menu

Bumi Bab 22

Mode Malam
Bab 22
SATU sosok muncul begitu saja di depan delapan orang ber­baris rapi.

Orang itu yang muncul di cerminku tadi malam, dan malam­malam sebelumnya. Masih seperti yang kuingat, perawakannya tinggi, kurus, wajahnya tirus, telinganya mengerucut, rambutnya meranggas, dengan bola mata hitam pekat. Dia mengenakan aku tidak tahu apakah itu pakaian atau bukan kain yang se­olah melekat ke tubuhnya, berwarna gelap. Tapi kali ini, sosok ter­sebut nyata, bukan di dalam cermin.

”Saatnya menjemputmu, Gadis Kecil.” Sosok itu semakin dekat.

Aku, Seli, dan Ali refleks hendak melangkah mundur, tapi per­cuma, kami sejak tadi tertahan dinding aula, tidak bisa ke mana­ mana.

Menjemput ke mana? Aku menatapnya gentar. Kehadirannya jauh lebih menakutkan dibanding jika dia hanya muncul di da­lam cermin.

”Kamu tidak dimiliki dunia ini, Nak. Kamu akan ikut dengan­ku. Tidak ada lagi latihan, tidak ada lagi kunjungan lewat cer­min. Waktunya habis. Aku akan mendidikmu langsung di dunia kita.”

Aku menggeleng tegas. ”Tidak mau!” Siapa pula yang mau ikut de­ngannya?

”Baik. Aku sudah menduganya. Kamu jelas keras kepala se­perti­ku, bahkan sebenarnya, petarung terbaik klan kita harus me­miliki sifat keras kepala... Kamu akan ikut baik­baik atau aku terpaksa memaksamu.” Sosok kurus itu berhenti lima lang­kah dari kami, menatap serius.

”Aku tidak mau ikut!” aku berseru ketus.

Urusan ini aneh sekali, bukan? Aku tidak kenal dengan orang ini. Dia juga mengunjungi kamarku dengan cara ganjil, menyuruhku latihan 

menghilangkan benda­benda, sekarang enak saja dia memaksaku ikut entah ke mana. Dia pikir dia siapa bisa memaksa.

”Waktuku tidak banyak, Nak. Kamu jangan membuat rumit.” Matanya mulai mengancam, mata yang sama persis ketika menyuruhku menghilangkan novel tadi malam.

Aku menggeleng.

”Baiklah. Kamu sendiri yang menginginkannya.” Sosok tinggi itu mengangkat tangan, memberi kode ke delapan orang di belakangnya.

”Hei!” Ali lebih dulu meloncat di depanku, menghentikan gerakan sosok kurus itu. ”Apa yang akan kamu lakukan? Siapa pun kamu, dari mana pun kamu berasal, kamu tidak bisa me­maksa orang lain untuk ikut rombongan sirkus kalian! Zaman sudah berubah. Ini bukan lagi zaman pemaksaan.”

”Tidak ada yang mengajakmu bicara, Makhluk Tanah! Ming­gir!” Sosok kurus itu menggeram marah.

”Coba saja!” Ali balas menggertak.

”Aku tidak ada urusan dengan bangsa kalian yang lemah dan memalukan.” Sosok kurus itu mengibaskan tangan, pelan saja, bahkan tidak mengenai tubuh Ali, tapi Ali langsung ter­banting ke lantai aula.

Aku dan Seli berseru tertahan.

Tapi Ali segera bangkit. Meski menyebalkan, ada satu hal yang istimewa dari Ali, seluruh sekolah juga tahu: Ali tidak takut pada siapa pun. Kepala Sekolah pun dia ajak berdebat.

Lihatlah, sambil mengaduh pelan, Ali berdiri, berseru galak, ”Aku tidak akan mengizinkanmu membawa temanku pergi!” Ali meraih ranselnya, mengeluarkan sesuatu, pemukul bola kasti.

Sosok tinggi itu tertawa. ”Kamu akan menyerangku dengan benda itu, hah?” 

Ali tidak peduli. Dia sudah melompat mengayunkan pemukul bola

kasti.

Sosok tinggi itu bergerak lebih cepat. Tangannya menderu meng­hantam perut Ali. Aku berseru ngeri. Tadi saja hanya di­tepis pelan Ali terbanting duduk, apalagi jika dipukul langsung. Akibatnya pasti lebih mengerikan.

Tetapi bukan Ali yang terpental, justru sosok tinggi itulah yang terbanting. Selarik kilau petir menyambar, membuat terang sejenak seluruh aula.

Aku menatap tidak percaya.

Seli di sebelahku telah mengacungkan jemarinya ke depan.

Delapan orang yang membawa panji melangkah mundur. So­sok tinggi itu meringkuk di lantai aula. Tubuhnya masih dibalut aliran listrik, meletup menyelimuti pakaian gelapnya.

”Jangan pernah memukul temanku!” Seli berteriak, suaranya serak. Seli jelas sekali takut menghadapi situasi ini. Kakinya bahkan terlihat gemetar, berusaha berdiri kokoh. Tapi Seli tidak punya pilihan, sama seperti saat delapan kabel listrik menyambar kami tadi. Seli refleks memutuskan melawan.

Sosok tinggi itu berdiri perlahan. Wajahnya yang masih diliputi aliran listrik meringis.

”Ini sungguh kejutan besar.” Dia tertawa pelan, mengibaskan pakaiannya, menatap galak. ”Aku tidak pernah tahu Klan Matahari bisa berjalan di atas tanah. Astaga! Kamu baru saja menyambar tubuhku dengan petir, Nak? Sayangnya, kamu sepertinya masih harus banyak berlatih agar petirmu bisa membunuh, karena yang tadi hanya membuatku geli. Atau jangan­jangan kamu juga tidak tahu kenapa memiliki kekuatan. Bingung hingga hari ini?”

”Jangan mendekat!” Seli mengacungkan jemarinya, ada aliran listrik di sana.

”Kamu akan mencegahku dengan apa, anak kecil? Petir yang tadi?” 

Seli menghantamkan lagi tangannya ke depan.

Kali ini sosok tinggi kurus itu lebih siap. Dia balas memukul. Lubang hitam menganga muncul, menggantung di depan mem­bentuk tameng. Larikan petir yang diciptakan Seli tersedot ke dalam. Lubang itu mengecil, hilang. Sosok tinggi kurus itu men­dorongkan telapak tangannya ke depan. Entah disentuh kekuatan apa, meski telapak tangan itu jaraknya masih tiga meter dari kami, Seli tetap terbanting menghantam dinding aula.

Aku menjerit ngeri. Itu pasti sakit sekali. Seli mengerang, terkulai duduk.

”Ringkus mereka berdua!” Sosok tinggi kurus itu tidak peduli. Dia justru berseru lantang ke belakangnya. ”Akan menarik sekali bisa membawa pulang seorang anggota Klan Matahari.”

Delapan orang membawa panji meloncat ke depan, meng­hunus panji tinggi mereka yang sekarang berubah menjadi tom­bak panjang berwarna perak.

Seli masih berusaha memukulkan tangannya ke depan, me­lawan, selarik kilat menyambar, lebih redup dibanding sebelum­nya, tapi delapan orang itu dengan mudah menghindar. Ali ber­teriak di sebelahku, mengayunkan pemukul bola kasti, juga melawan, tapi salah satu dari mereka menangkisnya dengan tombak. Ali ter­lempar ber­sama pemukul bola kastinya.

Aku mendesah cemas. Apa yang harus kulakukan? Aku juga harus melawan.

Tanganku teracung ke depan, berseru lantang, ”Hilanglah!”

Tiga dari mereka yang membawa tombak memang menghilang seketika, tapi kemudian kembali muncul. Tidak berkurang apa pun, malah maju semakin dekat, mengancam dengan tombak perak. 

Sosok tinggi kurus itu tertawa. ”Kamu sepertinya tidak be­l­ajar, Nak. Kamu tidak bisa menghilangkan orang yang sudah hilang dari dunia ini. Ingat kucing hitamku?”

”Hilanglah!” aku menjerit panik.

Sebanyak apa pun aku bisa menghilangkan, mereka muncul kembali.

”Kamu masih harus belajar banyak, Gadis Kecil. Itulah guna­nya kamu ikut denganku. Dunia Tanah ini terlalu hina untuk klan kita.” Sosok kurus itu tergelak.

Mereka berhasil meringkus Seli, mengikat seluruh tubuhnya dengan jaring perak. Seli berontak, berusaha melawan dengan sisa tenaga, namun sia­sia. Jaring itu semakin kencang setiap kali dia berontak.

”Tinggalkan saja Makhluk Tanah itu. Kalian tidak perlu mem­bawanya,” sosok tinggi itu berseru.

Ali dilemparkan kembali ke lantai aula sekolah. Jaring perak yang telanjur membungkusnya membuka sendiri. Jaring itu me­rangkak kembali ke tombak perak.

Aku terdesak di dinding, panik melemparkan apa saja yang ada di dekatku, termasuk bola voli dan galah. Tidak ada artinya bagi mereka. Aku tidak bisa ke mana­mana. Empat dari mereka mengepungku. Salah satu dari mereka mengacungkan tombak yang dari ujungnya keluar jaring. Aku menunduk, berusaha menghindar. Percuma, jaring itu seperti bisa bergerak sendiri, berubah arah, siap menjerat.

Tidak ada lagi yang dapat kulakukan, tiga orang anak kelas sepuluh melawan delapan orang dewasa yang tiba­tiba datang dari lubang di dinding aula, ditambah sosok tinggi kurus itu. Kami bukan lawan sebanding. Tidak adakah yang mendengar semua kegaduhan di dalam aula? Datang menolong kami? Bukan­kah teriakanku dan Seli seharusnya terdengar lantang dari luar?

Aku mengeluh, bahkan suara sirene mobil pemadam kebakar­an di halaman sekolah pun tidak bisa kami dengar, se­akan ada tabir yang 

menutup seluruh dinding, membuat aula senyap, remang bagai malam hari. Terputus dari dunia luar.

Jaring perak menangkap tanganku, lantas seperti lintah, men­jalar, berjalan sendiri ke seluruh tubuh, berusaha membungkus badanku. Semakin kencang aku berontak, semakin cepat jaring itu bergerak. Aku mengeluh panik. Apa yang harus kulakukan? Seli bahkan sudah digendong salah satu dari mereka. Aku mulai putus asa.

Terdengar suara seperti gelembung air meletus pelan di dekat­ku.

Lantas kalimat datar bertenaga. ”Sepertinya aku datang ter­lambat. ”

Entah muncul dari mana, di sampingku telah berdiri dengan gagah orang yang juga amat kukenal selama ini. Tangannya ber­gerak cepat, lebih cepat daripada bola mataku mengikuti, me­nebas jaring perak di tubuhku, luruh ke bawah.

Aku terduduk. Orang yang baru datang itu mengulurkan ta­ngan­nya, membantuku ber­diri, lantas menatap ke depan dengan tenang.

”Kalian seharusnya memilih lawan setara.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊