menu

Bumi Bab 23

Mode Malam
Bab 23
ISS KERITING...,” aku tersengal menyebut nama.

Guru matematikaku itu tertawa pelan. ”Kamu seharusnya me­manggilku Miss Selena, Ra. Tapi tidak masalah, aku tidak akan menghukum semua murid sekolah ini gara­gara panggilan lucu itu. Apalagi dalam situasi sulit seperti ini.”

Seli mengerang dua langkah dariku.

Miss Selena melangkah cepat, berusaha membantu Seli. Namun gerakannya terhenti, karena enam orang yang memegang tombak tanpa banyak bi­cara telah menyerangnya. Enam tombak melesat cepat ke tubuh Miss Selena. Aku menutup mata, ngeri melihat apa yang akan terjadi. Tapi sebaliknya, enam tombak itu patah, berkelontangan di lantai aula. Pemegangnya jatuh terbanting.

Aku memberanikan diri membuka mata, melihat Miss Selena berdiri mantap. Tangannya baru saja menepis tombak perak sekaligus mengirim serangan, sama sekali tidak tersisa tampilan guru yang kulihat selama ini. Dia terlihat anggun berwibawa. Remang aula membuat wajah Miss Selena terlihat bercahaya, se­perti bulan purnama. Itu tadi gerakan menangkis yang memati­kan. Miss Selena berdiri di tengah enam orang yang berge­limpang­an. Enam orang itu mengerang di lantai, dua sisanya takut­takut mendekat.

”Dia bukan lawan kalian,” sosok tinggi kurus itu berseru, menyuruh dua orang dari me­reka mundur.

Miss Selena dengan cepat melangkah mendekati Seli. Satu ta­ngan­nya menghantam dua orang tersisa yang langsung ter­banting ke lantai, satu tangannya lagi merobek jaring perak yang mengikat Seli, membebaskannya.

”Kamu baik­baik saja, Seli?” Miss Selena bertanya pendek. 

Seli mengangguk. Dia tidak terluka, meski seluruh tubuhnya te­rasa sakit. Ali yang tidak jauh dari kami berusaha duduk, kon­disi­nya juga tidak mengkhawatirkan. Ali bahkan meraih pemukul kastinya, lantas dengan wajah jengkel memukul kepala salah satu dari mereka yang roboh menimpa badannya tadi.

”Bantu Seli duduk, Ra.” Miss Selena menoleh padaku, me­nyuruhku dengan tegas.

Aku mengangguk. Meski kakiku masih gemetar, aku jauh lebih baik dibanding Seli. Aku bergegas membantu Seli du­duk.

”Kamu tidak terluka kan, Sel?” aku berbisik. Seli menggeleng. Napasnya masih tersengal.

Semua kejadian ini amat membingungkan. Dengan kenyataan aku bisa menghilangkan tiang listrik raksasa dan Seli bisa me­ngeluarkan petir saja sudah cukup membingungkan. Apalagi sekarang ditambah pula dengan bagaimana mungkin guru mate­matika kami tiba­tiba muncul di dalam aula, berdiri gagah me­lindungi kami, menantang sosok tinggi kurus di hadapannya.

Aku menatap ke depan dengan wajah tegang, ke arah Miss Selena dan sosok tinggi kurus yang saling berhadapan.

”Selamat malam, Selena.” Sosok tinggi itu melangkah men­dekat.

Suara sapaannya terdengar ramah, tapi menyembunyi­kan ancaman.

”Tinggalkan murid­muridku,” Miss Selena berseru lan­tang, tanpa basa­basi.

”Mereka murid­muridmu?” Sosok tinggi itu menatap seolah tidak percaya, kemudian terkekeh pelan. ”Kamu tidak bergurau, Selena? Sejak kapan kamu jadi guru di Dunia Tanah? Lantas apa yang kamu ajarkan kepada mereka? Menyulam pakaian? Atau membuat anyaman? Atau jangan­jangan kamu guru ber­hitung mereka? Murid­murid, mari kita menghitung jumlah anak ayam? Satu, dua, tiga—”

”Setidaknya mereka tidak kuajarkan kebencian dan permusuh­an,” Miss Selena memotong dengan suara tegas. 

Aku yang memperhatikan percakapan dari belakang menelan ludah, baru menyadari sesuatu. Rambut Miss Selena tidak keriting lagi. Rambutnya berubah jadi pendek, berdiri, terlihat meranggas seperti duri. Dia masih mengenakan pakaian gelap yang sering dipakai saat mengajar, tapi seluruh tubuhnya di­bungkus sesuatu berwarna gelap, sama seperti yang dikena­kan sosok tinggi kurus itu. Dan yang paling berbeda adalah wajah Miss Selena, cahaya wajahnya semakin terang, seperti purnama yang meninggi.

”Oh ya? Kebencian? Permusuhan?” Sosok tinggi kurus itu ter­kekeh. ”Bukankah kamu sendiri yang amat membenci, me­musuhi klan sendiri? Bukankah kamu sendiri yang meninggalkan dunia kita? Memutuskan hidup di tengah Makhluk Tanah, hah?”

Miss Selena tidak menjawab, berdiri mengawasi setiap ke­mungkinan.

”Ini sungguh menarik, Selena. Mari kita berhitung sejenak. Satu, gadis kecil yang berusaha duduk itu dari Klan Matahari. Kamu pasti tahu itu, bukan? Meski sepertinya gadis kecil malang itu tidak punya ide sama sekali siapa dia. Dua, si bodoh dengan tongkat kayu itu, yang sepertinya paling berani tapi sebenarnya paling tidak memiliki kekuatan, dia jelas Makhluk Tanah. Mungkin dia merasa paling pintar, hanya untuk me­nyadari bahwa pengetahuan paling maju di Dunia Tanah ini hanyalah separuh dari teknologi paling rendah dunia kita.

”Tiga, gadis itu—yang paling kuat tapi sama sekali tidak paham apa kekuatannya, yang terus bingung dengan apa yang terjadi di sekitarnya, berusaha mencari jawaban padahal jawaban itu ada di dirinya sendiri— adalah bagian dari dunia lain.

”Sekarang kita tambahkan dengan faktor terakhir, kamu ternyata guru mereka. Maka hasil persamaan ini adalah apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan diam­diam, Selena? Peng­khianatan yang lebih besar? Kekuasaan yang lebih tinggi?” Sosok kurus itu menatap dengan ekspresi wajah merendahkan.

”Aku tidak tertarik membahas imajinasi kosong yang tidak penting sementara murid­muridku butuh bantuan,” Miss Selena menjawab datar. ”Kamu harus segera tinggalkan mereka, atau...” 

”Atau apa, Selena?” Sosok tinggi kurus itu tertawa lagi. ”Aku akan melawan,” Miss Selena menjawab tegas.

”Astaga, Selena!” Sosok tinggi kurus itu pura­pura terkejut. ”Tidakkah di Dunia Tanah yang rendah ini juga terdapat nasihat jangan pernah melawan guru sendiri? Kamu hendak melawanku? Dengan apa, Nak? Aku yang mengajarkan seluruh kekuatan yang kamu punya hari ini. Semuanya. Kecuali tentang berhitung, me­nyulam, dan merajut itu. Bisa kita lupakan. Sungguh berani­nya kamu!”

Miss Selena tetap tenang, menatap datar.

”Tidakkah kamu akan malu jika tiga muridmu ini melihat gurunya dipermalukan di hadapan mereka, Selena?” Sosok tinggi kurus itu mengangkat tangannya. Dia jelas tidak akan pergi seperti yang disuruh.

Miss Selena ikut mengangkat tangannya, bersiap. ”Aku akan mengambil risikonya.”

Aku menahan napas menyaksikan ketegangan yang segera meruyak di remang aula. Seli sudah bisa berdiri di sebelahku. Wajahnya masih meringis menahan sakit. Sedangkan Ali, si genius itu sekali lagi memukul satu dari mereka yang ter­geletak di dekat kami. Orang dengan pakaian gelap itu terlihat bergerak hendak bangkit. Ali refleks memukulnya dengan pe­mukul bola kasti agar tetap terkapar.

Aku melirik Ali, apa yang sedang dia lakukan? Ali meng­angkat bahu. ”Hei, dia bisa saja tiba­tiba berdiri dan menyerang kita lagi, kan?” Kurang­lebih begitu maksud wajah Ali tanpa dosa. Sepertinya dia terlalu sering menonton film.

Aku menyeka peluh ber­campur debu di leher.

Miss Selena dan sosok tinggi kurus itu masih saling tatap, berhitung. Tetapi pertarungan tidak bisa dihindari lagi, percakap­an selesai. Sosok tinggi kurus itu menyerang lebih dulu. 

Badannya ringan melompat ke depan, memukulkan tangan kanannya. Miss Selena dengan cepat menghindar ke samping. Tidak terlihat apa yang melintas di udara menyerbu Miss Selena, hanya suaranya menderu kencang, dan saat mengenai tembok aula, menimbulkan dentum keras. Tiang basket hancur berantak­an. Aku, Seli, dan Ali membungkuk, berlindung. Lantai yang kami pijak bergetar. Tabir yang melindungi dinding aula bergoyang.

Sosok tinggi kurus itu tidak berhenti. Dia segera mengirim tiga­ empat pukulan lainnya. Aku menatap jeri. Tidak ada lagi yang kami kenali dari Miss Selena, guru matematika kami. Dia melompat ke sana kemari, dengan tangkas menghindari pukulan jarak jauh itu. Dentuman kencang susul­menyusul.

Sosok tinggi kurus itu menggeram, untuk kesekian kali mencecar dengan tinjunya. Aku berseru tertahan karena kali ini Miss Selena tidak sempat menghindar. Sepersekian detik se­belum deru pukulan itu tiba, Miss Selena membuat tameng besar, lubang hitam, deru serangan tersedot masuk ke dalamnya. Lubang mengecil, lantas lenyap, persis bersamaan dengan Miss Selena maju mengirim serangan balasan untuk pertama kalinya. Tangan kanan Miss Selena meninju ke depan. Sosok tinggi kurus itu terlihat kaget. Dia yang telanjur merangsek maju, se­pertinya tidak mengira serangan itu datang, terlambat meng­hindar. Tubuhnya terbanting dihantam sesuatu yang tidak ter­lihat. Tubuhnya mental sepuluh meter, hingga tembok aula me­nahannya.

Aku mengepalkan tangan. Rasakan!

Seli yang menunduk di sebelahku mengangkat kepala, meng­intip, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sedangkan Ali, lagi­lagi memukul salah satu dari orang­orang pembawa panji yang me­rangkak hendak bangun. Aku me­lotot. ”Hei, Ali, apa yang kamu lakukan?”

Ali lagi­lagi mengangkat bahu. ”Semoga saja dari delapan orang berpakaian gelap yang tergeletak itu tidak ada yang tiba­tiba bangun. Itu bisa berbahaya, kan?” ujarnya santai.

”Kamu sepertinya belajar dengan baik sekali, Selena.” Sosok kurus tinggi itu tertawa pelan. Dia berdiri, menyeka mulutnya, merapikan jubahnya. 

Aku mengeluh, kukira pertarungan sudah selesai.

”Baik, saatnya untuk lebih serius.” Sosok tinggi kurus itu menggerung pelan, dan belum habis gerungannya, dia melompat menyerbu.

Suara seperti gelembung air meletus terdengar.

Sosoknya menghilang, lalu cepat sekali dia sudah ada di depan Miss Selena. Pertarungan jarak pendek telah dimulai. Tinju kanannya memukul.

Miss Selena sepertinya siap menerima serangan. Dia me­nunduk. Tapi percuma, tinju tangan kiri sosok tinggi itu juga me­nyusul sama cepatnya. Miss Selena menangkis dengan kedua tangan bersilang, bergegas hendak membuat tameng, tapi ter­lambat. Keras sekali pukulan itu, berdentum. Miss Selena ter­pental ke belakang. Sosok tinggi kurus itu hilang lagi, lantas dia sudah berada di atas tubuh Miss Selena yang masih melayang setelah terkena pukulan. Sosok tinggi kurus itu menghantamkan kedua tangannya tanpa ampun.

Seli di sebelahku menjerit. Aku menggigit bibir.

Miss Selena tidak sempat menghindar sama sekali, juga meng­angkat tangan untuk menangkis. Dentuman keras terdengar untuk kesekian kali, disusul terbantingnya tubuh guru mate­matika kami di lantai aula. Lantai semen terlihat retak. Tubuh Miss Selena tergeletak.

Aku gemetar menunggu. ”Bangunlah!” aku berbisik.

Aku tidak tahu berada di sisi mana Miss Selena dalam kejadi­an ini. Bahkan aku sama sekali tidak punya ide apa yang sebenar­nya sedang terjadi. Sosok tinggi kurus ini siapa? Apa yang mem­buatnya memaksa menjemputku? Kenapa Miss Selena tiba­tiba muncul? Apa peranannya dalam kejadian ini? Jangan­jangan dia lebih jahat dibandingkan siapa pun. Tapi tidak mungkin. Miss Selena guru matematika kami di sekolah. Meskipun galak, disiplin, aku tahu dia selalu menyayangi murid­ muridnya.

”Bangunlah, Miss Selena.” Suaraku bergetar menyemangati. 

”Kamu boleh jadi ahli dalam pertarungan jarak jauh, Selena. Tapi kamu tidak pernah menguasai pertarungan jarak dekat.” Sosok tinggi kurus itu berdiri satu langkah di depan tubuh Miss Selena yang masih tergeletak.

”Maafkan aku, Selena. Seharusnya sejak dulu kuselesaikan urusan kita.” Sosok tinggi kurus itu menatap prihatin.

Miss Selena masih meringkuk. Entah masih hidup atau tidak. ”Bangunlah, Miss Selena,” aku berbisik pelan.

”Hari ini akan kuperbaiki hingga ke akar­akarnya kesalahan yang pernah kulakukan saat memilihmu sebagai murid.” Sosok tinggi kurus itu mendesis, tangannya terangkat tinggi. Aku bisa merasakan betapa besar kekuatan yang keluar dari tangan­nya. Bahkan kami yang berjarak belasan meter terdorong ke tembok oleh angin deras.

”Selamat tinggal, Selena!” Tangan itu ganas menghunjam ke arah tubuh Miss Selena.

Tiba­tiba tubuh Miss Selena lenyap.

Dentuman kencang terdengar saat pukulan itu tiba. Lantai aula melesak satu meter. Bongkahan semen berhamburan. Ada lubang selebar dua meter di antara kepulan debu.

Miss Selena muncul di belakang sosok tinggi kurus itu. Wa­jah­nya yang bersinar terlihat meringis, sisa rasa sakit menerima pukulan tadi. Tubuhnya juga kotor, tapi dia tampak baik­baik saja, bahkan dengan sekuat tenaga melepas pukulan. Sosok tinggi kurus yang masih terperanjat melihat sasarannya lenyap kini ti­dak sempat menghindar. Pukulan Miss Selena mengenai badan­nya. Tubuh tinggi kurus itu terbanting jauh sekali.

Aku berseru, mengepalkan tangan. ”Yes!”

”Sejak dulu kamu tidak pernah mengenali bakat murid  dengan baik. Bagaimana kamu yakin sekali aku tidak bisa ber­tarung jarak dekat?” Miss Selena berkata datar, napasnya masih tersengal. Pukulan keras barusan sepertinya menguras banyak tenaga. 

Tetapi pertarungan jauh dari selesai. Sosok tinggi kurus itu masih bisa berdiri, tertawa marah. Aku mengeluh melihatnya. Bu­­kan­kah dia sudah terkena pukulan kencang Miss Selena?

Belum habis suara tawa sinisnya, tubuh itu telah menghilang. Berikutnya dia muncul, melompat persis di depan Miss Selena, menyerang. Miss Selena dengan gesit menghindar. Sosok tinggi kurus itu menghilang kembali. Itu hanya serangan tipuan, karena kemudian dia muncul di belakang Miss Selena, menghunjamkan tinjunya. Lebih cepat. Lebih bertenaga. Miss Selena menangkis. Disusul lagi serangan berikutnya.

Aku menelan ludah. Gerakan mereka sekarang nyaris tidak terlihat saking cepatnya.

”Apakah Miss Selena baik­baik saja?” Seli bertanya. Suaranya bergetar oleh kecemasan.

Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Sejauh ini Miss Selena ber­tahan, tidak punya kesempatan balas menyerang.

Dua pukulan dari sosok tinggi kurus itu susul­menyusul meng­hantam tameng lubang hitam yang dibuat Miss Selena. Lubang itu berhamburan, sosok tinggi kurus itu merangsek maju, melepas lagi dua pukulan beruntun. Miss Selena terlambat me­nangkis pukulan terakhir, berdebum, tubuhnya terbanting ke samping. Sosok tinggi kurus itu sepertinya tidak memberi jeda. Dia tidak berhenti, dan melepas pukulan berikutnya sebelum Miss Selena kembali siap.

Seli menjerit melihat Miss Selena terbanting ke sana kemari, sama sekali tidak bisa menangkis. Satu, dua, tiga pukulan, Ali ikut menahan napas tegang. Empat, lima, enam pukulan, entah sudah seperti apa kondisi Miss Selena menerima begitu banyak tinju, berdentum berkali­ kali. Tujuh, delapan, aku sudah tidak tahan lagi melihatnya. Miss Selena tidak akan kuat menerima pukulan bertubi­tubi. Dia butuh bantuan. Aku refleks melompat, mengangkat tangan, jemariku mengepal membentuk tinju, berteriak marah. ”Hentikan!”

Astaga! Aku hanya berniat melompat satu langkah, tapi tubuhku bergerak jauh sekali. Entah bagaimana caranya, suara berdesir kencang 

terdengar saat tanganku terangkat, seperti ada angin puting beliung yang berputar deras di kepal tinjuku, ber­gumpal cepat. Tidak hanya itu, bunga salju juga berguguran dari kepal tinjuku. Dingin menyergap seluruh aula.

Apa yang terjadi? Bagaimana aku melakukannya? Tinjuku te­lak menghantam sosok tinggi kurus itu sebelum aku menyadari­nya. Suara berdentum memekakkan telinga terdengar. Sosok tinggi kurus yang ganas menyerang Miss Selena terlempar jauh, bahkan sebelum tinjuku mengenai tubuhnya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊