menu

Bumi Bab 20

Mode Malam
Bab 20
AKU lagi­lagi tidak bisa tidur. Setelah mematikan lampu, menarik selimut, aku berkali­kali berusaha memejamkan mata. Tapi percuma, aku hanya bisa melamun menatap remang langit­langit kamar.

Sesekali cahaya petir yang melintasi kisi­kisi jendela membuat terang kamarku. Hujan di luar masih deras. Aku beranjak duduk, memeluk lutut, menatap si Putih yang sudah meringkuk tidur di sampingku.

Aku menatap cermin kamarku. Besok lusa sepertinya aku bisa menutup cermin ini dengan kain atau koran biar tidak meng­ganggu. Aku mengembuskan napas. Itu jelas bukan ide yang baik. Sosok tinggi kurus itu tidak bisa diusir bahkan dengan me­mecahkan cerminnya. Mama akan bingung melihat cerminku dibungkus sesuatu.

Papa belum kunjung pulang hingga tengah malam, pukul sebelas lewat. Mama mungkin sudah tertidur pulas di sofa, menunggu, seperti yang Mama lakukan selama enam belas tahun sejak mereka me­nikah.

Aku menguap kesekian kalinya, kembali menarik selimut, me­lemaskan badan, menutup mata. Di benakku malah muncul de­ngan jelas kejadian saat si Putih diterkam si Hitam. Aku me­ngeluh, membuka mata. Apa susahnya memaksa benakku ber­henti memikirkan hal itu. Apa susahnya menyuruh pikiranku ber­henti memikirkan hal­hal yang tidak ingin kupikirkan. Tidak sekarang, aku ingin tidur.

Satu jam lagi berlalu, aku menyerah. Bahkan orang dewasa paling mampu mengurus masalah pun tidak bisa mengontrol pikiran­pikiran di kepalanya. Aku duduk kembali di atas kasur, me­natap novel di atas kursi, berpikir. Apakah aku bisa meng­hilangkannya? Ragu­ragu aku mengacungkan jemari.

Hei, novel itu bahkan sudah hilang sebelum aku selesai kon­sentrasi. Aku menelan ludah. Hilang begitu saja? Mudah sekali? Bukankah beberapa hari terakhir aku sudah bersusah payah, tetapi tidak 

berhasil? Aku beringsut di atas kasur, memeriksa kursi. Tidak ada sama sekali novelnya. Aduh, aku menggaruk kepala yang tidak gatal, menyesal. Padahal aku belum selesai mem­bacanya. Ke mana novel itu pergi? Aku menatap cermin siapa tahu seperti si Hitam yang muncul di dalam cermin. Tidak ada yang berbeda di dalam cermin, hanya ada wajahku yang bingung.

Tapi apakah memang semudah itu menghilangkan novel? Atau hanya kebetulan? Seperti saat aku panik berusaha meng­hilangkan kucing hitam? Aku ragu­ragu menatap kursi belajarku. Jemariku teracung. Baiklah, akan kucoba sekali lagi. Hilanglah!

Kursi belajarku lenyap dari kamar! Astaga. Aku hampir jatuh dari tempat tidur karena kaget. Kursi itu benar­benar lenyap. Harus kuakui ini mulai keren.

Aku turun dari kasur, memeriksa lantai. Tanganku menyibak­ nyibak udara kosong, tidak ada kursi belajarku di sana.

Aku menelan ludah. Bagaimana kalau besok Mama bertanya ke mana kursi belajarku? Aku menepuk dahi pelan. Kenapa aku tidak memikirkannya tadi sebelum mencoba menghilangkannya? Tidak mungkin aku mengarang cerita kursi itu hilang sendiri, seperti bolpoin atau buku yang terselip. Atau aku bisa mengem­bali­kan kursi itu? Bukankah sosok tinggi kurus itu bilang begitu? Mengembalikan sesuatu yang hilang?

Sisa malam kuhabiskan dengan mencoba mengembalikan kursi belajarku. Setengah jam berlalu, tidak ada kemajuan. Aku gemas sendiri, berkonsentrasi, tapi tetap tidak berhasil. Aku mengusap wajah, mungkin bendanya terlalu besar. Jika lebih kecil, mungkin lebih mudah?

Aku berganti mencoba mengembalikan novelku, tapi lima belas menit berlalu tetap tidak ada kemajuan. Mungkin novel masih terlalu besar. Baiklah. Akan kucoba gunting, yang lebih kecil. Aku mengembuskan napas sebal, lima menit, guntingnya tetap tidak kem­bali. Juga flash disk aku lagi­lagi menyesal, kenapa aku iseng, sembarangan saja memilih benda yang harus dihilangkan. Di dalamnya kan banyak file 

lagu­lagu yang kusuka. Klip buku, tutup bolpoin, jarum pentul, peniti, banyak sekali benda yang sudah kulenyapkan setengah jam kemudian, semakin lama semakin kecil, tapi tidak ada satu pun yang ber­hasil kembali, termasuk kancing salah satu kemejaku yang sangat kecil.

Aku mengusap wajah yang berkeringat. Meski udara dingin dan di luar gerimis, konsentrasi terus­menerus membuatku ber­keringat. Si Putih tidur melingkar, nyenyak, tidak tahu pe­miliknya sibuk menghilangkan benda­benda kecil di sekitarnya.

Baiklah. Aku menyerah. Sebaiknya aku kembali tidur. Sudah terlalu banyak yang kuhilangkan malam ini. Apalagi kursi belajar itu. Lihat saja besok. Semoga Mama tidak masuk kamarku dan menanyakan ke mana kursi itu.

***

Pagi kembali datang.

”Pagi ini Mama antar kamu ke sekolah, ya. Naik motor.” Mama langsung menyambutku di meja makan dengan kalimat itu, sambil sibuk mengangkat masakan dari wajan.

Aku menatap Mama, tidak mengerti. Aku sudah rapi dengan seragam sekolah.

”Papa baru pulang tadi jam lima subuh. Sekarang masih tidur, jadi tidak bisa mengantarmu,” Mama menjelaskan. Wajah Mama terlihat letih mungkin semalam terus menunggu Papa. ”Itu pun harus  segera berangkat lagi nanti jam sembilan. Pekerjaan di kantor Papa sedang banyak­banyaknya.”

Tadi malam aku juga baru tidur jam dua. Aku tahu Papa belum pulang hingga jam tersebut. Meski Mama tidak mau ber­cerita masalah di kantor, aku tahu, sepertinya masalah mesin pencacah yang rusak itu masih panjang.

”Ra naik angkutan umum saja, Ma. Kalau diantar, nanti me­repotkan Mama.” Aku menggeleng, menarik bangku, duduk. 

”Tidak repot lho, Ra. Kan Mama bisa ngebut. Paling juga bolak­balik hanya setengah jam.” Mama mengedipkan mata, men­coba bergurau.

”Tidak usah, Ma. Kan Mama banyak pekerjaan di rumah. Lagian, siapa tahu Papa bangun lebih cepat, nanti teriak­teriak cari dasi dan kaus kaki. Mama kan tahu, Papa itu kalau ke­capekan suka error, bahkan dasi yang sudah dipasang saja masih dia cari.” Aku nyengir.

Mama tertawa kecil. ”Kamu selalu bisa menghibur orangtua, Ra. Ya sudah, kamu naik angkutan umum. Ayo, Mama temani kamu sarapan.”

Lima belas menit ke depan aku dan Mama menghabiskan nasi goreng.

”Oh iya, Ma, nanti sore Ra ada pertemuan Klub Menulis, jadi pulang agak sore. Boleh kan, ya?” Aku teringat sesuatu.

Mama mengangguk. ”Iya. Nanti Mama siapkan bekal makan siangnya.”

”Oh iya lagi, Ma, kamar Ra sudah dibereskan tadi. Jadi tidak perlu Mama bersihkan lagi.” Aku berusaha berkata senormal mungkin.

”Iya,” Mama menjawab pendek.

Aku bersorak dalam hati. Mama tidak curiga dengan kalimat­ku barusan. Setidaknya pagi ini Mama tidak akan masuk kamar­ku.

”Sebenarnya Papa di kantor ada pekerjaan apa sih, Ma?” Aku basa­ basi, masih berusaha menutupi jejak soal memeriksa ka­mar.

Mama diam sebentar, menelan makanan di mulut. ”Entahlah, Ra.

Sepertinya pekerjaan besar.”

Aku mengangguk­angguk sok paham.

Mama menghela napas. ”Kasihan Papa, masa baru pulang jam lima pagi. Ini rekor.”

”Bukannya rekornya yang dulu, Ma? Papa nggak pulang, ma­lah ke Singapura?” Aku tertawa. 

”Itu sih beda, Ra. Papa memang bilang nggak akan pulang. Tiba­tiba harus dinas ke luar kota.” Mama menggeleng.

Aku lagi­lagi mengangguk.

”Asyik kali ya, Ra, kalau tiba­tiba pekerjaan Papa di kantor itu bisa dihilangkan begitu saja. Wush, hilang. Papa jadi tidak perlu lagi bekerja habis­habisan.” Mama menatap piring nasi goreng di hadapannya.

Aku hampir tersedak, buru­buru minum.

”Nggak mungkinlah, Ma.” Aku pura­pura tertawa. Mama ikut tertawa. ”Iya, kan kali­kali saja bisa.”

Kami berdua tertawa. Aku lamat­lamat memperhatikan wajah letih Mama yang segar sejenak karena tawa. Kalau saja Mama tahu anak remajanya semalam telah menghilangkan bangku be­l­ajar, mungkin Mama sekarang sudah berteriak­teriak panik dengan wajah pucat.

***

Pagi hari di sekolah.

”Pagi, Ra.” Seli mengagetkanku saat turun dari angkot. ”Kamu naik angkot? Papamu ke mana?”

”Masih tidur,” aku menjawab pendek, menerima uang kembali­an, melotot ke sopir yang kalau dilihat dari gelagatnya belum mandi pagi. Dasar sopir angkot pelit, biasanya juga kalau anak sekolah tarifnya separuh. Aku mengalah. Salahku juga sih, se­harusnya tadi pakai uang pas.

”Papaku lagi sibuk di kantor. Semalam pulang larut sekali, jadi­nya aku berangkat sendiri,” aku menjawab pertanyaan Seli lebih baik.

Seli ber­oh sebentar. 

Hari ini sekolah berjalan lancar. Tepatnya mungkin karena aku sedang memikirkan banyak hal, jadinya mengabaikan Ali yang bertengkar dengan kakak­kakak kelas dua belas di kantin saat istirahat pertama. Aku menatap kosong papan tulis yang penuh rumus kimia. Atau mengabaikan Seli, di pelajaran ter­akhir, yang terus menatap Mr. Theo dengan ekspresi terpesona, padahal ulangan bahasa Inggris sudah dibagikan dan nilai di atas kertas jawaban Seli jelek sekali. Seli tetap bahagia dengan kenyataan apa pun.

Lonceng pulang bernyanyi.

”Aku memutuskan ikut Klub Menulis lho, Ra.” Seli mem­bereskan

buku.

”Oh ya?” aku berseru senang. Itu kabar yang bagus sekali. Sejak kami masuk sekolah ini, satu kelas, satu meja sejak per­kenalan pertama, aku sudah membujuk Seli agar ikut ekskul Klub Menulis. Tapi Seli selalu menolak, bilang klub itu tidak seru, hanya untuk anak­anak suka buku saja. Dia bakal bosan.

”Sejak kapan kamu berubah pikiran, Sel?” aku menyelidik. ”Barusan.” Seli tersipu malu.

”Barusan?” Aku tidak mengerti.

”Kamu tidak memperhatikan pelajaran Mr. Theo tadi ya, Ra? Kebanyakan ngelamun sih.” Seli nyengir lebar. ”Tadi Mr. Theo bilang mulai hari ini dia akan jadi pembina di Klub Menulis. Kalau ada murid yang tertarik, bisa ikut bergabung di per­temuan siang ini setelah pulang sekolah.”

Aku melongo. Ya ampun!

”Kamu tidak senang mendengarnya, Ra?” Seli protes melihat ekspresi wajah begoku.

Aku tertawa, buru­buru menggeleng. ”Aku senang kok, Sel.”

Pertemuan Klub Menulis hari ini agak mendadak, setelah beberapa hari lalu dibatalkan. Guru pembinanya mutasi ke se­kolah lain. Hari ini 

ditunjuk penggantinya yang baru. Aku juga baru tahu bahwa Mr. Theo yang jadi penggantinya. Seli benar, aku sejak tadi hanya melamun memperhatikan penghapusku, bahkan nyaris tergoda menghilangkannya. Ini kabar baik, karena setidaknya bukan Miss Keriting yang jadi pembina baru. Mr. Theo guru bahasa, jadi masih berkaitan dengan Klub Menulis.

Seli memasang tasnya di punggung, bertanya riang, ”Sambil menunggu pertemuan Klub Mr. Theo, eh Klub Menulis, kita bagusnya makan siang di mana ya?”

Aku menggeleng, menunjukkan kotak bekal di dalam tas.

”Aku tidak membawa bekal, Ra.” Seli cemberut. ”Kamu sih enak sudah persiapan. Aku kan baru saja memutuskan untuk ikut. Kalau pulang dulu, nanti terlambat.”

Aku tertawa, siapa suruh pula dia mendadak ikut. ”Bagaimana kalau aku bagi bekalku untukmu?”

”Mana cukup.” Seli menatap kotak bekalku, menggeleng. ”Kita makan di kantin, yuk! Kamu bawa saja bekalnya, Ra. Temani aku.”

Kelas sudah sepi. Lorong depan kelas juga lengang. Murid­murid sudah bergerak serempak menuju gerbang sekolah.

Demi menatap wajah memelas Seli—yang mulai mengeluh bilang perutnya lapar—kami akhirnya beranjak menuju kantin di belakang sekolah. Kami menuruni anak tangga, melewati deret­an kelas dua belas, belok ke belakang, melewati gardu listrik. Aku memperhatikan sekilas, perbaikan di gardu listrik se­­pertinya sudah dimulai. Ada beberapa petugas berseragam oranye yang sibuk bekerja.

Sekolah semakin sepi, tidak terlihat siapa­siapa di belakang sekolah. Kami terus melangkah ke kantin. Wajah Seli langsung ter­lipat kecewa melihat kantin yang kosong. Biasanya meski su­dah pulang, tetap ada pedagang kantin yang buka, karena masih ada guru­guru atau murid yang pulang sore. Tapi ini kosong me­lompong. Ada plang besar di depannya: ”Libur Sehari. Per­baik­an Gardu Listrik”. Aku baru ingat kalimat mamang bakso beberapa hari lalu, kantin diliburkan saat perbaikan gardu. Aku menoleh, memperhatikan petugas PLN yang sibuk. 

Sekolah kami memang dekat dengan gardu listrik. Dulu katanya gardu listriknya mau di­pindahkan karena penduduk sekitar sudah protes. Tapi hingga sekarang tidak pindah juga.

”Kita makan di resto fast food dekat sekolah saja ya, Ra?” Seli balik kanan, mengembuskan napas sebal.

”Kamu punya uangnya, Sel?” aku bertanya balik.

Seli menggelang. ”Tidak. Tapi kan nggak ada pilihan lain.” ”Mau kupinjami uang?”

”Nggak usah, Ra. Mungkin kalau beli yang paket hemat ada uangnya.”

Aku nyengir, ikut melangkah di belakang Seli. Nasib jadi murid kelas sepuluh seperti kami ini uang saku serba terbatas. Aku bahkan dibawakan bekal oleh Mama, agar berhemat.

”Tapi nanti pas pulang kamu yang traktir bayar angkot, ya.” Seli menoleh.

Aku tertawa, mengangguk. Siap.

Tapi ternyata urusan makan siang ini jadi panjang sekali, juga urusan Klub Menulis, apalagi rencana Mama yang mau ada arisan di rumah dan Papa yang masih sibuk dengan masalah mesin pencacah di pabriknya.

Siang itu, seluruh cerita berbelok tajam.

Saat kami melewati kembali lorong di belakang sekolah, asyik mengobrol tentang Klub Menulis, salah satu petugas PLN ber­teriak panik, ”Awas!”

Aku dan Seli refleks menoleh. Belum genap mengerti apa yang sedang terjadi, terdengar suara meletup dari gardu listrik. Beberapa petugas lain berlarian menghindar, berteriak lebih panik. ”Awas! Menghindar!” 

Sepersekian detik setelah teriakan itu, salah satu trafo me­nyusul meledak, kali ini lebih kencang dibandingkan letupan per­tama. Suara dentumannya terdengar memekak­kan telinga, kemungkinan hingga dua­ tiga kilometer. Tanah yang kami injak te­­rasa bergetar. Itu ledakan yang besar sekali hingga merontok­kan salah satu tiang listrik di trafo.

Tiang listrik setinggi pohon kelapa itu berderak roboh. Arah­nya justru persis menuju kami berdua yang menatap kejadian de­ngan wajah bingung. Delapan kabelnya yang panjang ter­cerabut putus dari tiang lain, bergerak liar bagai tentakel gurita. Kabel­kabel dengan muatan listrik itu lebih dulu menyambar ke arah kami sebelum tiangnya datang. Percikan api di mana­mana, seperti ada petir kecil merambat di kabel­ kabel itu. Mengeri­kan.

Aku berteriak panik, berusaha lari. Seli mematung mendongak.

”Lari, Seli!” Aku berusaha menarik lengan Seli.

Delapan kabel itu bergerak lebih cepat. Seperti delapan ta­ngan panjang yang siap menyengat.

”Lari, Seli!” aku menjerit, menarik Seli yang mendongak, mematung.

Terlambat. Kami hanya bisa lari pontang­panting tiga langkah saat dua kabel pertama siap menghantam, menyengat dengan te­gangan tinggi. Aku bahkan terjatuh, pegangan tanganku di lengan Seli terlepas. Aku menatap pasrah dua kabel itu datang. Ya Tuhan! Apa yang akan terjadi saat kabel itu menyentuh kami?

Sepersekian detik sebelum dua kabel itu sampai, Seli justru mengangkat tangannya. Dia memasang badannya persis di hadap­anku, melindungiku.

Aku menjerit panik. Apa yang dilakukan Seli?

Astaga! Seli justru menangkap dua kabel itu. Bagai halilintar, aliran listrik merambat di tangan kiri Seli, meletup­letup. Tapi jangankan menjerit kesakitan, wajah Seli mengernyit pun tidak. Dia melemparkan dua kabel itu ke samping, menghantam tem­bok sekolah, membuat 

percikan api besar. Dinding sekolah ha­ngus terbakar, hitam hingga radius dua meter. Enam kabel lain segera me­nyusul. Seli gesit menepis tiga di antaranya ke samping, se­mentara tiga yang lain tidak bisa dia hindari, menghantam telak dada, perut, dan pahanya.

Aku gemetar menyaksikan tubuh Seli dibalut listrik. Percik­an api membungkus badannya. Letupan cahaya merambat hingga leher, kepala, rambut. Sedetik berlalu, Seli menghantam­kan tangannya ke tanah, seluruh aliran listrik itu mengalir me­lewati tangannya, masuk ke dalam tanah, kemudian hilang tak ber­sisa.

Napasku tersengal. Apa yang sedang kulihat?

Tapi masalahnya jauh dari selesai. Sebuah tiang listrik raksasa berderak kencang dari atas kami. Tidak ada aliran listriknya, tapi itu lebih dari cukup untuk menghancurkan atap dan tembok bangunan sekolah apalagi kami yang ringkih berada di bawah­nya.

Demi menatap tiang besar itu, Seli lompat, bergegas, tiga kabel yang melilit tubuhnya luruh ke bawah. Dia menyambar lenganku. Kali ini dia yang berseru panik, ”Lari, Ra!”

Aku masih terduduk, mendongak. Kakiku masih gemetar menyaksikan Seli dibalut aliran listrik.

Lagi pula tidak akan cukup waktunya. Tiang listrik yang ter­buat dari beton itu sudah dekat sekali. Ujungnya sudah meng­hantam atap bangunan sekolah, bergemuruh. Genteng berjatuh­an. Siku­siku kayu dan plafon patah, menyusul dinding sekolah berguguran, dan tiang besar itu terus meluncur ke bawah, tidak kuasa ditahan bangunan sekolah  yang robek.

Aku gemetar menatapnya. Apa yang harus kulakukan? ”Lari, Ra!” Seli berusaha menyeretku, yang tetap mematung.

Tiang listrik besar itu semakin dekat, bongkahan dinding berguguran di sekitar kami. Seli panik mengangkat tangannya, melindungi kepala. Dia berusaha memelukku. Satu­dua bongkah­an dinding berukuran kecil mengenai tubuhku, terasa sakit. 

Apa yang harus kulakukan? Napasku semakin tersengal.

Kami tidak akan bisa melarikan diri dari tiang listrik ini. Tinggal dua meter lagi tiang listrik besar itu menghantam kepala kami, tidak akan cukup waktunya.

Tanganku gemetar. Aku tidak tahu apa yang menuntunku, lima jemariku kalap teracung ke atas, dan aku menjerit kencang. ”Hilanglah!”

Seluruh tiang itu lenyap seketika.

Aku segera meringkuk di sebelah Seli yang jatuh terduduk. Kami berpelukan. Meskipun tiangnya sudah hilang, pecahan genteng dan tembok yang telanjur terhantam tiang berjatuhan di sekitar kami, seperti hujan batu. Kepulan debu memenuhi belakang sekolah.

Aku dan Seli terbatuk, menutup wajah. Seragam kami kotor. Wajah kami cemong. Kotak bekalku terbanting. Isinya tumpah berserakan. Setengah menit berlalu, debu masih berhamburan tinggi menutupi sekitar, hingga hujan batu dari reruntuhan din­ding sekolah reda.

”Astaga! Apa... apa yang telah kamu lakukan, Ra?” Seli me­natap­ku, matanya membulat, melepas pelukan.

Apalagi aku, balik menatapnya dengan tatapan lebih tidak mengerti. ”Apa... apa yang telah kamu lakukan tadi, Seli?”

”Kamu bisa menghilangkan tiang listrik, Ra.” Seli memegang lenganku.

”Kamu juga tadi,” aku menelan ludah, ”kamu tadi menangkap kabel listrik, Seli.”

Tangan kami masih gemetar. Kaki kami masih susah disuruh berdiri. Kejadian itu cepat sekali. Di sekitar kami hiruk­pikuk terdengar, lebih ramai. Petugas berseragam oranye panik ber­larian. Beberapa mengaduh kesakitan, berteriak minta tolong. Ke­bakaran besar menyambar sisa gardu. Api menjulang tinggi, asap hitam mengepul.

Aku dan Seli masih saling memegang lengan, mencoba men­cerna kejadian barusan. 

”Kalau aku jadi kalian, aku akan segera pergi meninggalkan lo­kasi ini.” Suara khas itu terdengar dari lorong belakang se­ko­lah.

Aku dan Seli menoleh. Sosok itu melangkah mendekat.

Ali muncul dari balik debu beterbangan, berdiri di dekat kami, menatap serius.

”Segera tinggalkan tempat ini, Ra, Seli.” Ali mengulurkan ta­ngan­, menawarkan bantuan. ”Hanya butuh dua menit orang­orang akan bergegas datang, ingin tahu apa yang telah terjadi. Seluruh sekolah ini akan dipenuhi penduduk hingga radius dua kilo­meter yang mendengar ledakan. Juga hanya butuh dua belas menit, puluhan mobil pemadam kebaratan tiba dari pool ter­dekat. Kalian tidak ingin ditemukan dalam situasi seperti ini, bukan? Karena jelas sekali tidak mudah menjelaskan ke mana tiang listrik besar itu lenyap.” Ali menatapku, kemudian pindah ke Seli. ”Juga menjelaskan bagaimana seluruh aliran listrik satu gardu seperti disedot Bumi.”

Aku dan Seli saling tatap. Wajah kami kotor berdebu, me­nyisakan

mata.

”Ayo, Ra! Seli! Sudah empat puluh detik sia­sia, di ujung sana sudah terdengar penduduk yang mendekat. Juga dari ruang guru, setidaknya menurut perhitunganku, ada lima guru yang akan kemari. Kalian bergegas!” Ali berseru tegas.

Aku menelan ludah. Meski aku masih bingung kenapa Ali ada di hadapan kami, juga jelas aku tidak mudah percaya dengan si biang kerok ini, tapi kalimatnya masuk akal. Kami tidak mau ditemukan dalam situasi seperti ini. Akan ada banyak sekali per­tanyaan.

Aku terbatuk, meraih tangan Ali, beranjak berdiri. Seli juga ikut berdiri, memegang tanganku, sambil menepis ujung pakaian yang kotor. Nanti­nanti bisa dibicarakan soal kejadian ini. Kami harus segera menyingkir.

”Kalian bisa jalan sendiri?” Ali memastikan. Aku dan Seli mengangguk. 

Ali sudah berjalan gesit di depan. Dia masih sempat me­nyambar kotak bekal dan tas kami yang terjatuh. ”Tidak ada yang boleh menemukan barang­barang kalian yang bisa me­nimbulkan pertanyaan,” Ali menjelaskan cepat. ”Ikuti aku! Aku tahu tempat menghindar sementara.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊