menu

Bumi Bab 26

Mode Malam
Bab 26
SILAKAN duduk. Anggap saja rumah sendiri. Jangan sungkan. Kalian haus? Akan kuambilkan minuman. Kondisi kalian terlihat buruk. Berdebu, kotor, dan astaga, pakaian kalian aneh sekali. Kalian pasti datang dari tempat jauh. Tidak akan ada anak remaja kota ini yang mau berpakaian seperti ini, se­perti model seratus tahun lalu. Sebentar, akan kuambilkan air minum dan handuk basah.” Ayah si kecil tertawa. Dia me­langkah menuju pintu bulat lainnya, meninggalkan kami bertiga di ruang tengah.

Senyap sebentar.

”Kita ada di mana, Ra?” tanya Ali. ”Aku tidak tahu.”

”Apakah orang aneh tadi menyebutkan nama tempat ini?” Aku menggeleng pelan.

”Bagaimana kamu bisa bicara bahasa mereka?” Seli memegang lenganku, tampak penasaran.

”Aku tidak tahu, Sel. Aku tahu begitu saja.” Aku menyeka wajah yang berdebu. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kujawab sekarang.

Ali bergumam sendiri, berhenti menumpahkan pertanyaan. Dia memilih memperhatikan sekitar, lalu beranjak hendak duduk di sofa bulat yang melayang di dekat kami. Dia me­loncat. Sofa itu seketika berputar saat didudukinya. Ali ter­gelincir, tangannya hendak meraih sesuatu, tapi terlambat. Dia jatuh ke lantai, mengaduh pelan.

”Ini tempat duduk yang aneh sekali.” Ali berdiri, menatap sofa yang berhenti berputar, kembali ke posisinya semula. Si genius keras kepala itu mencoba dua kali untuk duduk di sofa bulat, tapi dua kali pula dia terjatuh. 

Aku dan Seli menonton, diam.

”Baiklah. Aku tidak akan menyerah.” Ali bersungut­sungut. Kali ini dia menatap baik­baik sofa bulat di depannya, me­megang­nya perlahan, lantas naik perlahan, menjaga keseimbang­an. Ali nyengir lebar. Dia berhasil.

”Kalian mau mencobanya?” Ali berseru riang. ”Ini persis se­perti belajar naik sepeda. Sekali kita terbiasa, maka mudah saja.”

Aku dan Seli saling tatap.

”Ayo, coba saja, Ra, Seli, ini seru sekali. Kalian tahu, entah bagai­mana mereka melakukannya, sofa ini benar­benar melayang di atas lantai. Ini hebat sekali. Bahkan kupikir, lembaga paling canggih macam NASA Amerika sekalipun tidak punya teknologi ini.” Ali mencoba sofa bulat itu berputar. Dia berhasil mem­buatnya bergerak mulus. Ali tertawa senang.

”Apa yang kamu lakukan?” aku berbisik mengingatkan Ali.

Kami jelas tidak sedang study tour, kami sedang tersesat. Sifat Ali yang selalu santai kemungkinan bisa berbahaya. Si genius itu se­karang bahkan asyik mencoba sofa bulat yang dia duduki, bergerak naik­turun.

Ali menatapku dengan wajah tanpa dosa.

”Maaf membuat kalian menunggu.” Ayah si kecil kembali, terlihat riang, membawa nampan dengan tiga gelas di atasnya, juga tiga handuk basah.

”Oh, kamu sudah mencobanya? Bagaimana? Itu jenis sofa paling mutakhir.” Lelaki itu tertawa melihat Ali ber­gegas me­nurunkan sofanya kembali ke posisi semula—Ali ter­lihat sedikit panik, karena ketahuan menaik­turunkan sofa ter­sebut tanpa izin pemiliknya.

”Dia bertanya apa?” Ali berbisik kepadaku.

”Dia bilang, kamu tamu yang sama sekali tidak tahu sopan santun,” aku menjawab asal. 

”Sungguh?” Ali menatapku tidak percaya.

”Silakan diminum.” Ayah si kecil mengangguk ramah kepada kami.

Aku menatap gelas aneh yang lebih mirip sepatu kets. Baik­lah, aku meraih gelas terdekat, mengangkatnya. Isinya air bening biasa, setidaknya terlihat begitu. Aku menenggaknya.

Ternyata rasanya segar sekali.

Seli menatapku ragu­ragu. Aku mengangguk kepadanya. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Itu hanya air bening biasa, bahkan setelah berbagai kejadian tadi, menghabiskan air se­banyak satu gelas berbentuk sepatu terasa melegakan.

”Namaku Ilo, siapa nama kalian?” ayah si kecil bertanya, sam­bil menyerahkan handuk basah.

Aku menjawab sopan, menyebut namaku, Seli, dan Ali.

Lelaki itu menggeleng. ”Nama kalian terdengar aneh. Kalian berasal dari mana?”

Aku menelan ludah, ragu­ragu menyebutkan nama kota kami. Seli dan Ali di sebelahku sudah menghabiskan minum mereka. Kini me­reka sedang membersihkan wajah dan sekujur badan dengan handuk.

Ilo, demikian nama ayah si kecil itu, lagi­lagi menggeleng. Wajahnya termangu. ”Belum pernah kudengar nama kota seperti itu. Kalian sepertinya tersesat dari jauh.”

”Kami sekarang berada di mana?” aku balik bertanya, teringat pertanyaan Seli dan Ali sejak tadi. Kenapa tidak kutanyakan saja kepada orang berpakaian gelap ini.

”Kota Tishri.”

”Kota Tishri?” aku mengulanginya.

”Benar sekali, Kota Tishri. Kota paling besar, paling indah. Tempat seluruh negeri ingin pergi melihatnya. Nah, apa kubilang tadi, setidaknya 

kabar baiknya, lorong berpindah sialan itu membawa kalian kemari. Kalian pernah ke Kota Tishri?”

Aku menggeleng. Seli dan Ali tetap termangu, tidak mengerti percakapan.

”Fantastis.” Ilo mengepalkan tangan, berseru riang. ”Ayo, kalian ikuti aku. Akan kutunjukkan pemandangan menakjubkan kota ini. Kalian pasti sudah lama bercita­cita ingin melihatnya lang­sung. Selama ini kalian hanya bisa menyaksikannya di buku, bukan? Astaga, kebetulan sekali, ini persis bulan purnama, kota ini terlihat berkali­kali lebih indah.”

Lelaki itu sudah berdiri.

Malam bulan purnama? Bukankah tadi baru saja siang? ”Apa yang dia bilang, Ra?” Seli berbisik.

”Dia ingin menunjukkan kota ini kepada kita.”

”Buat apa? Bukankah kita setiap hari melihat kota kita?” Aku menggeleng. Entahlah. Aku juga tidak paham.

”Apa serunya melihat kota di siang hari?” Seli masih ber­bisik.

Aku menghela napas perlahan. Sejak tadi aku punya firasat kami sama sekali tidak sedang berada di kota kami. Bahkan boleh jadi kami berada di tempat yang amat berbeda.

”Ini pasti seru.” Ada yang tidak keberatan. Ali meloncat turun dari sofa bulat.

Ilo memimpin di depan, melewati pintu bulat, kembali ke lorong remang, dan tiba di depan anak tangga. Ilo rileks me­langkah menaikinya. Anak tangga itu berpilin naik sendiri saat kaki kami menyentuhnya. Mungkin seperti eskalator pada umum­nya, tapi anak tangga yang  kupijak terbuat dari kayu berukir.

Tiba di ujung anak tangga, ruangan atas tampak gelap. Sambil ber­senandung, Ilo membuka pintu di langit­langit ruangan. Pintu itu 

terbuka. Cahaya lembut masuk ke dalam. Aku men­dongak melihat ke atas. Bintang gemintang terlihat terang. Ini malam hari? Bukankah...? Aku mengusap wajah, bi­ngung.

Sekarang pertanyaannya bertambah, bagaimana kami bisa keluar ke atas sana? Bukankah pintu di langit­langit ruangan se­tinggi jangkauan tangan Ilo? Tidak ada tangga lagi. Kami ber­tiga saling lirik, tidak mengerti. Ilo berdiri persis di bawah bingkai pintu.

”Ayo, kalian mendekat padaku.” Dia menoleh pada kami.

Aku menelan ludah. Sudah kadung sejauh ini, tanpa banyak tanya aku ikut mendekat.

”Ayo, jangan ragu­ragu. Lebih rapat.”

Aku merapat di sebelahnya, juga Seli dan Ali setelah kuberi­tahu agar lebih rapat.

Apakah kami akan melompat ke atas? Terbang?

Ilo justru meraih daun pintu di atas, menariknya ke bawah. Daun pintu itu turun, pindah setinggi mata kaki kami. Kami se­ketika berada di atap bangunan. Ali, si genius di sebelahku, bahkan tidak mampu menahan diri untuk tidak berseru. Ilo tertawa. Dia melangkah ke samping, meninggalkan daun pintu yang terbuka, berdiri di atap. Aku bergegas ikut melangkah, juga Seli, khawatir pintu itu tiba­tiba kembali ke posisi di atas.

”Kamu tidak mau tertinggal di bawah sendirian, bukan?” Ilo menoleh ke Ali yang masih sibuk memeriksa. Wajah Ali ber­binar­binar. Bagaimana caranya daun pintu ini bisa turun? Apa­kah seluruh atap bergerak ikut turun? Atau daun pintunya saja?

Aku bergegas menarik lengan si genius itu agar melangkah ke atap bangunan.

Setelah semua berdiri di atap, aku melongok ke bawah. Lantai ruangan kembali terlihat jauh. Entah bagaimana caranya, daun pintu sudah kembali ke posisi semula. 

”Selamat datang di Kota Tishri!” Ilo berseru lan­tang. Aku mendongak, mengangkat kepala menatap ke depan.

Aku menahan napas, mematung. Itu sungguh pemandangan yang membingungkan.

Aku pernah diajak Papa dan Mama pergi ke restoran yang berada di lantai paling atas gedung paling tinggi di kota, melihat seluruh kota. Tapi malam ini, yang aku lihat jelas bukan kota kami. Tidak ada hamparan gedung­gedung tinggi, tidak ada pemandangan yang kukenal. Pun bangunan yang kami naiki, ini bukan rumah, bukan apartemen seperti kebanyakan. Bentuk­nya seperti balon besar dari beton, dengan tiang. Di sekitar kami, ribuan bangunan serupa terlihat memenuhi seluruh lembah, persis seperti melihat ribuan bulan sedang mengambang di udara. Itulah pemandangan yang kami saksikan sekarang.

”Kita di mana?” Seli bertanya, suaranya bergetar bingung. ”Ini keren!” Ali berseru, suaranya juga bergetar antusias.

Ini bukan kota kami. Bahkan jelas sekali, tidak ada kota di Bumi yang seperti ini. Tidak ada jalan di bawah sana, apalagi kendaraan seperti mobil dan motor. Hanya hamparan hutan—kalau itu memang hutan seperti yang terlihat dari atas sini. Bulan purnama menggantung di langit, terlihat lebih besar dibanding biasa­nya. Cahayanya lembut dan indah. Di sisi barat kota ter­lihat gunung, bentuknya sama seperti gunung yang ada di kota kami, juga pantai di sisi timur, itu sama. Tapi hanya dua hal itu yang sama. Sisanya berbeda.

Beberapa tiang tinggi terlihat di kejauhan. Setiap tiang me­miliki puluhan cabang, dengan ujung cabang lagi­lagi sebuah balon besar dari beton, bersinar.

Ilo menjelaskan dengan bangga tentang kotanya. ”Kota ini paling maju, paling cemerlang. Kota ini juga paling efisien meng­gunakan sumber tenaga yang semakin terbatas. Terlepas dari masalah teknis kecil yang sekarang sedang menimpa kalian, kami memiliki sistem transportasi paling baik. Kalian lihat di ujung sana, itu menara Komite Kota.” 

Aku tidak terlalu mendengarkan. Kepalaku dipenuhi begitu banyak pertanyaan. Seli masih menatap dengan cemas ke seluruh arah. Dia sempat berbisik, ”Kita tidak berada di kota kita lagi ya, Ra?”

Aku mengangguk. ”Kita berada di tempat yang jauh sekali.” ”Bagaimana kita pulang?” Seli bertanya.

Aku menggeleng. ”Entahlah.” Wajah Seli sedikit pucat.

Hanya Ali yang terlihat tenang, menatap sekitar dengan se­mangat.

”Besok malam adalah malam karnaval festival tahunan. Jika kalian menunggu sehari saja, kalian bisa menyaksikan festival ter­besar. Seluruh kota dipenuhi pelangi malam hari. Semua bangun­an tersambung oleh kabel yang dipenuhi lampu warna­warni. Putraku yang berusia empat tahun tidak sabar menanti­kan­nya.” Ilo membentangkan tangan, masih asyik menjelas­kan.

Angin berembus lembut, menerpa wajah, memainkan anak rambut. Aku mendongak menatap langit. Kami ada di mana? Gunung, pantai, sungai, juga posisi bulan dan bintang sama persis seperti di kota kami. Tapi sisanya berbeda. Bangunan rumah seperti balon?

Hampir setengah jam kami berada di atap bangunan. Hingga Ilo diam sejenak, berkata, ”Sudah larut malam. Kita sebaiknya turun. Kalau kalian mau, malam ini kalian bisa menginap di tem­patku. Ada kamar kosong. Tidak terlalu lapang untuk ber­tiga, tapi cukup nyaman. Besok pagi­pagi aku akan membantu mengirim kalian pulang ke rumah.”

Kami bertiga tidak berkomentar. Aku mengangguk.

Ilo membungkuk. Dia membuka daun pintu di atap. Lantai ruangan di bawah terlihat mendekat. Dia menyuruh kami me­langkah masuk. Kami bisa melangkah dengan mudah. Ilo me­lepas pegangan ke daun pintu. Daun pintu itu perlahan kembali ke atas. Langit­langit ruangan kembali tinggi. Ilo menutup pin­tu. 

”Ini keren sekali, Ra,” Ali berbisik padaku. ”Jika semua pintu bisa ditarik begini, di sekolah kita tidak perlu repot ke mana­mana. Tarik pintunya mendekat, kita tinggal melangkah masuk atau keluar, beres.”

Aku tidak menanggapi celetukan Ali.

Ilo memimpin di depan. Kami diantar menuju pintu bulat di lorong

lain.

Itu kamar yang besar. Dua kali lebih luas dibanding kamar si kecil.

”Kalian bisa menggunakan kamar ini. Ada beberapa pakaian yang bisa kalian gunakan di lemari. Beberapa sepertinya cocok. Ini dulu kamar si sulung. Dia masuk akademi di kota lain. Usia­nya delapan belas. Jika kalian butuh sesuatu, kamarku berada di ujung lorong satunya. Selamat malam, anak­anak.”

”Selamat malam.” Aku mengangguk, menjawab sopan. Ilo menutup pintu, meninggalkan kami.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊