menu

Bumi Bab 16

Mode Malam
Bab 16
AKU langsung menuju kelasku, kelas X­9. Tiba di kursiku, aku memasukkan tas ke laci meja. Sekolah masih lengang. Di kelas tidak ada siapa­siapa. Tidak ada yang bisa kulakukan ke­cuali melamun menunggu. Baiklah, aku mengeluarkan novel tebal yang sudah seminggu tidak tamat­ tamat kubaca—pe­ngarang yang satu ini novelnya semakin tebal saja, menguras uang jatah bulanan dari Mama.

Aku teringat lagi percakapan tadi malam. Aku tidak mau patuh pada sosok tinggi kurus dalam cermin itu. Aku belum tahu dia berniat baik atau buruk, tapi kalimat­kalimatnya mem­buatku penasaran. Apakah aku memang bisa menghilangkan novel tebal ini—juga benda­ benda lain.

Aku menatap konsentrasi novel tebal beberapa detik, meng­hela napas, mengarahkan telunjukku, bergumam pelan menyuruh­nya menghilang. Sedetik. Aku mengembuskan napas. Sama se­perti tadi malam, novel itu tetap teronggok bisu di atas meja. Se­kali lagi aku mengulanginya, lebih berkonsentrasi. Tetap saja, jangan­kan hilang seluruhnya, hilang semili pun tidak.

Aku me­lempar tatapan ke luar jendela kelas, lengang. Hanya suara pe­tugas kebersihan yang sedang menyapu lapangan dari dedaunan kering.

Aku berkali­kali mencoba, memperbaiki posisi duduk—kalau sampai ada yang mengintip, pasti akan aneh melihatku sibuk menunjuk­ nunjuk buku tebal.

Teman­teman mulai berdatangan, menyapa. Aku mengangguk, tersenyum tipis, memasukkan kembali novel ke dalam tas. Se­tengah jam berlalu, sekolah ramai oleh dengung suara. Beberapa teman duduk di dalam kelas dan berdiri di lorong. Anak­anak cowok bermain basket atau bola kaki. Lapangan basah, mereka tidak peduli, bahkan lebih seru, lebih ramai tertawa. 

”Halo, Ra,” Seli menyapaku. ”Halo, Sel,” aku balas menyapa. ”Kamu datang pagi lagi, ya?”

Aku mengangguk. Aku menghitung dalam hati, satu, dua, tiga, dan persis di hitungan ketujuh, Seli yang menatapku sambil memasukkan tas ke laci meja berseru, ”Eh, Ra? Jerawatmu yang besar itu sudah hilang, ya?”

Aku tertawa. Benar kan, tidak akan lebih dari sepuluh hitung­an. ”Beneran hilang, Ra. Kok bisa sih?” Saking tertariknya, Seli  bahkan

memegang  jidatku,  melotot,  memeriksa,  untung  saja  tidak  ada  kaca

pembesar, yang boleh jadi akan dipakai Seli. ”Wah, beneran hilang. Bersih tanpa bekas. Diobatin pakai apa sih?”

Aku tidak menjawab, menyeringai.

”Pakai apa sih, Ra? Ayo, jangan rahasia­rahasiaan. Pasti obat­nya manjur sekali. Semalaman langsung mulus!” Seli penasaran, memegang lenganku, membujuk. ”Ini ngalahin treatment wajah artis­artis Korea lho, Ra. Tokcer.”

”Nggak diapa­apain.” Aku menggeleng.

”Nggak mungkin.” Bukan Seli kalau mudah percaya.

”Beneran nggak diapa­apain. Aku hanya tunjuk jerawatnya, bilang ‘hilanglah’, eh hilang beneran.” Demi mendengar kebiasaan Seli yang mulai menyebut­nyebut drama favorit Korea­nya, dan setengah jam terakhir bosan menatap novel tebal di atas meja yang tidak kunjung berhasil kuhilangkan, aku jadi menjawab iseng.

”Jangan bergurau, Ra.” Seli melotot memangnya aku anak kecil bisa dibohongi, begitu maksud ekspresi wajahnya.

Aku tertawa. ”Beneran. Memang begitu. Kusuruh hilang.” 

Setidaknya itu manjur. Seli masih melotot setengah menit, lantas wajahnya berubah menyerah, malas bertanya lagi. ”Temani aku ke kantin yuk. Cari camilan.”

Aku mengangguk, bosan di kelas terus.

Kami bergegas keluar kelas, menuruni anak tangga, bel masuk tidak lama lagi. Sayangnya, Seli bertabrakan dengan seseorang yang sebaliknya hendak naik.

”Lihat­lihat dong!” Orang itu berseru ketus.

”Eh, Ali?” Seli mencoba tersenyum, setengah bingung. Wajah Seli seolah mengatakan ”Bukankah kamu baru kemarin belajar bareng bersamaku? Terlihat rapi dan menyenangkan. Tapi kenapa pagi ini kembali terlihat acak­acakan, dan tantrum seperti balita gara­gara senggolan kecil?”

”Makanya, kalau jalan, mata tuh jangan ditaruh di pantat.” Ali melotot menjawab sapaan Seli, lantas berlalu. Dia terlihat buru­buru menaiki anak tangga.

”Bukankah, eh?” Seli menatap punggung Ali, menoleh, me­natap­ku tidak mengerti.

”Makanya, jangan tertipu penampilan. Jelas­jelas anak itu biang kerok. Apanya yang gwi yeo wun. Sekali biang kerok, suka bertengkar, itulah sifat aslinya.” Aku mengangkat bahu, tertawa. Aku berjalan lebih dulu, menarik tangan Seli, sebentar lagi bel.

”Tapi kemarin kan...?” Seli menyejajari langkahku.

”Kemarin apa? Tampilannya kemarin itu menipu, karena dia lagi ada maunya.” Aku nyengir.

”Ada maunya? Memang apa maunya Ali?” Seli bingung. ”Mana kutahu.” Aku mengangkat bahu.

”Ali menyelidiki rumahmu ya, Ra? Ini jadi aneh. Kemarin Miss Keriting juga datang ke rumahmu. Ada apa sih, Ra?” 

Aku menelan ludah, bergegas mengalihkan percakapan, menatap kasihan Seli. ”Entahlah. Aku tidak tahu. Nah, yang aku tahu persis, kamu apes sekali, Sel.”

”Apes apanya?”

”Barusan Ali bilang, matamu jangan ditaruh di pantat, kan?” Seli melotot sebal. Aku tertawa.

Setidaknya hingga hampir pulang sekolah, aku (dan Seli) tidak bermasalah dengan Ali. Anak lelaki itu masih sering mengamati­ku dari bangkunya, tapi tidak tertarik memperhatikan jidatku yang sudah bersih dari jerawat. Sepertinya anak cowok selalu begitu, tidak peduli dengan hal baik dari anak cewek, sukanya memper­hati­­kan yang buruknya saja.

Pelajaran terakhir adalah bahasa Inggris. Mr. Theo me­nyuruh kami mengeluarkan kertas ulangan. Aku meng­angguk riang. Aku menyukai pelajaran bahasa, tidak masalah walau­pun ulang­an mendadak. Mr.  Theo membagikan soal, empat puluh soal isian.

Seli di sebelahku mengeluarkan puh pelan, mengeluh. Aku tertawa dalam hati, padahal Seli selalu meng­aku fans berat Mr. Theo, ternyata itu

tidak cukup untuk membuatnya menyukai ulangan mendadak ini.

Yang jadi masalah adalah ketika bel pulang tinggal lima belas menit lagi, Mr. Theo mengingatkan, ”Selesai­tidak selesai, kumpul­kan jawaban kalian saat bel.”

Aku meringis. Tinta bolpoinku habis. Aku bergegas meng­ambil bolpoin cadangan di dalam tas. Ada dua bolpoin yang ku­keluarkan. Eh, aku sedikit bi­ngung kenapa ada bolpoin ber­warna biru. Bukankah aku tidak pernah punya bolpoin seperti ini? Mungkin bolpoin Papa yang tidak sengaja kutemukan di mobil atau ruang tamu. Tapi tidak apalah, yang penting bisa buat menulis. Aku memutuskan meng­gunakannya, tapi tidak bisa, tintanya tidak keluar.

Aku menggerutu, kenapa aku menyimpan bolpoin ini di dalam tas kalau tintanya habis. Aku hendak menukarnya dengan bolpoin cadangan yang lain, tapi gerakanku terhenti. Ada yang aneh dengan bolpoin biru ini. 

Aku memperhatikan lebih detail, menyelidik. Bolpoin ini terlalu berat dan sepertinya ada sesuatu di dalamnya. Aku perlahan membuka bolpoin itu. Yang keluar bukan batang isi bolpoin seperti lazimnya, tapi benda kecil, ber­kelotak pelan menimpa meja. Aku bergumam pelan, ”Benda apa ini?” Bentuknya mungil, ada kabel­kabel kecil.

Seli di sebelahku ber­ssst menyuruhku diam. Dia sudah pusing dengan soal ulang­an, merasa terganggu pula dengan kesibukanku. Aku balas ber­ssst menyuruh Seli diam.

”Is there something wrong, Ra?” Mr. Theo menoleh ke mejaku. ”Nothing’s wrong, Sir. My pen jammed,” aku buru­buru men­jawab,

menelan ludah.

Mr. Theo memastikan sejenak, kembali menatap ke arah lain.

Aku mengamati benda itu lamat­lamat. Ini apa? Buat apa? Kenapa benda berkabel ini ada di dalam bolpoin biru yang ru­sak? Setengah menit, aku teringat cerita Seli tentang Ali yang suka sekali membuat peralatan ”canggih”, meledakkan laborato­rium.

Aku berseru dalam hati. Aku tahu benda ini, setidaknya aku bisa menebak benda ini untuk apa. Dasar Ali! Tentu saja dia tahu aku kehilangan si Hitam, dia tahu aku dan Seli mengerja­kan PR kemarin sore, karena genius amatiran itu menyelundup­kan bolpoin berisi alat penyadap ke dalam tasku. Dia pasti me­lakukannya beberapa hari lalu, setelah pe­nasaran dengan ke­jadian aku dihukum Miss Keriting menunggu di lorong ke­las.

Ternyata itu tidak spesial—aku pikir dia tahu dari manalah, de­ngan cara lebih canggih atau misterius. Ternyata hanya karena bolpoin biru ini. Aku tersenyum lebar, teringat sesuatu, setidaknya tadi malam tasku tertinggal di ruang televisi, jadi dia tidak bisa me­nguping percakapanku di kamar dengan sosok dalam cermin. Tapi senyumku segera terlipat, jangan­jangan kemarin sore dia ke rumah, berpakaian rapi, menipu Mama dan Seli, untuk me­nyelundupkan alat pengintai. Aku menyibak poni di dahi. Nanti setiba di rumah, aku akan periksa setiap pojok ruangan. Awas saja, tidak akan kubiarkan lagi. 

Bel pulang berbunyi nyaring, memutus pikiranku. ”Collect your answer sheet now!” Mr. Theo berseru tegas.

Aku mengeluh, menyesal telah menghabiskan waktu berharga­ku untuk bolpoin biru rusak. Aku bergegas menyelesaikan soal yang tersisa. Teman­teman sekelas lainnya juga ikut bergegas, terutama Seli. Dia terlihat panik, menulis secepat tangannya bisa. Sudah seperti cabai keriting bentuk tulisannya.

”Come on. Time’s up, students!”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊