menu

Bumi Bab 17

Mode Malam
Bab 17
LAPANGAN sekolah dipenuhi anak­anak yang baru saja keluar dari kelas, hendak pulang. Juga lorong kelas dan anak tangga. Suara mereka bagaikan dengung lebah mengisi langit­langit. Sementara itu, di langit sesungguhnya, gumpalan awan tebal mengisi setiap pojokan. Musim hujan, pemandangan biasa. Aku bergegas mengejar Ali di antara ke­ramai­an, sedikit menyikut teman yang lain.

”Hei! Tunggu sebentar!” aku meneriaki Ali. Ke­rumunan anak yang hendak menuruni anak tangga membuatku terhambat.

”Hei, Ali! Tunggu!” aku meneriakkan namanya.

Ali menoleh sekilas, tidak tertarik melihatku mengejarnya, tetap berjalan santai.

Aku berhasil mengejarnya, menutup jalan di depannya. ”Nih, hadiah buatmu.” Aku nyengir, menyerahkan bolpoin biru.

Demi menatap bolpoin biru yang kusodorkan ke depan wajah­nya, si genius itu termangu. Tebakanku tadi saat me­ngerjakan ulangan bahasa Inggris benar, kurang­lebih begini­lah ekspresi khas orang tertangkap tangan. Benda ini memang milik si biang kerok ini.

”Brilian sekali, kamu mematai­mataiku selama ini. Tapi lain kali jangan gunakan bolpoin bodoh seperti ini, gampang ketahu­an. Lakukan dengan lebih cerdas.” Aku sengaja meniru intonasi dan cara bicara Miss Keriting satu­satunya guru yang cuek meng­­usir si genius ini.

Ali menelan ludah, ragu­ragu menerima bolpoin itu. Dia ce­ngengesan. Sepertinya itu ekspresi terbaik rasa bersalah yang dia miliki.

Aku menatapnya galak. ”Nah, sebaiknya kamu tahu, rumah­ku bukan laboratorium fisika tempat kamu bebas bereksperimen, meledakkan apalah, menyelidiki entahlah. Sore ini aku akan me­meriksa 

seluruh rumah. Kamu pasti juga meletak­kan sesuatu setelah kemarin jual muka kepada Mama dan Seli. Awas saja kalau aku menemukannya.”

Aku meninggalkan Ali yang entahlah mau bilang apa. Aku segera bergabung dengan kerumunan anak­anak yang hendak me­nuruni anak tangga. Seli menunggu di lapangan. Kami selalu pulang bareng. Dia bertanya kenapa aku lama sekali keluar dari kelas. Aku mengangkat bahu, menunjuk langit mendung, lebih baik bergegas mencari angkutan umum yang kosong.

***

Setiba di rumah, Mama terlihat repot mengangkat jemuran. Gerimis turun saat aku turun dari angkot. Mama menyuruhku memb­antu, aku mengangguk. Tanpa meletakkan tas sekolah, aku mem­bantu membawa sebagian tumpukan pakaian, meletak­kan­nya di ruang depan. Masih lembap, Mama bilang biar di­jemur lagi di halaman belakang yang semi tertutup.

”Halo, Put,” aku menyapa kucingku yang riang menyambutku di ruang tengah. Kepalanya menyundul­nyundul ke betis. Bulu tebalnya terasa hangat.

”Kamu sudah makan siang?” aku bertanya.

Si Putih mengeong pelan, manja kuusap­usap kepalanya.

Aku teringat sesuatu, menoleh sekitar. Baru saja aku bertanya dalam hati, ke mana kucing satunya itu pergi sejak tadi pagi, si Hitam justru terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga. Mata bundarnya menatapku. Aku tidak tahu persis, apakah ka­rena kejadian tadi malam, kali ini aku merasa si Hitam sedang menatapku tajam, bukan tatapan antusias menyambutku pulang seperti enam tahun terakhir. Aku merasa kucing itu tidak se­kadar kucing lagi. Dia mengawasiku. Dan lihatlah, si Hitam duduk diam di anak tangga terakhir, kepalanya mendongak, tidak meloncat menyambutku seperti biasanya.

”Kamu lihat si Hitam di sana, Put?” aku berbisik pada ku­cing­ku. Si Putih balas mengeong pelan. 

”Kamu hari ini bermain dengannya, tidak?” aku berbisik lagi.

Si Putih tetap mengeong seperti biasa. Aku menghela napas. Seandainya tahu bahasa kucing, aku bisa bertanya pada si Putih, apakah si Hitam sungguhan tidak terlihat. Apakah si Putih selama ini sebenarnya hanya bermain sendirian. Apakah si Putih berteman dengan si Hitam?

”Lho, kenapa belum berganti pakaian, Ra? Ayo, bergegas, se­ragammu itu kan juga lembap terkena gerimis. Nanti masuk angin.” Mama yang membawa sisa jemuran menegurku.

”Iya, Ma.” Aku mengangguk. ”Kita ke kamar yuk, Put,” aku berbisik ke kucingku, lantas beranjak menaiki anak tangga, melewati si Hitam yang tetap tidak bergerak dari duduknya, ha­nya melihatku.

Kecuali merasa ganjil karena terus diperhatikan si Hitam, sisa hariku berjalan normal. Aku berganti seragam, makan siang, mem­bantu Mama mencuci piring dan peralatan dapur, lantas bebas sepanjang sore.

”Kamu sebenarnya mencari apa sih, Ra?” Mama yang sedang menyetrika bingung melihatku mondar­mandir satu jam kemudi­an.

”Ada yang hilang, Ra?” Mama yang sudah pindah merapikan keping DVD di ruang televisi bertanya untuk kesekian kali­nya.

Aku mengangkat bahu. ”Bolpoin Ra hilang, Ma.” ”Bolpoin? Segitunya dicari? Kan bisa beli lagi?”

Aku nyengir. Namanya juga alasan asal, mana sempat ku­pikirkan baik­baik. Tapi setidaknya Mama tidak bertanya lagi, membiarkanku terus mengacak­acak rumah.

Dua jam tidak kunjung lelah, aku akhirnya mengembuskan napas sebal. Tidak ada sesuatu yang ganjil. Ali boleh jadi tidak sempat memasang sesuatu, atau dia kali ini memang genius sekali, meletakkan alat penyadap yang tidak bisa ditemukan. Satu jam lagi berlalu sia­sia, aku mengempaskan tubuh di kursi kamarku, juga tidak menemukan apa pun. 

Jam bebasku habis percuma. Padahal aku sudah mem­bayang­kan menemukan alat penyadap yang besok bisa kulemparkan kepada Ali. Aku bergegas mandi sore setelah diingatkan Mama.

Lampu jalanan mulai menyala, matahari beranjak tenggelam.

Gerimis tetap begitu­begitu saja, tidak menderas, tidak juga me­reda.

”Papa pulang malam lagi ya, Ma?” aku bertanya saat makan ma­lam, ditemani Mama.

”Iya. Tadi siang Papa sudah menelepon. Kemungkinan Papa pulang lebih ma­lam dibandingkan kemarin. Pekerjaan Papa di kantor semakin menumpuk.” Mama menghela napas prihatin.

Aku sedikit menyesal bertanya soal Papa. Seharusnya aku bisa mencari topik percakapan yang lebih baik, bukan bilang apa saja yang terlintas di kepalaku. Asal komen.

”Minggu depan, pas arisan, semua keluarga datang ya, Ma?” Aku kali ini sengaja memilih topik yang pasti membuat Mama lebih tertarik, lebih riang.

Mama tersenyum, mengangguk. ”Iya, tantemu bahkan mau menginap semalam.”

”Oh ya?” aku berseru riang—tuh kan, bahkan aku sendiri ikut semangat.

”Iya, Tante Anita bilang bakal bawa si Jacko, biar bisa ber­main ber­sama si Putih atau si Hitam.”



kan?” ”Sungguh?” Mataku membesar. ”Mama tidak sedang meng­goda Ra,

Mama tertawa, mengangguk, itu sungguhan. Jacko itu nama kucing milik Tante Anita.

Makan malam selesai setengah jam ke­mudian, dihabiskan dengan membahas rencana arisan keluarga minggu depan. Di luar hujan mulai turun dengan lebat. 

***

Agak ajaib memang hari ini, tumben tidak ada PR yang harus ku­kerjakan untuk besok. Aku malas belajar matematika per­siapan ulangan minggu depan, masih lama, nanti­nanti saja, juga malas membaca novel tebal itu. Aku akhirnya hanya bermain dengan si Putih. Tapi itu pun tidak lama. Rasanya ganjil sekali me­lempar gulungan benang wol, lantas si Putih riang me­nyambar­nya, antusias membawanya kembali ke pangkuanku. Se­men­tara si Hitam, kucing satunya lagi, duduk di atas kasur, memperhatikan, tidak tertarik.

Aku melirik si Hitam, lalu berbisik kepada si Putih yang manja kugendong. Aku bertanya lagi apakah si Putih melihat si Hitam yang duduk mengawasi. Mana ada kucing normal yang tidak tertarik main lempar­lemparan? Bukankah dulu si Hitam senang sekali melakukannya. Atau tidak?

Aku menghela napas, beranjak berdiri, meletakkan si Putih. Baru pukul sembilan, aku memutuskan tidur lebih awal. Tidak ada hal seru yang bisa kulakukan dengan seekor kucing aneh terus mengawasiku. Aku malas mengenakan sandal, pergi ke kamar mandi, gosok gigi.

Keluar dari kamar mandi, aku benar­benar melupakan se­potong kalimat percakapan tadi malam. Tepatnya, aku tidak mem­perhatikan bahwa kami ada ”janji pertemuan” berikutnya. Aku bersenandung pelan, kembali ke kamar, menutup pintu, me­nguap, bersiap meloncat ke atas kasur. Saat itu telingaku men­dengar si Hitam justru menggeram di atas kasurku. Belum genap aku memperhatikan kenapa si Hitam terdengar begitu galak, sosok tinggi itu telah berdiri di dalam cermin.

”Halo, Gadis Kecil.” Aku refleks menoleh.

”Kamu sepertinya tidak sedang menungguku.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum suram. Cerminku terlihat lebih gelap di­banding biasanya. Tidak ada bayangan apa pun di dalamnya selain wajah tirus, kuping mengerucut, rambut meranggas. Sosok tinggi kurus itu telah kembali, memandangku dengan tatapan ber­beda seperti malam sebelumnya. Dia marah. 

Aku refleks meraih sesuatu. Sial, tidak ada yang bisa kujadi­kan senjata selain sandal jepit yang kukenakan. Aku menyesal meletakkan pemukul bola kasti di dalam lemari.

”Seharusnya kamu mulai terbiasa, Nak,” sosok tinggi kurus itu berkata datar, menatap sandal jepit yang kupegang. Suaranya mengambang di seluruh ruangan—meski dia bicara dari dalam cermin dua dimensi, tidak berkurang jelasnya, padahal hujan deras turun di luar.

”Bagaimana latihanmu hari ini?” sosok itu bertanya, langsung ke pokok persoalan.

”Latihan apa?” aku balas bertanya, menatap tidak mengerti ke dalam cermin.

Si Hitam menggeram keras. Aku menoleh. Kucing itu me­loncat ke kursi tempat tas sekolahku berada. Dengan mulut dan cakar kakinya, si Hitam menarik keluar novel tebal itu, me­ngeong galak. Dia menunjukkan novel dengan mulutnya.

Aku menelan ludah. Ternyata latihan itu.

”Bukankah sudah kukatakan, Gadis Kecil, kita bisa melakukan ini dengan mudah, atau dengan sulit, tergantung dirimu sendiri.” Sosok tinggi kurus itu menatapku kecewa. ”Kamu tidak me­laku­kan perintahku. Bahkan kamu menganggap ringan perintahku.”

Aku refleks mundur satu langkah.

”Kamu tahu, kamu seharusnya sudah bisa menghilangkan novel itu!” sosok tinggi itu membentak. Cerminku semakin gelap, bahkan aku bisa melihat cermin itu seolah mengerut ka­rena amarah.

”Eh, aku sudah melakukannya,” aku menjawab ketus, mekanis­me bertahanku muncul. ”Bukan salahku kalau novel itu tidak mau menghilang.”

”Itu karena kamu tidak sungguh­sungguh! Kamu pikir ini se­mua lelucon?” Sosok tinggi kurus tidak mengurangi volume bicara­nya. Napasnya menderu, menimbulkan embun tebal di cer­min. 

”Baik. Dia membutuhkan motivasi untuk melakukannya.” Sosok itu menoleh ke si Hitam. ”Kamu berikan apa yang dia butuhkan!”

Sebelum aku mengerti maksud kalimat sosok tinggi kurus di dalam cermin, si Hitam menggeram kencang, loncat ke atas kasur, menyergap si Putih. Gerakannya cepat sekali, bahkan se­belum si Putih sempat bereaksi, dua kaki depan si Hitam sudah mencengkeram leher si Putih. Si Hitam mendesis galak, me­natapku.

”Inilah motivasinya, Gadis Kecil.” Sosok tinggi kurus itu me­natap tipis. ”Akan kuhitung sampai sepuluh. Jika kamu tidak berhasil menghilangkan buku tebal itu, si Hitam akan merobek kepala kucing kesayanganmu.”

Kilau petir menyambar terang di ujung kalimatnya. Gelegar guntur membuat ngilu. Hujan deras terus membungkus kota. Aku mematung, bukan karena menyaksikan sosok tinggi kurus itu menatapku begitu marah, atau cerminku yang gelap sem­purna menyisakan sosok itu, tapi karena melihat dua kucingku. Si Putih mengeong lemah, seperti minta tolong, sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhnya dikunci si Hitam di atasnya. Mulut si Hitam membuka, memperlihatkan taring panjang, suaranya mendesis mengancam. Bulu tebalnya yang lembut se­karang berdiri. Aku tidak akan pernah bisa mengenali lagi si Hitam, kucingku itu.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊