menu

Bumi Bab 21

Mode Malam
Bab 21
ALI memimpin kami ke aula sekolah. Dia gesit mendorong pintu aula, dan segera menutupnya saat kami sudah di dalam. Itu pilihan yang paling masuk akal. Dalam kondisi masih kaget, kaki gemetar, kami tidak bisa menghindar jauh. Dari arah depan sudah terdengar derap kaki guru mendekat, berseru dan ber­tanya satu sama lain apa yang terjadi. Rombongan itu persis melintas saat pintu aula ditutup rapat.

”Kalian tidak apa­apa?” Ali bertanya.

Aku dan Seli menggeleng. Aku hanya lecet di lengan karena terjatuh duduk saat hendak menghindari kabel listrik. Seli sama sekali tidak terluka.

”Ini hal gila yang pernah kusaksikan.” Ali membuka tas ransel miliknya, mengeluarkan botol air minum, menyerahkannya padaku. ”Kamu mau minum, Ra?”

Aku menatap sekilas wajah Ali yang biasanya selama ini terlihat menyebalkan. Dia tersenyum ramah. Wajahnya antusias. Aku menerima botol air minum itu, menenggak beberapa teguk. Terasa segar di kerongkongan. Aku berikan kepada Seli.

”Kalian tahu, ini lebih keren dibanding di film­film.” Ali ­nyengir lebar, menatap kami bergantian. ”Setidaknya aku tidak keliru, ada banyak sekali hal hebat di dunia ini yang tidak disadari orang banyak. Lihat, kamu baru saja menghilangkan tiang listrik raksasa yang bahkan dinaikkan ke mobil kontainer pun tidak muat, Ra.”

Aku menggeleng, menepuk­nepuk sisa debu di seragam. Kalau Ali ingin bilang kejadian barusan itu keren dan hebat, dia keliru. Itu mengerikan. Kami hampir tewas disengat listrik sekaligus ditimpa tiang raksasa. 

”Apa yang kita lakukan sekarang?” Seli bertanya, suaranya ma­sih bergetar. Dia menatap sekeliling aula. Ruangan besar itu kosong melompong.

Aku ikut memeriksa aula. Selain untuk rapat, pertemuan guru­­­wali murid, dan pertunjukan seni, aula itu sekaligus merangkap lapangan olahraga indoor. Ada lapangan bulu tangkis di dalam­nya, yang garis­garisnya ditimpa lapangan futsal, lapangan voli, dan lapangan basket. Ada empat lapangan sekaligus di lantai aula. Praktis, jika ingin bermain bulu tangkis, tinggal pasang tiang dan netnya. Kalau ingin bermain basket, lepas tiang dan net badminton, dorong tiang­tiang basket yang disimpan di sudut­sudut aula. 

Di luar aula suara keramaian semakin terang. Juga sirene mobil pemadam kebakaran.

”Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Seli mengulang per­tanyaannya.

”Kita menunggu,” Ali menjawab. ”Jika sudah banyak orang di sekolah ini, kita bisa menyelinap di tengah keramaian tanpa me­narik perhatian.”

Seli mengembuskan napas pelan, beranjak duduk bersandarkan dinding aula, wajahnya terlihat lelah. ”Aku lapar, Ra... Kita tidak jadi makan di kedai fast food.”

Aku menatap Seli, siapa pula yang mau makan di kedai fast food? Kondisi kami mengenaskan begini. Bisa­bisanya Seli ingat makan siang. Dasar perut karung.

”Bagaimana kamu tahu kami ada di belakang?” Seli menoleh ke arah Ali, bertanya.

”Eh, aku beberapa hari terakhir memang menguntit Ra.” Ali nyengir, menjawab ringan, seolah kata menguntit itu hal biasa. ”Sejak aku curiga dia bisa menghilang. Kamu tadi me­nangkap kabel listrik itu, Seli. Bagaimana kamu melakukan­nya?” 

Seli menggeleng. ”Aku tidak tahu. Tidak ada yang bisa aku lakukan, menghindar tidak sempat, lari tidak mungkin. Tiba­tiba saja aku nekat menangkapnya.”

”Keren!” Ali mendesis.

Aku menyikut lengan Ali di sebelahku. Apanya yang keren?

”Tapi ini pasti bukan yang pertama kali, kan?” Ali nyengir tanpa dosa, menahan tanganku, asyik bertanya kepada Seli—seperti wartawan gosip yang semangat melakukan wawancara.

Seli mengangguk. ”Sejak kecil aku terbiasa dengan listrik. Tidak pernah tersengat. Tanganku juga bisa mengeluarkan aliran listrik. Tidak ada yang tahu. Kalian orang pertama yang tahu.”

”Itu keren sekali, Seli!” Ali berseru.

Aku kali ini menarik lengan Ali, melotot. ”Tidak ada yang keren dengan semua ini! Kami baru saja selamat dari ke­jadian gila. Kamu menganggap ini hanya salah satu praktikum fisika?”

”Eh nggak sih, Ra. Maksudku, eh, tapi itu memang keren kok.”

Kalau saja situasinya lebih baik, saking jengkelnya, si biang kerok ini akan kubuat hilang—dengan asumsi aku bisa melaku­kan­nya.

”Sejak kapan kamu bisa menghilangkan benda?” Seli sekarang mendongak padaku.

”Sejak semalam,” Ali yang menjawab, lalu nyengir lebar. Aku kembali menoleh padanya.

”Sori, Ra. Aku memang meletakkan alat di rumahmu. Aku bisa melihatmu menghilangkan novel dan kursi di kamar tadi malam.”

”Apa?” Aku melotot.

Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 

Aku sekali lagi meloncat, memegang kerah Ali. Enak saja dia menatapku dengan wajah tanpa dosa. Kalau dia meletakkan alat itu di kamarku, itu berarti saat aku sedang tidur, sedang belajar, sedang mengupil, bahkan ganti baju sekalipun di kamar bisa dia lihat.

”Eh, aku tidak melakukan lebih dari itu, Ra. Sumpah. Aku hanya mengaktifkan alatnya pada saat­saat tertentu, ketika sen­sor­nya berbunyi. Lagi pula alat perekam yang kuletakkan fungsi­nya berbeda dengan kamera kebanyakan,” Ali membela diri, seperti tahu apa yang terlihat dari tatapan marahku.

Aku mengencangkan cengkeraman. Tidak peduli.

”Aduh, Ra. Lepaskan, aku susah bernapas.” Ali tersengal. ”Aku minta maaf jika kamu marah. Itu sungguh alat yang berbeda, tidak seperti yang kamu bayangkan. Bukan perekam biasa. Aku bisa menjelaskannya. Sumpah, aku tidak melihat yang aneh­aneh, selain kamu menghilangkan”

”Omong kosong!” aku berseru galak. Enak saja si biang kerok ini membela diri. Seli di sebelah masih duduk, memulih­kan diri, menonton aku dan Ali bertengkar.

Tetapi gerakan tanganku terhenti. Terdengar suara alarm dari ransel Ali.

”Ada yang datang,” Ali berkata patah­patah. Dia berusaha melepaskan tanganku.

”Ada yang datang? Siapa?” tanyaku cemas. Ritme suara alarm itu semakin cepat.

”Astaga, banyak sekali yang datang!” Ali berseru panik. Aku menatap wajah Ali, tidak mengerti.

Ali berhasil melepaskan diri dari cengkeramanku yang me­ngendur. Dia bergegas mengeluarkan peralatan dari dalam ransel­nya. Entahlah, mirip tablet atau laptop, tapi bentuknya ber­beda, lebih tipis dan simpel. 

Si genius ini pasti jago me­mermak apa pun. Suara bip­bip­bip terdengar semakin cepat.

”Siapa yang datang?” Seli bertanya, beranjak mendekat, me­natap layar peralatan Ali.

Aku menoleh ke pintu aula. Di luar memang ramai suara orang. Halaman sekolah juga sudah dipenuhi sirene mobil pe­madam kebakaran. Selain punya jalan tersendiri, ada akses pintas ke gardu listrik itu melewati sekolah. Guru? Petugas? Mereka akan masuk ke dalam aula.

”Aku juga tidak tahu siapa mereka, Sel.” Ali menggeleng. ”Me­reka jelas tidak akan datang lewat pintu aula, Ra.”

”Tidak melewati pintu aula? Bagaimana mereka masuk?” Seli jadi ikut panik. Aula sekolah tidak memiliki pintu lain, juga jendela. Hanya ada kisi­kisi di seluruh dinding untuk sirkulasi udara. Itu pun posisinya empat meter lebih di atas lantai. Kucing pun tidak bisa melewatinya.

”Aku tidak tahu bagaimana mereka akan masuk ke aula.” Ali meng­geleng, berusaha menjelaskan dengan cepat. ”Aku meletak­kan banyak sensor di sekolah sejak kejadian Ra diusir dari kelas matematika. Ra tidak mau mengaku bisa menghilang, jadi aku tidak punya pilihan, mencari buktinya dengan merakit peralatan. Alatku tidak hanya berfungsi merekam, tapi sekaligus merasakan. Jadi kalau ada yang bergerak tidak terlihat, tetap bisa ketahuan. Kalian tahu, itu mudah dilakukan, tapi susah menjelaskannya lebih detail.” Si genius itu menyisir rambut berantakannya dengan jari tangan, menatap tajam layar tablet di tangannya. ”Mereka sudah dekat sekali.”

Dekat apanya? Aku dan Seli saling tatap, memeriksa aula dengan panik.

Hanya ada kami bertiga di dalam. Tidak ada siapa­siapa di aula sekolah. Tiang basket tegak mematung di tengah. Beberapa bola voli, alat lompat tinggi, dan trampolin tergeletak di sudut­sudut. Cahaya matahari menembus kisi­kisi dinding. Tinggi aula ini hampir 5 meter, dengan luas 20 x 30 meter.

”Mereka banyak sekali, delapan orang setidaknya.” Ali men­desis. 

Aku dan Seli menelan ludah, menatap gentar ke seluruh arah.

Aula tiba­tiba meremang, seperti ada yang melapisi se­luruh dinding aula dengan plastik hitam. Tidak ada lagi cahaya mata­hari yang masuk, seolah di luar telah beranjak malam. Suara bising sirene di halaman sekolah, juga orang­orang yang berteriak meredup, kemudian senyap sama sekali.

Aku menatap sekitar dengan gentar, apa yang sebenarnya sedang ter­jadi? Seli patah­patah berdiri, berjaga­jaga. Ali di se­belahku me­masukkan tabletnya ke dalam tas ransel. Kami ber­tiga berdiri rapat.

Aula sekolah berubah persis seolah kami sedang ada di tanah lapang luas, tapi pada malam hari, dengan semburat cahaya bu­lan yang lembut. Kami bisa menatap kejauhan, meski tidak jelas.

”Mereka tiba,” Ali berbisik pelan, suaranya terdengar bersemangat berbeda sekali dengan intonasi suaraku atau Seli yang cemas.

Aku melirik Ali, hampir menepuk dahi tidak percaya. Si genius ini sejak tadi menganggap semua ini keren dan hebat. Tidakkah dia tahu bahwa ini boleh jadi amat berbahaya, bukan sekadar seru­seruan meledakkan laboratorium fisika. Kami bah­kan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa maksud semua ini? Seli merapat di sebelahku, wajahnya sama sepertiku, cemas.

Beberapa detik lengang.

Dari dinding seberang, dari jarak tiga puluh meter terlihat lubang dengan pinggiran hitam yang semakin lama semakin besar. Seperti ada gumpalan awan hitam bergulung, perlahan membuka celah, menciptakan lorong. Kami semakin tegang, menunggu.

Saat lubang itu sudah berukuran setinggi orang dewasa, me­lintas dengan amat mudah, delapan orang membawa panji­panji tinggi. Mereka muncul dari lubang, berderap maju, mendekat dengan cepat. Pakaian mereka berwarna gelap. Aku tidak tahu pasti warnanya. Aula remang. Mereka berperawakan ramping tinggi, laki­laki, dengan rambut panjang diikat di belakang. Wajah mereka yang tampan seperti bercahaya, cemerlang. 

Mereka berhenti persis sepuluh langkah dari kami, berjejer rapi.

Lubang di belakang mereka mengecil, kemudian lenyap.

Kami bertiga semakin rapat, berjaga­jaga atas segala kemungkinan. Terdengar suara gelembung meletus pelan.

”Halo, Gadis Kecil,” sebuah suara menyapaku. Aku menelan ludah, mengenali suara itu.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊