. Seperti sepatu boot hitam setinggi betis.

”Ini tidak seaneh seperti yang kamu lihat,” Ali meyakin­kan. ”Bahkan sebenarnya pakaian ini nyaman. Aku bisa bergerak bebas. Lihat. Sepatunya juga amat lentur, seperti tidak memakai sepatu. Aku bisa menekuk jari kaki dengan mudah. Mungkin komposisi warnanya terlihat aneh. Orang­orang di dunia ini sepertinya suka sekali warna gelap, tapi itu bukan masalah. Kamu tahu, Ra, tidak ada yang lebih penting dari pakaian selain nyaman dipakai. Peduli amat dengan selera warna orang lain.”

Aku mengembuskan napas. Sepertinya Ali sudah menyesuai­kan diri dengan cepat di dunia lain ini. Dan sejak kapan dia peduli soal pakaian? Bukankah selama ini di sekolah dia selalu datang berantakan?

Seli bangun mendengar percakapan kami. Aku menyapanya. Seli menjawab pelan. Wajahnya masih kusam. Sepertinya dia lebih suka semua ini hanya mimpi buruk, terbangun di kota kami, dan semua mimpi buruknya hilang. Tapi mau bagaimana lagi? Bahkan aku tadi bangun, langsung harus melihat Ali yang tiba­tiba memperagakan pakaian, bergaya.

Pintu bulat kamar ke arah lorong diketuk dari luar. Kami bertiga saling tatap.

”Apakah kalian sudah bangun?” terdengar suara ramah. Aku menjawab. ”Ya. Kami sudah bangun.”

”Apakah aku boleh masuk?” Aku menjawab pendek, ”Ya.”

”Siapa, Ra?” Seli berbisik, tidak mengerti percakapan.

Pertanyaan Seli terjawab sendiri saat ibu si kecil mendorong pintu bulat. Dia tersenyum ke arah kami. ”Bagaimana tidurnya? Nyenyak, bukan?” 

Aku mengangguk.

”Oh, kamu mengenakan pakaian itu.” Ibu si kecil menatap Ali, tersenyum lebar. ”Cocok sekali. Kamu terlihat tampan.”

”Dia bilang apa, Ra?” Ali bertanya.

”Dia bilang kamu harus hati­hati memakainya, jangan sampai robek atau rusak. Itu baju mahal,” aku menjawab asal.

”Kamu tidak menipuku kan, Ra?” Ali tidak percaya. Aku nyengir lebar.

”Aku sedang menyiapkan sarapan di dapur. Setengah jam lagi matang. Kalau kalian sudah siap, jangan sungkan, ayo bergabung. Si kecil pasti senang meja makan ramai setelah hampir setahun kakaknya tidak ada di rumah.” Ibu si kecil tersenyum hangat.

Aku mengangguk, bilang akan segera menyusul.

”Ruangannya ada di ujung lorong ini, belok kanan hingga kalian me­nemukan pintu berikutnya. Jangan lama­lama, nanti sarapannya dingin.” Wanita itu tersenyum sekali lagi sebelum melangkah ke pintu bundar, kembali ke dapur.

”Apa yang akan kita lakukan, Ra?” Seli bertanya setelah kami tinggal bertiga.

”Kita mandi pagi, Sel,” aku menjawab pelan. Ali memang yang paling logis di antara kami bertiga. Kami diundang sarapan, maka akan lebih baik jika kami datang dengan wajah segar.

”Mandi?” Seli menatapku.

Aku menoleh ke pintu kecil bulat di kamar.

Ali mengangguk, asyik menyisir rambutnya dengan jemari. ”Tenang saja, kamar mandinya tidak sekecil pintunya. Dan kali­an tidak perlu handuk sama sekali. Masuk saja. Itu kamar mandi yang fantastis. Lebih luas dibanding kamar ini.” 

Aku mengangguk, mendorong pintu bulat kecil. Ali lagi­lagi benar. Kamar mandi ini hebat. Saat aku menutup pintunya, belasan lampu langsung menyala otomatis. Aku berada di tabung bulat besar dengan banyak kompartemen. Dindingnya terbuat dari kaca, mengeluarkan sinar lembut. Ada kompartemen untuk meletakkan pakaian kotor, ada kompartemen untuk pakaian bersih, wastafel, dan sebagainya seperti yang kukenali—meski bentuknya aneh. Kejutan terbesarnya saat aku masuk ke ruangan mandinya. Ada belasan keran memenuhi dinding tabung. Saat tombol keran ditekan, bukan air yang keluar, melainkan udara segar, menerpa badan seperti memijat. Aku jelas tidak terbiasa mandi dengan udara, siapa yang terbiasa? Tapi itu seru, tidak ada bedanya mandi dengan air. Tabung mandi segera dipenuhi aroma wangi dan gelembung kecil, badanku bersih dan segar.

”Bagaimana?” Ali cengengesan bertanya saat aku keluar.

Aku tidak menjawab. Aku sedang memperbaiki posisi pakaian yang kukenakan. Aku tidak bisa mengenakan seragam sekolah yang kotor, jadi tadi mengambil sembarang di kompartemen pakaian bersih, memilih pakaian dengan warna paling terang—meski tetap gelap juga. Awalnya jijik memegang baju lengket itu, tapi saat dikenakan, baju tersebut menempel di badan dengan nyaman, segera menyesuaikan ukuran, termasuk kerah di leher. Aku mengenakan sepatu yang serupa dengan Ali, sepatu ini membuatku melangkah lebih ringan.



ini. Aku tersenyum puas. Sepertinya aku bisa menyukai pakaian dunia

”Kamu juga harus hati­hati mengenakan pakaian ini, Ra.” Ali juga nyengir melihatku sedang becermin. ”Kenapa?” Aku menoleh.

”Kan kamu sendiri yang bilang bahwa pakaian ini ma­hal, jangan sampai rusak.”

Aku tertawa kecil.

Seli juga ikut mandi setelah aku meyakinkan apa salahnya. Seragam sekolahnya paling kotor. Dia juga harus berganti pakai­an. Seli 

keluar dari pintu bulat kecil dengan wajah lebih segar lima belas menit kemudian. Dia mengenakan baju lengan pen­dek, celana panjang gelap yang seperti menyatu dengan sepatunya, dilapis rok hingga lutut. Seli terlihat modis—seperti biasanya, di sekolah dia selalu terlihat paling rapi berpakaian.

Kami sudah siap, tidak berbeda dengan tampilan orang­orang di dunia ini.

Saatnya sarapan.

***

”Wow, kalian terlihat berbeda sekali dengan pakaian­pakaian itu,” Ilo menyapa kami, tertawa lebar.

”Itu sebenarnya bukan pujian buat kalian.” Ibu si kecil ikut tertawa.

Dia sedang meletakkan makanan di atas meja. Aku menatap wanita itu, tidak mengerti.

”Pekerjaan suamiku adalah desainer pakaian. Semua pakaian yang kalian kenakan, juga pakaian yang kami kenakan adalah desain­nya. Jadi dia sedang memuji diri sendiri.” Ibu si kecil sambil tertawa menjelaskan.

”Desainer pakaian?” aku bergumam. Si kecil melambaikan tangan kepada kami. Wajahnya yang kemerah­merahan terlihat lucu menggemaskan.

”Iya, desainer pakaian.” Ibu si kecil mengangguk. ”Ayo, semua duduk, masakan sudah siap.”

Tiga kursi bergerak keluar dari meja makan.

Seli memeriksa selintas, melirikku, mengira­ngira apakah kursi ini akan ber­putar saat diduduki. Ali sudah duduk nyaman. Itu hanya kursi kayu seperti umumnya, meskipun bentuknya lebih mirip tunggul kayu. Kursi ini menempel di lantai, jadi tidak akan melayang. Aku dan Seli duduk. 

”Perkenalkan, ini istriku, Vey, sedangkan si kecil, Ou. Nah, Ou, tiga kakak­kakak ini namanya Raib, dengan rambut hitam panjangnya, indah sekali, kan? Seli, yang rambutnya pendek, dan satu lagi, Ali, yang rambutnya berantakan.” Ilo mem­perkenalkan kami.

Ou terlihat riang. Dia malah turun dari bangkunya, me­nyalami kami bergantian.

”Dia bilang apa? Kenapa dia melihat ke arah rambutku?” Ali berbisik kepadaku.

Aku tertawa, sepertinya menyenangkan menjadi orang yang lebih tahu dibanding si genius ini—bisa membalas gayanya saat meremehkan orang lain. ”Dia bilang rambutmu yang paling keren di antara semua orang.”

”Oh ya?” Ali nyengir, refleks menyisir lagi rambut be­rantakan­nya dengan jemari.

”Kakak si kecil namanya Ily. Seperti yang kubilang semalam, usianya mungkin dua atau tiga tahun di atas kalian. Saat ini dia bersekolah di akademi yang jauh dari sini. Dia suka sekali de­ngan sistem dan peralatan canggih. Dia bilang, sistem trans­portasi dan sistem lainnya di kota ini ketinggalan zaman. Anak muda se­umuran dia selalu semangat belajar,” Ilo menambahkan.

”Ayo anak­anak, jangan ragu­ragu, silakan dinikmati makan­annya.” Vey tersenyum.

Kami mulai sarapan.

Entah berada di dunia apa pun, sarapan tetaplah sarapan yang menyenangkan. Keluarga ini ramah. Ou sedang suka ber­celoteh. Vey gesit dan tangkas membantu kami. Dan yang lebih penting lagi, masakannya enak. Bahkan Ali yang se­lalu santai meng­hadapi dunia ini tetap mengernyit saat pertama kali melihat makanan di atas piring— piringnya lebih mirip sepatu dengan lubang kaki yang besar. Masakannya lebih aneh lagi, itu seperti bubur, tapi dengan warna gelap. 

”Tidakkah orang di dunia ini tahu bahwa warna makanan memiliki korelasi dengan selera makan?” Ali berbisik padaku. Tapi dia sendiri yang justru semangat menghabiskan makanan itu setelah men­coba mencicipinya sesendok. Sepertinya lezat. Ali nyengir. Cengiran Ali cukup bagiku dan Seli untuk berani me­raih sendok. Memang sedap.

”Kota ini memang dibangun agar bisa beroperasi secara efi­sien.” Ilo sudah berganti topik percakapan untuk kesekian kali. Dia persis seperti Papa di rumah, suka mengobrol saat sarap­an, dan mengambil topik apa saja sebagai bahan percakapan.

”Kota kami tidak lagi menggunakan air untuk mencuci piring, pakaian, ataupun mandi. Cukup dengan udara. Itu lebih bersih, higienis, dan menjaga kelestarian air. Walaupun di kota­kota lain dan daerah pedalaman masih menggunakan air. Kamu suka kamar mandinya, bukan?”

Aku mengangguk, menyendok bubur hitam. Aku tidak ba­nyak bicara, hanya sesekali. Yang sering adalah menjelaskan percakapan kepada Ali dan Seli mereka berusaha mengikuti.

”Juga pakaian yang kalian kenakan, contoh lainnya. Kami me­miliki teknologi benang sintetis yang dapat menyesuaikan diri se­cara otomatis dengan pemakainya. Jadi pakaian bisa awet di­pakai meski pemiliknya bertambah dewasa, atau sebaliknya, pakaian itu diberikan kepada orang lain yang lebih kecil. Dan se­patu­nya terasa ringan, bukan? Sepatu itu memang didesain mem­buat pemakainya lebih ringan sekian persen sesuai keperlu­an. Memudahkan mobilitas.”

Aku mengangguk lagi.

”Kakak sekolah di mana?” Ou bertanya. Aku refleks menyebut nama SMA­ku.

Ou terdiam. ”Itu nama akademi, ya?”

Aku menggeleng, menelan ludah. Pasti tidak ada di dunia ini nama sekolah seperti itu. 

”Mereka datang dari jauh, Nak. Kemungkinan dari luar negeri,” Ilo menjelaskan. ”Kamu lihat, dua kakak yang lain juga tidak bisa bicara dengan kita. Bahasanya berbeda.”

Ou mengangguk­angguk menggemaskan.

”Sebenarnya masalah teknis lorong berpindah ini tidak sekecil yang dibicarakan orang­orang kota. Ini masalah serius.” Ilo menghela napas, sudah lompat lagi ke topik berikutnya. ”Lorong itu tidak hanya mengirim orang­orang ke tempat yang salah. Ter­sesat. Kacau­balau. Kalian tahu, beberapa hari lalu, aku bah­kan menemukan banyak benda aneh di kamar tidur Ou. Aku sama sekali tidak mengenali barang tersebut.”

Aku hampir tersedak. Benda aneh? Tiba­tiba aku memikirkan sebuah kemungkinan.

”Boleh kami melihatnya?” aku bertanya senormal mungkin.

”Kenapa tidak?” Ilo mengangkat bahu. ”Sebentar, akan kuambil­­kan.”

Ilo beranjak berdiri, melangkah ke lemari di pojok dapur.

”Dia mau ke mana?” Ali bertanya—seperti biasa ingin tahu dan mendesak diterjemahkan.

Aku tidak segera menanggapi Ali. Aku menatap Ilo yang kem­bali membawa sesuatu.

Ya ampun! Aku hampir berseru saat benda­benda itu diletak­kan di atas meja makan. Naluriku benar. Aku mengenalinya. Itu novel milikku, flashdisk, peniti, kancing baju, tutup bolpoin, semua benda yang kuhilangkan malam sebelumnya. Ilo meletak­kannya di atas meja.

”Kalian pernah melihat benda seperti ini?” Ilo menunjuk kancing baju. ”Entahlah dari mana datangnya, tiba­tiba muncul begitu saja di meja belajar Ou. Lihat, yang satu ini sepertinya buku. Tetapi bentuknya aneh, bukan? Aku juga tidak mengenali tulisan di dalamnya. Huruf­huruf yang aneh.” Ilo mengangkat novelku, membuka sembarang halamannya, memperlihatkannya kepada kami. 

Seli dan Ali terdiam di sebelahku. Tanpa dijelaskan mereka tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka juga tahu itu benda­benda milikku.

”Bahkan, yang lebih aneh lagi, kalian lihat,” Ilo melangkah sebentar ke dekat lemari lainnya, menarik keluar sesuatu, ”ini benda yang besar untuk bisa lolos ke dalam kesalahan teknis kecil sistem lubang berpindah. Entahlah ini benda apa. Bentuk­nya seperti kursi, tapi model dan teknologi kursi ini terlalu primitif. Aku tidak yakin ini datang dari lubang berpindah, siapa yang hendak mengirimkan kursi? Lebih baik menggunakan transportasi biasa, bukan?”

Aku menahan napas. Itu kursi belajarku.

”Ayolah, Ilo.” Vey tersenyum simpul. ”Kita sedang sarapan, Sayang. Kita tidak akan membahas lagi benda­benda itu pada saat sarapan yang menyenangkan ini, kan? Ayo, anak­anak, habis­kan makanan kalian. Ilo terlalu sering berpikir yang tidak­tidak. Imajinasinya ke mana­mana. Dia bahkan sering ber­pikir dunia ini tidak sesederhana seperti yang dilihat. Kamu mau tambah buburnya, Ra?”

Aku, Seli, dan Ali saling tatap dalam diam.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊