menu

Bumi Bab 24

Mode Malam
Bab 24
AKU tidak sempat memikirkan apa yang telah terjadi. Ke­napa aku bisa melepaskan pukulan seperti itu. Aku panik meloncat menahan Miss Selena yang tanpa tenaga, seperti pohon lapuk, jatuh dari posisi berdirinya. Aku memeluknya. Kami berdua jatuh terduduk di lantai.

Wajah cemerlang bagai bulan purnama Miss Selena redup. Dia masih bernapas, pelan, hampir tidak terdengar. Kondisinya amat mengenaskan. Kesadarannya menurun.

”Bangun, Miss Selena!” aku berseru panik.

Jauh dari kami, sosok tinggi kurus itu terbanting menghantam dinding aula, terkapar. Entah apa yang terjadi padanya.

Mata Miss Selena terbuka kecil.

”Aku baik­baik saja, Ra,” suara Miss Selena berbisik.

Apanya yang baik­baik saja? Miss Selena persis habis digebuki orang satu kampung.

”Mudah sekali melakukannya, bukan?” Miss Selena menatap­ku sambil tersenyum.

”Mudah apanya?” Aku tidak mengerti.

”Ya membuat pukulan tadi. Tidak ada yang pernah mengajari­mu, bukan?” Miss Selena menatapku lembut. ”Itu pukulan yang hebat sekali, Ra. Setidaknya butuh latihan bertahun­tahun un­tuk menguasainya di akademi terbaik. Kamu bahkan tidak perlu mem­pelajarinya.”

Aduh, dalam situasi seperti ini, ada yang lebih penting di­bicara­kan.

”Kita harus lari, Miss Selena.” Suaraku bergetar cemas, aku me­natap dinding aula seberang. Sosok tinggi kurus itu masih ter­kapar. ”Miss Selena harus segera memperoleh pertolongan dokter.” 

Miss Selena menggeleng. ”Kamu bisa melakukan apa pun, Ra, karena kamu yang terbaik. Kamu pewaris Klan Bulan pertama yang dibesarkan di Dunia Tanah. Juga Seli, dia pewaris Klan Matahari pertama yang berjalan di atas Bumi. Kalian saling melengkapi. Belajarlah dengan cepat mengenali kekuatan kalian. Aku tahu, itu mungkin membingungkan, banyak per­tanya­an di kepala. Tetapi waktu kalian terbatas, dan aku khawatir tidak banyak yang sempat menjelaskan.”

Aku berseru panik. Di seberang, sosok tinggi kurus itu per­lahan mulai berdiri.

”Kita tidak akan menang melawan sosok tinggi itu, juga tidak akan bisa lolos. Kamu ingat baik­baik, namanya Tamus. Usianya seribu tahun. Kamu tahu, Ra, dulu dia adalah guruku.” Miss Selena tertawa getir. ”Tentu bukan pelajaran matematika yang dia ajarkan. Karena jangankan aku, kalian pun tidak suka pelajaran tersebut di kelasku, bukan?”

Aku menggeleng. Maksud gelenganku bukan untuk bilang aku suka pelajaran matematika, melainkan waktu kami sempit, sosok tinggi kurus itu sudah sempurna berdiri.

”Kamu perhatikan kalimatku, Ra.” Miss Selena menarik kepala­ku lebih dekat, suaranya terdengar tegas. ”Aku akan mem­buka lubang hitam agar kalian bisa melarikan diri ke tempat yang tidak bisa didatangi Tamus dan pasukannya. Kalian bertiga secepat mungkin melintasi lubang itu. Sementara kalian lari, aku akan menahan Tamus sekuat mungkin. Dia tidak akan suka me­lihat kalian pergi.”

”Apa yang akan terjadi dengan Miss Selena kalau kami sudah pergi?”

”Jangan banyak bertanya, Ra.”

”Miss Selena harus ikut!” aku berseru.

Miss Selena menggeleng. ”Kalian bertiga jauh lebih penting. Sudah, jangan bertanya lagi.”

”Aku tidak mau meninggalkan Miss Selena.” 

Tamus telah menghilang dari seberang din­ding. Aku tahu dia menuju ke mana. Saat suara seperti gelem­bung air meletus ter­dengar kembali, dia melompat di atasku dan Miss Selena dengan ganas, menghantamkan pukulan ke arah kami.

Miss Selena memelukku. Kami menghilang.

Lantai aula hancur lebur hingga radius dua meter. Lubang besar me­nganga.

Aku dan Miss Selena muncul di dekat Seli dan Ali. Miss Selena melepas pelukan, bangkit berdiri, mengacungkan jemari­nya ke dinding, berseru dalam bahasa yang tidak kukenali. Lubang dengan pinggiran seperti awan hitam mendadak muncul, membesar dengan cepat, pinggirannya berputar laksana gasing.

”Cepat, Ra! Masuk!” Miss Selena berseru.

”Aku tidak mau pergi!” aku berseru panik. Aku tidak akan per­nah meninggalkan Miss Selena sendirian menghadapi sosok tinggi kurus menyebalkan itu.

”Ali! Bawa teman­temanmu masuk ke lubang hitam. Seret jika Raib menolak!” Miss Selena menoleh ke arah Ali. ”Kamu mungkin saja hanya Makhluk Tanah, tidak memiliki kekuat­an, tapi kamu memiliki sesuatu yang tidak terlihat. Minta Ra me­nunjuk­kan buku PR matematikanya.”

Miss Selena sudah menghilang. Aku tahu dia menuju ke mana. Miss Selena sudah berdiri gagah berani menghadang Tamus yang bersiap meloncat menyerbu kami.

Pertarungan jarak dekat kembali terjadi. Tamus mengamuk, meraung. Pukulannya bukan hanya menderu bagai angin puyuh, tapi juga mendesis dingin. Aku yang berdiri belasan meter dari tengah aula bisa merasakan dingin menusuk tulang setiap tangannya bergerak dan berdentum mengenai sasaran. Percikan bunga salju memenuhi aula sekolah, melayang berguguran. Miss Selena segera terdesak, menjadi bulan­bulanan pukulan. 

”Kita harus pergi, Ra!” Ali berseru, menunjuk lubang hitam yang masih terbuka.

Aku menggeleng kuat­kuat.

”Kamu harus mendengarkan Miss Keriting!” Ali men­cengkeram lenganku.

Seli menatapku, bergantian menatap Ali, bingung.

Aku mengepalkan tangan. ”Aku tidak akan lari. Aku akan ikut bertarung membantu Miss Selena.”

”Lubang hitamnya mengecil, Ra!” Ali berseru panik. ”Kita harus segera masuk. Lubang ini entah menuju ke mana dan seperti­nya tidak akan bertahan lama.”

Aku menoleh ke lubang hitam itu. Ali benar, lubangnya mulai mengecil. Aku menoleh ke depan. Miss Selena terbanting lagi, tubuhnya terbaring di lantai aula. Tamus sudah meloncat, me­lepas dua pukulan dari atas. Miss Selena yang tidak bisa ke mana­mana, mati­matian membuat tameng, menerima pukulan dalam posisi meringkuk. Situasinya semakin payah.

Apa yang harus kulakukan? Aku menggigit bibir.

Miss Selena menoleh kepada kami. Wajahnya meringis kesakitan, terus bertahan dengan sisa tenaga. ”Lari, bodoh!”

Aku bertatapan dengan Miss Selena. Wajah itu menyuruhku segera

pergi.

”Bawa teman­temanmu lari, Ali! Sekarang!” Miss Selena ber­teriak. Ujung kalimatnya bahkan hilang karena menerima dentum­an pukulan berikutnya.

Ali menyeretku kasar. Aku berontak, berseru tidak mau. Ali tidak peduli. Dia menarikku kencang sekali. Aku terjerembap melintasi lubang hitam yang terus mengecil. Seli segera me­nyusul. 

Tamus menghantamkan pukulan me­matikan terakhir ke arah Miss Selena. Seperti ada hujan salju turun dari langit­langit aula. Seluruh ruangan terasa dingin meng­gigit. Aku menjerit, tidak tahan melihatnya. Tamus yang berdiri menginjak tubuh Miss Selena mendongak melihat kami, baru menyadari sesuatu. Melihat kami akan kabur, dia meraung marah, meloncat cepat.

Tubuhnya menghilang.

Dari dalam lubang, Ali mengayunkan pemukul bola kastinya ke depan. Entah apa yang dilakukan Ali, kenapa dia memukul udara  kosong?

Tamus itu persis berada di depan lubang hitam.

Apalah artinya pemukul bola kasti bagi sosok tinggi kurus itu. Tetapi pukulan Ali persis menghantam wajah Tamus saat dia mun­cul di depan kami, saat tangannya berusaha meraih ke dalam lubang. Pemukul bola kasti patah. Meski tidak terluka sedikit pun, pukulan itu mengagetkan Tamus, membuatnya refleks melangkah mundur, menciptakan satu detik yang sangat berarti. Lubang hitam dengan cepat mengecil, lantas menghilang, menyisakan lengang.

Tamus mengaum lantang, marah sekali. Dia beringas menghantamkan tangan ke dinding aula. Bunga salju tepercik ke mana­ mana menyusul dentuman­dentuman keras.

Kami sudah menghilang, tidak bisa dikejar.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊