menu

Bumi Bab 27

Mode Malam
Bab 27
KAMAR itu lengang sejenak. Isinya kosong karena lama tidak ditempati. Hanya ada ranjang besar di dinding, satu sofa melayang, dan satu lemari berbentuk lebih mirip botol air mi­neral raksasa. Ali sempat melihat isi dalam lemari, mengeluarkan beberapa pakaian gelap yang lengket di tangan. Aku dan Seli menggeleng, lebih baik tetap mengenakan seragam sekolah kotor dibanding pakaian lengket ini.

Ali sebaliknya. Dia mencoba memakai salah satu pakaian ber­bentuk jaket yang kebesaran. Saat dikenakan, pakaian lengket itu seolah bisa berpikir sendiri, mengecil dengan cepat, lantas me­nempel sempurna ke seluruh tubuh. ”Wow!” Ali ber­seru ter­pesona—bahkan dia bergaya di depan cermin, menggerakkan tangan­n­ya yang tertutup jaket. ”Lentur, ringan, dan lembut di badan.” Ali nyengir lebar, seperti bintang iklan detergen di tele­visi.

Melihat Ali dengan pakaian aneh itu, setidaknya aku tahu jenis pakaian yang dikenakan Tamus dan delapan orang di aula tadi. Aku menghela napas, beranjak duduk sem­barang di lantai. Aku tidak mau duduk di sofa yang bisa me­layang, atau ranjang yang bisa naik­turun. Setidaknya lantai kayu yang kududuki terlihat normal. Seli ikut duduk di samping­ku. Ali, lagi­lagi sebaliknya, si genius itu sudah meloncat santai ke atas sofa melayang. Dia sudah terampil, tidak ter­gelincir.

”Apa yang kita lakukan sekarang, Ra?” Seli berbisik. ”Aku tidak tahu,” aku menjawab pendek.

Seli menghela napas, bergumam, ”Ini benar­benar ganjil. Bagai­mana mungkin sekarang sudah malam? Bukankah baru satu­dua jam lalu kita dari aula sekolah?”

”Entahlah, Sel. Aku juga bingung.”

”Kita tidak bisa menginap di bangunan aneh ini, Ra. Kalau kita terlalu lama di kota ini, kita jelas terlambat pulang ke ru­mah. Orangtua 

kita pasti cemas, dan mulai panik mencari ke mana­mana,” Seli berkata pelan, meluruskan kaki.

Aku menoleh. Seli benar. Apalagi dengan kejadian meledak dan terbakarnya gardu listrik, ditambah lagi bangunan kelas dua belas yang ambruk. Pertemuan Klub Menulis pasti dibatalkan. Orang­tua murid segera mencari tahu kabar anak­anak yang be­lum pulang. Saat Mama tidak menemukanku di sekolah, Mama akan panik, seluruh keluarga akan ditelepon, siaga satu—bahkan jangan­jangan Mama akan memaksa Tante Anita memasang iklan kehilangan di televisi. Aku mengeluh, menggeleng mem­bayang­kan hal menggelikan itu. Kasihan Mama, belum lagi ma­sa­lah Papa di kantor. Kenapa semuanya jadi kusut begini?

”Masalahnya, kalaupun mereka mencari kita, mereka akan men­cari ke mana?” Ali mendekat—tepatnya sofa yang dinaiki Ali yang mendekat, melayang di depan kami. ”Mereka akan me­minta bantuan polisi? Detektif? Aku berani bertaruh, bahkan agen rahasia macam FBI pun tidak tahu di mana kota ini ber­ada.”

Kami menatap si genius itu, tidak mengerti.

”Saat di atap bangunan balon tadi, aku memperhatikan sekitar secara saksama. Kalian tahu, aku hafal posisi kota kita, hafal letak bulan, bintang.” Ali menunjuk kepalanya—maksudnya apa lagi kalau bukan dia punya otak brilian. ”Aku tahu letak gunung, pantai, sungai, semua kontur kota kita. Kalian tahu, ada sesuatu yang menarik sekali.”

Kami menatap Ali tanpa berkedip.

”Mereka akan mencari kita di kota mana, kalau ternyata kita persis berada di kota kita sendiri?” Ali mengangkat bahu.

”Aku tidak mengerti, Ali,” Seli memastikan.

”Kita tidak ke mana­mana, Seli. Aku yakin sekali. Ini tetap kota  kita, hanya entah kenapa seluruh rumah, bangunan, gedung tinggi di kota kita berganti dengan hutan dan balon­balon beton raksasa. Bahkan saat ini, kemungkinan kita sedang berada di salah satu ruangan rumah Ra. Entah di ruang tengah atau ruang tamu.” ”Tapi… tapi bagaimana dengan...” Seli menunjuk sekeliling kami. ”Itulah yang membuat semua ini menarik.” Ali ber­se­dekap,

ber­gaya seperti profesor fisika terkemuka. ”Kita berada di tempat yang

sama, tapi dengan sekeliling yang amat berbeda. Bah­kan orang­orang yang berbeda.”

”Kamu sebenarnya hendak bilang apa sih?” Aku akhirnya bertanya, tidak sabaran. Tidak bisakah dia menjelaskan lebih detail? Dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.

Ali mengangguk. Dia meloncat turun dari sofa melayang, me­ngeluarkan buku tulis dari ransel yang selalu dia bawa ke mana­ mana, mengambil bolpoin.

”Kalian perhatikan.” Ali membuka sembarang halaman ko­song. Dia mulai menggambar.

Aku dan Seli tahu apa yang sedang dia gambar, sebuah lapang­an futsal. Lantas, Ali menggambar lagi sebuah lapangan bulu tang­kis di atas lapangan futsal tersebut, juga lapangan basket. Terakhir sebuah lapangan voli. Empat lapangan itu bertumpuk di atas kertas. Ali menggambar bingkai di sekeliling kertas.

”Ini persis seperti aula sekolah kita, bukan? Ada empat lapang­an olahraga di atas lantainya.” Ali menatapku dan Seli ber­ganti­an.

Aku dan Seli mengangguk.

”Nah, aku hanya menduga, bisa jadi keliru, tapi kemungkin­an besar tepat, inilah yang sedang terjadi di sekitar kita. Dunia ini tidak sesederhana seperti yang dilihat banyak orang. Aku per­caya sejak dulu, bahkan membaca lebih banyak buku di­banding siapa pun karena penasaran, ingin tahu. Bumi kita me­miliki kehidupan yang rumit. Dan hari ini aku menyaksikan sendiri, ada sisi lain dari kehidupan selain yang biasa kita lihat sehari­hari. Dunia lain.

”Kalian perhatikan aula sekolah kita. Ada empat lapangan olah­raga di atasnya, bukan? Jika kita ingin bermain futsal, pasang tiang 

gawangnya. Jika kita ingin bermain basket, tarik tiang basketnya. Maka di Bumi, bisa jadi demikian, ada beberapa kehidupan yang berjalan di atasnya. Berjalan serempak di atas­nya.”

”Tapi kita tidak bisa bermain voli, basket, badminton, dan futsal serempak di aula, Ali.” Seli menggeleng. ”Akan kacau­balau, pemain bertabrakan, bolanya lari ke mana­mana.”

”Itu benar.” Ali mengangguk. ”Tapi bukan berarti tidak mung­kin. Bumi jelas lebih besar dibanding aula sekolah. Saat kapa­sitasnya besar, Bumi bisa berjalan tanpa saling ganggu. Persis seperti sebuah komputer yang membuka empat atau lebih pro­g­ram. Bukankah kita bisa menjalankannya bersamaan? Membuka internet, membuka dokumen, membuka pemutar musik, dan mengedit foto sekaligus? Ada banyak program yang berjalan serentak tanpa saling ganggu. Kecuali jika komputernya terbatas, bisa hang atau error.

”Aku yakin sekali, beberapa sisi kehidupan di Bumi bisa berjalan serentak tanpa saling ganggu, berantakan, dan bolanya lari ke mana­ mana. Setidaknya aku sudah menyaksikan dua sisi. Sisi pertama, kehidupan di Bumi seperti yang kita jalani selama ini. Sisi kedua, kota aneh ini, bangunan aneh ini, dan semua benda yang aneh di sekitar kita. Dua sisi itu berada di satu Bumi, berjalan tanpa saling memotong.”

Ruangan itu senyap sejenak.

”Kalau hal itu memang ada, kenapa selama ini tidak ada orang yang mengetahui bahwa ada dunia lain tersebut di Bumi?” Seli bertanya lagi.

”Yang pertama karena dua dunia itu terpisah sempurna. Yang kedua, karena kita terbiasa dengan kehidupan sendiri. Jika sese­orang sibuk bermain futsal di aula sekolah, lantas yang lain sibuk bermain basket, mereka hanya sibuk dengan permain­an masing­masing, tanpa menyadari ada dua permainan berjalan serentak. Nah, kalaupun ada yang tahu, mereka hanya bisa men­duga, bilang mungkin ada alam gaib atau dunia lain di luar sana. Tapi mereka tidak pernah mampu menjelaskannya.” Ali men­jelaskan dengan intonasi yakin.

”Kalau begitu, ada berapa sisi kehidupan yang berjalan se­rempak di Bumi?” aku akhirnya membuka mulut. Sebenarnya penjelasan Ali sama 

sekali tidak masuk akal. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana membantahnya. Aku me­mutus­kan ber­tanya.

”Tidak tahu. Yang pasti, sosok tinggi kurus di aula tadi me­nyebutku ‘Makhluk Tanah’, orang­orang lemah. Itu satu. Dia pasti merujuk penduduk Bumi saat ini. Dia juga menyebut Seli dengan sebutan Klan Matahari yang berjalan di atas tanah. Itu dua. Terakhir tentu saja dunia yang kita lihat sekarang. Aku tidak tahu namanya, kita sebut saja Klan Bulan, karena di mana­mana ada Bulan termasuk bangunan balon ini. Itu berarti tiga. Mungkin masih ada lagi dunia lain yang berjalan serentak, tapi aku tidak tahu.

”Dan aku tahu kenapa kamu bisa mengerti dan berbicara dalam bahasa mereka, Ra. Sosok tinggi kurus menyebalkan itu berkali­kali bilang kamu tidak dimiliki dunia Bumi, bukan? Kamu dimiliki dunia kita sekarang berada. Itu masuk akal. Aku tidak tahu penjelasan detailnya, sepertinya kamu menguasai begitu saja bahasa mereka.” Ali mengangkat bahu.

Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Entahlah, apakah aku bisa memercayai penjelasan si genius ini.

”Kalian tahu, ini keren. Bahkan Einstein tidak pernah bisa membayangkan ada dunia paralel di sekitarnya. Dia hanya bisa menjelaskan bahwa waktu bersifat relatif. Einstein mungkin saja benar, imajinasi adalah segalanya, lebih penting dibanding ilmu pengetahuan. Tetapi menyaksikan sendiri semua ini, mengetahui pengetahuan tersebut, lebih dari segalanya.” Ali nyengir.

Aku bersandar ke dinding kamar, membiarkan si genius itu senang sendiri.

”Fisikawan, astronom, ahli matematika terkemuka Galileo Galilei hanya bisa membuktikan teori Heliosentris Copernicus. Entah bagaimana reaksinya jika mendengar ada dunia lain berjalan serempak di atas Bumi. Kemungkinan dia akan seperti pen­dukung teori Geosentris, kaum fanatik tidak berpengetahuan, tidak percaya.” 

”Buku PR matematikamu, Ra.” Seli teringat sesuatu, me­motong kesenangan Ali.

Aku menoleh kepada Seli.

”Bukankah kita bisa masuk ke dunia ini karena buku PR mate­matikamu tadi?” Seli berseru. ”Kita bisa kembali lagi ke kota kita dengan cara yang sama.”

Seli benar. Aku bergegas hendak berdiri, mengeluh. Bukankah  buku itu tadi tertinggal di kamar si kecil? Karena kami telanjur kaget. Aduh, bagaimana mengambilnya sekarang?

Ali membuka tas ranselnya. ”Aku sudah membawanya, Ra.” Aku dan Seli menghela napas lega.

”Aku khawatir, kalian akan meninggalkan banyak benda jika tidak ada yang berpikir dua langkah ke depan.” Ali tersenyum bangga.

Aku menerima buku PR matematika dari Ali. Semangat me­letak­kannya di lantai kayu, menelan ludah, menatap buku itu, bersiap. ”Ayo, bersinarlah lagi,” aku berbisik.

Satu menit berlalu tanpa terjadi sesuatu.

”Sayangnya, buku ini hanya buku biasa sekarang, Ra.” Ali meng­embuskan napas pelan. ”Aku sudah memikirkan kemungkin­an itu tadi, sempat mengintip ke dalam tas ransel saat kita ber­ada di atap bangunan balon. Buku ini tidak mengeluarkan sinar apa pun lagi.”

Lengang. Buku itu tergeletak di lantai. Gambar bulan sabit di sampulnya tidak bersinar.

Seli menatap amat kecewa. ”Bagaimana kita pulang, Ra?” Aku menatap Ali. Dia si geniusnya.

Ali bangkit berdiri. ”Kita akan menemukan caranya. Mungkin tidak malam ini. Tapi cepat atau lambat kita akan menemukan cara­nya. Setiap ada pintu masuk, selalu ada pintu keluar.”   
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊